Ce diaporama a bien été signalé.
Nous utilisons votre profil LinkedIn et vos données d’activité pour vous proposer des publicités personnalisées et pertinentes. Vous pouvez changer vos préférences de publicités à tout moment.

Bab, i, ii, iii, iv, v copy

9 140 vues

Publié le

Skripsi

Publié dans : Formation
  • Dating for everyone is here: ♥♥♥ http://bit.ly/36cXjBY ♥♥♥
       Répondre 
    Voulez-vous vraiment ?  Oui  Non
    Votre message apparaîtra ici
  • Dating direct: ♥♥♥ http://bit.ly/36cXjBY ♥♥♥
       Répondre 
    Voulez-vous vraiment ?  Oui  Non
    Votre message apparaîtra ici

Bab, i, ii, iii, iv, v copy

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kemampuan membaca adalah salah satu fungsi kemanusiaan yang tertinggi dan menjadi pembeda manusia dengan makhluk lain. Di dunia modern saat ini, kemampuan membaca dapat menentukan kualias seorang manusia. Banyak membaca dapat menjadikan seseorang memiliki ilmu pengetahuan luas, bijaksana, dan memilik nilai-nilai lebih dibandingkan orang yang tidak membaca sama sekali, sedikit membaca atau hanya membaca bacaan tidak berkualitas. Baca atau membaca dapat dirtikan sebagai kegiatan menelusuri, memahami, hingga mengeksplorasi berbagai simbol. Simbol dapat berupa rangkaian huruf-huruf, dalam suatu tulisan atau bacaan, bahkan gambar. Walaupun membaca diartikan demikian, tetapi secara khusus membaca diartikan mengerti tulisan. Sekarang bagaimana menjadikan anak mampu membaca dengan baik? Untuk menjadikan anak mampu membaca yang terpenting dilakukan orangtua dan guru adalah memilih media atau sarana yang dapat membantu mengasah kemampuannya dengan cara yang menyenangkan. Pendidikan di Taman Kanak-Kanak dilaksanakan dengan prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain sesuai dengan perkembangan anak didik. Pelaksanaan pendidikan tersebut harus terencana,
  2. 2. 2 terprogram dan tetap memperhatikan tingkat perkembangan anak. Penggunaan strategi, metode, sumber dan media belajar mengajar harus disesuaikan dengan kebutuhan, minat dan kemampuan anak didik. Membaca dalam proses pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Membaca merupakan sarana utama bagi seorang anak untuk mengasah keingintahuannya. Anak-anak yang memiliki kemampuan membaca yang baik pada umumnya memiliki kemampuan yang baik pula dalam mengungkapkan pikiran, perasaan serta tindakan interaktif dengan lingkungannya. Oleh karena itu, perkembangan kemampuan membaca anak dalam proses pembelajaran harus memperoleh perhatian yang serius bagi pendidik (utamanya guru dan orangtua atau keluarga). Perkembangan kemampuan membaca anak dapat diamati melalui kemampuan bercerita, bercakap-cakap, membaca puisi dan sebagainya, yang kesemuanya ini dapat diperoleh dari berbagai sumber baik melalui bahan bacaan, diceritakan orang lain atau mendengar siaran-siaran media masa baik lewat radio atau televisi. Upaya untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak di Taman Kanak- Kanak dapat dilakukan melalui berbagai cara dan tahapan-tahapan tertentu. Dalam rangka untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka perlu adanya usaha yang harus dilakukan secara bertahap. Karena membaca merupakan proses yang lebih rumit dibandingkan dengan proses komunikasi lisan. Hal tersebut menunjukkan rendahnya tingkat penguasaan materi anak terhadap pembelajaran. Dari 18 anak yang berhasil hanya 5 anak, baru mencapai 25%.
  3. 3. 3 Itu yang terjadi di TK Santa Theresia Danga Mbay Kec. Aesesa Kab. Nagekeo. Oleh karena itu usaha awal yang harus ditempuh guru TK Santa Theresia Danga Mbay membentuk kebiasaan dan kegemaran membaca melalui media yang dipilih dengan tujuan anak dapat tertarik minat bacanya sejak dini. Media itu adalah Stiker Huruf agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tentunya lebih meningkatkan hasil kemampuan membaca siswa di TK Santa Theresia Danga Mbay dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) agar mencapai ketuntasan > 75%. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis mengambil judul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Anak Usia 5 Tahun melalui Media Stiker Huruf di TK Santa Theresia Danga Mbay”. Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran aspek bahasa mengalami berbagai masalah yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam memahami materi. Dari kejadian tersebut penulis mendiskusikan dengan teman sejawat sehingga diperoleh hasil identifikasi masalah sebagai berikut : 1. Guru terlalu lama memberikan materi. 2. Guru kurang menyediakan fasilitas pembelajaran yang berupa alat peraga. 3. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran. 4. Siswa kurang respon terhadap pertanyaan guru. 5. Hanya siswa yang pandai yang cepat selesai mengerjakan tugasnya. Untuk menghindari pengembangan masalah yang terlalu luas, maka penelitian ini dibatasi permasalahannya yaitu yang berkaitan dengan
  4. 4. 4 meningkatkan kemampuan membaca anak usia 5-6 tahun melalui Media Stiker Huruf di TK. Penelitian ini dikenakan pada anak dengan jumlah 18 di TK Santa Theresia Danga Mbay. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Bagaimana meningkatkan pemahaman anak dalam membaca melalui Media Stiker Huruf? C. PEMECAHAN MASALAH Berdasarkan uraian di atas penulis merumuskan pemecahan masalah pembelajaran dalam kelas, proses pemecahan masalah tersebut dilakukan secara bersiklus dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil pembelajaran di kelas tertentu (Arikunto, 2008). Model siklus yang digunakan dalam penelitian ini adalah model yang dikembangkan( Arikunto, 2008 : 3), yang terdiri dari: 1. Perencanaan 2. Tindakan 3. Pengamatan atau observasi 4. Refleksi Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus. D. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 1. Tujuan Penelitian
  5. 5. 5 Setiap tindakan ataupun kegiatan manusia di dunia pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Efektivitas anak melalui Media Stiker Huruf dalam meningkatkan kemampuan membaca anak di TK Santa Theresia Danga Mbay. 2. MANFAAT PENELITIAN Dengan adanya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan perbaikan pembelajaran, diperoleh banyak sekali manfaat bagi siswa, guru dan sekolah. 1. Secara Teoritis a. Sebagai pendorong untuk meningkatkan pelaksanaan pendidik sehingga dapat menjadi produk pengetahuan bagi orangtua dan guru. b. Sebagai informasi pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak terutama membaca. 2. Secara Praktis a. Manfaat bagi siswa 1. Meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar anak dalam aspek pembelajaran bahasa. 2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep perkembangan bahasa yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. b. Manfaat bagi guru 1. Memperoleh wawasan dalam memilih dan menggunakan alternatif pembelajaran yang tepat dalam menyampaikan materi bahasa, khususnya membaca.
  6. 6. 6 2. Menambah wawasan dan kemampuan guru dalam melaksanakan perencanaan dan evaluasi kemampuan siswa. 3. Dapat memperbaiki proses pembelajaran dan mengembangkan profesionalisme keguruan. c. Manfaat bagi sekolah 1. Siswa yang bersangkutan akan lebih maju karena siswa dan gurunya sama-sama memiliki kemampuan yang bagus. 2. Sekolah tidak akan enggan atau ragu untuk melengkapi fasilitas sarana dan prasaran demi tuntutan kemajuan zaman. 3. Sekolah dipercaya dan didukung oleh masyarakat jika mutu atau SDM siswa dan gurunya bagus.
  7. 7. 7 BAB II KERANGKA TEORITIK A. MEMBACA 1. Pengertian Membaca Membaca merupakan salah satu aspek penting yang diajarkan, karena kegiatan membaca merupakan kegiatan yang kompleks dan melibatkan berbagai keterampilan. Hal ini ditegaskan oleh Grellt (dalam Muchlisoh dkk, 1992:119), bahwa “kegiatan membaca adalah semacam dialog antara pembaca dan penulis, tanpa kecuali anak usia dini, dan kemampuan membaca mempengaruhi kemampuan berbicara, sehingga dapat dikatakan bahwa membaca merupakan aspek kebahasaan yang berfungsi sebagai pintu awal dalam membuka cakrawala berpikir seseorang”. Demikian pula menurut Flood dan Lapp (1981:350), bahwa “membaca merupakan suatu proses berpikir yang mana pembaca menjadi partisipan aktif”. Anderson yang dikutip oleh Tarigan (1986:8), menjelaskan bahwa “membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan melalui media kata- kata, di mana kata-kata tersebut merupakan satu kesatuan yang dapat dilihat dan mempunyai makna. Proses membaca dimulai dari keinginan anak untuk memahami dan melafalkan huruf sehingga menjadi rangkaian kata-kata yang penuh makna.
  8. 8. 8 Oleh karena itu, permulaan membaca bagi anak di Taman Kanak- Kanak harus memperoleh perhatian sungguh-sungguh dari pendidik, sehingga anak menyadari bahwa dengan membaca anak-anak dapat memperoleh berbagai pengetahuan dan informasi dari media cetak, dan pada akhirnya mereka dapat menginformasikan dan mengkomunikasikan itu kepada orang lain. 2. Jenis-jenis Membaca Menurut Tarigan (1984:11) jenis membaca tampak seperti pada bagan berikut. Membaca terdiri atas : a. Membaca nyaring Membaca nyaring sering kali disebut membaca bersuara atau membaca teknik. Disebut demikian karena pembaca mengeluarkan suara secara nyaring pada saat membaca. b. Membaca dalam hati. Membaca dalam hati, terdiri atas : 1) Membaca ekstensif Membaca Ekstensif, terdiri atas : membaca survey, membaca sekilas dan membaca dangkal. Membaca ekstensif merupakan proses membaca yang dilakukan secara luas. Luas berarti (1) bahan bacaan beraneka dan banyak ragamnya; (2) waktu yang digunakan cepat dan singkat. Tujuan membaca ekstensif adalah sekadar memahami isi yang penting dari bahan bacaan dengan waktu yang cepat dan singkat.
  9. 9. 9 2) Membaca intensif. Membaca Intensif : membaca telaah isi, membaca telaah bahasa. Membaca Telaah Isi : membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis, membaca ide-ide. Membaca Telaah Bahasa : membaca bahasa, membaca sastra. Membaca intensif adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara saksama dan merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan dan mengasah kemampuan membaca secara kritis. Membaca intensif merupakan studi saksama, telaah teliti, serta pemahaman terinci terhadap suatu bacaan sehingga timbul pemahaman yang tinggi. Membaca intensif dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa. Membaca telaah isi meliputi membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis, dan membaca ide, sedangkan membaca telaah bahasa meliputi membaca bahasa dan membaca sastra. 3. Tahapan Membaca Secara khusus, Flood dan Laap (1981:350), mengidentifikasi tahap-tahap perkembangan kemampuan membaca pada anak yakni: “(1) tahap fantasi (magical stage), (2) tahap pembentukan konsep diri (self concept stage), (3) tahap membaca gambar (bridging reading stage), (4) tahap pengenalan bacaan (teke-off reader stage), dan (5) tahap membaca
  10. 10. 10 lancar (independent reader stage)”. Tahapan-tahapan tersebut dapat dijelaskan berikut ini. a. Tahap Fantasi (magical stage) Pada tahap ini anak mulai menggunakan buku, mulai berpikir bahwa buku ini penting, melihat atau membolak-balikkan dan kadang- kadang anak membawa buku kesukaannya. Pada tahap pertama, orang tua atau guru dapat memberikan atau menunjukkan model/contoh tentang perlunya membaca, membacakan sesuatu pada anak, membicarakan buku pada anak. b. Tahap Pembentukan Konsep Diri (self concept stage) Pada tahap kedua, orang tua atau guru memberikan rangsangan dengan jalan membacakan sesuatu pada buku-buku yang diketahui anak-anak. Orang tua atau guru juga hendaknya melibatkan anak membacakan berbagai buku. c. Tahap Membaca gambar (bridging reading stage) Pada tahap ketiga, orang tua dan guru membacakan sesuatu pada anak-anak, menghadirkan berbagai kosa kata pada lagu dan puisi, memberikan kesempatan menulis sesering mungkin. d. Tahap Pengenalan Bacaan (take-of reader stage) Pada tahap keempat, orang tua dan guru masih harus membacakan sesuatu untuk anak-anak sehingga mendorong anak
  11. 11. 11 membaca sesuatu pada berbagai situasi. Orang tua dan guru juga jangan memaksa anak membaca huruf secara sempurna. e. Tahap Membaca Lancar (independent reader stage) Pada tahap ini, orang tua dan guru masih tetap membacakan berbagai jenis buku pada anak-anak. Tindakan ini mendorong anak agar dapat memperbaiki bacaannya. Membantu menyeleksi bahan-bahan bacaan yang sesuai serta mengajarkan cerita yang berstruktur. 4. Metode Membaca Berdasarkan cara penyampainnya, membaca terbagi dalam tiga kelompok sebagai berikut: a. Sekuensial Pada cara ini, membaca dilakukan per bagian kata. Metode ini tepat diajarkan pada anak-anak yang dominan menggunakan otak kirinya. Pendekatan dilakukan secara Media Stiker Huruf, mengenalkan masing-masing huruf, bunyi, suku kata dan menyusunnya menjadi kata. Berikut ini beberapa metode membaca yang digolongkan ke dalam pengajaran sekuensial. 1) Fonik Anak diperkenalkan dan diajarkan bunyi huruf dan memnyusunnya menjadi kata. Misalnya, anak diperkenalkan dengan bunyi vocal bulat (seperti a,u,dan o) beberapa konsonan bilabial (seperti b,p, dan m)dan konsonan dental (seperti t). huruf-
  12. 12. 12 huruf tersebut lazim diucapkan anak yang belajar bicara, seperti ta-ta-ta, ma-ma-ma atau pa-pa-pa. 2) Mengeja Memtode ini diperkenalkan abjad satu per satu terlebih dahulu, kemudian menghafalkan bunyinya. Langkah selanjutnya, menghafal bunyi rangkaian abjad atau huruf menjadi sebuah suku kata seperti metode fonik. Metode ini mempunyai kelemahan yaitu dapat menimbulkan kebingungan kepada anak, khususnya balita. Kadang, mereka sulit menerima mengapa rangkaian huruf b dan a harus dibaca ba (bukan be-a). kelemahan lain, anak suli menghilangkan kebiasaan mengeja setelah menguasai rangkaian suku kata. Misalnya proses mengeja be a ba de u du sulit dihilangkan untuk membaca badu. 3) Suku kata Metode ini mulai banyak digunakan karena tingkat keberhasilan cukup baik. Anak diperkenalkan dengan penggalan suku kata, kemudian dirangkai menjadi satu kata. Contoh : Ba bi bu be bo Ca ci cu ce co Ba ca bo bo
  13. 13. 13 Keunggulan metode ini merupakan salah satu cara yang paling banyak digunakan saat ini karena kepraktisannya. Karena metode ini tidak memerlukan waktu untuk mengeja terlebih dahulu . b. Simultan Mengajarkan membaca secara langsung, yaitu seluruh kata atau kalimat dengan sistem “lihat dan ucapkan”. Gagasan yang mendasari metode ini adalah membentuk hubungan antara yang dilihat dengan yang didengarnya sehingga membentuk suatu rantai kaitan memntal seperti yang dilakukan orang dewasa ketika membaca. Olah karena itu, cara ini cenderung diperuntukkan bagi anak-anak yang dominasi otak kanannya menonjol baik. Berikut ini beberapa metode yang termasuk metode simultan. 1) Membaca gambar Pada metode ini disajikan suatu gambar dan kata yang menunjukkan kata gambar tersebut. Cara ini menggunakan pendekatan permainan, misalkan mengenalkan bahwa suatu gambar “kucing” berhubungan dengan huruf-huruf “kucing”. 2) Kartu kata atau doman Metode ini menggunakan kartu-kartu kata yang ukuran hurufnya besar. Mereka diperkenalkan dengan kata-kata yang akrab disekeliling anak, misalnya ibu atau mama, bapak atau papa. Berkali-kali kartu itu diperlihatkan kepada anak disertai
  14. 14. 14 bunyi bacaanya. Jika sudah lancar membaca maka anak diperkenalkan kata-kata yang baru lain, demikian seterusnya. 3) Membaca “keseluruhan” kemudian “bagian” Caranya memperkenalkan kalimat lengkap terlebih dahulu, kemudian dipilah-pilah menjaadi kata, suku kata dan huruf. Contoh : ini baju ini baju i-ni ba-ju i-n-i b-a-j-u c. Eklektik Cara ini merupakan campuran cara sekuensial dan simultan. Percampurannya sesuai kebutuhan anak karena setiap anak merupakan individu yang unik dan memiliki karakteristik yang berbeda, termasuk dalam hal membaca. Sebagai orang tua dan guru dapat memilih orang yang mengajarkan membaca.berikut alternatifnya. 1) Menyerahkan kepada guru di sekolah. Kelemahan cara ini adalah tidak mungkin guru memberikan layanan yang lebih baik kepada muridnya. Guru harus memperhatikan banyak siswa dalam waktu bersamaan. Guru tidak dapat memperhatikan masing-masing sis wa dengan karakteristikdan gaya belajar membaca yang berbeda. Bahkan,
  15. 15. 15 sebaiknya metode belajar yang digunakan disesuaikan dengan siswa bersangkutan. 2) Menyerahkan kepada guru privat. Mungkin, cara ini lebih baik dari cara pertama dan cocok bagi orangtua yang sibuk. Kelemahannya adalah waktu belajar anak harus terencana. Jika saatnya kursus maka anak harus kursus. Padahal, suasana hati anak mungkin sedang tidak bagus. Untuk anak usia dini, sebaiknya hindari cara yang cenderung klasikal. 3) Pengajaran oleh orangtua atau anggota keluarga yang dekat dengan anak. Ini adalah terbaik. Sisihkan sedikit waktu secara kontinu tiap hari. Jika kesulitan meluangkan waktu, dapat meminta orang terdekat anak (seperti nenek, kakek, atau pengasuh). Namun orangtua perlu memberikan pelatihan terlebih dahulu pada “guru” ini disertai pesan-pesan, seperti tidak memaksa anak. 5. Manfaat Membaca Membaca adalah salah satu hobi terbaik yang dimiliki oleh seseorang. Namun sungguh menyedihkan ketika mengetahui bahwa kebanyakan dari kita tidaklah diperkenalkan dengan buku-buku yang menakjubkan dunia. Ini adalah beberapa alasan bagi kita untuk memulai kebiasaan ini sebelum kamu tertinggal di belakang dalam segala hal.
  16. 16. 16 Beberapa manfaat yang diperoleh anak dari kegiatan membaca, yaitu : a. Anak akan memperoleh pengetahuan. b. Anak dapat mengidentifikasikan dirinya. c. Anak menemukan nilai-nilai keutamaan untuk membina kepribadian. d. Anak dapat berimajinasi dengan baik. e. Anak terbantu untuk menyelesaikan problem yang harus dihadapi. f. Anak dapat mengetahui pengalaman dan kebudayaan lain. g. Memupuk rasa percaya diri anak. Sedangkan menurut Annida (http://rachdie.blogdetik.com) mengidentifikasikan delapan manfaat dari aktivitas membaca, yaitu sebagai berikut : a. Membaca merupakan proses mental secara aktif. Tidak seperti duduk di depan sebuah kotak idiot (TV, Plasystation, dll), membaca membuat kamu menggunakan otak kamu. Ketika membaca, kamu akan dipaksa untuk memikirkan banyak hal yang kamu belum mengetahuinya. Dalam proses ini, kamu akan menggunakan sel abu-abu otak kamu untuk berfikir dan menjadi semakin pintar. b. Membaca akan meningkatkan kosakata kamu. Kamu dapat belajar bagaimana mengira suatu makna dari suatu kata (yang belum kamu ketahui) dengan membaca konteks dari kata- kata lainnya di sebuah kalimat. Buku, terutama yang menantang, akan
  17. 17. 17 menampakkan kepada kamu begitu banyak kata yang mungkin sebaliknya belum kamu ketahui. c. Membaca akan meningkatkan konsentrasi dan fokus. Kamu perlu untuk bisa fokus terhadap buku yang sedang kamu baca untuk waktu yang cukup lama. Tidak seperti majalah, internet atau email yang hanya berisi potongan kecil informasi, buku akan menceritakan keseluruhan cerita. Oleh sebab kamu perlu berkonsentrasi untuk membaca. Seperti otot, kamu akan menjadi lebih baik di dalam berkonsentrasi. d. Membangun kepercayaan diri. Semakin banyak yang kamu baca, semakin banyak pengetahuan yang kamu dapatkan. Dengan bertambahnya pengetahuan, akan semakin membangun kepercayaan diri. Jadi hal ini merupakan reaksi berantai. Karena kamu adalah seorang pembaca yang baik, orang-orang akan mencari kamu untuk mencari suatu jawaban. Perasaan kamu terhadap diri kamu sendiri akan semakin baik. [Namun ingat, ikhlas tetap merupakan jalan untuk mencapai kesuksesan, dan berhati-hatilah dari sikap merasa bangga diri. Bersyukurlah selalu kepada Allah atas secuil pengetahuan yang kamu miliki]. e. Meningkatkan memori. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa jika kamu tidak menggunakan memori kamu, kamu bisa kehilangannya. Teka-teki
  18. 18. 18 silang adalah salah satu contoh permainan kata yang dapat mencegah penyakit Alzheimer. Membaca, walaupun bukan sebuah permainan, akan membantu kamu meregangkan “otot” memori kamu dengan cara yang sama. Membaca itu memerlukan ingatan terhadap detail, fakta dan gambar pada suatu literatur, alur, tema atau karakter cerita. f. Meningkatkan kedisplinan. Mencari waktu untuk membaca adalah sesuatu yang kita sudah mengetahuinya untuk dilakukan. Namun, siapa yang membuat jadwal untuk membaca buku setiap harinya? Hanya sedikit sekali. Karena itulah, menambahkan aktivitas membaca buku ke dalam jadwal harian kamu dan berpegang dengan jadwal tersebut akan meningkatkan kedisiplinan. g. Meningkatkan kretivitas. Membaca tentang keanekaragaman kehidupan dan membuka diri kamu terhadap ide dan informasi baru akan membantu perkembangan sisi kreatif otak kamu, karena otak kamu akan menyerap inovasi tersebut ke dalam proses berfikir kamu. h. Mengurangi kebosanan. Salah satu kebiasaan yang saya miliki adalah, apabila saya merasa bosan, maka saya akan mengambil buku dan mulai membacanya. Apa yang saya temukan dengan berpegang kepada kebiasaan ini adalah, saya menjadi semakin tertarik dengan suatu bahasan buku dan saya sudah tidak bosan lagi. Maksud saya, jika
  19. 19. 19 kamu merasa bosan, kamu akan merasa lebih baik dengan membaca buku yang bagus, bukan? Jika kamu ingin memecahkan rasa malas yang monoton, dan kehidupan yang tidak kreatif dan membosankan, maka pergi dan ambillah satu buku yang menarik. Bukalah halaman- halamannya dan jelajahi dunia baru yang penuh dengan informasi dan kecerdasan. B. MEDIA 1. Pengertian Media Media merupakan alat atau sarana yang mempunyai fungsi untuk menyampaikan suatu informasi. Secara harfiah media berarti perantara yaitu perantara sumber pesan dengan penerima pesan. Media pembelajaran pada dasarnya merupakan wahana dari pesan yang oleh sumber pesan (guru) ingin diteruskan kepada penerima pesan (anak). Pesan yang disampaikan adalah isi pembelajaran dalam bentuk tema/ topic pembelajaran dengan tujuan agar terjadi proses belajar pada diri anak. Seorang guru TK selalu menginginkan agar pesan yang disampaikannya dapat diterima anak dengan afektif dan efisien. Untuk itu diperlukan media pembelajaran. Media yang dikembangkan dengan baik diharapkan dapat membantu anak memahami pesan yang disampaikan kepada anak. 2. Jenis dan Karakteristik Media Pembelajaran Media pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu media visual, audio, dan audiovisual. Berikut ini secara singkat diuraikan keterangan dari jenis dan karakteristik media pembelajaran.
  20. 20. 20 a. Media Visual Media visual adalah media yang menyampaikan pesan melalui penglihatan pemirsa atau media yang hanya dapat dilihat. Jenis media visual ini tampaknya yang sering digunakan oleh guru TK untuk membantu menyampaikan isi dari tema pembelajaran yang sedang dipelajari. Media visiual terdiri atas media yang dapat diproyeksikan (projected visual) media yang tidak dapat diproyeksikan (non-projected visual. b. Media Audio Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan anak untuk mempelajari isi tema. Contoh media audio adalah program kaset suara dan program radio. Penggunaan media audio dalam kegiatan pembelajaran di TK pada umumnya untuk melatih keterampilan yang berhubungan dengan aspek- aspek keterampilan mendengarkan. Dan sifatnya yang auditif, media ini mengandung kelemahan yang harus di atasi dengan cara memanfaatkan media lainnya. c. Media Audiovisual Media audiovisual merupakan kombinasi dari media audio dan media visual atau biasa disebut media pandang-dengar. Dengan menggunakan media audiovisual ini maka penyajian isi tema kepada anak akan semakin lengkapdan optimal. Selain itu, media ini dalam
  21. 21. 21 batas-batas tertentu dapat menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini, guru tidak selalu berperan sebagai penyampai materi karena penyajian materi bisa diganti oleh media. Peran guru bisa beralih menjadi fasilitator belaljar, yaitu memberikan kemudahan bagi anak untuk belajar. Contoh dari media audiovisual ini di antaranya program televisi atau video pendidikan atau instruksional, program slide suara, dan sebagainya. C. ANAK USIA 5-6 TAHUN Anak usia 5-6 tahun termasuk kategori anak usia dini yang mempunyai karakteristik a unique person (individu yang unik) di mana ia memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosio-emosional, kreativitas, bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut. Karakteristik anak usia dini menurut Richard D. Kellough (1996) adalah : 1. Egosentris Ia cenderung melihat dan memahami sesuatu dari sudut pandang dan kepentingannya sendiri. 2. Memiliki Curriosity yang tinggi Anak mengira dunia ini penuh dengan hal-hal yang menarik dan menakjubkan. Bagi anak, apapun yang dijumpai adalah istimewa dalam persepsinya.
  22. 22. 22 3. Makhluk sosial Anak membangun konsep diri melalui interaksi sosial di sekolah. Karena sekolah adalah tempat terlama anak berada. Di sana ia akan membangun kepuasan melalui penghargaan diri. 4. The Unique Person Setiap anak berbeda. Mereka memiliki bawaan, minat, kapabilitas, dan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda satu sama lainnya. Sehingga penanganan pada setiap anak berbeda pula caranya. 5. Kaya dengan fantasi Mereka senang dengan hal-hal yang bersifat imajinatif, sehingga pada umumnya mereka kaya dengan fantasi. Anak dapat bercerita melebihi pengalaman aktualnya atau kadang bertanya tentang hal-hal gaib sekalipun. Hal ini disebabkan imajinasi anak berkembang melebihi apa yang dilihatnya. 6. Daya konsentrasi yang pendek Menurut Berg (1988) dalam (Hibana: 29:8) disebutkan bahwa sepuluh menit adalah waktu yang wajar bagi anak usia sekitar 5 tahun untuk dapat duduk dan memperhatikan sesuatu secara nyaman. Daya perhatian yang pendek membuat ia masih sangat sulit untuk duduk dan memperhatikan sesuatu untuk jangka waktu yang lama, kecuali terhadap hal-hal yang menyenangkan.
  23. 23. 23 7. Masa usia dini merupakan masa belajar yang paling potensial Masa anak usia dini disebut sebagai masa ‘golden age’ atau magic years (Petterson). Pada periode ini hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat. Oleh karena itu, pada masa ini anak sangat membutuhkan stimulasi dan rangsangan dari lingkungannya. Beberapa prinsip-prinsip perkembangan menurut Bredekamp, S. & Copple, C (1997) yaitu : 1. Aspek-aspek perkembangan anak seperti fisik, social, emosional, dan kognitif satu sama lain saling terkait secara erat. 2. Perkembangan terjadi dalam suatu urutan. 3. Perkembangan berlangsung dengan rentang yang bervariasi antar anak dan juga antar bidang perkembangan dari masing-masing fungsi. 4. Pengalaman pertama anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak. 5. Perkembangan berlangsung kearah kompleksitas, organisasi, dan internalisasi yang lebih meningkat. 6. Perkembangan dan belajar terjadi dipengaruhi oleh konteks social dan cultural yang majemuk. 7. Anak adalah pembelajar aktif. 8. Perkembangan dan belajar merupakan hasil dari interaksi kematangan biologis dan lingkungan, yang mencakup baik lingkungan fisik maupun social tempat anak tinggal.
  24. 24. 24 9. Bermain merupakan suatu sarana penting bagi perkembangan social, emosional, dan kognitif anak, dan juga merefleksikan perkembangan anak. 10. Perkembangan mengalami percepatan bila anak memiliki kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan-keterampilan yang baru diperoleh dan juga ketika mereka mengalami tantangan di atas level pengusaannya saat ini. 11. Anak mendemonstrasikan mode-mode untuk mengetahui dan belajar yang berbeda serta cara yang berbeda pula dalam mempresentsikan apa yang mereka tahu. 12. Anak berkembang dan belajar terbaik dalam suatu konteks komunitas yang merasa aman dan menghargai, memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya, dan dirasa aman secara psikologis. D. STIKER HURUF 1. Pengertian Stiker Stiker (http//:www.artikata.com) merupakan benda berperekat yang dibuat dengan tujuan untuk direkatkan pada suatu bidang sesuai kebutuhan. Secara umum stiker bisa di bagi menjadi dua bentuk, yaitu : a. Stiker Biasa (Non-Cutting), adalah stiker yang umum sering kita lihat ada di kendaraan atau tempat lainnya. Karakteristik stiker ini terdiri dari 2 buah bahan yaitu kertas stiker tempat stiker itu menempel sebelum terpasang di media tempel (seperti kaca/tembok) dan stiker itu sendiri. Untuk pemasangannya hanya tinggal di lepas dari kertas
  25. 25. 25 stikernya lalu langsung ditempelkan pada media tempel yang akan menjadi tempat stiker tersebut terpasang. b. Stiker Cutting (Cutting Stiker), adalah stiker yang hasilnya akan terpisah-pisah pada setiap bagiannya sebab melalu proses pemotongan (cutting). Karakteristik stiker ini terdiri dari 3 buah bahan yaitu kertas stiker tempat stiker itu menempel sebelum terpasang, stiker itu sendiri dan lapisan transparan untuk proses pemasangan. 2. Asal Usul Huruf Asal-usul Huruf tidak diketahui, tetapi ada beberapa teori mengenai bagaimana Huruf itu dikembangkan. Salah satu teori yang paling populer adalah teori Proto-Sinaitic yang menerangkan bahwa sejarah Huruf bermula di Mesir Kuno lebih dari satu milenium yang lalu. Berdasarkan teori ini, Huruf diciptakan untuk mewakili bahasa para pekerja Semit yang ada di Mesir, dan setidaknya dipengaruhi oleh prinsip- prinsip abjad dari aksara hieratic Mesir. Jika benar, hampir semua abjad yang ada di dunia saat ini diturunkan langsung dari perkembangan tersebut atau terinspirasi oleh desainnya. Huruf yang paling banyak digunakan saat ini adalah abjad Latin. Sejumlah besar bangsa-bangsa, termasuk bangsa Yunani mengadopsi sistem Huruf Phonecia. Bangsa Yunani membuat beberapa perubahan dan menambahkan sejumlah huruf vokal kedalamnya. Sistem Huruf Yunani ini memiliki 24 huruf. Beberapa (lambang) huruf diantaranya sama seperti yg kita pergunakan sekarang, misalnya huruf N (Nu) dan O(Omicron).
  26. 26. 26 Setelah bangsa Yunani selesai mengembangkan sistem Hurufnya, bangsa Romawi mengadopsinya. Mereka juga membuat beberapa perubahan. Mereka menambah & menghapuskan beberapa huruf dan mengubahnya dengan bentuk huruf yang berbeda. Huruf Romawi terdiri atas 23 huruf, 3 huruf U, W dan J yg ditemui dalam sistem Huruf kita merupakan tambahan. Huruf U dan W dibuat dari huruf Romawi V-yg melambangkan bunyi dari kedua suara tersebut, dan J dari huruf Romawi I. Romawi menaklukan banyak negara dan oleh karena itulah metode penulisan mereka tersebar luas. sampai ke negara kita sekarang ini. 3. Pengertian Huruf Huruf http://pertelontanahmerah.blogspot.com/search/label/huruf adalah sebuah set standar lengkap huruf - simbol ditulis dasar - yang masing-masing kira-kira merupakan fonem dari bahasa lisan, baik seperti yang ada sekarang atau seperti yang mungkin telah di masa lalu. Ada sistem lain penulisan seperti menulis logosyllabic, di mana masing-masing simbol merupakan morfem, atau kata atau suku kata atau tempat kata dalam sebuah kategori, dan syllabaries, di mana setiap simbol mewakili sebuah suku kata. Kata "huruf" itu sendiri populer diyakini berasal dari alfa dan beta, dua huruf pertama dari Yunani, tetapi beberapa etymologists berpendapat bahwa kata bukan berasal dari Aleph dan taruhan, dua huruf pertama dari abjad Fenisia (benar-benar jenis suku kata) yang kemudian memunculkan abjad Ibrani. Asal sebenarnya dari kata tersebut tidak jelas. Ada puluhan
  27. 27. 27 huruf yang digunakan saat ini. Kebanyakan dari mereka adalah 'linear', yang berarti bahwa mereka terdiri dari baris. Pengecualian terkemuka adalah Braille, huruf manual, kode Morse, dan huruf runcing kota kuno Ugarit. Huruf dan suku kata Terlepas dari ketidaktepatan nya, "Huruf" Istilah ini umumnya digunakan untuk mengacu pada setiap sistem penulisan yang baik grafem merupakan suara konsonan dan vokal. Grafem adalah suatu entitas abstrak yang mungkin secara fisik diwakili oleh gaya yang berbeda dari mesin terbang. Ada tertulis banyak entitas yang tidak merupakan bagian dari huruf, termasuk angka, simbol matematika, dan tanda baca. Beberapa bahasa manusia yang biasa ditulis dengan menggunakan kombinasi logograms (yang merupakan morfem atau kata-kata) dan syllabograms bukan huruf. Hieroglif Mesir dan karakter Cina adalah dua dari sistem penulisan yang paling terkenal dengan representasi yang umumnya non-abjad. E. MEDIA STIKER HURUF UNTUK ANAK TK Anak usia TK dalam proses pembelajaran sering mengalami kebosanan, sehingga guru harus lebih kreatif mencari metode, kegiatan, dan media yang disukai anak. Dengan media yang disukai anak secara otomatis pembelajaran yang disampaikan oleh guru akan mendapat hasil yang baik. Stiker huruf merupakan media yang dipilih oleh peneliti karena alasan menarik bagi anak. Dari hasil pengamatan saat istirahat, anak-anak senang sekali bermain stiker-stiker bergambar kartun, boneka, robot, dll. Sehingga peneliti antusias untuk memadukan alat permainan anak dengan huruf-
  28. 28. 28 huruf dengan tujuan anak dapat berlatih membaca tetapi sambil bermain dengan alat permainan yang disukai mereka. Untuk membuat media stiker huruf peneliti membuatnya sendiri dengan menggunakan alat dan bahan yang dapat ditemukan di toko alat tulis. Bahan dan alat yang dibutuhkan adalah sebagai berikut: 1. Pola huruf (ukuran 250 di word) dan dicetak. 2. Kertas asturo 3. Doble tip 4. Gunting Cara pembuatan : 1. Siapkan pola huruf, dapat per huruf maupun per suku kata. 2. Guntinglah sesuai pola. 3. Tempelkan doble tip pada bagian belakang pola. 4. Stiker siap ditempelkan sesuai arahan guru pada kertas asturo. Cara permainan : 1. Pertama-tama guru mengajak anak untuk menyebut “abc/nama-nama abjad” sambil menunjukkan stiker huruf yang disebutkan. 2. Setelah anak merasa senang guru memulai menjelaskan cara permainan ini. 3. Arahkan salah satu anak untuk menempelkan stiker misalnya: b-o-l-a. 4. Kemudian minta anak untuk membaca stiker yang sudah ditempelkan pada kertas asturo. Begitu setetrusnya.
  29. 29. 29 F. KERANGKA BERPIKIR Bagan Kerangka Berpikir Kondisi awal guru menggunakan media kartu biasa. Kemampuan membaca anak meningkat Tindakan guru menggunakan media stiker huruf. Hasil tidak maksimal.
  30. 30. 30 BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian berusaha untuk memahami makna peristiwa dari interaksi yang terjadi selama penelitian berlangsung. B. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN a. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian di TK Santa Theresia Danga Mbay Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo. b. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 7 Maret sampai dengan tanggal 7 April 2015. C. SUBJEK PENELITIAN Siswa kelas B di TK Santa Theresea Danga Mbay yang berjumlah 18 orang siswa, terdiri dari 8 laki-laki dan 10 anak perAempuan D. PROSEDUR PENELITIAN Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus kegiatan yaitu siklus 1 dan siklus 2. Masing-masing siklus terdiri 4 tahap kegiatan yaitu: 1. Menyusun rencana tindakan 2. Melaksanakan tindakan
  31. 31. 31 3. Melakukan observasi 4. Membuat analisis dilanjutkan refleksi Pada penelitian ini yang melaksanakan kegiatan mengajar adalah peneliti bersama-sama dengan guru pamong sekaligus sebagai observer. SIKLUS – 1 PTK Taman Kanak Kanak a. Penyusunan rencana tindakan 1 Pada tahap ini peneliti menyusun rencana pembelajaran berdasarkan pokok bahasan dan tema yang akan diajarkan yaitu kemampuan membaca meliputi: menyusun rencana kegiatan harian, menyiapkan alat peraga, (media) apa yang sesuai pokok bahasan yang akan diajarkan dan bagaimana menggunakannya, serta menyusun alat evaluasi yang sesuai dengan tujuan. b. Pelaksanaan Guru melaksanakan pengajaran dengan menggunakan media stiker huruf sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Pada kegiatan awal pembelajaran guru melakukan kegiatan berbagi dan bertanya serta tanya jawab tentang benda-benda di sekitar anak, siswa di bentuk tiga kelompok yang terdiri dari 6 anak, siswa masing-masing kelompok di beri tugas untuk mengamati dan melihat gambar benda dan stiker huruf yang telah disediakan, kemudian siswa diminta memasang stiker huruf-huruf yang diperlukan untuk membentuk nama benda yang digambar. Dengan memberikan tugas-tugas diharapkan siswa mendapat pemahaman tentang
  32. 32. 32 konsep kemampuan membaca permulaan dengan menggunakan media gambar dan stiker huruf yang telah disediakan. c. Melakukan observasi Pada waktu kegiatan pembelajaran berlangsung, guru pamong melakukan observasi dan mencatat kejadian-kejadian selama kegiatan pembelajaran berlangsung yang nantinya dapat bermanfaat untuk pengambilan keputusan apakah guru dapat menggunakan kalimat dengan tepat, Apakah tugs-tugas dan pertanyaan yang diajukan guru sudah mencerminkan pembelajaran kemampuan membaca (pra membaca). d. Pembuatan analisis dan refleks Dari hasil observasi dilakukan analisis pada tindakan 1 kemudian dilanjutkan dengan refleksi. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi yang dilakukan bersama-sama ini, direncanakan perbaikan dengan melakukan tindakan 2 terhadap permasalahan-permasalahan yang masih ada. Untuk mengetahui apakah guru dapat menyusun rencana pembelajaran yang mencerminkan pembelajaran kemampuan membaca (pra membaca) dapat dilihat dari komponen-komponen yang terdapat pada rencana pembelajaran yang telah disusunnya. SIKLUS - II PTK Taman Kanak Kanak Tahapan dalam siklus II pada prinsipnya sama dengan tahapan dalam siklus I yang meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengamatan, dan refleksi. Tindakan pada siklus II akan mengalami beberapa perubahan, didasarkan atas analisis perubahan dan analisis
  33. 33. 33 refleksi pada siklus I. Perubahan yang dilakukan pada siklus II ini dilakukan dengan harapan agar terjadi peningkatan prestasi siswa. E. TEKHNIK PENGUMPULAN DATA Menurut Sri Maryati dan Rusda Koto S. (2003:39) Pengertian observasi adalah dengan sengaja dan sistematis mengamati perilaku anak melalui proses secara kesengajaan untuk dapat dipertanggung jawabkan hasilnya secara ilmiah dan sistematis. Teknik Pengumpulan Data pada penelitian ini diuraikan sebagai berikut: 1. Data tentang situasi pembelajaran pada saat dilaksanakan pembelajaran dikumpulkan dengan menggunakan lembar pengamat observasi pada setiap siklus. 2. Dokumentasi aktivitas siswa (foto menggunakan kamera HP) diambil pada setiap siklus. Secara kuantitatif data yang terkumpul dianalisa secara deskriptif presentase.Tingkat perubahan yang terjadi diukur dengan persen.Jumlah anak yang mampu mencapai indikator keberhasilan dibagi jumlah seluruh anak yang diteliti dikalikan seratus persen, maka diketahui persentase dari tingkat keberhasilan tindakan. Hal tersebut dapat diketahui dengan rumus: P = Keterangan : P = Presentase tingkat perubahan N = Nilai yang diperoleh A = Jumlah anak F. TEKNIK ANALISIS DATA
  34. 34. 34 Analisis data adalah suatu cara menganalisis data selama peneliti mengadakan penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik penelitian deskripsi kuantitatif. Menurut Sri Maryati dan Rusda Koto S. (2003:48) Pengertian skala penilaian Deskripsi adalah paduan dari pengamatan kuantitatif dan pengamatan kualitatif yang dijabarkan dalam bentuk skala. (Adapun dalam penelitian ini skala Deskripsi digunakan untuk menilai lembar observasi dengan skala kriteria : selalu, sering, kadang-kadang, tidak pernah. Kriteria selalu dengan bobot nilai: 4, sering: 3, kadang- kadang: 2, tidak pernah: 1) G. INDIKATOR KEBERHASILAN Indikator keberhasilan dalam penelitian ini apabila 75% dari jumlah anak mendapat nilai bintang 3 atau 4. Klasifikasi nilai sebagai berikut: a. Belum berkembang (BB) = * b. Mulai berkembang (MB) = ** c. Berkembang sesuai harapan (BSH) = *** d. Berkembang sangat baik (BSB) = ****
  35. 35. 35 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN 1. Penelitian Siklus I : a. Tahap Perencanaan : Pada tahap ini peneliti menyusun Rencana Kegiatan Mingguan (RKM) dan Rencana Kegiatan Harian (RKH) sesuai dengan indikator dan cakupan materi yang sudah ditentukan untuk meningkatkan kemampuan membaca anak pada kelompok B yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran pada hari jumat, 13 Maret 2015, Peneliti terlenih dahulu menentukan indikator untuk meningkatkan kemampuan membaca anak sebagai berikut : 1. Kegiatan Awal (30 Menit) - Berdoa dan salam - Absensi - Penyampaian tema dan sub tema - Bermain pesan berantai. 2. Kegiatan inti (30 menit) - Melengkapi huruf yang kurang dengan cara menulis - Memasang stiker huruf membentuk kata surat dibawah gambar - Menghubungkan kata dengan gambar
  36. 36. 36 3. Istirahat (30 menit) - Cuci tangan - Berdoa sebelum dan sesudah makan - Makan - Bermain 4. Penutup (30 menit) - Guru menyampaikan hasil penilaian - Evaluasi dan Informasi - Doa dan Salam b. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan di TK St. Theresia Danga pada kelompok B jumat, 13 Maret 2015 dimulai jam 07.30 s/d 10.30 wita. Anak kelompok B terdiri dari 8 anak laki-laki dan 10 anak perempuan. Pelaksanaan pembelajaran dimulai dengan kegiatan penyambutan. Dalam kegiatan ini guru menyambut anak di teras di depan kelas sambil mengucapkan selamat pagi dan memintaa seorang anak untuk memimpin barisan, anak masuk kelas satu per satu sambil menyebut urutan bilangan dan menyalami dengan mencium tangan guru. Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan di TK St. Theresia Danga 1. Kegiatan Awal (30 Menit)
  37. 37. 37 Guru mengajak anak duduk di karpet membentuk lingkaran besar, setelah itu guru menyanyikan lagu anak-anak sebagai pengantar Doa. Doa di pimpin oleh salah seorang anak, selanjutnya guru membuka percakapan untuk pengenalan hari, tanggal tahun serta tema dan sub tema : Alat komunikasi (macam-macam alat komonikasi) pada kegiatan ini guru menggunakan metode Bermain Pesan Berantai dengan membisik kalimat “Pak Pos Mengantar Surat”. 2. Kegiatan Inti (60 menit) Peneliti membuka kegiatan inti dengan Bertanya kepada anak- anak, maukah kau jadi anak yang pintar? Anak-anak menjawab mau, lalu guru menyambung dengan kata kalau itu kehendakmu mari kita lakukan belajar hore kita belajar, guru menunjuk huruf satu persatu sambil menyebut nama huruf a – z bersama anak- anak, setelah itu guru menjelaskan cara bermain dari ketiga jenis main. a. Menyusun stiker huruf menjadi kata surat dibawah gambar. Guru memperkenalkan stiker dan menjelaskan cara menggunakan serta memberi contoh memasangnya. b. Melengkapi huruf yang hilang pada kolom yang kosong dilembar LKS dengan cara menulis huruf yang tidak ada. Untuk kegiatan ini dicontohkan oleh anak yang bernama Steven.
  38. 38. 38 c. Menghubungkan kata dengan gambar. Untuk kegiatan ini dicontohkan oleh guru sendiri. Setiap jenis kegiatan diberi waktu 20 menit, anak-anak disuruh memilih sendiri kegiatan sesuai dengan minatnya. Kegiatan dilaksanakan dibawah bimbingan guru. 3. Isitirahat dan Bermain Bebas di Luar Kelas (30 menit) Anak diberi kesempatan untuk bermain bebas di luar kelas di bawah bimbingan dan pengawasan guru. 4. Penutup (30 menit) Kegiatan penutup merupakan kegiatan penenang dimana guru bersama anak meriview kegiatan dari awal sampai akhir, guru menyampaikan hasil penilaian kegiatan pembelajaran yang diperoleh anak yakni : yang mendapat bintang * (belum berkembang), ** (mulai berkembang), ***(berkembang sesuai harapan dan **** (berkembang sangat baik) dan menyampaikan kegiatan yang dilaksanakan besok dan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh salah seorang anak.
  39. 39. 39 TABEL 4.1 Hasil Penilaian Anak Pada Kelompok B1 TK St. Theresia Danga Siklus I Jumad, 13 Maret 2015 N o Nama Anak Aspek Rata - Rata Ket Mengenal Huruf Membuat Suku Kata Menghubungkan Kata Dengan Gambar * ** * ** ** ** * ** * ** ** ** * ** * ** ** ** 1 Steven    **** BSB 2 Ketting    *** BSH 3 Juan    ** MB 4 Rano    *** BSH 5 Tesa    ** MB 6 Tiara    *** BSH 7 Monik    ** MB 8 Mariet    ** MB 9 Killing    ** MB 10 Ranon    *** BSH 11 Ica    ** MB 12 Ripa    * BB 13 Vera    ** MB 14 Rasti    *** BSH 15 Putri    **** BSB 16 Hiral    **** BSB 17 Venan    ** MB 18 Salbi    ** MB Jumlah 1 9 5 3 1 9 5 3 1 9 5 3 18 Sumber RKH Peneliti Tahun 2015
  40. 40. 40 Keterangan : - BSB = Berkembang Sangat Baik - BSH = Berkembang Sesuai Harapan - MB = Mulai Berkembang - BB = Belum Berkembang c. Observasi Hasil obsevasi pada pelaksanaan pembelajaran Siklus I dari Kelompok B TK St. Theresia Danga untuk 18 anak yang terdiri dari 8 laki-laki dan 10 anak perempuan pada hari Jumad 13 Maret 2015 dari pelaksanaan kegiatan awal sampai akhir dengan menggunakan metode beserta unjuk kerja dan penugasan pada hasil pembelajaran penelitian memperoleh hasil observasi berdasarkan indikator sebagai berikut : 1) Melengkapi huruf 2) Memasang stiker huruf membentuk kata dibawah gambar 3) Menghubungkan kata dengan gambar Dari ketiga indikator ini maka pelaksanaan Siklus I diperoleh hasilnya sebagai berikut : 1. Bintang 1 (*) belum berkembang : P = 1 x 100 % 18 P = 5,50%
  41. 41. 41 2. Bintang 2 (**) mulai berkembang 9 anak P = 9 x 100 % 18 P = 50% 3. Bintang 3 (***) berkembang sesuai harapan 5 anak P = 5 x 100 % 18 P = 27.77% 4. Bintang 4 (****) berkembang sangat baik 3 anak P = 3 x 100 % 18 P = 16,66% TABEL 4.2 Distribusi Hasil Penilaian Siswa Kelompok B TK St. Theresia Danga N o Indikator Pencapaian Indikator Penilaian * ** *** **** 1 Mengenal Huruf 1 9 5 3 2 Membuat Suku Kata 1 9 5 3 3 Menghubungkan Kata dengan Gambar 1 9 5 3 Prosentase (N%) 5,50% 50% 27,77% 16,66%
  42. 42. 42 d. Refleksi Berdasarkan hasil penelitian pada tabel diatas bahwa hasil observasi pada siklus I menunjukan ketuntasan belajar siswa hanya 44,44%. Disamping itu, observasi tentang aktifitas siswa selama proses belajar mengajar seperti termuat pada Tabel dapat dikategorikan aktivitas siswa dalam pembelajaran tergolong aktiv sedangkan hasil observasi aktivitas guru selama proses belajar mengajar berlangsung tergolong cukup baik. Ketuntasan yang diharapkan belum tecapai, oleh karena itu peneliti akan memberikan contoh dan instruksi yang lebih jelas, terperinci serta menambahkan kegiatan yang menggunakan stiker huruf serta memperhatikan situasi kelas agar lebih kondusif pada siklus II dan lebih khusus lagi meperhatikan dan membimbing 10 anak agar dapat mencapai ketuntasan yang diharapkan. 2. Penelitian Siklus II : a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti menyusun Rencana Kegiatan Mingguan (RKM) dan Rencana Kegiatan Harian (RKH) sesuai dengan indikator dan cakupan materi yang sudah ditentukan untuk meningkatkan kemampuan membaca anak pada kelompok B yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran pada hari Jumat, 27 Maret 2015, Peneliti terlenih dahulu menentukan indikator untuk meningkatkan kemampuan membaca anak sebagai berikut :
  43. 43. 43 1. Kegiatan Awal (30 Menit) - Berdoa dan salam - Absensi - Penyampaian tema dan sub tema - Bermain pesan berantai. 2. Kegiatan inti (30 menit) - Melengkapi huruf yang kurang dengan menggunakan Stiker - Memasang stiker huruf membentuk kata surat dibawah gambar - Menghubungkan kata dengan gambar 3. Istirahat (30 menit) - Cuci tangan - Berdoa sebelum dan sesudah makan - Makan - Bermain 4. Penutup (30 menit) - Guru menyampaikan hasil penilaian - Evaluasi dan Informasi - Doa dan Salam b. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan di TK St. Theresia Danga pada kelompok B Jumat, 27 Maret 2015 dimulai jam 07.30 s/d 10.30 wita.
  44. 44. 44 Anak kelompok B terdiri dari 8 anak laki-laki dan 10 anak perempuan. Pelaksanaan pembelajaran dimulai dengan kegiatan penyambutan. Dalam kegiatan ini guru menyambut anak di teras di depan kelas sambil mengucapkan selamat pagi dan memintaa seorang anak untuk memimpin barisan, anak masuk kelas satu per satu sambil menyebut urutan bilangan dan menyalami dengan mencium tangan guru. Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan di TK St. Theresia Danga 1. Kegiatan Awal (30 Menit) Guru mengajak anak duduk di karpet membentuk lingkaran besar, setelah itu guru menyanyikan lagu anak-anak sebagai pengantar Doa. Doa di pimpin oleh salah seorang anak, selanjutnya guru membuka percakapan untuk pengenalan hari, tanggal tahun serta tema dan sub tema : Alat komunikasi (macam-macam alat komonikasi) pada kegiatan ini guru menggunakan metode Bermain Pesan Berantai dengan membisik kalimat “Pak Pos Mengantar Surat”. 2. Kegiatan Inti (60 menit) Peneliti membuka kegiatan inti dengan Bertanya kepada anak- anak, maukah kau jadi anak yang pintar? Anak-anak menjawab mau, lalu guru menyambung dengan kata kalau itu kehendakmu mari kita lakukan belajar hore kita belajar, guru menunjuk huruf satu persatu sambil menyebut nama huruf a – z bersama anak-
  45. 45. 45 anak, setelah itu guru menjelaskan cara bermain dari ketiga jenis main. a. Menyusun stiker huruf menjadi kata surat dibawah gambar. Guru memperkenalkan stiker dan menjelaskan cara menggunakan serta memberi contoh memasangnya. b. Melengkapi huruf yang hilang pada kolom yang kosong dilembar LKS dengan cara menempelkan Stiker huruf. Untuk kegiatan ini dicontohkan oleh anak yang bernama Hiral. c. Menghubungkan kata dengan gambar. Untuk kegiatan ini dicontohkan oleh guru sendiri. Setiap jenis kegiatan diberi waktu 20 menit, anak-anak disuruh memilih sendiri kegiatan sesuai dengan minatnya. Kegiatan dilaksanakan dibawah bimbingan guru. 3. Isitirahat dan Bermain Bebas di Luar Kelas (30 menit) Anak diberi kesempatan untuk bermain bebas di luar kelas di bawah bimbingan dan pengawasan guru. 4. Penutup (30 menit) Kegiatan penutup merupakan kegiatan penenang dimana guru bersama anak meriview kegiatan dari awal sampai akhir, guru menyampaikan hasil penilaian kegiatan pembelajaran yang diperoleh anak yakni : yang mendapat bintang * (Belum Berkembang), ** (Mulai Berkembang), ***(Berkembang Sesuai Harapan) dan **** (Berkembang Sangat Baik) dan
  46. 46. 46 menyampaikan kegiatan yang dilaksanakan besok dan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh salah seorang anak. TABEL 4.3 Hasil Penilaian Anak Pada Kelompok B1 TK St. Theresia Danga Siklus I Jumad, 27 Maret 2015 N o Nama Anak Aspek Rata - Rata KetMengenal Huruf Membuat Suku Kata Menghubungkan Kata Dengan Gambar * ** * ** ** ** * ** * ** ** ** * ** * ** ** ** 1 Steven    **** BSB 2 Ketting    *** BSH 3 Juan    ** MB 4 Rano    *** BSH 5 Tesa    ** MB 6 Tiara    *** BSH 7 Monik    ** MB 8 Mariet    ** MB 9 Killing    ** MB 10 Ranon    *** BSH 11 Ica    ** MB 12 Ripa    ** BB 13 Vera    ** MB 14 Rasti    *** BSH 15 Putri    **** BSB 16 Hiral    **** BSB
  47. 47. 47 17 Venan    ** MB 18 Salbi    ** MB Jumlah 0 2 6 10 0 2 6 10 0 2 6 10 18 Sumber RKH Peneliti Tahun 2015 Keterangan : - BSB = Berkembang Sangat Baik - BSH = Berkembang Sesuai Harapan - MB = Mulai Berkembang - BB = Belum Berkembang c. Observasi Hasil obsevasi pada pelaksanaan pembelajaran Siklus II dari Kelompok B TK St. Theresia Danga untuk 18 anak yang terdiri dari 8 laki-laki dan 10 anak perempuan pada hari Jumad 13 Maret 2015 dari pelaksanaan kegiatan awal sampai akhir dengan menggunakan metode beserta unjuk kerja dan penugasan pada hasil pembelajaran penelitian memperoleh hasil observasi berdasarkan indikator sebagai berikut : 1) Melengkapi huruf 2) Memasang stiker huruf membentuk kata dibawah gambar 3) Menghubungkan kata dengan gambar Dari ketiga indikator ini maka pelaksanaan Siklus I diperoleh hasilnya sebagai berikut : 1. Bintang 1 (*) belum berkembang :
  48. 48. 48 P = 0 x 100 % 18 P = 0% 2. Bintang 2 (**) mulai berkembang 6 anak P = 2 x 100 % 18 P = 11,11% 3. Bintang 3 (***) berkembang sesuai harapan anak P = 6 x 100 % 18 P = 33,33% 4. Bintang 4 (****) berkembang sangat baik 10 anak P = 10 x 100 % 18 P = 55,5% TABEL 4.4 Tabel Distribusi Hasil Penilaian Siswa Kelompok B1 TK St. Theresia Danga N o Indikator Pencapaian Indikator Penilaian * ** *** **** 1 Mengenal Huruf 0 2 6 10 2 Membuat Suku Kata 0 2 6 10 3 Menghubungkan Kata dengan Gambar 0 2 6 10 Prosentase (N%) 0 % 11,1% 33,33% 55,5%
  49. 49. 49 d. Refleksi Dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan observasi siklus II kelompok B Tk St. Theresia Danga untuk meningkatkan kemampuan membaca anak ternyata mengalami peningkatan dan memuaskan serta mencapai target TK St. Theresia Danga untuk kelompok B1 karena sudah mencapai bintang 3 (***) dan 4 (****) dalam kemampuan membaca anak. Untuk kegiatan menggunakan Media Stiker dilaksanakan pada jenjang pendidikan anak usia dini untuk mempersiapkan pendidikan jenjang berikutnya. B. PEMBAHASAN Hasil analisis data pada Siklus I dan II untuk meningkatkan kemampuan membaca anak di TK St. Theresia Danga, khususnya kelompok B1 Peneliti memberi suatu pemahaman bahwa anak sudah mampu mengenal huruf dan membuat suku kata. Dan akan lebih baik lagi kemampuan membaca anak apabila ada faktor-faktor pendukung yang perlu diperhatikan. Solusi yang dilakukan Peneliti di TK St. Theresia Danga pada kelompok B sesuai dengan karakteristik umum anak usia dini, dimana aktivitas bermain menjadi aktivitas dominan mereka. Maka dalam meningkatkan kemampuan membacaa anak hendaknya dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan. Pada Siklus I dilaksanakan pendekatan bermain sambil belajar dengan berbagai metode dan pembelajarannya dilaksanakan dalam bentuk permainan secara individu, kelompok maupun secara klasikal. Hasil pembelajaran siklus I ternyata
  50. 50. 50 kemampuan membaca anak belum mencapai ketuntasan. Maka peneliti melakukan kegiatan pembelajaran ini secara terus menerus dan menyiapkan media pembelajaran yang bervariasi, yang menarik minat anak serta menyenangkan untuk pembelajaran pada siklus II. Hasil pembelajaran pada siklus II lebih memuaskan dan meningkat bila dibandingkan dengan siklus I. anak sudah dapat membuat suku kata dan menghubungkan kata dengan gambar. Ini menandakan kemampuan membaca anak sudah semakin baik, karena kemampuan membaca anak merupakan suatu hal yang penting dalam berkomunikasi dengan teman dan orang-orang sekitarnya.
  51. 51. 51 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah Proses pembelajaran dengan Menggunakan Media Stiker Huruf guru TK St. Theresia Danga Mbay Tahun Pelajaran 2014/2015. Aktivitas guru pada Siklus I. Sedangkan aktivitas siswa pada Siklus I sebesar 44.44 % dengan kategori aktif meningkat menjadi 88,88 % dengan kategori sangat aktif pada Siklus II. Penerapan Media Stiker Huruf dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas B1 TK St. Theresia Danga Mbay Tahun Ajaran 2014/2015. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan indivisu pada siklus I 8 Siswa mencapai ketuntasan indivisu meningkat menjadi 18 siswa pada Siklus II. Dan prosentase Ketuntasan Klasikal belajar siswa pada Siklus I sebesar 44.44% meningkat menjadi 88.88 % pada Siklus II. Nilai tersebut sudah menunjukan ketuntasan belajar secara klasikal seperti yang sudah tercantum dalam kurikulum. B. SARAN 1. Bagi pendidik a. Sebagai pendidik harus mampu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program pembelajaran. Ketiga kegiatan itu sangat penting dan sangat erat hubungannya. Perencanaan pembelajaran
  52. 52. 52 didasarkan pada pelaksanaan dan evaluasi sebelumnya, pelaksanaan program di dasarkan pada perencanaan dan evaluasi, evaluasi dilakukan berdasarkan perencanaan dan pelaksanaan program. Evaluasi berguna 93 untuk menentukan langkah pembelajaran berikutnya utamanya jika ditemukan masalah maka akan segera bisa melakukan tindakan. b. Guru di dalam melakukan kegiatan hendaknya memilih metode dan media yang sesuai dengan perkembangan anak agar menarik dan menyenangkan, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik. c. bagi pendidik diharapkan dapat mengembangkan media pembelajaran sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak utamanya untuk mencari dan menemukan metode-metode baru yang disesuaikan dengan tujuan pendidikan. 2. Bagi orang tua a. Agar orang tua mengetahui tingkat perkembangan anak dalam mengembangkan kemampuan bahasa yang dimiliki oleh anak. b. Agar orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menuangkan ide-idenya melalui bercerita, sehingga anak dapat mengembangkan perkembangan bahasanya dengan baik.

×