Ce diaporama a bien été signalé.
Nous utilisons votre profil LinkedIn et vos données d’activité pour vous proposer des publicités personnalisées et pertinentes. Vous pouvez changer vos préférences de publicités à tout moment.

Kolaborasi Dalam Keperawatan

2 425 vues

Publié le

Manajemen Keperawatan oleh Prodi Keperawatan Cirebon Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Wil. Cirebon

Publié dans : Santé & Médecine
  • Soyez le premier à commenter

Kolaborasi Dalam Keperawatan

  1. 1. KOLABORASI DALAM KEPERAWATAN
  2. 2. • Keperawatan sebagai profesi memiliki body of knowledge yang jelas berbeda dengan profesi lain, altruistik, memiliki wadah profesi, memiliki standard dan etika profesi, akontabilitas, otonomi, dan kesejawatan (Leddy & Pepper, 1993). • Perawat juga diharuskan akuntabel terhadap praktik keperawatan yang berarti dapat memberikan pembenaran terhadap keputusan dan tindakan yang dilakukan dengan konsekuensi dapat digugat secara hukum apabila tidak melakukan praktik keperawatan sesuai dengan standar profesi, kaidah etik dan moral.
  3. 3. • Tumpang tindih pada gray area bagi berbagai jenis dan jenjang tenaga keperawatan maupun dengan profesi kesehatan lainnya merupakan hal yang sering sulit untuk dihindari dalam praktik, terutama terjadi dalam keadaan darurat maupun karena keterbatasan tenaga di daerah terpencil. • gray area Perawat – Farmasi - Dokter
  4. 4. • Dalam keadaan darurat, perawat yang dalam tugasnya sehari-hari berada disamping klien selama 24 jam, sering menghadapi kedaruratan klien, sedangkan dokter tidak ada. Dalam keadaan seperti ini perawat terpaksa harus melakukan tindakan medis yang bukan merupakan wewenangnya demi keselamatan pasien. • Tindakan ini dilakukan perawat tanpa adanya delegasi dan protapnya dari pihak dokter dan atau pengelola RS. Keterbatasan tenaga dokter terutama di Puskesmas yang hanya memiliki satu dokter yang berfungsi sebagai pengelola Puskesmas, sering menimbulkan situasi yang mengharuskan perawat melakukan tindakan pengobatan.
  5. 5. • Berdasarkan kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah bekerja bersama khususnya dalam usaha penggabungan pemikiran. Gray (1989) menggambarkan bahwa kolaborasi sebagai suatu proses berfikir dimana pihak yang terklibat memandang aspek-aspek perbedaan dari suatu masalah serta menemukan solusi dari perbedaan tersebut dan keterbatasan padangan mereka terhadap apa yang dapat dilakukan. • American Medical Assosiation (AMA), 1994, Kolaborasi adalah proses dimana dokter dan perawat merencanakan dan praktek bersama sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batasan-batasan lingkup praktek mereka dengan berbagi nilai-nilai dan saling mengakui dan menghargai terhadap setiap orang yang berkontribusi untuk merawat individu, keluarga dan masyarakat
  6. 6. • Manfaat kerja sama terkait dengan keberhasilan pasien (Knaus, Draper, Wagner, & Zimmerman, 1986), Mengurangi lama rawat inap (Rubenstein, Josephson, & Weiland, 1984), Penghematan biaya (Barker, Williams, & Zimmer, 1985), Meningkatkan dan mempertahankan kepuasan kerja perawat (Baggs & Ryan, 1990), Meningkatkan kerja sama tim (Abramson & Mizrahi 1996). • Manfaat dari kolaborasi Pendekatan yang baik untuk mempersiapkan perawatan pasien, organisasi yang memuaskan, mendidik profesional kesehatan masa depan, dan melakukan penelitian kesehatan. Kerjasama yang efektif dipengaruhi pembentukan kolaborasi termasuk waktu, status, nilai-nilai organisasi, kolaborasi peserta, dan jenis masalah.
  7. 7. • KOLABORASI Secara eksplisit mengacu pada kolaborasi interdisipliner (Henneman, Lee, & Cohen, 1995). Atribut kolaborasi diidentifikasi antara lain : berbagi perencanaan, pengambilan keputusan, memecahkan masalah, menetapkan tujuan, asumsi tanggung jawab, bekerja sama secara kooperatif, berkomunikasi, dan berkoordinasi secara terbuka (Baggs & Schmitt, 1988). • Teamwork dan kolaborasi sering digunakan secara sinonim (Thomas, Sexton, & Helmreich, 2003). Baggs dan Schmitt (1988) menggabungkan hubungan antara kolaborasi dan kerja sama tim dengan menekankan kolaborasi sebagai aspek yang paling penting.
  8. 8. • Kolaborasi sebagai proses dinamis yang dihasilkan dari perkembangan kelompok(Gray, 1989) dan hasil yang dicapai, menghasilkan sebuah sintesis dari beberapa pandangan yang berbeda (Cary, 1996) lebih akurat lagi mencerminkan realitas yang berkembang dalam kolaborasi yaitu kemitraan dan timnya. • Gray (1989) mengeksplorasi kolaborasi sebagai suatu proses dalam tiga tahap: pengaturan masalah, penentuan arah, dan strukturisasi. Selama fase-menetapkan masalah stakeholder bernegosiasi hak mereka untuk berpartisipasi.
  9. 9. • Perjanjian tentang masalah / tindakan dan sumber daya apa yang diperlukan untuk mengatasi itu dibentuk selama fase pengaturan arah. Selama fase strukturisasi, perjanjian tersebut dilaksanakan dengan mengalokasikan peran, tanggung jawab, dan sumber daya. • Konsep kolaborasi diperoleh dengan mengintegrasikan pandangan berorientasi hasil Follett (1940) Pandangan berorientasi proses- Gray (1989). Memperkuat definisi kolaborasi dengan memperhatikan jenis masalah, tingkat saling ketergantungan, dan mencari jenis hasil.
  10. 10. • Kolaborasi merupakan proses komplek membutuhkan sharing pengetahuan yang sengaja direncanakan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat pasien. kadangkala terjadi dalam hubungan yang lama antara tenaga profesional kesehatan. (Lindeke dan Sieckert, 2005). • Bekerja bersama dalam kesetaraan adalah esensi dasar dari kolaborasi yang digunakan  menggambarkan hubungan perawat dan dokter --- Kesetaraan dapat terwujud  individu yang terlibat merasa dihargai serta terlibat secara fisik dan intelektual saat memberikan bantuan kepada pasien.
  11. 11. • Terwujudnya suatu kolaborasi tergantung pada berapa kriteria : (1)adanya rasa saling percaya dan menghormati, (2)saling memahami dan menerima keilmuan masing- masing (3)memiliki citra diri positif (4)memiliki kematangan professional yang setara(yang timbul dari pendidikan dan pengalaman), (5)mengakui sebagai mitra kerja bukan bawahan,dan (6)keinginan untuk bernegoisasi (Hanson &Spross,1996).
  12. 12. • Bagaimana bisa berkolaborasi secara lebih efektif ? Ada sepuluh pelajaran penting dapat memberikan beberapa arahan untuk menempatkan kolaborasi dalam praktek.
  13. 13. 1. Kenalilah dirimu sendiri. Setiap orang membawa satu set kebiasaan, nilai-nilai, & asumsi unt semua situasi, memiliki peta / mental model dlm pemikiran  menciptakan makna untuk hal-hal yang dialami. Model mental  memahami dunia dng memilih informasi berdasarkan pengetahuan, keterampilan, pengalaman & nilai-nilai Kebutuhan kebersamaan,tapi kenyataannya setiap orang didasarkan pada persepsi yang dikembangkan sendiri. Diperlukan berkomunikasi secara teratur untuk mencapai kesepakatan, mencerminkan kompleksitas keterampilan dan upaya yang diperlukan untuk kolaborasi yang efektif.
  14. 14. 2. Memahami values & mengelola perbedaan keragaman. ( Tannen, 1990). Aset penting dlm proses kolaboratif yang efektif dan hasil kolaboratif. Komunikasi gender menjadi elemen penting utk memahami keragaman jika upaya kolaboratif harus diperkuat. Umumnya, pria lebih berorientasi tugas dan wanita lebih berorientasi hubungan
  15. 15. 3. Mengembangkan keterampilan resolusi konflik yang konstruktif Dlm kolaborasi --- konflik dan memperdalam pemahaman dan kesepakatan Mendorong Perawat belajar mengelola konflik dan negosiasi Konflik mendominasi,menjadi kendala untuk kerjasama yang efektif ( Abramson & Rosenthal, 1995) Banyak profesional belum disosialisasikan untuk memahami aspek-aspek positif yang berpotensi konflik dan mengakui bahwa hubungan afektif yang positif dan konflik sama- sama penting untuk pengambilan keputusan yang efektif ( Amason, 1996).
  16. 16. 4. Gunakan kemampuan untuk menciptakan situasi win-win Perilaku,kekuatan dominan tidak kompatibel dengan integrasi berbagai perspektif, sulitnya pemecahkan masalah yang kompleks. Dominan,memunculkan ketidak percayaan, bertahan dengan harga diri,maka konflik terjadi berkelanjutan. Raven dan Kruglanski (1970 ) mempelajari bagaimana dua pihak mencoba untuk mempengaruhi satu sama lain selama konflik. Sebaliknya apabila kedua belah pihak secara efektif melaksanakan rujukan ( goodwill ) maka akan terjadi kolaborasi yang baik. Kolaborasi terlaksana baik pada model kekuatan bersama ( Gray, 1994).
  17. 17. 5. Keutamaan Interpersonal dan Proses Keterampilan. Interpersonal dan keterampilan organisasi diperlukan untuk kolaborasi. Atribut interpersonal yang penting : a. kompetensi klinis, kerjasama dan fleksibilitas (Trickett & Ryereson Espino, 2004), b. kepercayaan diri dan ketegasan ( Keenan, Cooke, & Hillis, 1998) c. kesabaran untuk mendengarkan pemikiran satu sama lain dan kemampuan untuk mengambil risiko ( Stoep, Williams, Green, & Trupin, 1999)
  18. 18. 6. Memahami bahwa kolaborasi adalah sebuah perjalanan Waktu dan usaha sehari-hari yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan berhasil terlibat dalam peluang kerjasama. kerjasama antar lembaga ( Trikett & Ryerson, 2004) dan laporan dari kemitraan perawat- dokter ( Coeling & Wilcox, 1994
  19. 19. 7. Manfaatkan semua forum multidisiplin. Pengambilan keputusan bersama adalah salah satu dimensi ciri khas praktek kolaboratif. Coombs (2003) menunjukkan beberapa strategi perawat dapat digunakan untuk memanfaatkan pengaruh mereka di forum struktural. Pertama, secara fisik hadir di dalam lingkaran diskusi, perawat manajer dapat mendukung staf, staf terutama junior, hadir. Kedua, secara mental hadir dan siap,serta proaktif. Ketiga, memahami dan menggunakan waktu dalam proses kelompok untuk membangun kemitraan.
  20. 20. 8. Meyakini bahwa kolaborasi dapat terjadi secara spontan. Kolaborasi adalah suatu kondisi saling menentukan bahwa dapat terjadi secara spontan jika faktor-faktor yang tepat berada pada situasi yang tepat/sesuai Kadang-kadang mencoba untuk membuat kolaborasi terjadi melalui struktur seperti pertemuan satgas, tapi kurang bermanfaat (Mintzberg et al., 1996).
  21. 21. 9. Keseimbangan otonomi dan kesatuan dalam hubungan kolaboratif Belajar dari keberhasilan dan kegagalan kolaborasi mencari umpan balik dan mengakui kesalahan untuk keseimbangan dinamis Hampden-Turner (1970) mendefinisikan sebagai sinergi keseimbangan optimal antara individualisme dan integrasi. Terlalu banyak otonomi dan individualisme dapat menyebabkan isolasi, namun terlalu banyak integrasi dapat menyebabkan difusi 10. Ingat kolaborasi tidak diperlukan untuk semua keputusan Kolaborasi bukanlah obat mujarab, juga tidak selalu diperlukan dalam segala situasi. Pemecahan masalah yang kompleks dan rumit, seperti tantangan yang berkaitan dengan kecanduan narkoba atau perawatan sakit kronis ( Trickett & Ryerson Espino, 2004)
  22. 22. • Kolaborasi merupakan hubungan kerja sama antara anggota tim dalam memberikan asuhan kesehatan. Pada kolaborasi terdapat sikap saling menghargai antar tenaga kesehatan dan saling memberikan informasi tentang kondisi klien demi mencapai tujuan (Hoffart & Wood, 1996; Wlls, Jonson & Sayler, 1998).
  23. 23. Terwujudnya suatu kolaborasi tergantung pada beberapa kriteria yaitu : (1) adanya rasa saling percaya dan menghormati, (2) saling memahami & menerima keilmuan masing (3) memiliki citra diri positif, (4) memiliki kematangan profesional yang setara (yang timbul dari pendidikan dan pengalaman), (5) mengakui sebagai mitra kerja bukan bawahan, dan (6) keinginan untuk bernegosiasi (Hanson & Spross, 1996).

×