Ce diaporama a bien été signalé.
Nous utilisons votre profil LinkedIn et vos données d’activité pour vous proposer des publicités personnalisées et pertinentes. Vous pouvez changer vos préférences de publicités à tout moment.
2-1
Bab 2
Gambaran Umum Wilayah Studi
1. Sejarah Wilayah
Kerajaan Klungkung mempunyai pengaruh terhadap kerajaan-kerajaan ...
2-2
yang ada di Kabupaten Klungkung.
4. Fisik Dasar Alami
a. Luas Wilayah
Wilayahnya memang paling kecil di antara sembila...
2-3
Gambar 2.1 : Pulau Bali dan Kabupaten Klungkung
2-4
b. Topografi
Kabupaten Klungkung merupakan dataran pantai sehingga potensi
perikanan laut. Panjang pantainya sekitar 9...
2-5
Tinjau dari luas keseluruhan wilayah Propinsi Bali yaitu 5.632,86
km2
, maka kepadatan penduduk rata-rata tiap km2
nya...
2-6
sekolah berjumlah 1.556.145 jiwa atau sebesar 54,86% dan total jum-
lah penduduknya.
c. Budaya
Kebudayaan daerah merup...
2-7
Ketiganya tidak berdiri sendiri tetapi merupakan satu kesatuan yang ha-
rus dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh.
1...
2-8
3- Upacara atau Ritual
Upacara merupakan cara yang dilengkapi dengan berbagai sara-
na sehingga dapat melakukan hubung...
2-9
patan perkapita tanpa migas meningkat dan Rp. 4.212.453,84 menjadi
Rp. 6.808.092,73 di tahun 1998. Dengan melihat besa...
2-10
Analisis data bulan Juni-Juli 2002 menunjukkan bahwa prakiraan
panen rata-rata perkabupaten periode September-Desembe...
2-11
jadi pilihan karena pantainya masih dilindungi karang dan ti-
dak berhadapan langsung dengan Laut Selatan. Didukung
o...
2-12
Saat ini hanya dari kandungan air raksa (Hg) yang disyarat-
utamakan oleh konsumen di Eropa, Amerika, dan Jepang
(seb...
2-13
laria, Ahnfeltia, dan sebagainya. Di perairan Indonesia
paling banyak dari jenis Gelidium dan Gracilaria.
3) Karageni...
2-14
Di beberapa daerah bahkan sudah terdapat petani rumput
laut berpotensi tinggi seperti di Bali. Sekitar Klungkung ada
...
2-15
dari produksi ikan laut tahun 1998 sebesar 55.035, 2 ton (se-
lain ikan tuna yang ditangkap di ZEEI), maka pemanfaata...
2-16
b- Keindahan alam, bangunan bersejarah dan arsitektur bali.
c- Sarana dan fasilitas yang memadai sampai bertaraf inte...
2-17
Di sebelah Selatan Labuhan Ampuak terdapat Goa Alam, sa-
rang Burung Walet, komoditi yang sangat langka dan sangat
ma...
2-18
e- Desa Wisata Kamasan
Obyek wisata di Kecamatan Klungkung tidak hanya wisata
sejarah. Empat kilometer arah selatan d...
2-19
3- Wisatawan
Jumlah Wisatawan Manca Negara yang datang lewat Interport
Ngurah Rai dan Pelabuhan Laut Padang Bai dan B...
2-20
pengetahuan dan ketrampilan nelayan kecil sehingga belum dapat
menguasai teknologi di bidang penangkapan.
Dalam tahun...
2-21
b. Peningkatan pendapatan daerah melalui penggalian sumber-sumber
Pendapatan Asli Daerah di samping sumber-sumber lai...
2-22
Langkah operasional yang penting untuk ditempuh dalam rangka men-
capai tujuan pembangunan perikanan tersebut adalah ...
2-23
Sehubungan dengan akan diberlakukannya otonomi daerah, maka per-
lu dipersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan kewena...
2-24
1- Urusan Obyek Wisata, sepanjang yang tidak menjadi urusan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Tingkat I Bali.
2-...
2-25
kan). Terbuka kemungkinan untuk Indonesia mengusulkan lokasi
"hot spot", yaitu : Teluk Benoa dan lokasi pararel site ...
2-26
1 kota, sosialisasi ICM Bali Tenggara kepada seluruh stake-
holders.
e- Tahap Implementasi
Pelaksanaan strategi ICM B...
2-27
Diharapkan dengan ditandatanganinya Deklarasi Bali mengenai "Stra-
tegi Pengelolaan Pesisir dan Laut Wilayah Bali", m...
2-28
Prochain SlideShare
Chargement dans…5
×

Gambaran Wilayah Kabupaten Klungkung

4 884 vues

Publié le

Publié dans : Immobilier
  • Dating direct: ❤❤❤ http://bit.ly/2u6xbL5 ❤❤❤
       Répondre 
    Voulez-vous vraiment ?  Oui  Non
    Votre message apparaîtra ici
  • Follow the link, new dating source: ❶❶❶ http://bit.ly/2u6xbL5 ❶❶❶
       Répondre 
    Voulez-vous vraiment ?  Oui  Non
    Votre message apparaîtra ici

Gambaran Wilayah Kabupaten Klungkung

  1. 1. 2-1 Bab 2 Gambaran Umum Wilayah Studi 1. Sejarah Wilayah Kerajaan Klungkung mempunyai pengaruh terhadap kerajaan-kerajaan lain di Bali, bahkan saat pemerintahan Dalem Waturenggong, wilayah kerajaan diperluas sampai ke Pasuruan dan Blambangan di Jawa, serta Lombok dan Sumbawa. Pada awal pemerintahan, ibu kota kerajaan berada di daerah Gelgel. Tetapi sejak terjadi pemberontakan yang mengakibatkan kehancuran Gelgel, ibu kota pindah ke Desa Klungkung. Di daerah itu, raja Klungkung mendirikan Keraton Semarapura pada tahun 1686. Sayang, kejayaan Kerajaan Klungkung dan kerajaan-kerajaan lain di Bali harus berakhir saat penjajahan Belanda. Berbagai perang melawan Belanda dilakukan raja-raja Bali, di antaranya Perang Buleleng, Jagaraga, Kusamba, Banjar, Badung, dan Klungkung. Perang Puputan Klungkung tahun 1902 merupakan perang terakhir melawan Belanda yang mengakibatkan keruntuhan Kerajaan Klungkung. Untuk memperingati Perang Puputan tersebut, berdiri Monumen Puputan Klungkung. Monumen berbentuk lingga dan yoni ini berdiri di atas tanah seluas 123 meter persegi di Kecamatan Klungkung. 2. Letak Geografis Kabupaten Klungkung terletak di antara 115° 27' - 37'' 8° 49' 00''. Lintang Selatan dengan batas-batas di sebelah utara Kabupaten Bangli. Sebelah timur Kabupaten Karangasem, sebelah Barat Kabu-paten Gianyar, dan sebelah se-latan Samudra India. Kecamatan Klungkung memiliki batas-batas di sebelah utara Ka-bupaten Karangasem, sebelah ti-mur Kecamatan Dawan, sebelah barat Kecamatan Banjarangkan dan sebelah selatan dengan Selat Badung. Kecamatan Banjarang-kan memiliki batas-batas, sebelah utara Kabupaten Bangli, sebelah timur Kecamatan Klungkung, se-belah barat Kabupaten Gianyar dan sebelah selatan Selat Badung. Keca-matan Dawan memilkiki batas-batas, sebelah utara dan timur Kabupaten Karangasem, sebelah barat Kecamatan Klungkung dan sebelah selatan Samudra Hindia. 3. Wilayah Administrasi Kecamatan Klungkung, terletak di daerah daratan pulau Bali. Kecamatan Banjarangkan, merupakan Kecamatan yang terletak paling Barat dari 4 (empat) Kecamatan yang ada di Kabupaten Klungkung. Kecamatan Dawan merupakan kecamatan yang terletak paling timur dari 4 (empat) kecamatan
  2. 2. 2-2 yang ada di Kabupaten Klungkung. 4. Fisik Dasar Alami a. Luas Wilayah Wilayahnya memang paling kecil di antara sembilan kabupaten dan kota di Bali. Tetapi pada awal abad 19, dengan luas wilayah seperdua- puluh bagian Pulau Bali, Kerajaan Klungkung mempunyai pengaruh terhadap kerajaan-kerajaan lain di Bali. Dengan luas : 315 Km ², wilayah Kabupaten Klungkung sepertiganya (112,16 Km ²) terletak diantara pulau Bali dan dua pertiganya (202,84 Km ² lagi merupakan kepulauan yaitu Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Menurut penggunaan lahan di Kabupaten Klungkung terdiri dari lahan sawah 4.013 hektar, lahan kering 9.631 hektar, hutan negara 202 hektar, perkebunan 10.060 hektar dan lain-lain 7.594 hektar. 1- Kecamatan Klungkung Kecamatan Klungkung merupakan kecamatan terkecil dari 4 (empat) kecamatan yang ada di Kabupaten Klungkung, dengan luas 2.095 Ha, secara persis semua terletak di daerah daratan pulau Bali. 2- Kecamatan Banjarangkan Kecamatan Banjarangkan merupakan kecamatan dengan luas 45,73 Km ². 3- Kecamatan Dawan Kecamatan Dawan merupakan kecamatan yang memiliki luas 37,38 Km². Menurut penggunaannya luas wilayah Kecamatan Da- wan terdiri 16,21 % lahan sawah, 17,26 % lahan tegalan, 35,50 % lahan perkebunan, 6,93 % lahan pekarangan 0,21 % kuburan dan lainnya 23,89 %.
  3. 3. 2-3 Gambar 2.1 : Pulau Bali dan Kabupaten Klungkung
  4. 4. 2-4 b. Topografi Kabupaten Klungkung merupakan dataran pantai sehingga potensi perikanan laut. Panjang pantainya sekitar 90 Km yang terdapat di Klungkung daratan 20 Km dan Kepulauan Nusa Penida 70 Km. Permukaan tanah pada umumnya tidak rata, bergelombangbahkan se- bagian besar berupa bukit-bukit terjal yang kering dan tandus. Hanya sebagian kecil saja merupakan dataran rendah.Tingkat kemiringan ta- nah di atas 40 % (terjal) adalah seluas 16,47 Km2 atau 5,32 % dari Ka- bupaten Klungkung. Bukit dan gunung tertinggi bernama Gunung Mundi yang terletak di Kecamatan Nusa Penida. c. Klimatologi INDONESIA yang berada di antara dua benua dan dua samudra merupakan jantung iklim dunia. Pergerakan angin antara Asia-Australia dan pergerakan arus laut dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia, serta interaksi antara laut dan atmosfer akan mempengaruhi distribusi uap air ke berbagai wilayah dunia. Karena itu, dinamika yang terjadi di wilayah tropis yang berada pada posisi strategis ini akan berpengaruh pada kondisi cuaca dan iklim global. Kabupaten Klungkung termasuk beriklim tropis. Bulan-bulan basah dan bulan-bulan kering antara Keca- matan Nusa Penida dan Kabupaten Klungkung daratan sangat berbe- da. d. Hidrologi Sumber air adalah mata air dan sungai hanya terdapat di wilayah da- ratan Kabupaten Klungkung yang mengalir sepanjang tahun. Sedang- kan di Kecamatan Nusa Penida sama sekali tidak ada sungai.Sumber air di Kecamatan Nusa Penida adalah mata air dan air hujan yang di- tampung dalam cubang oleh penduduk setempat. 5. Kondisi Kependudukan, Sosial, Budaya dan Agama a. Kependudukan Yang dimaksud dengan kondisi sosial dan kependudukan yaitu keadaan penduduk di Propinsi Bali secara keseluruhan yang mencakup jumlah penduduk, kepadatan dan penyebaran jumlah penduduk serta kondisi sosialnya. 1- Jumlah Penduduk Jumlah penduduk Propinsi Bali berdasarkan Registrasi Penduduk 1999 adalah 3.054.201 jiwa yang tersebar di 8 (delapan) Kabupa- ten, dan 1 (satu) Kota.
  5. 5. 2-5 Tinjau dari luas keseluruhan wilayah Propinsi Bali yaitu 5.632,86 km2 , maka kepadatan penduduk rata-rata tiap km2 nya adalah sebesar 542,21 jiwa. 2- Kepadatan Penduduk dan Laju Pertumbuhannya. Berdasarkan data kependudukan selama 5 tahun terakhir dan Registrasi Penduduk 1999, tercatat jumlah penduduk terbesar adalah di Kabupaten Buleleng dengan jumlah keseluruhan sebe- sar 575.698 jiwa dan kepadatan tiap km²nya adalah 421,49 jiwa. Sementara Kabupaten Jembrana dengan jumlah penduduk 234.018 jiwa dan luas wilayah 841,80 km² mempunyai kepadatan yang paling rendah untuk tiap km² yaitu 278,00 jiwa. Sedang Kota Denpasar merupakan daerah tersempit dengan kepadatan terting- gi tiap km² sebesar 3.903,29 jiwa (dengan jumlah penduduk 483.930 jiwa dan luas wilayah hanya 123,98 km2 ). Dalam kurun waktu yang sama laju pertumbuhan penduduk rata- rata untuk seluruh wilayah Propinsi Bali cenderung naik dari 1,63 % (pada 1995/1996) menjadi 3,94% (pada 1998/1999). Lebih terinci Tabel 6.49 benkut menyajikan Jumlah Penduduk dan Laju pertumbuhan penduduk menurut kabupaten di Bali untuk kurun waktu 1995 s/d 1999. 3- Penyebaran Penduduk Sebagaimana pertumbuhan penduduknya, penyebaran penduduk Bali juga tidak merata. Sebagian besar penduduk Bali (27,13 %1 berada di Kabupaten Tabanan dan Kota Denpasar. Sedang Kabu- paten yang paling sedildt penduduknya adalah di Bangli (6,02%) Pola penyebaran penduduk ini sejak tahun 1990 tidak banyak ber- ubah. Pola penyebaran penduduk Bali menurut luas wilayah sangat njomplang, sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan tingkat kepadatan penduduk antar daerah yang menyolok, terutama antar daerah kabupaten dengan daerah kota. Wilayah kabupaten de- ngan luas 97.80% dan wilayah Bali dihuni oleh 84,16 % dan total penduduknya. Sedangkan selebihnya yang 15,84 % menetap di daerah kota dengan luas 2,20 % dan wilayah Bali seluruhnya. b. Sosial Dan Survai Sosial Ekonoini Nasional (SUSENAS) 1999 tercatat bahwa 788.143 jiwa atau sebesar 27,79 % dan total jumlah penduduk, untuk kelompok umur penduduk berumur 10 tahun ke atas menikmati pendi- dikan dengan berbagai jenjang mulai SD sampai tingkat Perguruan tinggi. Sedang yang belum menamatkan Sekolah Dasar dan belum ber-
  6. 6. 2-6 sekolah berjumlah 1.556.145 jiwa atau sebesar 54,86% dan total jum- lah penduduknya. c. Budaya Kebudayaan daerah merupakan merupakan modal dasar pembangun- an yang melandasi pembangunan yang dilaksanakan, warisan budaya yang bernilai luhur merupakan dasar dalam rangka pengembangan pa- riwisata budaya yang dijiwai oleh Agama Hindu. Di Kota Denpasar ter- dapat 2 buah musium, yaitu : Musium Bali dan Lee Mayeur. Salah satu aspek yang ditangani secara berkelanjutan adalah pembinaan terhadap berbagai kelompok Kesenian. Pemerintah terus membina kelompok dan organisasi kesenian yang ada, di samping juga melestarikan berbagai jenis dan bentuk kesenian daerah yang bernilai tinggi dan luhur juga dirangsang bentuk-bentuk tari kreasi baru melalui ajang perlombaan, seperti : Pesta Kesenian dan Dharma Gita. Kepada para Seniman yang berprestasi diberikan Anugrah Seni s- ebagai penghargaan atas karyanya dan pengabdiannya, tercatat 392 Organisasi Kesenian dalam berbagai jenis, seperti : Kesenian Gong, Angklung, Gambang, Arja, Drama, Wayang, Barong, Sastra Daerah, Leko yang tersebar di pelosok Desa. d. Agama Secara Historis penduduk Pulau Bali memeluk Agama Hindu yang sam- pai saat ini masih dipegang teguh. Khusus untuk Kota Denpasar per- sentase pemeluk Agama Hindu 78,69 %, Islam 15,18 %, Kristen 3,74 %, Protestan dan 2,43 Budha 2,35 %. Sejalan dengan mayoritas pen- duduk yang beragama Hindu, demikian halnya ketersediaan fasilitas peribadatan didominasi oleh Pura, dengan jumlah keseluruhan mencapai 106 buah Pura. Dari sejumlah tersebut 105 buah diantaranya merupakan Kahyangan Tiga, 1 buah merupakan Sad Dang Kahyangan Fasilitas peribatan lainnya berupa Mesjid 26 buah, Langgar 7 buah, Musholla 69 buah serta Gereja 42 buah. Vihara dan Kelenteng juga 3 buah. Khusus mengenai Agama Hindu lebih jauh dapat dijelaskan bahwa Agama Hindu adalah suatu Agama yang bertujuan agar penganut atau pemeluknya dapat mencapai kedamaian rohani serta kesejahteraan Hidup jasmani atau Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma, dengan tiga Kerangka Dasar Ajaran meliputi, yaitu: a- Tatwa (Filsafat) b- Susila (Ethika) c- Ritual (Upacara)
  7. 7. 2-7 Ketiganya tidak berdiri sendiri tetapi merupakan satu kesatuan yang ha- rus dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh. 1- Tatwa atau Filsafat Lima Dasar Keyakinan Hakiki Agama Hindu yang disebut Panca Cradha (Cradha: Dasar Keyakinan, Panca: Lima), yaitu meliputi: Widhi Tatwa, yaitu percaya dan yakin dengan adanya Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) Atma Tatwa, yaitu percaya adanya Atma (Roh leluhur), percaya adanya Karma Pala (buah atau hasil dari perbuatan), Punarbhawa Tatwa merupakan keyakinan ten- tang penjelmaan kembali atau kelahiran berulang-ulang dan Mok- sha Tatwa, yaitu percaya dengan adanya kebebasan dari ikatan keduniawian. Filosofi Hindu juga mengenal dan menghormati adanya orang- orang suci, Tempat-tempat Suci sebagai tempat persembahyang- an, demikian juga dikenal beberapa hari-hari Suci, serta yang terpenting adalah adanya Pustaka Suci sebagai pedoman ajaran Agama Hindu yang harus dipegang teguh, disebut Wedha. 2- Susila atau Ethika Merupakan pedoman dasar bagi penganut agama Hindu dalam mengembangkan prilaku kehidupan bermasyarakat sehingga ter- cipta keserasian, keselarasan dan keseimbangan, sekaligus ten- tang ketergantungan satu sama yang lain dalam berbagai aspek kehidupan. Menurut pandangan agama Hindu, dalam masyarakat diwarnai oleh sesuatu yang hidup dan kehidupan itu sendiri diten- tukan oleh sumber yang memberi kehidupan. Tiga sebab (sumber) terjadinya interaksi sebagai prilaku kebaikan berkisar pada: 1) Hubungan manusia dengan sesamanya. 2) Hubungan manusia dengan lingkungannya, dan 3) Hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Susila ini juga ditekankan bahwa manusia dilahirkan sudah berbekal berbagai unsur negatif atau kekurangan-kekurangan se- perti: Sapta Tumira (Surupa, Dana, Guna, Kulina, Yowana, Mada, Moha, Matsarya). Dan segi-segi negatip tersebut dapat dinetralisir dengan Tri Kaya Parisudha: Tiga Dasar kebaikan yang harus dilaksanakan, yaitu : 1) Manacika: Berfikir yang baik, 2) Wacika: Berbicara yang baik, 3) Kayika : Berbuat yang baik.
  8. 8. 2-8 3- Upacara atau Ritual Upacara merupakan cara yang dilengkapi dengan berbagai sara- na sehingga dapat melakukan hubungan antara manusia dengan Tuhan, Atman dalam segala manifestasinya guna mencapai kesu- cian jiwa. Inti pokok Upacara adalah Yadnya, yaitu pengorbanan suci yang tulus iklas serta rasa kasih. Yadnya pada garis besarnya dibagi menjadi lima yang disebut Panca Yadnya (Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadya dan Bhuta Yadnya) dan masing-masing dapat dinyatakan kepada siapa yadnya itu ditujukan. Pengorbanan di sini meliputi jasmaniah dan rohaniah. Pelaksanaan Yadnya ini dikaitkan dengan wariga (baik buruknya hari) dan perbintangan. Dalam melaksanakan Upacara itu diper- gunakan Tirta (Air suci) merupakan alat untuk membersihkan jiwa. Sedangkan Api (pedupaan) merupakan saksi serta pengantar persembahan kita. Bunga atau Canang Sari beserta banten- banten lainnya adalah Lambang dari sarinya Bumi yang kita persembahkan kepada Sang Hyang Widhi untuk menyampaikan rasa kecintaan dan kebahagian hati serta rasa terima kasih yang tulus iklas dan suci. 6. Kondisi Ekonomi a. Ekonomi Makro Klungkung memang tidak bisa mengandalkan potensi pertanian dan pariwisata untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Pajak terbesar dipungut dari pengambilan dan pengolahan bahan galian golongan C dari penambangan pasir di sungai, sedangkan hampir 50 persen retribusi berasal dari pelayanan kesehatan. Total pendapatan jika dibandingkan dengan sembilan kabupaten/kota yang lain berada pada urutan ke-8 di atas Kabupaten Bangli. Dari segi pendapatan daerah, Klungkung tidak akan bisa mengulangi kejayaannya masa lalu. b. Produk Domestik Regional Bruto PDRB Propinsi Bali Atas Dasar Harga Yang Berlaku menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dan Rp. 13,525 trilyun padatahun 1998 menjadi Rp. 14,530 trilyun pada akhir tahun 1999.Kontribusi ter- besar adalah untuk lapangan usaha Perdagangan, Hotel dan Restoran yaitu sebesar 31,26 %. Sementara lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian memberikan kontribusi paling kecil yaitu 0,70 % c. Pendapatan Per Kapita Secara umum pendapatan perkapita rata-rata penduduk Bali cenderung meningkat dan tahun ke tahun, yaitu Rp. 8.422.915,56 pada tahun 1997 - menjadi Rp. 16.578.695,30 pada akhir tahun 1998 (dengan migas yang berarti mengalami kenaikan Rp. 8.155.799,74. Sedangkan penda-
  9. 9. 2-9 patan perkapita tanpa migas meningkat dan Rp. 4.212.453,84 menjadi Rp. 6.808.092,73 di tahun 1998. Dengan melihat besarnya pendapatan perkapita penduduk Bali di tahun 1997 dan 1998, maka pertumbuhan pendapatan perkapita penduduk Bali adalah sbesar 96,83 % dengan migas dan 61,62% tanpa migas d. Sektor Pertanian Sebenarnya yang menjadi kegiatan ekonomi terbesar adalah pertanian. Tahun 2002 kegiatan ekonomi ini menyumbang Rp 325 miliar. Namun topografisnya yang sebagian besar berupa bukit-bukit terjal dan tandus menjadi kendala kemajuan pertanian. Selain hampir 50 persen wilayah- nya berada pada kemiringan 15-40 persen. Kecamatan Nusa Penida yang terdiri atas Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan, bahkan tidak bisa ditanami padi. 1- Tanaman Pangan Padi hanya bisa ditanam di Klungkung daratan. Luas lahan sawah pada 2002 adalah 3.965 hektar. Luas areal sawah ini hanya 13 persen dari luas wilayah Klungkung. Sisanya didominasi lahan kering dan perkebunan. Seperti daerah-daerah lain, tahun 1998 hingga 2002, luas lahan sawah cenderung menurun rata-rata 0,5 persen. Penyebabnya juga sama yaitu alih fungsi lahan pertanian menjadi nonpertanian. Apalagi, saat ini sedang ada proyek pembangunan ruas Jalan Tohpati-Kusamba yang merupakan jalur jalan di selatan Bali. Meskipun ada penurunan areal persawahan, produksi padi tahun 2002 mencapai 30.752 ton, meningkat 15 persen dari tahun sebe- lumnya. Beras yang dihasilkan didistribusikan juga kepada pendu- duk Kecamatan Nusa Penida melalui pelabuhan Tribuana, Banjar Bias, atau Kusamba. Produksi padi terbesar ada di Kecamatan Banjarangkan. Wajar saja karena wilayah ini mempunyai areal sa- wah paling luas yaitu 2.058 hektar, dengan dukungan 55,3 persen penduduk bermata pencarian di sektor pertanian tanaman pa- ngan. Daerah persawahan di provinsi Bali secara umum didominasi ke- nampakan vegetatif yaitu rata-rata 41 persen, dengan persentase tertinggi di kabupaten Buleleng dan Klungkung 64-65 persen dan terendah di kabupaten Jembrana 13 persen. Kenampakan lahan bera rata-rata 30 persen dengan persentase tertinggi di kabupaten Jembrana 48 persen dan terendah di kabupaten Klungkung 21 persen. Sementara itu kenampakan fase air rata-rata 7 persen dengan persentase tertinggi 14 persen terjadi di kabupaten Badung 19 persen dan terendah di kabupaten Bangli 2 persen. Tutupan awan yang cukup banyak terdapat di kabupaten badung, Bangli, Jembrana dan Karangasem lebih dari 31 persen.
  10. 10. 2-10 Analisis data bulan Juni-Juli 2002 menunjukkan bahwa prakiraan panen rata-rata perkabupaten periode September-Desember 2002 di provinsi Bali adalah 41 persen dengan persentase tertinggi di kabupaten Klungkung 65 persen dan terendah di kabupaten Jembrana 13 persen. 2- Perkebunan Selain padi, Klungkung daratan juga mengandalkan palawija. Jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang ijo, kacang tanah, kedelai, buah-buahan dan sayuran tetap bisa diproduksi. Meski produksi- nya tidak sebesar kabupaten lain di Bali. Seperti ubi jalar, produksi tahun 2002 mencapai 2.664 ton, hanya empat persen dari total produksi Bali. Tetapi kelompok ibu-ibu setempat bisa mengolah ubi jalar dan ubi kayu menjadi kue yang hasilnya dipasarkan sam- pai swalayan-swalayan besar di Bali. Tidak bisa ditanami padi, bukan berarti Kecamatan Nusa Penida tidak bisa menghasilkan tanaman pangan. Penduduk setempat berupaya menanami lahan kering dengan tanaman yang tidak memerlukan pengairan rutin. Kecamatan kepulauan ini memang tidak dialiri sungai dan hanya mengandalkan mata air Penida di Desa Sakti dan mata air Guyangan di Desa Batukandik. Komoditas pertanian andalannya adalah jagung, ubi kayu, kacang tanah, kacang ijo, kelapa, dan jambu mete. Bahkan penduduk setempat menjadikan ubi kayu sebagai makanan pokok yang diolah menjadi gaplek. Produksi jagung, kacang tanah, dan jambu mete pada tahun 2002 terbesar se-Klungkung. Produksi pertanian Nusa Penida mulai bernilai ekonomis tinggi saat kacang tanah diolah menjadi makanan khas Bali, yaitu kacang asin dan kacang kapri. Pabrik kacang merek Garuda juga memanfaatkan sebagian hasilnya sebagai bahan baku. 3- Perikanan Produksi perikanan laut dan darat Pulau Bali, pada tahun 2000 mencapai 145.549,9 ton yang terdiri dari atas produksi perikanan laut (penangkapan dan budidaya) sebesar 142.429,90 ton dan perikanan darat 3.125,0 ton. Jika dibandingkan produksi tahun 1999 sebesar 145.402,1 ton mengalami peningkatan 1,01% a- Perikanan Darat Penduduk Nusa Penida tidak bisa begitu saja mengandalkan pertanian tanaman pangan yang hanya produktif saat musim penghujan. Mereka mulai melihat potensi laut yang mengeli- linginya. Menanam rumput laut di pinggir-pinggir pantai men-
  11. 11. 2-11 jadi pilihan karena pantainya masih dilindungi karang dan ti- dak berhadapan langsung dengan Laut Selatan. Didukung oleh pantai di kawasan Nusa Penida sepanjang 70 kilometer, produksi dari tahun 1998 hingga 2002 cenderung meningkat rata-rata 6 persen tiap tahun. Tahun 2002 mencapai 108.726 ton. RUMPUT laut-kadang juga disebut ganggang laut- tumbuh di wilayah pantai. Ada yang berwarna hijau, kemerahan, keco- klatan, biru kehijauan, dan sebagainya. Namun, yang nilai ekonominya tinggi untuk industri hanyalah ganggang coklat dan merah. Memang ada yang berwarna hijau seperti "gang- gang usus ayam" (Enteromorpha), makanan utama nener bandeng, atau "sebelah laut" (Ulva) yang merupakan sayur- an laut terkenal mahal harganya, namun keduanya masih kalah dengan rumput laut berwarna coklat dan merah. Rumput laut merah dan coklat memang merupakan salah satu bahan baku yang sangat potensial dan luas pengguna- annya. Agar-agar dari rumput laut digunakan pada makanan (kue-kue), pengental sup, pengental es-krim sampai ke bahan untuk membuat media/substrat di laboratorium. Hasil rumput laut berguna juga kapsul, salep, tablet, filer, plester, serta pengental lainnya. Bahan ini dikenal sangat luas sejak lama, terutama dalam bentuk batangan persegi empat. Sekarang sudah banyak beredar agar-agar berbentuk tepung yang lebih murni kalau dibandingkan dengan bentuk batangan. Agar-agar misalnya, merupakan hasil ekstraksi rumput laut jenis Gelidium. Bahkan, pupuk organik yang terbuat dari rumput laut yang tidak diolah jadi bahan kimia, merupakan pupuk yang sangat baik. Karena di dalam rumput laut terkandung bukan saja makro-mineral (N, O, K, S, dan sebagainya) tetapi juga mikro-mineral (Fe, Mg, Na, dan sebagainya). Karena itu, rumput laut sangat populer untuk pertanian sayuran, buah- buahan, dan bunga di RRC, Jepang, Inggris, Perancis, dan Kanada. Rumput laut Indonesia mempunyai harga sangat tinggi di pa- saran dunia, bukan karena kandungan kimia di dalamnya memenuhi persyaratan (seperti agar-agar, karagen, dan se- bagainya) tetapi juga karena wilayah perairan pantai tempat ganggang laut tersebut tumbuh rata-rata belum tercemar berat, baik yang datang dari pencemar domestik (rumah- tangga) ataupun pencemar non-domestik (dari pabrik, indus- tri, dan sebagainya).
  12. 12. 2-12 Saat ini hanya dari kandungan air raksa (Hg) yang disyarat- utamakan oleh konsumen di Eropa, Amerika, dan Jepang (sebagai negara pengguna produk rumput laut terbesar di dunia), sehingga rumput laut asal Indonesia rata-rata masih memenuhi persyaratan itu. Permintaan luar negeri terhadap rumput laut Indonesia se- tiap tahun terus meningkat, khususnya untuk jenis-jenis La- minaria, Gelidiella, Gracillaria, dan Euchema. Tapi, karena pengadaan rumput laut sebagian besar masih tergantung kepada alam, sedang pengadaan melalui budidaya masih terbatas, maka banyak dari permintaan tersebut belum terpe- nuhi. Padahal, harga rumput laut Indonesia cukup tinggi kalau di- bandingkan dengan hasil dari negara lain. Misalnya, untuk jenis Euchema spinosum kering yang telah diputihkan harga- nya 325-350 dollar AS per ton FOB, sedang yang berwarna hitam (asli) antara 250-270 dollar AS per ton FOB di Hong- kong. Tetapi, untuk jenis Euchema cottoni (lebih halus) lebih tinggi harganya, yaitu antara 325-350 dollar AS per ton FOB. Masyarakat Jepang merupakan negara "pemakan" gang- gang laut, bahkan juga yang tanpa diolah lebih dahulu. Jenis makanan seperti aonori (dari jenis Enteromorpha), makombu (dari jenis Laminaria), wakame (dari jenis Undaria), kawanori (dari jenis Prasiola), dan sebagainya terbuat dari rumput/ ganggang laut secara langsung tanpa diolah. Rumput laut amat berperan dalam menu makan tradisional Jepang, ka- rena seperti makombu yang berwarna keunguan, selalu muncul untuk sayur maupun pembungkus makanan dan nasi. Secara kimia, rumput laut terdiri dari air (27,8%), protein (5,4%), karbohidrat (33,3%), lemak (8,60%), serta serat ka- sar (3,0%), dan abu (22,25%). Sedang melalui pengolahan, rumput laut akan menghasilkan bahan-bahan di bawah ini. 1) Algin, baik dalam bentuk asam alginik ataupun dalam bentuk alginat. Pada umumnya senyawa ini dihasilkan dari jenis Macrocystis, Ecklonia, Fucus, Lesonia, dan Sargassum, dengan produksi rata-rata per tahun 6.000- 7.500 ton, terutama di Amerika Serikat, Inggris, Peran- cis, Norwegia, dengan negara konsumen mulai dari Jerman, Jepang, Australia, Kanada, Perancis, Belanda, Spanyol, dan sebagainya. 2) Agar-agar, yang merupakan senyawa asam-belerang dan ester dari galaktan-linier. Jenis ganggang yang menghasilkan agar-agar antara-lain Gelidium, Graci-
  13. 13. 2-13 laria, Ahnfeltia, dan sebagainya. Di perairan Indonesia paling banyak dari jenis Gelidium dan Gracilaria. 3) Karagenin, umumnya dalam bentuk garam karena be- reaksi dengan unsur-unsur Na, Ca, dan K. Secara ki- mia, karagenin terbagi menjadi fraksi-fraksi kappa-kara- genin dan iotakaragenin. Jenis ganggang yang meng- hasilkannya antara lain Chondrus, Gigartina, dan Euchema, dengan manfaat dan penggunaan sama se- perti agar-agar dan algin. Di samping bahan utama yang sudah disebut di atas, rumput laut dapat menghasilkan bahan lain yang umum dinamakan eucheman (dari Euchema), funoran (dari Gloiopeltis, Ahn- feltia, dan sebagainya), nori (dari Phorphyra), kombu (dari Laminaria), fukoidin (dari Fucus, Laminaria, Macrocystis, Ascophylum, dan sebagainya) serta fukosterol (dari jenis yang sama dengan fukodin). Selain hasil olahan rumput laut yang banyak digunakan di bi- dang industri, secara langsung rumput laut juga digunakan sebagai makanan ternak. Di Irlandia, pakan ternak penghasil daging dan susu menggunakan Rhodymenia, jenis yang se- cara ekonomi tidak menghasilkan bahan industri. Diban- dingkan dengan rumput laut hijauan lainnya, rumput laut mempunyai kandungan nutrien dan gizi lebih sebagai pakan ternak. Secara tradisional, penduduk memanen rumput laut di kawasan pantai berkarang dengan berlari ke tengah laut saat laut surut. Dengan cepat mereka memilih, mengambil dan kemudian mengumpulkannya. Begitu air laut pasang, me- reka lari ke darat menggenggam hasilnya. Setiap hari bertruk-truk mengangkut rumput laut kering ke beberapa pabrik agar-agar di Jakarta dan Surabaya. Pe- mandangan seperti di atas merupakan hal yang umum dite- mukan sekitar Pameungpeuk (Garut), Surade (Sukabumi) ataupun pantai berkarang lainnya penghasil rumput laut. Pantai berkarang yang berair jernih banyak didapatkan di ka- wasan Indonesia, merupakan tempat sangat baik dan subur untuk pertumbuhan rumput laut. Menurut catatan Puslitbang Oseanografi/LIPI, hampir di seluruh kawasan Indonesia potensial untuk membudidayakan rumput laut ini. Agar lebih optimal, sejak tahun 1960-an Puslitbang Oseano- grafi/LIPI maupun Lembaga Penelitian Perikanan Laut/De- partemen Pertanian serta pembudidayaan rumput laut telah mengembangkan upaya penanaman rumput laut.
  14. 14. 2-14 Di beberapa daerah bahkan sudah terdapat petani rumput laut berpotensi tinggi seperti di Bali. Sekitar Klungkung ada petani rumput laut yang pada kegiatan awalnya hanya meng- usahakan lahan seluas 100 m persegi saja. Tetapi dengan semakin meningkatnya hasil dan pendapatannya, ia meluas- kan areal tanamnya jadi 2 ha, dengan keuntungan rata-rata per bulan lebih dari Rp 10 juta. Menurut Puslitbang Oseanografi/LIPI, sedikitnya ada 57 jenis rumput laut bernilai ekonomi di Indonesia, yaitu 16 jenis yang termasuk ganggang hijau, 9 jenis ganggang coklat, dan 25 jenis ganggang merah. Dari ke-57 jenis tersebut 10 jenis benar-benar sudah teruji nilainya. b- Perikanan Laut Dalam upaya meningkatkan produksi perikanan, baik untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun ekspor, pengem- bangan usaha penangkapan ikan merupakan suatu altematif di samping produksi perikanan melalui budidaya. Upaya pengelolaan sumberdaya ikan bertujuan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berlangsung terus menerus sehingga pemanfaatan sumber tidak melebihi daya dukungnya. Salah satu aspek dalam pengelolaan sumberdaya ikan adalah pe- ngendalian dan penataan pemanfaatan sumberdaya ikan. Secara rinci potensi sumberdaya ikan adalah sebagai berikut diuraikan di bawah ini. Berdasarkan letak geografis potensi dan jenis sumber-daya perairan laut daerah bali dengan luas 9.500 km2 (tidak tennasuk perairan samudera Hindia dan ZEE) dapat dibagi menjadi 3 (tiga) wilavah perairan laut yaitu: 1) Perairan Bali bagian utara, meliputi perairan pantai sepanjang Kabupaten Buleleng dengan luas perairan 3.168 km2 . 2) Perairan Bali bagian timur, meliputi perairan pantai se- panjang Kabupaten Karangasern, Klungkung, dan Gia- nvar dengan luas perairan 3.350 km2 . 3) Perairan Bali bagian barat, meliputi perairan Kabupaten Badung, Tabanan dan Jembrana (perairan selat Bali), dengan luas perairan 2.982 km2 . Perikanan laut tidak termasuk perairan Samudera Hindia dan ZEEI memiliki potensi sumberdaya ikan lestari sebesar 67.335 ton/lahun yang terdiri dari sumber perikanan pelagis 52.787 ton/tahun dan sumber perikanan demersal 14.568 ton/th (belum termasuk potensi udang dan ikan karang). Dari potensi sumberdaya ikan tersebut, jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) adalah sebesar 53.884 ton/th. Dilihat
  15. 15. 2-15 dari produksi ikan laut tahun 1998 sebesar 55.035, 2 ton (se- lain ikan tuna yang ditangkap di ZEEI), maka pemanfaatan- nya sudah mencapai 81,70 %. Untuk daerah tertentu dan sumberdaya ikan tertentu dikhawatirkan terjadi tangkapan lebih seperti ikan pelagis sedangkan ikan demersal pada umumnya masih berpeluang besar untuk ditingkatkan pe- manfaatannya secara lestari. Pemanfaatan ikan pelagis perlu mendapat perhatian. Untuk itu telah dilakukan beberapa upaya antara lain adanya SKB antara Gubernur Jawa Timur dan Gubenur Bali yang mene- tapkan jumlah purse seine yang boleh beroperasi dan pem- binaan potensi. Daerah-daerah penangkapan ikan nelayan-nelayan Bali se- bagian terbesar berada di luar perairan wilayah Bali di mana sebelah barat dibatasi selat Bali sedangkan bagian timur ber- batasan dengan selat Lombok di bagian Utara dibatasi laut jawa, di bagian selatan dibatasi oleh Samudra Indonesia, hal ini diakibatkan oleh selain terbatasnya wilayah perairan laut propinsi ini juga oleh dominan kapal motor dalam struktur armada penangkapan di PP / PPI. Dalam wilayah propinsi Bali terdapat operasi bongkar ikan besar tetapi tidak termasuk dalam wilayah kewenangan Di- nas Perikanan Provinsi Bali, yaitu kegiatan operasional Peri- kanan Samudera Besar di Pelabuhan Umum Benoa. Volume ekspor dan devisa yang diperoleh dan kegiatan ini sangat besar. Jenis-jens ikan yang dominan tertangkap di daerah-daerah penangkapan ikan Pantai Bali dan didaratkan di PP / PPI : tuna segar, kerapu. lobster, hiu, dan cakalang. e. Sektor Industri Tahun 2002 tercatat 5.077 industri kecil/rumah tangga. Meski bisa memberikan kontribusi Rp 101 miliar pada kegiatan ekonomi tahun 2002, tapi bukan merupakan kegiatan ekonomi andalan dan terbesar. f. Sektor Pariwisata 1- Objek dan Daya Tarik Wisata Potensi yang mampu menunjang berkembangnya kepariwisataan adalah: a- Tatacara kehidupan masyarakat (way of life), kesucian, upa- cara agama, adat istiadat yang kesemuanya berlandaskan ajaran agama hindu.
  16. 16. 2-16 b- Keindahan alam, bangunan bersejarah dan arsitektur bali. c- Sarana dan fasilitas yang memadai sampai bertaraf inter- nasional. Daftar ODTW di Kabupaten Klungkung, adalah sebagai berikut : a- Monumen Puputan Klungkung. b- Pura Taman Sari. c- Goa Jepang. d- Desa Tihingan. e- Kerta Gosa. f- Desa Wisata Kamasan. g- Pantai Kusamba. h- Kawasan Nusa Penida. i- Suana. j- Karang Bolong. k- Lembongan dan Jungut Batu. l- Pantai Atuh. m- Teluk Sebila & Labuan Ampuak. n- Lila Arsana. o- Musium Nyoman Gunarsa. p- Budaga. Deskripsi beberapa ODTW, adalah sebagai berikut : a- Monumen Puputan Klungkung Untuk memperingati Perang Puputan didirikan Monumen Puputan Klungkung. Monumen berbentuk lingga dan yoni ini berdiri di atas tanah seluas 123 meter persegi di Kecamatan Klungkung. b- Pantai Atuh Pantai Atuh terletak disebuah teluk yang indah dengan alam berpasir putih disebelah kirinya dengan menjorok kelaut ter- dapat Tanjung Juntil dan disebelah kanan (Selatan) men- jorok Labuan Ampuak berlanjut ketimurnya lagi terletak Gili Batu Melawang, Gili Batu Padasan, Gili Batu Abah dan Gili Batu Metegen. Di ujung Timur Tanjung Juntil dan juga diujung Timur Gili Padasan terdapat tempat memancing yang sangat idial karena didepan kedua tanjung tersebut dilewati oleh arus bolak-balik dari Utara ke Selatan (dan sebaliknya) yang diikuti oleh rombongan/ Kawanan ikan bersklala ikan besar dan kecil, terutama setelah dan sebelum Purnama dan bebe- rapa hari sebelum dan sesudah Tilem atau bulan mati, hari- hari tersebut merupakan surganya bagi pemancing mania.
  17. 17. 2-17 Di sebelah Selatan Labuhan Ampuak terdapat Goa Alam, sa- rang Burung Walet, komoditi yang sangat langka dan sangat mahal harganya. Di daratan Lembah Atuh keadaan tanahnya sangat subur, di sini juga terdapat sebuah Pura Atuh, sebuah Pura Segara, khusus pemujaan terhadap Dewa Baruna (Pu- ra Segara) yang piodalannya dilakukan setiap sasih Kedasa (Bulan Kesepuluh) penanggalan bali (Isaka) di mana masya- rakat datang dari penjuru Desa dan Banjar Bendem, Desa Tanglad dan lain-lainnya. Upacara piodalan dilakukan sehari penuh dengan dipersem- bahkan berbagai tarian diantaranya tarian baris Jangkang pelillit sebuah tarian masal yang sangat sakral, tarian yang menggambarkan para prajurit kerajaan yang siap mengha- dapi musuh yang datang menyerang, dan sangat langka yang ada di banjar Pelilit. Agak kedalam terdapat dua sumur suci yang airnya sangat bening dan murni, air tawar tersebut mungkin kualitasnya terbaik di seluruh kawasan Nusa Peni- da. Akses menuju Pantai Atuh dapat dicapai melalui dua arah yaitu dari banjar Pelilit (20 Km dari pelabuhan boot buyuk) dan dilanjutkan dengan jalan tanah kurang lebih 2 Km dan yang satunya dari Banjar Kelodan (17 Km dari Buyuk) dilanjutkan dengan kurang lebih 5 Km jalan tanah. c- Lembongan dan Jungut Batu Pantai Lembongan yang berpasir Putih dengan karang lau- tnya yang indah juga terdapat berjenis-jenis ikan yang hidup di dalamnya. Merupakan panorama pemandangan bawah laut yang indah Dari pantai ini dapat disaksikan peman- dangan Matahari terbenam di ufuk Barat. Antara Nusa Lem- bongan dan Nusa Ceningan terdapat jembatan di atas laut yang menghubungkan kedua pulau itu. Di Nusa Ceningan terdapat goa-goa tempat bersarangnya burung walet. d- Kompleks Bekas Kerajaan Klungkung Tidak jauh dari obyek wisata sejarah ini, terdapat kompleks bekas Kerajaan Klungkung. Kawasan wisata yang terdiri atas Kerta Ghosa, Taman Gili, dan Pemedal Agung ini juga ramai dikunjungi wisatawan. Tahun 2002 jumlah wisatawan men- capai 54.000 orang, lebih banyak dari obyek-obyek wisata yang lain. Namun, retribusi yang dipungut dari pariwisata menyumbang sekitar 12 persen dari total retribusi. Begitu juga dengan jasa hiburan dan rekreasi yang memberi kontri- busi kegiatan ekonomi 2002 sebesar Rp 2,1 miliar.
  18. 18. 2-18 e- Desa Wisata Kamasan Obyek wisata di Kecamatan Klungkung tidak hanya wisata sejarah. Empat kilometer arah selatan dari Kota Semarapura terdapat desa wisata Kamasan. Desa yang ada sejak zaman Dinasti Gelgel ini merupakan desa yang hampir seluruh penduduknya berprofesi seniman lukisan kamasan. Dulu memang penduduk Kamasan bermata pencarian petani. Namun sejak Gunung Agung meletus tahun 1963, mereka beralih profesi menjadi seniman. Tidak hanya kerajinan lukisan yang dihasilkan, tapi juga kerajinan perak, emas, kuningan, dan selongsong peluru. f- Industri Kerajinan Gong, Gamelan, Kerajinan Barang-Barang Untuk Upacara Keagamaan Terdapat industri kerajinan gong dan gamelan di Desa Ti- hingan dan kerajinan barang-barang untuk upacara keaga- maan di Desa Budaga. Memang sebagian besar industri pengolahan yang ada masih berskala kecil atau rumah tangga. g- Pantai Kusamba Pantai Kusamba merupakan obyek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi, terletak sekitar 7 km ke arah timur dari kota Semarapura. Di samping itu, pantai ini merupakan pantai nelayan dan juga tempat pembuatan garam secara tradisional. Kita dapat menyaksikan setiap hari para nelayan yang sedang melaut mencari ikan maupun petani garam yang sedang membuat garam di pinggir pantai. Sampan nelayan berderet di pinggir pantai di bawah pohon nyiur, begitu pula pondok-pondok pembuatan garam berjejer di sepanjang pantai, menimbulkan pemandangan yang benar-benar menarik bagi mereka yang berkunjung ke pantai tersebut. Bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke Bali, obyek wisata ini sangat ideal untuk dipilih sebagai salah satu tujuan wisata. 2- Usaha Jasa Pariwisata Mengenai fasilitas hotel tersedia sebanyak 7.289 kamar dengan tempat tidur berjumlah 12.896 tempat tidur. Dari 220 hotel yang 21 buah termasuk hotel berbintang dengan jumlah kamarnya 2.988 serta 5.159 tempat tidur, sedangkan jumlah kamar hotel non bintang yang tersedia adalah 4.301 kamar dengan tempat tidur sebanyak 7.737 tempat tidur.
  19. 19. 2-19 3- Wisatawan Jumlah Wisatawan Manca Negara yang datang lewat Interport Ngurah Rai dan Pelabuhan Laut Padang Bai dan Benoa tahun 2002 berjumlah 1.278.789 orang, sedangkan yang datang ke kota Denpasar sebanyak 1.281.842 orang. Wisatawan domestik/nu- santara datangnya baru bisa dipantau dari laporan bulanan peng- usaha hotel atas tahun-tahun yang menginap di hotelnya masing- masing. Dewasa ini frekwensi arus lalu lintas angkutan orang maupun barang dirasakan makin meningkat, hal ini merupakan hasil dari tersedianya fasilitas perhubungan secara memadai sebagai faktor penunjang kelancaran kehidupan ekonomi. 7. Transportasi a. Perhubungan Darat Prasarana dan sarana transportasi darat di propinsi Bali telah menga- lami perkembangan yang begitu pesat sejak tahun 1990/1991. Hal ini ditandai dengan peiungkatan dan status jalan yang sudah ada baik kualitas konstruksi maupun kualitas dan tingkat pelayanannya. Jaringan transportasi darat di propinsi Bali terdiri dari : 1- Jalan Arteri Primer : Gilimanuk - Denpasar - Padangbai. 2- Jalan Kolektor Primer, meliputi :  Ruas Gilimanuk - Singaraja - Amiapura – Padangbai.  Ruas Siririt - Pupuan – Antosari.  Ruas Singaraja - Bedugul - Beringkit (Mengwi).  Ruas Kubutambahan - Kintamani - Bangli - Sidan (Gianyar).  Ruas Beringkit - Batuan (Gianyar).  Ruas Soka (Tabanan) - Tanah Lot – Kuta. 3- Jaringan transportasi danau : Kedisan - Trunyan (Danau Batur) bersifat lokal. 4- Jaringan transportasi penyeberangan : berfungsi sebagai angkut- an penumpang, pariwisata dan nelayan, meliputi :  Gilimanuk – Ketapang.  Padangbai – Lembar.  Kusamba - Buyuk (penyeberangan lokal). b. Perhubungan Laut Berkembangnya teknologi bidang penangkapan ikan berdampak makin berkembangnya armada penangkapan ikan dengan teknologi maju yang mampu mencapai daeiah penangkpan di perairan ZEEI. Usaha penangkapan ikan dengan menggunakan teknologi maju pelaksanaan- nya masih terbatas pada perusahaan-penisahaan perikanan dan belum mampu dijangkau oleh nelayan kecil. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya permodalan yang dimiliki oleh nelayan kecil, rendahnya
  20. 20. 2-20 pengetahuan dan ketrampilan nelayan kecil sehingga belum dapat menguasai teknologi di bidang penangkapan. Dalam tahun 1998 perkembangan armada penangkapan ikan di daerah bali cukup menggembirakan yakni terjadi peningkatan baik dan segi kuantitas maupun kualitas. Namun demikian bila diperhatikan penang- kapan ikan skala kecil/ perikanan rakyat masih mendominasi kegiatan penangkapan ikan di bali yakni sebanyak 12.892 unit (95,02%) terdiri dari perahu tanpa motor dan perahu motor tempel, sedangkan armada penangkapan ikan skala menengah/besar hanya 676 unit (4,98%) dari total armada yang ada. Di Propinsi Bali terdapat potensi besar sebagai terminal ekspor peri- kanan dan produk perikanan karena adanya infrastruktur transportasi yang sangat lengkap dan baik. Dalam kawasan Pelabuhan Umum Benoa terdapat aktifitas perikanan samudera terbesar di Indonesia. Di sini terkonsentrasi industri pengolahan ikan tangkapan berorientasi eksport dengan volume mencapai 200.000 ton/tahun yang sebagian besar diekspor dalain bentuk ikan beku. Kapal ikan yang beroperasi dan wilayah ini juga cukupbanyak dan ber- tonase besar, hal ini dapat diperiksa dari SPI (Surat ljin Penangkapan Ikan yang dikeluarkan untuk perusahaan yang berpangkalan di Benoa sebanyak 21 perusahaan dengan masing-masing memiliki 3 sampai 89 kapal atau total mencapai 455 kapal. Keseluruhan kapal ini berbendera Rl dengan status ada yang milik sendiri, KSO/charter, dan ada yang dari keagenan. Ukuran isi kotor (GT) kapal bervariasi dari 6 GT hingga 157 GT. Adanya desakan kebutuhan tambahan dermaga bongkar ikan, mendorong para pengusaha setempat bekerja sania dengan pihak Kantor cabang Pelabuhan Umum Benoa membangun dermaga perikanan untuk digunakan umum. Pertumbuhan industri perikanan yang cukup besar dan prospektif ini perlu meridapat perhatian, terutama dalam kontribusinya kepada pere- konomian lokal. maupun Indonesia. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya "take and give" yang seimbang antara pihak perusahaan de- ngan kepentingan negara. 8. Pembiayaan Pembangunan Daerah a. Kebijaksanaan pembiayaan pembangunan diusahakan bersumber dari sektor pemerintah dan swasta/dunia usaha. Pembiayaan pembangunan dari sektor pemerintah yang sumbernya dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan terus ditingkatkan. Kegiatan-kegiatan pembangunan yang strategis dan yang mempunyai dampak nasional diusahakan pendana- annya dari Pemerintah Pusat. Sumber dana dari bantuan luar negeri atau pinjaman luar negeri masih dibutuhkan sebagai sumber pembia- yaan terutama untuk mempercepat pembenahan akibat krisis berke- panjangan.
  21. 21. 2-21 b. Peningkatan pendapatan daerah melalui penggalian sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah di samping sumber-sumber lainnya dengan meningkatkan efisiensi pengumpulan dan pengeloannya agar lebih ter- arah dan terkendali serta meningkatkan pengawasannya dengan ber- pedoman pada peraturan-undangan yang berlaku. c. Meningkatkan peranan perbankan dan lembaga keuangan lainnya di dalam pembiayaan pembangunan daerah agar makin mampu menam- pung, menyalurkan aspirasi dan minat masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan. d. Menciptakan iklim usaha yang sehat untuk kelancaran berusaha de- ngan maksud untuk meningkatkan peran serta masyarakat dan swas- ta/dunia usaha dalam pembangunan. 9. Kebijakan Pembangunan a. Pengembangan Perikanan Kebijaksanaan pembangunan perikanan Bali mempunyai visi dan misi bahwa pembangunan perikanan merupakan usaha pembangunan ekonomi rakyat menempati urutan prioritas dan akan dikembangkan melaui sistem kelembagaan yang mengakar dari kekuatan ekonomi lakyat. Pembangunan perikanan yang berkelanjutan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani/nelayan Bali pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sejalan dengan maksud dan tujuan perikanan Bali adalah "Perikanan Modern, Tangguh dan Efisien" dengan misi sebagai berikut : 1- Memberdayakan petani/nelayan tradisional masyarakat perikanan yang mandiri, maju, sejahtera dan berkualitas. 2- Peningkatan gizi masyarakat melalui pemantapan konsumsi hasil perikanan. 3- Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan secara optimal dan berkelanjutan. 4- Menerapkan dan mengembangkan teknologi spesifik lokasi. 5- Mengembangkan dan melaksanakan diversifikasi usaha. Tujuan Pembangunan Perikanan Bali adalah : 1- Memberdayakan petani/nelayan dan meningkatkan kualitas sum- berdaya manusia perikanan. 2- Meningkatkan pemasaran dan perbaikan disytribusi untuk meman- tapkan gizi masyarakat. 3- Meningkatkan produksi, produktivitas, hasil olahan, mutu produk, daya saing dan ekpor hasil perikanan. 4- Meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani/nelayan melalui peningkatan produktivitas dan pendapatan. 5- Mengembangkan ekonomi dan memperluas kesempatan usaha produktif di pedesaan. 6- Meningkatkan kemampuan kelembagaan perikanan.
  22. 22. 2-22 Langkah operasional yang penting untuk ditempuh dalam rangka men- capai tujuan pembangunan perikanan tersebut adalah sebagai berikut : 1- Pengelolaan sumberdaya perikanan adalah berpedoman pada upaya pemanfaatan secara optimal dan rasional sekaligus mem- pertahankan kelestarian sumber dan lingkungan. Peningkatan pro- duksi ikan ekonomis penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan peningkatan pendapatan petani nelayan yang ditunjang pe- ningkatan upaya (effort) dan prasarana (infrastruktur) harus meng- acu pada cara penangkapan yang berwawasan lingkungan. 2- Pengambangan usaha penangkapan ikan tetap diarahkan pada perairan yang belum padat pengusahaannya, namun sumber daya ikannya masih cukup potensial, disamping pengembangan pe- nangkapan ikan lepas pantai dan samudera/ ZEE. Pemanfatan sumberdaya perikanan demersal yang selama ini belum diusaha- kan dengan optimal terus diupayakan peningkatannnya. Selain itu usaha-usaha diversifikasi penangkapan ikan terus diupayakan serta disesuaikan dengan musim, jenis dan potensi sumbernya. 3- Di bidang budidaya laut khususnya rumput laut, usaha ekstensi- fikasi sekaligus dengan peningkatan intensifikasi terus dilanjutkan dan diupayakan peningkatannya, disamping diversifikasi komodi- tas budidaya laut selain rumput laut. Untuk menunjang pengem- bangan budidaya laut ini poerlu didukung dengan penetapan areal untuk menghindari terjadinya benturan kepentingan antar kegiatan sektor, sehingga ada jaminan dan kepastian hukum bagi petani atau swasta lainnya dalain pengusahaan budidaya laut. 4- Pengembangan budidaya udang tambak akan terus diupayakan penigkatannya melalui ektensifikasi, intensifikasi dengan tetap memperhatikan daya dukung lahan, serta diversifikasi untuk jenis komoditas lainnya seperti kakap putih, kepiting dan lainnya. Pengembangan tambak diupayakan melalui peningkatan peran serta sektor swasta, disamping juga melalui program INTAM dan Swadaya masyarakat Untuk mendukung pengembangan tambak ini, prasarana saluran irigasi perlu ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitas serta perlu adanya penataan kawasan tambak. 5- Selanjutnya pengembangan budidaya ikan air tawar terutama akan diarahkan untuk penyediaan ikan konsumsi bagi konsumen lokal dan pariwisata. Pengambangan budidaya ikan air tawar ini dilaksanakan melalui intensifikasi (INMINDI) dan diversifikasi. Upaya pengembangan minapadi ditingkatkan dan dan dikaitkan dengan pengembangan budidaya jaring apung dikembangkan, disamping peningkatan restocking melalui penebaran ikan untuk mendukung upaya pelestarian sumber di perairan umum yang meliputi sungai, waduk dan danau.
  23. 23. 2-23 Sehubungan dengan akan diberlakukannya otonomi daerah, maka per- lu dipersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan kewenangan antara pro- vinsi dan Kabupaten / Kota. Sebagian besar daerah baik provinsi mau- pun Kabupaten - Kota, sama-sama mendukung penuh adanya pember- lakuan Undang-undang, baik UU No, 22 tahun 99 tentang Pemerin-tah Dae- rah maupun UU No. 25 tahun 99 tentang Perimbangan Keuangan an-tara Pe- merintah Pusat dan Daerah, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan PPI. Bahkan beberapa hal berikut ini disarankan untuk dipertimbangkan dalam pelaksanaan pembagian kewenangan pengelolahan, diantaranya PPI yang dibangun oleh dana APBN dan sudah ke Provinsi diserahkan ke Kabupaten / Kota, PPI yang dibangun Oleh APBD Provinsi diserah- kan ke Pemerintah Provinsi, perlu adanya peninjauan ulang dalam hal pembagian Retribusi pelaksanaan lelang antara Provinsi, Kabupaten/ Kota dan PUSKUD. Dari dua unit PPI/TPI yang telah berfungsi tersebut di atas satu unit di antaranya fasilitasnya terus ditingkatkan yaitu dan Pangkalan Pendaran lkan menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai. Pangkalan pendaratan ikan (PPI) Pengambengan mempunyai peranan yang penting untuk menun- jang dan memperiancar kegiatan perikanan yang memanfaatkannya yaitu nelayan yang beroperasi di selat Bali dan menampung kegiatan nelayan dan PPI/TPI Kedonganan di Kabupaten Badung. Selain dan itu juga PPI/TPI Pengambengan menunjang kegiatan agribisnis yang men- jadi pendekatan pembangunan sektor perikanan yang sudah berkem- bang di PPI/TPI Pengambengan dan sekitarnya. Adapun fasilitas-fasi- litas yang telah dibangun di PPI/TPI Pengambengan sampai pada ta- hun 1998 jauh berbeda dengan tahun 1997. Selain prasarana penang- kapan ikan juga prasarana pasca panen memegang peranan penting, untuk menangani agar ikan tetap segar sampai pada konsumen akhir. b. Pengembangan Pariwisata Pengembangan kepariwisataan diarahkan guna mewujudkan Bali se- bagai obyek pariwisata budaya. Sumber utama dan titik berat kepariwi- sataan bertumpu pada kebudayaan yang dijiwai oleh agama Hindu ser- ta keindahan alam. Kepariwisataan tidak terbatas pada usaha kerajinan tangan, pertanian dan budaya serta kesenian tetapi justru merupakan usaha komplementer yang sangat komplek dan menyeluruh, baik dalam bentuk pelayanan, seperti : Akomodasi dan transportasi serta pelayanan jasa-jasa lainnya. Langkah-langkah guna menunjang usaha kepariwisataan antara lain melalui pengembangan obyek wisata serta kegiatan produksi barang kerajinan untuk cinderamata, di samping tetap menjaga stabilitas keamanan dan kelestarian lingkungan hidup. Berdasarkan Perda Provinsi Tingkat I Bali No.14 tahun 1989 sebagian urusan Pemerintahan di bidang Kepariwisataan telah diserahkan kepa- da kabupaten./kota yang meliputi:
  24. 24. 2-24 1- Urusan Obyek Wisata, sepanjang yang tidak menjadi urusan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Tingkat I Bali. 2- Urusan Usaha Rekreasi dan hiburan Umum kecuali disco dan rekreasi air. 3- Urusan perkemahan dan Mandala Wisata. 4- Urusan Promosi di dalam Wilayah. c. Partnerships in Environmental Management for the Seas of East Asia 1- GEF/UNDP/IMO Regional Programme GEF/UNDP/IMO Regional Programme adalah suatu program ker- jasama manajemen lingkungan dengan fokus kepada pengelolaan lingkungan wilayah pesisir dan laut di Asia Timur antara 11 nega- ra, yaitu : Brunei Darusalam, Cambodia, China, Korea Utara, Indo- nesia, Malaysia, Philippines, Korea Selatan, Singapore, Thailand dan Vietnam. Executing Agency untuk program tersebut adalah International Maritime Organization (IMO), dimulai pada tahun 1999 dengan dua pilot project, yaitu di Xianmen (Republic Rakyat China) dan di Batangas (Philippines). Saat ini PEMSEA Program mengem- bangkan 6 National ICM Demonstration Site : Bali-Indonesia, Sihanoukville-Cambodia, Nampo-Korea Utara, Selangor-Malaysia, Chonburi-Thailand dan Danang-Vietnam. Untuk pelaksanaan ICM Demonstration Site di Bali, meliputi 4 kabupaten yaitu Badung, Gianyar, Klungkung, Karangasem dan 1 kota Denpasar, yang telah dimulai pada tanggal 8 September 2000 sampai dengan tahun 2004 (5 tahun). Status pelaksanaan ICM di Bali sampai dengan Pebruari 2002 adalah : a- Penyediaan data dan informasi untuk mendukung proses perencanaan program pengelolaan pesisir dan laut. b- Pembentukan Project Management Office (PMO) dan Project Coordinating Committee (PCC) pada tingkat lokal (Bali), telah selesai dilakukan. c- Profil Lingkungan 4 kabupaten : Badung, Gianyar, Klung- kung, Karangasem dan Kota Denpasar. d- Strategi Pengelolaan Lingkungan untuk Bali Tenggara. Dalam PEMSEA dimungkinkan adanya pararel site, saat ini ada 2 Pararel Site yang telah ditetapkan adalah : Bataan-Phlippines (MOU 10 Pebruari 2000) dan Shiwa-Korea Selatan (MOU 15 Maret 2001). Di samping itu terdapat 3 Lokasi Subregional Sea Area / Pollution Hot Spot, yaitu : Bohai Sea China (MOU 23 Juli 2000), Manila Bay Philippines (MOU 8 Januari 2001) dan Gulf of Thailand (MOU sedang disiap-
  25. 25. 2-25 kan). Terbuka kemungkinan untuk Indonesia mengusulkan lokasi "hot spot", yaitu : Teluk Benoa dan lokasi pararel site : Sukabumi. Mengingat adanya kemungkinan untuk penerapan model penge- lolaan ICM Bali di lokasi lain (pararel site) dengan penyesuaian kondisi setempat, maka terbuka kemungkinan Indonesia mengu- sulkan "pararel site PEMSEA ICM" : Syarat pengusulan pararel site adalah : a- Kesiapan daerah (institusi, sumberdaya manusia, penda- naan. b- Secara resmi diajukan oleh National Focal Point kepada Re- gional Programme Director PEMSEA c- Mengadopsi ICZM Management Plan yang telah dikem- bangkan di lokasi ICM Demonstration Site yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Dengan memperhatikan potensi pesisir dan laut Kabupaten Sukabumi dan sebagai tindak lanjut MOU antara Menteri Negara Lingkungan Hidup / Kepala Bapedal dengan Bupati Sukabumi yang telah ditandatangani pada tanggal 12 Juli 2001 dengan mengadopsi Program Pantai dan Laut Lestari, maka diusulkan Kabupaten Sukabumi menjadi PEMSEA GEF/UNDP/IMO Pararel Site. 2- Proses Integrated Coastal Management (ICM) Bali Demonstration Site a- Tahap Persiapan Membangun mekanisme pengelolaan proyek, meliputi kan- tor, fasilitas pendukung, staffing, klarifikasi keterkaitan kerja PMO dengan pemerintah daerah (4 kabupaten dan 1 kota), pelatihan staf dan anggaran. b- Tahap Inisiasi Penyiapan profil lingkungan (4 kabupaten dan 1 kota : identifikasi potensi, permasalahan lingkungan), membangun visi-misi, membangun rencana komunikasi dengan stake- holders. c- Tahap Pengembangan Menyiapkan Strategi Dasar Pengelolaan Pesisir (ICM) Bali Tenggara. d- Tahap Adopsi Ddopsi ICM Bali Tenggara oleh pemerintah 4 kabupaten dan
  26. 26. 2-26 1 kota, sosialisasi ICM Bali Tenggara kepada seluruh stake- holders. e- Tahap Implementasi Pelaksanaan strategi ICM Bali Tenggara di 4 kabupaten dan 1 kota. f- Tahap Penyempurnaan dan Konsolidasi Penyempurnaan terhadap ICM Bali Tenggaraberdasarkan implementasi lapangan dan pengembangan ICM Bali Teng- gara ke daerah-daerah lain disesuaikan dengan kondisi se- tempat. PEMSEA Demonstration Site Bali sampai dengan bulan Pebruari 2002, telah menyelesaikan tahap persiapan, tahap inisiasi dan tahap pengembangan, direncanakan pada saat PEMSEA Side Event di Bali tanggal 2 Juni 2002, akan masuk pada tahap adopsi, dan direncanakan pada akhir tahun 2004 akan sampai pada tahap penyempurnaan dan konsolidasi. Bersamaan dengan Acara Fourth Meeting of the Prepatory Committee for the World Summit on Sustainable Development, di Bali pada tanggal 27 Mei - 7 Juni 2002, telah diselenggarakan Pararel Event atas kerjasama antara Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi Bali, GEF dan PEMSEA, di Pantai Sanur pada tanggal 2 Juni 2002. Dalam acara tersebut dihadiri oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Wakil Gubernur Bali, Ketua DPRD Prop Bali, Kepala-kepala Daerah Kabupaten/Kota serta DPRD Kabupaten/kota se Bali, daerah-daerah lain di luar Bali seperti DKI Jakarta, Sukabumi, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Makassar, Sulawesi Utara dll serta undangan dari Delegasi Prepcom4. Acara utama dalam Pararel Event tersebut adalah : a- Penandatanganan Deklarasi Bali "Strategi Pengelolaan Pesisir dan Laut Wilayah Bali" oleh Bupati/Walikota dan Ketua DPRD se- Bali, Gubernur dan Ketua DPRD Provinsi serta Menteri Negara Lingkungan Hidup. b- Penandatanganan "Strategi Pengelolaan Pesisir Wilayah Bali Tenggara" oleh daerah-daerah yang melaksanakan Program PEMSEA, yaitu : Kabupaten Badung, Gianyar, Klungkung, Ka- rangasem dan Kota Denpasar serta Gubernur Bali. c- Laporan Pelaksanaan kegiatan ICM Demonstration Site di Bali, meliputi 4 kabupaten yaitu Badung, Gianyar, Klungkung, Karanga- sem dan 1 kota Denpasar, yang telah dimulai pada tanggal 8 Sep- tember 2000, direncanakan sampai dengan tahun 2004 (5 tahun), yang dikoordinasikan oleh Bapedalda Provinsi Bali.
  27. 27. 2-27 Diharapkan dengan ditandatanganinya Deklarasi Bali mengenai "Stra- tegi Pengelolaan Pesisir dan Laut Wilayah Bali", maka Kabupaten Bule- leng, Jembrana, Tabanan dan Bangli dapat segera mengikuti "langkah- langkah" pengelolaan wilayah pesisir dan laut yang telah dirintis oleh Kabupaten Badung, Gianyar, Klungkung, Karangasem dan Kota Den- pasar, yaitu : a- Tahap Persiapan : membangun mekanisme pengelolaan di kabu- paten/kota yang bersangkutan, meliputi kantor, fasilitas pendu- kung, staffing, klarifikasi keterkaitan kerja antar stakeholders, pela- tihan staf dan anggaran. b- Tahap Inisiasi : penyiapan profil lingkungan yang meliputi iden- tifikasi potensi, permasalahan lingkungan, membangun visi-misi, membangun rencana komunikasi dengan stakeholders di masing- masing kabupaten. c- Tahap Pengembangan : menyiapkan Strategi Dasar Pengelolaan Pesisir (ICM) di masingmasing kabupaten. d- Tahap Adopsi : adopsi ICM Bali Tenggara oleh pemerintah Kabu- paten Buleleng, Jembrana, Tabanan dan Bangli serta sosialisasi ICM tersebut kepada seluruh stakeholders. e- Tahap Implementasi : pelaksanaan strategi ICM di Kabupaten Bule- leng, Jembrana,Tabanan dan Bangli. f- Tahap Penyempurnaan dan Konsolidasi : penyempurnaan terhadap ICM berdasarkan implementasi lapangan dan pengembangan ICM di masing-masing daerah. Bersamaan dengan Acara Pararel Event, dibahas rencana Pararel Site untuk Kabupaten Sukabumi. Dengan memperhatikan potensi pesisir dan laut Kabupaten Sukabumi dan sebagai tindak lanjut MOU antara Menteri Negara Lingkungan Hidup / Kepala Bapedal dengan Bupati Sukabumi yang telah ditandatangani pada tanggal 12 Juli 2001 dengan mengadopsi Program Pantai dan Laut Lestari serta telah dipenuhinya persyaratan : a- kesiapan daerah (institusi, sumberdaya manusia, pendanaan) b- secara resmi diajukan oleh National Focal Point kepada Regional Programme Director PEMSEA c- mengadopsi ICZM Management Plan yang telah dikembangkan di lokasi ICM Demonstration Site yang disesuaikan dengan kondisi setempat, maka oleh pihak PEMSEA Coordinator Program, Kabupaten Sukabumi layak menjadi PEMSEA GEF/UNDP/IMO Pararel Site. Untuk itu direncanakan Tim Evaluasi Persiapan Pararel Site PEMSEA Management Office Manila akan mengadakan kunjungan dan pertemuan dengan seluruh stakeholders di Kabupaten Sukabumi, pada bulan Juli-Agustus 2002 dan diharapkan penandatanganan MOU antara Bupati Sukabumi de- ngan PEMSEA Coordinator Program akan dapat dilakukan pada bulan Oktober 2002.
  28. 28. 2-28

×