Ce diaporama a bien été signalé.
Nous utilisons votre profil LinkedIn et vos données d’activité pour vous proposer des publicités personnalisées et pertinentes. Vous pouvez changer vos préférences de publicités à tout moment.

Asam karboksilat dan turunannya dalam kehidupan

7 538 vues

Publié le

makalah ini adalah contoh-contoh senyawa yang ada di alam beserta sifat fisik dan kimia

Publié dans : Sciences
  • Login to see the comments

Asam karboksilat dan turunannya dalam kehidupan

  1. 1. KIMIA ORGANIK Nama: NOER AZIZAH NIM: 3325140700 PRODI KIMIA 2014 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
  2. 2. 1. Senyawa dari golongan alkana a. Struktur 1,2 dikloroetana b. Sifat fisik Cairan kental, tidak berwarna, memiliki aroma yang khas seperti kloroform, rasa manis. Berat molekul : 98,96 Titik didih : 182 ºF/83 ºC Titik nyala : 56 ºF/13 ºC Kerapatanrelatif (air = 1) 1,25. Kerapatan uap relatif pada suhu 20 C (air=1) 3,4 c. Sifat kimia 1,2-dikloro etana dapat berikatan dengan  Aluminium : Terbentuk suatu senyawa yang sensitif terhadap getaran  Amonia (cair) :Dapat terjadi ledakan hebat  Asam nitrat : Campuran kedua bahan ini mudah terpicu oleh panas, hentakan, atau gesekan.  Dimethylamino-propylamine :Dapat terjadi ledakan hebat  Dinitrogen tetroxide : Terbentuk suatu campuran yang sensitif terhadap getaran  Kalium : Terbentuk suatu senyawa yang sensitif terhadap getaran  Kaustik (kuat) : Bahaya ledakan dan terbakar  Logam : Dapat terbentuk karat bila suasana lembab  Logam (aktif) : Bahaya ledakan dan terbakar  Magnesium : Bahaya ledakan dan terbakar  Natrium : Bahaya ledakan dan terbakar  Oksidator (kuat) : Bahaya ledakan dan terbakar  Plastik, karet dan pelapis : Dapat rusak  Bahaya dekomposisi: Produk dekomposisi termal : fosgen, senyawa terhalogenasi, oksida karbon Polimerisasi : Tidak terpolimerisasi.
  3. 3. d. Kegunaan dalam kehidupan sehari-hari Pelarut untuk lemak, pelumas, lilin, gum, resin dan beberapa jenis karet; proses pembuatan asetil selulosa dan ekstrak tembakau. Sebagai fumigan serangga dan tanah. 2. Senyawa dari golongan alkena a. Struktur kimia dari 2 metil 2 butena Nama IUPAC : 2-methylbut-2-ene b. Sifat fisik dan kimia Sifat keterangan Struktur molekul C5H10 Berat molekul 70.1329 g/mol XLogP3 2.3 Donor hydrogen obligasi 0 Akseptor hydrogen obligasi 0 Perputaran obligasi 0 Massa 70.07825 g/mol Massa monoisotop 70.07825 g/mol Luas permukaan Topological Polar 0 A^2 Berat atom 5 Pengisisan Formal 0 Kompleksitas 38  Liquid (dalam temperature ruang)  2-metil-2-butena adalah cairan jernih yang tidak berwarna dengan bau seperti minyak bumi. Kurang padat dari air dan tidak larut dalam air. Oleh karena itu mengapung di atas air. Uap nya lebih berat dari udara.
  4. 4.  Titik didih : 37.5-38.5 ˚C  Titik leleh : -133.61 ˚C  Kelarutan : Praktis Insol dalam air; larut dengan alkohol, eter Larut dalam air; Larut dalam etanol, etil eter, benzena c. Kegunaan dalam kehidupan sehari-hari  bahan kimia pertanian (non-pestisida)  Bahan Bakar dan aditif bahan bakar  Intermediet 3. senyawa dari golongan alkuna a. struktur dari asetilena b. sifat fisik Nama umum Asetilena Nama sistematis Etuna Rumus kimia C2H2 Massa molar 26.0373 g/mol Angka CAS 74-86-2 Massa jenis 1.09670 kg/m3 (gas) Temperatur autosulutan 305 °C Ambang ledakan 2.5–82%
  5. 5. Temperatur maksimum pembakaran 3300 °C Titik lebur -84 °C Titik didih -80.8 °C c. sifat kimia  Pada asetilena kedua karbon terikat melalui ikatan rangkap tiga, dan masing-masing atom karbon memiliki hibridisasi orbital sp untuk ikatan sigma. Hal ini menyebabkan keempat atom pada asetilena terletak pada satu garis lurus, dengan sudut C-C-H sebesar 180°. Reaksi-reaksi Reppe Walter Reppe menemukan bahwa asetilena dapat bereaksi pada tekanan tinggi dengan katalis logam berat menghasilkan senyawa-senyawa yang penting dalam industri.  Asetilena bereaksi dengan alkohol, hydrogen sianida, hydrogen klorida atau asam karboksilat menghasilkan senyawa-senyawa vinil  Dengan aldehida menghasilkan diol etunil. Misalnya asetilena dan formaldehida menghasilkan 1,4 butunadiol sesuai reaksi dibawah ini, yang digunakan dalam industri HCCH + CH2O → CH2(OH)CCCH2OH
  6. 6.  Dengan karbon monoksida menghasilkan asam akrilat, atau ester akrilat, yang dapat digunakan untuk memproduksi kaca akrilat.  Siklisisasi menghasilkan benzena dan siklooktatetraena: d. Kegunaan dalam kehidupan sehari-hari 4. Senyawa dari golongan Alkohol a. Struktur dari sorbitol Sorbitol atau dikenal juga hexitol dengan rumus kimia C6H14O6. Sorbitol adalah senyawa monosakarida polyhidric alcohol. b. Sifat fisika  Specific gravity : 1.472 (-5˚C)  Titik lebur : 93˚C (Metasable form) 97,5˚C (Stable form)  Titik didih : 296˚C  Kelarutan dalam air : 235 gr/100 gr H2O  Panas Pelarutan dalam air: 20.2 KJ/mol  Panas pembakaran : 3025.5 KJ/mol c. Sifat Kimia Gas asetilena (etuna) digunakan untuk bahan bakar las. Ketika asetilena dibakar dengan oksigen maka dapat mencapai suhu 3000º C. Suhu tinggi tersebut mampu digunakan untuk melelehkan logam dan menyatukan pecahan-pecahan logam.
  7. 7.  Berbentuk kristal pada suhu kamar  Berwarna putih tidak berbau dan berasa manis  Larut dalam air, glycerol dan propylene glycol  Sedikit larut dalam metanol, etanol, asam asetat dan phenol  Tidak larut dalam sebagian besar pelarut organik d. Kegunaan Sorbitol dalam industri :  Bidang makanan Ditambahkan pada makanan sebagai pemanis dan untuk memberikan ketahanan mutu dasar yang dimiliki makanan tersebut selama dalam proses penyimpanan. Bagi penderita diabetes, sorbitol dapat dipakai sebagai bahan pemanis pengganti glukosa, fruktosa, maltosa, dan sucrosa. Untuk produk makanan dan minuman diet, sorbitol memberikan rasa manis yang sejuk di mulut.  Bidang Farmasi Sorbitol merupakan bahan baku vitamin C dimana dibuat dengan proses fermentasi dengan bakteri Bacillus suboxidant. Dalam hal lain, sorbitol dapat digunakan sebagai pengabsorpsi beberapa mineral seperti Cs, Sr, F dan vitamin B12. Pada konsentrasi tinggi sorbitol dapat sebagai stabilisator dari vitamin dan antibiotik.  Bidang Kosmetik dan pasta gigi Penggunaan sorbitol sangat luas di bidang kosmetika, diantaranya digunakan sebagai pelembab berbentuk cream untuk mencegah penguapan air dan dapat memperlicin kulit. Untuk pasta gigi, sorbitol dapat dipergunakan sebagai penyegar atau obat pencuci mulut yang dapat mencegah kerusakan gigi dan memperlambat terbentuknya karies gigi.  Industri Kimia Sorbitol banyak dibutuhkan sebagai bahan baku surfaktan seperti polyoxyethylene, Sorbitan fatt acid Esters dan Sorbitan fatty Acid Esters. Pada industri Polyurethane, sorbitol bersama dengan senyawa polyhidric alcohol lain seperti glycerol merupakan salah satu komposisi utama alkyl resin dan rigid polyurethane foams. Pada industri textil, kulit, semir sepatu dan kertas, sorbitol digunakan sebagai softener dan stabilisator warna. Sedangkan pada industri rokok sorbitol digunakan sebagai stabilisator kelembaban, penambah aroma dan menambah rasa sejuk. Aplikasi lain, sorbitol digunakan sebagai bahan baku pembuatan vitamin C. Negara-negara barat mengaplikasikan sorbitol sebagai bahan baku pembuatan vitamin C. 5. Senyawa dari golongan eter a. Struktur dari tetrahidrofuran
  8. 8. Nama IUPAC : Oksasiklopentana Nama lain : THF, tetrahidrofuran, 1,4-epoksibutana, butilena oksida, siklotetrametilena oksida, dietilena oksida, oksolana, furanidina, hidrofuran, tetra- metilena oksida Tetrahidrofuran, atau dikenal sebagai THF, adalah senyawa organik heterosiklik dengan rumus kimia (CH2)4O). Ia berupa cairan berviskositas rendah dan memiliki aroma seperti dietil eter. Ia termasuk dalam molekul eter yang paling polar. b. Sifat fisik Sifat Rumus molekul C4H8O Massa molar 72,11 g/mol Penampilan cairan tak berwarna Densitas 0,8892 g/cm3 @ 20 °C, cair Titik lebur -108,4 °C (164,75 K) Titik didih 66 °C (339,15 K) Kelarutan dalam air tercampur penuh Viskositas 0,48 cP pada 25 °C Struktur Bentuk molekul sampul Momen dipol 1,63 D (gas) c. Sifat Kimia  THF cenderung membentuk peroksida jika disimpan dalam udara. Oleh karena itu THF tidak boleh didistilasi sampai kering, yang dapat meninggalkan residu peroksida yang mudaj meledak. THF komersial sering memakai BHT untuk mencegah pembentukan peroksida.  THF adalah pelarut aprotik dengan tetapan dielektrik 7,6. Ia memiliki kepolaran yang sedang dan melarutkan berbagai macam senyawa nonpolar maupun polar.  THF dapat dipolimerisasikan menggunakan asam kuat, menghasilkan polimer linear yang disebut poli(tetrametilena eter) glikol (PTMEG), Nomor Registrasi CAS [25190-06-1], juga dikenal sebagai PTMO, politetrametilena oksida. d. Kegunaan tetrahidrofuren
  9. 9.  Hasil polimerisasi THF yaitu poli(tetrametilena eter) glikol (PTMEG) digunakan untuk membuat serat poliuretana elastomerik seperti Spandex  THF juga sering digunakan sebagai pelarut reagen Grignard karena atom oksigen pelarut dapat berkoordinasi dengan ion magnesium dari reagen Grignard. Atom oksigen pada THF juga tidak memiliki hidrogen asam yang dapat mengalami reaksi asam-basa dengan reagen Grignard. 6. Senyawa dari Alkil Halida a. Struktur halotan b. Sifat Fisik c. Sifat Kimia  kelarutan dalam air 4070 mg/L (at 25 °C)  Larut dengan petroleum eter, pelarut lemak lainnya  Stabilitas: Sensitif terhadap cahaya, dapat distabilkan dengan 0,01% timol.  Dekomposisi: Halotan terurai oleh sinar matahari dan harus disimpan dalam botol berwarna gelap.  Ketika dipanaskan terdekomposisi memancarkan asap sangat beracun / hidrogen fluorida, hidrogen klorida dan hidrogen bromida  Kovats Retensi Index Standar non-polar 541, 543, 533, 543, 533 Semi-standar non-polar 584,7, 555 Standard polar 858 e. Kegunaan Halotan  Densitas 1,875 g / cm3.  Titik didih 122,4 °F (50,2 °C)  Titik leleh -180 °F (50-50.5 °C)  Densitas Uap Berat jenis uap relatif (udara = 1): 2,87; Kepadatan relatif dari uap / udara campuran pada 20 ° C (udara = 1): 2,9  Tekanan uap 302 mmHg pada 25 °C (ekstrapolasi)  Halotan adalah cairan tidak berwarna sangat volatile dengan bau manis seperti kloroform. 2-Bromo-2-chloro-1,1,1-trifluoroethane C2HBrClF3
  10. 10. Halotan digunakan sebagai obat inhalasi anestesi umum untuk induksi dan pemeliharaan anestesi. Sehingga dapat mengurangi tekanan darah dan sering menurunkan denyut nadi dan menekan respirasi. Ini menyebabkan relaksasi otot dan mengurangi sensitivitas nyeri dengan mengubah rangsangan jaringan. Ia melakukannya dengan mengurangi tingkat kesenjangan junction kopling sel-sel dimediasi dan mengubah aktivitas saluran yang mendasari potensial aksi. Halotan adalah nonflammable, terhalogenasi, hidrokarbon dan umum inhalasi anestesi. Meskipun mekanisme yang tepat tindakan tidak diketahui, halotan memberikan induksi relatif cepat anestesi dengan menekan sistem saraf pusat, sehingga menghasilkan kerugian reversibel kesadaran dan sensasi. (NCI05) 7. Senyawa dari Aldehid a. Struktur dari Benzaldehide b. Sifat Fisik Benzaldehida (C6H5CHO) adalah sebuah senyawa kimia yang terdiri dari cincin benzena dengan sebuah substituen aldehida. Ia merupakan aldehida aromatik yang paling sederhana. Pada suhu kamar, ia berupa cairan tidak berwarna dengan aroma seperti badam (almond), namun berwarna kekuningan dalam penyimpanan. Sifat Fisik keterangan Penampilan cairan tidak berwarna Densitas 1,0415 g/ml, cair Titik lebur −26 °C ; -15 °F Titik didih 178,1 °C ; 354 °F (dengan tekanan 760 mmHg) Titik Nyala 145 ˚F, 63˚C (Closed cup) 73.9˚C (Open cup) Benzaldehyde (C7H6O) Benzenecarbaldehyde Nama lain: Fenilmetanal Benzenakarboksaldehida Benzoat aldehida
  11. 11. Kelarutan dalam air sedikit larut (0,6 wt pada 20 °C) Viskositas 1,4 cP pada 25 °C c. Sifat Kimia Benzaldehid (ArCHO) merupakan suatu aldehid (-COH) dengan gugus karbonnya adalah gugus benzena aromatik (Ar/aril). Pada gugus karbonil terdiri dari sebuah atom karbon sp2 yang dihubungkan ke sebuah atom oleh sebuah ikatan sigma dan sebuah ikatan –pi. Ikatan sigma gugus karbonil terletak dalam suatu bidang dengan sudut ikatan kira-kira 120º disekitar karbon sp2. Ikatan pi yang menghubungkan C dan O terletak di atas dan di bawah bidang ikatan–ikatan sigma tersebut. Gugus karbonil bersifat polar, dengan elektron-elektron dalam ikatan sigma, dan terutama elektron-elektron dalam ikatan pi, tertarik ke oksigen yang lebih elektronegatif. Oksigen gugus karbonil mempunyai dua pasang elektron menyendiri. Sedangkan gugus aromatik/benzena (Ar) bersifat non polar. Kekuatan non polar dari benzaldehid lebih besar daripada kepolarannya. Oleh sebab itu sifat dari benzaldehid ini secara keseluruhan adalah non polar tetapi dapat larut dalam air, kelarutannya sebesar 3,3 gram/Lt. Semua sifat-sifat struktural ini, misalnya saja kedataran, ikatan pi, polaritas dan adanya elektron menyendiri, mempengaruhi sifat dan kereaktifan gugus karbonil. Gugus aldehid dari benzaldehid ini akan membentuk ikatan hidrogen dengan pelarut yang memiliki gugus N ataupun O, atau dalam larutan benzaldehid itu sendiri. Sehingga titik didihnya sangat tinggi, yaitu sekitar 179 ºC dan titik lebur sebesar -26 ºC, dengan berat jenis 1,05 gram/mL. d. Kegunaan senyawa Benzaldehide  Sebagai bahan tambahan pangan untuk peningkat rasa dan aroma  pada industri kosmetik digunakan untuk pembuatan parfum  Digunakan sebagai pelarut, denaturants dan masking agent  Digunakan sebagai precursor pada industri farmasi  pada industri insektisida piretroid digunakan dalam pembuatan pigmen malachite green  sebagai pelarut untuk resin, minyak, dll  sebagai bahan kimia dalam bidang fotografi  sebagai pencerah pada proses electroplating seng 8. Senyawa dari Aromatik
  12. 12. a. Struktur dari Naftalena b. Sifat Fisik Naftalena adalah hidrokarbon kristalin aromatik berbentuk padatan berwarna putih dengan rumus molekul C10H8 dan berbentuk dua cincin benzena yang bersatu. Massa molar Kepadatan Titik lebur Titik didih Kelarutan dalam air 128,17052 g 1,14 g / cm ³ 80,26 ° C, 353 K, 176 ° F 218 ° C, 491 K, 424 ° F 30 mg / L c. Sifat Kimia  Naftalena bersifat volatil, mudah menguap walau dalam bentuk padatan.  Uap yang dihasilkan bersifat mudah terbakar.  Naftalena adalah salah satu komponen yang termasuk benzena aromatik hidrokarbon, tetapi tidak termasuk polisiklik.  Satu molekul napthalena merupakan perpaduan dari sepasang cincin benzena.  Ada dua set atom hidrogensetara: posisi alpha (posisi 1, 4, 5, dan 8), dan posisi beta (posisi 2, 3, 6, dan 7) pada gambar di bawah.  Sesuai dengan ikatan valensinya, napthalena mempunyai tiga struktur resonansi yaitu : Seperti benzena, naftalena dapat mengalami substitusi aromatik elektrofilik . Pada sebagian besar reaksi substitusi aromatik elektrofilik, naftalena bereaksi dalam (Bisiklo [4.4.0] deca-1-pentena ,3,5,7,9 atau bisiklo [4.4.0] deca-2,4,6,8,10-pentena) (C10H8)
  13. 13. kondisi lebih ringan daripada benzena. Sebagai contoh, benzena ataupun napthalena bila beraksi dengan klorin dengan menggunakan besi klorida atau aluminium klorida sebagai katalis, naftalena dan klorin dapat bereaksi untuk membentuk 1-chloronaphthalena bahkan tanpa menggunakan katalis. Benzena dan naphthalene juga dapat dialkilasi menggunakan reaksi Friedel-Crafts, naftalena juga dapat dialkilasi dengan mereaksikannya dengan alkena atau alkohol, menggunakan sulfat atau asam fosfat sebagai katalis. d. Kegunaan dari Naftalena  Naftalena digunakan sebagai reaksi intermediet dari berbagai reaksi kimia industri, seperti reaksi sulfonasi, polimerisasi, dan neutralisasi.  Naftalena juga berfungsi sebagai fumigan (kamper, dsb), surfaktan, dsb 9. Senyawa dari Keton a. Struktur dari metil isobutyl keton b. Sifat Fisik Metil isobutyl keton adalah cairan jernih yang tidak berwarna dengan bau yang menyenangkan. Titik nyala 73 ° F. Kurang padat daripada air. Uap nya lebih berat dari udara. Titik didih : 117-118 ° C 242 ° F 243-244 ° F (760 mmHg pada) Titik Leleh : -84,7 °C ; 120˚F Titik nyala : 73 ° F Densitas : 0.8042 pada 20°C /20°C Densitas Uap : 3,5 (udara = 1) 4-Metil-2-pentanon; METIL ISOBUTIL KETON; 4-Metilpentan-2-on; Isopropilaseton; Isobutil metil keton. C6H12O
  14. 14. Tekanan uap : 19,9 mm Hg pada 25°C c. Sifat Kimia  Larut dengan etanol, eter, aseton, benzena; larut dalam kloroform  Kelarutan dalam air, 19.000 mg / L pada 25°C d. Kegunaan dari metil isobutyl keton  Methyl isobutil keton digunakan sebagai pelarut untuk gusi, resin, cat, pernis, lak, dan nitroselulosa.  Methyl isobutil keton juga digunakan sebagai agen denaturing untuk alkohol didenaturasi.  MIBK digunakan sebagai pelarut untuk CS di penyusunan semprot CS digunakan saat oleh pasukan polisi Inggris. 10. Senyawa dari Ester a. Struktur dari amil asetat b. Sifat Fisik Kadar : 99,9% Berat molekul : 130 kg/kmol Titik didih : 148,4˚C Titik lebur : -70,8˚C Densitas (25˚C) : 0,879 kg/L c. Sifat Kimia Hidrolisis Amil asetat dapat terhidrolisis dengan adanya air menjadi asam asetat dan amil alkohol. CH3COOC5H11+ H2O → CH3COOH + C5H11OH Amonolisis pentil asetat CH3COOC5H11 Nama lain Asam asetat n-amil ester; Asam asetat pentil ester; n- Amyl acetate; amil etanoat; minyak Pear; pentil etanoat; Amil ester asetat; Amil eter asetat; 1-Pentanol asetat.
  15. 15. Amonia dan amil asetat bereaksi membentuk amil alkohol dan amida. CH3COOC5H11+ NH3→ CH3CONH2+ C5H11OH Transesterifikasi Jika amil asetat direaksikan dengan alkohol asam atau ester yang lain dalam keadaan panas, maka gugus alkohol atau asamnya berubah (transesterifikasi). Perubahan gugus alkohol (alkoholisis) CH3COOC5H11+ ROH ↔ CH3COOR + C5H11OH Perubahan gugus asam (asidolisis) CH3COOC5H11+ RCOOH ↔ RCOOC4H9+ CH3COOH Pertukaran ester-ester (transesterifikasi) CH3COOC5H11+R1COOR2↔CH3COOR2+R1COOC5H11 d. Kegunaan Amil Asetat  Sebagai solvent atau pelarut dalam industry pembuatan selulosa nitrat, etil selulosa, dan polivinil asetat.  Sebagai bahan baku untuk pemberi flavor  Sebagai bahan pembantu untuk penyamaan kerajinan kulit, dan sebagai obat untuk sablon tekstil.  Digunakan untuk ekstraksi pada pemurnian pembuatan pinisilin atau antibiotic.  Sebagai bahan campuran oleh industry-industri farmasi 11. Senyawa dari amina a. Struktur dari senyawa Morfina b. Sifat fisik  Kristal halus atau serbuk kristal warna putih  Morfin adalah alkaloid analgesik yang sangat kuat dan merupakan agen aktif utama yang ditemukan pada opium Bobot molekul : Rata rata 285.3377 g/mol Monoisotopic : 285.136493479  Titik leleh : 255 °C 7,8 Didehydro-4-5-epoxy-17- methylmorphinan-3,6 diol (C17H19NO3 )
  16. 16.  Morfin rasanya pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau dalam bentuk cairan berwarna. c. Sifat kimia  Morfin mempunyai lima pusat asimetrik (karbon 5,6,9,13, dan 14), tetapi hanya 16 (8 pasangan rasemik diastereoisomer) dan bukan 32 (25) isomer yang mungkin, karena atom 10 dan 12 harus cis, jadi 1,3-diaksial, dibandingkan terhadap cincin piperidin (D). Stereokimia relatif pada kelima pusat itu direduksi secara tepat oleh Stork pada tahun 1952.  Peristilahan klasik (misalnya morfin, kodein) digantikan oleh tatanama sistemik yang didasarkan pada inti morfinan dengan mempertahankan sistem penomoran fenantren. Jadi morfin sekarang disebut (Cemical Abstract) 17-metil-7,8- didehidro-4,5α-epoksimorfinan-3,6α-diol ; dimana α menunjukan orientasi trans terhadap jembatan 15, 16, 17 yang berhubungan dengan sistem cincin ABC.  Sifat reaksi morfin sebagai alkaloid bersifat basa karena mengandung gugus amin tersier (pKa ≈ 8,1) dan membentuk garam berbentuk Kristal dengan sederetan asam. Yang digunakan adalah garam hidroksida yang mengandung tiga molekul air Kristal ( morfin hidroksida pH, Eur).  Berdasarkan gugus hidroksil fenolnya morfin juga bersifat asam ( pKa = 9,9) dan bereaksi dengan alkalihidroksida membentuk fenolat, tetapi tidak bereaksi dengan larutan ammonia.  Titik isolistrik terletak pada pH 9.  Morfin yang terdapat dalam alam memutar bidang polarisasi ke kiri. d. Kegunaan  Morfin, terutama digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri yang hebat yang tidak dapat diobati dengan analgetik non narkotika. Apabila rasa nyeri makin hebat maka dosis yang digunakan juga makin tinggi. Semua analgetik narkotika dapat menimbulkan adiksi (ketagihan). Morfin juga digunakan untuk mengurangi rasa tegang pada penderita yang akan dioperasi.  Dalam pengobatan klinis, morfin dianggap sebagai standar emas, atau patokan, dari analgesik digunakan untuk meringankan penderitaan berat atau sakit dan penderitaan . Seperti opium lain, misalnya oksikodon (OxyContin, Percocet, Percodan), hidromorfon (Dilaudid, Palladone), dan diacetylmorphine ( heroin ),
  17. 17. morfin langsung mempengaruhi pada sistem saraf pusat (SSP) untuk meringankan rasa sakit . 12. Senyawa dari Amida a. Struktur dari Sulfonamida b. Sifat Fisik  Sulfonamide berbentuk Kristal putih yang umumnya sukar larut dalam air, tetapi garam natriumnya mudah larut c. Sifat Kimia  Bersifat amfoter, karena itu sukar di pindahkan dengan acara pengocokan yang digunakan dalam analisa organik.  Mudah larut dalam aseton, kecuali Sulfasuksidin, Ftalazol dan Elkosin  Umumnya tidak melarut dalam air, tapi adakalanya akan larut dalam air anas. Elkosin biasanya larut dalam air panas dan dingin.  Tidak larut dalam eter, kloroform, petroleum eter.  Larut baik dalam aseton.  Sulfa – sulfa yang mempunyai gugus amin aromatik tidak bebas akan mudah larut dalam HCl encer. Irgamid dan Irgafon tidak lariut dalam HCl encer.  Sulfa – sulfa dengan gugusan aromatik sekunder sukar larut dalam HCl, misalnya septazin, soluseptazin, sulfasuksidin larut dalam HCl, akan tetapi larut dalam NaOH.  Sulfa dengan gugusan –SO2NHR akan terhidrolisis bila dimasak dengan asam kuat HCl atau HNO3. d. Kegunaan  Sulfanamida adalah anti mikroba yang digunakan secara sistemis maupun topikal untuk beberapa penyakit infeksi. Sulfanomida sebagai kemoterapi derivat sulfonamida dan juga berguna sebagai diuretik dan anti diabetik oral (ADO).  Penggunaan oral sulfonamid dan senyawa-senyawa kombinasinya yakni sebagai a. Infeksi saluran kemih: sulfametizole, sulfafurazol, dan kotrimoksazol sering digunakan sebagai desinfektan gangguan saluran kemih bagian atas yang menahun. H2N-C2H-SO2NHR
  18. 18. b. Infeksi mata: sulfasetamida, sulfadikramida, dan sulfametizole digunakan sebagai infeksi mata disebabkan oleh kuman-kuman yang peka terhadap sulfonamid. c. Radang usus: sulfasalazin: khusus digunakan pada penyakit radang usus kronis Crohn dan Colitis. d. Malaria topica e. Radang otak 13. Senyawa dari asam karboksilat a. Struktur dari asam format b. Sifat Fisik Asam format adalah cairan tidak berwarna dengan bau yang menyengat. Titik nyala : 156 ° F. Kepadatan : £ 10,2 / gal. Merusak logam-logam dan jaringan Berat Molekul : 46.02538 g/mol Titik leleh : 8.3 °C ; 47.1 °F Titik didih : 101 ˚C ; 213.3 °F (pada 760 mmHg) c. Sifat Kimia  Larut dengan eter, aseton, etil asetat, metanol, etanol; sebagian larut dalam benzena, toluena, xilena.  Larut sekitar 10% dalam benzena, toluena, dan xilena, dan pada tingkat lebih rendah di hidrokarbon alifatik.  Asam format atau asam semut merupakan asam paling kuat asam-asam karboksilat lainnya dengan nilai pKa 3,75 serta mempunyai gugus asam dan aldehid  Campuran Asam formiat dan air membentuk campuran azeotrop (yaitu campuran larutan yang mempunyai titik didih mendekati titik beku) dengan kandungan maksimum Asam formiat 77,5 % pada tekanan atmosfer.  Asam formiat akan terdekomposisi menjadi Karbon dioksida dan air pada temperatur 100 oC atau dalam temperatur kamar bila ditambahkan katalis Palladium. Asam format; Asam metanoat; Asam Formylic; Asam Aminic; Hidrogen asam karboksilat; Formisoton (CH2O2)
  19. 19.  Asam formiat terhidrasi oleh Asam sulfat pekat dan menghasilkan Karbon monoksida dan air.  secara ideal struktur karbonil senyawa asam formiat mencerminkan ikatan hydrogen yang kuat antara molekul-molekul asam karboksilat (kira-kira 10 kkal/mol untuk 2 ikatan hydrogen), maka asam karboksilat ini sering dijumpai dalam bentuk dimer asam karboksilat / bahkan dalam fasa uap d. kegunaan -asam formiat digunakan sebagai bahan koagulan untuk meng koagulasi karet dari lateks. -Pada industri kulit, asam formiat digunakan dalam proses penyamakan kulit yaitu sebagai bahan pembersih zat kapur dan pengatur pH saat pencelupan -Conditioner Pada Proses Pencelupan Tekstil digunakan sebagai bahan kimia pembantu dalam proses pencelupan atau pewarnaan anti kusut dan anti ciut. -Silase Untuk pencampuran pada makanan ternak -Pada peternakan, asam formiat untuk mengawetkan membunuh bakteri yang terdapat pada makanan ternak. Apabila disemprotkan pada jerami, asam formiat dapat menahan proses pembusukan dan membuat makanan ternak dapat mempertahankan nutrisinya lebih lama. 14. Senyawa dari Anhidrida Asam a. struktur dari maleat anhidrida cis-butenadioat anhidrida, anhidrida toksilat, dihidro-2,5-dioksofuran (C4H2O3 )
  20. 20. b. Sifat Fisik Maleic Anhydride ( C4H2O3 ) · Nama Sintetis : Maleat Anhidrida · Berat Molekul : 98,1 gr/mol · Titik Leleh : 60 oC · Titik Didih : 202 oC · Density ( 20 oC ) : 1,314 gr/m3 · Titik Nyala : 102 oC · Produk : Berbentuk kristal putih · Kelarutan : larut dalam air sebesar 16% (30 oC) larut dalam aseton, eter, klorofom, dan petroleum · Bahaya Utama : Korosi · Dalam keadaan murni tidak berwarna atau berwarna putih padat dengan bau yang tajam. c. Sifat Kimia Terdapat banyak reaksi kimia yang dapat dilakukan oleh maleat anhidrida yaitu  Hidrolisis, menghasilkan asam maleat, cis-HO2CCH=CHCO2H. Dengan alkohol, menghasilkan setengah ester, cis-HO2CCH=CHCO2CH3.  Maleat anhidrida merupakan dienofil dalam reaksi Diels-Alder  Maleat anhidrida (MA) adalah ligan yang baik untuk kompleks logam bervalensi rendah, misalnya Pt(PPh3)2(MA) dan Fe(CO)4(Maleat Anhidrida).  Maleat anhidrida mempunyai sifat kimia khas yaitu adanya ikatan etilenik dengan gugus karbonil didalamnya, ikatan ini berperan dalam reaksi adisi. e. Kegunaan ( Maleic Anhydride ) Dapat digunakan sebagai poliester. Dikembangkan menjadi alkil pembentuk resin. Penyubur tanah.
  21. 21. Pengering minyak.  Poliester resin. Memperpanjang interval ganti oli dan meningkatkan efisiensi mesin otomotif  Penggunaan utama dari anhidrida maleat dalam pembuatan polyester dan resin alkid. Resin ini ditambahkan ke fiberglass diperkuat plastik untuk membuat bahan tahan yang kuat, ringan, dan korosi yang ditemukan dalam perahu, mobil, truk, pipa dan barang listrik.  Dalam kapasitas sekunder, anhidrida maleat yang digunakan dalam pembuatan lak, aditif lube-minyak, dan produk pertanian. 15. Senyawa dari nitril a. Struktur dari asetonitril b. Sifat Fisik  Asetonitril merupakan cairan tidak berwarna dengan bau aromatik. Kurang padat daripada air. Uapnya lebih padat daripada udara.  Titik Didih : 82˚C  Titik leleh : -46˚C  Titik nyala : 42˚F  Densitas : 0,783 g/cm3  Konstanta dielektrik : 37  Massa jenis : 0,786 g/ml  Berat Molekul : 41.05192 g/mol  Kelarutan dalam air : > 800 g / L pada 25˚C  Densitas Uap : 1.42 (Air = 1)  Tekanan uap : 88,8 mm Hg pada 25˚C  Viskositas : 0,35 cP pada 20˚ C  Larut dengan metanol, metil asetat, etil asetat, eter, solusi asetamida, kloroform, karbon tetraklorida, etilen klorida, dan dengan hidrokarbon tak jenuh; bercampur dengan hidrokarbon jenuh (fraksi minyak bumi).  Larut dalam alkohol  Larut dengan etanol, dietil eter, aseton, benzen ACETONITRILE; Sianida metil; sianomethana; etananitril; Etil nitrile Methana karbonitrile;
  22. 22. c. Sifat Kimia Asetonotril, CH3CN, memiliki polaritas dan momen dipol besar dengan konstanta dielektrikum 36. Dari sifat dasar tersebut maka kelarutan solut pada asetonitril meningkat dengan meningkatnya polaritas anion. Kelarutan garam dengan ukuran kecil cenderung lebih rendah daripada kelarutan garam dengan anion berukuran besar. Asetonitril mampu membentuk kompleks relatif kuat dengan solutya dengan pendonoran dari atom N, sama halnya dengan pelarut NH3. Contohnya terjadi pada pelarutan HgI2. Polimerisasi : Sebuah campuran asetonitril dan asam sulfat pada pemanasan (atau pemanasan sendiri) ke 53 derajat Celsius mengalami reaksi eksotermis tak terkendali sampai 160 derajat Celsius dalam beberapa detik. Kehadiran 28% mol dari sulfur trioksida mengurangi suhu inisiasi untuk sekitar 15 derajata Celsius. Polimerisasi nitril terjadi. d. Kegunaan  Asetonitril terutama digunakan sebagai pelarut dalam pembuatan obat-obatan, untuk serat pemintalan dan untuk casting dan molding dari bahan plastik, dalam baterai lithium, untuk ekstraksi asam lemak dari minyak hewani dan nabati, dan di laboratorium kimia untuk mendeteksi bahan seperti residu pestisida.  Asetonitril juga digunakan dalam pencelupan tekstil dan dalam komposisi lapisan sebagai stabilizer untuk pelarut diklorinasi dan dalam produksi parfum sebagai perantara kimia. 16. Senyawa dari Halida Asam a. Struktur dari Asetil klorida ASETIL KLORIDA; Etanoil klorida; Klorida asetat; Acetylchloride; 75-36-5; Asam klorida asetat;
  23. 23. b. Sifat fisik  Pada suhu dan tekanan kamar, asetil klorida merupakan cairan tak berwarna dan bau yang menyengat.  Asetil klorida (CH3 COCl) merupakan senyawa organik turunan asam asetat yang gugus hidroksilnya diganti oleh klor. Senyawa ini berbentuk cair, tidak berwarna, larut dalam eter, aseton dan asam asetat, mudah bereaksi dengan air dan alkohol. Senyawa ini mudah terbakar, beracun, korosif terhadap kulit dan menyebabkan iritasi pada mata.  Titik didih : 51°C  Titik leleh : -112°C  Titik nyala : 40 °F  Berat molekul : 78.49762 g/mol  Densitas : £ 9,2 / gal  Tekanan uap : 287 mm Hg @ 25°C  Kelarutan : Larut dengan benzena, kloroform, eter, asam asetat glasial, petroleum eter  Bentuk Sol dalam asam asetat yang dapat merusak logam-logam dan jaringan. c. Sifat kimia Asetil klorida bukan senyawa alamiah karena akan bila bereaksi dengan air, senyawa ini akan terhidrolisis menjadi asam asetat dan asam klorida. Sintesis kimiawinya dilakukan dengan mereaksikan tionil klorida dan asam asetat H3C- COO-H + O=SCl2 → H3C-COCl+ SO2 + H-Cl dan digunakan sebagai reagen untuk asetilasi dalam sintesis atau penurunan senyawa kimia. Contoh reaksi asetilasi dengan asilasi seperti esterfikasi dan reaksi Friedel-Crafts.H3C-COCl + HO-CH2-CH3 → H3C- COO-CH2-CH3 + H-Cl d. Kegunaan
  24. 24. Kegunaan dari asetil klorida adalah untuk sintesis senyawa organik yang lain (acetylating agent), menguji kolesterol, menentukan adanya air pada cairan organik dan dalam dunia farmasi [4]. Karena senyawa ini sangat mudah bereaksi dengan air, maka tidak pernah terdapat bebas di alam dan untuk mendapatkannya harus dibuat secara sintesis. Sintesis asetil klorida dapat dilakukan dengan mereaksikan asam asetat dengan tionil klorida (SOCl2 ) atau dengan fosfor triklorida (PCl3 ) ataupun dengan fosfor penta klorida (PCl5 ) [6] dan [3].

×