ASKEP Flu Burung & Babi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

ASKEP Flu Burung & Babi

on

  • 413 vues

 

Statistics

Vues

Total Views
413
Views on SlideShare
411
Embed Views
2

Actions

Likes
0
Downloads
8
Comments
0

1 intégré 2

http://vjdova.blogspot.com 2

Accessibilité

Catégories

Détails de l'import

Uploaded via as Microsoft Word

Droits d'utilisation

© Tous droits réservés

Report content

Signalé comme inapproprié Signaler comme inapproprié
Signaler comme inapproprié

Indiquez la raison pour laquelle vous avez signalé cette présentation comme n'étant pas appropriée.

Annuler
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Votre message apparaîtra ici
    Processing...
Poster un commentaire
Modifier votre commentaire

ASKEP Flu Burung & Babi ASKEP Flu Burung & Babi Document Transcript

  • KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan atas kehadiran Tuhan yang Maha Esa, yang atas rahmatnya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Asuhan Keperawwatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Pernafasan: Flu Burung Dan Flu Babi”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas Keperawatan Medikal Bedah yang telah diberikan. Dalam penulisan makalah ini kami masih merasa masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki oleh kami. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini, kami tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah dapat diselesaikan tanpa hambatan,dan tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada Dosen yang telah membimbing kami. Dalam penyusunan makalah ini kami berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kami sendiri maupun kepada pembaca umumnya. Pontianak, 19 September 2013 1
  • DAFTAR ISI Kata Pengantar...........................................................................................................................1 Daftar Isi.....................................................................................................................................2 BAB I LANDASAN TEORI I. Konsep Dasar Medik A. Definisi...................................................................................................................3 B. Anatomi Fisiologi...................................................................................................3 C. Klasifikasi..............................................................................................................7 D. Etiologi...................................................................................................................8 E. Fatofisiologi...........................................................................................................9 F. Tanda dan Gejala..................................................................................................10 G. Pemeriksaan Diagnostik.......................................................................................11 H. Komplikasi...........................................................................................................12 I. Penatalaksanaan Medik........................................................................................12 II. Konsep Dasar Keperawatan A. Pengkajian............................................................................................................14 B. Diagnosa Keperawatan.........................................................................................16 C. Rencana Keperawatan..........................................................................................16 D. Perencanaan Pulang............................................................................................21 E. Evaluasi keperawatan..........................................................................................21 BAB II PENUTUP A. Kesimpulan...............................................................................................................23 B. Saran.........................................................................................................................24 DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................25 2
  • BAB II LANDASAN TEORI I KONSEP DASAR MEDIK A. Pengertian/ Definisi Flu Burung adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A/H5N1. Dengan diameter 90 – 120 nanometer. Virus tersebut termasuk dalam famili Orthomyxoviridae. Secara normal, virus tersebut hanya menginfeksi ternak unggas seperti ayam, kalkun dan itik. Penularannya kepada manusia melalui kontak langsung dengan unggas. ( Retno D. Soejoedono dan Ekowati Handharyani ,2006 hal 6 ). Flu babi adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang sangat menular, disebabkan oleh virus influensa tipe A/H1N1. Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya di temukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia. Waktu inkubasi/penetasan virus tersebut biasanya 3~4 hari (mungkin saja bisa 1~7 hari). (Abdi Susanto, 2009). B. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan 3
  • 1. Hidung Hidung merupakan saluran udara yang pertama mempunyai dua lubang ( kavum nasi ) dipisahkan oleh sekat hidung ( septum nasi ). Di dalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung. a. Bagian luar dinding terdiri dari kulit. b. Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan. c. Lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat yang dinamakan karang hidung ( konka nasalis ). Pada hidung bagian mukosa terdapat serabut-serabut saraf atau resptor-reseptor dari saraf penciuman disebut nervus olfaktorius. Fungsi hidung terdiri dari : a. Bekerja sebagai saluran pernafasan. b. Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung. c. Dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa. d. Membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama udara pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir atau hidung. 2. Faring Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan. Terdapat di bawah dasar tengkorak, di belakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Menurut letaknya faring dibagi menjadi tiga bagian : a. Bagian sebelah atas disebut nasofaring. b. Bagian tengah disebut orofaring. c. Bagian bawah sekali dinamakan laringo faring. 3. Laring Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebrata servikalis dan masuk ke dalam trakea dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah katup yang disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring. Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglotis yang dilapisi oleh sel epitelium berlapis. Pada pita suara sejati ( vokalis ) terdapat dua 4
  • buah otot yang apabila bergerak maka pita suara dapat bergetar dengan demikian pita suara dapat melebar dan mengecil sehingga disini terbentuklah suara. 4. Trakea Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 – 20 cincin yang terdiri dari tulang-tuang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda ( huruf C ). Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, hanya bergerak ke arah luar. Panjang trakea 9 – 11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina. 5. Bronkus Merupakan lanjutan dari trakea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebrata torakalis ke IV dan ke V. Mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan ke samping ke arah tampuk paru-paru. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai tiga cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang. Bronkus bercabangcabang, cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus. 6. Bronkiolus Pada bronkiolus tak terdapat cincin lagi dan pada ujung bronkiolus terdapat gelembung paru atau alveoli. 7. Alveoli Setelah bronchiolus maka terdapatlah ductus alveolaris yang merupakan saluran-saluran kecilyang akan berakhir sebagai suatu ruangan yang bulat yang dinamakan infundibulum, yang dindingnya merupakan tonjolan-tonjolan yang berbentuk seperti buah anggur yang dinamakan alveolus. Alveolus itu, disebelah luarnya diliputi oleh anyaman kapiler pembuluh darah yang merupakan peralihan antara arteri pulmonalis dan vena pulmonalis. Oksigen dari udara yang ada di dalam alveolus ini akan keluar melalui dinding tipis dan masuk ke dalam kapiler, sedangkan karbon dioksida dan air dari dalam kapiler akan keluar dan bergabung dengan udara alveolus. Dengan cara ini terjadilah proses pembersihan darah dari arteri pulmonalis ke vena pulmonalis. 5
  • 8. Paru-paru Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-gelembung ( gelembung hawa= alveoli ). Gelembung-gelembung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Jika dibentangkan luas permukaannya lebih kurang 90 m2 pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara, oksigen masuk ke dalam darah dan karbondioksida dikeluarkan dari darah. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700 juta buah (paru-paru kiri dan kanan ). Paru-paru dibagi dua. Paru-paru kanan terdiri dari tiga lobus ( belah paru), lobus pulmo dextra superior, lobus media, lobus inferior. Tiap lobus disusun oleh lobulus. Paru-paru kiri terdiri dari pulmo sinister lobus superior dan lobus inferior. Letak paru pada rongga dada datarannya menghadap ke tengah rongga dada / kavum mediastinum. Pada bagian tengah itu terdapat tampuk paru-paru atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus oleh selaput yang bernama pleura. Pleura ini terbagi dua, pleura viseral (selaput dada pembungkus) yaitu selaput paru yang langsung membungkus paru-paru, dan pleura parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah dalam. Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal, kavum pleura ini vakum/hampa udara sehingga paruparu dapat berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang berguna untuk meminyak permukaannya (pleura), menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada dimana sewaktu bernafas bergerak. Fisiologi Pernafasan Pernafasan paru-paru ( pernafasan pulmonar ). Merupakan pertukaran oksigen dan karbondioksida yang terjadi pada paru-paru. Pernafasan melalui paru-paru atau pernafasan external, oksigen diambil melalui mulut dan hidung pada waktu bernafas dimana oksigen masuk melalui trakea sampai ke alveoli berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonar, alveoli memisahkan oksigen dari darah, oksigen menembus membran, diambil oleh sel darah merah di bawa ke jantung dan dari jantung dibawa ke seluruh tubuh. Di dalam paru-paru karbondioksida merupakan hasil buangan menembus membran alveoli dari kapiler darah dikeluarkan melalui pipa bronkus berakhir sampai mulut dan hidung. 6
  • Empat proses yang berhubungan dengan pernafasan pulmoner : a. Ventilasi pulmonar, gerakan pernafasan yang menukar udara dalam alveoli dengan udara luar. b. Arus darah melalui paru-paru, darah mengandung oksigen masuk ke seluruh tubuh, karbondioksida dari seluruh tubuh masuk paru-paru. c. Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian rupa dengan jumlah yang tepat yang bisa dicapai untuk semua bagian. d. Disfusi gas yang menembus membran alveoli dan kapilerkarbon dioksida lebih mudah berdifusi daripada oksigen. Proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida, konsentrasi dalam darah mempengaruhi dan merangsang pusat pernafasan terdapat dalam otak untuk memperbesar kecepatan dalam pernafasan sehingga terjadi pengambilan oksigen dan pengeluaran karbondioksida lebih banyak. Pernafasan jaringan, atau pernafasan interna. Darah merah ( hemoglobin ) yang banyak mengandung oksigen dari seluruh tubuh masuk ke dalam jaringan akhirnya mencapai kapiler, darah mengeluarkan oksigen ke dalam jaringan, mengambil karbondioksida untuk dibawa ke paru-paru dan di paru-paru terjadi pernafasan internal. C. Klasifikasi Departemen Kesehatan RI membagi diagnosis flu burung pada manusia menjadi kasus suspek, probable dan kasus konfirmasi. 1. Kasus suspek flu burung adalah seseorang dengan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dengan gejala demam (suhu > 38°C), batuk dan atau sakit tenggorokan dengan salah satu keadaan : a. Seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang terjangkit KLB flu burung b. Kontak dengan kasus konfirmasi flu burung dalam masa penularan c. Bekerja di laboratorium yang memproses spesimen manusia atau hewan yang dicurigai menderita flu burung. 2. Kasus probable adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan : a. Bukti laboratorium terbatas mengarah ke virus influenza A H5N1, misalnya tes menggunakan antigen H5N1. b. Dalam waktu singkat, berlanjut menjadi pneumonia / gagal pernafasan / meninggal. c. Terbukti tidak ada penyebab lain. 7
  • 3. Kasus yang sudah pasti atau kasus konfirmasi, yang definisinya adalah kasus yang : a. Hasil kultur virus influenza H5N1 (+) b. Hasil PCR influenza H5 (+) c. Terjadi peningkatan titer antibodi H5 sebesar 4 kali. Klasifikasi flu babi berdasarkan derajat keparahannya flu babi dibedakan menjadi yaitu: Ringan 1. ILI (influenza like illness) 2. Tidak Sesak 3. Tidak nyeri dada 4. Tidak ada pneumonia 5. Tidak termasuk kelompok risiko tinggi (Asma, DM, PPOK, Obesitas, kurang Gizi, Penyakit kronis lainnya) 6. Usia muda Sedang 1. ILI (influenza like illness) dengan komorbid 2. Sesak napas 3. Pneumonia 4. Usia tua 5. Hamil 6. Keluhan mengganggu: diare, muntah-muntah Berat 1. Pneumonia luas 2. Gagal napas 3. Sepsis 4. Syok 5. Kesadaran menurun 6. ARDS 7. Gagal multiorgan (Sudoyo, 2006) D. Etiologi Flu burung ( avian influenza, Al ) merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H5N1 ( H=hemaaglutinin; N=neuraminidase )yang pada umumnya menenyerang unggas ( burung dan ayam ). 8
  • Unggas yang terserang virus influenza tiype A dapat mengeluarkan virus dengan jumlah besar dalam kotorannya ( feses ). Udara yang kotor bercampur dengan feses kering atau sekreta unggas yang terjangkit flu burung akan terhirup oleh manusia yang hidup di lokasi peternakan, seperti pekerja kandang dan peternak serta kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi. Penyebab flu babi adalah virus influenza tipe A subtype H1N1 dari familia orthomyxoviridae. Flu atau influenza ada 2 type : Type A : Menular pada unggas (ayam, itik, dan burung) serta babi Type B dan type C : Menular pada manusia Virus influenza tipe A yang termasuk family orthomyxoviridae, erat kaitannya dengan penyabab swine flu, equine flu, dan avian influenza (fowl plaque). Ukuran virus tersebut berdiameter 80120 nm. Selain influenza A, terdapat influenza B dan influenza C yang juga sudah dapat di isolasi dari babi. Sedangkan 2 tipe influenza pada manusia adalah tipe A dan B. kedua tipe ini diketahui sangat progresif dalam perubahan antigenic yang sangat dramatic sekali (antigenik shift). E. Patofisiologi 1. Flu burung Flu burung bisa menulari manusia bila manusia bersinggungan langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung. Virus flu burung hidup di saluran pencernaan unggas. Unggas yang terinfeksi dapat pula mengeluarkan virus ini melalui tinja, yang kemudian mengering dan hancur menjadi semacam bubuk. Bubuk inilah yang dihirup oleh manusia atau binatang lainnya. Virus ditularkan melalui saliva dan feses unggas. Penularan pada manusia karena kontak langsung, misalnya karena menyentuh unggas secara langsung, juga dapat terjadi melalui kendaraan yang mengangkut binatang itu, di kandangnya dan alat-alat peternakan ( termasuk melalui pakan ternak ). Penularan dapat juga terjadi melalui pakaian, termasuk sepatu para peternak yang langsung menangani kasus unggas yang sakit dan pada saat jual beli ayam hidup di pasar serta berbagai mekanisme lain. Dalam hal penularan dari unggas ke manusia, perlu ditegaskan bahwa penularan pada dasarnya berasal dari unggas sakit yang masih hidup dan menular. Unggas yang telah dimasak, digoreng dan lain-lain, tidak menularkan flu burung ke orang yang memakannya. Virus flu burung akan mati dengan pemanasan 80°C selama 1 menit. 9
  • Kemampuan virus flu burung adalah membangkitkan hampir keseluruhan respon "bunuh diri" dalam sistem imunitas tubuh manusia. Makin banyak virus itu tereplikasi, makin banyak pula produksi sitokin-protein dalam tubuh yang memicu peningkatan respons imunitas dan berperan penting dalam peradangan. Sitokin yang membanjiri aliran darah karena virus yang bertambah banyak, justru melukai jaringan tubuh (efek bunuh diri). 2. Flu babi Pada penyakit influensa babi klasik, virus masuk melalui saluran pernafasan atas kemungkinan lewat udara. Virus menempel pada trachea dan bronchi dan berkembang secara cepat yaitu dari 2 jam dalam sel epithel bronchial hingga 24 jam pos infeksi. Hampir seluruh sel terinfeksi virus dan menimbulkan eksudat pada bronchiol. Infeksi dengan cepat menghilang pada hari ke 9 . Lesi akibat infeksi sekunder dapat terjadi pada paru-paru karena aliran eksudat yang berlebihan dari bronkhi. Lesi ini akan hilang secara cepat tanpa meninggalkan adanya kerusakan. Pembentukan eksudat pada bronchiol menyebabkan suplai oksigen menurun, paru-paru akan meningkatkan kerjanya sehingga menimbulkan sesak nafas. Karena suplai oksigen terganggu, orang yang terinfeksi akan mengalami hipoksia dan kesadaran juga dapat menurun. Selain itu, metabolisme tubuh pun dapat terganggu dalam pembentukan energi sehingga orang dengan flu ini akan cepat merasa lelah. Virus flu babi juga dapat masuk ke dalam saluran cerna yaitu lambung dan usus. Virus yang masuk ke dalam lambung akan meningkatkan produksi HCl yang dapat menimbulkan perasaan mual dan penurunan nafsu makan. Sedangkan virus yang masuk ke dalam usus akan meningkatkan kerja peristaltik, dengan demikian orang akan mengalami diare. F. Tanda dan Gejala 1. Tanda dan gejala flu burung adalah : a. Gejala pada unggas : 1) Jengger berwarna biru 2) Borok di kaki 3) Kematian mendadak b. Gejala pada manusia : 1) C) 2) Batuk dan nyeri tenggorokan 10
  • 3) Radang saluran pernapasan atas 4) Pneumonia 5) Infeksi mata 6) Nyeri sendi dan otot ( Badan Penelitian & Pengembangan Kes.Depkes RI) 2. Tanda dan gejala flu babi yaitu umumnya mirip dengan kebanyakan infeksi influenza a. Tanda dan gejala umum 1) C atau lebih ) 2) Batuk 3) Sekresi hidung berlebihan 4) Keletihan 5) Sakit kepala 6) Mual 7) Muntah 8) Diare 9) Nyeri otot dan tulang 10) Sakit tenggorokan 11) Menggigil dan lemas 12) Tidak nafsu makan 13) Bersin – bersin b. Tanda dan gejala lain pada anak-anak : 1) Nafas terengah-engah 2) Kulit menjadi kehitaman / keabuan 3) Malas minum 4) Muntah-muntah 5) Tidak bisa bangun dan berinteraksi dengan baik 6) Tidak mau disentuh 7) Terkadang gejala hilang tetapi demam & batuk masih ada (Capernito, Linda juall, 2001) G. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan Laboratorium 1. Pemeriksaan Serologi dilakukan untuk melacak antibody dalam darah terhadap virus. 11
  • 2. Pemeriksaan PCR ( polymerase chain reaction ) dilakukan untuk mendeteksi DNA virus pada sel. 3. Darah lengkap (Hb, Ht, Leukosit, Trombosit, LED, Diff count). 4. Kimia Darah (SGOT, SGPT, Ureum, Kreatinin). 5. AGD 6. Pemeriksaan mikrobiologi bakteri gram. 7. Deteksi Antigen. 8. Pemeriksaan Radiologi. a. Petugas radiologi telah mempersiapkan diri dengan standar Universal Precaution sebelum melaksanakan tugasnya. b. Pemeriksaan akan dilaksanakan selama 24 jam dengan menggunakan dua pesawat radiologi, satu pada ruang instalasi radiologi dan satu lagi adalah pesawat radiologi yang bergerak dan berada didalam ruangan perawatan (untuk kasus rawat inap). c. Pemeriksaan foto thoraks dengan gambaran infiltrat yang tersebar di paru adalah menunjukkan bahwa kasus ini adalah pneumonia. H. Komplikasi Pneumonia karena flu yang berkepanjangan. I. Penatalaksanaan Medik 1. Pasien dirawat di ruangan isolasi a. Kewaspadaan penularan melalui udara b. Selama penularan yaitu 7 hari pertama setelah timbul gejala 2. Diruang rawat biasa a. Setelah hasil usap tenggorok (-) berulang kali 3. Dengan PCR a. Setelah tak demam 7 hari b. Pertimbangan lain dari dokter Pengobatan Dapat bersifat simtomatik sesuai gejala yang ada; jika batuk dapat diberi obat batuk dan jika sesak dapat diberi oksigen atau bronkodilator. Pasien juga harus mendapat terapi suportif, makanan yang baik dan bergizi, jika perlu diinfus dan istirahat cukup. Secara umum daya tahan tubuh pasien haruslah ditingkatkan. Selain itu dapat pula diberikan obat anti virus. 12
  • Ada 2 jenis yang tersedia : kelompok inhibitors yaitu amantadine dan rimantadine serta kelompok dari neuraminidase inhibitors yaitu oseltamivir dan zanimivir. Amantadine dan rimantadine diberikan pada awal penyakit, 48 jam pertama selama 3- 5 hari, dengan dosis 5 mg/kg bb./ hari, dibagi 2 dosis. Jika berat badan lebih dari 45 kg diberikan 100 mg 2 kali sehari. Sedangkan oseltamivir diberikan 75 mg, 1 kali sehari selama 1 minggu. Dosis harus diturunkan pada orang lanjut usia dan mereka yang mengalami penurunan fungsi hati atau ginjal. Pengobatan lain 1. Antibiotik spektrum luas yang mencakup kuman tipikal dan atipikal 2. Metilprednisolon 1-2 mg/kgBB IV diberikan pada pneumonia berat, ARDS atau pada syok sepsis yang tidak respons terhadap obat-obat vasopresor. 3. Terapi lain seperti terapi simptomatik, vitamin, dan makanan bergizi. 4. Rawat di ICU sesuai indikasi. Pencegahan pada unggas dan babi a. Depopulasi yaitu pemusnahan unggas dan babi yang terinfeksi flu burung dan flu babi. b. Vaksinasi unggas dan babi yang sehat. c. Tindakan karantina atau isolasi harus diberlakukan terhadap peternakan yang tertular. Pencegahan pada manusia 1. Kelompok berisiko tinggi ( pekerja peternakan dan pedagang ) a. Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja. b. Hindari kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung dan babi yang terinfeksi flu babi. c. Menggunakan alat pelindung diri ( Masker N95 minimal masker bedah, kaca mata google, gaun pelindung/ apron, sarung tangan tebal, sepatu bot karet ) d. Meninggalkan pakaian kerja di tempat kerja. e. Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas, seperti tinja harus ditatalaksana dengan baik ( ditanam atau dibakar ) agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang di sekitarnya. f. Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan. g. Alat-alat yang digunakan dalam peternakan harus dicuci dengan desinfektan. h. Bersihkan kandang dan alat transportasi yang membawa unggas dan babi. i. Lalu lintas orang keluar masuk kandang dibatasi. 13
  • j. Imunisasi unggas dab babi yang sehat k. Survelen serologi pada pekerja l. Vaksinasi flu manusia agar tidak terjadi 2 infeksi gabungan. m. Sosialisasi flu burung dan flu babi dilakukan dengan penyuluhan ke peternakan. 2. Masyarakat Umum a. Menjaga daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi, mengkonsumsi vitamin san suplemen, olahraga teratur dan istirahat cukup. b. Tidak mengimpor daging ayam dari tempat yang diduga terkena wabah avian flu . c. Mengolah produk unggas dengan cara yang benar, yaitu : Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit di tubuhnya). Memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 80°C selama 1 menit dan telur sampai dengan suhu ± 64°C selama 5 menit. Karena telur juga dapat tertular maka perlu penanganan yang tepat terutama telur yang masih mentah yaitu dengan mencucinya sebelum dimasak. d. Pengamatan kesehatan pasif bagi yg berisiko tinggi / terpapar dan keluarga jika ada gejala gangguan pernapasan, flu dan infeksi mata harus ke fasilitas kesehatan. e. Golongan rentan ( anak-anak, lanjut usia, penderita jantung, paru kronik ) agar menghindari tempat terjangkit. II KONSEP DASAR KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Pola Persepsi kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan a. Apakah ada yang sakit flu babi disekitar tempat tinggal dan tempat bekerja? b. Bagaimana status kesehatan klien? c. Apakah klien sebelumnya pernah mengalami flu? d. Apakah yang dilakukan klien ketika ia menderita flu tersebut, apakah ia berusaha mendapatkan pertolongan medis? 2. Pola Nutrisi Metabolik a. Apakah klien ada nafsu makan atau tidak? b. Apakah klien ada kesulitan dalam makan,seperti mual,muntah,dan susah menelan? 14
  • 3. Pola Eliminasi a. Apakah klien ada masalah dalam BAK/BAB sehari-hari? b. Bagaimana biasanya karakteristik jumlah, warna dan konsistensi dari urine atau feces? 4. Pola Aktivitas dan Latihan a. Apakah yang dilakukan klien sehari-hari? b. Apakah klien merasa lemah, letih, kaku? c. Apakkah memiliki riwayat sesak nafas? d. Pekerjaan apa? e. Apakah pernah kontak dengan penderita flu babi? 5. Pola Tidur dan Istirahat a. Bagaimana kebiasaan tidur danistirahat klien sebelum sakit dan ketika sakit? b. Apakah klien sering terbagun disaat ia tidur? c. Apakah klien ada menggunakkan obat-obat tidur dalam merangsang rasa ngantuk? 6. Pola Persepsi Kognitif a. Apakah klien menggunakan alat bantu? b. Apakah klien ada perasaan tidak nyaman, nyeri, jika iya bagaimana mengatasinya? 7. Pola persepsi dan Konsep Diri a. Bagaimana cara pandang klien terhadap dirinya sendiri sebelum dan sesudah ia sakit, apakah ada perubahan perilaku atau kepribadian? b. Bagaimana menurut klien tentang penyakitnya? 8. Pola Peran dan Hubungan dengan Sesama a. Apakah klien ada perasaan malu untuk bergaul dengan sesama? b. Apakah peran klien dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan tempat kerja? 9. Pola Reproduksi Seksual a. Bagaimana hubungan klien dengan lawan jenis? b. Apakah klien mengalami penyimpangan seksualitas? 10. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress a. Apakah klien merasa cemas, takut berhubungan dengan penyakitnya? b. Apakah penyebab lain yang menyebabkan klien merasa cemas, stress? c. Apakah yang dilakukan klien ketika ia mengalami suatu masalah, juga ketika ia mengalami flu 15
  • d. Apakah ada rasa tidak berdaya? 11. Pola Nilai dan Sistem Kepercayaan a. Apakah klien ada mengalami penurunaan dalam ibadah ketika ia sakit? b. Apakah klien menyerahkan sepenuhnya penyakitnya kepada Tuhan? B. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan flu burung dan flu babi ini diambil dari: Capernito,Linda juall.2001.Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta.EGC. 1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus influenza tipe A 2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pengiriman oksigen. 3. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret. 4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan tubuh. 5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sulit bernapas. 6. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan insufisiensi oksigenisasi untuk aktivitas dan latihan. 7. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan penatalaksanaan berhubungan dengan kurangnya informasi. C. Rencana Keperawatan 1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus influenza tipe A. Tujuan : Hipertermi teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan. Sasaran : - TTV dalam batas normal ( Suhu = 36 - 37◦ C, Nadi = 60 – 100 x/menit, Respirasi = 12 – 20 x/menit ) Intervensi : b. Beri kompres hangat. Rasional : Membantu menurunkan panas dengan cara evaporasi. c. Observasi TTV tiap 4 jam. Rasional : Mengetahui peningkatan suhu tubuh. Penurunan tekanan darah dan nadi menunjukkan hipovolemik. Peningkatan pernafasan menunjukkan terjadinya hipoksia jaringan. d. Anjurkan pasien untuk banyak minum air putih ( 1,6 – 2 liter / 24 jam ). Rasional : Peningkatan suhu tubuh menyebabkan penguapan cairan tubuh sehingga perlu diimbangi dengan banyak asupan cairan. e. Anjurkan pasien untuk memakai pakaian tipis dan menyerap keringat. 16
  • Rasional : Mengurangi penguapan tubuh. f. Berikan lingkungan yang tenang, sirkulasi yang memadai dan temperatur lingkungan yang sesuai dengan suhu tubuh pasien. Rasional : Untuk meningkatkan kenyamanan pasien dan mempertahankan suhu tubuh. g. Kolaborasi dengan tim medik untuk pemberian therapy antipiretik. Rasional : Antipiretik untuk menurunkan panas. Antibiotik untuk mengatasi infeksi dan cairan intravena untuk meningkatkan asupan cairan yang hilang. h. Jelaskan penyebab peningkatan suhu tubuh. Rasional : Mengurangi ansietas, agar keluarga / pasien lebih kooperatif. 2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pengiriman oksigen. Tujuan: Pertukaran gas kembali normal. Kriteria: - Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi ke jaringan adekuat dengan GDA dalam batas normal dan bebas dari gejala distress pernapasan. Intervensi: a. Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernafas. Rasional: manifestasi distress pernafasan tergantung pada derajat keterlibatan paru dan status kesehatam umum. b. Observasi warna kulit, membran mukosa, dan kuku, catat adanya sianosis perifer (kuku) dan sianosis sentral (sirkumoral) Rasional: sianosis kuku menunjukan vasokontriksi atau respons tubuh terhadap demam. Sianosis daun telinga, membran mukosa, dan kulit menunjukan hipoksemia sistemik. c. Kaji status mental. Rasional: Gelisah, mudah terangsang, bingung, dan somnolen dapat menunjukan hipoksemia/penurunan oksigenasi serebral. d. Bantu pasien latihan nafas dalam dan batuk efektif. Rasional: nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru. Batuk efektif untuk mekanisme pembersihan jalan nafas. e. Kolaborasi untuk pemberian oksigen. Rasional: Untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh dan mencegah hipoksemia. 17
  • 3. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret. Tujuan : jalan nafas kembali efektif Kriteria : Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih Mengeluarkan secret tanpa kesulitan. Intervensi : a. Kaji frekuensi dan kedalaman pernapasan dan gerakan dada. Rasional: takipnea, pernapasan dangkal, dan gerakan dada yang tidak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dindng dada dan atau cairan paru. b. Auskultasi area paru, catat area penurunan aliran udara dan bunyi nafas. Rasional: penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Bunyi napas bronchial ( normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsolidasi. Krekels, ronki, dan mengi terdengar pada inspirasi-ekspirasi pada respons terhadap pengumpalan cairan, secret kental, dan spasme jalan napas/obstruksi. c. Bantu pasien latihan nafas dalam dan batuk efektif. Rasional: nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru. Batuk efektif untuk mekanisme pembersihan jalan nafas. d. Penghisapan sesuai indikasi. Rasional: pembersihan jalan nafas secara mekanik pada pasien yang tidak mampu melakukan teknik batuk efektif. e. Berikan cairan sedikitnya 2.500 ml/hari(kecuali kontraindikasi). Anjurkan air hangat. Rasional: cairan (khususnya air hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret. f. Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik, ekspetoran, bronkodilator, analgesic. Rasional: untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret 4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan tubuh. Tujuan: volume cairan dapat terpenuhi. Kriteria: - Pasien tidak mengalami kekurangan volume cairan. - Tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Intervensi 18
  • a. Observasi tanda-tanda vital pasien Rasional: tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. b. Kaji tanda dan gejala kekurangan cairan. Rasional: deteksi dini kurangnya volume cairan. c. Monitor dan catat cairan yang masuk dan keluar. Rasional: mengetahui keseimbangan cairan yang masuk dan keluar. d. Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena. Rasional: menggantikan cairan yang hilang. 5. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan insufisiensi oksigenisasi untuk aktivitas dan latihan. Tujuan: pasien menunjukan kemajuan dalam beraktivitas. Kriteria: Klien mampu menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas. Intervensi: a. Kaji kemampuan aktivitas pasien. Rasional : Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien memudahkan pilihan intervensi. b. Berikan lingkungan yang tenang. Rasional : Menurunkan stress dan rangsangan yang berlebihan. c. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. Rasional : Menurunkan laju metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan. Pembatasan aktivitas ditentukan dengan respon individual pasien terhadap aktivitas. d. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Rasional : Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. e. Ajarkan teknik relaksasi untuk membantu dalam toleransi aktivitas. Rasional : Penderita asthma diinstruksikan untuk melakukan teknik relaksasi fisik dalam upaya meminimalkan ketegangan otot. 6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sulit bernapas. Tujuan : Kebutuhan tidur dan istirahat pasien terpenuhi. 19
  • Kriteria Hasil : - Kebutuhan tidur dan istirahat pasien terpenuhi. - Klien dapat menjelaskan faktor yang menjelaskan faktor yang mencegah atau menghambat tidur. - Klien dapat mengidentifikasikan teknik untuk memudahkan tidur. Intervensi : a. Kaji pola dan kebiasaan tidur pasien . Rasional : Pola tidur yang tidak teratur dapat mengganggu irama sirkadian normal, kemungkinan menyebabkan sulit tidur. b. Identifikasi faktor penyebab atau faktor penunjang gangguan tidur. Rasional : Siklus tidur meliputi REM, NREM, dan terjaga. Terjaga selama satu siklus dapat menyebabkan lesu di pagi hari. c. Tanyakan apakah ada kebiasaan yang dilakukan klien sebelum tidur. Rasional : Ritual /kebiasaan tidur yang biasa dilakukan dapat meningkatkan relaksasi dan membantu tidur. d. Berikan posisi yang nyaman sesuai kebutuhan pasien. Rasional : Tidur akan sulit dilakukan tanpa relaksasi. Lingkungan rumah sakit yang yang asing dapat menghambat relaksasi. e. Anjurkan pasien untuk minum susu sebelum tidur. Rasional : Susu hangat yang mengandung L-tritofan merupakan penginduksi tidur. f. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat tidur. Rasional : Pemberian obat tidur untuk membantu klien agar bisa tidur dengan nyenyak. 7. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan penatalaksanaan berhubungan dengan kurangnya informasi. Tujuan : Keluarga pasien memahami tentang kondisi dan aturan pengobatan aktivitas atau perawatan diri dan pencegahan flu babi dan flu burung. Kriteria : - Menunjukkan pemahaman tentang kondisi, aturan pengobatan aktivitas / perawatan diri dan pencegahan flu babi dan flu burung. - Pasien dan keluarga akan memulai perubahan tingkah laku / gaya hidup sesuai indikasi. 20
  • - Pasien dan keluarga akan menaati aturan pengobatan. Intervensi : a. Jelaskan kembali mengenai patofisologi atau prognosis penyakit dan perlunya pengobatan atau penanganan dalam jangka waktu yang lama sesuai indikasi. Rasional: Memberi klarifikasi kesalahan persepsi dan keadaan penyakit yang ada sebagai sesuatu yang dapat ditangani dalam cara hidup yang normal. b. Jelaskan tentang manfaat obat-obatan yang didapat Rasional: Meningkatkan pemahaman keluarga tentang obat yang didapat sehingga keluarga lebih kooperatif. c. Berikan informasi atau penyuluhan kepada keluarga pasien tentang pencegahan terserang flu babi maupun flu burung. Rasional: Meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga pasien tentang pencegahan flu babi dan flu burung. D. Perencanaan Pulang 1. Jelaskan tentang perjalanan penyakit dan tanda-tanda terjangkit flu burung maupun flu babi serta cara pencegahannya. 2. Informasikan kepada pasien dan keluarga mengenai hasil akhir dari pemeriksaan laboratorium dan foto toraks. 3. Informasikan mengenai cara pencegahan dan tempat yang memiliki resiko tinggi untuk penyebaran flu burung maupun flu babi. 4. Informasikan kepada pasien dan keluarga untuk kontrol 1(satu) minggu setelah pulang atau datang setiap saat bila dirasa ada keluhan. 5. Jelaskan kepada paien dan keluarga tentang tata cara minum obat/terapi yang dibawa pulang. 6. Ajarkan teknik mencuci tangan yang baik dan benar. 7. Informasikan mengenai diet dan intake nutrisi sesuai kontra indikasi. 8. Bekali pasien dengan surat keterangan yang memberitahukan bahwa yang bersangkutan saat ini bukan pengidap /sembuh dari penyakit flu burung maupun flu babi. E. Evaluasi Keperawatan Dari masalah yang timbul pada pasien dengan penyakit flu burung dan flu babi , maka hasil yang diharapkan adalah pasien akan : 1. Temperatur pasien kembali normal (36o-37o C) 21
  • 2. Pola nafas kembali efektif. 3. Bersihan jalan nafas kembali efektif. 4. Cairan terpenuhi. 5. Aktivitas pasien kembali normal. 6. Gangguan pola tidur tidak terjadi. 22
  • BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil penulisan makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Flu Burung adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A/H5N1. Dengan diameter 90 – 120 nanometer. Virus tersebut termasuk dalam famili Orthomyxoviridae. Secara normal, virus tersebut hanya menginfeksi ternak unggas seperti ayam, kalkun dan itik. Penularannya kepada manusia melalui kontak langsung dengan unggas. ( Retno D. Soejoedono dan Ekowati Handharyani ,2006 hal 6 ). 2. Flu babi adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang sangat menular, disebabkan oleh virus influensa tipe A/H1N1. Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya di temukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia. Waktu inkubasi/penetasan virus tersebut biasanya 3~4 hari (mungkin saja bisa 1~7 hari). (Abdi Susanto, 2009). 3. Tanda dan gejala flu burung adalah : a. Gejala pada unggas : Jengger berwarna biru, borok di kaki, kematian mendadak b. Gejala pada manusia : C), batuk dan nyeri tenggorokan, radang saluran pernapasan atas, pneumonia, infeksi mata, nyeri sendi dan otot ( Badan Penelitian & Pengembangan Kes.Depkes RI). 4. Tanda dan gejala flu babi yaitu umumnya mirip dengan kebanyakan infeksi influenza a. Tanda dan gejala umum C atau lebih ), batuk, sekresi hidung berlebihan, keletihan, sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot dan tulang, sakit tenggorokan, menggigil dan lemas, tidak nafsu makan, bersin – bersin. b. Tanda dan gejala lain pada anak-anak : Nafas terengah-engah, kulit menjadi kehitaman / keabuan, malas minum, muntah-muntah, tidak bisa bangun dan berinteraksi dengan baik, tidak mau disentuh,terkadang gejala hilang tetapi demam & batuk masih ada (Capernito, Linda juall, 2001). 23
  • B. Saran Adapun yang dapat penulis sarankan yaitu: melihat dari data-data dalam melakukan Asuhan Keperawatan sebagai berikut: 1. Bagi Institusi Rumah Sakit atau Perawat. a. Lakukan tindakan keperawatan sesuai dengan kebutuhan pasien. b. Berikan therapy yang sesuai dengan rasional dan kebutuhannya. c. Dokumentaskan setiap tindakan yang diberikan kepada pasien agar dapat menjadi bukti sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat. d. Kolaborasi dengan tim medik lainnya mengenai pengobatan, tim gizi untuk pemberian diit dan pemeriksaan laboratorium untuk memaksimalkan semua pemeriksaan yang sudah dilakukan. 2. Bagi Pasien a. Informasikan mengenai cara pencegahan dan tempat yang memiliki resiko tinggi untuk penyebaran flu burung maupun flu babi. b. Informasikan kepada pasien dan keluarga untuk kontrol 1(satu) minggu setelah pulang atau datang setiap saat bila dirasa ada keluhan. c. Jelaskan kepada paien dan keluarga tentang tata cara minum obat/terapi yang dibawa pulang. d. Ajarkan teknik mencuci tangan yang baik dan benar. e. Informasikan mengenai diet dan intake nutrisi sesuai kontra indikasi. 24
  • DAFTAR PUSTAKA 1. Abdi Susanto, flu babi, PT Grasindo, anggota Ikapi, Jakarta 2009. 2. Marilynn E. doenges, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran, edisi 3. 3. http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/06/askep-flu-burung.html (16 september 2013 11:22:48). 4. www.kompas.com (16 september 2013 12:30:20). 5. Soejoedono Retno. D dan Ekowati Handharyani. Flu Burung Seri Agriwawasan. Cetakan: 3. Jakarta : Penebar Swadaya, 2006. 6. Capernito,Linda juall.2001.Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta.EGC 25