KATA PENGANT
                                          TAR

    ana Pemba
Renca       angunan Ja
                     angk...
DAFTAR ISI


                                                                                                          Hal...
2.3.2. ANALISIS                  CAPAIAN                 INDIKATOR                   TINGKAT
                PEMBANGUNAN  ...
DAFTAR TABEL

                                                                                                   Halaman

...
Tabel 2.2.13.   Angka Kematian Ibu (AKI) Nasional dan Provinsi Jawa
                Tengah Tahun 2004-2008 ..................
Tabel 2.5.3.   Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi Anak
               (Anak Jalanan, Anak Terlantar, dan Anak ...
DAFTAR GRAFIK

                                                                                                         Ha...
Grafik 2.2.11.   Umur Harapan Hidup (UHH) Nasional dan Provinsi Jawa
                 Tengah Tahun 2004-2008 ................
Grafik 2.3.3.    Tren Persentase Output Manufaktur terhadap PDRB
                 Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun ...
Grafik 2.4.4.    Tren Jumlah Tindak Pidana Perikanan Nasional dan
                 Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .....
Grafik 2.5.11.   Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Pelayanan
                 Kesejahteraan Sosial Bagi Anak dengan...
                                     
 
        EKPD 2009




                                       BAB I
               ...
                                        
 
        EKPD 2009



    4.     Belum berkembangnya investasi;
    5.     Masih...
                                    
 
        EKPD 2009



    2.     Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia
    3.     Tin...
                                    
 
        EKPD 2009



           Tingkat     pembangunan   ekonomi      dibagi   dal...
                                        
 
        EKPD 2009




    •      Terhimpunnya data dan informasi evaluasi kiner...
                                     
 
        EKPD 2009




           •    presentase pelayanan dan rehabilitasi sosial...
                                       
 
        EKPD 2009



    Jawa Tengah menjadi fasilitator rapat/diskusi dalam men...
                                    
 
        EKPD 2009




                                      BAB II
                ...
                                           
 
        EKPD 2009



           Berdasarkan        uraian     di       atas,...
                                     
 
        EKPD 2009



    3.     Mengotipmalkan     penyelenggaraan      pemerintah...
                                     
 
        EKPD 2009



           DEMOKRASI
           Permasalahan. Sebagai negara ...
                                         
 
        EKPD 2009



    4.     Mekanisme atau tata cara pemilihan umum yang b...
                                       
 
        EKPD 2009



    3.     Mewujudkan peningkatan kualitas perempuan dalam ...
                                          
 
        EKPD 2009



    8.     Meningkatnya jumlah perempuan pada setiap jen...
                                          
 
        EKPD 2009



            Berdasarkan pada data di atas diketahui bahw...
                                                       
 
        EKPD 2009



                                           ...
                                        
 
        EKPD 2009



    minimal S1 Jawa Tengah tidak menunjukan kemiripan atau...
                                      
 
        EKPD 2009



           Berdasarkan pada data di atas diketahui bahwa per...
                                                         
 
        EKPD 2009



    yang memiliki peraturan daerah pelaya...
                                           
 
        EKPD 2009



           DEMOKRASI
           Gender Development Inde...
                                                         
 
        EKPD 2009



                                         ...
                                             
 
        EKPD 2009



    Development Index (GDI) di Jawa Tengah. Pada tahu...
                                                         
 
        EKPD 2009



    buruk dibandingkan dengan Nasional, y...
                                    
 
        EKPD 2009



    tidak sejalan dengan tren capaian Gender Empowerment Meass...
                                                          
 
        EKPD 2009



                Tingkat Partisipasi Poli...
                                         
 
        EKPD 2009



    legislatif di Jawa Tengah selama dua kali periode pem...
                                                       
 
        EKPD 2009



                                           ...
                                           
 
        EKPD 2009



           Tingkat Kualitas Pelayanan Publik dan Demokr...
                                     
 
        EKPD 2009



           Berdasarkan pada data di atas diketahui bahwa pers...
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP
Prochain SlideShare
Chargement dans... 5
×

Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP

3,859

Published on

Dokumen Laporan Akhir EKPD 2009 oleh Universitas Diponegoro

Published in: Éducation, Technologies, Sports
0 commentaires
1 mention J'aime
Statistiques
Remarques
  • Soyez le premier à commenter

Aucun téléchargement
Vues
Total des vues
3,859
Sur Slideshare
0
À partir des ajouts
0
Nombre d'ajouts
1
Actions
Partages
0
Téléchargements
148
Commentaires
0
J'aime
1
Ajouts 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Laporan Akhir EKPD 2009 Jawa Tengah - UNDIP"

  1. 1. KATA PENGANT TAR ana Pemba Renca angunan Ja angka Men nengah Na asional (RP PJMN) 2004 4-2009 yan ng ditetapkan mela alui Peratur ran Preside No. 7 Tahun 200 merupa en 05 akan amanat Undang-Undang g Nomor 25 Tahu un 2004 tentang Sistem Perencanaa P an Pemb Nasional. Seiring deng berjalannya waktu pelaksan bangunan N gan u, naan RPJM MN 2004- -2009 telah memasuk tahun kelima. Berba h ki agai kebijakan telah d dilaksanaka an dan te entu saja perlu dilihat seberapa j p jauh keberhasilan yan telah dic ng capai melalui kegiat evaluas tan si. Evaluasi Kinerja Pembang a gunan Daer rah yang akan dilak kukan di Pr rovinsi Jaw wa Tenga dilaksan ah nakan untu menilai kinerja pem uk mbangunan rentang w n waktu 2004 4- 2008 melalui pendekatan relevansi dan efekt tivitas penc capaian pe embanguna an denga memba an eberhasilan di tingkat provinsi dan tingkat andingkan tingkat ke t nasional. Adapun sasaran pembangunan daerah yang akan dievalusi meliputi : a h a) Tingk Pelayan kat nan Publik dan Dem k mokrasi, b) Tingkat K Kualitas Su umber Day ya Manusia, c) Tin bangunan Ekonomi, d) Kualitas Pengelola ngkat Pemb s aan Sumbe er Daya Alam dan Lingkunga Hidup, dan e) Tin an ngkat Kesej jahteraan Sosial. Has S sil Evaluasi ini diha arapkan da apat dimanf faatkan sebagai peny yusunan RP PJMN 2010 0- 2014. Kami mengucap pkan terima kasih ke epada berb bagai pihak yang telah bersedia memb berikan ma asukan mela kegiata pengum alui an mpulan data primer ma a aupun Focu us Group Discution (FGD) untuk tersusu p unnya Lapo oran Akhir in Secara khusus kam ni. mi mengucapkan terima kasih k kep pada Kem mentrian N Negara Perencanaa P an bangunan N Pemb Nasional/Ba appenas ya ang telah m memberikan kepercay n yaan kepad da Unive ersitas Dipo onegoro untuk melaku ukan Evalua Kinerja Pembangu asi unan Daera ah Provin Jawa Te nsi engah seca indepen ara nden. Semarang, pember 200 Nop 09 Rektor, Prof.Dr.S Susilo Wibo owo,MS.Me ed.,Sp.And NIP. 130 881 984 0 ii   
  2. 2. DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii DAFTAR ISI .................................................................................................. iii DAFTAR TABEL ........................................................................................... v DAFTAR GRAFIK ......................................................................................... viii BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1 1.1. LATAR BELAKANG EVALUASI ....................................................... 1 1.2. TUJUAN DAN KELUARAN EVALUASI ........................................... 4 1.3. METODE EVALUASI ....................................................................... 5 1.4. ANGGOTA TIM EVALUASI PROVINSI JAWA TENGAH ................ 7 BAB II HASIL EVALUASI ....................................................................... 8 2.1. TINGKAT KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI ... 8 2.1.1. CAPAIAN INDIKATOR TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI ................................................................... 14 2.1.2. ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI ..................................................... 31 2.1.3. REKOMENDASI KEBIJAKAN ................................................. 34 2.2. TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA .......................... 35 2.2.1. CAPAIAN INDIKATOR TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA ...................................................................... 43 2.2.2. ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA YANG SPESIFIK DAN MENONJOL ............................................................................. 86 2.2.3. REKOMENDASI KEBIJAKAN ................................................. 96 2.3. INDIKATOR TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI ...................... 97 2.3.1. CAPAIAN INDIKATOR TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI ................................................................................ 103 iii   
  3. 3. 2.3.2. ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI YANG SPESIFIK DAN MENONJOL ............................................................................. 128 2.3.3. REKOMENDASI KEBIJAKAN ................................................. 136 2.4. INDIKATOR KUALITAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP ............................................................. 137 2.4.1. CAPAIAN INDIKATOR TINGKAT KUALITAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP ............................................................. 142 2.4.2. ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR TINGKAT KUALITAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP YANG SPESIFIK DAN MENONJOL .. 163 2.4.3. REKOMENDASI KEBIJAKAN ................................................. 165 2.5. INDIKATOR TINGKAT KESEJAHTERAAN SOSIAL ....................... 166 2.5.1. CAPAIAN INDIKATOR TINGKAT KESEJAHTERAAN SOSIAL .................................................................................... 171 2.5.2. ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR TINGKAT KESEJAHTERAAN SOSIAL YANG SPESIFIK DAN MENONJOL ............................................................................. 189 2.5.3. REKOMENDASI KEBIJAKAN ................................................. 196 BAB III PENUTUP .................................................................................... 197 3.1. KESIMPULAN .................................................................................. 197 3.2. REKOMENDASI ............................................................................... 199 iv   
  4. 4. DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1.1. Jumlah Kasus Korupsi yang Tertangani Dibandingkan dengan yang dilaporkan Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 14 Tabel 2.1.2. Persentase Aparat yang Berijazah Minimal S1 Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .................... 15 Tabel 2.1.3. Persentase Jumlah Kabupaten/Kota yang Memiliki Peraturan Daerah Pelayanan Satu Atap Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 17 Tabel 2.1.4. Gender Development Index (GDI) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ......................................... 20 Tabel 2.1.5. Gender Empowerment Meassurement (GEM) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .................... 22 Tabel 2.1.6. Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pileg Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2009 ..... 25 Tabel 2.1.7. Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pilpres Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 26 Tabel 2.1.8. Outcome Tingkat Kualitas Pelayanan Publik dan Demokrasi Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ............................................................................ 28 Tabel 2.2.1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 44 Tabel 2.2.2. Tingkat Angka Partisipasi Murni SD/MI Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 46 Tabel 2.2.3. Tingkat Rata-rata Nilai Akhir SMP/MTs Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 49 Tabel 2.2.4. Tingkat Rata-rata Nilai Akhir SMA/MA/SMK Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 52 Tabel 2.2.5. Tingkat Angka Putus Sekolah SD/MI Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 54 Tabel 2.2.6. Tingkat Angka Putus Sekolah SMP/MTs Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 56 Tabel 2.2.7. Tingkat Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 58 Tabel 2.2.8. Angka Melek Aksara 15 Tahun Keatas Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 60 Tabel 2.2.9. Persentase Guru yang Layak Mengajar SMP/MTs Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 63 Tabel 2.2.10. Persentase Guru yang Layak Mengajar SMA/MA/SMK Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 65 Tabel 2.2.11. Umur Harapan Hidup (UHH) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 68 Tabel 2.2.12. Angka Kematian Bayi (AKB) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 71 v   
  5. 5. Tabel 2.2.13. Angka Kematian Ibu (AKI) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 73 Tabel 2.2.14. Prevalansi Gizi Kurang Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 75 Tabel 2.2.15. Persentase Penduduk Ber-KB Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 78 Tabel 2.2.16. Persentase Laju Pertumbuhan Penduduk Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 80 Tabel 2.2.17. Outcome Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 83 Tabel 2.3.1. Laju Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 104 Tabel 2.3.2. Tingkat Persentase Ekspor terhadap PDRB Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 106 Tabel 2.3.3. Persentase Output Manufaktur terhadap PDRB Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .................... 108 Tabel 2.3.4. Persentase Output UMKM terhadap PDRB Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 111 Tabel 2.3.5. Pendapatan per Kapita (dalam juta rupiah) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 114 Tabel 2.3.6. Laju Inflasi Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ............................................................................ 116 Tabel 2.3.7. Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMA Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 119 Tabel 2.3.8. Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMDN Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 122 Tabel 2.3.9. Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 125 Tabel 2.4.1. Persentase Luas Lahan Rehabilitasi dalam Hutan terhadap Lahan Kritis Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................................ 143 Tabel 2.4.2. Rehabilitasi Lahan Luar Hutan Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ......................................... 146 Tabel 2.4.3. Luas Kawasan Konservasi Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 148 Tabel 2.4.4. Jumlah Tindak Pidana Perikanan Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ......................................... 152 Tabel 2.4.5. Persentase Terumbu Karang dalam Keadaan Baik Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 154 Tabel 2.4.6. Luas Kawasan Konservasi Laut Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ......................................... 157 Tabel 2.4.7. Outcome Tingkat Kualitas Pengelolaan SDA dan LH Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 160 Tabel 2.5.1. Persentase Penduduk Miskin Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 171 Tabel 2.5.2. Tingkat Pengangguran Terbuka Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ......................................... 174 vi   
  6. 6. Tabel 2.5.3. Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi Anak (Anak Jalanan, Anak Terlantar, dan Anak Nakal) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .................... 176 Tabel 2.5.4. Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi Lansia Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 179 Tabel 2.5.5. Persentase Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Penyandang Cacat, Tuna Sosial, dan Korban NAPZA) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 182 Tabel 2.5.6. Outcome Tingkat Kesejahteraan Sosial Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 186 vii   
  7. 7. DAFTAR GRAFIK Halaman Grafik 2.1.1. Tren Persentase Aparat yang Berijazah Minimal S1 Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 16 Grafik 2.1.2. Tren Persentase Jumlah Kabupaten/Kota yang Memiliki Peraturan Daerah Pelayanan Satu Atap Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 19 Grafik 2.1.3. Tren Gender Development Index (GDI) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 21 Grafik 2.1.4. Tren Gender Empowerment Meassurement (GEM) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 22 Grafik 2.1.5. Tren Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pileg Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2009 ..... 23 Grafik 2.1.6. Tren Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pilpres Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 dan 2009 ..................................................................................... 27 Grafik 2.1.7. Tren Outcome Tingkat Kualitas Pelayanan Publik dan Demokrasi Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ............................................................................ 30 Grafik 2.1.8. Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Aparat Berijazah Minimal S1 dengan Persentase Outcome Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 32 Grafik 2.1.9. Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Jumlah Kabupaten/Kota yang Memiliki Perda Satu Atap dengan Persentase Outcome Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ......... 33 Grafik 2.2.1. Tren Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 45 Grafik 2.2.2. Angka Partisipasi Murni SD/MI Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ......................................... 47 Grafik 2.2.3. Angka Rata-rata Nilai Akhir SMP/MTs Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 50 Grafik 2.2.4. Angka Rata-rata Nilai Akhir SMA/MA/SMK Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 52 Grafik 2.2.5. Angka Putus Sekolah SD/MI Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 55 Grafik 2.2.6. Angka Putus Sekolah SMP/MTs Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ......................................... 57 Grafik 2.2.7. Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 59 Grafik 2.2.8. Angka Melek Aksara 15 Tahun Keatas Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 61 Grafik 2.2.9. Persentase Guru Layak Mengajar SMP/MTs Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 64 Grafik 2.2.10. Persentase Guru Layak Mengajar SMA/MA/SMK Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .................... 66 viii   
  8. 8. Grafik 2.2.11. Umur Harapan Hidup (UHH) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 69 Grafik 2.2.12. Angka Kematian Bayi (AKB) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 71 Grafik 2.2.13. Angka Kematian Ibu (AKI) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 74 Grafik 2.2.14. Prevalansi Gizi Kurang Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 76 Grafik 2.2.15. Persentase Penduduk Ber-KB Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 78 Grafik 2.2.16. Persentase Laju Pertumbuhan Penduduk Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 81 Grafik 2.2.17. Tren Outcome Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 84 Grafik 2.2.18. Kesesuaian Pola Kecenderungan Angka Partisipasi Murni SD/MI dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas SDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 86 Grafik 2.2.19. Kesesuaian Pola Kecenderungan Angka Putus Sekolah SD/MI dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas SDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 87 Grafik 2.2.20. Kesesuaian Pola Kecenderungan Angka Putus sekolah SMP/MTs dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas SDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .................. 88 Grafik 2.2.21. Kesesuaian Pola Kecenderungan Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas SDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .... 89 Grafik 2.2.22. Kesesuaian Pola Kecenderungan Angka Melek Aksara 15 Tahun Keatas dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas SDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .... 90 Grafik 2.2.23. Kesesuaian Pola Kecenderungan Guru Layak Mengajar SMP/MTs dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas SDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .................. 91 Grafik 2.2.24. Kesesuaian Pola Kecenderungan Guru Layak Mengajar SMA/MA/SMK dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas SDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .... 92 Grafik 2.2.25. Kesesuaian Pola Kecenderungan Prevalansi Gizi Kurang dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas SDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 93 Grafik 2.2.26. Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Penduduk Ber KB dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas SDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .................. 94 Grafik 2.2.27. Kesesuaian Pola Kecenderungan Laju Pertumbuhan Penduduk dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas SDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .................. 95 Grafik 2.3.1. Tren Laju Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ......................................... 104 Grafik 2.3.2. Tren Persentase Ekspor terhadap PDRB Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 107 ix   
  9. 9. Grafik 2.3.3. Tren Persentase Output Manufaktur terhadap PDRB Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 109 Grafik 2.3.4. Tren Persentase Output UMKM terhadap PDRB Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .................... 112 Grafik 2.3.5. Pendapatan per Kapita Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 115 Grafik 2.3.6. Laju Inflasi Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ............................................................................ 117 Grafik 2.3.7. Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMA Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 120 Grafik 2.3.8. Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMA Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 123 Grafik 2.3.9. Tren Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 .................... 126 Grafik 2.3.10. Kesesuaian Pola Kecenderungan Laju Pertumbuhan Ekonomi dengan Persentase Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ............................................................................ 129 Grafik 2.3.11. Kesesuaian Pola Kecenderungan Tingkat Persentase Ekspor terhadap PDRB dengan Persentase Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................................ 130 Grafik 2.3.12. Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Output Manufaktur terhadap PDRB dengan Persentase Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................................ 131 Grafik 2.3.13. Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Output UMKM terhadap PDRB dengan Persentase Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................................ 132 Grafik 2.3.14. Kesesuaian Pola Kecenderungan Laju Inflasi dengan Persentase Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 133 Grafik 2.3.15. Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMA dengan Persentase Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 134 Grafik 2.3.16. Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMDN dengan Persentase Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 135 Grafik 2.4.1. Tren Persentase Luas Lahan Rehabilitasi dalam Hutan terhadap Lahan Kritis Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................................ 144 Grafik 2.4.2. Tren Rehabilitasi Lahan Luar Hutan Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ......................................... 146 Grafik 2.4.3. Luas Kawasan Konservasi Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 150 x   
  10. 10. Grafik 2.4.4. Tren Jumlah Tindak Pidana Perikanan Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 152 Grafik 2.4.5. Tren Persentase Terumbu Karang dalam Keadaan Baik Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 155 Grafik 2.4.6. Tren Luas Kawasan Konservasi Laut Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 157 Grafik 2.4.7. Outcome Kualitas Pengelolaan SDA dan LH Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 161 Grafik 2.4.8. Kesesuaian Pola Kecenderungan Rehabilitasi Luas Lahan Hutan Terhadap Lahan Kritis dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas Pengelolaan SDA dan LH Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 164 Grafik 2.4.9. Kesesuaian Pola Kecenderungan Terumbu Karang dalam Keadaan Baik dengan Persentase Outcome Tingkat Kualitas Pengelolaan SDA dan LH Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................................ 165 Grafik 2.5.1. Tren Persentase Penduduk Miskin Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ......................................... 172 Grafik 2.5.2. Tren Tingkat Pengangguran Terbuka Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 174 Grafik 2.5.3. Tren Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi anak (Anak Jalanan, Anak Terlantar, dan Anak Nakal) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ..... 177 Grafik 2.5.4. Tren Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi Lansia Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004- 2008 ..................................................................................... 180 Grafik 2.5.5. Persentase Pelayanan dan Rehabilitasi (Penyandang Cacat, Tuna Sosial, dan Korban NAPZA) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 183 Grafik 2.5.6. Tren Outcome Tingkat Kesejahteraan Sosial Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ........................... 187 Grafik 2.5.7. Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Penduduk Miskin dengan Persentase Outcome Tingkat Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004- 2008 ..................................................................................... 191 Grafik 2.5.8. Kesesuaian Pola Kecenderungan Tingkat Pengangguran Terbuka dengan Persentase Outcome Tingkat Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004- 2008 ..................................................................................... 192 Grafik 2.5.9. Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi Anak dengan Persentase Outcome Tingkat Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 193 Grafik 2.5.10. Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi Lanjut Usia dengan Persentase Outcome Tingkat Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 194 xi   
  11. 11. Grafik 2.5.11. Kesesuaian Pola Kecenderungan Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi Anak dengan Persentase Outcome Tingkat Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 ................................................... 195 xii   
  12. 12.       EKPD 2009 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG EVALUASI Pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, pada hakekatnya pembangunan daerah adalah upaya terencana untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam mewujudkan masa depan daerah yang lebih baik dan kesejahteraan bagi semua masyarakat. Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 32 tahun 2004 yang menegaskan bahwa Pemerintah Daerah diberikan kewenangan secara luas untuk menentukan kebijakan dan program pembangunan di daerah masing-masing. Evaluasi kinerja pembangunan daerah (EKPD) 2009 dilaksanakan untuk menilai relevansi dan efektivitas kinerja pembangunan daerah dalam rentang waktu 2004-2008. Evaluasi ini juga dilakukan untuk melihat apakah pembangunan daerah telah mencapai tujuan/sasaran yang diharapkan dan apakah masyarakat mendapatkan manfaat dari pembangunan daerah tersebut. Secara kuantitatif, evaluasi ini akan memberikan informasi penting yang berguna sebagai alat untuk membantu pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan pembangunan dalam memahami, mengelola dan memperbaiki apa yang telah dilakukan sebelumnya. Provinsi Jawa Tengah memiliki beberapa permasalahan yang bersifat lokal, selengkapnya permasalahan pokok yang dihadapi di Jawa Tengah adalah: 1. Masih lemahnya struktur ekonomi; 2. Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi; 3. Masih terdapatnya disparitas antar wilayah; Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 1  
  13. 13.       EKPD 2009 4. Belum berkembangnya investasi; 5. Masih tingginya angka pengangguran; 6. Masih banyaknya penduduk miskin; 7. Masih belum berkembangnya bidang pendidikan; 8. Pelayanan dasar kesehatan masih terbatas; 9. Belum optimalnya penanganan Penyakit Masyarakat, PMKS dan penyalahgunaan Napza; 10. Masih terbatasnya infrastruktur; 11. Kerusakan sumber daya alam dan lingkungan; 12. Tuntutan peningkatan pelayanan publik semakin meningkat; 13. Euforia penyelenggaraan otonomi daerah; 14. Pelanggaran Hukum dan HAM; 15. Meningkatnya kriminalitas, pekerja anak, dan eksploitasi seksual; 16. Masih adanya daerah-daerah yang rawan bencana; 17. Masih banyaknya balita yang mengalami gizi buruk; 18. Kurang terjadi pengarusutamaan gender. Tentu saja masyarakat bertanya sejauh mana masalah-masalah tersebut telah dapat diatasi? Atau, sejauhmana masalah tersebut dapat diselesaikan dan kalau belum, bagaimana cara penyelesaiannya melalui langkah-langkah percepatan untuk mempermudah pemerintahan selanjutnya. Untuk menjawab pertanyaan di atas tentunya harus dilakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap strategi, program dan langkah yang diterapkan. Sebagai pemerintah yang diberi mandat langsung oleh rakyat melalui proses pemilihan umum yang sangat demokratis, evaluasi semacam ini menjadi penting sebagai bagian dari pertanggungjawaban rakyat secara terbuka. Dalam Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah 2009 dikelompokkan 5 indikator hasil (outcomes) yang mencerminkan tujuan/sasaran pembangunan daerah meliputi : 1. Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 2  
  14. 14.       EKPD 2009 2. Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia 3. Tingkat Pembangunan Ekonomi 4. Kualitas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup 5. Tingkat Kesejahteraan Sosial Sebagai salah satu provinsi di Indonesia, maka Jawa Tengah juga memiliki komitmen yang kuat untuk ikut melaksanakan evaluasi yang meliputi 5 indikator di atas dalam pelaksanaan pembangunan di Jawa Tengah, melalui pelaksanaan kewenangan desentralisasi, dekonsentrasi, maupun tugas pembantuan. Lima indikator hasil diatas dijabarkan dalam beberapa indikator pendukung, yaitu: Tingkat pelayanan publik dan demokrasi dibagi dalam 2 prioritas yaitu pelayanan publik dan demokrasi. Indikator pelayanan publik meliputi: persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan, persentase aparat yang yang berijazah minimal S1, persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap. Indikator demokrasi meliputi: gender devolepment index (GDI), gender empowerment meassurement (GEM), tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pilkada Provinsi, tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pilleg, dan tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pilpres. Tingkat kualitas sumber daya manusia dibagi dalam 4 prioritas yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Pendidikan, Kesehatan, dan Keluarga Berencana. Indikator pendidikan meliputi: angka partisipasi murni SD/MI, rata-rata nilai akhir di tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA, angka putus sekolah di tingkat SD, SMP/MTs dan SM, angka melek aksara 15 tahun ke atas, persentase jumlah guru yang layak mengajar di tingkat SMP/MTs dan SM. Indikator Kesehatan meliputi: umur harapan hidup, angka kematian bayi, angka kematian ibu, prevalensi gizi buruk, prevalensi gizi kurang, persentase tenaga kesehatan perpenduduk. Indikator Keluarga Berencana meliputi: persentase penduduk ber-KB, dan persentase laju pertumbuhan penduduk. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 3  
  15. 15.       EKPD 2009 Tingkat pembangunan ekonomi dibagi dalam 3 prioritas pembangunan yaitu ekonomi makro, investasi, dan infrastruktur. Indikator ekonomi makro meliputi: laju inflasi, laju pertumbuhan ekonomi, persentase output manufaktur terhadap PDRB, persentase output UMKM terhadap PDRB, dan pendapatan per kapita. Indikator investasi meliputi: persentase pertumbuhan realisasi investasi PMA, dan persentase pertumbuhan realisasi investasi PMDN. Indikator infrastruktur meliputi: persentase panjang jalan nasional, persentase panjang jalan provinsi dan kabupaten/kota. Kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dibagi dalam 2 prioritas yaitu kehutanan dan kelautan. Indikator kelautan meliputi: persentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis, rehabilitasi lahan luar hutan, luas kawasan konservasi. Indikator kelautan meliputi: jumlah tindak pidana perikanan, persentase terumbu karang dalam keadaan baik, luas kawasan konservasi laut. Tingkat kesejahteraan sosial dibagi dalam 5 indikator yaitu: persentase penduduk miskin, tingkat pengangguran terbuka, persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak (terlantar, jalanan, nakal, dan cacat), persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia, persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial (penyandang cacat, tunasosial, dan korban penyalahgunaan napza). 1.2. TUJUAN DAN KELUARAN EVALUASI Hasil evaluasi digunakan sebagai rekomendasi yang spesifik sesuai kondisi lokal guna mempertajam perencanaan dan penganggaran pembangunan pusat dan daerah periode berikutnya, termasuk untuk penentuan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Dekonsentrasi (DEKON). Keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan EKPD 2009 meliputi hal-hal berikut: Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 4  
  16. 16.       EKPD 2009 • Terhimpunnya data dan informasi evaluasi kinerja pembangunan di Provinsi Jawa Tengah; • Tersusunnya hasil analisis evaluasi kinerja pembangunan di Provinsi Jawa Tengah. 1.3. METODE EVALUASI Metode yang digunakan untuk menentukan capaian 5 kelompok indikator hasil adalah sebagai berikut: 1. Indikator hasil (outcomes) disusun dari beberapa indikator pendukung terpilih yang memberikan kontribusi besar untuk pencapaian indikator hasil (outcomes).Pencapaian indikator hasil (outcomes) dihitung dari nilai rata-rata indikator pendukung dengan nilai satuan yang digunakan adalah persentase. 2. Indikator pendukung yang satuannya bukan berupa persentase maka tidak dimasukkan dalam rata-rata, melainkan ditampilkan tersendiri. 3. Apabila indikator hasil (outcomes) dalam satuan persentase memiliki makna negatif, maka sebelum dirata-ratakan nilainya harus diubah atau dikonversikan terlebih dahulu menjadi (100%) – (persentase pendukung indikator negatif). Sebagai contoh adalah nilai indikator pendukung persentase kemiskinan semakin tinggi, maka kesejahteraan sosialnya semakin rendah. 4. Pencapaian indikator hasil adalah jumlah nilai dari penyusun indikator hasil dibagi jumlah dari penyusun indikator hasil (indikator pendukungnya). Contoh untuk indikator Tingkat Kesejahteraan Sosial disusun oleh: • persentase penduduk miskin • tingkat pengangguran terbuka • persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak • presentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 5  
  17. 17.       EKPD 2009 • presentase pelayanan dan rehabilitasi sosial Semua penyusun komponen indikator hasil ini bermakna negatif. Sehingga: Indikator kesejahteraan sosial = {(100% - persentase penduduk miskin) + (100% - tingkat pengangguran terbuka) + (100% - persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak) + (100%- persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia) + (100% - persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial} / 5 Untuk menilai kinerja pembangunan daerah, pendekatan yang digunakan adalah Relevansi dan Efektivitas. Relevansi digunakan untuk menganalisa sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Sedangkan efektivitas digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauh mana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam mengumpulkan data dan informasi, teknik yang digunakan dapat melalui: Pengamatan langsung. Pengamatan langsung kepada masyarakat sebagai subjek dan objek pembangunan di Provinsi Jawa Tengah, diantaranya dalam bidang sosial, ekonomi, pemerintahan, politik, lingkungan hidup dan permasalahan lainnya yang terjadi di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Pengumpulan Data Primer. Data diperoleh melalui FGD dengan pemangku kepentingan pembangunan daerah. Tim Evaluasi Provinsi Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 6  
  18. 18.       EKPD 2009 Jawa Tengah menjadi fasilitator rapat/diskusi dalam menggali masukan dan tanggapan peserta diskusi. Pengumpulan Data Sekunder. Data dan informasi yang telah tersedia pada instansi pemerintah seperti BPS Jawa Tengah, Bappeda dan Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi Jawa Tengah. 1.4. ANGGOTA TIM EVALUASI PROVINSI JAWA TENGAH Tim EKPD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 adalah tim Universitas Diponegoro yang terdiri atas anggota sebagai berikut: 1. Prof. Dr. Susilo Wibowo, MS.Med., Sp.And. 2. Prof. Drs. Y. Warella, MPA, Ph.D 3. Prof. Dr. Miyasto 4. Dr. Hardi Warsono, MTP 5. Dra. Retno Sunu Astuti, M.Si 6. Drs. R. Slamet Santoso, M.Si Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 7  
  19. 19.       EKPD 2009 BAB II HASIL EVALUASI 2.1. TINGKAT KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI PELAYANAN PUBLIK Permasalahan. Keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dapat dilihat salah satunya melalui pelayanan publik karena aparatur pemerintah adalah pelayanan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari kompetensi aparatur pemerintah, kualitas pelayanan, dan kinerja pemerintah. Dengan demikian, upaya peningkatan kinerja aparatur pemerintah daerah merupakan hal yang sangat penting dan sangat mendasar guna mempercepat proses peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat. Persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan di Jawa Tengah cenderung mengalami penurunan, tahun 2005 sebesar 88,22 persen, dan tahun 2008 sebesar 65,20 persen. Persentase aparat yang berijazah minimal S1 pada tahun 2004 di Provinsi Jawa Tengah adalah 27,13 persen, meningkat menjadi 30,11 persen pada tahun 2005 dan terus meningkat menjadi 30,56 persen pada tahun 2006, kemudian pada tahun 2007 meningkat kembali menjadi 32,17 persen, akan tetapi mengalami penurunan yang cukup drastis menjadi 26,36 persen pada tahun 2008. Persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2004 adalah sebesar 68,57 persen, tetap stabil di tahun 2005. Pada tahun 2006 mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu menjadi 82,85 persen, akan tetapi menurun drastis pada tahun 2007 yaitu menjadi 68,57 persen dan kembali meningkat pada tahun 2008 menjadi 82,85 persen. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 8  
  20. 20.       EKPD 2009 Berdasarkan uraian di atas, permasalahan utama yang menyebabkan rendahnya tingkat pelayanan publik adalah: 1. Belum optimalnya penyelenggaraan pemerintahan umum dalam pelayanan publik yang disebabkan sarana dan prasarana, dan kapasitas aparat dalam pelaksanaan kepemerintahan yang amanah belum sepenuhnya dilaksanakan; 2. Masih rendahnya kompetensi dan profesionalitas aparatur pemerintah daerah; 3. Belum memadainya kapasitas pemerintah dalam pelayanan publik 4. Masih lemahnya hukum yang berlaku saat ini; 5. Lemahnya sistem pengawasan; 6. Belum optimalnya pelaksanaan peraturan perundangan yang mengatur Standar Pelayanan Minimal dan Pelayanan Satu Atap. Sasaran. Berdasarkan pada kompleksitas dan kemendesakan penanganan permasalahan rendahnya tingkat pelayanan publik tersebut, maka Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencanangkan beberapa sasaran pokok peningkatan pelayanan publik, yaitu: 1. Terwujudnya produk hukum daerah yang mendorong pencapaian akuntabilitas dan kondusifitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan; 2. Meningkatnya kualitas aparatur dengan dukungan manajemen kepegawaian yang profesional melalui peningkatan kompetensi dan prestasi kerja; 3. Meningkatnya kapasitas kerja aparatur pemerintah daerah. Kebijakan. Sasaran peningkatan pelayanan publik yang dicanangkan di atas, selanjutnya dilaksanakan dengan beberapa kebijakan peningkatan pelayanan publik sebagai berikut: 1. Meningkatkan kapasitas Pemerintah Daerah melalui peningkatan pelayanan publik; 2. Menyusun Standar Pelayanan Minimal dalam pelaksanaan pembangunan di berbagai bidang; Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 9  
  21. 21.       EKPD 2009 3. Mengotipmalkan penyelenggaraan pemerintahan umum dan pelayanan publik melalui peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana publik, dan peningkatan kapasitas aparatur; 4. Mengoptimalkan tenaga pemeriksa dan aparatur pengawasan melalui dukungan peraturan perundang-undangan serta kesadaran hukum masyarakat. Selanjutnya, kebijakan-kebijakan di atas dijabarkan lebih lanjut dalam program-program peningkatan pelayanan publik sebagai berikut: 1. Penataan Peraturan Perundang-undangan; 2. Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Kebijakan Kepala Daerah; 3. Peningkatan profesionalisme tenaga pemeriksa dan aparatur pengawasan; 4. Penyelenggaraan Kepegawaian dan Perangkat Daerah; 5. Peningkatan kapasitas sumber daya aparatur pemerintah daerah. Hasil. Setelah Jawa Tengah melaksanakan berbagai kebijakan dan program peningkatan kualitas pelayanan publik tersebut, maka telah diperoleh beberapa hasil atau dampak sebagai berikut: 1. Terwujudnya koordinasi dan sinergitas penyusunan peraturan perundang-undangan daerah, meningkatnya kesadaran dan kepatuhan hukum serta meningkatnya kemampuan teknis dalam penerapan dan penegakan hukum/HAM; 2. Tercapainya peningkatan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pemerintahan umum dalam pelayanan publik One Stop Service (OSS); 3. Tercapainya penurunan tingkat penyimpangan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan; 4. Terwujudnya tenaga pemeriksa dan aparat pengawasan yang profesional; 5. Tercapainya peningkatan kualitas penyelenggaraan manajemen kepegawaian daerah. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 10  
  22. 22.       EKPD 2009 DEMOKRASI Permasalahan. Sebagai negara yang demokratis maka Negara Kesatuan Republik Indonesi selama lima tahun terakhir menggalakkan kesetaraan gender dan Pemilihan Umum serta Pemilihan Kepala Daerah dengan secara langsung. Dengan demikian, suara rakyat yang akan menentukan ke arah mana bangsa ini akan berjalan. Gender Development Index (GDI) di Jawa Tengah pada tahun 2004 sebesar 59,8 persen, kemudian meningkat pada tahun 2005 menjadi 60,8 persen, dan terus meningkat menjadi 63,7 persen pada tahun 2006, dan akhirnya naik kembali menjadi 63,9 persen di tahun 2007. Sedangkan untuk Gender Empowerment Meassurement (GEM) pada tahun 2004 menunjukan angka sebesar 56,5 persen yang terus meningkat dari tahun ke tahun, yaitu pada tahun 2005 menjadi sebesar 56,9 persen, dan menjadi 59,3 persen pada tahun 2006, dan meningkat lagi pada tahun 2007 menjadi 59,9 persen. Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pemilihan Kepala Daerah Provinsi menunjukkan angka sebesar 75,13 persen pada tahun 2008 karena Provinsi Jawa Tengah baru sekali melaksanakan Pilkadal langsung. Untuk tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pemilihan Legislatif pada tahun 2004 menunjukkan angka sebesar 83,24 persen dan pada tahun 2009 mengalami penurunan menjadi 71,26 persen. Sedangkan untuk tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pilpres menunjukkan angka sebesar 76,96 persen pada tahun 2004 dan mengalami penurunan pada tahun 2009 menjadi 71,01 persen. Berdasarkan uraian di atas, kehidupan demokrasi di Provinsi jawa Tengah mengalami beberapa permasalahan antara lain: 1. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak suaranya; 2. Masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam Pemilihan Umum dan Pilkada karena ketidakpercayaan mereka pada pemerintah; 3. Tingginya angka Golput; Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 11  
  23. 23.       EKPD 2009 4. Mekanisme atau tata cara pemilihan umum yang berubah; 5. Belum semua kebijakan berpihak pada perempuan; 6. Para pengambil kebijakan masih belum responsive terhadap kebutuhan perempuan; 7. Lemahnya kelembagaan dan pengarusutamaan gender; 8. Relatif rendahnya kualitas hidup dan perlindungan perempuan; 9. Masih rendahnya peran serta dan kesetaraan gender dalam pembangunan. Sasaran. Berdasarkan pada kompleksitas dan kemendesakan penanganan permasalahan peningkatan kehidupan demokrasi tersebut, maka Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencanangkan beberapa sasaran pokok peningkatan kehidupan demokrasi, yaitu: 1. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya suara mereka dalam Pemilihan Umum dan Pilkada; 2. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Pemilihan Umum dan Pilkada 3. Mewujudkan program yang mendorong peningkatan kualitas perempuan di bidang pendidikan, iptek, kesehatan, lingkungan hidup, dan lain-lain; 4. Meningkatkan pemahaman dan komitmen tentang kesetaraan dan keadilan gender; 5. Meningkatkan kualitas hidup serta perlindungan perempuan; 6. Terwujudnya kebijakan dan program kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Kebijakan. Sasaran peningkatan demokrasi yang dicanangkan di atas, selanjutnya dilaksanakan dengan beberapa kebijakan peningkatan demokrasi sebagai berikut: 1. Mewujudkan masyarakat yang sadar akan haknya dalam berpolitik; 2. Mewujudkan masyarakat yang cerdas dalam memahami hak-hak berpolitiknya; Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 12  
  24. 24.       EKPD 2009 3. Mewujudkan peningkatan kualitas perempuan dalam berbagai kebijakan dan program responsif terhadap kebutuhan perempuan; 4. Mendorong mewujudkan penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender; 5. Meningkatkan peran serta kesetaraan gender dalam pembangunan; Selanjutnya, kebijakan-kebijakan di atas dijabarkan lebih lanjut dalam program-program peningkatan demokrasi sebagai berikut: 1. Sosialisasi informasi mengenai pemilihan umum, pemilihan kepala daerah, serta pemilihan presiden; 2. Keserasian Kebijakan Peningkatan Kualitas Perempuan; 3. Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender; 4. Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan; 5. Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Gender dalam Pembangunan. Hasil. Setelah Jawa Tengah melaksanakan berbagai kebijakan dan program peningkatan demokrasi, maka telah diperoleh beberapa hasil atau dampak sebagai berikut: 1. Terwujudnya masyarakat yang cerdas dalam menggunakan hak suaranya; 2. Terwujudnya kehidupan demokrasi yang adil dan merata; 3. Terwujudnya peran dan posisi perempuan di bidang politik dan jabatan publik; 4. Terwujudnya peningkatan kualitas SDM aparatur yang responsif perempuan; 5. Terwujudnya kebijakan yang mendorong meningkatnya partisipasi politik perempuan dan pelibatan partisipasi anak; 6. Meningkatnya pemahaman dan komitmen tentang kesetaraan dan keadilan gender; 7. Terwujudnya kerangka kebijakan yang responsif gender untuk memberikan dukungan bagi penguatan kelembagaan melalui kebijakan, program, dan kegiatan responsif gender; Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 13  
  25. 25.       EKPD 2009 8. Meningkatnya jumlah perempuan pada setiap jenjang pendidikan; 9. Meningkatnya Indeks Pembangunan Gender (IDG) mencapai 61,8 dan Indeks Pemberdayaan Gender (IPG) mencapai 65,9 pada tahun 2013. 2.1.1. Capaian Indikator Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi Analisis capaian indikator disajikan dengan menggunakan pola induktif, pertama kali dianalisis capaian untuk setiap sub indikator dari indikator Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi, kemudian dilanjutkan dengan analisis indikator Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi. PELAYANAN PUBLIK Persentase Jumlah Kasus Korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi khususnya dikaitkan dengan pemerintahan yang bersih dan baik telah menjadi tujuan dari penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Salah satu aspek yang menjadi sorotan dalam upaya penciptaan pemerintahan yang bersih dan baik adalah berkurangnya kasus korupsi. Kondisi jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan di Jawa Tengah adalah: Tabel 2.1.1. Jumlah Kasus Korupsi yang Tertangani Dibandingkan dengan yang Dilaporkan Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Nasional Jateng Tren Nas Tren Jateng 2004 97 2005 97 88,22 2006 94 20,54 2007 94 2008 94 65,20 Sumber: BPKP, Kantor Perwakilan Jawa Tengah, 2005-2009. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 14  
  26. 26.       EKPD 2009 Berdasarkan pada data di atas diketahui bahwa jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan di Jawa Tengah cenderung bersifat dinamis, dan hanya tercatat dalam 3 tahun data. Pada tahun 2005 sebesar 88,,22 persen, tahun 2006 sebesar 20,54 persen, dan tahun 2008 sebesar 65,20 persen. Kondisi Jawa Tengah dinyatakan lebih buruk dibandingkan kondisi Nasional, dimana persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan yang dilaporkan jauh lebih besar yaitu 97 persen tahun 2004 menjadi 94 persen tahun 2008. Persentase Aparat yang Berijazah yang minimal S1 Dalam rangka peningkatan kinerja pemerintah maka aparatur pemerintah diharuskan memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi atau setara dengan S1 (Sarjana). Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2.1.2. Persentase Aparat yang Berijazah Minimal S1 Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Nasional Jateng Tren Nas Tren Jateng 2004 29,9 27,13 0,036789298 0,109841504 2005 31 30,11 0,03 0,014945201 2006 31,93 30,56 -0,041653617 0,052683246 2007 30,6 32,17 0,012745098 0 2008 30,99 32,17 Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Jawa Tengah, 2005-2009. Berdasarkan pada data di atas diketahui bahwa persentase aparat yang berijazah minimal S1 di Jawa Tengah cenderung mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir, dari 27,13 persen pada tahun 2004 menjadi hanya sebesar 32,17 persen pada tahun 2008. Kondisi persentase aparat yang berijazah minimal S1 di Jawa Tengah dinyatakan lebih baik dibandingkan dengan Nasional, yang cenderung persentasenya lebih kecil. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 15  
  27. 27.       EKPD 2009 Grafik 2.1.1. Tren Persentase Aparat yang Berijazah Minimal S1 Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 Tren Capaian Outcome  34  0,15 Capaian Outcome 32  0,1 Nasional  30  Jateng  0,05 28  Tren Nasional  26  0 Tren Jateng  24  -0,05 2004 2005 2006 2007 2008 Tahun Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Jawa Tengah, 2005-2009. Selanjutnya bila dilihat dari tren persentase aparat yang berijazah minimal S1 yang tampak pada grafik di atas ini, menunjukan bahwa Jawa Tengah dan Nasional tidak memiliki kemiripan jalur tren. Tren aparat yang berijazah minimal S1 Jawa Tengah cenderung turun drastis pada tahun awal, kemudian meningkat cukup drastis pada tahun berikutnya, kemudian menurun cukup drastis pada tahun terakhir. Sedangkan tren aparat yang berijazah minimal S1 Nasional cenderung menurun pada awal tahun, kemudian menurun cukup drastis pada tengah tahun dan meningkat pada akhir tahun. Artinya, dalam lima tahun terakhir terjadi kemunduran dalam peningkatan persentase aparat yang berijazah minimal S1 di Jawa Tengah. Analisis Relevansi dan Efektivitas. Analisis Relevansi digunakan untuk menganalisis sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan daerah Provinsi Jawa Tengah mampu menjawab permasalahan Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi, khususnya aparat yang berijazah minimal S1. Analisis relevansi dilakukan dengan membandingkan tren capaian persentase aparat yang berijazah minimal S1 Jawa Tengah dengan Nasional. Berdasarkan data yang ada pada grafik di atas menunjukkan bahwa tren capaian persentase aparat yang berijazah Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 16  
  28. 28.       EKPD 2009 minimal S1 Jawa Tengah tidak menunjukan kemiripan atau tidak sejalan dengan tren capaian persentase aparat berijazah minimal S1 Nasional. Analisis Efektivitas digunakan untuk mengukur kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Apabila dilihat dari kinerja perbaikan Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi di Jawa Tengah selama lima tahun terakhir, tampak bahwa telah terjadi kenaikan persentase aparat yang berijazah minimal S1. Pada tahun 2004 persentase aparat yang berijazah minimal S1 sebesar 27,13 persen, pada tahun 2005 naik menjadi 30,11 persen, tahun 2006 naik lagi menjadi 30,56 persen, pada tahun 2007 naik lagi menjadi 32,17 persen, dan terakhir tahun 2008 stabil pada angka 32,17 persen. Berdasarkan kondisi tersebut dapat disimpulkan bahwa persentase aparat yang berijazah minimal S1 di Jawa Tengah cenderung membaik. Artinya telah membaiknya kualitas aparatur pemerintah dengan adanya kebijakan aparat berijazah minimal S1. Persentase Jumlah Kabupaten/Kota yang Memiliki Peraturan Daerah Pelayanan Satu Atap Pelayanan satu atap pada suatu daerah menandakan bahwa daerah tersebut telah berani memangkas panjangnya jalur birokrasi yang selama ini ada di Indonesia. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut di bawah ini : Tabel 2.1.3. Persentase Jumlah Kabupaten/Kota yang Memiliki Peraturan Daerah Pelayanan Satu Atap Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Nasional Jateng Tren Nas Tren Jateng 2004 2,05 68,57142857 0 0 2005 2,05 68,57142857 9,531707317 0,208333333 2006 21,59 82,85714286 1,838814266 -0,172413793 2007 61,29 68,57142857 0,212432697 0,208333333 2008 74,31 82,85714286 Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, 2005-2009. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 17  
  29. 29.       EKPD 2009 Berdasarkan pada data di atas diketahui bahwa persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap di Jawa Tengah cenderung fluktuatif selama lima tahun terakhir, dari 68,57 persen pada tahun 2004 meningkat sebesar 82,85 persen pada tahun 2008. Kondisi persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap di Jawa Tengah dinyatakan lebih baik dibandingkan dengan Nasional, yang cenderung persentasenya lebih kecil (sedikit), dimana tahun 2004 sebesar 2,05 persen, kemudian tahun 2008 meningkat menjadi 74,31 persen. Selanjutnya bila dilihat dari tren persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap yang tampak pada grafik di bawah ini, menunjukan bahwa Jawa Tengah dan Nasional tidak memiliki kemiripan jalur tren. Tren persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap Jawa Tengah cenderung meningkat pada tahun awal, kemudian cenderung mengalami sedikit penurunan pada tahun tengahan dan meningkat pada tahun akhir. Sedangkan tren persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap Nasional cenderung naik sangat signifikan pada tahun awal dan menurun drastis pada tahun tengahan, untuk kemudian menurun sedikit pada tahun akhir. Artinya, dalam lima tahun jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap di Jawa Tengah mengalami flktuasi. Analisis Relevansi dan Efektivitas. Analisis Relevansi digunakan untuk menganalisis sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan daerah Provinsi Jawa Tengah mampu menjawab permasalahan Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi, khususnya jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap. Analisis relevansi dilakukan dengan membandingkan tren capaian persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap di Jawa Tengah dengan Nasional. Berdasarkan data yang ada pada grafik di atas menunjukkan bahwa tren capaian persentase jumlah kabupaten/kota Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 18  
  30. 30.       EKPD 2009 yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap Jawa Tengah menunjukan ketidakmiripan atau tidak sejalan dengan tren capaian persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap Nasional. Grafik 2.1.2. Tren Persentase Jumlah Kabupaten/Kota yang Memiliki Peraturan Daerah Pelayanan Satu Atap Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 Tren Capaian Outcome  100  12 Capaian Outcome 80 10 8 Nasional  60 6 Jateng 40 4 Tren Nasional 2 Tren Jateng  20 0 0 -2 2004  2005 2006 2007 2008 Tahun Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, 2005-2009. Analisis Efektivitas digunakan untuk mengukur kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Apabila dilihat dari kinerja Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi di Jawa Tengah selama lima tahun terakhir, tampak bahwa persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap cenderung fluktuatif. Pada tahun 2004 dan tahun 2005 persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap di Jawa Tengah sebesar 68,57 persen, kemudian meningkat menjadi 82,85 persen pada tahun 2006, dan menurun pada tahun 2007 menjadi 68,57 persen, pada tahun 2008 mengalami peningkatan menjadi 82,85 persen. Berdasarkan kondisi tersebut dapat disimpulkan bahwa persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap di Jawa Tengah membaik. Artinya telah meningkatnya pelayanan perijinan terpadu di Provinsi Jawa Tengah. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 19  
  31. 31.       EKPD 2009 DEMOKRASI Gender Development Index (GDI) Gender Development Index menjadi salah satu sub indikator di dalam majunya demokrasi di suatu daerah. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.1.4. Gender Development Index (GDI) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Nasional Jateng Tren Nas Tren Jateng 2004 63,64 59,8 2,341294783 1,672240803 2005 65,13 60,8 0,261016429 4,769736842 2006 65,3 63,7 0,765696784 0,313971743 2007 65,8 63,9 2008 Sumber: Bappeda Provinsi Jawa Tengah, 2005-2009. Berdasarkan pada data di atas diketahui bahwa Gender Development Index (GDI) di Jawa Tengah cenderung mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir. Gender Development Index di Jawa Tengah dinyatakan lebih buruk dibandingkan dengan Nasional, yang lebih besar persentasenya antara kisaran 63 persen hingga 65 persen. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 20  
  32. 32.       EKPD 2009 Grafik 2.1.3. Tren Gender Development Index (GDI) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 Tren Capaian Outcome  68 6 Capaian Outcome 66 5 Nasional  64 4 Jateng 62 3 Tren Nasional 60 2 58 1 Tren Jateng  56 0 2004  2005 2006 2007 Tahun Sumber: Bappeda Provinsi Jawa Tengah, 2005-2009. Selanjutnya bila dilihat dari tren yang tampak pada grafik di atas ini, menunjukan bahwa Gender Development Index (GDI) Jawa Tengah dan Nasional tidak memiliki kemiripan jalur tren, Jawa Tengah mengalami peningkatan setiap tahun, Nasional mengalami penurunan yang sangat signifikan pada awal tahun, kemudian tahun berikutnya mengalami kenaikan sedikit di di akhir tahun. Analisis Relevansi dan Efektivitas. Analisis Relevansi digunakan untuk menganalisis sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan daerah Provinsi Jawa Tengah mampu menjawab permasalahan Gender Development Index (GDI). Analisis relevansi dilakukan dengan membandingkan tren capaian laju Gender Development Index (GDI) Jawa Tengah dengan Nasional. Berdasarkan data yang ada pada grafik di atas menunjukkan bahwa tren capaian Gender Development Index (GDI) Jawa Tengah menunjukan ketidakmiripan atau tidak sejalan dengan tren capaian Gender Development Index (GDI) Nasional. Analisis Efektivitas digunakan untuk mengukur kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Apabila dilihat dari Gender Development Index (GDI) di Jawa Tengah selama lima tahun terakhir, tampak bahwa terjadi peningkatan Gender Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 21  
  33. 33.       EKPD 2009 Development Index (GDI) di Jawa Tengah. Pada tahun 2004 Gender Development Index (GDI) Jawa Tengah sebesar 59,8 persen, kemudian meningkat menjadi 60,8 persen pada tahun 2005, kemudian pada tahun 2006 meningkat lagi menjadi 63,7 persen, dan tahun 2007 mengalami peningkatan menjadi 63,9 persen. Hal ini menunjukan bahwa Gender Development Index (GDI) di Jawa Tengah membaik. Artinya tersedianya kebijakan tentang perempuan di Provinsi Jawa Tengah yang keberhasilannya dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Terwujudnya peningkatan kualitas perempuan dalam berbagai kebijakan dan program responsif terhadap kebutuhan perempuan; 2. Mendorong terwujudnya penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender; 3. Meningkatnya peran serta kesetaraan gender dalam pembangunan; Gender Empowerment Meassurement (GEM) Gender Empowerment Meassurement (GEM) menjadi salah satu sub indikator di dalam majunya demokrasi di suatu daerah. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.1.5. Gender Empowerment Meassurement (GEM) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Nasional Jateng Tren Nas Tren Jateng 2004 59,67 56,5 2,765208648 0,707964602 2005 61,32 56,9 0,782778865 4,217926186 2006 61,8 59,3 0,485436893 1,011804384 2007 62,1 59,9 2008 Sumber: Bappeda Provinsi Jawa Tengah, 2005-2009. Berdasarkan pada data di atas diketahui bahwa Gender Empowerment Meassurement (GEM) di Jawa Tengah cenderung mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir. Gender Empowerment Meassurement (GEM) di Jawa Tengah dinyatakan lebih Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 22  
  34. 34.       EKPD 2009 buruk dibandingkan dengan Nasional, yang lebih besar persentasenya antara kisaran 59 persen hingga 62 persen. Grafik 2.1.4. Tren Gender Empowerment Meassurement (GEM) Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 63 4,5 Tren Capaian Outcome  62 4 Capaian Outcome  61 3,5 60 3 Nasional  59 Jateng  2,5 58 2 Tren Nasional 57 56 1,5 Tren Jateng 55 1 54 0,5 53 0 2004  2005 2006 2007 Tahun Sumber: Bappeda Provinsi Jawa Tengah, 2005-2009. Selanjutnya bila dilihat dari tren yang tampak pada grafik di atas ini, menunjukan bahwa Gender Empowerment Meassurement (GEM) Jawa Tengah dan Nasional tidak memiliki kemiripan jalur tren, Jawa Tengah mengalami peningkatan pada awal tahun dam penurunan pada akhir tahun, Nasional mengalami penurunan yang sangat signifikan pada awal tahun, kemudian mengalami penurunan sedikit di akhir tahun. Analisis Relevansi dan Efektivitas. Analisis Relevansi digunakan untuk menganalisis sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan daerah Provinsi Jawa Tengah mampu menjawab permasalahan Gender Empowerment Meassurement (GEM). Analisis relevansi dilakukan dengan membandingkan tren capaian Gender Empowerment Meassurement (GEM) Jawa Tengah dengan Nasional. Berdasarkan data yang ada pada grafik di atas menunjukkan bahwa tren capaian Gender Empowerment Meassurement (GEM) Jawa Tengah menunjukan ketidakmiripan atau Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 23  
  35. 35.       EKPD 2009 tidak sejalan dengan tren capaian Gender Empowerment Meassurement (GEM) Nasional. Analisis Efektivitas digunakan untuk mengukur kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Apabila dilihat dari Gender Empowerment Meassurement (GEM) di Jawa Tengah selama lima tahun terakhir, tampak bahwa terjadi peningkatan Gender Empowerment Meassurement (GEM) di Jawa Tengah. Pada tahun 2004 Gender Empowerment Meassurement (GEM) Jawa Tengah sebesar 56,5 persen, kemudian meningkat menjadi 56,9 persen pada tahun 2005, kemudian pada tahun 2006 meningkat lagi menjadi 59,3 persen, dan tahun 2007 mengalami peningkatan menjadi 59,9 persen. Hal ini menunjukan bahwa Gender Empowerment Meassurement (GEM) di Jawa Tengah membaik. Artinya telah berkembangnya peran perempuan dalam bidang ekonomi, politik, dan lainnya di Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut : 1. Berdasarkan Pemilu 2004 keterwakilan perempuan di DPR 11,6 persen dan di DPD sebesar 19,8 persen; 2. Persentase perempuan PNS yang menjabat sebagai Eselon I, II, dan III masing-masing 9,6 persen, 6,7 persen, dan 13,5 persen; Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pemilihan Kepala Daerah Provinsi Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan Kepala Daerah Provinsi menjadi salah satu sub indikator di dalam majunya demokrasi di suatu daerah. Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan Kepala Daerah Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2008 menunjukkan angka 75,13 persen. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 24  
  36. 36.       EKPD 2009 Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pemilihan Legislatif Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan legislatif dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 2.1.6. Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pileg Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Nasional Jateng Tren Nas Tren Jateng 2004 75,19 83,24 -5,572549541 2009 71 71,26 Sumber: KPUD Jawa Tengah. Berdasarkan pada data di atas diketahui bahwa tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan legislatif di Jawa Tengah cenderung mengalami penurunan dalam dua kali periode pemilihan legislatif. Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan legislatif di Jawa Tengah dinyatakan lebih baik dibandingkan dengan Nasional, yang lebih besar persentasenya antara kisaran 71 persen hingga 83 persen. Grafik 2.1.5. Tren Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pileg Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 dan 2009 85  0 Capaian Outcome Tren Capaian 80  -1 Nasional  Outcome 75  -2 Jateng -3 70  Tren Nasional -4 65  -5 Tren Jateng  60  -6 2004 2005 Tahun Sumber: KPUD Jawa Tengah. Analisis Efektivitas digunakan untuk mengukur kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Apabila dilihat dari tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 25  
  37. 37.       EKPD 2009 legislatif di Jawa Tengah selama dua kali periode pemilihan legislatif, tampak bahwa terjadi penurunan. Pada tahun 2004 tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan legislatif Jawa Tengah sebesar 83,24 persen, kemudian menurun menjadi 71,26 persen pada tahun 2009,. Hal ini menunjukan bahwa tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan legislatif di Jawa Tengah memburuk. Hal ini disebabkan karena beberapa hal berikut ini : 1. Mekanisme Pemilu yaitu dalam tata cara mencoblos pada tahun 2004 dan tahun 2009 mengalami perubahan yang signifikan; 2. Jumlah peserta Pemilu yang semakin meningkat dibandingkan dengan tahun 2004; 3. Masih kurangnya sosialisasi kepada masyarakat yang berada di daerah pedesaan maupun daerah terpencil Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pilpres Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pilpres dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 2.1.7. Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pilpres Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Nasional Jateng Tren Nas Tren Jateng 2004 75,98 76,96 -3,922084759 2009 73 71,01 Sumber: KPUD Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan pada data di atas diketahui bahwa tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pilpres di Jawa Tengah cenderung mengalami penurunan dalam dua kali periode pemilihan pilpres. Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pilpres di Jawa Tengah dinyatakan lebih buruk dibandingkan dengan Nasional, yang lebih besar persentasenya antara kisaran 73 persen hingga 75 persen. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 26  
  38. 38.       EKPD 2009 Grafik 2.1.6. Tren Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam Pilpres Capaian Outcome  Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004 dan 2009 78 0 Tren Capaian Outcome  76 -1 Nasional  74 -2 Jateng 72 -3 Tren Nasional 70 -4 Tren Jateng  68 -5 2004  2009 Tahun Sumber: KPUD Provinsi Jawa Tengah. Analisis Efektivitas digunakan untuk mengukur kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Apabila dilihat dari tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pilpres di Jawa Tengah selama dua periode pilpres, tampak bahwa terjadi penurunan. Pada tahun 2004 tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pilpres di Jawa Tengah sebesar 76,96 persen, kemudian menurun menjadi 71,01 persen pada tahun 2009,. Hal ini menunjukan bahwa tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pilpres di Jawa Tengah memburuk. Hal ini disebabkan karena beberapa hal sebagai berikut : 1. Kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin negara ini semakin berkurang dan 2. Tingkat ketidakpuasan masyarakat kepada pemerintah semakin tinggi. 3. Mekanisme Pemilu yaitu dalam tata cara mencoblos pada tahun 2004 dan tahun 2009 mengalami perubahan yang signifikan; 4. Jumlah peserta Pemilu yang semakin meningkat dibandingkan dengan tahun 2004; 5. Masih kurangnya sosialisasi kepada masyarakat yang berada di daerah pedesaan maupun daerah terpencil Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 27  
  39. 39.       EKPD 2009 Tingkat Kualitas Pelayanan Publik dan Demokrasi Setelah dilakukan analisis capaian untuk semua sub indikator dari indikator Tingkat Kualitas Pelayanan Publik dan Demokrasi, maka pada bagian ini akan dilakukan analisis capaian gabungan dari semua sub indikator – Analisis Capaian Indikator Tingkat Kualitas Pelayanan Publik dan Demokrasi atau Analisis Outcome. Analisis outcomes hanya dilakukan pada sub indikator yang datanya bersifat persentase, dalam hal ini terdapat 2 (dua) sub indikator, yaitu: 1) Persentas Aparat yang Berijasah Minimal S1 dan 2) Persentase Jumlah Kabupaten yang Memiliki Peraturan Daerah Pelayanan Satu Atap. Rangkaian sub indikator Tingkat Kualitas Pelayanan Publik dan Demokrasi tersebut telah disesuaikan sesuai maknanya (“Positif”) untuk kemudian dirumuskan dalam notasi perhitungan outcomes sebagai berikut: Indikator Tingkat = {Persentase Aparat yang Berijasah Minimal S1 + Kualitas Pelayanan Persentase Jumlah Kabupaten yang Memiliki Publik dan Peraturan Daerah Pelayanan Satu Atap} / 2 Demokrasi Berdasarkan pada perhitungan di atas, diperoleh hasil kondisi outcomes indikator Tingkat Kualitas Pelayanan Publik dan Demokrasi secara Nasional dan Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut: Tabel 2.1.8. Outcome Tingkat Kualitas Pelayanan Publik dan Demokrasi Nasional dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Nasional Jateng Tren Nas Tren Jateng 2004 15.975 47.85071429 0.034428795 0.031138511 2005 16.525 49.34071429 0.619364599 0.149326114 2006 26.76 56.70857143 0.716928251 -0.11176189 2007 45.945 50.37071429 0.145935357 0.141805754 2008 52.65 57.51357143 Sumber: Berbagai Sumber, Diolah. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 28  
  40. 40.       EKPD 2009 Berdasarkan pada data di atas diketahui bahwa persentase outcome indikator tingkat kualitas pelayanan publik dan demokrasi Jawa Tengah cenderung meningkat selama lima tahun terakhir, mulai dari 47,85 persen pada tahun 2004 menjadi sebesar 57,51 persen pada tahun 2008. Kondisi persentase outcome indikator tingkat kualitas pelayanan publik dan demokrasi Jawa Tengah ini dinyatakan masih lebih baik dibandingkan dengan kondisi outcome indikator tingkat kualitas pelayanan publik dan demokrasi secara Nasional, yang cenderung persentasenya lebih kecil, dimana tahun 2004 sebesar 15,97 persen, kemudian tahun 2008 bahkan bertambah menjadi sebesar 52,65 persen. Selanjutnya bila dilihat dari tren outcome indikator tingkat kualitas pelayanan publik dan demokrasi di bawah, menunjukan bahwa Jawa Tengah dan Nasional sedikit memiliki kemiripan jalur tren, jalur trennya cenderung bertolak belakang pada tahun kedua dan terakhirr. Tren outcome indikator tingkat koalitas pelayanan Publik dan demokrasi untuk Jawa Tengah pada tahun awal meningkat, pada tahun tengah cenderung menurun, dan pada tahun akhir cenderung meningkat. Sedangkan tren outcome indikator tingkat koalitas pelayanan Publik dan demokrasi secara Nasional pada tahun awal cenderung meningkat, pada tahun tengah meningkat, dan pada tahun akhir menurun. Artinya, dalam lima tahun terakhir telah terjadi terjadi perbaikan dalam peningkatan pelayanan Publio dan demokrasi di Jawa Tengah. Laporan Akhir EKPD Provinsi Jawa Tengah 2009 29  

×