Ce diaporama a bien été signalé.
Nous utilisons votre profil LinkedIn et vos données d’activité pour vous proposer des publicités personnalisées et pertinentes. Vous pouvez changer vos préférences de publicités à tout moment.
PENATALAKSANAAN TINDAKAN KOLABORATIF PRE-POST
OPERASI Ca PARU
Disusun Oleh
Kelompok 1
1 . Kharisma Ladynda 7 . Aprilianto
...
TINDAKAN-TINDAKAN KOLABORASI PRE-POST OPRASI Ca PARU
A. Pemeriksaan Diagnostik dan Penatalaksanaanya
a. Pemeriksaan Diagno...
d. Mediastinosopi
Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang
terlibat.
e. Torakotomi
Totakotomi un...
Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit
peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari...
C. Peran Perawat Post-Operasi Ca Paru
 Tujuan perawatan Post-Operasi Ca Paru antara lain :
1. Menunjukkan kembalinya fung...
DAFTAR PUSTAKA
- www.academia.edu/5210860/LAPORAN_PENDAHULUAN_ASUH
AN_KEPERAWATAN_KLIEN_DENGAN_KANKER_PARU
- http://nuzulu...
Prochain SlideShare
Chargement dans…5
×

Tindakan Kolaborasi pada Ca Paru

Tindakan Kolaborasi pada Ca Paru

  • Soyez le premier à commenter

  • Soyez le premier à aimer ceci

Tindakan Kolaborasi pada Ca Paru

  1. 1. PENATALAKSANAAN TINDAKAN KOLABORATIF PRE-POST OPERASI Ca PARU Disusun Oleh Kelompok 1 1 . Kharisma Ladynda 7 . Aprilianto 2 . Erni Yunia Nugroho 8 . Ade Panji Nugroho 3 . Widian Listanti 9 . Muharom 4 . Aisah Fitriani 10 . Ginta Septiana 5 . Esty Apriani 11 . Duaji Iftinan 6 . Ariyanti 12 . Marfenda Dila PRODI S1 KEPERAWATAN STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP 2015/2016
  2. 2. TINDAKAN-TINDAKAN KOLABORASI PRE-POST OPRASI Ca PARU A. Pemeriksaan Diagnostik dan Penatalaksanaanya a. Pemeriksaan Diagnostik 1. Radiologi a. Foto thorax posterior – anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada. Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra. b. Bronkhografi Untuk melihat tumor di percabangan bronkus. 2. Laboratorium a. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe) Dilakukan untuk mengkaji adanya/tahap karsinoma. b. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi. c. Tes kulit, jumlah absolute limfosit. d. Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru). 3. Histopatologi a. Bronkoskopi Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui). b. Biopsi Trans Torakal (TTB) Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %. c. Torakoskopi Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi.
  3. 3. d. Mediastinosopi Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat. e. Torakotomi Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam– macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor. 4. Pencitraan a. CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura. b. MRI, untuk menunjukkan keadaan mediastinum. b. Penatalaksanaan 1. Pembedahan. Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengangkat semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru – paru yang tidak terkena kanker. a. Toraktomi eksplorasi. Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsi. b. Pneumonektomi pengangkatan paru Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat. c. Lobektomi (pengangkatan lobus paru). Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa, abses paru, infeksi jamur dan tumor jinak tuberkulosis. d. Resesi segmental. Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru. e. Resesi baji.
  4. 4. Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru –paru berbentuk baji (potongan es). f. Dekortikasi Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris. 2. Radiasi Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/paliatif pada tumor dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/penekanan terhadap pembuluh darah/bronkus. 3. Kemoterapi Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi. B. Tindakan – tindakan - Kolaborasi pemeriksaan radiologi foto toraks dan bronkoghrafi untuk melihat adanya kanker paru dan melihat percabangan bronkus apakah ada tumor atau tidak. - Kolaborasi laboratorium untuk melihat tahapan karsinoma. - Kolaborasi pemberian bronkodilator, contoh aminofilin, albuterol dan lain- lain. Obat diberikan untuk menghilangkan spasme bronkus, menurunkan viskositas sekret, memperbaiki ventilasi, dan memudahkan pembuangan sekret. - Kolaborasi pemberian oksigen lembab sesuai indikasi Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran - Kolaborasi pemberian fisiotherapy dada untuk membantu mengeluarkan secret. - Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri. - Kolaborasi mengkaji konsultasi nutrisi tentang rencana makan dengan ahli gizi .
  5. 5. C. Peran Perawat Post-Operasi Ca Paru  Tujuan perawatan Post-Operasi Ca Paru antara lain : 1. Menunjukkan kembalinya fungsi fisiologis normal 2. Tidak memperlihatkan adanya infeksi luka bedah 3. Dapat beristirahat dan memperoleh rasa nyaman 4. Mempertahankan konsep diri 5. Kembali kepada status kesehatan fungsional dengan keterbatasan yang ada akibat pembedahan  Mendapatkan Kembali Fungsi Fisiologis Normal 1. Luka bedah Pengaruh immobilisasi yang lama selama pembedahan berlangsung dan selama penyembuhan, serta pengaruh anestesi dan analgesik merupakan penyebab utama timbulnya komplikasi pascaoperatif. Intervensi keperawatan diarahkan untuk mencegah timbulnya komplikasi sehingga klien dapat kembali pada tingkat fungsi yang setinggi mungkin. Kegagalan klien berpartisipasi aktif dalam tahap pemulihan akan menambah resiko terjadinya komplikasi (sistem pernafasan, sistem sirkulasi, sistem gastrointestinal, sistem genitourinaria, dll). Perawat harus memperhatikan hubungan antara seluruh sistem dengan terapi yang diberikan, seperti : 1. Mempertahankan fungsi pernapasan 2. Mencegah stasis sirkulasi 3. Meningkatkan eliminasi normal dan nutrisi yang adekuat 4. Meningkatkan eliminasi urine 5. Memperoleh istirahat dan kenyamanan 6. Mempertahankan konsep diri 7. Mempercepat kembalinya status kesehatan fungsional
  6. 6. DAFTAR PUSTAKA - www.academia.edu/5210860/LAPORAN_PENDAHULUAN_ASUH AN_KEPERAWATAN_KLIEN_DENGAN_KANKER_PARU - http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35524- KepRespirasi-AskepKankerParu.html#popup - http://meidinablog.blogspot.co.id/2012/01/kdm-askep-re-n-post- operasi.html?m=1

×