Ce diaporama a bien été signalé.
Nous utilisons votre profil LinkedIn et vos données d’activité pour vous proposer des publicités personnalisées et pertinentes. Vous pouvez changer vos préférences de publicités à tout moment.

Bacaan Papua - "Keluarga Bahagia"

1 040 vues

Publié le

Buku cerita tentang kisah keseharian keluarga Papua yang bahagia

Publié dans : Formation
  • Soyez le premier à commenter

  • Soyez le premier à aimer ceci

Bacaan Papua - "Keluarga Bahagia"

  1. 1. Bacaan Populer Untuk Usia 6-9 tahun
  2. 2. Keluarga bahagia
  3. 3. Kata pengantar
  4. 4. Sambutan
  5. 5. MANFAATKAN HALAMAN RUMAH Nama saya Kristin saat ini saya duduk di kelas IV sekolah dasar, umur saya 9 tahun, saya mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Jhon, dia kelas 1 SMA, kata teman- teman sekolah saya, rumah saya halamannya luas dan banyak pohon-pohon, nenek saya juga tinggal bersama kami, setiap hari nenek sibuk dengan tanaman bunga dan sayur- mayur. Nenek juga sangat senang menanam jahe, lengkuas, temuluwak, sambiloto dan tanaman yang bisa dipakai untuk membuat obat tradisional. Ibu guru pernah bilang, semua jenis tanaman yang ditanam nenek adalah jenis tanaman apotik hidup.
  6. 6. Pagi itu nenek sibuk dengan tanaman bayamnya, tubuh nenek terlihat kelelahan merawat tanaman itu. Saya mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada nenek, “Nek, kenapa susah-susah mengurus bayam?, kalau mau masak kan lebih baik beli ke toko sayur, tinggal minta uang sama bapak deng mama”. Mendengar pertanyaan itu, nenek terkejut, sehabis itu nenek tersenyum, sepertinya hari ini nenek senang sekali, sambil berkata, “Kamu tahu, nenek punya tanaman sayur ini paling hebat dari pada sayur yang dijual di toko sayur, dan tanaman obat nenek, ini juga paling berkhasiat dari pada obat yang di jual di toko obat”. Mendengar ucapan nenek yang bangga dengan tanamanya, saya bertanya lagi,
  7. 7. “Hebatnya apa Nek?, Nenek punya tanaman bayam sama-sama warna hijau deng di toko sayur, malah nenek pu tanaman sayur banyak daunnya yang berlubang dan tanaman obat nenek juga kalau mau pakai, masih kerja lama, harus tumbuklah, ada yang harus direbus lagi, trus kasih panas di api, hebatnya dimana Nek? sedangkan bayam yang dong jual di toko, bagus trada dia pu lubang macam nenek punya”, Saya melihat wajah nenek marah, sambil mencari jawaban untuk membela tanamanya, nenek berbicara dengan keras sepertinya nenek marah tapi sambil dia tersenyum dia menjawab, “Kamu tidak tahu bahwa nenek punya tanaman ini semua nenek pupuk dengan daun matoa dan sisa potongan rumput yang dibabat dari depan rumah, tidak
  8. 8. pakai pupuk yang dijual di toko, yang baunya saja bikin mau muntah dan kalau ada belalang yang makan daun, nenek tinggal ambil dan kubur di bawah pohonnya jadi pupuk, bukan macam mereka yang tanam banyak itu, dikasih pupuk yang beli di toko yang baunya bisa bikin muntah, apalagi kalau ada belalang yang makan, daun tanaman tinggal semprot pakai obat yang dibeli dari toko, dan disemprotkan bila terhirup kepala terasa pusing dan bila kena mata terasa perih sekali, dan hebatnya lagi, nenek punya tanaman ini, nenek rawat penuh kasih sayang”. Nenek bercerita dengan semangat, saya mau bertanya lagi tetapi takut, setiap pertanyaan jawaban nenek panjang dan lama, saya hanya pikir, nenek mungkin sudah tua sehingga kalau berbicara lama dan kadang sulit untuk dimengerti, seperti tanaman yang dirawat penuh kasih sayang. Tiba-tiba mama memanggil, “Kristin tolong mama petik bayam untuk buat sayur !”, Saya menjawab, “Mama kenapa tidak beli di toko sayur saja tidak capek- capek petik ?“,
  9. 9. Mama menjawab, ”Sayur yang nenek tanam lebih bagus dari pada sayur yang dijual di toko”, Mendengar jawaban mama, nenek langsung senyum- senyum, sambil mendendangkan lagu Yosim Pancar yang biasa dipakai untuk mengiringi tarian adat dalam rangka penyambutan tamu kehormatan atau pesta adat. Saya petik bayam yang ditanam nenek, pada awalnya malas untuk melakukan, tapi lama-kelamaan asik juga memetik sayur yang ditanam nenek. Sambil memetik bayam mama berkata, “Kris dari pada beli sayur, di rumah kan banyak sayur yang ditanam nenek, uang yang untuk beli sayur kan
  10. 10. bisa mama tabung untuk biaya sekolah Kris dan kakakmu”, Mendengar cerita mama tersebut saya senang sekali bahwa biaya sekolah saya sudah disiapkan sama mama dan bapak. “Kris tolong bapak ambilkan jahe yang nenek tanam, untuk obati bapak punya kaki yang terkilir” , Suara bapak membuyarkan lamunan saya tentang sekolah, saya berfikir lagi-lagi tanaman nenek yang dicari, “Bapak kenapa tidak beli obat saja?, di toko obat lebih praktis lagi, tidak pakai tumbuk jahe dan serai,” jawabku. Bapak menjawab, “Tanaman nenek lebih bagus, dari pada obat di toko lagi pula, uang yang dipakai beli obat dan belum tentu bagus, kan? uangnya lebih baik ditabung untuk biaya sekolah kamu dan kakakmu”. Hari itu saya benar-benar senang kedua orang tua saya telah mempersiapkan biaya sekolah saya dan mempunyai nenek yang rajin dan gemar menanam sayur-sayuran dan jenis tanaman obat-obatan.
  11. 11. CITA- CITAKU Sore itu mama, bapak, nenek dan kakak santai di bawah pohon matoa, sambil makan buah matoa yang diambil dari pohonnya sendiri, keluarga saya bahagia sekali makan buah matoa, sambil bercerita. Saya melihat mereka makan buah matoa dan langsung ikut bergabung, “Kris kamu baru bangun ka?”, kata bapak, Memang saya hari ini merasa lelah sekali karena tadi di sekolah ada upacara bendera, kebetulan hari ini hari Senin, di sekolah saya setiap hari Senin upacara bendera yang dipimpin oleh kepala sekolah dan yang menjadi petugas upacara bergantian kelas 5 dan kelas 6,
  12. 12. “Iya Pak, kris tadi kelelehan, habis pulang sekolah makan dan istirahat sambil membaca buku pelajaran tertidur, sampai sekarang”, Memang di keluarga saya sehabis makan siang bersama keluarga, istirahat atau tidur siang sebentar dan sebelum tidur biasanya saya membaca buku pelajaran sekolah. “Jhon, tolong nenek ambilkan buah pinang!, nanti kita bagikan ke nenek di sebelah dan yang sebagian nanti buat persediaan kalau ada tamu datang”, kata nenek. Mendengar nenek minta tolong, kakak langsung memanjat pohon pinang dan menurunkannya satu oki yang sudah tua. Setelah menaruh pinang di para-para, kakak lanjut memetik sirih di samping rumah. Keluarga saya sebenarnya jarang makan pinang, tetapi kalau ada tamu, baik tamu nenek atau bapak dan mama mereka menghidangkan pinang, kapur dan sirih. Saya menikmati buah matoa bersama keluarga yang rasanya manis dan enak. “Jhon, Kris, sudah sore cepat mandi!, jangan mandi malam-malam nanti Malaria !”, kata mama. Kakak mengajak saya untuk pergi ke rumah dan mandi, kebetulan di rumah saya mempunyai dua kamar mandi. Setelah selesai mandi, saya dan kakak menonton TV lokal Papua, kebetulan acaranya adalah film Papua yang berjudul
  13. 13. Cinta Dari Wamena yang salah satu pemain utamanya adalah teman akrab bapak, dan sering datang ke rumah sekedar mengobrol dengan bapak dan keluarga. “Kris dan Jhon mari tong makan!”, terdengar suara mama. Saya dan kakak langsung berangkat ke tempat makan, karena keluarga saya kalau makan malam, selalu bersama- sama, jika kurang satu orang saja, makan belum bisa dimulai walupun kita sudah siap di meja makan, keluarga kami selalu menunggu anggotanya yang belum siap kecuali ada yang mempunyai keperluan di luar rumah dan biasanya memberitau lewat telepon rumah, bahwa ia tidak bisa makan bersama karena ada kepentingan di luar, yang sering seperti itu adalah bapak dan mama apalagi kalau bapak atau mama ditugaskan kantornya keluar daerah, kita hanya makan bersama nenek, tapi yang sering terlambat ke meja makan adalah nenek, dengan alasan yang macam-macam, tapi keluarga saya tetap menghormati nenek. Sebelum makan bersama, keluarga kami selalu berdoa dan yang memimpin doa bergantian.
  14. 14. Saya resah kalau yang pimpin doa adalah nenek, dan kali ini yang mendapat giliran adalah nenek, doanya panjang sekali, sampai perut saya sudah terasa lapar, doanya belum juga selesai. Tapi saya bangga punya nenek yang hebat dan sayang sama keluarga. Setelah doa selesai kami makan bersama, “Jhon, jangan lupa belajar yaa kamu kan sudah kelas dua sebentar lagi kelas III !, kamu belajar yang rajin sehingga nantinya lulus dengan nilai yang bagus dan dapat meneruskan kuliah yang kamu minati”, kata bapak, “Memangnya kamu ingin kuliah dimana Jhon dan ambil jurusan apa ?”, ucap mama.
  15. 15. Kakak dengan tegas menjawab, “Bapak, Mama dan Nenek Jhon kalau sudah lulus SMA akan kuliah di Jurusan Kedokteran di Uncen, Jhon ingin menjadi dokter, biar bisa mengabdi pada masyarakat, dan membuka praktek di malam hari seperti yang dilakukan oleh dokter seribu. Jhon kalau praktek satu pasien biayanya 2000 saja. Yang penting bisa bayar asisten Jhon”, Mendengar itu nenek langsung memeluk kakak, “Cucuku hebat, cucuku baik semoga cita-citamu tercapai”, sambil nenek mencium kakak berkali-kali, Bapak terharu mendengar ucapan kakak, “Jhon, bapak dan mama setuju kamu sekolah di kedokteran, bapak dan mama akan berusaha menyiapkan biayanya, yang penting kamu serius dengan niatmu untuk melayani masyarakat dengan tulus hati”, “Kris baru cita-cita mu apa?”, nenek bertanya dengan suara keras. Saya bingung mau menjawab apa ke nenek, saya masih kelas 3 SD dan ditanya cita-cita, saya tidak mau kalah dengan kakak,
  16. 16. “Kris ingin jadi pilot, Nek, biar bapak dan mama kalau dinas ke pulau Jawa naik pesawat yang Kris bawa”, “Hebat itu Kris jarang ada pilot wanita apalagi putri papua seperti kamu”, nenek mendekat langsung memeluk dan mencium saya juga. “Ayo mulai belajar, biar cita-cita kamu tercapai”, kata bapak sambil meninggalkan meja makan. GAMBAR KELUARGA MAKAN BERSAMA
  17. 17. TERBIASA MEMBACA “Tok-tok”, bunyi pintu yang diketuk, saya terbangun dari tidur, terdengar samar-samar nenek memanggil. “Kris, Kris bangun, sudah pagi nanti terlambat ke sekolah”, Saya buru-buru bangun dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa karena di hari ini saya masih diberi nafas kehidupan, itu pesan nenek, sehabis bangun tidur kita diwajibkan berdoa dan tidak lupa merapikan tempat tidur sebelum mandi. Saya ambil handuk dan pergi ke kamar mandi, sebenarnya pagi itu udara sangat dingin untuk mandi, masih ada perasaan malas, tapi apa daya, hari ini adalah hari pertama ulangan kenaikan kelas. Selesai mandi dan menggunakan pakaian sekolah, tak lupa mengecek kembali persiapkan peralatan untuk mengikuti ulangan hari ini, yang telah saya siapkan tadi malam, saya melihat kakak saya juga mulai sibuk mempersiapkan diri untuk bersekolah, aroma harum dari dapur membuat perut saya berbunyi minta untuk diisi. Sambil menunggu bapak dan mama selesai berpakaian, karena bapak dan mama setiap hari bekerja sebagai PNS, nenek pun ikut sibuk sekali hari ini saya lihat nenek hari ini juga kelihatan rapi sekali.
  18. 18. “Kris panggil kakakmu kita sarapan jangan lupa nenek sekalian dipangil!”, nenek berkata. Hampir setiap pagi mama berkata seperti itu jika ingin sarapan pagi. Di ruang makan bapak sudah menunggu, pakaiannya rapi dan kelihatan gagah sekali di pagi hari ini, setelah semua lengkap, bapak mulai memimpin doa makan, dalam doanya ada kalimat yang meminta pertolongan untuk kedua anaknya kepada Tuhan agar dalam mengerjakan ulangan tidak mengalami hambatan dan makanan yang kita makan menjadikan kekuatan untuk aktifitas hari ini. Selesai berdoa kita makan bersama, selama di meja makan di pagi ini tidak ada yang bersuara semua menikmati makanan yang dihidangkan oleh mama dibantu sama nenek. “Kris mari sudah kita berangkat nanti terlambat!”, pinta kakak saya, Saya dan kakak tak lupa salim tangan bapak, mama dan nenek sambil cium tangan masing masing. Setiap hari kerja atau hari sekolah seperti ini, saya dan kakak saya menggunakan motor untuk pergi sekolah bersama-sama. Kakak saya mengantarkan saya dulu ke sekolah baru kakak melanjutkan ke sekolahnya karena tempat sekolahnya berbeda. Teman-teman saya di sekolah sudah ramai sekali, mereka duduk di teras sekolah sambil
  19. 19. membaca buku pelajaran yang akan dijadikan ulangan hari ini. “Kris kenapa kamu tidak membaca buku, kamu tidak tahu ya hari ini kita ulangan ?”, kata Maryaningsih, “Saya tadi malam sudah belajar, mudah-mudahan yang saya pelajari tadi malam keluar dalam ulangan hari ini”, saya menjawab. “Hebat kamu Kris, kita semua takut menghadapi ulangan hari ini, baru kamu tinggal santai-santai”, kata Markus. Dalam hati saya berfikir tadi malam teman-teman mungkin tidak belajar, apakah nenek atau orang tuanya tidak menyuruh mereka belajar, saya bersyukur mempunyai keluarga yang saling perhatian, dan saling mengingatkan terutama nenek yang super hebat. “Kring kring kring” bunyi bel sekolah, sebagai tanda harus masuk kelas, sebelum masuk kelas kita berbaris berbanjar dua kebelakang. “Siap grak, maju jalan!”, teriak ketua kelas sambil menunjuk barisan mana yang terlebih dahulu masuk kelas, Setiap hari masuk kelas, diawali berbaris dan masuk satu- persatu, sambil berjabat tangan dengan ibu guru.
  20. 20. Setelah semua murid masuk kelas, ketua kelas berteriak lagi, ucapkan salam pada ibu guru, “Selamat pagi bu guru”, teriak ketua kelas, Kita semua berteriak, ibu guru juga dengan semangat menjawab, “Selamat pagi anak-anak”, Petugas doa maju ke depan kelas, “Kawan-kawan semua sebelum kita memulai kegiatan hari ini, mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing berdoa mulai”, Semua hening tidak ada yang bersuara, “Selesai”, kata petugas doa hari itu. “Anak-anak hari ini kita ulangan hari pertama, anak- anak sudah siap?”, Ibu guru bertanya. Anak-anak serentak menjawab, “Sudah Ibu guru”. Suasana di kelas hari ini berbeda dengan biasanya, semua tegang untuk menghadapi ulangan, tiba-tiba ibu guru berkata,
  21. 21. “Ayo anak-anak semua berdiri!, kita akan melakukan gerakan badan terlebih dahulu sebelum kita mengerjakan ulangan hari ini, supaya ketegangan dan ketakutan kita berkurang untuk mengerjakan ulangan”, Anak-anak semua berdiri, dan ibu guru membelakangi anak-anak sambil berdiri tegak dan mengangkat kedua tangan dan menurunkan tangan kedepan secara perlahan- lahan, sambil mengatur pernafasan sampai tangan menyentuh lantai dan mengangkat kembali tangan sambil menahan nafas, begitu tangan sampai diatas posisi lurus dengan badan, tiba-tiba ibu guru menjatuhkan tangan dengan cepat sambil berteriah “haaaaaa”. Ibu guru dan murid-murid melakukan gerakan itu sebanyak tiga kali, sehingga kelas ramai sekali. Anak-anak
  22. 22. merasa senang dan merasa beban untuk mengerjakan ulangan sedikit ringan. “Anak-anak, sebelum duduk anak-anak harus mengumpulkan buku catatan ke depan kelas semua dan yang tertinggal hanya alat tulis, penghapus dan mistar”, kata ibu guru. Anak-anak semua maju ke depan untuk mengumpulkan semua catatan sehingga tidak ada yang menyontek saat mengerjakan ulangan. Ibu guru membagikan kertas soal ulangan dan lembar jawaban kepada semua anak-anak, ruangan kembali sunyi, “Anak-anak sudah mendapatkan kertas ulangan semua dan lembar jawaban?”, kata ibu guru, “Sudah ibu guru”, jawab anak-anak. Ulangan pun dimulai, waktu untuk mengerjakan soal ulangan ini adalah satu setengah jam, apabila sebelum satu setengah jam selesai, anak-anak bisa mengumpulkan ke depan dan mengambil tasnya masing-masing, dipersilahkan langsung keluar pulang dan mempersiapkan ulangan hari berikutnya. Saya mulai menulis nama saya dan kelas diatas lembar jawaban, dilanjutkan membaca soal dari nomor satu dan menjawabnya di lembar jawaban, sehabis nomor satu lanjut ke nomor dua, dan seterusnya sampai selesai.
  23. 23. Saya bersukur sekali soal yang keluar itu sudah sering saya baca, sehingga saya mudah sekali menjawabnya. Inilah keuntungan kalau mendengar nasehat nenek dan orang tua, setiap hari tugas saya adalah belajar dan membantu pekerjaan rumah yang ringan-ringan seperti menyapu, membersihkan meja dan merapikan tempat tidur sendiri, kalau tidak belajar, nenek akan menasehati saya panjang lebar. Dalam hati berterima kasih kepada nenek saya yang hebat, saya sayang nenek yang selalu mengingatkan saya untuk belajar. Saya maju ke depan membawa soal dan jawaban, “Ibu guru, Kristin sudah selesai”, kata saya pada Ibu guru, “Kris kamu cepat sekali mengerjakannya”, kata Ibu guru,
  24. 24. Saya menjawab, “Iya Ibu guru, soal yang keluar dalam ulangan hari ini sering aku baca di rumah, berkat bimbingan nenek saya dan kedua orang tua saya”, Ibu guru mengangguk-angguk dan tersenyum, ibu percaya kepada saya, karena dari kelas satu saya selalu peringkat satu di kelas. “Iya Kris, kamu boleh ambil tasmu dan langsung pulang saja, sampai di rumah kamu jangan lupa mempersiapkan diri untuk ulangan berikutnya”. Saya dalam menyelesaikan soal ulangan, memerlukan waktu setengah Jam, masih tersisa waktu satu jam.
  25. 25. PERSAHABATANKU “Kristin, Kristin. . . . “, terdengar ada yang memanggil, saya buru-buru keluar untuk melihat siapa yang memanggil saya “Eee Maryaningsih masuk ayo mari masuk”, Maryaningsih adalah teman satu kelasku, dan tinggalnya dekat dengan rumahku. “Kris siapa yang datang ?”, suara nenek dari dapur, “Maryaningsih Nek”, jawabku, “Maryaningsih sebelah rumah itu?”, kata nenek, “Iya Nek”, jawabku, “Mari ke dapur sini ajak Maryaningsing bantu nenek putar papeda”, kata nenek,
  26. 26. “Ning kamu bisa makan Pepeda tidak?”, kataku, “Aku bisa makan, tetapi aku kesini tidak lama karena aku di suruh ibuku untuk pinjam taplak meja, untuk acara pengajian sebentar malam”, kata ningsih. Nenek mendengar ucapan ningsih baru berkata, “Iya mari makan dulu sama sama nenek baru nanti nenek ambilkan taplak yang sudah nenek setrika, mau pinjam berapa lembar Ning?”, Ningsih menjawab, “Dua Nek kalau ada kalau tidak ada yaa satu saja tidak apa-apa, yang penting Ningsih temanin Nenek makan Papeda dulu, baru nenek kasih pinjam taplak meja”. Mendengar ribut-ribut di dapur mama keluar kamar sambil berkata, “Ohh Ningsih too kamu kok jarang main kesini ?”, sapa ibu, “Iya Tante Ningsih bantu ibu jaga kios sepulang sekolah, saya kemari di suruh ibu, untuk pinjam taplak meja untuk pengajian sebentar malam”, “oooh”, kata mamak sambil mengangguk-anguk, lansung bilang sama nenek,
  27. 27. “Nek tolong pinjamkan taplak meja yang nenek simpan”, kata mama, “ehh ehh sabar dulu, Nenek tadi sudah bilang temanin nenek makan papeda dulu baru nenek ambilkan, mau lima juga nenek pinjamin”, Sebenarnya hati Maryaningsih senang sekali makan Papeda sudah lama tidak makan Papeda, apa lagi pakai ikan kuah kuning, tapi ningsih malu. Setelah nenek mengancam begitu Ning bilang sama Kristin, “Ayo cepat kita bantu nenek putar papeda biar cepat selesai”, ucap Ningsih. Nenek, Kristin dan Ningsih segera masak air supaya mendidih untuk menyiram Sagu, dan diaduk sampai papeda mengental baru makan bersama-sama. “Tambah Ning, ini Papeda masih banyak dan ikannya juga masih”, kata nenek. “Iya nek terimakasih mingsih sudah kenyang sekali”, jawab Ningsih “Iya sudah kalau begitu kamu tunggu nenek didepan yaa nenek bereskan piring dulu baru nanti nenek ambilkan taplak meja”. Ningsih dan Kristin berjalan keluar menuju teras rumah sambil bercerita,
  28. 28. “Kristin kira-kira hasil ulangan kita bagus tidak ya?”, tanya Ningsih, “Bagus kalau sebelum ulangan kita belajar dan tidak bagus jika sebelum ulangan kita tidak sering belajar”, kata krestin. “Ini Ningsih taplak meja yang ibumu pinjam dua potong, nanti kalau kasih pulang gak usah cuci juga tidak apa- apa, tapi kalau masih mau main, main dulu kalau mau pulang ya tidak apa-apa”, kata nenek sambil menyerahkan dua potong taplak meja ke Maryaningsih, “Iya Nek terima kasih telah meminjamkan taplak mejanya dan hidangan Papedanya yang rasanya enak sekali, Ningsih pamit dulu ya Nek soalnya ningsih harus bantu ibu untuk persiapan pengajian sebentar malam”,
  29. 29. Ningsih lalu melangkah pulang sambil berkata, “Kris aku pulang dulu yaa kasihan ibuku kerja sendiri, tidak ada yang membantu dadaaa…”, Kristin mengantarkan Ningsih sampai pintu pagar rumah sambil berkata “Kapan-kapan main kesini ya Ning !”, sambil menutup pagar rumah Kristin masuk ke dalam rumah. ”Nek kapan kita giliran ibadah dirumah ?”, kata Kristin, nenek tidak menjawab malah angkat tangan dan menghitung jarinya, Krestin mengulangi pertanyaan kepada neneknya Kristin pikir nenek tidak dengar, “ Nek kapan ibadah lagi giliran dirumah kita?”, nenek berteriak “Kristin ini nenek baru hitung, kamu diam dulu jangan sampai salah nenek menghitungnya”, Kristin heran dengan gaya nenek menghitung memakai jari, “Kurang lima hari lagi Kris”, kata nenek, “Hore hore berarti bersamaan hari penerimaan rapot kenaikan kelas saya nek dan kenaikan kelas kakak”, kata Kristin. Nenek tinggal senyum senyum sambil berkata
  30. 30. “Kris kamu jangan senang dulu siapa tau nanti kamu terima rapot hasil kamu tidak naik kelas”, kata nenek, secepat kilat Kristin lari memeluk neneknya, “Nek jangan bilang begitu, Kristin sedih kalau nenek bilang begitu”, sambil Kristin memeluk nenek manja. Nenek membelai rambut Kristin dan mencium keningnya lalu berkata “Nenek hanya main main Kris, cucu nenek yang paling nenek sayang pasti naik kelas”, kata nenek.
  31. 31. PENUH SUKA CITA Tumpukan buku di kamar sengaja saya turunkan semua, dan mencoba untuk menyusun kembali menurut jenis mata pelajaran, buku Bahasa Indonesia dari kelas I,II,III,IV,V dan VI saya tumpuk sendiri, dan semua jenis pelajaran yang sama dari kelas I sampai dengan kelas VI ditumpuk menurut jenis pelajaranya. Ada beberapa buku yang telah rusak tapi masih bisa di baca, buku yang telah tersusun rapi memudahkan saya untuk membaca kembali pelajaran dari kelas I sampai dengan Kelas VI, setelah selesai mengkelompokan buku mata pelajaran terasa capek, tapi hati merasa senang, karena bila suatu saat membutukan buku yang diperlukan tidak kesulitan untuk mendapatkannya, semua ini saya lakukan karena teringat saran bapak sebelum bapak berangkat ditugaskan kantornya ke jakarta,
  32. 32. “Kris kamu sekarang sudah kelas VI, apa kamu sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir nasional?”, saya bingung harus menjawab apa ke bapak, “Belum Pak, Cristin bingung”, Karena kata ibu guru UAN soalnya dari kelas I sampai kelas VI, sedangkan menurut kepala sekolah yang banyak keluarnya di soal UAN adalah pelajaran kelas IV,V dan VI. “Begini Kris kalau begitu minta tolong sama kakakmu untuk mengkelompokkan jenis mata pelajaran yang sama dari kelas satu sampai dengan kelas VI, untuk memudahkan belajar”, Setelah saya selesai merapian buku enaknya duduk di teras depan sambil melihat pemandangan . “Kris, Kris kemari!”, Suara bapak menbuyarkan lamunan, membayangkan betapa cantiknya saya bila suatu saat nanti tercapai cita-cita saya menjadi seorang pilot pesawat, koperku bagus, ditemani co pilot, pramugari dan pramugara berjalan di ruang tunggu yang dipadati calon penumpang pesawat yang akan saya terbangkan, semua penumpang memandag dengan kagum, lalu kubalas senyuman yang manis menambah pesona kecantikan diriku.
  33. 33. “Iya pak ada apa?”, Suara bapak tadi begitu kurang terdengar karena lamunanku. “Ini Bapak belikan oleh-oleh dari Jakarta buat kamu Kris”, memang bapak kalau selalu ditugaskan dari kantornya ke Jakarta selalu kami di belikan oleh-oleh walaupun harganya tidak mahal, bapak selalu membawa oleh-oleh. Tadi pagi bapak baru pulang dari Jakarta langsung mandi dan makan, mungkin capek bapak tidur sampai siang. Mendengar oleh-oleh aku langsung menghapiri. Bungkusan rapi sekali seperti kado.
  34. 34. “Buka bungkusnya jangan disini Kris, lebih baik kamu buka dikamar sana, Bapak takut nanti meledak mengenai Bapak”, Mendengar ucapan itu, langsung saya lari ke kamar penasaran apa isi dari bungkusan yang rapi ini. Didalam kamar tanganku gemetar untuk membukanya, sampul bukusnya saya buka perlahan-lahan, setelah sampul bungkusnya terlepas, terlihat kardus kotak persegi empat, karena penasaran tulisan yang berada di kotak tersebut tidak sempat kubaca, secara perlahan dan hati-hati saya buka kotak itu, “Horee horee aku punya”, aku berteriak sekuat- kuatnya, sambil aku lari memeluk bapak yang sedang membaca koran.
  35. 35. Saya peluk bapak kuat-kuat kucium pipi, dan tangannya sambil berkata “Terima kasih Pa”, telah membelikan saya barang yang sangat saya impikan yang sudah lama untuk memilikinya dan telah mendidik dan menyangi, saya bersukur kepada Tuhan yang telah memberikan bapak yang begitu sayang padaku, saya sangat beruntung di banding teman- temanku yang sebaya, mereka belum tentu mendapat kasih sayang yang seperti saya rasakan. Mendengar kalimat yang saya ucapkan bapak sedikit terharu, “Kris Bapak juga bangga mempunyai putri seperti kamu, pintar, baik, cantik bisa sayang sama kedua orang tua, kakak dan nenek, dan yang terpenting rajin ibadah, hadiah HP yang bapak belikan dipergunakan sebai- baiknya, bapak harap kamu bisa telpon temanmu kalau ada urusan yang penting, misalnya tanya pelajaran atau bagaimana mempersipkan UAN yang senbentar lagi berlangsung, kamu sudah besar harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, agama pun mengajurkan kita untuk berbuat baik dan penuh kasih sayang. Air mata bapak mulai jatuh. Melihat air mata bapak jatuh, “Bapak menangis ya?, macam anak kecil saja”, Mendengar ucapakku, bapak langsung memegang erat tanganku, sambil memukul-mukul tanganku, tapi bapak
  36. 36. memukulnya dengan lembut, tidak menimbulkan rasa sakit. Bapak dan mama memang tidak pernah memukul saya dan kakak, walau sesekali kiata berbuat salah. Kalau kakak atau saya melakukan kesalahan, bapak atau mamak, memanggil untuk duduk berdua dan di beri nasehat bahwa perbuatan yang kita lakukan tidak benar, dan jangan sampai terulang kembali, perbuatan yang tidak benar tidak diperkenankan sama Tuhan walaupun orang tidak tau apa yang kita perbuat tapi Tuhan tetap maha tahu dan ingat kebaikan dan keburukankan itu sama menular, kalau sering bergaul dengan oarang yang baik, perbuatan kita juga baik dan kalau sering bergaul dengan orang yang tidak baik, pasti lama-kelamaan kita juga ikut berbuat tidak baik. Sepertinya bapak malu karena air matanya jatuh. “ Sana pergi, pergi minta ajari kakakmu untuk mengunakan HP, jangan mengganggu Bapak lagi baca koran”, Bapak sengaja mendorongku supaya cepat pergi, saya cepat-cepat mencari kakak di kamarnya, tetapi saya melihat kakak lagi beres-beres buku pelajaran, sambil detemani mama yang sedang duduk di kursi belajarnya kakak. Saya berfikir kasian kakak kalau saat ini saya menganggunya, karena kakak juga menghadapi ujian SMA kelas III bulan depan, saya tidak berani mengagunya, lebih baik hadiah HP pemberian Bapak saya simpan dulu, dan bila ada
  37. 37. kesempatan kakak istirahat baru saya minta diajari mengunakan HP ini.
  38. 38. UJIAN AKHIR NASIONAL Hari yang sangat menegangkan, karena hari ini saya dan kakak sama-sama menghadapi ujian akhir nasional, kakak mengikuti ujian akhir nasional tingkat SMA, sedangkan saya mengikuti ujian akhir tingkat SD. Sebelum saya sarapan pagi sudah kuperiksa dulu peralatanku untuk mengikuti ujian, saya sengaja duduk paling awal di ruang makan, membaca pelajaran yang nanti menjadi jadwal ujian, sambil menunggu semua anggota keluarga berkumpul di ruang makan, saya berharap bapak yang nantinya membawa doa disaat sarapan pagi, agar memohonkan kelancaran dalam mengikuti ujian, baik saya dan kakak, dan diberi kelulusan dengan nilai yang baik, tapi bila nenek yang berdoa bisanya hanya seputar makanan yang kita makan, untuk dijadikan kekuatan, kesehatan untuk hari ini,dan masa yang akan datang, tidak mendoakan cucunya yang lagi tegang menghadapai ujian.
  39. 39. Satu persatu memasuki ruang makan, tapi nenek belum juga muncul, biasanya kalau nenek terlambat ke meja makan, nenek sibuk membaca panduan buku doa yang nenek simpan, dan bila keluar nanti dia tidak langsung duduk, nenek berdiri langsung membawakan doa kita makan. Bapak sudah siap dengan pakain kerjanya, sedangkan mama kali ini berpakaian biasa tidak memapakai baju kerja, karena mama mengambil cuti untuk menemani anak-anaknya mengahadapi ujian. “Sudah lengkap semua?”, kata nenek dengan gaya yang meyakinkan. Bapak hanya mengangguk saja memberi isarat ke nenek kita sudah lengkap. Perkiraan saya tidak salah, neneklah yang membawa doa di hari yang menegangkan ini.
  40. 40. “Mari kita berdoa, agar kita di beri kekuatan dan kesehatan di hari ini dan masa yang akan datang”, Inilah kalimat pembukaan doa nenek yang tidak pernah berubah. Tapi lama sekali nenek tidak melanjutkan doanya, tangan memegang perut, dan wajahnya agak pucat, “Maaf, kali ini nenek tidak bisa mempin doa karena perut nenek sakit, silahkan salah satu memimpin doa, dan di lanjutkan dengan makan, nenek mau kebelakang dulu, nanti nenek sarapan setelah dari belakang” , Aku menyesal kenapa tadi saya berfikir yang macam-macam, kasian nenek, perutnya sakit dan mukanya sedikit pucat, saya merasa berdosa telah berburuk sangka terhadap nenek. Pagi itu bapak menganti nenek untuk memimpin doa, tidak lupa bapak berdoa untuk saya dan kakak memohonkan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar di beri kemudahan dan kelancaran dalam mengikuti ujian dan diberi kelulusan dengan nilai yang baik agar dan tercapai apa yang di cita- citakan kelak di kemudian hari. Setelah selesai berdoa, kita semua makan bersama. “Kris nanti mama antar, kasihan kakakmu kalau antar kamu, nanti kakakmu capek dan tidak konsentrasi untuk mengerjakan soal ujian”, Mendengar ucapan mama saya senang sekali, karena kalau mama antar kesekolah pasti pulangnya dijemput lagi, tidak
  41. 41. perlu menunggu ojek yang terkadang berebut denga teman- teman. apa lagi mama saat ini sedang libur sengaja mengambil cuti untuk menemani ptra-putrinya yang sedang ujian. Selesai makan kuperiksa kembali barangku yang akan kubawa kesekolah bolpaint, pensil, mistar dan penghapus serta kartu ujian, semua di dalam tas. Sebelum saya berangkat, saya melihat nenek di kamarnya dulu. “Nek bagaimana perutnya masih sakit?”, Nenek kelihatan kaget dengan suara saya, “Sudah mulai sembuh kres, tadi malam nenek makan sambal terlalu banyak, makanya perut nenek sakit”, Jawab nenek masih sedikit merasa nyeri perutnya.
  42. 42. “Nek, Kris berangkat sekolah dulu ya, doakan Kris bisa menjawab soal ujian ya Nek”, Sambil berjabat tangan sambil mencium tangan nenek. Saya dipeluk nenek dengan erat sambil berkata, “Kris kamu cucu Nenek yang paling cantik, baik dan pintar Nenek doakan supaya bisa menyelesaikan semua soal ujian dengan baik, sana berangkat jangan samapai terlambat”, Saya berangkat ke sekolah diantar mama. Aku menunggu mama di depan sekolah hari ini merupakan hari terakhir saya dan kakak mengikuti ujian akhir nasional. Mama mengantar jemput aku ke sekolah setiap hari. “Kris, Kris…”, Terdengar suara mama memangil, mama di seberang jalan melambaikan tangannya, memberi isyarat supaya saya menghampirinya, “Kris besok kan sudah selesai ujiannya sekarang temanin mama ke pasar, beli Sagu dan ikan, kasian nenek sudah satu minggu tidak makan Papeda, karena kita semua sibuk mengurus kamu dan kakakmu selama ujian berlangsung, kapan pengumuman kelulusannya Kris?”,
  43. 43. “Pengumumannya dua minggu dari sekarang Ma”, saya menjawab. Sambil aku duduk di belakang dan memeluk pinggang mama, langsung mama tancap gas pergi ke pasar. Dua minggu telah berlalu, pagi ini orang tua wali murid pergi kesekolah untuk mengambil pengumuman kelulusan. Bapak yang mengambil hasil ujian kakak, sedangkan mama mengambil pengumuman kelulusan saya. Semua orang tua murid berkumpul di ruang kelas, sedangkan anak-anaknya terlihat banyak yang yang menyembunyikan kegelisahan dengan cara bermain-main, ada yang asik cerita, ada pula yang murung. Terdengar suara Ningsih menyapaku,
  44. 44. “Sudah di dalam, ibumu juga sudah datang belum?”, Balas aku bertanya pada Ningsih, “Ibuku tidak bisa ke sekolah karena jaga adik dan jaga kios, yang mewakili ke sekolah pamanku, karena bapakku pulang kampung, nenekku sakit keras di kampung”. Kasihan Ningsih, hari ini merupakan hari yang sangat menegangkan, sedangkan kedua orang tuannya tidak bisa menemani. “Tidak apa-apa Ning, bapak dan ibumu tidak bisa ke sekolah jangan sedih yang penting ada pamanmu yang mewakili, bapakmu pulang kampung karena nenekmu sedang sakit, kita doakan saja nenekmu cepat sembuh dan bapakmu cepat kembali”, Kugandeng tangan Ning, kuajak masuk kelas duduk ditempat yang telah disiapkan khusus untuk murid murid kelas VI. Suasana dikelas hari ini sangat ramai sekali, wali murid duduk di bagian depan, sedangkan murid-murid duduk di bagian belakang. Biasanya ruangan ini kecil tapi hari ini sekat yang memisahkan dua kelas itu di buka semua murid dan wali murid bisa tertampung dalam satu ruangan. Suasana jadi hening, ketia kepala sekolah dan wakil kepala sekolah memasuki ruangan kelas diikuti semua guru SD yang mengajar di sekolah itu.
  45. 45. “Selamat pagi semua”, kepala sekolah menyapa semua orang di dalam ruangan. Kepala sekolah memulai dengan sambutannya, menerangkan bawa angkatan tahun ini ada tiga orang yang tidak lulus. Mendengar ada tiga orang tidak lulus saya dan ning berpelukan, jangan sampai salah satu dari kita ada yang tidak lulus. “Baik bapak-bapak dan ibu-ibu tibalah saatnya kita membacakan tiga siswa dengan kelulusan nilai terbaik”, Ruangan hening seketika, tidak ada yang bersuara, kecuali suara kepala sekolah yang sangat keras, “Untuk kelulusan dengan nilai terbaik urutan ketiga adalah. . . . . atas nama hendrik”,
  46. 46. Semua yang ada di ruangan bertepuk tangan, “Hendrik dan walinya dipersilakan maju kedepan”, “Untuk kelulusan dengan nilai terbaik urutan kedua adalah. . . . . atas nama Maryaningsih”, Semua yang ada diruangan bertepuk tangan, “Maryaningsih dan walinya dipersilakan maju kedepan”, Setelah ningsih dipanggil ke depan dia memeluku, “Kris aku lulus”, Lalu berdiri ke depan ditemani pamannya. Hatiku gelisah sekali ningsih teman akrabku menduduki urutan ke dua sedangkan aku ketiga pun tidak dapat, aku melihat mama dan mamapun melihat aku, air mataku mulai menetes, aku sedih sekali kenapa aku tidak berdiri didepan sana walupun tidak urutan kedua seperti Ningsih, urutan ketigapun aku sudah
  47. 47. senang, bisa bahagiakan orang tua dengan cara menjadi yang terbaik di sekolah. Saya benar-benar tidak bisa menahan tangisku, melihat saya sedih mama menghapiriku, “Kris mama tidak marah kalau kamu tidak dapat peringkat, jangan nangis, mama ikut sedih ini seandainya Kris tidak lulus pun mama tidak akan marah”, Terasa hangat badanku dipeluk mama, perasaanku sedikit membaik setelah mama disampingku sambil memeluk. “Untuk kelulusan dengan nilai terbaik urutan pertama adalah...... urutan peratama adalah...... urutan pertama adalah...... “, Mendengar suara kepala sekolah yang tinggal bilang “adalah”, “adalah” terus dan jaraknya lama sekali membuat
  48. 48. jengkel, sudah banyak “adalah” “adalah” lagi, masih berhenti tidak cepat-cepat menyebut nama masih lepas kaca matalah, bersihkan kaca dengan sapu tangan, memasang kembali pelan-pelan. “Saya ulangi untuk kelulusan dengan nilai terbaik urutan pertama adalah. . . . . . . atas nama Kristina !” , Kedengarannya nama saya disebut kepala sekolah, langsung kulepaskan pelukkan dari mama, “Mama Kristin lulus. . . . . Kristin lulus. . . . . .lulus”, Saya senang sekali berteriak lulus sambil melompot-lompat. Saya lihat mama tidak merasa senang malah air matanya turun semakin deras,
  49. 49. “Ma Kristin lulus, kenapa mama tidak senang malah menangis?”, “Kris mama senang, kamu lulus, tapi kan tidak seperti itu caranya, lebih baik panjatkan doa dulu, terima kasih kepada Tuhan dengan kelusan terbaikmu dan kamu juga harus ingat banyak temanmu, yang belum mengetahui hasilnya tentang lulus dan tidaknya, itu tidak baik kamu lakukan secara berlebihan, lebih baik nanti kita rayakan di rumah saja, sama-sama keluarga, lagi pula kakakmu juga belum tentu lulus kita belum dengar hasilnya”. Mendengar ucapan mama saya jadi sadar kita tidak boleh terlalu senang dengan keberhasilan kita didepan orang banyak, “Krestina dan walinya diharap maju ke depan”, terdengar kepala sekolah memanggil kembali, untuk maju kedepan.
  50. 50. Di depan kelas aku berjabat tangan dengan Ningsih dilanjutkan berpelukan saling mengucapkan selamat, setelah itu jabat dengan dengan Hendrik dan tidak lupa pula ku ucapkan selamat kepada Hendrik. Setelah menerima amplop hasil ujian kelulusan, mama dan saya langsung keluar, “Kristin tunggu dulu jangan pulang dulu, teman-teman pesan begitu tadi”, kata Ningsih. “Ma’af Ning aku harus cepat pulang soalnya mau menunggu hasil kelulusan kakakku di rumah, nanti kalau ada yang penting, telpon saya atau ning kerumah ya”, Mendengar jawabanku begitu, Ning tidak bisa memaksa, Ning teman akrabku dan tahu taatnya aku terhadap orang tua.
  51. 51. “Kris kalau sudah tidak ada kepentingan mari kita pulang”, terdengar suara mama, “Mari Ma siapa tahu kakak sudah di rumah”, Sesampainya dirumah, Nenek, Bapak, dan Kakak sudah menunggu kedatangan saya dan mama, mereka kelihatan murung sekali. “Bapak saya lulus dengan nilai terbaik”, saya setengah berbisik karena mereka dari tadi terlihat sedih, saya takut kalau kakak tidak lulus. ”Syukur kepada Tuhan kamu dan kakakmu sama – sama lulus dengan nilai terbaik”, Setelah mendengar aku lulus wajah mereka ceria semua, “Mari kita mengucap syukur kepada tuhan yang mana Jhon dan Kristin diberi kesempatan dengan lulus terbaik”, Setelah itu bapak berdiri memimpin doa syukur kami. Setelah doa selesai kita saling berpelukan satu sama lain. . . . . . . . . . .

×