Ce diaporama a bien été signalé.

Emas dan permata

0

Partager

Prochain SlideShare
What to Upload to SlideShare
What to Upload to SlideShare
Chargement dans…3
×
1 sur 2
1 sur 2

Plus De Contenu Connexe

Livres associés

Gratuit avec un essai de 14 jours de Scribd

Tout voir

Livres audio associés

Gratuit avec un essai de 14 jours de Scribd

Tout voir

Emas dan permata

  1. 1. Emas dan Permata Suatuketikaseorangpemudamendatangi seorang guru yang terkenal dan bertanya. “Guru, saya tidak mengerti, mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana.Bukankahdi masaseperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilannamunjugauntuk banyak tujuan.Sangguruhanyatersenyum, ialalumelepaskancincin dari salah satu jarinya.lalu berkata, “Anak muda akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini Dan bawalahke pasar di seberangsana.Bisakah kamu menjualnya seharga sekeping emas. Melihat cincin guru yang kotor itu pemuda tadi merasa ragu. Satu keping emas? Saya tidak yakin guru, saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu. Coba dulu, siapa tahu kamu berhasil. Guru itu berusaha meyakinkan. Mendengarhal itu,pemudatersebutbergegaske pasar.Iamenawarkan cincin itu kepada pedagang lain. Pedagangkain,pedagangsayur, penjual daging dan ikan serta kepada pedagang yang lainnya. Dan memangbenar, ternyatatidakseorangpun berani membeli menawardengansatukeping emas. Merekamenawarnyahanyasatu kepingperak.Tentusajapemudaitutakberani menjualnyadengan harga satu keping perak. Lalu sang pemuda kembali ke padepokan sang guru dan melapor. “Guru, seperti yang aku katakan tadi” tidak seorangpun berani menawar lebih dari satu keping perak.”Sang gurusambil tetaptersenyumArif.kemudianberkata.”Sekarang, pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. “Jangan bukaharga, dengarkansaja bagaimanaiamemberikanpenilaian”. Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Dan ia kembali dengan kepada guru dengan wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru ,ternyata para pedagang di pasar tidak tahu niali sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawar dengan seribu keping emas. “Rupanya cincin ini seribu kali lebih tinggi, daripada harga yang ditawar di pasar”. Mendengar laporan pemuda itu, sang guru tersenyum simpul dan berujar lirih. Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi anak muda. Seseorang tidak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya para pedagang sayur, pedagang ikan dan tukang daging di pasar yang menilai demikian. Namun tidak bagi pedagang emas. “Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke dalam jiwanya . Diperlukan kearifan untuk menjenguknya anak muda. Dan itu pun butuh proses, kita tidak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang didengar sekilas”.
  2. 2. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang, dan yang disangka loyang ternyata permata yang bernilai tinggi.

×