Ce diaporama a bien été signalé.
Nous utilisons votre profil LinkedIn et vos données d’activité pour vous proposer des publicités personnalisées et pertinentes. Vous pouvez changer vos préférences de publicités à tout moment.

Budidaya tanaman dirumah ver. 1.0

369 vues

Publié le

Urban Farming
Petunjuk praktis bercocok tanam dirumah

  • Identifiez-vous pour voir les commentaires

  • Soyez le premier à aimer ceci

Budidaya tanaman dirumah ver. 1.0

  1. 1. URBAN FARMING Bercocoktanam dikota ABSTRACT How to successfully grow plants at your home Yudy Yunardy Yudy McCabe
  2. 2. Version History 0.1 – 2 June 2017 0.2 – 3 June 2017 1.0 – 3 June 2017
  3. 3. Budidaya tanaman dirumah Apakah anda hanya penasaran, ingin menyalurkan hobi, atau ingin memulai usaha kecil-kecilan untuk menanam dan menjual hasil perkebunan yang ditanam dirumah sendiri. Banyak cara untuk memperoleh sendiri tanaman yang akan anda konsumsi atau dijual. Secara umum semua jenis tanaman memerlukan : 1. Oksigen 2. Air 3. Sinar matahari 4. Nutrisi (unsur makro, N-P-K, unsur mikro, Ca, Mg, Mn, Bo) Pilihlah tanaman yang tepat Ada tanaman yang tumbuh lebih baik dalam wadah dari pada lainnya, jadi pikirkan baik-baik tentang apa yang Anda inginkan. Tanaman besar seperti kelapa hampir tidak mungkin ditanam dalam wadah, sementara jagung atau labu besar sulit ditanam dalam wadah, tanaman yang memerlukan ruang kecil seperti wortel atau lobak adalah pilihan baik (khusus untuk wortel karena buahnya berada dibawah tanah, perlu wadah/polybag yang besar). Kacang-kacangan, cabai, tomat, selada, dan rempah-rempah adalah pilihan populer lainnya. Pilihlah cara menanam yang praktis untuk anda 1. Konvensional Menggunakan media tanam biasa seperti tanah, abu gosok, cocopeat, sekam bakar, atau campuran dari bahan-bahan tersebut 2. Hidroponik Menggunakan media tanam khusus seperti hidroton, perlite, vermiculite, pasir zen, yang intinya hanya sebagai dudukan bagi tanaman agar tidak miring/jatuh, sementara akar tanaman kontak dengan air yg diberi pupuk cair Pilihlah wadahnya Tidak mengherankan, lebih besar biasanya lebih baik ketika sedang memilih wadah. Wadah kecil lebih cepat kering, jadi itu akan perlu perhatian lebih. Wadah besar dapat menampung banyak jenis tanaman pada waktu yang bersamaan. Pilihlah tanaman yang membutuhkan jumlah air dan cahaya yang sama, dan mereka akan menjadi tetangga yang rukun. Anda dapat menggunakan jenis wadah apa pun asalkan ada drainasenya. Jika Anda punya sesuatu yang Anda
  4. 4. ingin daur ulang menjadi wadah sayuran tetapi tidak punya saluran air, Anda hanya cukup membuat beberapa lubang di bagian bawahnya. Untuk bantuan tambahan, Anda juga dapat menaruh satu lapisan batu di bagian bawah wadah sebelum menambahkan tanah. Pilihlah tanah yang tepat Belilah tanah pot berkualitas baik daripada menggunakan tanah dari pekarangan. Kebanyakan tanah pot akan mengandung pupuk yang diperlukan bagi tanaman untuk berkembang dengan baik, dan Anda tidak akan memerlukan pupuk hingga berbulan-bulan ke depan. Tanah pot juga mengandung bahan-bahan lainnya yang membantu membuatnya tetap longgar dan tidak padat. Anda juga tidak akan secara tidak sengaja membawa hama atau serangga ke kebun kecil Anda. Pilihlah pupuk Anda Ketika saatnya memupuk tanaman, pilihlah jenis pupuk yang tepat untuk sayuran, untuk bunga atau tanaman rumah. 1. Pupuk Organik 1. Air dari akuarium ketika itu sudah mulai kotor (dapat diberikan setiap hari) 2. Pupuk kandang dari kotoran kambing juga merupakan pupuk organik yang murah dan baik 3. Ampas kopi (dengan atau tanpa gula, bahkan saya pernah mencoba dengan ampas kopi yg bercampur madu dan habbatussauda juga tidak masalah, dapat diberikan setiap hari). Perlu diperhatikan bahwa ampas kopi yg bercampur sedikit air akan menjadi lengket dan dapat memicu datangnya serangga tertentu seperti semut. 4. Kapsul minyak ikan (diberikan seminggu sekali) dan msg atau vetsin (diberikan dua minggu sekali) 2. Pupuk Kimia Penggunaan pupuk kimia biasanya bertujuan spesifik terhadap unsur makro, baik sebagai pupuk tunggal (hanya mengandung 1 unsur makro tertentu) atau pupuk majemuk (mengandung beberapa/semua unsur makro dg persentase tertentu). Biasanya pupuk tunggal maupun majemuk juga ditambah dengan unsur mikro seperti Calsium, Magnesium, Boron dll. Namun perlu diperhatikan bahwa unsur mikro tersebut walaupun mutlak diperlukan, namun dalam jumlah yang sedikit. Terlalu banyak unsur makro maupun mikro juga tidak bagus untuk pertumbuhan tanaman, menarik hama, kutu maupun opt (organisme pengganggu tanaman) lainnya.
  5. 5. Jenis pupuk kimia 1. Pupuk tunggal, Urea (CO(NH2)2), SP (Super Phospat), TSP (Triple Super Phospat), KCl, KNO3, dll 2. Pupuk majemuk, NPK dengan persentase perbandingan tertentu (6-30-30, 32-10-10, 10-55-10) 2.1. 6-30-30 Unsur P dan K yg tinggi diperlukan tanaman yg sudah mulai berbunga atau berbuah 2.2. 32-10-10 Unsur N yg tinggi diperlukan tanaman untuk pembentukan daun (memberikan pupuk dg unsur N yg tinggi kepada tanaman yg mulai berbunga atau berbuah akan menyebabkan kerontokan bunga atau buah) 2.3. 10-55-10 Unsur P yg tinggi diperlukan tanaman ketika beradaptasi/dipindahkan dari media semai ke media tanam 2.3. 16-16-16 atau 20-20-20 Unsur N, P, K yg seimbang diperlukan tanaman untuk tumbuh menjadi besar Bentuk fisik pupuk kimia 2.1. Tabur Granulasi, butiran, yang diberikan disekitar tanaman, sebisa mungkin jangan sampai menyentuh tanaman karena konsentrasi yg tinggi akan membuat tanaman panas dan/atau memberikan efek terbakar. Pupuk tabur ini bisa juga dilarutkan dalam air kemudian disiramkan (dengan dosis yang tertera dalam kemasan). 2.2. Serbuk Dilarutkan dalam air (dengan dosis yang tertera dalam kemasan) kemudian disiramkan/disemprotkan ke tanaman. 2.3. Cair Biasanya berbentuk pekatan (atau serbuk yg kemudian dijadikan pekatan) yang diencerkan dengan air (dengan dosis yang tertera dalam kemasan) kemudian disiramkan/disemprotkan ke tanaman, atau disirkulasikan dalam sistem hidroponik. Pilihlah antara benih atau tanaman kecil Anda punya pilihan antara menanam benih atau tanaman kecil.
  6. 6. 1. Benih Hampir selalu lebih murah, namun memerlukan waktu lebih lama untuk memanen dan harus memberikan perawatan intensif ketika menyemai karena rentan terhadap serangan opt (organisme pengganggu tanaman), namun apabila dari awal kita sudah memberikan perlakuan khusus maka ketika sudah besar tanaman tersebut lebih tahan terhadap hama 2. Tanaman kecil (bibit) Memberikan Anda awal lebih cepat untuk memanen, namun kita tidak mengetahui seperti apa perawatannya ketika dari benih, apabila sejak benih tidak diberikan perlakuan khusus, maka tanaman tersebut akan rentan terkena penyakit, atau kurang tahan terhadap serangan hama. Pilihlah tempat dengan banyak sinar matahari Kebanyakan sayuran sangat menyukai banyak sinar matahari. Putarlah wadah seperlunya, sesuai dengan jumlah sinar matahari atau tempat berteduh yang Anda miliki. Ada tanaman yang harus mendapatkan sinar matahari langsung, 8 jam sehari, sementara ada juga yang tidak tahan sinar matahari langsung. Berkebun dengan wadah memiliki keuntungan atas berkebun tradisional ketika harus menghadapi cuaca buruk. Jika Anda mendengar akan ada hujan deras, Anda dapat membawa tanaman masuk ke dalam rumah sampai hujannya berhenti. Di beberapa daerah, Anda dapat memperpanjang panen lebih lama dari yang biasanya Anda harapkan. Semai Benih Perlakuan pra-semai 1. Rendam benih dalam air hangat (untuk melunakkan cangkang benih, sehingga lebih mudah untuk bertunas) selama 4 jam 2. Rendam benih dalam larutan zpt (zat pemacu tumbuh) selama 7-14 jam, dapat dicampur dengan insektisida/fungisida agar tanaman lebih tahan terhadap rebah semai maupun hama Semai 1. Siapkan wadah (gelas plastik aqua yg sudah dibolongi bagian bawahnya) 2. Siapkan media tanam (tanah, atau campuran tanah-sekam bakar, atau cocopeat-sekam bakar, dg perbandingan 1:1) 3. Buat lubang sedalam 0.5 cm, kemudian lubang tersebut ditaburi natural glio (berbentuk serbuk) yg berguna untuk melindungi benih dari opt dan penyakit rebah semai
  7. 7. 4. Masukkan benih kedalam lubang, ketika mengambil benih jangan menggunakan tangan, pakailah pipet atau tusuk gigi, kemudian ditimbun dengan tanah secukupnya, jangan terlalu banyak, yg penting benih sudah tertutup seluruhnya, dan tidak perlu ditekan. 5. Letakkan gelas tersebut dalam tempat yg benar-benar gelap atau dapat dibungkus plastik hitam 6. Jaga kelembaban media tanam dalam gelas, dengan mengontrolnya setiap hari, jika perlu semprot atau siram dengan air, jika media tanam terlihat kering, jangan sampai air menggenang, cukup pada kelembaban kira-kira 60% 7. Ketika mulai bertunas, langsung pindahkan ke tempat yg terang, hindari sinar matahari langsung 8. Ketika tumbuh 2-3 daun, dapat mulai diperkenalkan dengan sinar matahari langsung, kira-kira 2-3 jam sehari dan dapat dipindahkan ke media permanen (polybag, planter bag, pot atau di tanah langsung) Perawatan tanaman muda Penyiraman dilakukan pagi dan sore (hindari penyiraman pada saat terik matahari karena akan membuat tanaman layu) yg terbaik menggunakan air hujan atau air kondensasi AC, atau dapat menggunakan air biasa. Sebisa mungkin air yg digunakan memiliki pH 7 (netral), diukur menggunakan pH meter. Apabila air dirumah terlalu asam, dapat ditambahkan KOH (Potasium Klorida) cair maupun bubuk untuk meningkatkan pH. Apabila dipaksakan menggunakan air yg asam (pH dibawah 7) maka daun tanaman yg terkena air biasanya akan layu/lapuk terlihat seperti terbakar, dan media tanam yg asam akan mengundang berbagai opt. Tanaman yg masih muda sangat rentan terhadap serangan dari opt, baik berupa jamur maupun serangga. 1. Rebah semai (dumping off) Penyakit rebah semai atau layu dan lebih dikenal sebagai penyakit dumping off yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii Saac yg disebabkan oleh patogen (virus penyebab penyakit) yg menyerang lewat akar tanaman. Dapat diatasi dengan bubuk natural glio (yg diberikan pada saat semai) maupun bubuk/larutan trichoderma yg disemprotkan pada bagian pangkal tanaman dan media tanam. 2. Jamur yg menggerogoti pangkal tanaman Dapat diatasi dengan memberikan bubuk natural glio langsung pada bagian yg terlihat diserang jamur dan media tanam disekitar pangkal tanaman. Penanganan harus dilakukan secepatnya setelah terlihat gejala seperti pada gambar.
  8. 8. 3. Rontok daun/kerdil tanaman Biasanya disebabkan oleh opt yg menyerang perakaran tanaman dan/atau daun, sehingga pertumbuhan tanaman terhambat namun tidak sampai mati. Bila dibiarkan tanpa penanganan, maka tanaman akan mati (apabila daun sudah rontok semua, atau akar sudah habis, atau pangkal tanaman sudah kosong karena digerogoti bagian dalamnya sehingga nutrisi tidak bisa dialirkan dari akar ke daun-daun). Perawatan tanaman lanjutan 1. Pemberian pupuk seimbang (NPK, 16-16-16 atau 20-20-20) dengan dosis dan frekuensi yg tepat (baik dengan cara penyiraman, penyemprotan atau penaburan). Pemberian pupuk dengan dosis terlalu tinggi atau frekuensi yg terlalu sering akan kontra-produktif karena selain pemborosan, juga mengundang opt! 2. Kombinasikan pemupukan lewat akar (dalam bentuk butiran maupun dalam bentuk larutan) dengan pemupukan lewat daun (penyemprotan) secara teratur untuk mendapatkan hasil pertanaman yang optimal 3. Pilih jenis pupuk dengan komposisi hara yang tepat dan sesuai dengan fase pertumbuahan dan perkembangan tanaman (untuk pupuk kimia, lihat jenis pupuk majemuk beserta kegunaannya diatas) 4. Pemberian pestisida organik (seperti larutan tembakau dari rokok, daun tembakau, bawang putih) secara berkala seminggu sekali, atau lebih sering, jika terdapat gejala serangan opt 5. Pemberian pestisida kimia, apabila serangan opt sudah terlalu massif dan/atau membuat anda stress. Gejala-gejala kekurangan unsur hara pada tanaman A. Nitrogen (N) : Karena sifatnya yang mobile di dalam tubuh tanaman, gejala kekurangan unsur hara nitrogen akan tampak pertama kali pada daun-daun tua, ujung daun mengering, daun-daun muda terlihat berwarna lebih muda (hijau muda), pertumbuhan tanaman menjadi lambat, bahkan cenderung kerdil, dan pada tanaman yang sedang berbunga akan memperlihatkan tingkat kerontokan bunga yang tinggi, sementara pada tanaman yang sedang berbuah, buah akan masak pohon lebih awal dibanding periode masak pohon pada tanaman normal dengan ukuran buah lebih kecil dari biasanya. Pemberian pupuk nitrogen lebih awal pada tanaman dapat mengatasi gejala kekurangan tersebut, baik pupuk nitrogen tunggal seperti pupuk urea (kandungan 46% nitrogen), pupuk AN (Ammonium Nitrate) dengan kandungan 35% nitrogen, serta pupuk ZA (kombinasi nitrogen sebanyak 21% dan hara sulfur atau belerang sebanyak 24%), maupun pupuk majemuk yang mengandung nitrogen sebagai salah satu komponan dalam kandungan pupuk majemuk tersebut, misalnya pupuk pupuk kombinasi NPK 20-10-10 (kandungan nitrogen lebih tinggi (20%) dibanding fosfat (10%) dan kalium sebanyak 10%), pupuk KNO3 (kombinasi nitrogen
  9. 9. dan kalium), serta pupuk DAP (Diammonium Phosphate, pupuk kombinasi antara hara nitrogen dengan hara fosfat). B. Fosfat (P) : Gejala paling umum yang diperlihatkan oleh tanaman yang kekurangan unsur hara fosfat adalah munculnya warna keunguan di bagian-bagian tertentu pada daun, warna daun menjadi lebih gelap (dark green) namun tidak merata dengan kesan daun menjadi lebih mengkilap. Pada tingkatan kekurangan hara fosfat yang parah, warna ungu kemerahan akan semakin mencolok pada tepi daun dan batang, daun menguning dengan cepat dan akhirnya kering. Kekurangan fosfat juga menyebabkan pertumbuhan akar terhenti yang mengakibatkan tanaman menjadi kerdil, sulit berbunga dan berbuah, dan jika dialami oleh tanaman yang sedang berbunga maka buah dan biji yang terbentuk pasca pembungaan tidak akan berkembang dengan sempurna. Pemberian pupuk fosfat adalah solusi untuk mengatasi gejala kekurangan hara tersebut, dalam bentuk pupuk tunggal seperti TSP (Triple Super Phosphate), pupuk SP36 atau SP18 (Super Phosphate), pupuk kombinasi NPK 10-30- 20 (kandungan fosfat 30%, lebih tinggi dibanding nitrogen yang berkadar 10% dan kalium berkadar 20%), pupuk MKP (kombinasi fosfat dengan kandungan minimum 50% serta kalium dengan kandungan minimum 30%), pupuk DAP atau Diammonium Phosphate (kombinasi 46% fosfat dan 18% nitrogen), dan lain sebagainya. C. Kalium (K) : Biasa juga dikenal dengan sebutan potassium, bersifat mobile di dalam tubuh tanaman, gejala kekurangan unsur hara kalium akan terlihat pertama kali pada pinggir dan ujung daun mengering yang berwarna kekuningan, diikuti oleh kematian jaringan pada bagian tersebut, daun berbentuk tidak normal, mengerut dan keriting, dan pada tingkatan kekurangan hara kalium yang parah, akan muncul bercak cokelat kemerahan, kemudian mengering dan akhirnya daun pun gugur. Pada tanaman yang sedang berbuah, kekurangan hara kalium akan mengakibatkan kerontokan buah pada fase pembentukan bakal buah, jika buah terbentuk maka ukuran buah akan mengecil dengan biji keriput, warna buah tidak merata dengan kualitas buah yang menurun serta daya simpan buah yang singkat (tidak tahan lama dalam penyimpanan). Kekurangan hara kalium juga mengakibatkan pertumbuhan batang dan cabang menjadi lebih lambat dengan kualitas pertumbuhan yang jelek sehingga tanaman mudah rebah. Penambahan pupuk kalium mutlak dilakukan untuk memperbaiki kondisi tersebut di atas. Pupuk KCl (Kalium Chloride) atau juga dikenal dengan nama pupuk MOP (Muriate of Potash) adalah pupuk kalium tunggal yang paling populer dengan kandungan K2O sekitar 60% dan chlorine sekitar 35%, pupuk SOP (Sulphate of Potash) atau pupuk ZK dengan kandungan kalium 50% dan sulfur berkadar 17%, pupuk kombinasi NPK 10-20-40 (kandungan kalium sebanyak 40%, lebih tinggi dibanding kandungan fosfat yang 20% maupun nitrogen yang berjumlah 10%) misalnya, kemudian pupuk MKP (Mono Kalium Phosphat) dan DKP (Double Kalium Phosphate) serta pupuk Kaliphos dengan
  10. 10. kandungan kalium tinggi (minimum 30%) yang dikombinasikan dengan kadar fosfat yang juga tinggi (minimum 50%), pupuk jenis ini biasa digunakan untuk menginduksi pembungaan pada tanaman dewasa, serta pupuk-pupuk yang mengandung kalium dalam kadar tinggi lainnya. D. Calcium (Ca) : Kekurangan unsur kalsium tidak serta merta dapat terlihat oleh mata karena efek pertama yang terjadi pada tanaman adalah ketidak sempurnaan pembentukan akar-akar tanaman khususnya pada bagian ujung-ujung akar yang menyerap air dan massa hara dari dalam tanah, akibat lanjutannya adalah kematian pada tunas- tunas muda sebagai hasil pembentukan sel-sel baru. Kalsium sangat membantu tanaman dalam proses penyerapan hara kalium, sehingga pada tanaman yang kekurangan kalsium sering ditemukan gejala buah retak akibat permeabilitas dan elastisitas dinding-dinding sel yang rendah. Kekurangan kalsium juga sangat mempengaruhi kualitas kekerasan batang tanaman karena rendahnya elastisitas dinding sel. Dalam kondisi seperti ini, pemberian pupuk yang mengandung kalsium sangat mutlak dilakukan, misalnya memberikan pupuk kalsium dalam bentuk tunggal (CaO) maupun pupuk NPK yang ditambahi kandungan Ca-nya sehingga menjadi pupuk NPK plus Ca. Pupuk lain yang mengandung kalsium adalah RP (Rock Phosphate) dengan kandungan fosfat sekitar 30% dan CaO sekitar 45%, TSP (Triple Super Phosphate) dengan kandungan 46% fosfat dan 20% kalsium, serta pupuk SSP (Single Super Phosphate) yang mengandung 18% fofat dan 25% kalsium. E. Magnesium (Mg) : Fungsi utama unsur magnesium yang sangat penting dalam pembentukan klorofil adalah salah satu faktor penting bagi tanaman dalam melakukan proses fosotosintesis, tanpa fotosintesis maka tanaman tidak dapat menghasilkan fotosintat sebagai sumber energi bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Gejala yang paling umum sebagai akibat kekurangan unsur hara magnesium pada tanaman adalah klorosis di mana daun-daun menjadi menguning karena terganggunya pembentukan klorofil, timbul garis-garis kuning pada daun, timbul lendir pada daun-daun muda, daun menjadi kecil dan rapuh dengan pinggiran daun yang menggulung. Pemberian pupuk yang mengandung magnesium harus dilakukan untuk mengantisipasi gejala kekurangan unsur hara ini, di antaranya adalah pupuk magnesium tunggal (MgO), atau pupuk Kieserite (MgSO4.H2O) yang mengandung 27% hara magnesium dan 22% hara sulfur maupun pupuk Dolomite CaMg(CO3)2 yang selain mengandung unsur hara magnesium sebesar 18-22%, sekaligus juga mengandung unsur hara kalsium sebanyak 30-40%. Beberapa pabrikan pupuk bahkan menambahkan unsur magnesium sebagai bagian dari pupuk NPK yang mereka buat sehingga pupuk ini menjadi pupuk NPK plus Mg. Aplikasi pemberian pupuk Salah satu hal yang penting dalam proses pemupukan adalah cara pemberian pupuk yang benar. Dengan cara yang benar, pemberian pupuk memberikan hasil nyata karena pupuk dapat terserap baik oleh
  11. 11. tanaman, dengan demikian pemanfaatan unsur hara yang terkandung dalam pupuk dapat dimaksimalkan oleh tanaman dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri. Kesalahan dalam cara pemberian pupuk akan mengurangi efisiensi dan efektifitas pupuk, sehingga akan timbul kerugian dari sisi waktu dan biaya, serta manfaat pupuk yang kurang maksimal bagi tanaman. Proses pemupukan akan sangat menentukan keberhasilan produksi tanaman, selain jenis pupuk yang tepat, cara aplikasi pupuk yang efektif dan efisien akan meningkatkan keberhasilan pemupukan. 1) Pemupukan melalui akar tanaman yaitu pemberian pupuk yang bertujuan untuk menambah kandungan hara yang dibutuhkan oleh tanaman melalui akar dan dengan penambahan hara ini tanaman akan tumbuh subur dan memberikan hasil yang memuaskan a) Pemupukan dengan cara sebar (broadcasting) : cara ini adalah cara yang paling sederhana karena pupuk diberikan ke media tanam dengan cara disebar di atas permukaan media saat pengolahan tanah (biasanya dilakukan pada tanaman semusim seperti padi dan kacang-kacangan yang ditanam di sawah), sehingga pupuk tercampur merata dengan tanah. Pemupukan dengan cara sebar ini berpotensi tinggi merangsang pertumbuhan tanaman-tanaman pengganggu (gulma) serta tingkat fiksasi atau pengikatan unsur hara tertentu oleh tanah. Cara sebar dilakukan jika : i) Populasi tanaman cukup tinggi akibat aplikasi jarak tanam yang rapat ii) Sistem perakaran tanaman yang menyebar di dekat permukaan tanah iii) Volume pupuk yang digunakan berjumlah banyak iv) Tingkat kelarutan pupuk yang tinggi agar dapat terserap dalam jumlah banyak oleh tanaman v) Tingkat kesuburan tanah yang relatif baik b) Pemupukan pada tempat tertentu (placement), berbentuk seperti barisan lurus di antara larikan atau barisan tanaman, membentuk garis lurus, atau membentuk lingkaran di bawah tajuk tanaman. Alur pemupukan dibuat dengan membuat semacam kanal dangkal sebagai tempat pupuk dengan mencangkul tanah selebar kurang lebih 10cm dengan kedalaman kurang lebih 10 cm dari permukaan tanah. Setelah pupuk diletakkan di dalam alur, kemudian ditutup kembali dengan tanah. Ada juga beberapa aplikasi lain yang memodifikasi cara ini ini, misalnya dengan cara membuat sejumlah lubang sedalam dan dengan jumlah lubang tertentu menggunakan tugal atau linggis melingkar di bawah tajuk kemudian pupuk diisikan ke dalam lubang lalu lubang ditutup tanah kembali. Pemupukan dengan cara ini dilakukan dengan alasan : i) Kesuburan tanah relatif lebih rendah (tanah tegalan atau kebun) ii) Populasi tanaman lebih rendah karena jarak tanam lebih lebar iii) Volume pupuk yang digunakan berjumlah lebih sedikit
  12. 12. iv) Volume akar tanaman sedikit dan tidak menyebar 2) Pemupukan melalui daun (spraying, foliar application) : massa pupuk dalam jumlah tertentu dilarutkan ke dalam air dan campuran pupuk dengan air ini menghasilkan larutan pupuk dengan konsentrasi sangat rendah (kurang dari 0,05%. Larutan pupuk ini kemudian ini disemprotkan langsung ke daun-daun tanaman, menggunakan alat semprot volume rendah (hand sprayer), volume sedang (sprayer gendong), maupun volume besar menggunakan mesin kompresor, bahkan menggunakan pesawat terbang kecil untuk hamparan pertanaman yang luas. Berbeda dengan pemupukan melalui akar, pemupukan melalui daun harus memperhatikan beberapa hal : a) Konsentrasi pupuk harus dibuat mengikuti petunjuk pemakaian pada label kemasan pupuk, dengan konsentrasi kepekatan pupuk berada pada kisaran angka 0,01% (1 gram pupuk padat dilarutkan ke dalam 1000 cc air) hingga konsentrasi maksimum 0,05% (5 gram pupuk padat dilarutkan ke dalam 1000 cc air). Larutan pupuk yang terlalu pekat akan menyebabkan plasmolisis, yaitu peristiwa di mana cairan dalam sel-sel daun dengan konsentrasi lebih rendah akan tersedot keluar sel untuk menyatu dengan larutan pupuk sehingga sel-sel yang kehilangan cairan menjadi mati dengan gejala seperti terbakar. Karenanya penggunaan konsentrasi larutan pupuk yang rendah sangat dianjurkan dan hal ini dapat dikompensasikan dengan cara meningkatkan frekuensi pemupukan agar efisiensi dan efektifitas pemupukan melalui daun menjadi lebih tinggi (misalnya : konsentrasi pupuk 0,05% dilakukan setiap 14 hari sekali diubah menjadi konsentrasi larutan pupuk 0,03% dilakukan setiap 7 atau 10 hari sekali selama periode pemupukan dilakukan). b) Faktor penguapan larutan pupuk akibat tingginya suhu lingkungan harus menjadi pertimbangan saat aplikasi, oleh karena itu idealnya pemupukan dilakukan saat matahari tidak sedang bersinar dengan terik. Sebelum jam 8 pagi atau sesudah jam 4 sore adalah waktu yang ideal untuk menyemprotkan larutan pupuk agar pupuk dapat terserap daun dengan baik dan mengurangi resiko larutan pupuk yang menguap akibat suhu lingkungan yang tinggi. c) Umumnya, mulut daun (stomata) menghadap ke bawah, karenanya pupuk diberikan dengan cara menyemprotkan larutan pupuk pada daun bagian bawah terlebih dahulu kemudian diikuti pembasahan larutan pupuk seluruh permukaan daun. d) Jangan mengaplikasikan pupuk daun jika pada pucuk tanaman tumbuh tunas-tunas baru yang masih rentan terhadap pengaruh pupuk daun, apalagi jika konsentrasi pupuk daun cukup pekat, dapat dipastikan tunas-tunas muda akan mengering dan hangus seperti terbakar. Tunggu hingga daun terbuka dan berkembang sempurna agar pupuk daun daun dapat diaplikasikan. Saat tunas- tunas muda bermunculan, hanya pada daun-daun yang telah terbentuk sempurna di bagian bawah saja yang dapat disemprot dengan larutan pupuk daun. e) Aplikasi penyemprotan pupuk daun pada musim penghujan dapat dilakukan setidaknya 2 jam sebelum perkiraan hujan akan turun agar larutan pupuk pada daun tidak habis tercuci dan sebagian besar larutan pupuk telah terserap dengan baik. f) Hindari aplikasi penyemprotan pupuk daun secara langsung pada bunga yang sedang mekar pada tanaman karena dapat dipastikan bunga dan bakal buah akan rontok beberapa waktu kemudian.
  13. 13. Aplikasi pupuk daun dapat dilakukan pasca persarian selesai dan telah terbentuk bakal buah, dengan menggunakan pupuk daun berkadar fosfat dan kalium tinggi. g) Pada tanaman muda yang baru dipindah tanamkankan (transplanting), baik pindah tanam ke pot yang lebih besar (repotting) maupun tanaman muda yang ditanam di lahan. Setidaknya sebulan setelah pindah tanam, pupuk daun baru dapat diaplikasikan ke tanaman muda tersebut. 3) Pemupukan melalui air siraman : pada pertanaman yang terbatas (jumlah tanaman dan luasan pertanaman), pemupukan melalui akar dapat dimodifikasi dengan mengubah bentuk pupuk padatan menjadi cairan dengan cara melarutkan pupuk ke dalam air, dengan batas kepekatan atau konsentrasi tertentu yang aman dan tidak menyebabkan plasmolisis bagi akar tanaman. Pupuk yang telah berubah bentuknya tersebut kemudian diberikan ke tanaman sekaligus sebagai air siraman. Metode ini banyak direkomendasikan oleh pabrikan pupuk karena pupuk-pupuk generasi baru umumnya bersifat water soluble (sangat mudah larut dalam air) dengan ampas sisa pupuk yang tidak terlarut berjumlah sangat sedikit. Pemupukan dengan cara ini mempunyai beberapa kelebihan: a) Pemberian nutrisi secara lengkap dapat dilakukan dengan baik dengan melihat kebutuhan tanaman, berdasarkan jenis-jenis tanaman dan fase pertumbuhannya b) Dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kesuburan tanah yang mengalami kekurangan hara- hara tertentu c) Efisiensi pemupukan dapat ditingkatkan karena meningkatnya daya serap akar tanaman terhadap pupuk dalam bentuk larutan d) Efektifitas pemupukan dapat terlihat nyata dengan meningkatnya kualitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman e) Kualitas buah yang dihasilkan dapat ditingkatkan menjadi lebih baik dengan memberikan pupuk tertentu f) Media pertumbuhan tanaman tetap bersih dan relatif bebas dari penyakit akibat aplikasi pemupukan yang terjadwal PETUNJUK APLIKASI PESTISIDA Pestisida adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Penggunaan secara tidak terukur dan tidak memahami cara kerja pestisida yang digunakan justru dapat
  14. 14. membahayakan lingkungan dan kesehatan, baik pengguna maupun konsumen dari produk pertanian yang bersangkutan. CARA KERJA PESTISIDA Racun Kontak Pestisida jenis ini akan bekerja dengan baik jika terkena atau kontak langsung dengan OPT sasaran. Untuk jenis insektisida, penggunaan racun kontak sangat efektif untuk mengendalikan serangga yang menetap, seperti ulat, kutu daun, dan semut. Racun ini kurang bekerja baik terhadap serangga-serangga yang mempunyai mobilitas tinggi, seperti lalat buah, kutu kebul, dan belalang. Racun Pernapasan Cara kerja racun pernapasan hanya ada pada insektisida dan akan bekerja jika terhisap melalui organ pernafasan. Waktu penyemprotan paling efektif adalah ketika hama sasaran sedang berada pada puncak aktifitasnya, sehingga dengan pernapasan yang semakin cepat maka semakin banyak pula racun yang dihisap. Racun Perut atau Racun Lambung Racun dalam pestisida jenis ini akan bekerja jika bagian tanaman yang sudah disemprot termakan oleh hama/serangga sasaran. Beberapa rodentisida dan insektisida bekerja dengan cara ini. Racun Sistemik Pestisida jenis ini akan bekerja jika racun yang disemprotkan ke bagian tanaman sudah terserap masuk ke dalam jaringan tanaman baik melalui akar maupun daun sehingga dapat membunuh OPT yang berada di dalam jaringan tanaman, seperti bakteri/fungi. Pada insektisida sistemik, serangga akan mati kalau sudah memakan atau menghisap cairan tanaman yang sudah menyerap racun. Cairan atau bagian tanaman yang dimakan akan menjadi racun lambung bagi serangga. Racun sistemik sangat cocok untuk mengendalikan serangga penghisap atau serangga yang sulit dikendalikan menggunakan racun kontak. Herbisida Purnatumbuh dan Pratumbuh Pada herbisida purna tumbuh hanya akan bekerja pada bagian tanaman yang sudah memiliki organ sempurna, seperti akar, batang, dan daun. Sedangkan herbisida pra tumbuh akan mematikan biji gulma yang belum berkecambah. FORMULASI PESTISIDA Water Dispersable Granule (WDG) Bentuk butiran halus, merupakan formulasi kering yang mudah dilarutkan dalam air. Tetapi formulasi ini dalam air agak kurang stabil sehingga mudah mengendap. Emulsifiable Concentrate (EC) Dibentuk dengan mencampurkan bahan aktif pestisida yang hanya larut dalam minyak dengan penambahan emulsi. Dengan demikian bahan aktif yang hanya larut dalam minyak dapat larut dalam air
  15. 15. dan membentuk cairan seperti susu. Formulasi ini sangat stabil sehingga tidak dibutuhkan pengadukan berulang-ulang. Salt Concentrate (SC) Dibentuk dengan menggabungkan bahan aktif dari turunan (derifatif) garam dengan air. Bersifat cepat larut dan menyebar merata dalam air. Wettable Powder (WP) Dibentuk dari bahan aktif dengan daya larut rendah dan mengandung bahan tambahan (filler). Bahan aktif direkatkan pada bahan tambahan dengan bahan perekat. Granule (G) Berbentuk butiran padat dengan ukuran bervariasi sehingga formulasi ini mudah ditebarkan. Merupakan campuran antara bahan aktif dengan butiran yang mampu mengikat ion, seperti butiran liat atau vermikulit, atau dengan cara melapisi bahan aktif dengan polimer seperti kapsul. Ultra Low Volume (ULV) Formulasi ini berbentuk cair dengan kandungan bahan aktif sangat tinggi. Dirancang untuk disemprotkan dengan alat khusus, yaitu ULV. KARAKTERISTIK PESTISIDA Efektifitas Pestisida Merupakan daya bunuh pestisida terhadap OPT. Pestisida yang baik memiliki daya bunuh yang cukup untuk mengendalikan OPT dengan dosis rendah sehingga memperkecil dampat buruk terhadap lingkungan. Selektifitas Merupakan kemampuan pestisida membunuh beberapa jenis organisme. Disarankan untuk menggunakan pestisida yang bersifat selektif atau berspektrum sempit. Dimana pestisida tersebut hanya membunuh OPT sasaran tanpa membahayakan organisme lain termasuk musuh alami OPT. Fototoksisitas Merupakan suatu efek samping aplikasi pestisida yang dapat menimbulkan keracunan bagi tanaman, ditandai dengan pertumbuhan abnormal setelah aplikasi pestisida. Oleh karena itu tidak boleh menggunakan pestisida secara tidak terukur atau berlebihan. Residu Pestisida Adalah kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun setelah penyemprotan. Residu terlalu lama akan berbahaya bagi manusia dan lingkungan, sedangkan residu yang terlalu pendek akan mengurangi efektifitas pestisida dalam pengendalian OPT. Persistensi Kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun di dalam tanah. Pestisida yang memiliki persistensi tinggi akan sangat berbahaya bagi lingkungan.
  16. 16. Resistensi Merupakan kekebalan OPT terhadap pestisida. Pestisida yang memiliki potensi resistensi tinggi sebaiknya tidak digunakan. Untuk mencegah resistensi pada hama/penyakit terhadap salah satu jenis pestisida, sebaiknya dilakukan penggantian bahan aktif setiap kali aplikasi pestisida. LD 50 atau Lethal Dosage 50% Besarnya dosis yang dapat mematikan 50% dari jumlah mamalia percobaan. Pestisida yang memiliki LD 50 tinggi berarti hanya dengan dosis yang sangat tinggi pestisida tersebut dapat mematikan mamalia. Dalam penerapan PHT disarankan untuk memilih pestisida dengan LD 50 tinggi. Kompatibilitas Adalah kesesusaian antara satu jenis pestisida untuk dicampur dengan pestisida lain tanpa menimbulkan dampak negatif dari pencampuran itu. PERJALANAN PESTISIDA SETELAH PENYEMPROTAN Setelah melakukan penyemprotan, maka pestisida akan terkena pengaruh lingkungan. Dengan mengetahui pengaruh yang akan terjadi setelah pestisida disemprotkan, maka akan sangat membantu untuk membuat program penyemprotan sehingga pemakaian pestisida bisa mengikuti prinsip 4 tepat. Setelah penyemprotan, kemungkinan pertama yang akan terjadi adalah tiupan angin terhadap kabut semprot, sehingga pestisida akan jatuh di tempat yang tidak diharapkan. Walaupun kabut semprot dapat mengenai sasaran, tetapi sebarannya sudah tidak merata, atau terlalu banyak kabut semprot yang terbuang, sehingga terjadi pemborosan pestisida. Kalau hal ini terjadi pada herbisida, maka tanaman utama akan beresiko terkena kabut semprot. Oleh karena itu disarankan penyemprotan tidak dilakukan saat angin bertiup kencang. Kemungkinan lain yang akan terjadi adalah : A. Run off, sebagian kabut semprot yang membasahi daun akan mengalir dan jatuh ke tanah, tetesan pestisida yang jatuh ke tanah ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. B. Penguapan, sebaiknya penyemprotan tidak dilakukan saat matahari terik.
  17. 17. C. Fotodekomposisi, penguraian pestisida menjadi bentuk tidak aktif karena pengaruh cahaya, sehingga efektifitas pestisida berkurang. D. Penyerapan oleh partikel tanah, menyebabkan tertimbunnya sisa pestisida di dalam tanah sehingga menyebabkan pencemaran tanah. Selain itu penyerapan oleh tanah juga akan menurunkan efektifitas pestisida yang memang ditujukan untuk mengendalikan OPT yang terdapat di dalam tanah. E. Pencucian pestisida oleh air hujan dan terbawa ke dalam lapisan tanah bagian bawah sehingga mencemari sumber air tanah. F. Reaksi kimia, yaitu perubahan molekul pestisida menjadi bentuk tidak aktif atau tidak beracun. G. Perombakan oleh mikroorganisme, bahan pembentuk pestisida setelah jatuh ke tanah akan menjadi bagian tubuh mikroorganisme. PETUNJUK PENCAMPURAN PESTISIDA 1. Jangan mencampur pestisida di tempat tertutup, lakukan pencampuran di tempat terbuka 2. Jangan menyimpan campuran pestisida, pencampuran pestisida dengan air hanya dilakukan saat penyemprotan 3. Gunakan air bersih dan tidak mengandung kotoran yang dapat menyumbat nozel 4. Masukkan air terlebih dahulu ke dalam tangki, baru pestisida dimasukkan dan diaduk 5. Jangan menggunakan pestisida yang terlalu lama disimpan dan sudah mengalami perubahan fisik, seperti terbentuknya garam di sekitar tutup botol atau terjadi perubahan warna 6. Jangan melakukan pencampuran pestisida satu dengan lainnya jika belum yakin bahwa kedua jenis pestisida tersebut dapat dicampur. Lakukan pengetesan, jika setelah pencampuran dua jenis pestisida terbentuk endapan, atau terbentuk lapisan yang tidak menyatu, seperti minyak dengan air, atau seperti santan pecah, maka kedua jenis pestisida tersebut tidak kompatible untuk dicampur. 7. Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih yang mempunyai cara kerja sama, sebagai contoh: Racun pernafasan dengan racun pernafasan, kontak dengan kontak atau sistemik dengan sistemik 8. Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih dalam satu golongan, sebagai contoh: piretroid dengan piretroid atau karbamat dengan karbamat 9. Buatlah campuran pestisida sesuai perhitungan luas areal yang akan disemprot 10. Jangan meningkatkan dosis atau konsentrasi lebih tinggi dari kisaran yang tertera pada label. Jika pada dosis atau konsentrasi tertinggi sesuai yang tercantum pada kemasan suatu pestisida tidak lagi efektif mengendalikan OPT sasaran, maka disarankan untuk mengganti dengan bahan aktif yang berbeda.
  18. 18. PENGGUNAAN SURFAKTAN ATAU LEM Penggunaan surfaktan sangat diperlukan dalam aplikasi pestisida. Permukaan daun yang memiliki lapisan lilin atau bulu-bulu halus menyebabkan kabut semprot tidak dapat melapisi secara sempurna. Oleh karena itu pemakaian surfaktan sangat disarankan pada budidaya yang berorientasi keuntungan. Surfaktan berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan air, sehingga kabut semprot yang jatuh di atas permukaan daun tidak membentuk butiran, tetapi menyebar ke seluruh permukaan daun. Selain itu surfaktan juga berfungsi sebagai perekat.
  19. 19. Cabai Penyemaian BIBIT CABAI Hama & Penyakit Kesuksesan dalam budidaya Cabai dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor lingkungan dan cuaca, teknik budidaya, harga pasar, pengetahuan atau pengalaman dan jangan lupa faktor keberuntungan juga ikut ambil bagian. Namun dari sekian banyak faktor penentu keberhasilan budidaya cabai, baik cabai merah, cabai besar ataupun cabai rawit faktor yang paling memegang perananan adalah teknik budidaya. Teknik budidaya adalah cara dalam melakukan budidaya cabai dari awal hingga panen. Teknik budidaya yang dimaksud meliputi kegiatan persiapan tanam, mulai dari pemilihan benih, pengolahan lahan hingga pemeliharaan tanaman cabai sampai panen. Salah satu teknik budidaya yang sangat berpengaruh dalam kesuksesan budidaya cabai adalah penyemaian dan pemeliharaan bibit cabai dipersemaian hingga bibit siap tanam. Jika penyemaian dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan benar, kasus kerugian akibat gangguan hama maupun penyakit dapat dihindari. Pemeliharaan bibit cabai dipersemaian menjadi tolok ukur dan memegang peran yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan budidaya cabai dilapangan. Penggunaan benih varietas unggul yang berkualitas, tahan penyakit dan varietas genjah berproduksi tinggi menjadi penentu seperti apakah hasil yang akan diperoleh. Namun tidak jarang dalam kegiatan penyemaian dan pemeliharaan bibit cabai dipersemaian mengalami kendala atau gangguan yang dapat menimbulkan kerugian. Kendala atau gangguan yang sering dialami dalam menyemai benih cabai lebih disebabkan oleh gangguan hama dan penyakit. Serangan hama maupun penyakit bibit cabai dipersemaian dapat menyebabkan berkurangnya persediaan bibit sehingga kita harus membeli lagi benih dan menyemai ulang. Bahkan saya sendiri pernah mengalami kasus serius dalam menyemai benih cabai, bibit cabai yang baru berumur 2 minggu habis tidak tersisa terserang penyakit rebah semai (dumping off). Jenis-jenis Hama dan Penyakit Bibit Cabai Dipersemaian Terdapat beberapa jenis hama dan penyakit yang sering menyerang bibit cabai dipersemaian, antara lain hama jangkrik, semut, bekicot, bakteri, jamur, nematoda dan virus. Dari beberapa jenis hama dan penyakit tersebut, yang menurut saya paling berbahaya adalah penyakit rebah semai atau rebah kecambah atau dumping off. Penyakit ini disebabkan oleh jamur patogen, yaitu Pythium spp. Cara Pengendalian HAMA dan PENYAKIT Bibit Cabai Dipersemaian
  20. 20. A. PENGENDALIAN HAMA PADA BIBIT CABAI Beberapa hama serangga yang sering mengganggu dan merusak bibit cabai dipersemaian antara lain ; 1. Hama jangkrik / gangsir 2. Semut, dan 3. Bekicot Cara pencegahan dan pengendalian a. Meletakkan bibit lebih tinggi dari permukaan tanah dengan membuat rak/panggung untuk menghindari jangkauan hama jangkrik, gangsir, semut dan bekicot b. Merendam benih menggunakan larutan insektisida untuk menghindari hama semut c. Penyemprotan insektisida dosis rendah 4. Hama Nematoda Nematoda adalah hama yang terdapat didalam tanah dan menyebabkan penyakit bengkak akar atau puru akar. Hama penyebab penyakit ini adalah Meloidogyne spp. Gejala terlihat jika semaian agak kekuningan namun sering nampak seperti sehat, pertumbuhan bibit terhenti dan kerdil, jika dicabut terdapat bintil-bintil pada akar yang sulit lepas jika diusap menggunakan tangan. Cara pencegahan dan pengendalian a. Media untuk penyemaian menggunakan lapisan sub soil (1,5-2 m di bawah permukaan tanah), pupuk kandang matang yang halus dan pasir kali pada perbandingan 1:1:1 b. Campuran media ini disterilkan dengan cara dikukus selama 2 jam untuk mematikan hama yang ada pada media c. Semaian yang terinfeksi penyakit harus dicabut dan dimusnahkan, media tanah yang terkontaminasi dibuang d. Menaburkan nematisida secara merata pada media semai sebelum atau sesudah benih ditaburkan B. PENGENDALIAN PENYAKIT PADA BIBIT CABAI 1. Penyakit LAYU BAKTERI Penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Penyakit ini bisa mulai menyerang bibit cabai muda yang baru tumbuh hingga bibit cabai siap tanam. Gejala penyakit layu bakteri adalah tanaman muda atau bibit tiba-tiba layu dimulai dari pucuk tanaman, selanjutnya seluruh bagian tanaman layu hingga akhirnya mati. Jika tidak segera diatasi penyakit ini dapat menular kebibit lainnya. Cara pencegahan dan pengendalian
  21. 21. a) Media untuk penyemaian menggunakan lapisan sub soil (1,5-2 m di bawah permukaan tanah), pupuk kandang matang yang halus dan pasir kali pada perbandingan 1:1:1 b) Campuran media ini disterilkan dengan cara dikukus selama 2 jam untuk mematikan bakteri yang ada pada media c) Menggunakan benih varietas unggul yang tahan layu bakteri d) Merendam benih menggunakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobakteri) e) Semaian yang terinfeksi penyakit harus dicabut dan dimusnahkan, media tanah yang terkontaminasi dibuang f) Naungan persemaian secara bertahap dibuka agar matahari masuk dan tanaman menjadi lebih kuat g) Menutup persemaian dengan atap plastik transparan untuk menghindari siraman air hujan. Tujuannya agar media semai tidak terlalu lembab atau becek. h) Penggunaan fungisida/bakterisida selektif dengan dosis batas terendah 2. Penyakit REBAH KECAMBAH / REBAH SEMAI (Dumping off) Penyakit rebah kecambah atau rebah semai disebabkan oleh beberapa jenis cendawan, yaitu Pythium spp, Fusarium spp, Phytophthora spp dan Colletotrichum spp. Penyakit ini mulai menyerang pada benih sebelum berkecambah hingga benih dewasa siap tanam. Gejala terlihat jika terdapat benih cabai yang gagal tumbuh, benih berwarna hitam dan membusuk, biji yang sudah berkecambah mati secara tiba-tiba. Pada benih dewasa terlihat pertumbuhan semaian yang kerdil karena batang bawah atau leher akar membusuk dan mengering. Pada bedengan persemaian nampak kebotakan kecambah atau semaian cabai secara sporadis dan menyebar tidak beraturan. Cara pengendalian dan pencegahan a) Media untuk penyemaian menggunakan lapisan sub soil (1,5-2 m di bawah permukaan tanah), pupuk kandang matang yang halus dan pasir kali pada perbandingan 1:1:1 b) Campuran media ini disterilkan dengan cara dikukus selama 2 jam untuk mematikan cendawan yang mungkin ada pada media c) Menggunakan benih varietas unggul yang tahan penyakit jamur d) Merendam benih menggunakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobakteria) dan Trichoderma, sp e) Semaian yang terinfeksi penyakit harus dicabut dan dimusnahkan, media tanah yang terkontaminasi dibuang f) Naungan persemaian secara bertahap dibuka agar matahari masuk dan tanaman menjadi lebih kuat g) Menutup persemaian dengan atap plastik transparan untuk menghindari siraman air hujan. Tujuannya agar media semai tidak terlalu lembab atau becek. Media yang lembab adalah tempat yang disukai jamur untuk tumbuh dan berkembang biak.
  22. 22. h) Penggunaan fungisida dosis rendah dengan cara disemprotkan kepersemaian hingga membasahi media semai 3. Penyakit MOSAIK VIRUS Penyakit mosaik belang kuning atau klorosis disebabkan oleh Potato Virus (PVY), CMV atau Tobacco Etch Virus (TEV), atau TMV. Gejala terlihat pada daun tanaman muda, yaitu warna daun belang kuning atau klorosis. Penyakit ini menular melalui hama vektor, yaitu kutu kebul dan kutu daun. Belum ditemukan bahan aktif yang mampu membunuh virus tersebut, salah satu cara pengendaliannya adalah mengendalikan vektornya agar virus tidak menyebar ketanaman lainnya. Cara pengendalian dan pencegahan a) Media untuk penyemaian menggunakan lapisan sub soil (1,5-2 m di bawah permukaan tanah), pupuk kandang matang yang halus dan pasir kali pada perbandingan 1:1:1 b) Campuran media ini disterilkan dengan cara dikukus selama 2 jam untuk memamtikan cendawan yang mungkin ada pada media c) Menggunakan benih varietas unggul tahan virus d) Merendam benih menggunakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobakteri) dan Trichoderma, sp agar bibit yang tumbuh menjadi kuat dan tahan terhadap penyakit e) Semaian yang terinfeksi penyakit harus dicabut dan dimusnahkan, media tanah yang terkontaminasi dibuang f) Penyemprotan akarisida sejak sebelum bibit terserang untuk mematikan hama vektor pembawa virus, yaitu kutu kebul dan kutu daun

×