Ce diaporama a bien été signalé.
Nous utilisons votre profil LinkedIn et vos données d’activité pour vous proposer des publicités personnalisées et pertinentes. Vous pouvez changer vos préférences de publicités à tout moment.

Dasar-dasar Perpajakan

97 377 vues

Publié le

Dasar-dasar Perpajakan

  1. 1. DASAR-DASAR PERPAJAKAN Fannany Priambodo, ME, CPA
  2. 2. Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  3. 3. “ Hanya ada dua hal yang pasti, mati dan pajak” Benyamin Franklin?? Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  4. 4. <ul><li>Direktur Jenderal Pajak sedang berbicara dihadapan sekelompok usahawan tentang kewajiban dan tanggung jawab membayar pajak. &quot;Adalah suatu kehormatan bagi kita sebagai warga negara untuk membayar pajak dengan tersenyum.&quot; kata Direktur Pajak. Tiba-tiba dari barisan belakang terdengar suara berteriak kegirangan &quot;Aduh, syukur !! tadinya kusangka bahwa pajak harus dibayar dengan uang.&quot; </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  5. 5. Sejarah Pajak Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  6. 6. Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  7. 7. Definisi Pajak <ul><li>“ A tax can be defined meaningfully as any non penal yet compulsory transfer of resources from the private to the public sector, levied on the basis of predetermined criteria and without receipt of specific benefit of equal value in order to accomplish some of nation’s economics and social objectives” </li></ul><ul><li>Prof Ray Sommerfeld </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  8. 8. Definisi Pajak <ul><li>Pajak adalah iuran kepada kas negara berdasarkan UU (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yg langsung dapat ditunjuk dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum </li></ul><ul><li>Prof Dr Rochmat Soemitro, SH </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  9. 9. Definisi Pajak <ul><li>“ iuran kepada negara yang menurut ketentuan perundang-undangan tanpa mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk yang tujuannya untuk digunakan membiayai pengeluaran publik sehubungan dengan tugas negara” </li></ul><ul><li>Prof P.J.A Andriani </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  10. 10. Unsur Pajak <ul><li>Iuran dari rakyat kepada kas negara </li></ul><ul><li>Berdasarkan undang undang </li></ul><ul><li>Tanpa kontraprestasi dari negara secara langsung </li></ul><ul><li>Digunakan untuk membiayai negara </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  11. 11. Fungsi Pajak <ul><li>Fungsi anggaran (budgeter) </li></ul><ul><li>Fungsi mengatur (regulern) </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  12. 12. Kedudukan Hukum Pajak <ul><li>Hukum Perdata  mengatur hubungan individu dg individu lain </li></ul><ul><li>Hukum Publik  mengatur hubungan antara pemerintah dan rakyat </li></ul><ul><ul><li>Hukum Tata Negara </li></ul></ul><ul><ul><li>Hukum Tata Usaha </li></ul></ul><ul><ul><li>Hukum Pidana </li></ul></ul><ul><ul><li>Hukum Pajak  pajak masuk dalam ruang lingkup hukum publik  lex specialis derogat lex generalis, imperatif (tdk dapat ditunda) </li></ul></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  13. 13. Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  14. 14. Macam Hukum Pajak <ul><li>Hukum Pajak Materiil  memuat norma yg menerangkan : objek Pajak, subjek Pajak, tarif, timbul & hapus utang pajak, dan hubungan hk antara pemerintah dan WP </li></ul><ul><li>Hukum Pajak Formil  memuat bentuk/tata cara melaksanakan hk pajak materiil, al; prosedur penetapan utang pajak, hak dan kewajiban WP dan Fiskus dll </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  15. 15. The Four Maxims (Adam Smith) <ul><li>Equality , Pajak harus adil dan merata, yaitu dikenakan sebanding dng kemampuannya untuk membayar dan sesuai dengan manfaat yang diterimanya </li></ul><ul><li>Certainty , Pajak tidak dipungut secara sewenang-wenang, pajak harus dipungut dengan jelas bagi semua wajib pajak. </li></ul><ul><li>Convenience , Saat wajib pajak membayar hendaknya ditentukan pada saat yang tidak menyulitkan bagi wajib pajak. </li></ul><ul><li>Economy , Biaya pemungutan pajak hendaknya lebih kecil dari pajak yang diperoleh </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA Lahir: 5 Juni 1723 / Skotlandia Wafat: 17 Juli 1790 / Skotlandia
  16. 16. Syarat Pemungutan Pajak <ul><li>Syarat Keadilan </li></ul><ul><li>Syarat Yuridis  berdasarkan undang-undang </li></ul><ul><li>Syarat Ekonomis  tidak mengganggu kegiatan perekonomian </li></ul><ul><li>Syarat Finansiil  efisien </li></ul><ul><li>Syarat Kesederhanaan </li></ul><ul><li>(Mardiasmo) </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  17. 17. Teori Pemungutan Pajak (1) <ul><li>Teori Asuransi  negara melindungi rakyat  maka harus membayar pajak sbg premi </li></ul><ul><li>Teori Kepentingan  beban pajak didasarkan kepentingan masing-asing orang  makin besar kepentingan makin besar pajak </li></ul><ul><li>Teori Daya Pikul  pajak dibayar harus sama berat sesuai daya pikul masing2 orang </li></ul><ul><li>- unsur objektif  besarnya penghasilan </li></ul><ul><li>- unsur subjektif  besarnya kebutuhan materiil </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  18. 18. Teori Pemungutan Pajak (2) <ul><li>Teori Bakti  hubungan rakyat kpd negara bhw pajak adalah kewajiban utk berbakti kpd negara </li></ul><ul><li>Teori Azas Daya Beli  dasar keadilan terletak pd akibat pemungutan pajak  menarik pajak berarti menarik daya beli dari RT Masyarakat ke RT Negara </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  19. 19. Stelsel Pemungutan Pajak <ul><li>Stelsel riel (nyata)  berdasarkan penghasilan yg nyata  baru dilakukan akhir tahun </li></ul><ul><li>Stelsel fictive (anggapan)  anggapan diatur oleh UU mis; penghasilan satu tahun dianggap sama dg th sebelumnya  awal tahun pajak sudah ditentukan besarnya </li></ul><ul><li>Stelsel Campuran  anggapan kemudian disesuaikan dg keadaan sebenarnya </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  20. 20. Azas Pemungutan Pajak <ul><li>Azas Domisili (tempat tinggal)  negara berhak memungut pajak atas penghasilan WP yg berdomisili di wilayahnya </li></ul><ul><li>Azas Sumber  negara mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber dari wilayahnya </li></ul><ul><li>Azas Kebangsaan  dihubungkan atas kebangsaan ex; pajak bangsa asing </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  21. 21. Sistem Pemungutan Pajak (1) <ul><li>Official Assesment System  memberi kewenangan kpd Fiskus untuk menentukan besarnya pajak terutang </li></ul><ul><li>Ciri : </li></ul><ul><li>Wewenang pada fiskus </li></ul><ul><li>WP pasif </li></ul><ul><li>Utang pajak timbul setelah ada surat ketetapan pajak </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  22. 22. Sistem Pemungutan Pajak (2) <ul><li>Self Assesment System  memberi kewenangan kpd WP untuk menentukan sendiri besarnya pajak terutang </li></ul><ul><li>Ciri : </li></ul><ul><li>Wewenang pada WP </li></ul><ul><li>WP aktif menghitung, menyetor & melapor </li></ul><ul><li>Fiskus tdk ikut campur, hanya mengawasi </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  23. 23. Sistem Pemungutan Pajak (3) <ul><li>Wiholding System  memberi kewenangan kpd fihak ketiga untuk menentukan besarnya pajak terutang </li></ul><ul><li>Ciri : </li></ul><ul><li>Wewenang pada fihak ketiga selain Fiskus dan WP </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  24. 24. Pengelompokan Pajak menurut Golongan <ul><li>Pajak Langsung  langsung dipikul sendiri oleh WP, tidak dapat dibebankan / dilimpahkan kpd orang lain </li></ul><ul><li>Pajak Tidak Langsung  pajak yg akhirnya dapat dibebankan / dilimpahkan kpd orang lain </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  25. 25. Pengelompokan Pajak menurut Sifatnya <ul><li>Pajak Subjektif  didasarkan pada subjeknya  memperhatikan diri WP </li></ul><ul><li>Pajak Objektif  didasarkan pada Objeknya  tanpa memperhatikan diri WP </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  26. 26. Pengelompokan Pajak menurut Lembaga Pemungut <ul><li>Pajak Pusat  dipungut oleh pemerintah pusat al; PPh, PPN & PPn BM, PBB </li></ul><ul><li>Pajak Daerah  dipungut oleh pemerintah daerah </li></ul><ul><li>Pemda Tk I  pjk kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor </li></ul><ul><li>Pemda Tk II  Pb I, pjk penerangan jalan </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  27. 27. Timbul dan hapusnya utang pajak <ul><li>Timbulnya Utang Pajak </li></ul><ul><li>Ajaran formil  dikeluarkannya surat ketetapan oleh fiskus </li></ul><ul><li>Ajaran materiil  diberlakukannya undang-undang </li></ul><ul><li>Hapusnya utang pajak </li></ul><ul><li>Pembayaran </li></ul><ul><li>Kompensasi </li></ul><ul><li>Daluwarsa </li></ul><ul><li>Pembebasan dan penghapusan </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  28. 28. Hambatan Pemungutan Pajak (1) <ul><li>Perlawanan Pasif  masyarakat enggan membayar pajak disebabkan al ; </li></ul><ul><li>Perkembangan intelektual & moral masyarakat </li></ul><ul><li>Sistem perpajakan yg sulit dipahami masyarakat </li></ul><ul><li>Sistem kontrol tdk dpt dilakukan dg baik </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  29. 29. Hambatan Pemungutan Pajak (2) <ul><li>Perlawanan Aktif  semua perbuatan yg secara langsung dilakukan utk menghindari pajak </li></ul><ul><li>Tax Avoidance : meringankan beban pajak dg tidak melanggar UU </li></ul><ul><li>Tax Evasion : meringankan beban pajak dg tidak melanggar UU </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  30. 30. Tarif Pajak <ul><li>Proporsional </li></ul><ul><ul><ul><li>dg prosentase tetap terhadap jumlah yg dikenakan pajak  proporsional dari nilai yg dikenakan pajak ex ; PPN 10% </li></ul></ul></ul><ul><li>Tetap </li></ul><ul><ul><ul><li>tetap sama thd berapapun jumlah yg dikenai pajak shg pajak yg terutang tetap ex ; Bea Materai Rp 6.000 </li></ul></ul></ul><ul><li>Progresif </li></ul><ul><ul><ul><li>prosentase tarif semakin besar bila jumlah yg dikenakan pajak semakin besar ex : tarif psl 17 PPh </li></ul></ul></ul><ul><li>Degresif </li></ul><ul><ul><ul><li>prosentase tarif semakin kecil bila jumlah yg dikenakan pajak semakin besar </li></ul></ul></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA
  31. 31. Sumber <ul><li>Mardiasmo, “Perpajakan”, penerbit Andi </li></ul><ul><li>Wikipedia </li></ul><ul><li>Artizans </li></ul>Fannany Priambodo Mukti, ME, CPA

×