Ce diaporama a bien été signalé.
Nous utilisons votre profil LinkedIn et vos données d’activité pour vous proposer des publicités personnalisées et pertinentes. Vous pouvez changer vos préférences de publicités à tout moment.

Makalah Kisah 5 Orang Sukses Di Indonesia

Kisah 5 Orang Sukses

  • Soyez le premier à commenter

Makalah Kisah 5 Orang Sukses Di Indonesia

  1. 1. Kisah 5 Orang Sukses Di Indonesia
  2. 2. Kisah Sukses: Perjalanan Hidup Chairul Tanjung Si Anak Singkong Nama anak singkong terinspirasi dari panggilan Chairul Tanjung saat kecil yaitu “anak singkong” yang berarti anak kampungan. Chairul Tanjung, pria yang lahir di Jakarta pada 16 Juni 1962 ini dikenal sebagai pendiri sekaligus CEO dari CT Corp. yang sebelumnya bernama Para Grup. Karier dan Kehidupan Chairul Tanjung lahir dari sebuah keluarga berada, ayahnya seorang wartawan surat kabar kecil pada jaman orde lama, A.G Tanjung. Pada saat orde baru terbentuk, usaha ayahnya harus ditutup karena tulisannya banyak berseberangan secara politik saat itu dengan penguasa, hal ini membuat orang tuanya harus menjual rumah dan pindah tinggal di kamar losmen yang sempit. Kedua orangtuanya sangat tegas dalam mendidik anak anaknya termasuk Chairul Tanjung. Orang tuanya memiliki prinsip agar keluar dari jerat kemiskinan, pendidikan adalah langkah yang harus ditempuh, itulah kenapa dengan segala daya dan upaya orang tua Chairul Tanjung selalu berusaha untuk tetap menyekolahkan anak anaknya, tak terkecuali Chairul Tanjung. Ibu Halimah, ibu kandung Chairul Tanjung menyatakan harus menjual kain batik halusnya untuk membiayai Chairul Tanjung masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Chairul Tanjung menuntaskan pendidikannya di SMA Boedi Oetomo pada tahun 1981, kemudian dia melanjutkan pendidikan nya di Universitas Indonesia. Selama kuliah Chairul Tanjung dikenal sebagai mahasiswa yang teladan, hal ini terbukti dari penghargaan yang dia peroleh pada tahun 1984-1985 sebagai mahasiswa teladan tingkat nasional. Insting bisnis Chairul Tanjung dimulai saat dia masih duduk di bangku kuliah, untuk membiayai kuliahnya Chairul Tanjung sempat membuka usaha fotokopi di Universitas Indonesia, dia juga sempat berjualan kaos dan buku kuliah stensilan, selain itu dia juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium, namun usahanya belum berhasil. Ketika lulus kuliah dia bersama dengan beberapa rekannya mendirikan PT. Pariarti Shindutama pada tahun 1987 dengan modal awal Rp.150 juta yang dia peroleh dari Bank Exim, kala itu PT Pariarti yang bergerak dalam
  3. 3. bidang produksi sepatu anak-anak ekspor, mampu memperoleh pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. namun karena adanya perbedaan pandangan dalam hal ekspansi bisnis membuat perusahaan ini harus bubar dan Chairul Tanjung memilih untuk keluar dan memilih untuk membuat perusahaan sendiri. Setelah keluar dari PT Pariarti, Chairul Tanjung membidik tiga bisnis inti yaitu Keuangan, Properti dan Multimedia. Lalu beridiri lah Para Grup ynag terkenal itu, Perusahaan Konglomerasi ini memiliki Para Inti Holindo sebagai father holding company yang membawahi beberapa sub holding yakni Para Inti Propertindo (properti), Para Global Investindo (bisnis keuangan),dan nti Investindo(media dan investasi). Dalam bidang properti Para Grup memiliki Bandung Supermall yang menghabiskan dana hingga Rp 99 miliar, Bandung Supermal adalah Central Business District di Bandung yang mulai difungsikan pada tahun 1999. Sementara di bidang Investasi, pada tahun 2010 Para Grup melalui perusahaan nya Trans Corp membeli 40% saham Carrefour, MoU pembelian saham ini ditandatangani di Perancis tanggal 12 Maret 2010. Pada tahun yang sama Forbes merilis daftar orang terkaya di dunia dan Forbes memasukkan nama Chairul Tanjung sebagai salah satu orang terkaya asal Indonesia, pada tahun 2011 Forbes kembali memasukkan namanya di peringkat 11 orang terkaya di Indonesia dengan nilai kekayaan se besar 2,1 miliar dolar AS. Chairul Tanjung meresmikan perubahan nama Para Grup pada 1 Desember 2011 menjadi CT Corp, CT merupakan kependekan dari namanya sendiri, CT Corp terdiri dari tiga perusahaan sub holding yaitu Mega Corp, Trans Corp dan CT Global resources yang meliputi layanan financial, media, hiburan, baya hidup dan sumber daya alam. Pemikiran Bagi Chairul Tanjung yang penting dalam sebuah bisnis itu adalah mengembangkan jaringan atau networking, tidak hanya berteman dengan perusahaan yang sudah ternama karena penting juga untuk membuka hubungan baik sekalipun dengan perusahaan yang belum ternama bahkan Chairul
  4. 4. Tanjung menggambarkan hubungan baik dengan pengantar surat sekalipun adalah hal yang penting, jika perusahaan sepi order maka relasi seper ti ini bisa dimanfaatkan untuk membuka lagi order. Dalam hal Investasi Chairul Tanjung tidak alergi bersinergi dengan perusahaan-perusahaan multinasional, Chairul Tanjung tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan perusahaan perusahaan tersebut menurutnya ini bukan upaya untuk menjual negara namun ini merupakan upaya perusahaan nasional Indonesia untuk bisa berdiri dan mejadi tuan rumah di negeri sendiri. Menurut Chairul Tanjung modal memang penting dalam sebuah bisnis namun kemauan dan kerja keras adalah hal lain yang wajib dimiliki oleh seorang pengusaha namun mendapatkan mitra kerja yang handal adalah segalanya, baginya membangunkepercayaan pasar sama pentingnya dengan membangun integritas disinilah penting nya jaringan dalam sebuah bisnis. Bagi generasi muda yang akan terjun berbisnis, Chairul Tanjung berpesan agar generasi muda mau sabar dan menapaki tangga bisnis satu persatu karena membangun bisnis itu tidak seperti membalikkan te;apak tangan dibutuhkan kesabaran dan kekuatan agar jangan pernah menyerah, jangan sampai terpancing untuk menggunakan jalan pintas (instant) karena dalam usaha kesabaran adalah kata kuncinya, memang sangat manusiawi jika seseorang dalam berusaha ingin segera mendapatkan hasilnya namun tidak semua hasil bisa diterima secara langsung.
  5. 5. Kisah Sukses Hartono Bersaudara dan Kerajaan Bisnis Djarum Kerajaan Bisnis Nomor 1 Di Indonesia Milik Robert Budi & Michael Hartono Mewarisi sebuah perusahaan merupakan hal yang wajar namun mengembangkannya menjadi sebuah kerajaan bisnis merupakan pencapaian luar biasa yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang, dan salah satunya adalah Robert Rudi Hartono dan Michael Bambang Hartono yang merupakan pemilik kerajaan bisnis Group Djarum, yang menurut data Forbes pada Mar et 2011 merupakan orang kaya nomor 1 di Indonesia, dengan total kekayaan keduanya ditaksir mencapai Rp. 170 Trilyun atau sekitar US $ 15 milyar. Kiprah Robert Budi dan Michael Hartono Membangun Kerajaan Bisnis di Indonesia Jika dulu orang terkaya di Indonesia adalah Sadono Salim atau Liem Sioe Liong, kini telah hadir sebuah nama baru yang berhasil mempertahankan bahkan mengembangkan sebuah usaha rokok yang bernama Djarum, dari sang ayah Oei Wie Gwan pada tahun 1963. Di mana pada saat itu kondisi usaha rokok ini sedang mengalami keterpurukan akibat terbakarnya pabrik pengolahan rokok. Namun dengan semangat pantang menyerah disertai dengan sentuhan tangan dingin dari Robert Budi dan Michael Hartono, perusahaan rokok bernama Djarum ini kembali Berjaya bahkan menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia dengan menguasai pasaran rokok sebesar 20% dari 240 milyar batang pertahun total produksi nasional. Tak puas membesarkan Djarum, Hartono bersaudara mulai mengembangkan sayap bisnisnya ke bidang usaha yang lain seperti usaha perbankan, properti, agrobisnis, dan yang teranyar mulai merambah usaha elektronik dan dunia maya. Untuk sektor perbankan, Robert Budi dan Michael Hartono pada awalnya mengelola sebuah bank yang masih berskala kecil bernama Bank Hagakita dan Bank Haga. Namun Duo Hartono selalu berusaha untuk terus maju dan bertambah besar dengan masuk ke dalam konsorsium Faralon Investment Limited (FIL) yang kemudian membeli sebuah Bank BCA di tahun 2002, yang merupakan sebuah Bank yang berskala nasional. Pada awalnya kepemilikian saham dari Hartono Bersaudara hanya sekitar 10%, namun seiring dengan pertambahan waktu jumlah saham terus meningkat menjadi 47,15% di tahun 2007, dan di tahun
  6. 6. 2010 Duo Hartono memutuskan menjual saham mereka di Bank Hagakita dan Bank Haga kemudian memperbesar porsi saham di Bank BCA menjadi 51%. Kehebatan dari Robert Budi dan Michael Hartono ini tak berhenti sampai di situ, namun terus berlanjut dengan memindahkan kantor pusat BCA yang awalnya berada di Wisma BCA di daerah Jl. Jendral Sudirman, Jakarta ke kompleks Grand Indonesia, yang juga merupakan milik dari Hartono Bersaudara. Penyatuan kantor pusat BCA dengan kompleks Grand Indonesia seolah menjadi sebuah tugu dan lambang kehebatan dari Robert Budi dan Michael Hartono dalam dunia bisnis di Indonesia. Di bidang properti, Duo Hartono di bawah bendera Group Djarum berhasil menjaga eksistensi mereka dengan mendirikan berbagai perusahaan, diantaranya adalah Fajar Surya Perkasa yang berhasil mendulang rupiah dengan membangun Mall Daan Mogot di Jakarta dan perusahaan Nagaraja Lestari yang membangun sebuah pusat grosir dan perbelanjaan Pulogadung Trade Center di Jakarta. Dan yang paling membuat Group Djarum mengokohkan posisinya di percaturan bisnis properti Indonesia adalah dengan membangun sebuah pusat perbelanjaan yang menjadi salah satu ikon di Jakarta yaitu WTC Mangga Dua melalui perusahaan Inti Karya Bumi Indah. Dan lewat perusahaan properti yang satu ini, Group Djarum membangun sebuah Masterpiece dan lambang kejayaan dari Robert Budi dan Michael Hartono yaitu sebuah megaproyek yang dibangun di lokasi Hotel Indonesia, yang terbagi menjadi empat bagian yaitu apartemen, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan hotel. Dengan nilai investasi fantastik yang mencapai Rp 1,3 trilyun. Namun selain itu Group Djarum juga berhasil mengembangkan bisnis properti mereka mulai dari perumahan sampai hotel di berbagai lokasi yang mencakup wilayah di Bali dengan mendirikan Bali Padma Hotel, di Semarang membangun Perumahan Graha Padma dan Bukit Muria, sedangkan di Jawa Barat membangun Perumahan Karawang Resinda di Karawang. Sedangkan pengembangan bisnis di bidang Agrobisnis, Hartono Bersaudara mendirikan Hartono Plantations Indonesia yang mengelola perkebunan kelapa sawit dan membeli sebuah produsen palm dan coconut oil untuk produk shampo bernama Salim Oleochemicals pada tahun 2001.
  7. 7. Kisah Sukses Seorang Anthony Salim Anthony Salim adalah CEO Group Salim. Beliau pernah menjadi salah satu 10 tokoh bisnis yang paling berpengaruh di Indonesia menurut War ta Ekonomi pada tahun 2005 lalu. Beliau berhasil memulihkan kembali Salim Group setelah beberapa waktu yang lalu sempat bangkrut akibat krisis ekonomi di Indonesia tahun 1998. Sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia, Salim Group tergolong sebagai pemegang kursi konglomerat terbesar di Indonesia. Aset yang dimiliki oleh perusahaan ini pada tahun itu mencapai sekitar 10 miliar dolar AS atau setara dengan 100 triliun rupiah. Tak heran jika majalah bisnis paling terkenal di dunia, Forbes, menobatkan Liem Sioe Liong yang tak lain adalah pendiri Salim Group sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Bank Central Asia Bank Central Asia (BCA) adalah salah satu garapan Salim Group yang saat itu sangat sukses keberadaannya. Namun sayang karena krisis ekonomi, BCA terpaksa di-rush. Salim Group kemudian mengantisipasi kebangkrutan BCA dengan menggunakan BLBI. Akibatnya BCA berhutang 52 triliun rupiah. Anthony Salim kemudian dipercaya oleh ayahnya, Liem Sioe Liong alias Sudono Salim, untuk menggantikan posisinya untuk meneruskan bisnisnya. Anthony Salim pun berhasil melunasi utang BCA dengan melepas beberapa perusahaan milik ayahnya. Indofood dan Bogasari Sejumlah perusahaan yang harus rela dilepaskan dari Salim Group adalah PT Indocement Tunggal Perkasa, PT Indomobil Sukses International, dan PT BCA. Tindakan ini perlu dilakukan demi memajukan beberapa bisnis lainnya. Ia kemudian memfokuskan kinerjanya untuk perkembangan dan kemajuan beberapa perusahaan ayahnya yang masih tersisa seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Bogasari Flour Mills. Seperti yang kita tahu bahwa PT Indofood dan PT Bogasari adalah dua perusahaan besar produsen mie instan terbesar di dunia. Di Indonesia sendiri pangsa pasar PT Indofood dan PT Bogasari sangatlah besar. Demikian juga dengan pangsa pasar luar negeri. PT Indofood dan PT Bogasari menjadi pemasok utama untuk produk mie instan dan produk - produk olahan tepung terigu instan lainnya di negara-negara di dunia.
  8. 8. PT Indofood dan PT Bogasari hanyalah segelintir perusahaan milik Salim Group. Masih ada perusahaan-perusahaan lainnya yang berdiri di bawah naungan Salim Group termasuk sejumlah perusahaan yang berbasis di luar negeri seperti perusahaan yang ada di Hong Kong, China, Thailand, India, dan Filipina. Berkat kerja keras dan ketekunannya, Sal im Group akhirnya bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Hingga pada akhirnya Salim Group mendapatkan profit yang sangat besar yaitu mencapai triliunan rupiah. Aset yang dimiliki oleh Anthony Salim telah mengantarkannya ke posisi ketiga orang terkaya di Indonesia setelah Budi Hartono selaku CEO Group Djarum dan Eka Tjipta Widjaja selaku CEO Group Sinar Mas. Menurut Majalah GlobeAsia, penilaian gelar orang terkaya di Indonesia ini didasarkan pada kepemilikan saham baik yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar. Total harta yang dmiliki oleh seorang Anthony Salim adalah sekitar US$3 miliar atau setara dengan 27 triliun rupiah. Saat ini PT Indofood telah menjadi industri yang terus tumbuh dan berkembang. Bahkan kini Indofood dianggap sebagai raja industri makanan di Indonesia. Indofood merupakan perusahaan garapan Salim Group yang bergerak di bidang agrobisnis, produk makanan, dan industri tepung terigu. Banyak sekali produk Indofood yang beredar di hampir seluruh pelosok wilayah di Indonesia. Hampir semua kalangan masyarakat Indonesia menggunakan produk-produk Indofood. Sebut saja produk mie instan (Supermie, Indomie, dan Sarimie), produk susu seperti susu Indomilk, produk tepung terigu (Segitiga Biru, Cakra Kembar, dan Kunci Biru), produk minyak goreng sepert i Bimoli, dan produk mentega seperti mentega Simas Palmia. Di bawah pimpinan Anthony Salim, Indofood berhasil mendapatkan profit bersih tertinggi selama sejarah Indofood. Pada tahun 2009 profit bersih yang didapat oleh Indofood adalah sekitar 2 triliun rupiah. Anthony Salim mengatakan bahwa Indofood telah berhasil melewati masa-masa sulit yang bertahun-tahun telah menggerogoti Indofood. Bisnis agrobisnis dan non-agrobisnis Salim Group ini telah terbukti sangat tangguh dalam mengatasi berbagai tantangan seperti tantangan yang berupa harga komoditas yang terus melonjak. Krisis ekonomi global yang terjadi tahun 2008 lalu memang membawa dampak yang kurang baik bagi beberapa perusahaan milik Salim Group. Seperti misalnya turunnya harga berbagai jenis komoditas secara signifikan. Akibat lainnya dari krisis ekonomi global yang membuat Salim Group sedikit terombang-ambing adalah tingkat inflasi yang menurun. Akibat inflasi yang menurun,
  9. 9. pendapatan industri agrobisnis Indofood merosot tajam. Besarnya jumlah penjualan Bogasari pun menurun akibat harga tepung yang terus menurun. Namun, menurut Anthony Salim, turunnya harga berbagai komoditas jutsru membuahkan keuntungan bagi sejumlah produk bermerk seperti produk-produk Indofood yang memang hampir semuanya bermerk dan berkualitas. Permintaan akan produk-produk bermerk kian meningkat akibat meningkatnya daya beli masyarakat. Indofood juga berinovasi dengan menciptakan produk -produk baru yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Salah satu produk terbaru Indofood pada saat i tu adalah produk cup noodles yang hingga kini masih laris manis di pasaran. Pasca krisis ekonomi global tahun 2008, tepatnya pada tahun 2010, Anthony melihat bahwa kondisi perekonomian Indonesia terus membaik. Hal ini terbukti dari meningkatnya permintaan dari masyarakat dan tingkat inflasi yang terkendali. Kondisi ini membuatnya semakin optimis bahwa permintaan pasar akan produk-produknya akan terus meningkat. Di tahun yang sama, Indofood kembali menciptakan produk baru. Kali ini bukan produk makanan atau minuman, melainkan produk gula. Menurutnya, permintaan domestik akan produk gula terus meningkat. Bahkan dikatakan olehnya bahwa bisa saja permintaan akan gula akan melebihi jumlah produk gula yang telah diproduksi.
  10. 10. Kisah Sukses Sukanto Tanoto Sukanto Tanoto adalah salah satu pengusaha sukses Indonesia yang bisnisnya merambah ke pasar internasional. Dulunya Sukanto hanyalah anak seorang pedagang. Tak disangka anak pedagang ini kini telah meraih sukses yang teramat besar di dunia bisnis Indonesia, Asia, dan bahkan internasional. Kesuksesannya ini tak datang begitu saja. Berkat kerja keras dan sifat tekun seorang Sukanto Tanoto yang membuat dirinya menjadi raja di dunia bisnis yang dirintisnya. Sukanto Tanoto adalah CEO PT Garuda Mas International sekaligus CEO PT Inti Indorayon Utama. Pada tahun 2006, ia dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes yang beredar di bulan Juli 2006 lalu. Pada saat itu kekayaannya mencapai triliunan rupiah. Sukanto Tanoto adalah putera sulung dari Amin Tanoto. Ia bersama enam saudaranya dibesarkan di keluarga sederhana. Setiap kali pulang sekolah ia membantu ayahnya berdagang minyak, bensin, dan peralatan mobil. Sembari membantu ayahnya, ia sering membaca buku-buku yang ada di tempat di mana ayahnya berjualan. Buku-buku yang ia baca pada saat itu adalah buku tentang Perang Dunia dan Revolusi Industri. Dari sinilah semangat berbisnisnya muncul. Pria yang kini berusia 65 tahun ini memiliki nama asli Tan Kang Hoo. Dari namanya saja kita bisa menyimpulkan bahwa ia adalah anak keturunan Tionghoa yang mana masyarakat Tionghoa sangat terkenal dengan kerja keras dan kepandaiannya mengatur keuangan. Ia lahir di Belawan, Medan pada tanggal 25 Desember 1949 silam. Sebagai CEO Garuda Mas, ia kini lebih banyak menghabiskan waktunya di Singapura karena Singapura adalah markas pusat Garuda Mas. Ia memutuskan tinggal di Singapura agar ia lebih mudah menangani bisnisnya. Garuda Mas adalah sebuah perusahaan yang komoditi utamanya adalah kertas/pulp dan kelapa sawit. Meski tahun 2011 lalu ia bukan pengusaha terkaya lagi di Indonesia, hingga kini kekayaannya masih tergolong sangat besar. Kekayaan terakhir yang tercatat di Majalah Forbes tahun 2011 adalah sekitar US$2,8 miliar. Dengan angka kekayaan yang sangat fantastis ini, pada tahun 2011 Sukanto Tanoto menduduki peringkat keenam orang terkaya di Indonesia. Sedang di kancah global, Sukanto Tanoto menempati urutan ke-284 orang terkaya di dunia pada tahun 2008 dengan jumlah kekayaan hingga US$ 3,8 triliun. Jumlah kekayaan ini tentu prestasi yang sangat membanggakan. Bisnis yang
  11. 11. kini masih dijalankan dengan baik oleh Sukanto Tanoto bisa saja membawanya ke peringkat yang lebih tinggi lagi sebagai orang dengan kekayaan terbanyak di dunia. Pastinya banyak orang yang penasaran dengan perjalanan karirnya. Termasuk Anda kan? Pada mulanya Sukanto Tanoto hanya sebagai pemasok barang dan alat untuk sebuah perusahaan BUMN yaitu Pertamina. Tak lama kemudian ia menapaki dunia industri perusahaan. Dengan kerja keras dan ketekunannya, ia kemudian berhasil menjadikan industry perusahaanya sebagai salah satu perusahaan terbesar di Indonesia dan Asia. Perusahaan kertas/ pulp dan kelapa sawit adalah industri perusahaan utama yang ia jalani. Prestasi Sukanto Tanoto tak hanya cukup di sini saja . Perusahaan kertas dan kelapa sawitnya masuk ke dalam perusahaan pulp dan kelapa sawit Asia yang terdaftar di Bursa Efek New York. Tak banyak perusahaan yang bisa masuk ke dalam daftar Bursa Efek New York kecuali perusahaan besar dan ternama. Kini Sukanto Tanoto mengembangkan sayap bisnisnya ke beberapa bidang bisnis lain. Sebut saja bisnis konstruksi dan energi. Sukanto Tanoto adalah pengusaha yang cerdik di mana ia mampu memanfaatkan sebuah kesempatan sebelum orang lain melirik dan mengambil kesempatan tersebut. Setelah menjadi pemasok barang dan peralatan untuk Pertamina, ia kemudian menjajaki bisnis di bidang kayu lapis. Ia pun kembali tertantang untuk merintis bisnis kelapa sawit. Pada saat itu belum ada orang Indonesia yang menggeluti bisnis minyak sawit. Bisnis kelapa sawit lebih banyak dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing. Karena ia adalah pribadi yang pintar berbisnis, tak butuh lama bagi dia untuk masuk dan menguasai pasar hingga ia dijuluki sebagai penguasa sawit di Sumatera. Sukses dengan bisnis sawit, ia lalu memperluas bisnisnya dengan mendirikan bisnis pulp, rayon, dan kertas. Bisnis pulp, rayon, dan kertas inilah yang kemudian diberi nama PT Insti Indorayon Utama (IIU). Bisnis pulp ini kini menjadi pemasok bibit unggul pohon sumber pembuat pulp untuk kancah domestik. Namun sayang, bisnis pulp-nya ini dituding sebagai penyebab utama rusaknya ekosistem dan lingkungan di Danau Toba dan sekitarnya. Danau Toba yang tadinya berair bersih dan jernih kini terbukti tercemar oleh limbah industry pulp. Dengan berat dan terpaksa Sukanto pun menutup bisnis pulp-nya ini. Sukantio tak berhenti begitu saja. Ia pun kemudian mendirikan bisnis pulp di tempat lain. Riau yang menjadi pilihannya. Pabrik pulp di Riau ini bernama PT Riau Pulp. Di Riau, ia memanfaatkan Hutan
  12. 12. Tanaman Indiustri yang berpotensi menghasilkan pulp banyak. Kini industry inii bisa menjadi insutri pulp terbesar di dunia. Belajar dari pengalaman sebelumnya di Medan, Sukanto Tanoto kemudian mendirikan sebuah organisasi khusus untuk warga lokal Riau yang dinamakan Community Development khusus untuk warga agar tahu bagaimana caranya untuk melakukan pembinaan di bidang bisnis kecil-kecilan untuk UKM, cara menanam tanaman holtikultura dan pertanian. Wujud peduli Sukanto terhadap warga setempat juga terlihat saat ia membantu warga setempat membangun jalan. Proyek pembangunan jalan ini tentu didanai oleh Sukanto agar mobilitas warga lancar. Bisnis lainnya yang tak kalah mengagumkan kiprahnya adalah bisnis Sukanto di dunia perbankan. Pihaknya berhasil mengambil alih United City Bank dengan cara membeli saham-sahamnya saat bank mengalami krisis finansial. United City Bank kemudian ia ubah menjadi Unibank. Di bidang property, ia membangun Thamrin Plaza di Medan dan Uni Plaza. Nah, yang satu ini adalah pretasi Sukanto di kancah luar negeri yang sungguh mengagumkan. Ia menanamkan saham ke perusahaan kelapa sawit internasional, yaitu National Development Corporation Guthrie yang berada di Mindanao, Filipina dan di Electro Magnetic yang berlokasi di Singapura. Ia pindah dan bermukim di Singapura bersama keluarganya sejak tahun 1197. Kini keluarganya juga menekuni beberapa bisnis yang cukup baik. Semoga Anda terinspirasi oleh perjalanan sukses seorang Sukanto Tanoto, salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Semoga dari sini Anda juga dapat belajar dan banyak terinspirasi oleh kisah-kisah Sukanto. Anda juga dapat membeli buku karangannya untuk mengetahui segala ilmu tentang bisnis. Dengan demikian Anda dapat mengikuti jejak langkah Sukanto. Mungkin saja Anda-lah generasi penerus setelah Sukanto. Tentu setiap orang menginginkannya, bukan? Seseorang bisa sukses jika selalu bekerjakeras dan tekun. Dan yang penting jangan pernah takut untuk coba -coba saat akan merintis bisnis. Jadilah seorang high risk taker, semakin besar risiko semakin besar peluang yang akan Anda dapat.
  13. 13. Kisah Sukses Peter Sondakh, Tokoh Inspiratif bagi Anda Para Pemimpi Sekilas tentang Peter Sondakh Jika sebelumnya kita membahas sekilas tentang perjalanan dan kisah sukses orang terkaya ke -9 di Indonesia, Boenjamin Setiawan, kini giliran Peter Sondakh yang akan menjadi tokoh inspiratif lainnya yang perlu diteladani. Peter Sondakh adalah seorang pengusaha sukses di Indonesia. Bahkan namanya telah berkali-kali disebut di Majalah Forbes sebagai salah satu pengusaha sukses di dunia. Peter melakoni usaha di berbagai bidang. Menjadi seorang Peter Sondakh bukanlah posisi yang mudah untuk didapatkan. Seperti para pengusaha sukses pada umumnya, Peter memulai bisnisnya dari nol dan bisnisnya pernah mengalami ‘jatuh -bangun’. Peter Sondakh sangat terkenal sebagai pendiri Grup Rajawali-nya. Kini Grup Rajawali berada di deretan perusahaan besar di Indonesia dan kancah global. Pada tahun 1998, krisis ekonomi yang melanda Indonesia sempat membuat nama Peter Sondakh dan Grup Rajawalinya tenggelam. Namun berkat kemapuannya dalam hal jual-beli perusahaan, Peter dengan Grup Rajawali-nya dapat bangkit meski perlahan-lahan. Selain dengan jual-beli perusahaan, Peter juga menggalakan bisnis di bidang property, perkebunan, dan pertambangan untuk menopang Grup Rajawali. Usaha dan kerja keras Peter pun tak sia-sia. Tak lama setelah terpuruk akibat krisis moneter, Grup Rajawali pun menjadi global player yang sangat disegani baik oleh perusahaan-perusahaan besar di Indonesia maupun luar Indonesia. Peter Sondakh dan keahliannya di bidang jual-beli perusahaan Soal skill bisnis seorang Peter Sondakh tak perlu ditanyakan. Sama persis dengan nama perusahaanya, penciuman dan penglihatannya akan peluang bisnisnya sangat baik sebaik rajawali. Karena sudah sangat berpengalaman, ia bisa dengan mudah mendapatkan perusahaan. Tak heran, gebrakannya melalui perusahaan holding yang dinamakan PT Rajawali Corporation atau disingkat RC ini membuahkan hasil yang sangat menguntungkan bagi Peter dan perusahaannya. Peter gemar sekali melakukan jual-beli perusahaan. Tak heran jika banyak rekan-rekan bisnis Peter menyebutnya sebagai investor, bukan pebisnis. Sayang sekali, tak banyak informasi seputar kiprah
  14. 14. seorang Peter yang dapat diekspose. Bahkan perusahaan holding-nya saja, Rajawali Corporation (RC) sulit untuk dilacak karena memang perusahaan ini tidak memiliki website resmi. Meski begitu, publik sudah mengetahui putra dari B.J. Sondakh ini. Peter, di mata publik, adalah pemilik berbagai bisnis di Indonesia. Sebut saja bisnis produksi rokok, perhotelan, gedung perkantoran, media, telekomunikasi, ritel, pariwisata, farmasi, dan transportasi. Pada tahun 2006 lalu, Peter Sondakh mendapatkan sebutan sebagai orang paling kaya nomor 12 di Indonesia dari Majalah Forbes. Kemudian satu tahun kemudian posisi Peter sebagai orang terkaya di Indonesia meningkat menjadi nomor 9. Hingga tahun 2008, Peter Sondakh menggeser sejumlah nama orang terkaya di Indonesia dan menjadi posisi ke-6 terkaya di Indonesia. Penasaran dengan jumlah kekayaan pria yang lahir di Manado ini? Total kekayaan yang dimiliki oleh Peter adalah US$ 1,45 miliar. Pengusaha yang kini berusia 62 tahun ini pernah menjadi pemegang saham sebuah perusahaan besar di Indonesia yang bernama PT Bumi Modern sejak tahun 1976 silam. Saat itu Peter masih sangat muda, yaitu 24 tahun. Peter Sondakh adalah lulusan Universitas La Salle dengan jurusan Commercial Finance. Awal karirnya di Perusahaan Grup Rajawali adalah mendirikan PT Rajawali Wira Bhakti Utama. Perusahaan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal PT Grup Rajawali. Peter baru memiliki Perusahaan Rajawali Wira Bhakti Utama secara penuh pada tahun 1993. Perusahaan ini lalu menjadi perintis di dunia TV swasta. Tak lama berkiprah di bisnis TV swasta, ia kemudian mendirikan sebuah stasiun televisi swasta RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Peter tak sendirian saat akan mendirikan stasiun televisi ini. Ia bermit ra dengan rekannya, Bambang Trihatmodjo. Selama periode kiprah RCTI, yaitu sejak tahun 1976 hingga tahun 1996, Rajawali mempunyai lima jenis sektor usaha, diantaranya adalah sektor pariwisara, telekomunikasi, perdagangan, keuangan, dan transportasi. Di sektor pariwisata sendiri, Peter memiliki 16 buah bisnis perhotelan di sejumlah kawasan wisata terkenal di Indonesia. Bisnis perhotelan yang ia bangun bukanlah sembarangan hotel. Hotel-hotel milik Rajawali ini adalah hotel-hotel berkelas dan berbintang empat dan lima. Sudah pasti pelayanan dan fasilitasnya sangat berkualitas. Sementara itu, di sektor transportasi, Peter Sondakh mengembangkan tiga perusahaan transportasi yang dinamakan Rajawali Air Transport, Taxi Express, dan sebuah perusahaan yang menyediakan layanan penyeberangan dengan menggunakan feri dengan rute utama Batam-Singapura. Namun
  15. 15. sayang perusahaan transportasi yang ketiga ini kini menjadi milik Red. Di sektor keuangan, Rajawali tak kalah hebat dengan sektor perhotelan dan transportasi, Rajawali hadir dengan 7 anak perusahaan. Salah satu dari ketujuh anak perusahaan Rajawali yang fokus di sektor keuangan adalah PT Jardine Fleming Nusantara. Bagaimana dengan sektor perdagangan? Ada 9 perusahaan milik Peter di sektor perdagangan, yakni ritel farmasi Apotek Guardian, Metro Department Store, dll. Excelcomindo Pratama adalah anak perusahaan Rajawali yang bergerak dibidang telekomunikasi. Anak perusahaan ini didirikan sejak tahun 1996. Kini perusahaan ini telah menjadi hak milik Malaysia karena beberapa waktu yang lalu perusahaan ini dijual kepada Telekom Malaysia. Bisnis milik Peter Sondakh tak hanya berbatas pada kelima sektor di atas. Masih ada beberapa sektor lain yang ia geluti. Diantaranya adalah bisnisnya yang bergerak di bidang industri kimia. Industri ini adalah industri produksi polyester chip. Produk lainnya yaitu PET Film. Kedua jenis produk yang berbeda ini diproduksi oleh anak perusahaan Rajawali yang fokus kegiatan industrinya di bidang kimia, PT Rajawali Palindo. Apakah Anda familiar dengan nama merk rokok Bentoel? PT Bentoel adalah industri rokok garapan Peter Rajawali. PT Rajawali bekerjasama dengan sejumlah perusahaan seperti Grup Sinar Mas dan Ometraco untuk membangun Plaza Indonesia. Peter Sondakh juga ikut andil dalam pembangunan PT Gemanusa Perkasa, salah satu perusahaan perdagangan umum di Indonesia. Tak hanya itu, ada beberapa perusahaan lain yang bisa dibilang sebagian besar sahamnya adalah milik Peter Sondakh. Sebut saja PT Asiana Imi Industries (pembuat stuff toys), PT Gemawidia Statido Komputer (sebuah distributor komputer), dan PT Japfa Comfeed Indonesia. Namun saham Peter yang tertanam di PT Japfa Comefeed Indonesia dicabut. Berdasarkan data PDBI untuk periode 1976 hingga 1996, PT Rajawali telah mengakuisisi 13 buah perusahaan dan mengdivestasi 6 buah perusahaan. Perusahaan ini juga telah menanamkan sahamnya di 13 perusahaan di Indonesia. Jadi total perusahaan yang telah terafiliasi oleh tangan dingin Peter Sondakh adalah 49 buah perusahaan. Kini holding company Peter Sondakh bertambah satu, yaitu PT Danaswara Utama. Peter Sondakh telah belajar bagaimana membangun perusahaan dan membangkitkannya kembali dari keterpurukan akibat krisis ekonomi tahun 1998. Meski dulu pernah menanggung hutang yang sangat besar pada BPPN (2,1 triliun rupiah), tahun 2000 lalu Peter berhasil melunasinya. Dan satu
  16. 16. fakta tentang Peter, kini Peter Sondakh telah melepaskan saham di beberapa perusahaannya pada pemilik perusahaan lain, diantaranya adalah RCTI, Lombok Tourism, dan Apotek Guardian.

×