Publicité
Publicité

Contenu connexe

Publicité
Publicité

Lemhannas: Optimalisasi Peran Media Sosial Untuk Wawasan Kebangsaan

  1. OPTIMALISASI PERAN MEDIA SOSIAL GUNA MENGEMBANGKAN WAWASAN KEBANGSAAN TANGGAPAN DARI ANALISIS BIG DATA MEDIA SOSIAL Ismail Fahmi, Ph.D. Direktur Media Kernels Indonesia (Drone Emprit) Dosen Universitas Islam Indonesia Wakil Ketua Komisi Infokom MUI Pusat Ismail.fahmi@gmail.com FGD LEMHANNAS 29 APRIL 2021 DIREKTORAT PENGKAJIAN SOSIAL DAN DEMOGRAFI LEMHANNAS RI
  2. 2 1992 – 1997 Undergraduate, Electrical Engineering, ITB, Indonesia 2003 – 2004 Master, Information Science, University of Groningen, NL 2004 – 2009 Doctor, Information Science, University of Groningen, NL 2009 – Now Engineer at Weborama (Paris/Amsterdam) 2014 – Now Founder PT. Media Kernels Indonesia, a Drone Emprit Company 2015 – Now Consultant at Perpustakaan Nasional, Inisiator Indonesia OneSearch 2017 – Now Lecturer at the IT Magister Program of the Universitas Islam Indonesia 2021 – Now Wakil Ketua Komisi Infokom, Majelis Ulama Indonesia Pusat Ismail Fahmi, S.T., M.A., Ph.D. Ismail.fahmi@gmail.com
  3. AGENDA • Batasan pengertian tentang “Wawasan Kebangsaan” • Pancasila sebagai salah satu konsensus dasar bangsa • Peta diskursus tentang ”Pancasila” di media sosial • Permasalahan dan tantangan • Strategi optimalisasi peran media sosial guna pengembangan wawasan kebangsaan 3
  4. WAWASAN KEBANGSAAN
  5. WAWASAN KEBANGSAAN: REFERENSI DARI PRESENTASI DR. FRISTIAN HADINATA, M.HUM. 5
  6. KONSENSUS DASAR BANGSA • Pancasila • UUD 1945 • NKRI • Bhinneka Tunggal Ika 6
  7. LANSKAP MEDIA SOSIAL
  8. BIG DATA – BIG GROWTH 8
  9. PENGGUNA TWITTER DI INDONESIA NAIK DARI 27% (2018) MENJADI 63.6% (2021) 9 27% 52% 56% 2018 2019 2020 63.6% 2021
  10. 10 MILLENIAL GEN Z
  11. TIKTOK AND VIDEO STRIKE! 11
  12. ANALISIS BIG DATA: PETA DISKURSUS “PANCASILA” DI MEDIA SOSIAL
  13. TENTANG DRONE EMPRIT 13
  14. VOLUME “PANCASILA”: SANGAT TINGGI 27 SEP 2020 – 27 APR 2021 14 Keyword: Pancasila Periode data: 27 September 2020 – 27 April 2021
  15. TREN ISU “PANCASILA”: SANGAT POLITIS 15 1 Oktober 2020 (Hari Kesaktian Pancasila) 31 Desember 2020 (FPI dibubarkan) 17 April 2021 (Isu Pelajaran Pancasila dihapus) 24 Jan 2021 (Isu siswa non muslim wajib berjilbab) Kampanye BPIP
  16. MEDIA: CITIZEN JOURNALISM DAN MEDIA MAINSTREAM CUKUP AKTIF 16
  17. TWITTER
  18. TOP NARASI DI TWITTER 18
  19. CONTOH TOP NARASI: NETRAL & KRITIK 19 Akun Netral Akun Kritis
  20. CONTOH TOP NARASI: DOMINAN KRITIK 20 Akun Kritis Akun Kritis
  21. LANJUTAN TOP NARASI: DOMINAN KRITIK 21
  22. TOP IMAGES: DOMINAN KRITIK 22
  23. TOP 5 INFLUENCERS: DOMINAN KONTRA 23 KONTRA PRO GOVT KONTRA KONTRA PRO GOVT
  24. TOP INFLUENCERS: SEIMBANG PRO-KONTRA 24
  25. TOP HASHTAGS: DUKUNGAN KE BPIP 25
  26. TOP HASHTAGS: DOMINAN KAMPANYE DUKUNGAN KE BPIP 26
  27. SNA: PRO PEMERINTAH LEBIH BESAR 27 KONTRA GOVT PRO GOVT BPIP
  28. SNA OKTOBER 2020: KAMPANYE BPIP 28 BPIP KONTRA PRO GOVT BPIP
  29. SNA 1 BULAN TERAKHIR: DOMINAN KONTRA 29 KONTRA GOVT PRO GOVT bot & buzzer
  30. SNA: BOT DAN BUZZER 30 PRO GOVT bot & buzzer
  31. ANALISIS BOT: DOMINAN HUMAN 31 ROBOT HUMAN CYBORG
  32. DEMOGRAFI: USIA TUA SANGAT AKTIF, NARASI NEGATIF BISA DITRANSMISIKAN KE GEN Y & Z 32
  33. INSTAGRAM
  34. TOP NARASI DI INSTAGRAM: GEN Y & Z JUGA KRITIS DENGAN CARANYA 34
  35. LANJUTAN TOP NARASI (IG): MAHASISWA (GEN Y & Z) KRITIS DENGAN SITUASI 35
  36. TOP HASHTAGS: BERAGAM, MASIH DIDOMINASI KAMPANYE PANCASILA (BPIP) 36
  37. TOP INFLUENCERS: BERAGAM 37
  38. GEN Y & Z: K-POPERS
  39. VIRAL PUISI WIJI THUKUL: OLEH K-POPER SAAT MENOLAK UU OMNIBUS LAW “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan!” – Wiji Thukul 39 21:00 start peak Google Trend “Wiji Thukul” makin naik Dalay 2 jam dari Twitter ke Google Search 11:00 09:55 awal cuitan puisi Wiji Thukul
  40. TOP AVATAR “WIJI THUKUL”: K-POPERS 40
  41. SNA ”WIJI THUKUL”: INTERNATIONAL & NATIONAL 41 K-POPER Kpoppers drawn closer by bonds of friendship, loyalty, solidarity and trust, and rewarded by a powerful sense of belonging and collective identity.
  42. ANALISIS DAN STRATEGI
  43. PERMASALAHAN DAN TANTANGAN • Narasi: • Percakapan tentang Pancasila didominasi oleh nuansa politis, antara yang pro dan kontra pemerintah. • Kritik dari kalangan kontra pemerintah menyangkut Pancasila biasanya dihubungkan dengan ketidakadilan yang muncul dalam isu-isu besar yang sedang hangat. • Kampanye menggunakan tagar terkait BPIP sangat masif dilakukan oleh pemerintah. • Aktor: • Narasi terpopuler didominasi oleh aktor yang cenderung kontra atau kritis kepada pemerintah, dan lebih natural (tidak banyak mengangkat tagar). • Narasi dari pemerintah, cenderung dilakukan oleh aktor dari kalangan buzzer, terlihat dari masif dan terorganisasikannya tagar terkait Pancasila, khususnya saat ada kampanye atau sosialisasi narasi tertentu. • Secara demografi, generasi X (tua) cukup aktif membahas topik Pancasila, demikian juga dengan gen Y&Z. Akibatnya, kritik gen X terkait Pancasila bisa terdifusi ke kalangan gen Y&Z. • Peta polarisasi: • Terdapat dua cluster netizen pro-kontra di Twitter yang kadang sama besar, dan sering cluster kontra lebih besar untuk narasi berupa kritik. • Kondisi ini tidak menguntungkan bagi bangsa Indonesia, karena percakapan tentang Pancasila bukannya menyatukan bangsa, tapi memangun dan memperlebar polarisasi. 43
  44. STRATEGI OPTIMALISASI MEDIA SOSIAL UNTUK WAWASAN KEBANGSAAN • Narasi: • Narasi dari pemerintah masih fokus pada tujuan dari sisi pemerintah (misal dukungan thd BPIP), belum dari sisi publik khususnya gen Y&Z. • Akibatnya aspek “What is it for me” bagi publik belum terasa. • Agar wawasan kebangsaan sampai dan diterima oleh publik (khususnya gen Y&Z), perlu narasi yang fokus pada perhatian mereka; misal: bagaimana sebagai anak bangsa bersama pemerintah menciptakan kehidupan yang harmonis, keadilan, kesetaraan, kesejahteraan, dan isu universal (misal climate change). • Aktor: • Penggunaan buzzer dan bot untuk mengangkat narasi dengan rangkaian tagar-tagar agar trending di media sosial terbukti hanya bergema di dalam sub-cluster mereka saja; narasi tidak terdifusi ke target publik. Cara ini tidak akan efektif untuk membangun wawasan kebangsaan, malah sebaliknya sering menimbulkan polarisasi. • Hindari penggunaan buzzer dan bot, dan buat program yang langsung melibatkan gen Y&Z yang mengajak mereka untuk berpikir, mengusulkan, dan bersama pemerintah mewujudkan gagasan dalam Pancasila secara aktual. • Upayakan agar gen Y&Z itu sendiri yang aktif membicarakan wawasan kebangsaan mereka melalui isu-isu aktual di media sosial (Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok). 44
  45. SLIDE NOTES 45
  46. 46
  47. 47
  48. 48
  49. 49
  50. 50
  51. 51
Publicité