TTTT.pptx

ASKEP
ATELEKTASIS & ARDS
RRRRR
Introduksi
 Atelektasis & Adult Acute Respiratory Distress Sindrome merupakan
penyakit paru restriktif.
 Terjadi keterbatasan ekspansi paru total.
 Volume statis paru berkurang atau menghilang sebagai akibat
penurunan komplience paru atau dada.
Introduksi
 Pasien dengan gangguan restriktif (terbatas) sering berada dalam
kondisi alkalosis respiratorik (akibat peningkatan kompensasi dlm RR
untuk mengimbangi volume paru).
 Jika kompensasi gagal maka akan terjadi hipoksemia.
 Klinis pasien dg hipoksemia akan mengalami dispneu saat aktivitas
maupun saat istirahat
A. ATELEKTASIS
 Adalah penyakit restriktif akut yg umum terjadi,
mencakup kolaps jaringan paru atau unit fungsional paru.
 Atelektasi merupakan masalah umum pada pasien pasca
operasi.
Patofisiologi
 Atelektasis berbeda dg pneumothoraks,
meskipun sama-sama terjadi kolaps alveolar.
 Atelektasis terjadi karena alveoli kurang
berinflasi atau tak terinflasi.
 Terdapat 2 jenis atelektasis;
1) Atelektasis akibat obstruksi bronchial atau
bronchiolar.
2) Atelektasis kompresi yg disebabkan oleh
kompresi tekanan dari luar pd sebagian atau
keseluruhan paru shg mendorong udara keluar
& menyebabskan paru kolaps.
 Mekanisme tubuh untuk mencegah atelektasis adalah
melalui : Mukosiliaris & batuk untuk cleansing sal. nafas
bawah untuk mencegah obstruksi & koloni bakteri dg
menngerakan mukus ke faring posterior untuk ditelan.
 Mekanisme kedua adalah ventilasi alveolar kolateral yg
disebut pori Khon. Pd ventilasi efektif pori Khon terbuka
selama inspirasi dalam dan udara memasuki melalui
alveolus yg terobstruksi, selama ekspirasi pori khon
tertutup dan terbentuk tekanan dan membentuk tekanan
(+) dlm alveolus yg terobstruksi & membantu dlm
mendorong sumbatan mukus keluar.
 Pd ventilasi tdk efektif pori khon tdk terbuka selama
inspirasi selama nafas , shg ventilasi kolateral tdk
diberikan pd alveolus yg terobstruksi.
 Alveolus yg terobstruksi mengalami kolaps sejalan
dengan gas-gas alveol alveolar diabsorbsi ke dalam
aliran darah.
 Atelektasis pd bagian dasar paru terutama pada klien yg bernafas dangkal
seperti akibat nyeri, kelemahan, atau distensi abdomen.
 Sekresi yg menyumbat dpt mengarah pd pneumonia & atelektasis yg lebih
luas.
 Atelektasis yg berkepanjangan dpt menyebabkan penggantian jaringan paru
yg sakit yg sakit dg jaringan fibrosa.
Tatalaksana Medis &
Keperawatan
 Pengobatan atelektasis didasarkan pd etiologi penyakit.
 Upaya yg terpenting pencegahan dengan mobilisasi dini
dan perubahan posisi sering pd klien tirah baring atau
pasca operasi.
 Nafas dalam & teratur penting karena umumnya terjadi
pd pasien dg penurunan kesadaran akibat narkose,
penurunan mobilitas & nyeri.
 Bronchodilator & mukolitk jika diindikasikan &
fisioterapi dada.
 Ventilasi yg adekwat dpt ditingkatkan dg perubahan
posisi, batuk efektif, nafas dalam, atau spirometri intensif.
 Tanggungjawab keperawatan sangat dominan pd
penderita atelektasis: latihan nafas dalam, perubahan
psosisi, latihan batuk.
Pencegahan Atelektasis
1. Nafas dalam & batuk efektif untuk mecegah
akumulasi sekret & eksudat.
2. Ubah posisi pasien untuk meningkatkan ekspansi
paru & cegah akumulasi sekret.
3. Tingkatkan ekspansi dada secara tepat selama
beernafas agar distribusi udara diparu-2
menyeluruh.
4. Cegah depresi pernafasan pd pasien yg mendapat
sedatif/ medikasi yg lain.
5. Lakukan penghisapan untuk mengeluarkan sekresi
tracheobronchial,
6. Lakukan postural drainase & perkusi dada
7. Dorong aktivitas/ ambulasi dini
8. Spirometri insetif yg tepat.
B. ADULT RESPIRATORY
DISTRESS SYNDROME ( ARDS
)
 Pertama ditemukan TJ Petty (1967).
 Acute Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS)
adalah suatu kondisi yg ditandai dg hipoksemia
berat, dispneu & infiltrasi pulmonary bilateral.
 Adults' Acute Respiratory Distress Syndrome
(ARDS) is characterized by serious acute respiratory
failure caused by pulmonary oedema, which in turn
is subsequent to the alveolar-capillary barrier's
increased permeability.
 Istilah lain: Syok paru, paru basah traumatik,
postperfusi paru, atelektasis kongestif & insufisiensi
pulmonal post traumatik.
 Tdk pernah timbul sbg penyakit primer tetapi
sekunder akibat gangguan tubuh yg terjadi.
Kondisi-2 Penyebab ARDS
1. Syok: Sepsis, hemorrhagi, Kardiogenik &
anafilaktik.
2. Trauma: Kontusio pulmonal, non pulmonal.
3. Koagulasi Intravaskular Diseminata.
4. Emboli lemak
5. Aspirasi: isi lambung yg sangat asam
6. Menghirup agen beracun: Asap, Nitrogen oksida.
7. Pankreatitis
8. Toksisitas oksigen
9. Drug: Heroin, metadon, etklorvinol, salisilat
Patofisiologi (Phipps, et al,
1995)
1) Konsekuensi serangan pencetus, complience cascade
menjadi aktif selanjutnya meningkatkan permiabilitas
dinding kapiler.
2) Cairan, leukosit granular, SDM, Makrofag, Sel debris &
protein bocor ke dlm ruang interstitil antar kapiler &
alveoli akhirnya ke ruang alveolar.
3) Akumulasi tsb no 2) menyebabkan area permukaan
pertukaran gas menurun mengakibatkan rasio ventilasi
/ perfusi dan hipoksemia.
4) Terjadi hiperventilasi kompensasi dari alveoli
fungsional, shg menyebabkan hipokapnea & alkalosis
respiratorik.
5) SEl-2 yg melapisi alveoli rusak diganti jaringan firosa
yg tdk menghasilkan surfaktan shg  tekanan
pemukaan alveolar.
KERUSAKAN MEMBRAN
KAPILER PARU
HEMORRHAGI KAPILER
KEBOCORAN KAPILER
EDEMA INTERSTISIAL
(EDEMA PULMONAL)
PENURUNAN PEMBENTUKAN
SURFAKTAN
ATELEKTASIS
ABNORMALITAS
VENTILASI-PERFUSI
( PELANGSIRAN FISIOLOGIS)
PENURUNAN
COMPLIENCE
HIPOKSEMIA
UPAYA
PERNAFASAN
TTTT.pptx
TTTT.pptx
 ARDS biasanya terjadi pd individu yg
sudah pernah mengalami trauma fisik,
meskipun dpt pula terjadi pd pasien dg
kondisi yg cukup baik segera sebelum
awitan (infeksi akut).
 Umumnya terjadi periode laten 18-24
jamdari waktu cedera paru sampai
berkembangnya gejala.
 Pasien ARDS yg akan pulih dpt relaps
akibat serangan sekunder spt
pneumothoraks, pneumonia dll.
Tatalaksana Medik
1. Pasien dirawat di ICU
2. Fokus oksigenasi dg konsentrasi < 50% 
menaikan konsentrasi PaO2 antara 50-60
mmHg.
3. Pasang Ventilator bila oksigenasi gagal.
4. Penatalaksaan volume cairan :
 Catheter Arteri Pulmonary untuk mengukur
tekanan kapiler pulmonary.
 Diuretika, Medikasi hipotensif, Ekspander cairan.
5. Mengatasi Penyebab dasar ARDS
Pengkajian
A. Data Sujektif
 Pengumpulan data jangan sampai menimbulkan
distress pernafasan makin.
 Informasi ttg latar belakang & riwayat pasien lebih
sering bersifat sekunder karena pasien terlalu lemah
untuk memberikan informasi yg terinci.
TTTT.pptx
B. Data Objektif
1. Penampilan Umum ?
2. Status mental beragam: dari agitasi – somnulens.
3. TTV: Takhikardia, Takipnea, Apnea & Hipotensi
4. Pemeriksaan paru: Pilih pemeriksaan yg dapt ditoleransi klien, temuan
tergantung pada penyakit dasar.
5. Temuan AGD dan Spiometri.
Diagnosa Keperawatan
 Gangguan pertukaran gas b.d inkuelitas V/Q
 Perubahan perfusi jaringan (Kardiopulmonal)
b.d Mobilisasi cairan dari dan ke interstisium &
alveolar.
 Ansietas b.d ancaman kematian
 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d
ketidakmampuan mempertahankan nutrisi yg
adekwat untuk memenuhi beban kerja
metabolik akibat upaya pernafasan.
Kriteria Hasil
1. Perbaikan Ventilasi & oksigenasi.
a) PaO2 dipertahankan pd 50-60mmHg selama fase akut
penyakit
b) Pada resolusi ARDS, PaO2, pH & PCO2 kembali pada
batas normal yg dpt diterima.
c) Fungsi sensorium kembali pd tingkat sebelum sakit.
d) Selama fase akut penyakit, klien mampu mentoleransi
bantuan ventilator mekanik.
e) Rasio inspirasi 5 : 10 detik.
f) Frekuensi pernafasan & volume tidal dalam batas
normal & klien tidak mengeluhkan dyspneu.
2. Perfusi Jaringan Adekwat
a) Tekanan pulmonary capilary wedge dibawah 18 mmHg.
b) Haluaran urine minimal 30 ml/ jam.
c) Nadi Perifer teraba dan ekstremitas hangat saat disentuh.
3. Peningkatan Kenyamanan Fisiologis, Psikologis
& Penurunan Ansietas
a) Menoleransi ventilator dan jalan nafas buatan.
b) Menerima dan mengekspresikan ketakutan.
c) Mengkomunikasikan kebutuhan personal secara efektif &
perawat atau keluarga.
d) Dapat bekerjasama dan membantu dalam perawatan.
4. Berat Badan Stabil
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Mempertahankan pertukaran gas yg adekwat.
a. Jamin pemberian oksigenasi/ pantau tanda
hipoksemia
b. Pertahankan jalan nafas, patensi selang ventilator.
c. Jika terpasang tracheostomy/ ETT.
d. Amankan pipa dari pergerakan pasien.
e. Atur posisi yg mengoptimalkan oksigenasi kepala
setinggi 40-90 derajad.
f. Auskultasi paru setiap jam.
g. Lakukan suction pd ETT sesuai protap dan seting
ventilator secara teratur.
2. Mempertahankan Perfusi Jaringan
a. Pantau tekanan pulmonary capillary wedge: lapor dokter jika tdk normal.
Jika tekanan rendah  plasma volume ekspander, jika terlalu tinggi 
diuretika.
b. Kaji haluaran urine, TTV & ekstremitas tiap jam.
3. Menurukan ansietas pasien & keluarga
a. Pastikan fungsi ventilator yg tepat untuk memberikan volume
tidal & konsentrasi oksigen yg tepat. Jika fungsi baik tapi
pasien mengalami distress periksa AGD.
b. Identifikasi cara-2 agar klien dpt mengkomunikasikan
kekhawatiran & ekpresi perasaan (jika tak mampu karena ada
intubasi tingkatkan kepedulian thd pasien)
c. Berikan penjelasan yg singkat & sederhana mengenai
prosedur; orientasikan klien thd lingkungan sekitar, dan ulangi
penjelasan secara teratur.
d. Berikan penjelasan ttg rutinitas perawatan & lingkungan kpd
keluarga klien. Dorong keluarga klien untuk mendekati,
berbicara & menyentuh klien jika menghendaki.
4. Mempertahankan nutrisi yg adekwat
EVALUASI
 Lihat kriteria hasil & bandingkan dengan hasil yang telah
dicapai!
 Jika gagal perlu modifikasi pendekatan dengan
melakukan pengkajian ulang kondisi klien, revisi diagnosa
keperawatan & menyesuaikan tindakan keperawatan yg
dipilih.
SUWUN
NGGIIIIH
1 sur 29

Recommandé

Askep ards par
Askep ardsAskep ards
Askep ardsOperator Warnet Vast Raha
3.3K vues14 diapositives
Ards AKPER PEMKAB MUNA par
Ards AKPER PEMKAB MUNA Ards AKPER PEMKAB MUNA
Ards AKPER PEMKAB MUNA Operator Warnet Vast Raha
2.2K vues14 diapositives
Ards par
ArdsArds
ArdsOperator Warnet Vast Raha
667 vues13 diapositives
Askep kegawatdaruratan akiba1 par
Askep kegawatdaruratan akiba1Askep kegawatdaruratan akiba1
Askep kegawatdaruratan akiba1sharklasers22
1.1K vues9 diapositives
Adult Respiratory Distress Syndrome par
Adult Respiratory Distress SyndromeAdult Respiratory Distress Syndrome
Adult Respiratory Distress SyndromeArif WR
3.2K vues33 diapositives
Gagal nafas par
Gagal nafasGagal nafas
Gagal nafasIgn Agung Putrayana
2.9K vues13 diapositives

Contenu connexe

Similaire à TTTT.pptx

Askep ards tahyr par
Askep ards tahyrAskep ards tahyr
Askep ards tahyrOperator Warnet Vast Raha
643 vues12 diapositives
Askep ventilasi mekanik par
Askep  ventilasi mekanikAskep  ventilasi mekanik
Askep ventilasi mekanikWinarianti Herwansyah
3.6K vues10 diapositives
Anastesiologi pdf par
Anastesiologi pdfAnastesiologi pdf
Anastesiologi pdfWahyu Zikra Tullah
633 vues8 diapositives
Ventilator askep par
Ventilator askepVentilator askep
Ventilator askepImhe Imha
2.6K vues6 diapositives
Askep ards AKPER PEMDA MUNA par
Askep ards AKPER PEMDA MUNA Askep ards AKPER PEMDA MUNA
Askep ards AKPER PEMDA MUNA Operator Warnet Vast Raha
231 vues26 diapositives
Askep ards AKPER PEMKAB MUNA par
Askep ards AKPER PEMKAB MUNA Askep ards AKPER PEMKAB MUNA
Askep ards AKPER PEMKAB MUNA Operator Warnet Vast Raha
335 vues26 diapositives

Similaire à TTTT.pptx(20)

Ventilator askep par Imhe Imha
Ventilator askepVentilator askep
Ventilator askep
Imhe Imha2.6K vues
Askep dengan pasien dengan ventilator par Army Of God
Askep dengan pasien dengan ventilatorAskep dengan pasien dengan ventilator
Askep dengan pasien dengan ventilator
Army Of God84 vues
01-pemenuhan-kebutuhan-oksigen-oleh-mr-kusnanto-4-sept-2007.ppt par AdrenaReaLyadi1
01-pemenuhan-kebutuhan-oksigen-oleh-mr-kusnanto-4-sept-2007.ppt01-pemenuhan-kebutuhan-oksigen-oleh-mr-kusnanto-4-sept-2007.ppt
01-pemenuhan-kebutuhan-oksigen-oleh-mr-kusnanto-4-sept-2007.ppt

Plus de NengAnnisFathia

2.6. MANAJEMEN BENCANA-JALUR EVAKUASI BENCANA.pptx par
2.6. MANAJEMEN BENCANA-JALUR EVAKUASI BENCANA.pptx2.6. MANAJEMEN BENCANA-JALUR EVAKUASI BENCANA.pptx
2.6. MANAJEMEN BENCANA-JALUR EVAKUASI BENCANA.pptxNengAnnisFathia
5 vues24 diapositives
ASKEP KELAINAN INTEGUMEN.pptx par
ASKEP KELAINAN INTEGUMEN.pptxASKEP KELAINAN INTEGUMEN.pptx
ASKEP KELAINAN INTEGUMEN.pptxNengAnnisFathia
3 vues46 diapositives
PRAKTIKUM KGD-GCS.pptx par
PRAKTIKUM KGD-GCS.pptxPRAKTIKUM KGD-GCS.pptx
PRAKTIKUM KGD-GCS.pptxNengAnnisFathia
14 vues17 diapositives
SISTEM REPRODUKSI.pptx par
SISTEM REPRODUKSI.pptxSISTEM REPRODUKSI.pptx
SISTEM REPRODUKSI.pptxNengAnnisFathia
12 vues47 diapositives
00. PEMERIKSAAN TD, NADI, SUHU, RR.pptx par
00. PEMERIKSAAN TD, NADI, SUHU, RR.pptx00. PEMERIKSAAN TD, NADI, SUHU, RR.pptx
00. PEMERIKSAAN TD, NADI, SUHU, RR.pptxNengAnnisFathia
29 vues45 diapositives
MATERI 1.pptx par
MATERI 1.pptxMATERI 1.pptx
MATERI 1.pptxNengAnnisFathia
2 vues8 diapositives

Plus de NengAnnisFathia(6)

TTTT.pptx

  • 2. Introduksi  Atelektasis & Adult Acute Respiratory Distress Sindrome merupakan penyakit paru restriktif.  Terjadi keterbatasan ekspansi paru total.  Volume statis paru berkurang atau menghilang sebagai akibat penurunan komplience paru atau dada.
  • 3. Introduksi  Pasien dengan gangguan restriktif (terbatas) sering berada dalam kondisi alkalosis respiratorik (akibat peningkatan kompensasi dlm RR untuk mengimbangi volume paru).  Jika kompensasi gagal maka akan terjadi hipoksemia.  Klinis pasien dg hipoksemia akan mengalami dispneu saat aktivitas maupun saat istirahat
  • 4. A. ATELEKTASIS  Adalah penyakit restriktif akut yg umum terjadi, mencakup kolaps jaringan paru atau unit fungsional paru.  Atelektasi merupakan masalah umum pada pasien pasca operasi.
  • 5. Patofisiologi  Atelektasis berbeda dg pneumothoraks, meskipun sama-sama terjadi kolaps alveolar.  Atelektasis terjadi karena alveoli kurang berinflasi atau tak terinflasi.  Terdapat 2 jenis atelektasis; 1) Atelektasis akibat obstruksi bronchial atau bronchiolar. 2) Atelektasis kompresi yg disebabkan oleh kompresi tekanan dari luar pd sebagian atau keseluruhan paru shg mendorong udara keluar & menyebabskan paru kolaps.
  • 6.  Mekanisme tubuh untuk mencegah atelektasis adalah melalui : Mukosiliaris & batuk untuk cleansing sal. nafas bawah untuk mencegah obstruksi & koloni bakteri dg menngerakan mukus ke faring posterior untuk ditelan.  Mekanisme kedua adalah ventilasi alveolar kolateral yg disebut pori Khon. Pd ventilasi efektif pori Khon terbuka selama inspirasi dalam dan udara memasuki melalui alveolus yg terobstruksi, selama ekspirasi pori khon tertutup dan terbentuk tekanan dan membentuk tekanan (+) dlm alveolus yg terobstruksi & membantu dlm mendorong sumbatan mukus keluar.  Pd ventilasi tdk efektif pori khon tdk terbuka selama inspirasi selama nafas , shg ventilasi kolateral tdk diberikan pd alveolus yg terobstruksi.  Alveolus yg terobstruksi mengalami kolaps sejalan dengan gas-gas alveol alveolar diabsorbsi ke dalam aliran darah.
  • 7.  Atelektasis pd bagian dasar paru terutama pada klien yg bernafas dangkal seperti akibat nyeri, kelemahan, atau distensi abdomen.  Sekresi yg menyumbat dpt mengarah pd pneumonia & atelektasis yg lebih luas.  Atelektasis yg berkepanjangan dpt menyebabkan penggantian jaringan paru yg sakit yg sakit dg jaringan fibrosa.
  • 8. Tatalaksana Medis & Keperawatan  Pengobatan atelektasis didasarkan pd etiologi penyakit.  Upaya yg terpenting pencegahan dengan mobilisasi dini dan perubahan posisi sering pd klien tirah baring atau pasca operasi.  Nafas dalam & teratur penting karena umumnya terjadi pd pasien dg penurunan kesadaran akibat narkose, penurunan mobilitas & nyeri.  Bronchodilator & mukolitk jika diindikasikan & fisioterapi dada.  Ventilasi yg adekwat dpt ditingkatkan dg perubahan posisi, batuk efektif, nafas dalam, atau spirometri intensif.  Tanggungjawab keperawatan sangat dominan pd penderita atelektasis: latihan nafas dalam, perubahan psosisi, latihan batuk.
  • 9. Pencegahan Atelektasis 1. Nafas dalam & batuk efektif untuk mecegah akumulasi sekret & eksudat. 2. Ubah posisi pasien untuk meningkatkan ekspansi paru & cegah akumulasi sekret. 3. Tingkatkan ekspansi dada secara tepat selama beernafas agar distribusi udara diparu-2 menyeluruh. 4. Cegah depresi pernafasan pd pasien yg mendapat sedatif/ medikasi yg lain. 5. Lakukan penghisapan untuk mengeluarkan sekresi tracheobronchial, 6. Lakukan postural drainase & perkusi dada 7. Dorong aktivitas/ ambulasi dini 8. Spirometri insetif yg tepat.
  • 10. B. ADULT RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME ( ARDS )  Pertama ditemukan TJ Petty (1967).  Acute Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS) adalah suatu kondisi yg ditandai dg hipoksemia berat, dispneu & infiltrasi pulmonary bilateral.  Adults' Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) is characterized by serious acute respiratory failure caused by pulmonary oedema, which in turn is subsequent to the alveolar-capillary barrier's increased permeability.  Istilah lain: Syok paru, paru basah traumatik, postperfusi paru, atelektasis kongestif & insufisiensi pulmonal post traumatik.  Tdk pernah timbul sbg penyakit primer tetapi sekunder akibat gangguan tubuh yg terjadi.
  • 11. Kondisi-2 Penyebab ARDS 1. Syok: Sepsis, hemorrhagi, Kardiogenik & anafilaktik. 2. Trauma: Kontusio pulmonal, non pulmonal. 3. Koagulasi Intravaskular Diseminata. 4. Emboli lemak 5. Aspirasi: isi lambung yg sangat asam 6. Menghirup agen beracun: Asap, Nitrogen oksida. 7. Pankreatitis 8. Toksisitas oksigen 9. Drug: Heroin, metadon, etklorvinol, salisilat
  • 12. Patofisiologi (Phipps, et al, 1995) 1) Konsekuensi serangan pencetus, complience cascade menjadi aktif selanjutnya meningkatkan permiabilitas dinding kapiler. 2) Cairan, leukosit granular, SDM, Makrofag, Sel debris & protein bocor ke dlm ruang interstitil antar kapiler & alveoli akhirnya ke ruang alveolar. 3) Akumulasi tsb no 2) menyebabkan area permukaan pertukaran gas menurun mengakibatkan rasio ventilasi / perfusi dan hipoksemia. 4) Terjadi hiperventilasi kompensasi dari alveoli fungsional, shg menyebabkan hipokapnea & alkalosis respiratorik. 5) SEl-2 yg melapisi alveoli rusak diganti jaringan firosa yg tdk menghasilkan surfaktan shg  tekanan pemukaan alveolar.
  • 13. KERUSAKAN MEMBRAN KAPILER PARU HEMORRHAGI KAPILER KEBOCORAN KAPILER EDEMA INTERSTISIAL (EDEMA PULMONAL) PENURUNAN PEMBENTUKAN SURFAKTAN ATELEKTASIS ABNORMALITAS VENTILASI-PERFUSI ( PELANGSIRAN FISIOLOGIS) PENURUNAN COMPLIENCE HIPOKSEMIA UPAYA PERNAFASAN
  • 16.  ARDS biasanya terjadi pd individu yg sudah pernah mengalami trauma fisik, meskipun dpt pula terjadi pd pasien dg kondisi yg cukup baik segera sebelum awitan (infeksi akut).  Umumnya terjadi periode laten 18-24 jamdari waktu cedera paru sampai berkembangnya gejala.  Pasien ARDS yg akan pulih dpt relaps akibat serangan sekunder spt pneumothoraks, pneumonia dll.
  • 17. Tatalaksana Medik 1. Pasien dirawat di ICU 2. Fokus oksigenasi dg konsentrasi < 50%  menaikan konsentrasi PaO2 antara 50-60 mmHg. 3. Pasang Ventilator bila oksigenasi gagal. 4. Penatalaksaan volume cairan :  Catheter Arteri Pulmonary untuk mengukur tekanan kapiler pulmonary.  Diuretika, Medikasi hipotensif, Ekspander cairan. 5. Mengatasi Penyebab dasar ARDS
  • 18. Pengkajian A. Data Sujektif  Pengumpulan data jangan sampai menimbulkan distress pernafasan makin.  Informasi ttg latar belakang & riwayat pasien lebih sering bersifat sekunder karena pasien terlalu lemah untuk memberikan informasi yg terinci.
  • 20. B. Data Objektif 1. Penampilan Umum ? 2. Status mental beragam: dari agitasi – somnulens. 3. TTV: Takhikardia, Takipnea, Apnea & Hipotensi 4. Pemeriksaan paru: Pilih pemeriksaan yg dapt ditoleransi klien, temuan tergantung pada penyakit dasar. 5. Temuan AGD dan Spiometri.
  • 21. Diagnosa Keperawatan  Gangguan pertukaran gas b.d inkuelitas V/Q  Perubahan perfusi jaringan (Kardiopulmonal) b.d Mobilisasi cairan dari dan ke interstisium & alveolar.  Ansietas b.d ancaman kematian  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan mempertahankan nutrisi yg adekwat untuk memenuhi beban kerja metabolik akibat upaya pernafasan.
  • 22. Kriteria Hasil 1. Perbaikan Ventilasi & oksigenasi. a) PaO2 dipertahankan pd 50-60mmHg selama fase akut penyakit b) Pada resolusi ARDS, PaO2, pH & PCO2 kembali pada batas normal yg dpt diterima. c) Fungsi sensorium kembali pd tingkat sebelum sakit. d) Selama fase akut penyakit, klien mampu mentoleransi bantuan ventilator mekanik. e) Rasio inspirasi 5 : 10 detik. f) Frekuensi pernafasan & volume tidal dalam batas normal & klien tidak mengeluhkan dyspneu.
  • 23. 2. Perfusi Jaringan Adekwat a) Tekanan pulmonary capilary wedge dibawah 18 mmHg. b) Haluaran urine minimal 30 ml/ jam. c) Nadi Perifer teraba dan ekstremitas hangat saat disentuh.
  • 24. 3. Peningkatan Kenyamanan Fisiologis, Psikologis & Penurunan Ansietas a) Menoleransi ventilator dan jalan nafas buatan. b) Menerima dan mengekspresikan ketakutan. c) Mengkomunikasikan kebutuhan personal secara efektif & perawat atau keluarga. d) Dapat bekerjasama dan membantu dalam perawatan. 4. Berat Badan Stabil
  • 25. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Mempertahankan pertukaran gas yg adekwat. a. Jamin pemberian oksigenasi/ pantau tanda hipoksemia b. Pertahankan jalan nafas, patensi selang ventilator. c. Jika terpasang tracheostomy/ ETT. d. Amankan pipa dari pergerakan pasien. e. Atur posisi yg mengoptimalkan oksigenasi kepala setinggi 40-90 derajad. f. Auskultasi paru setiap jam. g. Lakukan suction pd ETT sesuai protap dan seting ventilator secara teratur.
  • 26. 2. Mempertahankan Perfusi Jaringan a. Pantau tekanan pulmonary capillary wedge: lapor dokter jika tdk normal. Jika tekanan rendah  plasma volume ekspander, jika terlalu tinggi  diuretika. b. Kaji haluaran urine, TTV & ekstremitas tiap jam.
  • 27. 3. Menurukan ansietas pasien & keluarga a. Pastikan fungsi ventilator yg tepat untuk memberikan volume tidal & konsentrasi oksigen yg tepat. Jika fungsi baik tapi pasien mengalami distress periksa AGD. b. Identifikasi cara-2 agar klien dpt mengkomunikasikan kekhawatiran & ekpresi perasaan (jika tak mampu karena ada intubasi tingkatkan kepedulian thd pasien) c. Berikan penjelasan yg singkat & sederhana mengenai prosedur; orientasikan klien thd lingkungan sekitar, dan ulangi penjelasan secara teratur. d. Berikan penjelasan ttg rutinitas perawatan & lingkungan kpd keluarga klien. Dorong keluarga klien untuk mendekati, berbicara & menyentuh klien jika menghendaki. 4. Mempertahankan nutrisi yg adekwat
  • 28. EVALUASI  Lihat kriteria hasil & bandingkan dengan hasil yang telah dicapai!  Jika gagal perlu modifikasi pendekatan dengan melakukan pengkajian ulang kondisi klien, revisi diagnosa keperawatan & menyesuaikan tindakan keperawatan yg dipilih.

Notes de l'éditeur

  1. kondisi yang menyebabkan seseorang bernapas terlalu cepat sehingga mengeluarkan karbon dioksida secara berlebihan.