Ce diaporama a bien été signalé.
Nous utilisons votre profil LinkedIn et vos données d’activité pour vous proposer des publicités personnalisées et pertinentes. Vous pouvez changer vos préférences de publicités à tout moment.
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI
KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
(STUDI KASUS PERUSAHAA...
LEMBAR PERNYATAAN
Yang bertandatangan di bawah ini :
Nama : Ivanka Robby Hamzah
No. Pokok : 2011420007
Jurusan/Perminatan ...
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI
Yang bertandatangan di bawah ini :
Nama : Ivanka Robby Hamzah
No. Pokok : 2011420007
Jurusan : ...
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
Yang bertandatangan di bawah ini :
Nama : Ivanka Robby Hamzah
No.Pokok : 2011420007
Jurusan/Perm...
ABSTRAK
NIM : 2011420007 Judul Skripsi : EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA
PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKA...
KATA PENGANTAR
Bismil-laahir-rahmanir-raahiim
Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahka...
skripsi ini dapat diselesaikan.
5. Ibu Dra. Sri Ari Wahyuningsih, MM selaku dosen wali yang telah membimbing dan
memberi n...
Halaman
JUDUL SKRIPSI……………………………………………….................. i
LEMBAR PERNYATAAN……………………………………………….. ii
LEMBAR PERSETUJUAN………...
2.7 Analisis Rasio Profitabilitas……………………………………… 28
2.8 Kerangka Berpikir……………………………………………….. 36
BAB III METODE PENELITIAN...
5.2 Saran…………………………………………………………… 87
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………...
LAMPIRAN……………………………………………………………….
x
DAFTAR TABEL
TABEL 2.1 Standar Industri Untuk Rasio Profitabilitas
TABEL 3.1 Prosedur Pemilihan Sampel Perusahaan Sektor I...
DAFTAR GRAFIK
GRAFIK 4.1 Rata-rata Return On Invesment Tahun 2011 - 2014
GRAFIK 4.2 Rata-rata Return On Asset Tahun 2011 -...
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Salah satu tujuan didirikannya perusahaan adalah memperoleh laba (profit). O...
kinerja perusahaan oleh pihak manajemen.
Evaluasi kinerja keuangan dapat dilakukan dengan menggunakan analisis laporan
keu...
rekening atau pos tertentu dengan rekening atau pos lainnya di dalam laporan keuangan.
Analisis ini lebih menggambarkan po...
3. Perusahaan mana yang kinerjanya paling baik dengan membandingkan dengan
standar industri ?
1.3. Tujuan dan Kegunaan pen...
BAB II
LANDASAN TEORI
3.1. Pengertian Laporan Keuangan
Pengertian laporan keuangan adalah suatu laporan yang berisikan inf...
Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi dan merupakan informasi
historis. Menurut PSAK No.1 Paragraf ke 7 (Rev...
kinerja manajemen perusahaan, apakah dalam kondisi yang baik atau tidak.
3. Merupakan rangkaian aktivitas ekonomi perusaha...
3.2.1. Neraca
Neraca atau laporan posisi keuangan adalah bagian dari laporan keuangan suatu
entitas yang dihasilkan pada s...
a. Aktiva Lancar
Meliputi kas dan aktiva lain yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau
ditukarkan dengan uang tunai. Akt...
lancar adalah hutang dagang, hutang gaji, hutang biaya, serta hutang lancar
lainnya.
b. Hutang Jangka Panjang
Adalah kewaj...
perusahaan. Laporan laba rugi yang kadang-kadang disebut laporan penghasilan atau
laporan pendapatan dan biaya merupakan l...
4. Laba (gain)
Adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau
transaksi yang jarang terj...
1. Kegiatan operasional untuk perusahaan dagang terdiri dari membeli barang dagangan,
menjual barang dagangan tersebut ser...
3.2.4. Laporan Perubahan Ekuitas
Menurut Rivai, Veithzal dan Idroes (2007:619) mengemukakan bahwa : “laporan
perubahan eku...
ditambahkan ke akhir laporan keuangan untuk memberikan tambahan informasi kepada
pembaca dengan informasi lebih lanjut. Ca...
4. Pelaporan keuangan harus menyajikan informasi tentang prestasi perusahaan selama
satu periode. Investor dan kreditor se...
jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu
yang lebih pendek daripada pemberi pinjama...
periode tertentu. Hal ini sangat penting agar sumber daya digunakan secara optimal
dalam menghadapi perubahan lingkungan.
...
Menurut (Munawir, 2002) pengukuran kinerja keuangan memiliki beberapa tujuan :
“Tujuan pertama untuk mengetahui tingkat li...
menganalisis kondisi keuangan dan kinerja perusahaan”. Analisis rasio keuangan
memungkinkan manajer keuangan meramalkan re...
perusahaan (current ratio, acid test ratio dan lain sebagainya).
2. Rasio leverage adalah rasio-rasio yang dimaksudkan unt...
lebih tertarik pada rencana jangka pendek, likuiditas, kemampuan memperoleh laba,
tingkat efisiensi operasional dan solvab...
diinginkan. Rata-rata industri hanya dapat memberikan panduan atas posisi keuangan
perusahaan rata-rata dalam industri. Da...
perbandingan ini, dapat membandingkannya dengan angka-angka laporan keuangan
tahun lalu, angka laporan keuangan perusahaan...
Profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting karena
untuk dapat melangsungkan hidupnya, suat...
Sedangakan manfaat dari rasio profitabilitas:
a. Mengetahui besarnya tingkat
laba yang diperoleh perusahaan dalam satu per...
Rasio profitabilitas ini yang biasanya dijadikan bahan pertimbangan seorang investor
dalam menanamkan sahamnya di suatu pe...
2. ROA (Return on Asset)
ROA menujukkan keefisienan perusahaan dalam mengelola seluruh aktivanya
untuk memperoleh pendapat...
Return on equity adalah rasio yang memperlihatkan sejauh manakah perusahaan
mengelola modal sendiri (net worth) secara efe...
5. NPM (Net Profit Margin)
Menurut Pastowo (2005:97) rasio Net Profir Margin (NPM) merupakan rasio yang
mengukur rupiah la...
No Jenis Rasio Standar Industri
1 ROI (Return on Invesment) 30%
2 ROA (Return on Asset) 30%
3 ROE (Return on Equity) 40%
4...
dengan rasio perusahaan sejenis yang mempunyai tingkat risiko yang hamper
sama serta diadakan analisis kecendrungan dari s...
barang konsumsi, objek penelitian yang diambil adalah dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sampel yang diambil dari penelitian...
rasio-rasio perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya yang sejenis pada saat yang
bersamaan dan dengan standar rata-r...
Penulis menggunakan data sekunder berupa laporan perusahaan manufaktur sektor
industri barang konsumsi yang terdaftar di B...
yang telah diaudit dan telah mempublikasikannya secara berturut-turut melalui
www.idx.co.id.
Tabel 3.1
Prosedur Pemilihan ...
rata-rata industri sebagai acuan apakah perusahaan memiliki kinerja keungan yang baik
atau tidak.
3.6. Definisi Variabel O...
yang telah dibayarkan oleh perusahaan.
BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Objek Penelitian
Dalam penelitian ini ...
NO KODE EMITEN NAMA PERUSAHAAN
1 ADES Akasa Wira International Tbk.
2 CEKA Cahaya Kalbar Tbk.
3 DLTA Delta Djakarta
4 DVLA...
A. Return On Invesment (ROI)
Return On Invesment (ROI) merupakan hasil perbandingan dari total aset dengan laba
bersih set...
2011 2012 2013 2014
ADES 8,18% 21,43% 12,62% 6,14% 12,09%
CEKA 11,69% 5,68% 6,08% 3,19% 6,66%
DLTA 21,79% 28,64% 31,20% 29...
manajemen yang baik atas pengembalian investasi menunjukkan produktifitas
perusahaan dalam melakukan pengelolaan dana peru...
-4,66%. Banyak faktor yang menyebabkan perusahaan mengalami penurunan. Dari hasil
pendapatan bersih yang diperoleh RMBA ha...
faktor perusahaan mengalami rugi tahun berjalan.
Dari tabel 4.2 pada tahun 2014 Return On Invesment tertinggi diperoleh ol...
perusahaan selama empat tahun seperti pada grafik dibawah ini :
Grafik 4.1
Rata-rata Return On Invesment (ROI) Tahun 2011 ...
Return on Asset (ROA) = 9,37%
Untuk perhitungan selanjutnya dihitung dengan cara yang sama. Berikut adalah tabel
hasil per...
antara total pendapatan penjualan dengan beban pokok yang dibayarkan membuat laba
sebelum pajak yang dihasilkan sesuai. HM...
pembengkakan beban, sehingga tingkat keuntungan jika dilihat dari rugi sebelum pajak
dibagi dengan total asetnya menjadi n...
perolehan yang sama yaitu sebesar 48,33% sedangkan ROA terendah diperoleh
perusahaan yang sama yaitu RMBA (Bentoel Interna...
Grafik 4.2
Rata-rata Return On Asset (ROA) Tahun 2011 – 2014
Sumber : Data Diolah Dari Tabel 4.3
Dari grafik 4.2 dapat ter...
Return On Equity (ROE) merupakan perbandingan antara laba sesudah pajak dengan
total ekuitas dalam perusahaan. Rasio ini d...
2011 2012 2013 2014
ADES 20,57% 39,86% 21,01% 10,48% 22,98%
CEKA 23,77% 12,59% 12,31% 7,62% 14,07%
DLTA 26,48% 35,67% 39,9...
seimbang.
Lain dengan SCPI hanya memperoleh ROE -117,70% pada tahun 2011 karena
banyaknya hutang yang menumpuk tidak diimb...
(Multi Bintang Indonesia Tbk) dengan perolehan 118,60% sedangkan yang terendah
adalah RMBA (Bentoel International Investam...
modal sendiri terhadap laba bersihnya menjadi negatif. Hal ini menjadi bahan
pertimbangan bagi perusahaan agar dapat meman...
laba kotor perusahaan. GPM menunjukkan seberapa besar keuntungan yang diperoleh
jika dilihat dari laba kotor. Perhitungan ...
adalah SQBB (Taisho Pharmauetical Indonesia Tbk) sebesar 47,12% sedangkan yang
terendah adalah SCPI (Merck Sharp Dohme Pha...
tidak maksimal sehingga total keuntungan yang diperoleh kurang memuaskan.
Dari tabel 4.5 pada tahun 2013 Gross Profit Marg...
dapat memanfaatkan keuntungan secara maksimal. Adanya tanggungan beban pokok
penjualan yang besar membuat perusahaan selal...
Sumber : Data Diolah dari tabel 4.5
Dari grafik 4.4 dapat terlihat perusahaan yang dapat menghasilkan keuntungan paling
ba...
Tabel 4.6
Rata-rata Net Profit Margin (NPM) Tahun 2011 – 2014
2011 2012 2013 2014
ADES 8,63% 17,49% 11,07% 5,35% 10,64%
CE...
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS
Prochain SlideShare
Chargement dans…5
×

EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS

22 277 vues

Publié le

2011420007 - Ivanka Robby Hamzah
Fakultas Ekonomi
Jurusan Akuntansi
Angkatan 2011
Universitas Darma Persada

Publié dans : Données & analyses
  • DOWNLOAD FULL BOOKS, INTO AVAILABLE FORMAT ......................................................................................................................... ......................................................................................................................... ,DOWNLOAD FULL. PDF EBOOK here { https://tinyurl.com/yyxo9sk7 } ......................................................................................................................... ,DOWNLOAD FULL. EPUB Ebook here { https://tinyurl.com/yyxo9sk7 } ......................................................................................................................... ,DOWNLOAD FULL. doc Ebook here { https://tinyurl.com/yyxo9sk7 } ......................................................................................................................... ,DOWNLOAD FULL. PDF EBOOK here { https://tinyurl.com/yyxo9sk7 } ......................................................................................................................... ,DOWNLOAD FULL. EPUB Ebook here { https://tinyurl.com/yyxo9sk7 } ......................................................................................................................... ,DOWNLOAD FULL. doc Ebook here { https://tinyurl.com/yyxo9sk7 } ......................................................................................................................... ......................................................................................................................... ......................................................................................................................... .............. Browse by Genre Available eBooks ......................................................................................................................... Art, Biography, Business, Chick Lit, Children's, Christian, Classics, Comics, Contemporary, Cookbooks, Crime, Ebooks, Fantasy, Fiction, Graphic Novels, Historical Fiction, History, Horror, Humor And Comedy, Manga, Memoir, Music, Mystery, Non Fiction, Paranormal, Philosophy, Poetry, Psychology, Religion, Romance, Science, Science Fiction, Self Help, Suspense, Spirituality, Sports, Thriller, Travel, Young Adult,
       Répondre 
    Voulez-vous vraiment ?  Oui  Non
    Votre message apparaîtra ici

EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS

  1. 1. EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS (STUDI KASUS PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA) PERIODE 2011 - 2014 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Akademika Dan Melengkapi Sebagian Dari Syarat – syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Oleh IVANKA ROBBY HAMZAH 2011420007 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS DARMA PERSADA JAKARTA 2015 i
  2. 2. LEMBAR PERNYATAAN Yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Ivanka Robby Hamzah No. Pokok : 2011420007 Jurusan/Perminatan : Akuntansi/Keuangan Dengan ini menyatakan bahwa karya tulis dengan judul EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS (STUDI KASUS PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2011 – 2014) yang dibimbing oleh Bapak Jombrik, SE, MM adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan bukan merupakan jiplakan maupun mengcopy sebagian dari hasil karya orang lain. Apabila dikemudian hari ternyata diketemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, maka saya bersedia mempertanggungjawabkan. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya di Jakarta pada tanggal 18 Agustus 2015. Yang menyatakan, Ivanka Robby Hamzah ii
  3. 3. LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI Yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Ivanka Robby Hamzah No. Pokok : 2011420007 Jurusan : Akuntansi Perminatan : Keuangan Judul Skripsi : EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS (STUDI KASUS PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2011 – 2014) Telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan dan disajikan dalam sidang Ujian Skripsi Sarjana tanggal 29 Agustus 2015. Jakarta, 5 September 2015 Mengetahui, Pembimbing 1, Ketua Jurusan Akuntansi (Ahmad Basid Hasibuan, SE, M.Si) ( Jombrik, SE, MM ) iii
  4. 4. LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI Yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Ivanka Robby Hamzah No.Pokok : 2011420007 Jurusan/Perminatan : Akuntansi/Keuangan Judul Skripsi : EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS (STUDI KASUS PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2011 – 2014) Telah diperiksa, dikaji dan diujikan dalam sidang Ujian Skripsi Sarjana tanggal 29 Agustus 2015 dengan hasil LULUS. Jakarta, 5 September 2015 Ketua Jurusan Akuntansi (Ahmad Basid Hasibuan, SE, M.Si) PANITIA PENGUJI SKRIPSI No. Nama Penguji Jabatan Penguji Tanda Tangan 1. Jombrik, SE, MM Ketua Penguji 2. Dra. Sri Ari Wahyuningsih, MM Anggota Penguji 3. Atiek Isniawati, SE, Ak, M.Si Anggota Penguji Dekan Fakultas Ekonomi (Sukardi, SE, MM) iv
  5. 5. ABSTRAK NIM : 2011420007 Judul Skripsi : EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS (STUDI KASUS PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2011 – 2014) Jumlah Hal :xii + 88, Kata Kunci : Analisis Perbandingan, Roa, Roi, Roe dan Profit Margin Penelitian ini membahas tentang Kinerja Profitabilitas dilihat dari indikator ROA, ROI, ROE dan Profit Margin dengan melakukan perbandingan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui kinerja profitabilitas perusahaan pada sektor barang konsumsi yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia . Data yang digunakan oleh penulis adalah data sekunder dari 40 perusahaan sektor industri konsumsi yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia dan hanya ada 29 perusahaan yang dijadikan sampel karena 11 perusahaan lain belum mencapai atau datanya kurang dari empat tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja profitabilitas perusahaan pada sektor barang konsumsi cukup baik jika ditinjau dari analisis rasio profitabilitas. Daftar Acuan : (2001-2014) Jakarta, 18 Agustus 2015 Ivanka Robby Hamzah v
  6. 6. KATA PENGANTAR Bismil-laahir-rahmanir-raahiim Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan kuasa-Nya yang telah diberikan kepada penulis, baik berupa kesehatan jasmani dan rohani sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, skripsi yang berjudul “EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI KONSUMSI DENGAN PENDEKATAN PROFITABILITAS (STUDI KASUS PERUSAHAAN SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2011 – 2014)”, yang merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Darma Persada Jakarta. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, sehingga memungkinkan skripsi ini terwujud. Dengan kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Kedua orang tua penulis yang selama proses skripsi ini telah memberikan banyak dukungan serta doa kepada penulis. 2. Bapak Sukardi Hardjo Sentono, SE, MM selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Darma Persada. 3. Bapak Ahmad Basid Hasibuan SE, M.Si selaku ketua jurusan Program Studi Akuntansi Universitas Darma Persada. 4. Bapak Jombrik, SE, MM selaku dosen pembimbing yang senantiasa memberikan bmbingan, saran, nasihat dan pengarahan dengan penuh sabar sampai akhirnya vi
  7. 7. skripsi ini dapat diselesaikan. 5. Ibu Dra. Sri Ari Wahyuningsih, MM selaku dosen wali yang telah membimbing dan memberi nasihat selama proses perkuliahan penulis. 6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Darma Persada yang telah mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan selama proses perkuliahan. 7. Pihak-pihak lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan mempunyai banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat diterima dan memberikan manfaat bagi kita semua khususnya bagi penulis sendiri maupun bagi pihak lain yang membutukan. Jakarta, 18 Agustus 2015 Ivanka Robby Hamzah DAFTAR ISI vii
  8. 8. Halaman JUDUL SKRIPSI……………………………………………….................. i LEMBAR PERNYATAAN……………………………………………….. ii LEMBAR PERSETUJUAN……………………………………………….. iii LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………... iv ABSTRAK…………………………………………………………………. v KATA PENGANTAR……………………………………………………... vi DAFTAR ISI………………………………………………………………. viii DAFTAR TABEL…………………………………………………………. xi DAFTAR GRAFIK………………………………………………………. xii BAB I PENDAHULUAN………………………………………………… 1 1.1 Latar Belakang Masalah……………………………………….. 1 1.2 Perumusan Masalah…………………………………………… 4 1.3 Tujuan Penelitian………………………………………………. 4 1.5 Manfaat Penelitian……………………………………………… 5 BAB II LANDASAN TEORI……………………………………………... 6 2.1 Pengertian Laporan Keuangan…………………………………. 6 2.2 Jenis-Jenis Laporan Keuangan…………………………………. 8 2.2.1 Laporan Neraca………………………………………. 8 2.2.2 Laporan Laba Rugi…………………………………… 11 2.2.3 Laporan Arus Kas…………………………………….. 13 2.2.4 Laporan Perubahan Ekuitas…………………………… 15 2.2.5 Laporan Cacatan Atas Laporan Keuangan………….... 16 2.3 Manfaat Laporan Keuangan……………………………………… 16 2.4 Kinerja Keuangan Perusahaan…………………………………... 24 2.5 Rasio Keuangan………………………………………………… 22 2.6 Analisis Perbandinngan…………………………………………. 45 viii
  9. 9. 2.7 Analisis Rasio Profitabilitas……………………………………… 28 2.8 Kerangka Berpikir……………………………………………….. 36 BAB III METODE PENELITIAN………………………………………… 38 3.1 Lokasi Penelitian………………………...…………………….. 38 3.2 Jenis Data………………………………………………………. 38 3.3 Populasi dan Sampel…………………………………………… 38 3.4 Pengumpulan Data……...……………………………………… 41 3.5 Analisa Data………….....……………………………………… 41 3.5 Variabel Operasional…………………………………………... 41 BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN………………………………. 42 4.1 Deskripsi Objek Penelitian……………………………………… 42 4.2 Analisa Data……………………………………………………. 43 4.3 Perhitungan Rasio Profitabilitas……………………………….. 43 4.3.1. Return On Invesment…………………........................ 44 4.3.2. Return On Asset………………………........................ 50 4.3.3. Return On Equity……………………........................ 56 4.3.4. Gross Profit Margin..………………........................ 61 4.3.5. Nett Profit Margin.……..……………........................ 66 4.4 Perbandingan Rasio Profitabilitas Dengan Standar Industri….... 69 4.4.1. Return On Invesment…………………........................ 71 4.4.2. Return On Asset.………….…………........................ 73 4.4.3. Return On Equity……………………........................ 75 4.4.4. Gross Profit Margin..………………........................ 77 4.4.5. Nett Profit Margin….………………........................ 79 4.5 Interpretasi Hasil Analisis Rasio Profitabilitas……………….... 81 BAB V SIMPULAN DAN SARAN……………………………………… 87 5.1 Simpulan……………………………………………………….. 87 ix
  10. 10. 5.2 Saran…………………………………………………………… 87 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………... LAMPIRAN………………………………………………………………. x
  11. 11. DAFTAR TABEL TABEL 2.1 Standar Industri Untuk Rasio Profitabilitas TABEL 3.1 Prosedur Pemilihan Sampel Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi TABEL 4.1 Data Perusahaan Sampel TABEL 4.2 Return On Invesment Tahun 2011 - 2014 TABEL 4.3 Return On Asset Tahun 2011 - 2014 TABEL 4.4 Return On Equity Tahun 2011 - 2014 TABEL 4.5 Gross Profit Margin Tahun 2011 - 2014 TABEL 4.6 Nett Profit Margin Tahun 2011 - 2014 TABEL 4.7 Perbandingan Rata-rata Roi Dengan Standar Industri TABEL 4.8 Perbandingan Rata-rata Roa Dengan Standar Industri TABEL 4.9 Perbadingan Rata-rata ROE Dengan Standar Industri TABEL 4.10 Perbandingan Rata-rata GPM Dengan Standar Industri TABEL 4.11 Perbandingan Rata-rata NPM dengan Standar Industri TABEL 4.12 Rata-rata Kinerja Profitabilitas Tahun 2011 - 2014 TABEL 4.13 Daftar Perusahaan Yang Kinerjanya Diatas Rata-rata Standar Industri xi
  12. 12. DAFTAR GRAFIK GRAFIK 4.1 Rata-rata Return On Invesment Tahun 2011 - 2014 GRAFIK 4.2 Rata-rata Return On Asset Tahun 2011 - 2014 GRAFIK 4.3 Rata-rata Return On Equity Tahun 2011 - 2014 GRAFIK 4.4 Rata-rata Gross Profit Margin Tahun 2011 - 2014 GRAFIK 4.5 Rata-rata Nett Profit Margin Tahun 2011 - 2014 GRAFIK 4.6 Perbandingan Rata-rata Roi Dengan Standar Industri GRAFIK 4.7 Perbandingan Rata-rata Roa Dengan Standar Industri GRAFIK 4.8 Perbadingan Rata-rata ROE Dengan Standar Industri GRAFIK 4.9 Perbandingan Rata-rata GPM Dengan Standar Industri GRAFIK 4.10 Perbandingan Rata-rata NPM dengan Standar Industri xii
  13. 13. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Salah satu tujuan didirikannya perusahaan adalah memperoleh laba (profit). Oleh karena itu wajar apabila profitabilitas menjadi perhatian utama para investor dan perusahaan. Tingkat profitabilitas yang konsisten akan menjadi tolok ukur bagaimana perusahaan tersebut mampu bertahan dalam bisnisnya. Seorang investor akan mengaitkan tingkat profitabilitas sebuah perusahaan dengan tingkat risiko yang timbul dari investasinya. Pimpinan perusahaan atau manajemen sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan yang telah di analisis, karena dari hasil tersebut akan menentukan keputusan yang akan di ambil perusahaan kedepannya. Laporan keuangan menjadi acuan perusahaan dalam menganalisis perkembangan yang ada di perusahaan. Dengan menggunakan analisis rasio yang diambil berdasarkan data laporan keuangan akan dapat diketahui hasil-hasil keuangan perusahaan yang telah dicapai dan dapat diketahui apa saja kelemahan yang ada dalam perusahaan serta apa saja hasil baik yang telah di capai perusahaan. Pada dasarnya kinerja keuangan perusahaan dilihat dari laporan keuangannya. Pertumbuhan yang ada di perusahaan akan terlihat apakah setiap tahunnya akan terjadi penurunan, tetap atau bahkan peningkatan. Informasi sangat dibutuhkan pihak manajemen dalam penyusunan laporan keuangan. Langkah yang di ambil perusahaan pun harus tepat dalam mengambil keputusan yang akan diambil. Informasi mengenai kinerja perusahaan dapat diketahui dengan dilakukannya penilaian dan pengukuran xiii
  14. 14. kinerja perusahaan oleh pihak manajemen. Evaluasi kinerja keuangan dapat dilakukan dengan menggunakan analisis laporan keuangan, dimana data yang di input dalam analisis ini adalah laporan neraca dan laba rugi. Analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan menggunakan analisis rasio. Menurut Wild, Subrayaman, dan Halsey dalam Analisis Laporan Keuangan (2005:3) mendefinisikan : “analisis laporan keuangan adalah aplikasi dari alat dan teknik analisis untuk laporan keuangan bertujuan umum dan data-data yang berkaitan untuk menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat dalam analisis bisnis”. Dalam analisis ini memungkinkan pihak manajer keuangan dan pihak lain yang berkepentingan lebih cepat mengevaluasi kondisi perusahaan karena penyajiannya yang akan menunjukkan kondisi tidak atau sehatnya suatu perusahaan. Analisis rasio keuangan adalah perbandingan antara dua atau kelompok data laporan keuangan dalam suatu periode tertentu, data tersebut bisa antar data dari neraca dan data laporan laba rugi. Tujuannya adalah memberi gambaran mengenai kelemahan dan kemampuan finansial perusahaan dari tahun ke tahun. Analisis rasio ini akan sangat membantu dalam menilai prestasi manajemen di masa lalu dan prospeknya di masa yang akan datang. Pada dasarnya ada beberapa rasio keuangan yang biasa digunakan yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio keuntungan/profitabilitas, rasio leverage, rasio aktivitas dan rasio penilaian (Sutrisno, 2009:215). Dengan menggunakan rasio tersebut maka kita dapat mengetahui perkembangan dalam perusahaan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan satu analisis rasio supaya penelitian ini menjadi fokus, yaitu analisis rasio profitabilitas. Analisis rasio keuangan menunjukkan pola hubungan atau perimbangan antara xiv
  15. 15. rekening atau pos tertentu dengan rekening atau pos lainnya di dalam laporan keuangan. Analisis ini lebih menggambarkan posisi keuangan terutama apabila angka rasio yang diperhitungkan kemudian diperbandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar (Warsono, 2003). Pada saat ini banyak perusahaan di Indonesia yang bersaing dalam mencari konsumen. Dalam sektor perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selalu menjadi sorotan masyarakat karena banyak perusahaan-perusahaan yang sedang berkembang disana. Salah satunya yang sedang berkembang pesat adalah di sektor industri barang konsumsi. Hal ini terjadi karena kebutuhan masyarakat yang selalu meningkat dari tahun ke tahun untuk memenuhi segala kebutuhan yang diperlukan setiap hari. Mulai dari sektor makanan dan minuman, rokok, farmasi, kosmetik dan barang keperluan rumah tangga, serta peralatan rumah tangga. Ini semua dibutuhkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk membuat skripsi berjudul “Evaluasi Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Sektor Industri Konsumsi Dengan Pendekatan Profitabilitas (Studi Kasus Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Terdapat Pada Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2011 – 2014) ’’. 1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana kinerja profitabilitas perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi ditinjau dari analisis rasio profitabilitas ? 2. Perusahaan mana yang memiliki kinerja paling baik dilihat dari sisi profitabilitas ? xv
  16. 16. 3. Perusahaan mana yang kinerjanya paling baik dengan membandingkan dengan standar industri ? 1.3. Tujuan dan Kegunaan penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menganalis untuk mengetahui kinerja profitabilitas perusahaan manufaktur sektor industri barang kosumsi ditinjau dari analisis rasio profitabilitas. 2. Menganalisis untuk mengetahui perusahaan yang memiliki kinerja profitabiitas paling baik. 3. Menganalisis untuk mengetahui kinerja perusahaan paling baik dengan membandingkan dengan standar industri. Kegunaan yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Penulis a. Penulis memahami mengenai pengukuran kinerja profitabilitas perusahaan dengan menggunakan analisis rasio. b. Penulis mempunyai kesempatan belajar menerapkan pengetahuan dari hasil perkuliahan yang telah didapatkan. 2. Bagi Pihak Lain a. Sebagai bahan evaluasi bagi pihak yang membutuhkan. b. Sebagai referensi dan perbandingan bagi pihak lain yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut. xvi
  17. 17. BAB II LANDASAN TEORI 3.1. Pengertian Laporan Keuangan Pengertian laporan keuangan adalah suatu laporan yang berisikan informasi seputar keuangan dari sebuah organisasi. Laporan keuangan di buat atau diterbitkan oleh perusahaan dari hasil proses akuntansi agar bisa menginformasikan keuangan dengan pihak dalam maupun pihak luar yang terkait. xvii
  18. 18. Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi dan merupakan informasi historis. Menurut PSAK No.1 Paragraf ke 7 (Revisi 2012), “Laporan Keuangan adalah suatu penyajian terstuktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entita”. Setiap perusahaan mempunyai laporan keuangan yang bertujuan menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai laporan keuangan dalam pengambilan keputusan secara ekonomi. Laporan keuangan harus disiapkan secara periodik untuk pihak-pihak yang berkepentingan. Berikut beberapa pengertian laporan keuangan menurut para ahli : 1. Laporan keuangan adalah segala sesuatu yang menyangkut penggunaan informasi akuntansi untuk membuat keputusan bisnis dan investasi (Astute; 2004:29). 2. Harahap dalam buku Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan (2006:105), laporan keuangan adalah laporan yang menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. 3. Menurut Munawir (2004:2) “mengemukakan pengertian laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas dari perusahaan tersebut”. Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Laporan Keuangan adalah : 1. Merupakan produk akuntansi yang penting dan dapat digunakan untuk membuat keputusan-keputusan ekonomi bagi pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. 2. Merupakan potret perusahaan, yaitu dapat menggambarkan kinerja keuangan maupun xviii
  19. 19. kinerja manajemen perusahaan, apakah dalam kondisi yang baik atau tidak. 3. Merupakan rangkaian aktivitas ekonomi perusahaan yang diklasifikasikan, pada periode tertentu. Menurut FASB (Financial Accounting Standard Board), melalui Statement of Financial Acconting (SFAC) No. 2 mengemukakan kualitas laporan keuangan antara lain : a. Pembuatan informasi harus mempertimbangkan “Cost and Benefit” artinya manfaat harus lebih besar dari biayanya. b. Informasi harus dipahami dengan jelas. c. Informasi dapat digunakan sebagai proses pengambilan keputusan. d. Relevansi informasi harus jelas. e. Dapat diyakini kebenarannya. f. Dapat digunakan untuk tujuan prediksi. g. Dapat memberikan umpan balik (feed back). h. Penyajian yang jujur dan benar. i. Tepat waktu. j. Konsisten dan dapat diperbandingkan. k. Netral di atas berbagai kepentingan dan berbagai pemakai laporan. l. Hanya material saja yang dimuat atau disajikan. 3.2. Jenis Laporan Keuangan xix
  20. 20. 3.2.1. Neraca Neraca atau laporan posisi keuangan adalah bagian dari laporan keuangan suatu entitas yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan entitas tersebut pada akhir periode tersebut. Tujuan dari neraca ini adalah untuk memberikan pengguna gambaran tentang posisi keuangan perusahaan bersama dengan menampilkan apa perusahaan memiliki debit dan kredit. Neraca adalah sebuah kutipan pada satu titik dalam waktu rekening perusahaan neraca, bersama dengan laporan laba rugi dan arus kas, adalah alat penting bagi investor untuk mendapatkan informasi tentang perusahaan dan operasinya. Dengan demikian hal tersebut akan menjadi satu point penting yang akan sangat diperhatikan oleh para investor. Menurut Munawir (2007:13) : “neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang, serta modal dari suatu perusahaan pada saat tertentu. Jadi tujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu dimana buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau kalender, sehingga neraca sering disebut dengan balance sheet”. Menurut Harahap, dalam buku Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan (2006:107), Laporan neraca, yang disebut juga dengan laporan posisi keuangan perusahaan, adalah laporan yang menggambarkan posisi aktiva, kewajiban dan modal pada saat tertentu. Neraca itu sendiri mempunyai elemen-elemen antara lain sebagai berikut : 1. Aktiva (Asset) Aktiva adalah sumber-sumber ekonomi yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Aktiva biasanya terdiri dari : xx
  21. 21. a. Aktiva Lancar Meliputi kas dan aktiva lain yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan dengan uang tunai. Aktiva lancar disajikan di neraca berdasarkan urutan likuiditasnya, dimulai dari akun yang paling likuid. Yang termasuk dalam aktiva lancar, yaitu kas, surat berharga, piutang usaha, persediaan barang dagangan, dan lainnya. b. Aktiva Tetap Merupakan aktiva tetap perusahaan yang secara fisik tidak dapat dinyatakan dan biasanya memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi mengenai manfaatnya dimasa yang akan datang. Aktiva tetap antara lain : peralatan, mesin, bangungan, dan lainnya. 2. Aktiva Lain-Lain Pos-pos yang tidak dapat secara layak digolongkan ke dalam aktiva lancar maupun aktiva tetap perusahaan, antara lain : hak paten, nama baik (goodwil ), dan lainnya. 3. Hutang (Liabilities) Hutang adalah kewajiban-kewajiban yang harus dilunasi oleh suatu perusahaan. Hutang biasanya terbagi menjadi : a. Hutang Lancar Adalah kewajiban-kewajiban yang harus segera dilunasi oleh perusahaan dengan penggunaan aktiva lancar atau dengan pembentukan kewajiban lancar lainnya dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun. Yang termasuk hutang xxi
  22. 22. lancar adalah hutang dagang, hutang gaji, hutang biaya, serta hutang lancar lainnya. b. Hutang Jangka Panjang Adalah kewajiban-kewajiban yang tidak diharapkan untuk segera dilunasi dalam siklus operasi normal perusahaan, tetapi pengembaliannya dilakukan dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. Yang termasuk hutang jangka panjang adalah hutang hipotek, hutang obligasi, dan hutang jangka panjang lainnya. 4. Modal Modal pada hakikatnya adalah hak pemilik perusahaan atas kekayaan perusahaan. Yang termasuk elemen dalam modal antara lain modal saham, laba ditahan, dan elemen modal lainnya. 3.2.2. Laporan Laba Rugi Menurut Harahap, dalam buku Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan (2006:73) : “Laba rugi menggambarkan hasil yang diperoleh atau diterima oleh perusahan selama satu periode tertentu, serta biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan hasil tersebut. Hasil dikurangi biaya-biaya merupakan laba atau rugi. Kalau hasil lebih besar dari biaya berarti laba sebaliknya, kalau hasil lebih kecil dari biaya-biaya, berarti rugi”. Laporan laba rugi adalah suatu laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari suatu usaha untuk suatu periode tertentu. Selisih antara pendapatan- pendapatan dan biaya merupakan laba yang diperoleh atau rugi yang diderita oleh xxii
  23. 23. perusahaan. Laporan laba rugi yang kadang-kadang disebut laporan penghasilan atau laporan pendapatan dan biaya merupakan laporan yang menunjukkan kemajuan keuangan perusahan dan juga merupakan tali penghubung dua neraca yang berurutan. Arti penting dari laporan laba rugi yaitu sebagai alat untuk mengetahui kemajuan yang dicapai perusahaan dan juga mengetahui berapakah hasil bersih atau laba yang didapat dalam suatu periode. Berikut ini istilah-istilah yang digunakan dalam laporan laba rugi yang diambilkan dari Statement of Financial Accounting Concepts No. 6 yang dikeluarkan oleh FASB. 1. Pendapatan (revenue) Adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha atau pelunasan utangnya (atau kombinasi keduanya) selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha. 2. Biaya (expense) Adalah aliran keluar atau pemakaian lain aktiva atau timbulnya utang (atau kombinasi keduanya) selama satu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau dari pelaksanaan kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha. 3. Penghasilan (income) Adalah selisih penghasilan-penghasilan sesudah dikurangi biaya-biaya. Bila pendapatan lebih kecil daripada biaya, selisihnya sering disebut rugi. xxiii
  24. 24. 4. Laba (gain) Adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari pendapatan (revenue) atau investasi oleh pemiliknya. Contohnya adalah laba yang timbul dari penjualan aktiva tetap. 5. Rugi (loss) Adalah penurunan modal (aktiva bersih) dan transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari biaya (expense) atau distribusi pada pemilik. Contohnya adalah rugi penjualan surat berharga. 6. Harga Perolehan (cost) Adalah jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh barang atau jasa. Jumlah ini pada saat terjadinya transaksi akan dicatat sebagai aktiva. Misalnya pembelian mesin, dan pembayaran uang muka sewa. 3.2.3. Laporan Arus Kas Laporan arus kas merupakan laporan keuangan yang berisi informasi aliran kas masuk dan aliran kas keluar dari suatu perusahaan selama periode tertentu. Informasi ini penyajiannya diklasifikasikan menurut jenis kegiatan yang menyebabkan terjadinya arus kas masuk dan kas keluar tersebut. Kegiatan perusahaan umumnya terdiri dari tiga jenis yaitu, kegiatan operasional, kegiatan investasi serta kegiatan keuangan. xxiv
  25. 25. 1. Kegiatan operasional untuk perusahaan dagang terdiri dari membeli barang dagangan, menjual barang dagangan tersebut serta kegiatan lain yang terkait dengan pembelian dan penjualan barang. Untuk perusahaan jasa, kegiatan operasional antara lain adalah menjual jasa kepada pelanggannya. Kegiatan ini akan mengakibatkan terjadinya uang masuk untuk pendapatan dan aliran uang keluar untuk biaya. Baik pendapatan dan biaya yang terjadi telah dilaporkan dalam laporan laba rugi, namun besarnya pendapatan tersebut belum tentu sama dengan uang yang diterima karena perusahaan umumnya menggunakan dasar akrual untuk mengakui pendapatan. Demikian halnya dengan biaya, biaya yang dilaporkan laba rugi belum tentu sama dengan arus keluar untuk biaya tersebut. 2. Kegiatan investasi merupakan kegiatan membeli atau menjual kembali investasi pada surat berharga jangka panjang dan aktiva tetap. Jika perusahaan membeli investasi/aktiva tetap akan mengakibatkan arus keluar dan jika menjual investas/aktiva tetap akan mengakibatkan adanya arus kas masuk ke perusahaan. 3. Kegiatan keuangan atau ada yang menyebutnya kegiatan pendanaan, adalah kegiatan menarik uang dari kreditor jangka panjang dan dari pemilik serta pengembalian uang kepada mereka. Pengertian Arus Kas menurut Darsono dan Ashari (2005:90) : “arus kas yaitu suatu laporan yang memuat informasi tentang sumber dan pengguanaan kas perusahaan selama periode tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun”. Laporan arus kas digunakan oleh manajemen untuk mengevaluasi kegiatan operasional yang telah berlangsung, dan merencanakan aktivitas investasi dan pembiayaan dimasa yang akan datang. Laporan arus kas juga digunakan oleh kreditur dan investor dalam menilai tingkat likuiditas maupun potensi perusahaan dalam menghasilkan laba. xxv
  26. 26. 3.2.4. Laporan Perubahan Ekuitas Menurut Rivai, Veithzal dan Idroes (2007:619) mengemukakan bahwa : “laporan perubahan ekuitas merupakan laporan yang menggambarkan perubahan saldo akun ekuitas seperti modal disetor, tambahan modal disetor, laba yang ditahan dan akun ekuitas lainnya”. Menurut Kasmir (2008:9) laporan perubahan modal adalah laporan keuangan yang menggambarkan jumlah modal yang dimiliki perusahaan saat ini dan juga menunjukkan perubahan modal serta sebab-sebab berubahnya modal. Menurut Hery (2012:5) laporan perubahan modal adalah laporan keuangan yang menyajikan ikhtisar perubahan pos-pos ekuitas suatu perusahaan untuk satu periode tertentu. Selama periode tersebut, perubahan ekuitas pemegang saham dapat disebabkan oleh penerbitan dan pembelian kembali saham, serta penginvestasian kembali laba bersih yang masih tersisa (setelah pembagian dividen) kedalam perusahaan. Laporan keuangan diharapkan disajikan secara layak, jelas, dan lengkap, yang mengungkapkan kenyataan-kenyataan ekonomi mengenai eksistensi dan operasi perusahaan tersebut. Dalam menyusun laporan keuangan, akuntansi dihadapkan dengan kemungkinan bahaya penyimpangan, salah penafsiran dan ketidaktepatan. Untuk meminimkan bahaya ini, profesi akuntansi telah berupaya untuk mengembangkan suatu barang tubuh teori ini. Setiap akuntansi atau perusahaan harus menyesuaikan diri terhadap praktik akuntansi dan pelaporan dari setiap perusahaan tertentu. 3.2.5. Catatan Atas Laporan Keuangan Catatan atas Laporan Keuangan adalah catatan tambahan dan informasi yang xxvi
  27. 27. ditambahkan ke akhir laporan keuangan untuk memberikan tambahan informasi kepada pembaca dengan informasi lebih lanjut. Catatan atas Laporan Keuangan membantu menjelaskan perhitungan item tertentu dalam laporan keuangan serta memberikan penilaian yang lebih komprehensif dari kondisi keuangan perusahaan. Catatan atas Laporan Keuangan dapat mencakup informasi tentang hutang, kelangsungan usaha, piutang, kewajiban kontinjensi, atau informasi kontekstual untuk menjelaskan angka- angka keuangan. Catatan atas Laporan Keuangan merupakan komponen laporan keuangan yang baru yang kedudukannya menggantikan Nota Perhitungan Anggaran. Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan, daftar rinci, dan analisis suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca dalam rangka pengungkapan yang memadai. 3.3. Manfaat Laporan Keuangan Menurut Statement of Financial Accounting Concept No. 1 tujuan dan manfaat laporan keuangan adalah: 1. Pelaporan keuangan harus menyajikan informasi yg dapat membantu investor kreditor dan pengguna lain yg potensial dalam membuat keputusan lain yg sejenis secara rasional. 2. Pelaporan keuangan harus menyajikan informasi yg dapat membantu investor kreditor dan pengguna lain yg potensial dalam memperkirakan jumlah waktu dan ketidakpastian penerimaan kas dimasa yg akan datang yg berasal dari pembagian deviden ataupun pembayaran bunga dan pendapatan dari penjualan. 3. Pelaporan keuangan harus menyajikan informasi tentang sumber daya ekonomi perusahaan. Klaim atas sumber daya kepada perusahaan atau pemilik modal. xxvii
  28. 28. 4. Pelaporan keuangan harus menyajikan informasi tentang prestasi perusahaan selama satu periode. Investor dan kreditor sering menggunakan informasi masa lalu untuk membantu menaksir prospek perusahaan. Menurut PSAK (2004) pihak-pihak yang memanfaatkan laporan keuangan adalah (IAI,2004) : 1. Investor Penanam modal berisiko dan penasehat mereka berkepentingan dengan risiko yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan. Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. 2. Karyawan Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun dan kesempatan kerja. 3. Pemberi pinjaman Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo. 4. Pemasok dan kreditor usaha lainnya Pemasok dan kreditor usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dibayar pada saat xxviii
  29. 29. jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama mereka tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan. 5. Pelanggan Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau tergantung pada perusahaan. 6. Pemerintah Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaanya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena ini berkepentingan dengan aktivitas perusahaan, mereka menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya. 7. Masyarakat Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya, perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya. 3.4. Kinerja Keuangan Perusahaan Perusahaan sebagai salah satu bentuk organisasi pada umumnya memiliki tujuan tertentu yang ingin di capai dalam usaha untuk memenuhi kepentingan para anggotanya. Kinerja keuangan merupakan suatu gambaran tentang kondisi suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam xxix
  30. 30. periode tertentu. Hal ini sangat penting agar sumber daya digunakan secara optimal dalam menghadapi perubahan lingkungan. Dalam hubungannya dengan kinerja, laporan keuangan sering dijadikan dasar untuk penilaian kinerja perusahaan. Salah satu jenis laporan keuangan yang mengukur keberhasilan operasi perusahaan untuk suatu periode tertentu adalah laporan laba rugi. Dalam hal ini arus kas mempunyai nilai lebih untuk menjamin kinerja perusahaan di masa mendatang. Arus kas (Cash Flow) menunjukkan hasil operasi yang dananya telah diterima tunai oleh perusahaan serta dibebani dengan beban yang bersifat tunai dan benar-benar sudah dikeluarkan oleh perusahaan. Menurut IAI (2007), dikemukakan bahwa kinerja keuangan adalah kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengendalikan sumberdaya yang dimilikinya. Kinerja perusahaan diwujudkan dalam berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan perusahaan karena setiap kegiatan tersebut memerlukan sumber daya, maka kinerja perusahaan akan tercemin dari penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan perusahaan. Pentingnya laporan keuangan sebagai informasi dalam menilai kinerja keuangan perusahaan, mensyaratkan laporan keuangan haruslah mencerminkan keadaan perusahaan yang sebenarnya pada kurun waktu tertentu. Sehingga pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perusahaan akan menjadi tepat. Salah satu bentuk informasi akuntansi yang penting dalam proses penilaian kinerja perusahaan adalah berupa rasio-rasio keuangan perusahaan untuk periode tertentu. Dengan rasio-rasio keuangan tersebut akan tampak jelas beragai indikator keuangan yang dapat mengungkapkan kondisi keuangan sutau perusahaan maupun kinerja yang telah dicapai perusahaan untuk suatu periode tertentu. xxx
  31. 31. Menurut (Munawir, 2002) pengukuran kinerja keuangan memiliki beberapa tujuan : “Tujuan pertama untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuagan pada saat ditagih. Tujuam kedua untuk mengetahui tingkat sovabilitas, yaitu menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut di likuidasi, yang mencakup baik kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang. Tujuan ketiga untuk mengetahui tingkat profitabilitas, yaitu menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba selama periode tertentu. Tujuan keempat untuk mengetahui stabilitas, yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar cicilan secara teratur kepada pemegang saham tanpa mengalami hambatan”. Dalam melakukan pengukuran kinerja keuangan, setiap perusahaan memiliki ukuran yang bervariasi sehingga antara perusahaan yang satu dan perusahaan yang lainnya berbeda. Pada dasarnya angka-angka rasio dapat digolongkan menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah angka-angka rasio yang didasarkan pada sumber data keuangan dimana unsur-unsur angka rasio tersebut diperoleh. Dan golongan kedua adalah angka-angka rasio yang disusun berdasarkan tujuan penganalisa dalam mengevaluasi perusahaan. 3.5. Rasio Keuangan Rasio keuangan merupakan alat analisis perusahaan untuk menilai kinerja suatu perusahaan berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat pada laporan keuangan. Menurut Keown (2004:107) : “Hasil dari menganalisis laporan keuangan adalah rasio keuangan berupa angka-angka dan rasio keuangan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan”. Dengan menggunakan alat analisa berupa rasio keuangan dapat menjelaskan dan memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatau perusahaan dari sutau periode ke periode berikutnya. Menurut Horne (2005:234) : “Rasio keuangan adalah alat yang digunakan untuk xxxi
  32. 32. menganalisis kondisi keuangan dan kinerja perusahaan”. Analisis rasio keuangan memungkinkan manajer keuangan meramalkan reaksi para calon investor dan kreditur serta dapat ditempuh untuk memperoleh tambahan dana. Meskipun analisis rasio mampu memberikan informasi yang bermanfaat sehubungan dengan keadaan operasi dan kondisi keuangan perusahaan, terdapat juga unsur keterbatasan informasi yang membutuhkan kehati-hatian dalam mempertimbangkan masalah yang terdapat dalam perusahaan tersebut. Analisis rasio keuangan merupakan metode yang paling baik digunakan untuk memperoleh gambaran kondisi keuangan perusahaan secara keseluruhan. Rasio keuangan merupakan perbandingan dari dua data yang terdapat dalam laporan keuangan peusahaan. Rasio keuangan digunakan kreditur untuk mengetahui kinerja suatu perusahaan dengan melihat kemampuan perusahaan dalam membayar hutang-hutangnya (Dennis, 2006). Menurut nugroho (2003), beberapa rasio keuangan yag sering dipakai oleh seorang analisis dalam mencapai tujuannya, yaitu rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur keampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri dan rasio likuiditas, untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek tepat pada waktunya. Menurut Bambang Riyanto dalam bukunya Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan (BPFE Yogyakarta 2001:331), pengelompokan rasio-rasio keuangan yaitu sebagai berikut : 1. Rasio likuiditas adalah rasio-rasio yang dimaksud untuk mengukur likuiditas xxxii
  33. 33. perusahaan (current ratio, acid test ratio dan lain sebagainya). 2. Rasio leverage adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai berapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang (debt to total assets ratio, net worth to debt ratio dan lain sebagainya). 3. Rasio-rasio aktiivitas yaitu rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa besar efektivitas perusahaan dalam mengerjakan sumber-sumber dananya (inventory turn over, average collection period dan lain sebagainya). 4. Rasio profitabilitas yaitu rasio-rasio yang menunjukkan hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan kemampuan-kemampuan (profit margin, return on total assets, return on net worth dan lain sebagainya). 5. Rasio penilaian yaitu untuk mengukur kemampuan manajemen dalam menciptakan nilai pasar yang melampaui pengeluaran biaya investasi. Rasio penilaian (Valuation Ratio) merupakan ukuran yang paling lengkap tentang prestasi perusahaan, karena mencerminkan rasio risiko dan rasio pengembalian. Rasio ini sangat penting karena rasio tersebut berkaitan langsung dengan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan dan kekayaaan para pemegang saham. Salah satu bagian dari rasio ini adalah Price to Book Value (PBV). Rasio PBV digunakan untuk mengetahui seberapa besar harga saham yang ada di pasar dibandingkan dengan nilai buku sahamnya (Sutrisno, 2000 : 268). Semakin tinggi nilai rasio ini semakin besar tambahan kekayaan (wealth) yang dinikmati oleh pemilik perusahaan. Analisis rasio keuangan tidak hanya berguna bagi kepentingan intern dan ekstern perusahaan. Bagi para bankir berguna untuk mempertimbangkan pemberian kredit jangka pendek maupun kredit jangka panjang kepada perusahaan, untuk itu para bankir xxxiii
  34. 34. lebih tertarik pada rencana jangka pendek, likuiditas, kemampuan memperoleh laba, tingkat efisiensi operasional dan solvabilitas. Bagi para kreditur jangka panjang lebih tertarik pada kemampuan laba dan tingkat efisiensi operasional. Sedangkan bagi para penanam modal lebih tertarik pada kemampuan memperoleh laba jangka panjang dan tingkat efisiensi perusahaan. Bagi manajer keuangan tentu saja sangat berkepentingan dengan semua aspek rasio keuangan, karena harus mampu membayar hutang jangka pendek, mampu membayar hutang jangka panjang, mampu meningkatkan efisiensi perusahaan, mampu memaksimalkan nilai perusahaan dan mampu memperoleh laba untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Menurut Harahap (2006:298) keunggulan rasio keuangan adalah sebagai berikut : 1. Rasio merupakan angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan. 2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laopran keuangan yang sangat rinci dan rumit. Sedangkan kelemahan analisis rasio menurut Warsono (2003; 25) adalah sebagai berikut : 1. Kadang sulit untuk mengidentifikasi kategori industri dengan perusahaan berada jika perusahaan beroperasi dalam beberapa bidang usaha. 2. Angka rata-rata industri yang diterbitkan hanya merupakan perkiraan saja dan hanya memberikan panduan umum, karena bukan merupakan hasil penelitian ilmiah dari seluruh perusahaan dalam industri maupun sampel yang cocok dari beberapa perusahaan dalam industri. 3. Rasio keuangan dapat terlalu tinggi atau terlalu rendah. Rata-rata industri mungkin tidak memberikan target rasio atau norma yang xxxiv
  35. 35. diinginkan. Rata-rata industri hanya dapat memberikan panduan atas posisi keuangan perusahaan rata-rata dalam industri. Dalam laporan keuangan, angka-angka yang berdiri sendiri sulit dikatakan baik tidaknya. Untuk itu diperlukan pembanding yang bisa dipakai untuk melihat baik tidaknya angka yang dicapai oleh perusahaan, oleh karena itu diperlukan analisis rasio keuangan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan. Rata-rata industri bisa dan biasa digunakan sebagai pembanding. Meskipun rata-rata industri ini bukan merupakan pembanding yang paling tepat karena beberapa hal, misalnya karena perbedaan karakteristik rata-rata perusahaan dalam industri dengan perusahaan tersebut. Tetapi rata-rata industri tetap bisa dipakai untuk perbandingan (Hanafi; 2003:70). 3.6. Analisis Perbandingan Menurut Harahap (2009:227), analisis perbandingan adalah teknik analisis laporan keuangan yang dilakukan dengan cara menyajikan laporan keuangan secara horizontal dan membandingkan antara satu dengan yang lain, dengan menunjukkan informasi keuangan atau data lainnya baik dalam rupiah atau dalam unit. Teknik perbandingan ini juga dapat menunjukkan kenaikan dan penurunan dalam rupiah atau unit dan juga dalam persentase atau perbandingan dalam bentuk angka perbandingan atau rasio. Tujuan analisis perbandingan ini adalah untuk mengetahui perubahan-perubahan berupa kenaikan atau penurunan akun-akun laporan keuangan atau data lainnya dalam dua atau lebih periode yang dibandingkan. Menurut Kasmir (2008:104), rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen yang ada di antara laporan keuangan. Kemudian angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode maupun beberapa periode. Menurut Harahap (2009:227-228), dalam melakukan analisis laporan keuangan teknik xxxv
  36. 36. perbandingan ini, dapat membandingkannya dengan angka-angka laporan keuangan tahun lalu, angka laporan keuangan perusahaan sejenis, rasio rata-rata industri, dan rasio normatif sebagai standar perbandingan (yardstick). Perbandingan antarpos laporan keuangan dapat dilakukan melalui: 1. Perbandingan dalam dua atau beberapa tahun (horisontal) misalny laporan keuangan tahun 1993, dibandingkan dengan laporan keuangan tahun 1994. Perbandingan antara tahun 1996, 1995, 1994, dan seterusnya. 2. Perbandingan dengan perusahaan yang dianggap terbaik. 3. Perbandingan dengan angka-angka standar industri yang berlaku (industrial norm). Di Indonesia standar ini belum ada tetapi di USA beberapa perusahaan mengkhususkan diri mensupply informasi rasio ini misalnya Moody’s, Standar & Poor dan lain-lain. 4. Perbandingan dengan budget (anggaran). 5. Perbandingan dengan bagian, divisi, atau seksi yang ada dalam suatu perusahaan. 3.7. Rasio Profitabilitas Profitabilitas merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan dan keputusan, dimana rasio ini digunakan sebagai alat pengukur atas kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan dari setiap rupiah penjualan yang dihasilkan. Menurut Prihadi (2010:138) profitabilitas adalah kemampuan menghasilkan laba. Pengertian laba bisa bermacam-macam, tergantung dari kebutuhan dari pengukuran laba tersebut. Horne dan Wachowichz (2005:222) dalam buku Analisis Laporan Keuangan mendefinisikan rasio profitabilitas adalah rasio yang menunjukkan hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan seperti profit margin on sales, return on total assets dan lain sebagainya. xxxvi
  37. 37. Profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting karena untuk dapat melangsungkan hidupnya, suatu perusahaan harus berada dalam keadaan yang menguntungkan (profitable). Tanpa adanya keuntungan (profit), maka akan sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar. Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandiangan antara berbagai komponen yang ada di dalam laporan keuangan, terutama laporan keuangan neraca dan laba rugi. Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode operasi. Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan perusahaan dalam rentang waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari penyebab perubahan tersebut. Rasio profitabilitas juga memiliki tujuan dan manfaat, tidak hanya bagi pemilik usaha atau manajemen saja, tetapi juga bagi pihak di luar perusahaan, terutama pihak-pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahaan. Menurut Kasmir (2008:197) , yang menyatakan bahwa : Tujuan penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan, maupun bagi pihak luar perusahaan, yaitu: a. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu. b. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang. c. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu. d. Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. e. Untuk mengukur produtivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri. xxxvii
  38. 38. Sedangakan manfaat dari rasio profitabilitas: a. Mengetahui besarnya tingkat laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode. b. Mengetahui posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang. c. Mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu. d. Mengetahui besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. e. Mengetahui produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Rasio ini merupakan ukuran yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam melakukan peningkatan penjualan dan menekan biaya-biaya yang terjadi. Selain itu, rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan seluruh dana yang dimilikinya untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Rasio profitabilitas menurut Brigham and Houston (2009:107) : “Sekelompok rasio yang menunjukkan gabungan efek-efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan utang pada hasil operasi. Rasio ini meliputi margin laba atas penjualan, rasio kemampuan dasar untuk menghasilkan laba, tingkat pengembalian atas total aktiva, dan tingkat pengembalian ekuitas saham biasa”. Rasio profitabilitas menurut Weston dan Copeland (2010:237) adalah mengukur efektivitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang dihasilkan dari penjualan investasi. Berdasarkan teori diatas tersebut maka rasio profitabilitas rasio untuk mengukur seberapa besar sebuah perusahaan mampu menghasilkan laba dengan menggunakan semua fakto perusahaan yang ada di dalamnya untuk menghasilkan laba yang maksimal. xxxviii
  39. 39. Rasio profitabilitas ini yang biasanya dijadikan bahan pertimbangan seorang investor dalam menanamkan sahamnya di suatu perusahaan. Bila suatu perusahaan memilki tingkat profitabilitas yang tinggi terhadap pengembalian saham, maka seorang investor akan memilh perusahaan tersebut untuk menanamkan sahamnya. Disini menunjukkan bahwa penjualan dan investasi yang besar sangat diperlukan dan mempengaruhi besarnya rasio profitabilitas, semakin besar aktivitas penjualan dan investasi maka akan semakin besar pula rasio profitabilitasnya. Yang termasuk dalam rasio profitabilitas menurut Kasmir (2008) adalah sebagai berikut : 1. ROI (Return on Invesment) Return on investment merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan total aktiva. Return on investment adalah merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan (Harahap, 2009:63). Semakin tinggi rasio ini semakin baik keadaan suatu perusahaan. Return on investment merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila di ukur dari nilai aktiva (Syafri, 2008:63). Standar rata-rata industri untuk untuk ROI ini adalah 30% (Kasmir, 2008:203). Rumus perhitungan Return on Invesment yaitu : Return on Invesment (ROI) xxxix
  40. 40. 2. ROA (Return on Asset) ROA menujukkan keefisienan perusahaan dalam mengelola seluruh aktivanya untuk memperoleh pendapatan. ROA merupakan perbandingan laba sebelum pajak terhadap total asset. Jadi ROA mengindikasikan seberapa besar kemampuan asset yang dimiliki untuk menghasilkan tingkat pengembalian atau pendapatan atau dengan kata lain ROA menunjukkan kemampuan total aset dalam menghasilkan laba. Rasio ini mengukur efektivitas perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang akan digunakan untuk operasi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (Munawir, 2002:89). Semakin besar nilai ROA berarti suatu perusahaan mempunyai kinerja yang bagus dalam menghasilkan laba bersih untuk pengembalian total aktiva yang dimiliki sehingga berpengaruh terhadap harga saham, yaitu harga saham akan naik. Standar rata-rata industri untuk untuk ROA ini adalah 30% (Kasmir, 2008:203). Rumus perhitungan Return on Asset yaitu : Return on Asset (ROA) 3. ROE (Return on Equity) Return on equity merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan total ekuitas. Return on equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen) atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan (Harahap, 2008:305). xl
  41. 41. Return on equity adalah rasio yang memperlihatkan sejauh manakah perusahaan mengelola modal sendiri (net worth) secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau pemegang saham perusahaan (Sawir 2009:20). ROE menunjukkan rentabilitas modal sendiri atau yang sering disebut rentabilitas usaha. Standar rata-rata industri untuk untuk ROE ini adalah 40% (Kasmir, 2008:205). Rumus perhitungan Return on Equity yaitu : Return on Equity (ROE) 4. GPM (Gross Profit Margin) Gross profit margin merupakan rasio yang mengukur efisiensi pengendalian harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien (Sawir, 2009:18). Gross profit margin merupakan persentase laba kotor dibandingkan dengan sales. Semakin besar gross profit margin semakin baik keadaan operasi perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa harga pokok penjualan relatif lebih rendah dibandingkan dengan sales, demikian pula sebaliknya, semakin rendah gross profit margin semakin kurang baik operasi perusahaan (Syamsuddin, 2009:61). Standar rata-rata industri untuk untuk GPM ini adalah 30% (Kasmir, 2008:200). Rumus perhitungan Gross Profit Margin yaitu : Gross Profit Margin (GPM) xli
  42. 42. 5. NPM (Net Profit Margin) Menurut Pastowo (2005:97) rasio Net Profir Margin (NPM) merupakan rasio yang mengukur rupiah laba yang dihasilkan oleh setiap rupiah penjualan. Rasio ini memberi gambaran laba untuk para pemegang saham sebagai persentase dari penjualan. Meraih profit yang diharapkan, maka efisisensi mutlak harus dilakukan oleh setiap perusahaan, tidak terkecuali perusahaan dagang dalam rangka menjaga kelangsungan usaha maupun meningkatkan daya saing. Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Semakin tinggi Net profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan. Standar rata-rata industri untuk untuk NPM ini adalah 20% (Kasmir, 2008:200). Rumus perhitungan Net Profit Margin yaitu : Net Profit Margin (NPM) Jika dari kelima standar industri tersebut dibuatkan tabel, maka menurut (Kasmir, 2008) dalam buku Analisis Laporan Keuangan melihat standar industri dari kelima rasio tersebut adalah sebagai berikut Tabel 2.1 Standar industri untuk rasio profitabilitas xlii
  43. 43. No Jenis Rasio Standar Industri 1 ROI (Return on Invesment) 30% 2 ROA (Return on Asset) 30% 3 ROE (Return on Equity) 40% 4 GPM (Gross Profit Margin) 30% 5 NPM (Net Profit Margin) 20% Sumber : Kasmir (2008) Dalam melakukan analisis rasio profitabilitas tentunya ada kelebihan dan kelemahan dalam analsisis ini. Menurut Harahap dalam buku Analisa Kritis atas Laporan Keuangan terdapatat beberapan kelebihan dan kelemahan dari analisis rasio profitabilitas diantaranya : Kelebihan analisis rasio profitabilitas dibandingkan dengan analisis lain : a. Analisis rasio lebih mudah dibaca dan ditafsirkan. b. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi laporan keuangan yang rinci dan rumit. c. Dapat memberikan informasi tentang posisi perusahaan ditengah industri lain. d. Lebih mudah untuk melihat perkembangan secara periodik atau time series. e. Lebih mudah melihat trend perusahaan dan melakukan prediksi di masa mendatang. Sedangkan kelemahan dari rasio ini adalah : a. Hasil analisis tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus diperbandingkan xliii
  44. 44. dengan rasio perusahaan sejenis yang mempunyai tingkat risiko yang hamper sama serta diadakan analisis kecendrungan dari setiap rasio tahun sebelumnya. b. Dalam kondisi inflasi, rasio tidak dapat menunjukkan keadaan yang sesungguhnya dan tidak dapat doperbandingkan dengan keadaan tahun sebelumnya. 3.8. Kerangka Berpikir Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Berdasarkan gambar diatas, kerangka pikir pada penelitian ini menjelaskan bahwa untuk mengetahui kondisi kinerja profitabilitas industri manufaktur sektor industri xliv BURSA EFEK INDONESIA KELOMPOK INDUSTRI MANUFAKTUR KESIMPULAN & SARAN KELOMPOK INDUSTRI BARANG KONSUMSI ROI PERHITUNGAN RASIO PROFITABILITAS ANALISIS DESKRIPTIF DAN KOMPARATIF KELOMPOK ANEKA INDUSTRI KELOMPOK INDUSTRI DASAR & KIMIA LAPORAN KEUANGAN TAHUN 2011 - 2014 NPMGPMROEROA
  45. 45. barang konsumsi, objek penelitian yang diambil adalah dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel yang diambil dari penelitian ini adalah industri manufaktur sektor industri barang konsumsi. Dalam kelompok tersebut terdapat lima subsektor dari sektor industri barang konsusmi. Yaitu ada subsektor makanan dan minuman, subsektor rokok, subsektor farmasi, subsektor kosmetik dan barang keperluan rumah tangga serta subsektor peralatan rumah tangga. Dari kelima subsektor tersebut diambil laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit antara tahun 2011 – 2014. Alat análisis yang digunakan dalam penelitian ada satu análisis yaitu análisis rasio profitabilitas. Analisis rasio profitabilitas merupakan suatu teknik analisis yang dalam banyak hal mampu memberikan petunjuk atau indikator dalam berbagai kondisi untuk periode sekarang dan periode mendatang yang mungkin akan mempengaruhi posisi keuangan dan keuntungan perusahaan yang bersangkutan. Terdapat lima indikator yang dipakai dalam penelitian ini. Pertama, dengan indikator Return on Invesment yaitu untuk melihat hasil pengembalian investasi yang dilakukan perusahaan apakah efektif dalam mengelola investasi. Kedua, dengan indikator Return on Asset yaitu untuk melihat seberapa besar kemampuan asset yang dimiliki untuk menghasilkan tingkat pengembalian. Ketiga, dengan indikator Return on Equity yaitu untuk mengukur laba bersih setelah pajak dengan melihat modal sendiri. Kempat, dengan indikator Gross Profit Margin merupakan persentase laba kotor dibandingkan dengan penjualan, semakin besar Gross Profit Margin maka semakin baik perusahaan. Dan yang kelima, dengan indikator Nett Profit Margin merupaan ukuran keuntungan dengan membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak dbandingkan dengan penjualan. Dari kelima indikator tersebut kemudian dianalisis dengan cara membandingkan xlv
  46. 46. rasio-rasio perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya yang sejenis pada saat yang bersamaan dan dengan standar rata-rata industri. Dan juga membandingkan rasio-rasio keuangan perusahaan dari suatu periode ke periode lainnya, sehingga dapat diketahui bagaimana kondisi kinerja profitabilitas perusahaan-perusahaan yang dianalisis. Dari hasil análisis tersebut akan dibuat kesimpulan dan saran apa saja yang harus dilakukan perusahaan agar dapat diketahui kinerja keuangan perusahaan tersebut. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011 – 2014 yang dapat diakses melalui www.idx.co.id. 3.2. Sumber dan Jenis Data yang Digunakan xlvi
  47. 47. Penulis menggunakan data sekunder berupa laporan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011 – 2014. Sedangkan sumber data yang diperoleh adalah berupa data laporan keuangan dari www.idx.co.id. 3.3. Populasi dan Sampel Populasi adalah kelompok dimana seorang peneliti akan memperoleh hasil penelitian yang dapat disamaratakan (digeneralisasikan). Populasi yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011 – 2014 yaitu sebanyak 40 perusahaan. Sampel adalah suatu sub kelompok dari populasi yang dipilih dalam penelitian. Sampel yang dipakai penulis dalam penelitian ini adalah sebanyak 29 perusahaan. Metode pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode judgjement sampling yaitu salah satu bentuk metode sampling dengan mengambil sampel yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan maksud dan tujuan penelitian. Adapun kriteria yang digunakan untuk memilih sampel dalam penelitian iniadalah sebagai berikut : 1. Perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2011 -2014 dan memiliki data keuangan lengkap berdasarkan penelitian ini. Sementara itu, perusahaan yang datanya belum mencapai atau kurang dari 4 tahun sebanyak 11 perusahaan. 2. Perusahaan tersebut menerbitkan laporan keuangan tahunan periode 2011 – 2014 xlvii
  48. 48. yang telah diaudit dan telah mempublikasikannya secara berturut-turut melalui www.idx.co.id. Tabel 3.1 Prosedur Pemilihan Sampel Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi No Keterangan jumlah 3 Jumlah perusahaan yang dijadikan sampel 29 -11 401 2 Jumlah perusahaan sektor industri konsumsi yang terdaftar di BEI sampai dengan 2014 Perusahaan yang datanya belum mencapai atau kurang dari empat tahun Sumber : Data Diolah 3.4. Pengumpulan Data Untuk sampai tujuan yang diharapkan, penelitian ini memiliki metode yang sesuai dengan keutuhan didalam penelitian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode : 1. Metode penelitian kepustakaan yaitu penulis membaca buku-buku yang mendukung dan berhubungan dengan permasalahan yang diangkat penulis. 2. Metode penelitian dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melihat dan mempelajari dokumen-dokumen dan catatan-catatan tentang perusahaan yang diteliti, seperti laporan neraca, laporan laba/rugi. 3.5. Analisa Data Adapun teknik analisa data yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik analisa deskriptif dan comparative dari perhitungan rasio profitabilitas dan membandingkan hasil perhitungan rasio profitabilitas dengan standar xlviii
  49. 49. rata-rata industri sebagai acuan apakah perusahaan memiliki kinerja keungan yang baik atau tidak. 3.6. Definisi Variabel Operasional Kinerja perusahaan pada dasarnya menjadi acuan dalam mengelola atau menilai sehat atau tidaknya suatu perusahaan. Suatu perusahaan dapat berjalan dengan baik dikarenakan suatu kinerja perusahaan yang baik pula sehingga dapat memenuhi harapan – harapan para pemegang saham dan kreditur. Rasio profitabilitas adalah rasio yang menunjukkan besarnya laba yang diperoleh perusahaan dalam suatu periode. Yang termasuk dalam rasio ini adalah : a. Return On Invesment : yaitu salah satu rasio yang digunakan untuk menilai total investasi dilihat dari laba bersih setelah pajak dibagi dengan total assetnya. b. Return On Asset : yaitu untuk melihat seberapa besar tingkat asset yang dimiliki perusahaan untuk melakukan tingkat pengembalian dengan cara melihat laba sebelum pajak dibagi dengan total assetnya. c. Return On equity : yaitu untuk mengukur seberapa besar laba bersih yang diperoleh dilihat dari modal sendiri. d. Gross Profit Margin : yaitu yaitu untuk mengetahui seberapa besar keuntungan dari penjualan dilihat dari sebelum adanya beban bunga dan pajak yang ada diperusahaan. e. Net Profit Margin : yaitu untuk mengetahui hasil keuntungan dari penjualan perusahaan dilihat dari sesudah adanya beban bunga dan pajak xlix
  50. 50. yang telah dibayarkan oleh perusahaan. BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Objek Penelitian Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di ursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011- 2014 sebanyak 29 perusahaan sebagaimana tabel 4.1. Tabel 4.1. Data Perusahaan Sampel l
  51. 51. NO KODE EMITEN NAMA PERUSAHAAN 1 ADES Akasa Wira International Tbk. 2 CEKA Cahaya Kalbar Tbk. 3 DLTA Delta Djakarta 4 DVLA Darya Varia Labotaria Tbk. 5 GGRM Gudang Garam Tbk. 6 HMSP Handjaya Mandala Sampoerna Tbk. 7 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. 8 INAF Indofarma (Persero) Tbk. 9 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk. 10 KAEF Kimia Farma (Persero) Tbk. 11 KICI PT Kedaung Indah Can Tbk. 12 KLBF Kalbe Farma Tbk. 13 LMPI PT Langgeng Makmur Industry Tbk. 14 MBTO PT Martina Berto k. 15 MERK Merc Indonesia Tbk. 16 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk. 17 MRAT PT Mustika Ratu Tbk. 18 MYOR Mayora Indah Tbk. 19 PSDN PT Prashida Aneka Niaga Tbk. 20 PYFA Pyridam Farma Tbk. 21 RMBA Bentoel International Investama Tbk. 22 ROTI Nippon Indosari Corpindo Tbk. 23 SCPI Merck Sharp Dohme Pharma Tbk. 24 SKLT Sekar Laut Tbk. 25 SQBB Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk. 26 STTP Siantar Top Tbk. 27 TCID PT Mandom Indonesia Tbk. 28 TSPC Tempo Scan Pasific Tbk. 29 ULTJ PT Unilever Indonesia Tbk. Sumber : www.idx.co.id data diolah 4.2. Analisa Data Adapun pembahasan dalam penelitian ini menggunakan satu alat analisis rasio keuangan yaitu rasio profitabilitas. Dimana dari hasil tersebut, penulis dapat mengetahui kinerja perusahaan tersebut menggunakan analisis tersebut. Dari hasil ini pula dapat dibandingkan antara hasil dari perhitungan dengan standar rata-rata industry perusahaan. Rasio profitabilitas yang digunakan adalah Return On Invesment, Return On Asset, Return On Equity, Gross Profit Margin, dan Net Profit Margin. Untuk perhitungan rasio itu sendiri yaitu melihat laporan keuangan selama 4 tahun dimulai dari tahun 2011 – 2014. 4.3. Perhitungan Rasio Profitabilitas li
  52. 52. A. Return On Invesment (ROI) Return On Invesment (ROI) merupakan hasil perbandingan dari total aset dengan laba bersih setelah pajak. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam menghasilkan keuntungan. Makin baik keuntungan yang dihasilkan perusahaan, maka semakin baik ROI yang di dapat oleh perusahaan. Perhitungan dari salah satu ROI yaitu perusahaan ADES pada tahun 2011 adalah : Return on Invesment (ROI) = 8,18% Untuk perhitungan selanjutnya dihitung dengan cara yang sama. Berikut adalah tabel hasil perhitungannya. Tabel 4.2 Return On Invesment (ROI) Periode 2011 – 2014 lii
  53. 53. 2011 2012 2013 2014 ADES 8,18% 21,43% 12,62% 6,14% 12,09% CEKA 11,69% 5,68% 6,08% 3,19% 6,66% DLTA 21,79% 28,64% 31,20% 29,04% 27,67% DVLA 13,10% 13,86% 10,57% 6,55% 11,02% GGRM 12,68% 9,80% 8,63% 9,27% 10,10% HMSP 41,72% 37,89% 39,48% 35,87% 38,74% ICBP 13,57% 12,86% 10,51% 10,16% 11,77% INAF 3,31% 3,57% -4,19% 0,09% 0,70% INDF 9,12% 8,06% 4,40% 5,99% 6,89% KAEF 9,57% 9,91% 8,72% 7,97% 9,04% KICI 0,40% 2,38% 7,55% 4,86% 3,80% KLBF 18,40% 18,85% 17,41% 17,07% 17,93% LMPI 0,79% 0,29% -1,46% 0,21% -0,04% MBTO 7,88% 7,47% 2,64% 0,47% 4,61% MERK 39,56% 18,93% 25,17% 25,32% 27,25% MLBI 41,56% 39,36% 65,72% 35,63% 45,57% MRAT 6,60% 6,75% -1,52% 1,48% 3,33% MYOR 7,33% 8,97% 10,44% 3,98% 7,68% PSDN 5,66% 3,75% 3,13% -4,54% 2,00% PYFA 4,38% 3,91% 3,54% 1,54% 3,34% RMBA 4,83% -4,66% -11,29% -22,23% -8,34% ROTI 15,27% 12,38% 8,66% 8,80% 11,28% SCPI -8,13% -2,81% -1,63% -4,74% -4,33% SKLT 2,79% 3,19% 3,79% 4,97% 3,68% SQBB 33,19% 34,06% 35,50% 35,88% 34,66% STTP 4,57% 5,97% 7,78% 7,26% 6,40% TCID 12,38% 11,92% 10,92% 9,41% 11,16% TSPC 13,80% 13,71% 11,81% 10,45% 12,44% ULTJ 5,89% 14,60% 11,56% 9,71% 10,44% Return On Invesment (ROI) PERUSAHAAN Rata-rata Sumber : Data Diolah Dari tabel 4.2 pada tahun 2011 Return On Invesment tertinggi dimiliki oleh HMSP (Handjaya Mandala Sampoerna Tbk) dengan perolehan 41,72%. Sementara yang terendah adalah SCPI (Merck Sharp Dohme Pharma Tbk) dengan perolehan -8,13% saja. HMSP memiliki ROI paling tinggi pada tahun 2011 yaitu sebesar 41,72% dikarenakan total asset yang dimiliki oleh HMSP lebih besar dibandingkan dengan laba bersih setelah pajak yang telah dibayarkan oleh perusahaan. Sistem pengelolaan liii
  54. 54. manajemen yang baik atas pengembalian investasi menunjukkan produktifitas perusahaan dalam melakukan pengelolaan dana perusahaan. Peningkatan keuntungan disebabkan karena beban pajak penghasilan yang dibayarkan perusahaan sedikit dan pembayaran bunga tidak banyak jadi keuntungan perusahaan yang di peroleh dari hasil aktiva lebih tinggi daripada beban yang dibayarkan oleh perusahaan. Berbeda dengan SCPI pada tahun 2011 memiliki ROI paling rendah hanya -8,13% saja. Penyebabnya adalah banyaknya beban yang dibayarkan perusahaan sehingga pada tahun 2011 perusahaan mengalami rugi tahun berjalan. Jika dilihat dari sisi aktiva sebenarnya pengelolaannya sudah baik hanya pada laporan laba rugi perusahaan mengalami kerugian, dari total penjualan yang diperoleh, perusahaan banyak mengeluarkan beban. Karena setiap kemampuan perusahaan berbeda-beda jadi tidak semua perusahaan dilihat dari sisi ROI mengalami kenaikan, karena ada sebagian perusahaan yang mengalami penurunan juga. Dari tabel 4.2 pada tahun 2012 Return On Invesment tertinggi dimiliki oleh MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk) yaitu sebesar 39,36% sedangkan yang terendah adalah RMBA (Bentoel International Investama Tbk) yaitu hanya -4,66%. Pada tahun 2012 MLBI mengalami peningkatan ROI sebesar 39,36% karena pengelolaan aktiva yang baik diimbangi dengan pembayaran beban yang tidak terlalu tinggi sehingga laba bersih tahun berjalan yang dihasilkan pun baik. Keuntungan yang diperoleh maksimal karena hasil keuntungan yang dilihat dari total aktiva tersebut dapat mengimbangi pembayaran pajak pada laporan laba ruginya. Pengendalian yang baik membuat MLBI dapat memperoleh keuntungan dari ROI jika dilihat dari sisi aktiva tersebut. Berbeda dengan RMBA yang pada tahun 2012 mengalami penurunan ROI sebesar liv
  55. 55. -4,66%. Banyak faktor yang menyebabkan perusahaan mengalami penurunan. Dari hasil pendapatan bersih yang diperoleh RMBA hampir setengahnya dibayarkan pajak. Menyebabkan perusahaan rugi tahun berjalan pada tahun 2012. Pendapatan penjualan yang diperoleh tidak sebanding dengan beban yang harus ditanggung perusahaan ketika dilakukan pembayaran beban-beban. Dari tabel 4.2 pada tahun 2013 Return On Invesment tertinggi diperoleh MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk) sebesar 65,72% sedangkan yang terendah adalah RMBA (Bentoel International Investama TBK) hanya sebesar -11,29% saja. Pada tahun 2013 MLBI mengalami peningkatan ROI sebesar 65,72%. Mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Pengelolaan manajemen dalam melakukan tingkat pengembalian investasi menjadi kunci utama MLBI mejadi yang tertinggi lagi pada tahun 2013. Manajemen yang baik dalam memanfaatkan keuntungan yang diperoleh membuat perusahaan terus berkembang dengan baik. Dilihat dari laba bersih setelah pajak dari sisi laporan laba ruginya, MLBI mendapatkan laba pada tahun 2013. Beban yang dibayarkan dan hutang yang dibayarkan yang tidak banyak membuat MLBI dapat mengimbangi antara total pendapatan penjualan yang didapat dengan total beban dan pajak yang harus dibayarkan. Lain dengan RMBA mengalami penurunan sebesar -11,29% pada tahun 2013. Pengelolaan yang kurang baik dan hasil pendapatan penjualan yang tidak sebanding dengan total beban yang dibayarkan membuat RMBA pada tahun 2013 mengalami rugi tahun berjalan. Pembayaran beban yang lebih dari setengahnya total pendapatan membuat perusahaan mengalami kerugian tahun berjalan. Dan jika dilihat dari sisi aktiva, RMBA masih signifikan dalam menghasilkan keuntungan hanya dari sisi laporan laba ruginya terlihat kurang baik. Banyaknya hutang yang tidak sedikit bisa menjadi lv
  56. 56. faktor perusahaan mengalami rugi tahun berjalan. Dari tabel 4.2 pada tahun 2014 Return On Invesment tertinggi diperoleh oleh SQBB (Taisho Pharmeutical Indonesia Tbk) sebesar 35,88%, sedangkan yang terendah adalah RMBA (Bentoel International Investama Tbk) hanya -22,23%saja. Seperti pada tahun- tahun sebelumnya, RMBA masuk kategori penurunan selama tiga tahun berturut-turut. Tentunya ini tidak baik karena kinerja RMBA selalu mengalami penurunan terus dan tidak ada kenaikan lagi. Pada tahun 2014 Return On Invesment tertinggi diperoleh oleh SQBB sebesar 35,88%. Sama seperti perusahaan sebelumnya yang mengalami kenaikan, pengelolaan manajemen yang baik membuat SQBB mengalami keuntungan tertinggi pada tahun 2014. Seimbangnya antara total pendapatan penjualan yang diperoleh sebanding dengan pajak yang dibayarkan yang tidak terlalu membengkak. Total aktiva yang diperoleh pun seimbang dengan laba bersih setelah pajak yang harus dibayarkan. Berbeda dengan RMBA yang selama tiga tahun berturut-turut mengalami penurunan keuntungan hingga pada tahun 2014 ini terjadi penurunan ROI sebesar -22,23%. Tentunya kurang baik karena banyak beban-beban yang setiap tahunnya dibayarkan perusahaan karena hutang yang selalu menumpuk. Setiap tahunnya selalu terjadi peningkatan hutang perusahaan agar menutup laporan keuangan tahun sebelumnya. Tentu hal ini tidak baik bagi perusahaan, karena jika dibiarkan terus tidak menutup kemungkinan prusahaan akan mengalami kerugian. Tingkat pengembalian investasi pun menjadi rendah karena banyaknya beban dan hutang yang harus dibayarkan perusahaan. Dari hasil Return On Invesment selama empat tahun diatas maka dapat di rata-rata perusahaan mana yang memiliki kinerja profitabiitas paling baik dan mana yang terendah. Jika digambarkan dalam bentuk grafik dapat dilihat rata-rata keuntungan lvi
  57. 57. perusahaan selama empat tahun seperti pada grafik dibawah ini : Grafik 4.1 Rata-rata Return On Invesment (ROI) Tahun 2011 – 2014 Sumber : Data Diolah Dari Tabel 4.2 Dari grafik 4.1 dapat terlihat bahwa perusahaan yang dapat menghasilkan keuntungan paling baik selama empat tahun adalah MLBI (Multi Bintang Indonesia) dengan perolehan sebesar 45,57% sedangkan yang terendah adalah RMBA (Bentoel International Investama Tbk) hanya -8,34% saja. B. Return On Asset (ROA) Return On Asset (ROA) merupakan kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan aset untuk memperoleh keuntungan. Cara mencarinya dengan membagi laba sebelum pajak dengan total aset perusahaan. Rasio ini digunakan untuk mengukur sampai sejauh mana efektivitas perusahaan dalam menggunakan dana yang ada untuk digunakan dalam operasi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Perhitungan dari salah satu ROI yaitu perusahaan ADES pada tahun 2011 adalah : lvii
  58. 58. Return on Asset (ROA) = 9,37% Untuk perhitungan selanjutnya dihitung dengan cara yang sama. Berikut adalah tabel hasil perhitungannya. Tabel 4.3 Return On Asset (ROA) Tahun 2011 – 2014 2011 2012 2013 2014 ADES 9,37% 19,69% 13,42% 8,22% 12,68% CEKA 15,81% 8,14% 8,09% 4,44% 9,12% DLTA 29,42% 38,57% 41,33% 38,25% 36,89% DVLA 18,02% 19,02% 14,76% 8,56% 15,09% GGRM 16,92% 13,32% 11,69% 12,37% 13,58% HMSP 56,44% 50,98% 52,94% 48,33% 52,17% ICBP 18,03% 17,05% 13,95% 13,60% 15,66% INAF 4,95% 5,19% -4,86% 0,59% 1,47% INDF 11,85% 10,63% 5,15% 7,24% 8,72% KAEF 12,92% 13,40% 11,49% 10,63% 12,11% KICI 0,66% 3,24% 10,12% 6,54% 5,14% KLBF 24,01% 24,50% 22,73% 22,24% 23,37% LMPI 1,12% 0,62% -1,70% 0,37% 0,10% MBTO 10,04% 9,77% 3,76% 0,92% 6,12% MERK 48,46% 25,62% 28,23% 28,61% 32,73% MLBI 55,74% 52,71% 88,48% 48,33% 61,32% MRAT 8,69% 9,34% -2,30% 2,01% 4,44% MYOR 9,49% 11,56% 13,96% 5,14% 10,04% PSDN 8,80% 7,44% 6,34% -3,05% 4,88% PYFA 6,00% 5,86% 4,85% 2,43% 4,79% RMBA 7,66% -6,17% -14,05% -17,03% -7,40% ROTI 20,41% 16,58% 11,56% 11,79% 15,09% SCPI -9,01% -2,67% -0,85% -5,37% -4,48% SKLT 3,74% 4,67% 5,49% 7,10% 5,25% SQBB 44,52% 45,54% 47,36% 47,91% 46,33% STTP 6,45% 7,45% 9,71% 9,86% 8,37% TCID 16,81% 16,11% 14,89% 12,91% 15,18% TSPC 17,41% 17,53% 15,34% 13,28% 15,89% ULTJ 7,19% 18,91% 15,53% 12,86% 13,62% Return On Asset (ROA) PERUSAHAAN Rata-rata Sumber : Data Diolah Dari tabel 4.3 Return On Asset tertinggi pada tahun 2011 adalah HMSP (Handjaya Mandala Sampoerna Tbk) sebesar 56,44% sedangkan yang terendah adalah SCPI (Merck Sharp Dohme Pharma Tbk) sebesar -9,01% saja. Pada tahun 2011 ROA tertinggi diperoleh oleh HMSP sebesar 56,44%. Seimbangnya lviii
  59. 59. antara total pendapatan penjualan dengan beban pokok yang dibayarkan membuat laba sebelum pajak yang dihasilkan sesuai. HMSP mampu melakukan tingkat pengembalian keuntungan jika dilihat dari total aset yang dimiliki. Tentu ini merupakan hasil positif karena perusahaan dapat konsisten ketika melakukan pembayaran pajak. Berbeda dengan SCPI yang hanya memperoleh ROA -9,01% saja dan menjadi yang terendah pada tahun 2011. tingginya pembayaran beban, membuat rugi sebelum pajak tahun berjalan. Sementara hasil dari pendapatan penjualannya terlalu banyak terpakai untuk pembayaran beban pokok penjualan. Membuat dana yang digunakan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan menjadi kecil karena harus menanggung beban yang tidak sedikit. Dari tabel 4.3 pada tahun 2012, Return On Asset tertinggi diperoleh oleh MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk) sebesar 52,71% sedangkan yang terendah adalah RMBA (Benthoel International Investama Tbk) sebesar -6,17%. Pada tahun 2012 MLBI memperoleh Return On Asset terbesar yaitu 52,71%. Penggunaan dana yang tepat oleh perusahaan membuat tingkat pengembalian asetnya bernilai positif. Pemanfaatan dana yang tepat yang dilakukan oleh perusahaan membuat hasil keuntungan dari ROA yang didapat menjadi maksimal. Beban pokok penjualan yang dibayarkan pun sesuai dengan total pendapatan penjualan yang didapat, sehingga ketika akan membandingkan antara laba sebelum pajak dengan total asetnya menjadi sesuai hasilnya dan tidak terjadi kerugian. Berbeda dengan RMBA berada di posisi paling rendah hanya -6,17% saja. Berbanding terbalik dengan MLBI yang berada di posisi teratas. Penyebab dari rendahnya ROA dari RMBA adalah karena perusahaan merugi pada tahun berjalannya. Banyaknya beban yang dibayarkan perusahaan membuat RMBA mengalami lix
  60. 60. pembengkakan beban, sehingga tingkat keuntungan jika dilihat dari rugi sebelum pajak dibagi dengan total asetnya menjadi ngatif hasilnya. Dari tabel 4.3 untuk tahun 2013, terlihat bawha Return On Asset tertinggi dimiliki oleh MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk) yaitu sebesar 88,48% sementara yang terendah adalah RMBA (Bentoel International Investama Tbk) hanya -14,05%. Selama dua tahun ini posisi terendah dan tertinggi dimiliki oleh perusahaan yang sama pada tahun sebelumnya. Dari tabel tersebut terlihat selama dua tahun periode, Return On Asset Tertinggi diperoleh oleh MLBI sebesar 88,48%. Sebanding dengan efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dilihat dari total aset yang dimiliki. Pengelolaan dana yang baik membuat MLBI memperoleh ROA yang cukup baik. Dari total pendapatan penjualan yang diperoleh sesuai dengan beban yang dibayarkan, sehingga total dari laba sebelum pajak dibagi dengan total asetnya bernilai positif. Kinerja perusahaannya pun baik dalam menghasilkan pencapaian tujuan yang maksimal sehingga dana dari aset yang ada dapat menghasilkan keuntungan dari total penjualan perusahaan. Lain dengan RMBA yang berada di posisi terendah selama dua tahun periode, Return On Asset yang dihasilkan hanya -14,05% saja. Selama dua tahun RMBA mengalami pembengkakan pembayaran beban dari pokok penjualan yang menyebabkan rugi sebelum pajak tahun berjalan. Tidak sebanding dengan pengelolaan dana total aset yang dimiliki, karena perusahaan harus menanggung beban yang harus dibayarkan setiap tahunnya sehingga pada tahun 2013 perusahaan dalam menghasilkan ROA bernilai negatif. Dari tabel 4.3 pada tahun 2014, Return On Asset tertinggi diperoleh oleh HMSP (Handjaya Mandala Sampoerna Tbk) dan MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk) dengan lx
  61. 61. perolehan yang sama yaitu sebesar 48,33% sedangkan ROA terendah diperoleh perusahaan yang sama yaitu RMBA (Bentoel International Investama Tbk) hanya -17,03% saja. Selama tiga tahun terakhir RMBA mengalami penurunan. Pada tahun 2014 terdapat kesamaan hasil Return On Asset antara HMSP dan MLBI yaitu sebesar 48,33% pada tahun 2014. Keduanya menjadi yang tertinggi dalam menghasilkan keuntungan ditahun 2014. Pengelolaan total aset dalam melakukan transaksi agar mendapatkan keuntungan dalam perusahaan dikelola secara maksimal sehingga prusahaan mendapatkan keuntungan yang positif. Hasil dari total pendapatan penjualannya seimbang dengan total beban penjualan yang dibayarkan. Perbandingan antara laba sebelum pajak dengan total asetnya pun menjadi tinggi karena perusahaan selalu taat dalam melakukan pembayaran bebannya dan tidak terjadi penumpukan dan pembengkakkan pembayaran. Lain dengan RMBA yang dalam tiga tahun ini berada diposisi terendah disebabkan pemanfaatan keuntungan dari total aset yang sangat kecil, serta pembayaran beban yang diatas setengah dari total pendapatan penjualan membuat hasil dari Return On Asset menjadi negatif pada tahun 2014. Hal ini harus diantisipasi oleh perusahaan agar dari tahun ketahun perusahaan tidak selalu mengalami keuntungan kecil. Harus ada yang diperbaiki dari pengelolaan aset supaya dapat menghasilkan keuntungan yang maksimal jika dilihat dari ROA itu sendiri. Dari hasil Return On Asset selama empat tahun diatas maka dapat di rata-rata kan, perusahaan manakah yang memiliki kinerja profitabiitas paling baik dan manakah yang terendah. Dari tabel 4.3 diatas dapat dilihat Jika digambarkan dalam bentuk grafik dapat dilihat rata-rata keuntungan perusahaan selama empat tahun seperti pada grafik dibawah ini : lxi
  62. 62. Grafik 4.2 Rata-rata Return On Asset (ROA) Tahun 2011 – 2014 Sumber : Data Diolah Dari Tabel 4.3 Dari grafik 4.2 dapat terlihat perusahaan yang menghasilkan keuntungan paling baik selama empat tahun adalah MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk) dengan perolehan sebesar 61,32% sedangkan yang terendah adalah RMBA (Bentoel International Investama Tbk) yaitu sebesar -7,40% saja. C. Return On Equity (ROE) lxii
  63. 63. Return On Equity (ROE) merupakan perbandingan antara laba sesudah pajak dengan total ekuitas dalam perusahaan. Rasio ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana perusahaan mengembalikan keuntungan kepada para pemegang saham. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik. Artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya. Perhitungan dari salah satu ROE yaitu perusahaan ADES pada tahun 2011 adalah : Return on Equity (ROE) = 20,57% Untuk perhitungan selanjutnya dihitung dengan cara yang sama. Berikut adalah tabel hasil perhitungannya. Tabel 4.4 Return On Equity (ROE) Tahun 2011 – 2014 lxiii
  64. 64. 2011 2012 2013 2014 ADES 20,57% 39,86% 21,01% 10,48% 22,98% CEKA 23,77% 12,59% 12,31% 7,62% 14,07% DLTA 26,48% 35,67% 39,98% 37,68% 34,95% DVLA 16,61% 17,69% 13,75% 8,40% 14,11% GGRM 20,19% 15,29% 14,90% 16,23% 16,65% HMSP 89,33% 76,86% 76,42% 75,42% 79,51% ICBP 19,29% 19,04% 16,84% 16,83% 18,00% INAF 6,06% 6,51% -9,17% 0,19% 0,90% INDF 15,47% 13,99% 9,01% 12,48% 12,74% KAEF 13,71% 14,27% 13,27% 13,05% 13,58% KICI 0,55% 3,39% 10,02% 5,97% 4,98% KLBF 23,37% 24,08% 23,18% 21,60% 23,06% LMPI 1,33% 0,57% -3,02% 0,42% -0,18% MBTO 10,65% 10,47% 3,58% 0,64% 6,34% MERK 46,77% 25,86% 34,25% 32,77% 34,91% MLBI 95,68% 137,45% 118,60% 143,53% 123,82% MRAT 7,77% 7,96% -1,77% 1,92% 3,97% MYOR 19,94% 24,26% 26,02% 9,99% 20,05% PSDN 11,56% 6,25% 5,10% -7,44% 3,87% PYFA 6,27% 6,05% 6,59% 2,75% 5,42% RMBA 13,61% -16,80% -118,16% -163,13% -71,12% ROTI 21,21% 22,37% 20,06% 19,64% 20,82% SCPI -117,70% -71,54% -117,09% -142,42% -112,19% SKLT 4,86% 6,14% 8,19% 10,74% 7,48% SQBB 39,68% 41,56% 43,08% 44,67% 42,25% STTP 8,70% 12,87% 16,48% 15,10% 13,29% TCID 13,72% 13,70% 13,53% 13,58% 13,63% TSPC 19,25% 18,94% 16,52% 14,13% 17,21% ULTJ 9,50% 21,08% 16,13% 12,50% 14,80% PERUSAHAAN Return On Equity (ROE) Rata-rata Sumber : Data Diolah Dari tabel 4.4 Return On Equity tertinggi pada tahun 2011 adalah MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk) sebesar 95,68% dan yang terendah diperoleh oleh SCPI (Merck Sharp Dohme Pharma Tbk) yaitu dengan perolehan -117,70%. Pada tahun 2011 Return On Equity tertinggi adalah MLBI dengan perolehan 95,68%. Pengelolaan yang baik menjadi salah satu faktor utama MLBI berada pada tingkat atas. Tingkat pengembalian modal yang tinggi kepada para pemegang saham membuat total ekuitas yang didapat tinggi. Seimbangnya antara total pendapatan penjualan yang didapat dengan beban penjualan yang dibayarkan serta pembayaran hutang bunga sangat mempengaruhi hasil akhir dari laba bersih termasuk dikurangi pembayaran pajak. Keuntungan yang didapat maksimal karena perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan total ekuitas lxiv
  65. 65. seimbang. Lain dengan SCPI hanya memperoleh ROE -117,70% pada tahun 2011 karena banyaknya hutang yang menumpuk tidak diimbangi dengan hasil keuntungan perusahaan. Karena perusahaan mengalami rugi tahun berjalan sehingga hasil akhir dari laba bersih nya menjadi negatif dan menyebabkan laporan laba rugi pada tahun 2011 menjadi rugi. Oleh sebab itu perusahaan tidak dapat memaksimalkan hasil keuntungan dari modal sendiri. Dari tabel 4.4 pada tahun 2012, Return On Equity tertinggi adalah MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk) dengan perolehan keuntungan sebesar 137,45% sedangkan posisi terendah adalah SCPI (Merck Sharp Dohme Pharma Tbk) yang memperoleh -71,54%. Pada tahun 2012 MLBI kembali mendapatkan Return On Equity tertinggi dengan perolehan 137,45%. Dari tahun ke tahunnya keuntungan yang diperoleh MLBI selalu mengalami peningkatan. Pengembalian modal keuntungan dari hasil total ekuitas perusahaan merata karena pemilik modal mendapatkan hasil keuntungan kembali dari hasil penjualan yang diperoleh. Perbandingan antara laba bersih dengan total ekuitasnya bernilai positif sehingga hasil akhir yang diperoleh menjadi maksimal. Beda dengan SCPI diposisi paling rendah hanya -71,54% saja. Hal ini sangat berpengaruh sekali terhadap keuntungan yang didapat, karena dengan hasil yang negatif maka keuntungan yang didapatkan tidak maksimal. Selama dua tahun berturut-turut SCPI mengalami kenaikan beban penjualan sehingga pada tahun 2012 mengalami rugi tahun berjalan. Keuntungan yang didapat tidak maksimal karena posisi ROA menjadi negatif yang menyebabkan pengembalian keuntungan modal sendiri yang didapat dari perusahaan menjadi kecil. Dari tabel 4.4 pada tahun 2013 Return On Equity tertinggi diperoleh oleh MLBI lxv
  66. 66. (Multi Bintang Indonesia Tbk) dengan perolehan 118,60% sedangkan yang terendah adalah RMBA (Bentoel International Investama Tbk) dengan perolehan -118,16%. Pada tahun 2013 Return On Equity tertinggi adalah MLBI dengan keuntungan mencapai 118,60%. Pada tahun 2013 ini mengalami kenaikan tetapi jika dilihat dari persentase keuntungan tahun sebelumnya, MLBI mengalami penurunan. Tetap saja ROE dari MLBI berada diposisi paling atas. besarnya keuntungan yang diperoleh perusahaan membuat pengembalian modal dari total ekuitas menjadi merata kepada pemegang saham. Lain dengan RMBA hanya memperoleh -118,16% jauh dari angka positif sehingga menyebabkan kinerja perusahaan menurun. Pengembalian modal sendiri atas total ekuitasnya menjadi kecil karena pembayaran beban yang ditanggung besar dan dibayarkan setiap tahunnya. ROE yang dihasilkan tidak maksimal dimanfaatkan oleh para pemegang sahamnya. Dari tabel 4.4 Return On Equity tertinggi diperoleh MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk) sebesar 143,53% sedangkan yang terendah adalah RMBA (Bentoel International Investama Tbk) hanya -163,16%. Selama 4 tahun kinerja perusahaan yang paling baik adalah MLBI, setiap tahunnya selalu berada paling atas dan menghasilkan keuntungan maksimal. Pada tahun 2014 MLBI memperoleh ROE sebesar 143,53%. Pemanfaatan modal sendiri yang baik membuat MLBI mendapatkan keuntungan maksimal, serta didukung oleh laba bersih setelah pajak yang untung karena pembayaran beban pokok penjualan yang seimbang dengan total pendapatannya. Sementara berbanding terbalik dengan RMBA selama dua tahun berturut-turut mengalami penurunan sehingga berada diposisi paling rendah pada tahun 2014. Pemanfaatan yang kurang maksimal ditambah dengan rugi setelah pajak membuat RMBA hanya bisa menghasilkan ROE hanya -163,13% saja sehingga pengembalian lxvi
  67. 67. modal sendiri terhadap laba bersihnya menjadi negatif. Hal ini menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan agar dapat memanfaatkan hasil keuntungan menjadi lebih baik lagi agar untuk tahun-tahun selanjutnya tidak terjadi kerugian lagi. Dari hasil Return On Equity selama empat tahun diatas maka dapat di rata-rata kan, perusahaan manakah yang memiliki kinerja profitabiitas paling baik dan manakah yang terendah. Jika digambarkan dalam bentuk grafik dapat dilihat rata-rata keuntungan perusahaan selama empat tahun seperti pada grafik dibawah ini : Grafik 4.3 Rata-rata Return On Equity (ROE) Tahun 2011 – 2014 Sumber : Data Diolah Dari Tabel 4.4 Dari grafik 4.3 dapat dilihat perusahaan yang dapat menghasilkan keuntungan paling baik selama empat tahun adalah MLBI (Multi Bintang Indonesia Tbk) dengan perolehan sebesar 123,82% sedangkan yang terendah adalah SCPI (Merck Sharp Dohme Pharma Tbk) yaitu hanya -112,19% saja. D. Gross Profit Margin (GPM) Gross Profit Margin merupakan perbandingan antara laba sebelum pajak dibandingkan dengan total penjualan. Hasil dari GPM ini akan terlihat dari persentase lxvii
  68. 68. laba kotor perusahaan. GPM menunjukkan seberapa besar keuntungan yang diperoleh jika dilihat dari laba kotor. Perhitungan dari salah satu GPM yaitu perusahaan ADES pada tahun 2011 adalah : Gross Profit Margin (GPM) = 9,89% Untuk perhitungan selanjutnya dihitung dengan cara yang sama. Berikut adalah tabel hasil perhitungannya. Tabel 4.5 Gross Profit Margin (GPM) Tahun 2011 – 2014 2011 2012 2013 2014 ADES 9,89% 16,07% 11,77% 7,17% 11,23% CEKA 10,51% 7,45% 3,41% 1,54% 5,73% DLTA 36,32% 39,93% 41,33% 43,16% 40,19% DVLA 18,48% 18,80% 15,95% 9,59% 15,71% GGRM 15,79% 11,28% 10,70% 11,05% 12,21% HMSP 20,64% 20,08% 19,33% 17,00% 19,26% ICBP 14,17% 14,03% 11,82% 11,28% 12,83% INAF 4,58% 5,33% -4,71% 0,53% 1,43% INDF 14,01% 12,60% 7,19% 9,79% 10,90% KAEF 6,66% 7,45% 6,53% 6,98% 6,91% KICI 0,66% 3,24% 10,04% 6,14% 5,02% KLBF 18,21% 16,92% 16,07% 15,91% 16,78% LMPI 1,54% 0,84% -2,07% 0,58% 0,22% MBTO 8,39% 8,29% 3,58% 0,84% 5,28% MERK 30,83% 15,69% 24,42% 23,75% 23,67% MLBI 36,60% 38,75% 44,27% 36,08% 38,93% MRAT 9,03% 9,28% -2,82% 2,30% 4,45% MYOR 6,62% 9,13% 11,28% 3,73% 7,69% PSDN 2,97% 3,89% 3,37% -1,94% 2,07% PYFA 4,68% 4,51% 4,41% 1,89% 3,87% RMBA 4,81% -4,34% -10,56% -12,38% -5,62% ROTI 19,05% 16,77% 14,00% 13,44% 15,82% SCPI -10,31% -3,89% -1,56% -7,32% -5,77% SKLT 2,32% 2,90% 2,92% 3,45% 2,90% SQBB 47,12% 46,67% 46,77% 44,24% 46,20% STTP 5,87% 7,25% 8,42% 7,72% 7,32% TCID 11,49% 10,98% 10,76% 10,37% 10,90% TSPC 12,80% 12,25% 12,10% 9,88% 11,76% ULTJ 7,45% 16,29% 12,62% 9,58% 11,49% PERUSAHAAN Gross Profit Margin (GPM) RATA-RATA Sumber : Data Diolah Dari tabel 4.5 terlihat Gross Profit Margin tahun 2011 yang mengalami kenaikan lxviii
  69. 69. adalah SQBB (Taisho Pharmauetical Indonesia Tbk) sebesar 47,12% sedangkan yang terendah adalah SCPI (Merck Sharp Dohme Pharma Tbk) sebesar -10,31% saja. Pada tahun 2011 Gross Profit Margin tertinggi adalah SQBB sebesar 47,12%. Perusahaan dapat memaksimalkan keuntungan dengan melihat dari total pendapatan penjualan yang didapat dengan total beban penjualan yang dibayarkan perusahaan sehingga hasil dari laba kotor itu sendiri bernilai positif. Pengelolaan yang baik berdampak baik terhadap perusahaan dalam memanfaatkan kondisi yang ada. Berbeda dengan SCPI pada tahun 2011 hanya memperoleh Gross Profit Margin -10,31% saja. Hal ini disebabkan karena tidak seimbangya antara total pendapatan penjulan yang didapat dengan beban penjulan yang harus dibayarkan oleh pihak perusahaan. Membuat rugi perusahaan karena selisih antara laba sebelum pajak dengan total penjualan menjadi tidak maksimal. Dari tabel 4.5 pada tahun 2012, Gross Profit Margin Tertinggi adalah SQBB (Taisho Pharmauetical Indonesia Tbk) sebesar 46,67% sedangkan yang terendah adalah RMBA (Bentoel International Investama Tbk) hanya -4,34%. Terlihat pada dua tahun berturut- turut Gross Profit Margin SQBB berada diposisi paling tertinggi dengan nilai perolehan sebesar 46,67% sehingga perusahaan dapat memaksimalkan keuntungannya secara baik. Perolehan hasil yang baik karena hasil dari total pendapatan penjualan seimbang dengan beban penjualan yang harus dibayarkan serta adanya tambahan penghasilan keuangan dan pendapatan lain-lain membantu perusahaan dalam mencapai keuntungan yang diinginkan oleh pihak perusahaan. Lain dengan RMBA berada diposisi paling rendah karena perusahaan harus menanggung beban penjulan yang tinggi sehingga menyebabkan rugi sebelum pajak penghasilan. Perbandingan antara laba sebelum pajak dengan total penjualan menjadi lxix
  70. 70. tidak maksimal sehingga total keuntungan yang diperoleh kurang memuaskan. Dari tabel 4.5 pada tahun 2013 Gross Profit Margin tertinggi diperoleh oleh SQBB (Taisho Pharmauetical Indonesia Tbk) sebesar 46,77% sedangkan yang terendah adalah RMBA (Bentoel International Investama Tbk) hanya -10,56% saja. Pada tahun 2013 Gross Profit Margin tertinggi adalah SQBB. Selama tiga tahun berturut-turut kinerja SQBB selalu baik karena selalu mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan sehingga hasil dari laba sebelum pajaknya bernilai positif. Berbeda dengan RMBA pada tahun 2013 menanggung kerugian akibat dari besarnya beban pokok penjualan yang dibayarkan perusahaan tidak sebanding dengan total pendapatan penjualan yang didapat selama tahun 2013. Perusahaan harus menanggung rugi sebelum pajak penghasilan selama dua tahun berturut-turut. Penanggungan beban yang lebih dari setengah total penjualan perusahaan ditambah dengan keuntungan bersih lainnya yang tidak berlalu besar menyebabkan hasil dari laba sebelum pajak penghasilan menjadi negative. Dari tabel 4.5 pada tahun 2014 persentase Gross Profit Margin tertinggi adalah SQBB (Taisho Pharmauetical Indonesia Tbk) sebesar 44,24% sedangkan yang terendah adalah RMBA (Bentoel International Investama Tbk) hanya -12,38% saja. Dapat terlihat bahwa kinerja perusahaan paling baik dalam menghasilkan keuntungan adalah SQBB karena selama empat tahun ini, perusahaan selalu berada diposisi tertinggi, walaupun terjadi penurunan dari tahun ke tahunnya tetapi perusahaan dapat selalu menyeimbangkan antara total pendapatan penjulan yang didapat dengan laba sebelum pajak penghasilannya. Berbeda dengan RMBA pada tahun 2014 berada diposisi terendah. Selama tiga tahun terakhir semenjak tahun 2012 perusahaan selalu mengalami rugi tahun berjalan dan tidak lxx
  71. 71. dapat memanfaatkan keuntungan secara maksimal. Adanya tanggungan beban pokok penjualan yang besar membuat perusahaan selalu merugi pada saat laba sebelum pajak penghasilan. Dari hasil Gross Profit Margin selama 4 tahun diatas maka dapat di rata-rata kan, perusahaan manakah yang memiliki kinerja profitabiitas paling baik dan manakah yang terendah. Jika digambarkan dalam bentuk grafik dapat dilihat rata-rata keuntungan perusahaan selama empat tahun seperti pada grafik dibawah ini : Grafik 4.4 Rata-rata Gross Profit Margin (GPM) Tahun 2011 – 2014 lxxi
  72. 72. Sumber : Data Diolah dari tabel 4.5 Dari grafik 4.4 dapat terlihat perusahaan yang dapat menghasilkan keuntungan paling baik selama 4 tahun adalah SQBB (Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk) dengan perolehan sebesar 46,20% sedangkan yang terendah adalah SCPI (Merck Sharp Dohme Pharma Tbk) hanya -5,77% saja. E. Net Profit Margin (NPM) Net Profit Margin merupakan kemampuan perusahaan dalam rangka memberikan keuntungan kepada para pemegang saham. Rasio ini mengukur perbandingan antara laba bersih terhadap total penjualan. Semakin tinggi hasil NPM maka semakin tinggi keuntungan yang dibagikan kepada pemegang saham dalam perusahaan. Perhitungan dari salah satu NPM yaitu perusahaan ADES pada tahun 2011 adalah : Net Profit Margin (NPM) = 8,63% Untuk perhitungan selanjutnya dihitung dengan cara yang sama. Berikut adalah tabel hasil perhitungannya. lxxii
  73. 73. Tabel 4.6 Rata-rata Net Profit Margin (NPM) Tahun 2011 – 2014 2011 2012 2013 2014 ADES 8,63% 17,49% 11,07% 5,35% 10,64% CEKA 7,77% 5,19% 2,56% 1,10% 4,16% DLTA 26,89% 29,64% 31,19% 32,76% 30,12% DVLA 13,44% 13,69% 11,41% 7,33% 11,47% GGRM 11,83% 8,29% 7,90% 8,27% 9,07% HMSP 15,25% 14,92% 14,41% 12,61% 14,30% ICBP 10,66% 10,57% 8,90% 8,43% 9,64% INAF 3,06% 3,66% -4,05% 0,08% 0,69% INDF 10,79% 9,54% 6,14% 8,09% 8,64% KAEF 4,93% 5,51% 4,95% 5,23% 5,16% KICI 0,40% 2,38% 7,49% 4,56% 3,71% KLBF 13,95% 13,01% 12,31% 12,21% 12,87% LMPI 1,08% 0,39% -1,78% 0,33% 0,01% MBTO 6,57% 6,34% 2,52% 0,43% 3,97% MERK 25,16% 11,59% 21,77% 21,02% 19,89% MLBI 27,29% 28,93% 32,88% 26,59% 28,92% MRAT 6,85% 6,71% -1,87% 1,69% 3,35% MYOR 5,11% 7,08% 8,43% 2,89% 5,88% PSDN 1,91% 1,96% 1,66% -2,88% 0,66% PYFA 3,42% 3,00% 3,21% 1,19% 2,71% RMBA 3,03% -3,28% -8,49% -16,17% -6,23% ROTI 14,25% 12,52% 10,49% 10,02% 11,82% SCPI -9,30% -4,08% -2,98% -6,46% -5,71% SKLT 1,73% 1,98% 2,01% 2,41% 2,03% SQBB 35,12% 34,89% 35,06% 33,12% 34,55% STTP 4,15% 5,81% 6,75% 5,68% 5,60% TCID 8,46% 8,12% 7,89% 7,55% 8,01% TSPC 10,14% 9,57% 9,31% 7,77% 9,20% ULTJ 6,10% 12,57% 9,39% 7,23% 8,82% PERUSAHAAN Nett Profit Margin (NPM) Rata-rata Sumber : Data Diolah Dari tabel 4.6 pada tahun 2011 Net Profit Margin tertinggi adalah SQBB (Taisho Pharmaeutical Indonesia Tbk) sebesar 35,12% sedangkan yang terendah adalah SCPI (Merck Sharp Dohme Pharma Tbk) hanya -9,30%. Pada tahun 2011 Net Profit Margin tertinggi diperoleh SQBB. Keuntungan setelah laba bersih yang diperoleh SQBB sangat baik karena dari hasil tersebut dapat menarik para pemegang saham untuk berinvestasi keperusahaan tersebut. Seimbangnya antara total pendapatan penjualan yang diperoleh sebanding dengan laba bersih yang dihasilkan karena pembayaran beban pokok serta pembayaran pajaknya normal tidak melebihi dari setengah total pendapatan yang didapat lxxiii

×