Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Buku diktat hama dan penyakit tanaman

le

  • 1,360 vues

 

Statistiques

Vues

Total des vues
1,360
Vues sur SlideShare
1,360
Vues externes
0

Actions

J'aime
0
Téléchargements
118
Commentaires
0

0 Ajouts 0

No embeds

Accessibilité

Catégories

Détails de l'import

Uploaded via as Microsoft Word

Droits d'utilisation

© Tous droits réservés

Report content

Signalé comme inapproprié Signaler comme inapproprié
Signaler comme inapproprié

Indiquez la raison pour laquelle vous avez signalé cette présentation comme n'étant pas appropriée.

Annuler
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Êtes-vous sûr de vouloir
    Votre message apparaîtra ici
    Processing...
Poster un commentaire
Modifier votre commentaire

Buku diktat hama dan penyakit tanaman Document Transcript

  • 1. bukudiktathamadanpenyakittan aman-130302221720- phpapp02.doc Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta 2010 1
  • 2. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc. Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc. Deskripsi Mata Kuliah Mata kuliah ini menguraikan Interaksi Tanaman dan Hama; Pendugaan KehilanganHasil dan Ambang Pengendalian; Landasan Ekologi Pengelolaan Hama; Pengamatan danPengambilan Sampel; Unsur dan Komponen Dasar PHT; Pengendalian dengan VarietasResisten, Pengembangan Tanaman Transgenik, Karantina Tumbuhan; PengendalianHayati; Pengendalian Kimiawi; Pengelolaan Hama Tanaman Pangan, Hortikultura,Perkebunan dan Pasca Panen; Kebijakan Perlindungan Tanaman.Tujuan Instruksional Khusus:Agar mahasiswa dapat:1. Memahami dan menjelaskan pengertian + batasan hama tanaman, klasifikasi, identifikasi, taksonomi dan sistematikanya.2. Memahami dan menjelaskan gejala serangan, mengukur berat serangan dan tingkat kerugian hasil yang diakibatkan oleh hama.3. Memahami dan menjelaskan jenis-jenis hama dan gejala serangan hama tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan hama pasca panen.4. Memahami dan menjelaskan sifat dan kemampuan beradaptasi hama pada tingkat individu.5. Memahami dan menjelaskan faktor-faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi populasi hama dan kerusakan yang diakibatkannya.6. Memahami dan menjelaskan cara penentuan dan penggunaan Ambang Pengendalian sebagai dasar rekomendasi pengendalian hama.7. Memahami dan menjelaskan konsep dan prinsip-prinsip PHT dan penerapannya untuk berbagai jenis dan kelompok hama di pertanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan pasca panen.8. Memahami dan menjelaskan beberapa kasus aktual lapangan yang berkaitan dengan pengendalian hama-hama utama di Indonesia. 2
  • 3. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 1 HAMA TANAMANPokok Bahasan:1. Beberapa batasan dan pengertian.2. Arti penting hama tanaman untuk program pembangunan pertanian.3. Data kerusakan dan sebaran beberapa hama utama di Indonesia.4. Sebab-sebab muncul dan berkembangnya masalah hama tanaman.5. Tujuan pengendalian hama dan pongelolaan hama.Materi: PERISTILAHAN• Hama Tanaman  Merujuk pada binatang yang menjadi HAMA yakni merusak tanaman dan merugikan petani  Selama binatang tersebut (serangga, tikus, nematoda, tungau, dll) mendatangkan kerugian disebut HAMA TANAMAN  Tetapi keberadaan binatang di tanaman tidak selalu mendatangkan kerugian/kerusakan tanaman  Banyak jenis binatang herbivora ada di pertanaman tetapi tidak semuanya menjadi hama  Di samping itu di ekosistem banyak sekali jenis binatang yang tidak merugikan malahan menguntungkan seperti MUSUH ALAMI (parasitoid, predator), serangga PENYERBUK TANAMAN (lebah, tawon) serangga-serangga netral seperti SEMUT, dll. Istilah HAMA merupakan istilah yang ANTROPOSENTRIS artinya lebih berpusat pada kepentingan manusia. Bagaimana dengan istilah HAMA TUMBUHAN? Sebetulnya kurang tepat karenaTUMBUHAN adalah semua jenis tetumbuhan yang hidup di biosfir termasuk tumbuhan diekosistem alami atau tumbuhan yang tidak dibudidayakan manusia. TANAMAN adalah tumbuhan yang diusahakan manusia untuk diambil manfaatnnyabagi kehidupan manusia. Karena istilah HAMA pada dasarnya antropogenik, yang palingtepat kita gabungkan istilahnya adalah HAMA TANAMAN, istilah HAMA TUMBUHANdapat juga dipakai meskipun kurang pas kombinasinya. 3
  • 4. Kalau istilah PENYAKIT TUMBUHAN memang lebih tepat, karena PENYAKIT lebihmerujuk pada GEJALANYA. Tumbuhan sedang sakit, kondisi yang secara fisiologi tidaknormal, tidak sehat. Setiap jenis tumbuhan termasuk TANAMAN dapat sakit. Sakitnyatumbuhan dapat disebabkan oleh karena infeksi jasad renik seperti virus, jamur, bakteri,dll, tetapi sakitnya mungkin juga karena kondisi fisik/abiotik yang tak sesuai seperti suhu,kering, basah, dll. Karena itu di Ilmu Penyakit Tumbuhan kita kenal Organisme PenyebabPenyakit. Kalau hama merujuk pada binatang yang merugikan, penyakit merujuk padagejala tumbuhan yang SAKIT. OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) merupakan istilah “formal/hukumnasional” yang digunakan oleh Pemerintah berdasarkan UU No. 12/1992 tentang SistemBudidaya Tanaman dan PP 6/1995 tentang Perlindungan Tanaman. Menurut UU tersebut:“OPT adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, ataumenyebabkan kematian tumbuhan”. Digunakannya istilah OPT untuk mencakup semua kelompok pengganggutumbuhan termasuk HAMA, PENYAKIT dan GULMA. Tiga kelompok pengganggutumbuhan ini yang pengendalian atau pengelolaannya dicakup dalam bidangPERLINDUNGAN TANAMAN. Namun harap diperhatikan bahwa definisi OPT menurutUU ada perbedaannya dengan pengertian Hama Tanaman dan Penyakit Tumbuhan yangsudah dijelaskan di depan. Teman-teman Fitopatologi banyak yang tidak sependapatdengan istilah OPT. Dilihat dari sisi ilmu-ilmu dasar pendukung Perlindungan Tanaman sbb:HAMA TANAMAN :- Entomologi (ilmu serangga)- Nematologi (ilmu nematoda)- Rodentologi (Ilmu rodent/tikus)- Akarologi (ilmu akarina)- dllKarena sebagian besar hama termasuk kelompok serangga seringkali Ilmu Hamadiartikan entomologi.PENYAKIT TUMBUHAN :- Fitopatologi- Virologi- Mikologi- dstGULMA :- Ilmu gulmaDalam bahasa inggris Istilah PEST sebenarnya digunakan untuk seluruh kelompok OPT,namun secara khusus sering diartikan untuk pengertian HAMAHAMA TANAMAN SEBAGAI FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN PROGRAMPEMBANGUNAN PERTANIAN 4
  • 5. Program Pembangunan Pertanian Nasional apakah dengan pola PembangunanPertanian AGRIBISNIS atau program KETAHANAN PANGAN sangat ditentukan olehkeberhasilan kita dalam mengendalikan, mengelola HAMA TANAMAN. Hal ini disebabkankarena berbagai jenis HAMA dan atau OPT lainnya dapat menurunkan KUANTITAS danKUALITAS hasil-hasil pertanian, dan sangat sering MENGGAGALKAN PANEN,menyebabkan PUSO, artinya 100% GAGAL. Serangan HAMA mengakibatkan:1. Produksi TURUN (nasional, propinsi, lokal, tingkat petani)2. Kualitas ANJLOK (mutu rendah-sulit dipasarkan-diekspor)3. Harga produk MEROSOT4. Biaya produksi NAIK5. RUGI secara ekonomik (biaya lebih besar daripada pendapatan)6. PENGHASILAN NEGARA/DAERAH (PAD) TURUN7. PENGHASILAN TURUN ---- KESEJAHTERAAN PETANI MENURUN ---- KEMISKINAN MENINGKAT Taksiran KASAR/KONSERVATIF. Rata-rata kehilangan hasil Produksi Pertaniankarena serangan OPT ± 30% dari potensi hasil --- kehilangan hasil karena HAMA sekitar20 – 25%. HITUNG SENDIRI secara finansial berapa kerugian yang kita derita setiaptahun karena hama-hama padi, bila produksi tahun 2003 itu diperkirakan 53 juta ton padikering panen. Jumlah itu setelah dikurangi 25% kehilangan hasil oleh OPT padi. Menurut catatan DEPTAN 1997-2001, serangan OPT padi, jagung, kedelai sebesarRp 463 milyar /tahun. Tahun 1999 serangan OPT Perkebunan merugikan sebesar Rp 340milyar. Serangan OPT Hortikultura (mangga, jeruk, pisang, bawang merah, cabai,kentang, kubis, tomat) diasumsikan rata-rata Rp 1,7 trilyun/tahun. Lihat juga tabelkeadaan serangan OPT di Indonesia pada tahun 2001-2002 (jenis dan luas serangan) Mengingat potensi penurunan hasil akibat HAMA yang sangat besar kegiatanPengelolaan Hama menjadi BAGIAN PENTING - INTEGRAL dari setiap USAHA TANIatau BUDIDAYA TANAMAN agar diperoleh Tingkat PRODUKSI dan KUALITAS produksiyang DIINGINKAN baik oleh PEMERINTAH maupun PETANI – KELOMPOK TANIFAKTOR-FAKTOR PENDORONG PENINGKATAN SERANGAN DAN KERUSAKANOLEH HAMA Masalah hama di suatu lokasi pada saat/musim tertentu tidak muncul begitu sajatanpa penyebab atau faktor-faktor pendorong. Banyak faktor yang mendorong terus adadan meningkatnya masalah hama. Hampir seluruh faktor pendorong tersebut adalahkarena ulah/perbuatan/tindakan MANUSIA sehingga ekosistem pertanian menjadi sangatsesuai bagi pertumbuhan, pembiakan dan kehidupan hama tanaman. Faktor-faktortersebut antara lain:1. Penanaman monokultur (jenis tanaman atau varietas tanaman yang sama) sepanjang waktu dan tempat, contoh padi2. Penanaman jenis tanaman atau varietas tanaman yang peka hama tetapi unggul produksi3. Penanaman jenis tanaman baru di suatu daerah sehingga belum ada musuh alami di lokasi baru ---- KARANTINA gagal4. Penggunaan masukan produksi yang berkelebihan seperti pupuk buatan, pestisida, hormon tumbuh, pengairan dll. 5
  • 6. 5. Penggunaan pestisida kimia berspektrum lebar yang dilakukan secara tidak bijaksana, terus-menerus dan berlebihan. Pestisida membunuh musuh alami, resistensi dan resurjensi hama.6. dll, termasuk terjadinya penyimpangan cuaca dan iklimKESIMPULANNYA: Masalah timbul, muncul dan terus ada karena manusia, jadi seringdisebutkan bahwa hama saat ini adalah “MAN-MADE PEST” (Hama buatan MANUSIA).Tanpa ada kegiatan manusia tidak ada masalah hama.TUJUAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENGELOLAAN HAMA Pada saat ini di kalangan petani, pejabat dan petugas pemerintah akademisi danmasyarakat dikenal 3 istilah pemberantasan hama, pengendalian hama dan pengelolaanhama. Pemberantasan hama: adalah usaha memusnahkan, membunuh hama yangumumnya dilakukan dengan pestisida kimia secara preventif, tidak memperhitungkankeadaan hama di lapangan apakah sedang dalam kondisi populasi rendah atau tinggi,pokoknya disemprot habis-habisan sampai petani merasa puas. Pemberantasan hamayang mengakibatkan munculnya resisitensi hama dan letusan hama yang berkelanjutan Pengendalian hama: lebih hati-hati daripada pemberantasan hama. Penggunaanpestisida hanya dilakukan bila populasi hama telah membahayakan atau melampauiambang pengendalian atau ambang ekonomi. Bila populasi hama tidak membahayakantidak perlu dikendalikan dengan pestisida. Pengelolaan hama: Lebih menekankan aspek pengelolaan ekosistem (tanaman,tanah, mikroklimat, budidaya dll) sedemikian rupa sehingga populasi hama tetap beradadalam keseimbangan dengan musuh alaminya sehingga hama tidak membahayakan, takperlu dilakukan pengendalian dengan pestisida tetapi produksi tanaman tetap tinggi,kualitas produksi baik PHT (Pengendalian Hama Terpadu) merupakan kebijakan Perlintan di Indonesiaberdasarkan UU No 12/1992 dan PP 6/1995. PHT adalah usaha pengelolaanagroekosistem dengan memadukan berbagai teknik pengendalian hama (bercocok tanam,fisik, mekanik, varietas resisten, pengendalian hayati, pengendalian kimia, dll) sedemikianrupa sehingga populasi hama tetap berada di bawah Ambang Pengendalian. 6
  • 7. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 2 INTERAKSI TANAMAN DAN HAMA Interaksi antara tanaman dan hama dapat dilihat dari aspek EKOLOGIS danEKONOMIS. Dari sisi ekologi hubungan antara tanaman dan hama merupakan interaksiyang saling mengendalikan antara tanaman yang autotroph dengan binatangHERBIVORA yang heterotroph dalam suatu sistem trofi yang berjalan secara EFISIENdan berkesinambungan. Karena kemampuannya mengubah energi surya menjadi energibiokimia melalui proses fotosistesis tanaman menempati aras trofi pertama sebagaiPRODUSEN. Energi pada tanaman digunakan oleh binatang yang memakan tanaman(HERBIVORA) yang menempati aras trofi kedua sebagai KONSUMEN PERTAMA.Binatang karnivora memperoleh energinya dengan memangsa herbivora sehinggamenempati aras trofi ketiga sebagai KONSUMEN KEDUA, demikian seterusnya. Aliranenergi di ekosistem melalui sistem trofi dapat dilihat pada gambar berikut: Energi memasuki ekosistem sebagai radiasi surya EKOSISTEM Produsen Konsumen 1 Konsumen 2 Dekomposer Energi keluar ekosistem sebagai panas Gambar 1. Aliran Energi dalam Ekosistem melalui Sistem Trofi Aras Istilah trofi Ekosistem Antroposentris 1 Tumbuhan Tanaman 2 Herbivora Hama tanaman 3 Karnivora 1 Predator, parasitoid (musuh alami) 7
  • 8. 4 Karnivora 2 Predator, hiperparasitoid Perlu diperhatikan bahwa di ekosistem termasuk ekosistem persaingan interaksiantara organisme yang menempati aras trofi yang sama atau antar aras trofi sangatkompleks, dan dinamis melalui proses evolusi dan koevolusi. Tujuan interaksi sebenarnyaadalah terjadinya keseimbangan dan kestabilan ekosistem. Masalah ini akan dibahaspada kuliah dua minggu lagi.Aspek EKONOMIS Adanya populasi serangga/hama di suatu tanaman akan menimbulkan LUKA(“injury”) pada tanaman. Luka adalah setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanamansebagai akibat aktivitas serangga hama yang hidup, berada dan makan pada tanamantersebut. Luka tanaman dapat mengakibatkan terjadinya KERUSAKAN (“damage”).Kerusakan adalah kehilangan hasil yang dirasakan oleh tanaman (petani) akibat adanyapopulasi hama atau serangan hama antara lain dalam bentuk penurunan kuantitas dankualitas hasil. Pengertian dan istilah LUKA lebih terpusat pada HAMA dan AKTIVITASNYA,sedangkan KERUSAKAN lebih terpusat pada TANAMAN dan respon tanaman terhadappelukaan oleh hama. Istilah-istilah lain berkaitan dengan hama dan tanaman yang saat ini digunakandalam kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh para petugas pengamat lapangan ( dulunamanya PHP- Pengamat Hama dan Penyakit, sekarang namanya POPT- PengendaliOPT).1. Tanaman terserang adalah tanaman yang digunakan sebagai tempat hidup dan berkembang biak OPT dan atau mengalami kerusakan karena serangan OPT pada tingkat populasi OPT atau intensitas kerusakan tertentu sesuai dengan jenis OPT nya2. Luas serangan: adalah luas tanaman terserang yang dinyatakan dalam hektar atau rumpun atau pohon3. Intensitas serangan: adalah derajat serangan OPT atau derajat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh OPT yang dinyatakan secara kuantitatif dan kualitatif. a. Intensitas serangan secara kuantitatif dinyatakan dalam % (persen) bagian tanaman/tanaman atau persen kelompok tanaman terserang. Intensitas serangan dalam % dilaporkan oleh PHP b. Intensitas serangan secara kualitatif dibagi menjadi 4 kategori serangan yaitu: ringan, sedang, berat dan puso. Kategori serangan dilaporkan oleh koordinator PHP, BPTPH. Adapun kategori intensitas serangan serangga hama secara umum dapat digunakanpedoman sbb: a. Serangan ringan bila derajat serangan <25% b. Serangan sedang bila derajat serangan 25-50% c. Serangan berat bila derajat serangan 50-90% d. Serangan puso bila derajat serangan >90 %CARA PELUKAAN TANAMAN OLEH SERANGGAA. Luka Oleh Serangga Pada Tanaman Yang Sedang Tumbuh 1. Luka oleh serangga penggigit 2. Luka oleh serangga pencucuk pengisap 8
  • 9. 3. Luka oleh serangga yang makan di dalam jaringan tanaman (internal feeders) termasuk penggerek, pengorok dan pembuat puru 4. Luka oleh serangga-serangga tanah 5. Luka oleh serangga yang sedang meletakkan telur dan membuat sarang 6. Luka oleh serangga-serangga yang “memperhatikan” serangga-serangga lain 7. Luka oleh serangga sebagai vektor/pengantar penyakit tumbuhan Berbagai bentuk luka oleh serangga pada tanaman yang biasa kita catat sebagaiGEJALA SERANGAN hama. 9
  • 10. FAKTOR-FAKTOR BIOTIK DAN ABIOTIK Populasi Populasi KEHILANGAN KERUGIAN LUKA KERUSAKAN HASIL DAN EKONOMIK Hama Tanama KUALITAS PETANI n TINDAKAN MANUSIAKeterangan :Hasil interaksi antara populasi hama dan tanaman mengakibatkan luka pada tanaman, luka mengakibatkan kerusakan dan kerusakan tanamankarena hama menyebabkan terjadinya kehilangan atau penurunan hasil tanaman dan kualitas produk/hasil. Kehilangan hasil dapat berakibatpada kerugian ekonomi (biaya lebih besar daripada nilai produksi) yang dialami petani atau pengusaha pertanian. Hasil interaksi populasi hamadan populasi tanmaan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor biotik lainnya dan faktor-faktor abiotik dan terutama oleh tindakan manusia terhadapekosistem Gambar 2. Interaksi antara Populasi Hama dan Tanaman 10
  • 11. B. Luka Oleh Serangga Pada Manusia Dan Binatang LainC. Serangga Sebagai Perusak Produk Di Gudang Dan Bahan-Bahan LainD. Metode Pendugaan Kerusakan Tanaman Oleh Hama Pendugaan atau penghitungan pengaruh hama terhadap kerusakan tanamandan kehilangan hasil karena serangan hama dapat dilakukan dengan menghitungatau mengukur luka atau gejala yang ditinggalkan atau diakibatkan oleh hama.Beberapa pengukuran yang sering digunakan adalah terhadap tanaman ataubagian tanaman antara lain seperti:1. Keseluruhan tanaman Jumlah atau % tanaman mati/busuk atau yang menunjukkan gejala serangan hama tertentu2. Daun Adanya kerusakan daun, lubang gerekan dan gejala daun lainnya diukur dengan menggunakan luas defoliasi, pengurangan berat kering daun3. Batang • Jumlah atau % puru, sundep, beluk • Jumlah lubang keluar • Panjang lubang gerekan • Luka potongan batang oleh ulat4. Buah dan benih • Jumlah lubang atau luka di buah • Jumlah atau % buah rusak seperti terserang PBK (Penggerek Buah Kakao) dan PBKo (Penggerek Buah Kopi)5. Akar • Panjang, berat kering atau volume perakaran yang terserang hama • Luas kerusakan umbi seperti pada tanaman kentang. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 3 9
  • 12. PENDUGAAN KEHILANGAN HASILPokok Bahasan:A. Pendugaan Kehilangan Hasil Akibat Serangan Hama (Crop Loss Assesment)B. Penggunaan Ambang Pengendalian sebagai tingkat pengambilan keputusan penggunaan PESTISIDAMateri: Pendugaan kehilangan hasil adalah usaha untuk menduga, menaksir bahkanmeramal tentang kerugian ekonomi yang mungkin akan dialami oleh petani,perusahaan pertanian, pemerintah atau pengusaha agribisnis karena adanyaserangan hama pada pertanaman yang mereka budidayakan. Dengan melakukanpendugaan kehilangan hasil para produsen pertanian dapat menentukan beberapahal: Apakah keberadaan populasi hama di lahannya akan merugikan atau menurunkan hasil usahanya dalam kisaran toleransi ekonominya. Bila masih berada pada kisaran toleransi petani tidak perlu melakukan tindakan pengendalian atau mengeluarkan biaya untuk pengendalain. Apakah perlu dilakukan tindakan pengendalian atau pencegahan hama. Apabila perlu berapa besar biaya pengendalian yang harus dikeluarkan. Tentunya petani tidak akan mengeluarkan biaya pengendalian sampai melebihi nilai kehilangan hasil Bila petani sudah memutuskan perlu dilakukan tindakan pengendalian, teknik pengendalian mana yang akan digunakan apakah dengan cara kimiawi dengan pestisida kimia atau dengan secara hayati menggunakan musuh alami, atau menggunakaan varietas tanaman tahan hama dan seterusnya. Dalam menetapkan teknik pengendalian hama yang akan dilakukan petani/produsen adalah mempertimbangkan beberapa faktor yaitu a) efektivitas pengendalian, b) biaya pengendalian, dan c) risiko bahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Pendugaan kehilangan hasil juga akan digunakan untuk menentukan berapanilai Ambang Pengendalian atau Ambang Kendali atau Ambang Ekonomi yangakan kita bahas pada akhir kuliah ini.Siapa yang memerlukan Kehilangan Hasil?Banyak pihak yang memerlukan data pendugaan kehilangan hasil, diantaranya:1. Petani secara perseorangan (untuk petak dan lahan miliknya sendiri) atau secara berkelompok (untuk hamparan sawah/lahan). Satu kelompok hamparan besarnya terdiri dari 20-30 petani.2. Pemeriantah Daerah dan Pemerintah Pusat, biasaya melalui Dinas Pertanian Kabupaten dan Departemen Pertanian melalui Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Hortikultura dan Ditjen Perkebunan.3. Pengusaha Pertanian misal PT Perkebunan milik Pemerintah, PT Pagilaran milik Fak. Pertanian UGM, dst. 10
  • 13. CARA PENDUGAAN KEHILANGAN HASIL Untuk menghitung kehilangan hasil dalam bentuk satuan berat (ton/ha) atausatuan rupiah (Rp/ha) secara TEPAT jelas sangat sulit dan tidak mungkin, karenatidak mungkin kita mengukur dan menghitung semua lahan yang ada baik milikpetani dan kelompok tani maupun lahan pertanaman tertentu di suatu daerah(desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, nasional). Yang dapat kita lakukan adalahmelakukan PENDUGAAN, kata-kata lain ESTIMASI, PENAKSIRAN, berdasarkandata hasil pengamatan yang dilakukan pada lahan/petaksawah/tanaman/pohon/rumpun yang digunakan sebagai SAMPEL, CONTOH yangmewakili. Untuk memperoleh taksiran kehilangan hasil untuk suatu petak atauhamparan/sawah atau suatu daerah kita harus mempunyai data seperti:1. Luas serangan – LSR (dalam ha)2. Intensitas serangan – ISR (dalam % rumpun/tanaman terserang) a ISR = --------------------- x 100% a + b a: jumlah rumpun/batang terserang b: jumlah rumpun/batang tak terserang3. Hubungan antara intensitas serangan dengan hasil tanaman yang diperoleh dari pengalaman petani atau dari hasil penelitian. Suatu contoh: Hasil Tanaman (ton/ha) 10 6 5 Gambar 3. Hubungan antara Intensitas Serangan Hama dengan Hasil Tanaman 2 Dari fungsi ini kita mengetahui dugaan hasil tanaman atau produksi tanaman dalam kondisi intensitas serangan (%) tertentu, katakan 50% intensitas serangan, produksi atau hasil tanaman adalah 6 ton/ha. Kita sebut Produksi 20 50 80 100 Tanaman Terserang (PTT) Intensitas serangan (%)4. Dari fungsi ini kita ketahui bahwa hasil tanaman yang tidak terserang hama atau produksi tanaman sehat (PTS) adalah 9,5 ton/ha.5. Harga dari produk/hasil tanaman pada tingkat petani katakan Rp 1000/kg atau Rp 1 juta/ton (HG) 11
  • 14. 6. Kehilangan hasil (KH) dalam satuan berat (ton) = Luas serangan (LSR) x Produksi Tanaman Sehat (PTS) --- Luas serangan (LSR) x Produksi Tanaman Terserang (PTT)7. Nilai kehilangan hasil (NKH) dalam rupiah = Harga produk (HG) x KHSuatu contoh: Untuk hama padi di suatu kecamatan ternyata LSR 500 ha. PTT= 6ton/ha. PTS = 9,5 ton/ha dan harga padi kering panen (HG) Rp 1500/kg.KH = (LSR x PTS) – (LSR x PTT) = (500 x 9,5) – (500 x 6) = 4750 – 3000 ton = Rp 2.625.000.000 = Rp 2,625 milyar Dengan perhitungan tersebut secara kasar kita dapat mengetahui seberapabesar kerugian yang dialami oleh petani, masyarakat dan pemerintah akibatterjadinya serangan hama tertentu. Dari cara penghitungan tersebut di atas dapat dimengerti bahwa untukmenduga kehilangan hasil kita memerlukan hubungan fungsional antara populasihama atau intensitas serangan (%) dengan hasil. Tanpa informasi tentanghubungan ini kita tidak dapat menduga/menaksir berapa hasil tanaman yang akandiperoleh bila terserang hama pada intensitas serangan atau populasi hamatertentu. Untuk memperoleh fungsi tersebut perlu dilakukan percobaan pengamatanlangsung di lapangan. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan antara lain:1. Cara pertama adalah dengan cara ALAMI yaitu dengan: Mengamati beberapa petak sawah dengan menghitung berapa populasi hama atau intensitas serangan hama tertentu. Misal pada petak pertama intensitas serangan 5%, petak kedua 20%, petak ketiga 40%, petak keempat 60%, petak kelima 80%, dan petak keenam puso atau 95%. Pada waktu panen kita lakukan ubinan hasil pada semua 6 petak tersebut. Dari langkah pertama dan kedua tersebut kita dapat memperoleh fungsi hubungan intensitas serangan dan hasil.2. Namun seringkali di lapangan kita mengalami kesulitan dalam mendapatkan petak-petak sawah yang memiliki kisaran lebar dalam kepadatan populasi hama atau intensitas serangan seperti contoh di atas. Untuk memperoleh intensitas serangan atau populasi hama yang berbeda seringkali kita lakukan secara BUATAN yaitu dengan menginfestasikan hama dalam pertanaman yang dikurung dalam suatu kasa yang selebar petak sawah. Dengan melakukan infestasi hama kita dapat mengatur berapa kepadatan populasi atau intensitas serangan yang kita inginkan.3. Cara ketiga merupakan cara yang paling murah tetapi tidak teliti yaitu dari data EMPIRIK atau pengalaman dari petani kita lakukan wawancara pada petani yang sudah lama berpengalaman menghadapi masalah hama tertentu yang menyerang tanaman atau komoditas pertanian yang mereka usahakan. Kita tanyakan pada para petani berapa produksi tanaman yang mereka dapatkan dalam kondisi intensitas serangan hama rendah, sedang, tinggi dan puso, serta berapa produksi tanaman dalam kondisi sehat atau tidak terserang hama. Dari data empirik petani akhirnya kita dapat memperoleh hubungan fungsional antara intensitas serangan dan hasil. Cara ini mudah kita lakukan, tetapi sulitnya tidak semua petani ingat apalagi menyimpan data serangan hama dan kerusakan yang pernah mereka alami. 12
  • 15. PENETAPAN AMBANG PENGENDALIANDalam konsep PHT kita kenal beberapa istilah yang arti dan fungsinya sama yaitu:1. Ambang Ekonomi (AE) “Economic Threshold”2. Ambang Kendali (AK) “Economic Threshold” atau Ambang Pengendalian “Control Threshold”3. Ambang Tindakan (AT) “Action Threshold” Artinya adalah suatu aras (tingkat) kepadatan populasi hama atau intensitasserangan hama yang membenarkan dimulainya penggunaan PESTISIDA untukpengendalian hama. Tujuan penggunaan pestisida adalah menurunkan populasihama sampai di bawah AE agar Populasi Hama atau Intensitas Serangan PESTISIDA ARAS LUKA EKONOMI AMBANG EKONOMI ARAS KESEIMBANGAN UMUM 20 40 60 80 100 WAKTU (hari)Gambar 4. Populasi Hama dan letak Aras Luka Ekonomi, Ambang Ekonomi dan Aras Keseimbangan Umum pada Keadaan Normaldapat dikendalikan secara alami oleh kompleks musuh alami sehingga populasihama tetap berkisar sekitar aras keseimbangan umum (Gambar 4). Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa dalam keadaan gejolak populasihama sepanjang musim tanam pestisida hanya diaplikasikan satu kali yaitu padawaktu populasi melampaui AE. Dengan demikian penggunaan pestisida dapat 13
  • 16. dihemat, petani tak perlu menggunakan pestisida secara berjadwal sepertiseminggu sekali, atau pada umur 15, 20, 45, 60 HST (hari setelah tanam). Namununtuk melaksanakan prinsip tersebut ada dua syarat penting yaitu:1. Harus dilakukan pengamatan secara berkala (katakan seminggu sekali)2. Harus ada ketentuan mengenai berapa besar nilai AE/AK/AT tersebut Dengan demikian untuk setiap jenis hama yang menyerang komoditastertentu harus mempunyai nilai AEnya masing-masing bahkan pada prinsipnya nilaiAE suatu jenis hama tidak tetap, tidak sama dari satu tempat/lokasi ke tempat laindari waktu ke waktu lain. Artinya nilai AE dinamis, tidak seragam. Yang menetapkannilai AE yang paling baik adalah petani/kelompok tani sendiri yang berlaku untukspesifik lahannya masing-masing. Saat ini karena petani banyak yang belummampu nilai AE lebih sering mengikuti ketetapan atau rekomendasi pemerintahatau rekomendasi peneliti sehingga nilai AE cenderung seragam. Mungkin untuksementara keadaan tersebut dapat berjalan tetapi harus diikuti dengan melakukanpelatihan pada petani untuk mengembangkan dan menetapkan AE nya sendiri.Biasanya petani menerima rekomendasi AE dari para PPL atau PHP (PengamatHama dan Penyakit).Suatu contoh untuk tanaman padi:AE wereng coklat : 5 nimfa + dewasa/rumpun padi pada fase vegetatif 10 nimfa + dewasa /rumpun pada fase generatifAE penggerek batang: 30% intensitas serangan pada fase vegetatif 10% intensitas serangan pada fase generatif(lihat lampiran)CARA PENETAPAN/PENGHITUNGAN AEAda beberapa cara penentuan AE yang dapat kita lakukan:1. Cara empirik atau berdasar pengalaman dari petani, peneliti atau petugas lapangan yang sudah lama menekuni dan merasakan tentang kerusakan atau kerugian yang diakibatkan oleh serangan hama tertentu pada komoditas yang diusahakan. Berdasarkan data empirik/pengalaman selama bertahun-tahun dapat diperoleh informasi tentang pada aras populasi atau intensitas serangan berapa hama tersebut mulai dirasakan merugikan secara ekonomi. Pada aras populasi mulai merugikan tersebut. AE/AK/AT hama berbeda. Karena itu AE/AK/AT ini dapat kita namakan sebagai AE petani atau Ambang Petani saja. Untuk lebih jelasnya secara grafik data empirik tentang aras populasi/intensitas serangan dan hasil dapat dilihat pada gambar 5. Perhatikan sampai populasi 5 larva belum terjadi penurunan hasil sehingga petani masih bisa mentoleransikan tetapi pada populasi 7 petani sudah mulai merasakan kerugian ekonomi. Pada keadaan kurve pengalaman petani demikian, maka AE/AK/AT petani adalah 7 larva/rumpun. Karena pengalaman dan perasaan petani berbeda-beda kita akan memperoleh AE yang sangat khas/spesifik lokasi, spesifik petani sehingga menjadi variatif dan tidak seragam. Dengan pengalaman yang bertambah dan tingkat toleransi yang semakin baik, petani akan selalu menyesuaikan atau memperbarui nilai AE nya! 14
  • 17. Hasil (kuintal/ha) Mulai terjadi kerugian ekonomik AE petani Gambar 5. 5 7 10 20 30 Hubungan Populasi Populasi hama larva/rumpun Hama dengan Hasil2. Cara Penelitian Penetapan AE melalui penelitian dilakukan oleh para peneliti yang khusus ingin mengetahui berapa AE pada suatu jenis hama pada komoditas tertentu. Biasanya sasaran kegiatan penelitian adalah memperoleh nilai ALE (Aras Luka Ekonomi) dan dari nilai ALE dihitung AE yang besarnya ¾ atau 2/3 ALE. ALE dihitung dengan menggunakan titik impas/BEP (Break Even Point). ALE adalah suatu populasi atau intensitas serangan dimana nilai kehilangan hasil (dalam Rp) yang dapat diselamatkan oleh tindakan pengendalian hama dengan pestisida sama dengan total baya pengendalian (dalam Rp). BP ALE = ------------------ HG x LT x BK dimana BP = Biaya pengendalian (Rp/ha) HG= Harga produk (Rp/kg) LT = Luka tanaman yang diakibatkan oleh satu individu hama BK = Berat kerusakan tanaman per unit luka tanamanUntuk memperoleh LT dan BK perlu dilakukan serangkaian percobaan di lapangan,di rumah kasa atau di laboratorium.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALE DAN AE Banyak faktor yang mempengaruhi nilai ALE dan AE termasuk jenis varietastanaman, fase tumbuh tanaman, instar hama, lokasi pertanaman, dll.Dari sekian banyak faktor, 4 faktor yang paling penting yaitu:1. Harga produk2. Biaya pengendalian3. Derajat luka yang diakibatkan oleh individu hama4. Kepekaan tanaman terhadap serangan hamaPerhatikan Gambar 6 di bawah. Apa artinya? 15
  • 18. ALE/AE ALE/AE Harga Produk Biaya Pengendalian Gambar 6. Hubungan antara Harga Produk dan Biaya Pengendalian dengan ALE/AE Kita harus mengetahui bahwa semakin tinggi ALE/AE penggunaan pestisidamenjadi semakin jarang atau semakin sedikit, semakin rendah ALE/AE semakinsering/banyak penyemprotan pestisida dilakukan. Bagan alir sistem keputusan pengelolaan hama yang menunjukkan letakpendugaan populasi hama atau infestasi serangan hama dan pendugaankehilangan hasil serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar7. Dari ketetapan-ketetapan pada gambar dapat disimpulkan bahwa untukmelakukan pendugaan kehilangan hasil serta menetapkan dan menerapkanAE/AK/AT diperlukan kerjasama lintas disiplin ilmu (misal ilmu-ilmu perlintan,ekonomi, sosiologi, agronomi, statistis, dll) dan lintas sektor. Tidak dapat dilakukanoleh orang-orang/pakar perlintan. 16
  • 19. Pendugaan Infestasi Pengamatan hama Pengaruh (i) pada hasil (y) Percobaan Pendugaan kehilangan hasil Pengaruh pengendalian terhadap (i) Hasil (y) AE /AT / AK ? Apa lebih besar dari AE? tidak ya Tak perlu Kendalikan dikendalikan dengan pestisida Gambar 7. Bagan Alir Sistem Keputusan Pengelolaan Hama bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 4 LANDASAN EKOLOGI PENGELOLAAN HAMATujuan:1. Mengetahui dua model pertumbuhan populasi organisme2. Mengetahui model dinamika populasi hama3. Mengetahui mekanisme pengendalian alami dan pengaruh faktor abiotik dan biotik4. Mempelajari pengaruh kegiatan manusia terhadap dinamika populasi hamaMateri: Dari kuliah sebelumnya kita mengetahui bahwa keberadaan populasi hamadi pertanaman dan di ekosistem menentukan seberapa besar kerusakan tanamandan kerugian ekonomi yang dialami oleh petani atau pengusaha pertanian lainnya.Juga kita ketahui bahwa populasi hama sepanjang musim tanam dari waktu kewaktu dan dari tempat ke tempat tidak tetap tetapi DINAMIS, naik turun, berfluktuasisekitar suatu garis atau posisi keseimbangan umum (General Equilibrium Position). 17
  • 20. Banyak faktor abiotik dan biotik yang mempengaruhi dinamika populasi hama.Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut kita dapat melakukan pengelolaan hamayang efektif dan efisien. Perlu ditekankan di sini bahwa tujuan pengelolaan hamabukan untuk membasmi hama, memberantas hama sampai habis tetapimempertahankan populasi hama di pertanaman tetap berada di bawah AE/AK/ATatau pada aras yang secara ekonomi tidak merugikan. Perhatikan gambar tentangposisi AE, ALE dan Garis keseimbangan pada kuliah minggu yang lalu. Diharapkan para mahasiswa setelah kuliah ini dapat menjawab pertanyaan:Apa sebabnya kita tidak mungkin melakukan pembasmian atau pemusnahan hamaseperti banyak orang harapkan? Pada prinsipnya keberadaan dan perkembangan populasi hama danpopulasi organisme lainnya ditentukan oleh dua kekuatan yaitu:1. POTENSI BIOTIK atau "Biotic Potential" dan2. PERLAWANAN LINGKUNGAN atau "Environmental Resistance" Yang disebut POTENSI BIOTIK adalah kemampuan suatu organisme untuktetap hidup dan berkembang biak. Kalau kita perhatikan kelompok serangga,organisme ini mempunyai potensi biotik yang sangat besar dan kemampuanberbiak sangat cepat. Dengan siklus hidup pendek, ukuran tubuh kecil dankemampuan bertahan hidup yang tinggi maka populasi serangga sangat cepatmeningkat sehingga dalam waktu sebentar saja dapat memenuhi permukaan bumiini. Apabila suatu organisme berkembang sepenuhnya sesuai dengan kemampuanhayati (potensi biotik)nya, maka pertumbuhan populasi organisme tersebut akanmengikuti model pertumbuhan ekponensial atau pertumbuhan geometrik sepertiGambar 8. dN --- = r N = ( b – d ) N dtN = populasir = laju pertumbuhan populasi intrinsikb = laju kelahirand = laju kematiant = waktu Populasi (N) 18 Waktu (t)
  • 21. Gambar 8. Pertumbuhan Populasi Organisme Mengikuti Model Pertumbuhan Ekponensial atau Geometrik Di dunia saat ini satu-satunya organisme yang populasinya tumbuh secaraeksponensial adalah MANUSIA. Di alam populasi organisme tidak dapat meningkatsecara eksponensial karena adanya kekuatan lain yang me"lawan" ataumeng"hambat" yang kita namakan Perlawanan Lingkungan atau HambatanLingkungan. Kekuatan ini yang akan menghambat populasi suatu organisme untukbertambah dan meningkat sesuai dengan kemampuan biotiknya. Karena itu modelpertumbuhan populasi yang lebih cocok adalah model pertumbuhan logistik sepertiGambar 9. Populasi (N) K Waktu (t) Gambar 9. Model Pertumbuhan Populasi Logistik dN K-N --- = r N ( ----- ) dt KN = populasit = waktur = laju pertumbuhan populasiK = asimtot atas atau nilai N maksimum Kurve tersebut menunjukkan model pertumbuhan secara matematik. Kalaukita bandingkan dengan data lapangan populasi suatu organisme, kita memperolehgambaran dinamika populasi yang mirip dengan pertumbuhan logistik terutamapada daerah I dan II seperti Gambar 10. Menurut gambar tersebut pertumbuhan populasi organisme dapat kita bagimenjadi 5 daerah. Daerah I merupakan periode peningkatan populasi yang tumbuhsecara sigmoid. Periode ini terdiri dari tahap pembentukan populasi (A),pertumbuhan cepat secara eksponensial (B) serta tahap menuju keseimbangan (C).Daerah II merupakan pencapaian aras keseimbangan yang merupakan garisasimtot kurve sigmoid. Pada tahap ini populasi telah mencapai stabilitas numerik. 19
  • 22. Setelah daerah II tercapai kemudian populasi bergejolak sekitar aras keseimbanganyaitu pada daerah III. Daerah III merupakan tahap oskilasi dan fluktuasi populasi.Oskilasi populasi adalah penyimpangan populasi sekitar aras keseimbangan secarasimetris, sedangkan fluktuasi populasi merupakan penyimpangan populasi yangtidak simetris. Daerah III berjalan dalam waktu cukup lama tergantung padaberfungsinya mekanisme umpan balik negatif yang bekerja pada populasiorganisme tersebut. Apabila mekanisme ini oleh sebab-sebab tertentu menjadi tidakberfungsi lagi, terjadilah daerah IV yang merupakan periode penurunan populasiatau periode pertumbuhan negatif. Kalau periode ini terus berlanjut kemudian akanterjadi tingkat terakhir pertumbuhan populasi yaitu daerah V yang merupakanperiode kepunahan populasi. Populasi (N) A B C Waktu (t) I II III IV V Gambar 10. Pertumbuhan Populasi Organisme yang Terbagi menjadi 5 Tingkat Adanya kekuatan Hambatan Lingkungan terhadap pertumbuhan populasiorganisme dalam kondisi oskilasi dan fluktuasi di sekitar aras keseimbangan umumseperti yang terjadi di daerah III. Di daerah III terjadi mekanisme keseimbanganpopulasi oleh bekerjanya berbagai faktor abiotik dan biotik yang secara bersamakita sebut sebagai faktor PENGENDALI ALAMI.FAKTOR TERGANTUNG KEPADATAN DAN FAKTOR BEBAS KEPADATAN Dilihat dari proses pengendalian dan pengaturan populasi organisme, makaberbagai faktor hambatan lingkungan dapat dikelompokkan menjadi FaktorTergantung Kepadatan Populasi (FTK) atau "Density Dependent Factors" danFaktor Bebas Kepadatan Populasi (FBK) atau "Density Independent Factors".Pengelompokan ini lebih sering digunakan bila dibandingkan dengan carapengelompokan lainnya. Bagan berikut menunjukkan faktor-faktor yang termasukdalam FTK dan FBK.Faktor Tergantung Kepadatan 20
  • 23. Faktor tergantung kepadatan adalah faktor pengendali alami yangmempunyai sifat penekanan terhadap populasi organisme yang semakin meningkatpada waktu populasi semakin tinggi, dan sebaliknya penekanan lebih longgar padawaktu populasi semakin rendah. Kalau dihubungkan antara mortalitas yangdisebabkan oleh faktor FTK dengan populasi hama misalnya dapat diperoleh garisregresi (Gambar 11). Mortalitas Mortalitas Laju Populasi Gambar 11. Hubungan antara populasi dan mortalitas yang disebabkan oleh Faktor Tergantung Kepadatan Faktor tergantung kepadatan terbagi menjadi faktor yang timbal balik dantidak timbal balik. FTK yang timbal balik terutama adalah musuh alami hama sepertipredator, parasitoid, dan patogen. Timbal balik di sini berarti bahwa hubunganantara populasi dan mortalitas oleh FTK dapat berjalan dari kedua arah. Apabilapopulasi spesies A meningkat, maka mortalitas yang disebabkan oleh predator Bakan semakin meningkat, antara lain dengan meningkatnya predasi dan jumlahpredator B. Sebaliknya apabila populasi spesies A menurun mortalitas olehpredator dan jumlah predator juga menurun. Dengan demikian perubahan populasispesies A akan selalu diikuti dengan perubahan kepadatan populasi predator B(Gambar 12). FTK yang tidak timbal balik misalkan makanan dan ruang, jumlahnyaterbatas yang ditempati oleh populasi organisme yang saling berkompetisi untukmakanan dan ruang yang sama. Proses FTK di sini dapat dijelaskan sebagaiberikut: Bila populasi A semakin tinggi, persaingan antar FTK yang tidak timbal balik misalkan makanan dan ruang, jumlahnyaterbatas yang ditempati oleh populasi organisme yang saling berkompetisi untukmakanan dan ruang yang sama. Proses FTK di sini dapat dijelaskan sebagaiberikut: Bila populasi A semakin tinggi, persaingan antar individu untuk memperolehmakanan dan ruang semakin kuat sehingga mortalitas A menjadi meningkat, dandemikian juga sebaliknya. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa apabila populasi Ameningkat kemudian jumlah makanan menjadi meningkat, atau jumlah pouplasi Amenurun dan jumlah makanan menurun. Berbeda dengan kelompok musuh alami,hambatan lingkungan berupa makanan, ruangan, dan teritorialitas termasuk dalamFTK yang tidak timbal balik. 21
  • 24. PENGENDALIAN ALAMI FAKTOR BEBAS FAKTOR KEPADATAN TERGANTUNG KEPADATAN FISIK BIOLOGI TIDAK TIMBAL TIMBAL BALIK Tanah Ketersediaan BALIK Musuh Suhu alami inang -Parasitoid Kebasahan Makanan Pergerakan Kualitas Ruang -Predator air makanan Teritorial -Patogen -HerbivoraPopulasi FTKGambar 12. Komponen Pengendalian Alami yang Tergantung Kepadatan dan Bebas Kepadatan Aras Keseimbangan FBK FBK FTK 22 Waktu
  • 25. Gambar 13. Gejolak populasi sekitar aras keseimbangan umum, dan bekerjanyaFTK dan FBK. Persediaan Makanan Jumlah Predator Predator Meningkat Meningkat Jumlah Inang Jumlah Inang Meningkat Meningkat Jumlah Inang Termakan Titik Imbang Jumlah Inang Termakan Predator-Inang Berkurang Meningkat Jumalah Inang Jumalah Inang Berkurang Berkurang Jumlah Predator Persediaan Makanan Berkurang Predator BerkurangGambar 14. Mekanisme Umpan Balik pada Pengaturan Populasi Spesies A oleh Predator Mortalitas FBK POPULASI 23
  • 26. Gambar 15. Hubungan antara populasi organisme dan mortalitas akibat Faktor Bebas Kepadatan.Faktor Bebas Kepadatan Faktor Bebas dari Kepadatan (FBK) atau "Density Independent Factor"merupakan faktor mortalitas yang daya penekanannya terhadap populasiorganisme tidak tergantung pada kepadatan populasi organisme tersebut. Faktorabiotik seperti suhu, kebasahan, angin merupakan FBK yang penting. FBK kadang kala dapat membawa populasi semakin menjauh (lebih ataukurang) dari aras keseimbangan. Misal bila keadaan suhu tidak sesuai bagikehidupan serangga dapat mengakibatkan populasi serangga menurun menjauhigaris keseimbangannya. Setelah hal itu terjadi faktor FBK akan bekerjamengangkat kembali populasi ke aras keseimbangannya. Bila keadaan cuacasangat menguntungkan bagi kehidupan dan perkembanganbiakan suatu hama,dapat mendorong populasi hama tersebut meningkat cepat menjauhi araskeseimbangannya. Namun, peningkatan populasi tersebut juga tidak akan berjalanterus, karena FTK seperti musuh alami akan mengencangkan penekanannyasehingga populasi kembali lagi ke aras keseimbangannya. Dr. CLARK mengelompokkan beberapa penyebab mortalitas (kematian)serangga menjadi 7 kelompok yaitu:1. Umur: menjadi tua atau "aging"2. Vitalitas rendah: kemampuan serangga dalam menghadapi faktor-faktor lingkungan yang jelek seperti cuaca ekstrim3. Kecelakaan: adanya peristiwa-peristiwa yang tidak normal (fisiologi dan ekologi) yang dapat mengakibatkan kematian4. Kondisi fisiko kimia: terkait dengan kondisi fisika dan kimia di tempat serangga hidup termasuk kondisi cuaca, kondisi tanah, kondisi air, udara, dll.5. Musuh alami: sebagai faktor pengendali alami serangga yang bersifat tergantung kepadatan seperti yang telah dijelaskan6. Kekurangan pakan: serangga hama sangat ditentukan survival dan perkembangannya oleh ketersediaan pangan yang disediakan manusia. Tetapi untuk serangga musuh alami bila tidak tersedia pakan yang sesuai yang menjadi inang atau mangsa akan sangat mempengaruhi survivalnya.7. Kekurangan tempat berlindung/bernaung: mempengaruhi mortalitas secara tidak langsungBerikut diagram yang menunjukkan pengaruh langsung dan tidak langsung faktor-faktor cuaca. 24
  • 27. Pengaruh Faktor-faktor Cuaca bagi Kehidupan Serangga Langsung Tak Langsung Individu Populasi Habitat Parasitoid Predator Patogen Fenologi Makanan Aktivitas Mortalitas Perkembangan Natalitas Perilaku Pergerakan Natalitas Mortalitas Pergerakan Dengan demikian dalam jangka waktu panjang di dalam setiap ekosistem,selalu terjadi keseimbangan populasi organisme termasuk populasi hama, yangsecara dinamik bergejolak di sekitar aras keseimbangan populasinya masing-masing. Setiap organisme dalam kondisi ekosistem tertentu memiliki araskeseimbangannya sendiri-sendiri. Aras populasi tersebut dapat tinggi, tetapi jugadapat rendah seperti yang kita harapkan. 25
  • 28. Populasi Mangsa (A) Predator Waktu Gambar 16. Hubungan antara kepadatan serangga A dan kepadatan predator BPengaruh Tindakan Manusia terhadap Populasi Hama Faktor-faktor alami seperti suhu, curah hujan sebagai faktor abiotik sertafaktor biotik seperti parasitoid, predator, patogen hama, pesaing, dll bekerja secarainteraktif yang membawa populasi hama berada di sekitar aras keseimbangannya.Justru faktor MANUSIA dengan segala tindakannya sangat mempengaruhidinamika populasi hama sehingga dapat sangat menjauhi aras keseimbangan.Manusia dapat mempengaruhi letak aras keseimbangan melalui mekanisme sbb: Dalam mengelola agroekosistem, manusia dapat mempengaruhi ataumengubah letak aras keseimbangan umum suatu spesies hama melalui kegiatanpengelolaan agroekosistem. Aras keseimbangan populasi hama dapat meningkatantara lain dengan penggunaan pestisida yang berlebihan dan kurang tepat,sehingga dapat membunuh musuh alami. Penggunaan pestisida yang dilakukanterus-menerus dapat mengakibatkan aras keseimbangan hama tersebut akanmeningkat melebihi aras keseimbangan sebelumnya (Gambar 17). Peningkatan aras keseimbangan populasi hama dapat juga terjadi sebagaiakibat tersedianya makanan hama secara luas dan terus menerus. Demikian jugajika varietas tanaman yang ditanam adalah varietas peka, lambat laun araskeseimbangan populasi hama akan meningkat. Bila aras keseimbangan meningkat maka dapat mengakibatkan populasihama melebihi AE/AT/AK yang ditetapkan. Dalam keadaan demikian petaniterpaksa menggunakan pestisida lebih sering lagi sehingga dapat meningkatkankerugian, tidak hanya bagi petani tetapi juga bagi konsumen dan kualitaslingkungan hidup. Aras keseimbangan populasi hama dapat juga diturunkan apabila yangterjadi sebaliknya yaitu dengan memasukkan atau melakukan konservasi musuhalami. Tindakan manusia demikian ini akan mendorong bekerjanya pengendali 26
  • 29. alami di daerah tersebut, yang dalam jangka panjang dapat menurunkan araskeseimbangan populasi hama. Salah satu sasaran PHT adalah menurunkan araskeseimbangan populasi hama sehingga berada di bawah ambang pengendalian. Populasi Aras Keseimbangan 2 Pestisida Aras Keseimbangan 1 WaktuGambar 17. Peningkatan aras keseimbangan akibat perlakuan pestisida secara terus menerus. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 5 FUNGSI PENGAMATAN DALAM SISTEM PHTTujuan:A. Mempelajari fungsi pengamatan dalam sistem PHTB. Mempelajari prinsip-prinsip pengambilan sampel dan pengamatanC. Mempelajari praktek pengamatan dan pelaporan perlindungan tanaman oleh petugas pengamat hamaD. Pengamatan oleh petaniMateri:HUBUNGAN PENGAMATAN, PENGAMBILAN SAMPEL DAN PEMANTAUAN 27
  • 30. Pengamatan adalah kegiatan pengumpulan data dan informasi tentangsesuatu obyek yang diamati/dikaji/diteliti. Pengamatan bisa dilakukan secaraberkala maupun insidentil. Ada beberapa maksud atau tujuan pengamatan yaitupengamatan untuk pengumpulan data penelitian, pengamatan untuk penyusunanlapangan dan pengamatan untuk pengambilan keputusan. Kegiatan pengamatanyang dilakukan secara berkala pada suatu obyek pengamatan tertentu untukdigunakan dalam proses pengambilan keputusan disebut PEMANTAUAN. Kegiatan pemantauan dalam PHT merupakan kegiatan utama yangmembedakan sistem PHT dengan sistem pengendalian hama secara konvensional.Peranan pengamatan dan pemantauan hama dan ekosistem dalam penerapansistem PHT adalah seperti bagan berikut: Analisis Ekosistem Pengambil Keputusan Pemantauan Tindakan Pengelolaan EKOSISTEM PERTANIANGambar 18. Hubungan antara pemantauan, pengambilan keputusan dan tindakan pengelolaan dalam sistem pelaksanaan PHT Dari gambar tersebut, kegiatan pertama yang dilakukan adalah pemantauanekosistem. Kegiatan pemantauan dilakukan untuk mengikuti perkembangankeadaan ekosistem pada suatu saat yang meliputi perkembangan komponenekosistem, baik komponen biotik seperti keadaan tanaman, tingkat kerusakantanaman oleh hama, populasi hama dan penyakit, populasi musuh alami dan lain-lain. Juga komponen abiotik seperti suhu, curah hujan, kebasahan, dll. Hasilpemantauan atau data hasil pemantauan dianalisis antara lain denganmembandingkan data ekosistem dengan nilai AE atau Ambang Kendali. Dari hasilanalisis ekosistem dapat diambil keputusan mengenai tindakan pengendalian ataupengelolaan yang perlu diterapkan pada ekosistem. Hasil pengambilan keputusansegera diterapkan ke lapangan mengenai tindakan pengelolaan atau pengendalianseperti perbaikan budidaya tanaman, introduksi musuh alami, mengubahhabitatnya, pengendalian dengan pestisida, dll. Pengambil keputusan semakin kebawah yaitu pada pihak pengelola dari ekosistem pertanian, seperti petani ataukelompok tani. 28
  • 31. MEMPELAJARI PRINSIP-PRINSIP PENGAMBILAN SAMPEL DANPENGAMATAN Sampel atau contoh merupakan bagian dari suatu populasi yang diamati.Dalam praktek pengamatan tidak mungkin bagi pengamat mengamati seluruhindividu dalam populasi tetapi pengamatan dilakukan pada sebagian kecil populasiyang kita sebut sampel. Dari informasi yang diperoleh pada sampel kita inginmenduga sifat populasi yang sebenarnya. Oleh karena itu, sampel yang diambilharus dapat mewakili. Populasi sampel terdiri dari beberapa unit sampel. Jumlahunit sampel sering kita namakan sebagai ukuran sampel. Misalkan kita inginmengetahui populasi hama atau kerusakan tanaman dalam satu daerah/lahan yangluasnya 1 hektar, sebagai unit sampel ditetapkan rumpun padi. Jumlah rumpun padiyang diamati 30. Hal ini berarti unit sampel adalah rumpun dan ukuran sampel 30. Proses pengambilan sampel dan monitoring memerlukan teknik yangberagam tergantung pada jenis tanaman, jenis hama, atau organisme lain yangdiamati. Ada dua syarat yang perlu diperhatikan dalam melakukan teknikpengamatan dan pengambilan sampel yang dilakukan yaitu praktis, dan dapatdipercaya. Praktis berarti metode pengamatan yang dilakukan sederhana, mudahdikerjakan dan tidak memerlukan peralatan dan bahan yang mahal, dan sedapatmungkin tidak mengambil waktu lama. Hasil pengamatan harus dapat dipercayaberarti metode tersebut akan menghasilkan data yang dapat mewakili ataumenggambarkan secara benar tentang sifat populasi sesungguhnya. Faktor yangmempengaruhi pengambilan sampel:1. Sifat dan ketrampilan petugas pengamat2. Keadaan lingkungan setempat3. Sifat sebaran spasial seranggaPENYUSUNAN PROGRAM PENGAMBILAN SAMPEL DAN PENGAMATAN Dalam menyusun secara lengkap program pengambilan sampel pada suatuwilayah pengamatan perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untukmenetapkan beberapa kriteria atau ketentuan tentang pengambilan sampel.Ketentuan-ketentuan tersebut meliputi penetapan tentang:1. Unit Sampel2. Interval Pengambilan Sampel3. Banyak atau Ukuran Sampel4. Desain Pengambilan Sampel5. Mekanik Pengambilan Sampel1. Unit sampel Unit sampel merupakan unit pengamatan yang terkecil. Pada unit tersebutdiadakan pengukuran dan penghitungan oleh pengamat terhadap individu seranggayang ada, dan apa yang ditinggalkan oleh serangga yang menjadi obyekpengamatan atau variabel pengamatan. Beberapa variabel pengamatan yang dapatdiperoleh dari unit sampel dapat berupa kepadatan atau populasi hama, populasimusuh alami, intensitas kerusakan, dll. Ada berbagai jenis unit sampel yang saat ini digunakan dalam praktekpengamatan baik untuk program penelitian atau untuk pengambilan keputusan 29
  • 32. pengendalian hama. Biasanya unit sampel dikembangkan berdasarkan sifat biologiserangga dan belajar dari pengalaman sebelumnya. Unit sampel dapat berupa:a. Unit luas permukaan tanah 1 x 1 m2b. Unit volume tanahc. Bagian tanaman seperti rumpun, batang, daun, pelepah daund. Dalam bentuk stadia hamanya sendiri. Sering digunakan untuk evaluasi dalam musuh alami seperti jumlah larva parasit atau larva inang, dst.2. Penentuan interval pengambilan sampel Interval pengambilan sampel merupakan jarak waktu pengamatan yang satudengan waktu pengamatan yang berikutnya pada petak pengamatan yang sama.Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan interval pengamatanantara lain tingkat tumbuh tanaman, daur hidup serangga yang diamati, tujuanpengambilan sampel, faktor cuaca, dll. Untuk serangga yang mempunyai sikluspendek dan kapasitas reproduksi tinggi, interval pengamatan harus pendek agartidak kehilangan informasi dari lapangan. Demikian juga keadaan ini berlaku bagikomoditas tanaman yang peka terhadap serangan hama seperti kapas, dan jugauntuk jenis hama yang peningkatan kerusakannya berjalan cepat.3. Penentuan ukuran sampel Dalam program pengambilan sampel dan pengamatan, penentuan ukuransampel atau jumlah unit sampel yang harus diamati pada setiap waktu pengamatansangat menentukan kualitas hasil pengamatan. Ukuran sampel dipengaruhi oleh dua komponen utama yaitu varians (s 2)yang menjelaskan distribusi data sampel, dan biaya pengambilan sampel yangterdiri atas ongkos tenaga dan alat-alat pengambilan sampel. Secara umum dapatdikatakan semakin besar ukuran sampel (n) semakin dapat dipercaya hargapenduga parameter populasi. Tetapi apabila ukuran sampel besar maka biayapengambilan sampel juga semakin besar. Sebaliknya bila unit sampel terlalusedikit, analisa statistik akan menghasilkan keputusan yang memiliki ketepatan danketelitian rendah, sehingga kualitas dan kegunaan hasil pengamatan diragukan.4. Desain atau pola pengambilan sampel Ada beberapa pola yang dapat digunakan untuk menetapkan unit sampelyang mana dari keseluruhan populasi yang harus diamati yang menjadi anggotasampel. Pola yang paling ideal adalah secara acak (random sampling), kemudiandikenal:a. Pola acak berlapisb. Pola pengambilan sampel sistematikc. Pola pengambilan sampel purposive atau yang sudah ditentukanBeberapa pola pengambilan sampel yang sering digunakan adalah bentuk: 30
  • 33. A B CGambar 19. Pola pengambilan sampel A. Pola Diagonal, B. Pola Zigzag, C. Pola Lajur tanaman5. Mekanik Pengambilan Sampel Mekanik pengambilan sampel serangga adalah segala teknik memperoleh,mengumpulkan serta menghitung individu serangga yang diamati atau bahan yangditinggalkan oleh serangga pada unit sampel yang telah ditentukan. Mekanik sampel yang sering dilakukan oleh para pengamat kita adalahpengamatan langsung di lapangan. Tidak semua serangga dapat dihitung secaralangsung sehingga masih diperlukan peralatan atau alat khusus yang dapatdigunakan untuk mengumpulkan individu serangga dan kemudian dihitungjumlahnnya.PRAKTEK PENGAMATAN DAN PELAPORAN PETUGAS PENGAMAT Di organisasi Departemen Pertanian saat ini ada 3 Direktorat Jenderal yangmempunyai tugas untuk mengumpulkan pelaporan data populasi dan kerusakanOPT di seluruh propinsi. Tiga Direktorat Jenderal itu adalah Direktorat JenderalTanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Hortikultura, Direktorat JenderalTanaman Perkebunan. Pada tiga Direktorat Jenderal tersebut terdapat DirektoratPerlindungan Tanaman seperti Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan,Hortikultura dan Perkebunan. Kebijakan dan rekomendasi pelaksanaan dan pelaporan perlindungantanaman disusun dan dikeluarkan oleh 3 direktorat tersebut, sedangkanpelaksanaan pengamatan dilakukan oleh para Petugas Pengamat Hama (PHP) danpenyakit yang ada di daerah yang dikoordinasikan oleh BPTPH yang ada di setiappropinsi. Untuk tanaman pangan dan hortikultura, BPTPH secara struktural beradadi bawah Pemerintah Daerah Tingkat I/Propinsi. Sedangkan untuk perkebunan,BPTP masih berada di bawah Direktorat Jenderal Perkebunan atau masih di bawahPemerintah Pusat. Secara fungsional, PHP saat ini termasuk dalam kelompokPOPT (Pengendali OPT).1. Pengamatan Pengamatan dilakukan oleh PHP dan petani dengan dua cara yaitupengamatan tetap dan pengamatan keliling atau patroli. Pengamatan bertujuanuntuk mengetahui atau mendeteksi jenis dan kepadatan OPT, intensitas seranganOPT, daerah penyebaran, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembanganOPT serta intensitas kerusakan bencana alam. Dengan informasi tersebutdiharapkan petani/kelompok tani bersama petugas dapat mengetahui danmenganalisis secara dini untuk menentukan langkah-langkah penanganan usahatani, sehingga produksi tanaman yang sudah diusahakan tetap pada taraf tinggi,menguntungkan dan aman bagi lingkungan. 31
  • 34. Metode Pengamatan Pengamatan OPT pada tanaman pangan dan hortikultura dilakukan dengandua cara, yaitu pengamatan tetap dan pengamatan keliling atau patroli. Secara rincipelaksanaan pengamatan tetap dan pengamatan keliling adalah sbb:a. Pengamatan tetap Pengamatan tetap adalah pengamatan yang dilakukan pada petak contohtetap yang mewakili bagian terbesar dari wilayah pengamatan, perangkap lampu,curah hujan, stasiun meteorologi pertanian khusus. 1). Pengamatan petak tetap Pengamatan pada petak contoh tetap bertujuan untuk mengetahuiperubahan kepadatan populasi OPT dan musuh alami serta intensitas serangan.Petak contoh tetap ditempatkan pada lima jenis tanaman dominan. Untukkomoditas terluas diamati empat petak contoh tetap sedangkan empat komoditaslainnya masing-masing diamati satu petak contoh. Dengan demikian pada setiapwilayah pengamatan terdapat delapan petak contoh pengamatan tetap. Petak contoh ditentukan secara purposive, sehingga mewakili bagianterbesar wilayah pengamatan dalam hal waktu tanam, teknik bercocok tanam, danvarietasnya. Pada masa peralihan antara dua musim tanam, pengamatanditeruskan pada petak-petak contoh yang dapat mewakili wilayah pengamatandalam waktu tersebut. Karena itu petak contoh pada masa antara dua musim tanamdapat berpindah sesuai dengan keadaan tanaman yang dapat mewakili wilayahpengamatan. 2). Pengamatan Perangkap lampu Kepadatan populasi OPT dan musuh alami yang efektif yang tertarik cahayadiamati pada satu atau lebih perangkap lampu yang mewakili wilayah pengamatan.Perangkap lampu ditempatkan jauh dari faktor-faktor yang akan mempengaruhibanyaknya serangga pengganggu tanaman atau musuh alaminya tertarik cahaya.Lampu dinyalakan dari senja sampai fajar. Serangga yang tertangkap diidentifikasidan dihitung. Pengamatan dilakukan setiap hari serta dilaporkan setiap dua minggu.b. Pengamatan Keliling atau Patroli Pengamatan keliling atau patroli bertujuan untuk mengetahui tanamanterserang dan terancam, luas pengendalian, bencana alam serta mencari informasitentang penggunaan, peredaran dan penyimpanan pestisida. Pengamatan keliling atau patroli dilaksanakan dengan menjelajahi wilayahpengamatan. Sebelum melaksanakan pengamatan, PHP disarankan menemuipetani/kelompok tani pemandu, penyuluh atau sumber lain yang layak dipercaya;untuk memperoleh informasi tentang adanya serangan OPT dan kegiatanpengendalian di wilayah kerjanya. Informasi tersebut digunakan untuk menentukandaerah yang dicurigai dan mengkonsentrasikan pengamatannya. Penentuandaerah yang dicurigai didasarkan pada kerentanan varietas yang ditanam terhadapOPT utama di daerah tersebut, stadia pertumbuhan tanaman dan jaraknyaterhadap sumber serangan. Serangan OPT di daerah yang dicurigai, diamati lima petak contoh yangterletak pada perpotongan garis diagonal (A) dan pertengahan potongan-potongangaris diagonal tersebut (B, C, D dan E) seperti terlihat pada Gambar 20. Jumlah 32
  • 35. rumpun yang diamati tiap unit contoh adalah 10 rumpun/batang. Komponen-komponen yang diamati adalah luas tanaman terserang, intensitas serangan,kepadatan populasi OPT, stadia/umur tanaman, varietas dan tindakanpengendalian yang pernah dilakukan petani. Gambar 20. penyebaran petak contoh pada daerah yang dicurigai terserang. Dalam tiap petak contoh diamati 5 unit contoh seperti pada gambar 20.Jumlah rumpun contoh yang diamati dalam tiap unit contoh adalah sepuluhrumpun/tanaman.Cara pelaksanaan: Untuk memudahkan pelaksanaan pengamatan keliling dilakukan sesudahpengamatan petak tetap pada subwilayah pengamatan dimana petak tetap ituberada. Apabila ada informasi bahwa di subwilayah lainnya terjadi serangan OPTmaka harus dilakukan pengamatan keliling tambahan. Adapun pembagiansubwilayah adalah sebagai berikut:1. Mula-mula bagilah wilayah pengamatan menjadi 4 strata berdasarkan waktu tanamannya (lihat Gambar 21)2. Bagilah masing-masing strata menjadi 2 subwilayah, sehingga satu wilayah akan terbagi menjadi 8 subwilayah (lihat Gambar 21). Untuk pengamatan tetap, tempatkan satu petak contoh pengamatan padamasing-masing strata di lokasi yang selalu dilewati saat mengadakan pengamatankeliling di strata tersebut, sehingga setiap petak contoh pengamatan tetap dapatdiamati dengan interval waktu satu minggu, sedangkan interval pengamatan kelilingdua minggu. Waktu pengamatan OPT dilakukan 4 (empat) hari setiap minggu kecualiuntuk tangkapan perangkap lampu dan penakar curah hujan dilakukan setiap hari.Pelaksanaan pengamatan OPT dimulai dari hari senin sampai dengan hari kamis. Hasil pengamatan dan kejadian yang ditemukan pada saat pengamatankeliling dan pengamatan tetap dilaporkan secara rutin pada setiap akhir periodepengamatan. Laporan pengamatan tetap pada periode pelaporan tengah bulanpertama berisi hasil pengamatan minggu ke 1 dan ke 2, sedang pada periodepelaporan tengah bulan kedua berisi hasil pengamatan minggu ke 3 dan ke-4. A 1 B 2 C 3 D 4 Senin 1 Selasa 1 Rabu 1 Kamis 1 5 6 7 8 Senin 2 Selasa 2 Rabu 2 Kamis 2 33
  • 36. Keterangan:A, B, C, D …… pembagian menurut strata 1, 2, 3 … dst … subwilayah Gambar 21. Pembagian subwilayah pengamatan di wilayah kerja PHPMetode Pengambilan Contoha. Tanaman Pangan Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman pangan (padi danpalawija) dilakukan dengan metode diagonal. Pada pengamatan tetap tiap petakcontoh ditentukan tiga unit contoh yang terletak di titik perpotongan garis diagonalpetak contoh (A) dan di pertengahan potongan-potongan garis diagonal yangterpanjang (B dan C), seperti terlihat pada Gambar 22. Tiap unit contoh diamati 10rumpun contoh. Dari petak contoh itu diamati intensitas serangan OPT, kepadatanpopulasi OPT dan kepadatan populasi musuh alami yang efektif.Gambar 22. Penyebaran Unit Contoh dalam Petak Contoh. Dalam Tiap Unit Contoh Diamati 10 Rumpun Contoh.b. Tanaman Sayuran Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman sayur-sayurandilakukan pada 10 tanaman contoh setiap 0,1 ha atau 50 tanaman contoh perhektar. Pengambilan tanaman contoh ditentukan secara acak (random).c. Tanaman Buah-buahan, hias, Obat-obatan dan Rempah-rempah Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman buah-buahan, hiasdan obat-obatan dan rempah-rempah dilakukan dengan menggunakan petakcontoh, yaitu kecamatan. Tanaman yang diamati dibagi 3 kriteria seperti berikut:a. Tanaman dominan (terbanyak) : 15 tanaman/rumpunb. Tanaman dengan jumlah sedang : 10 tanaman/rumpunc. Tanaman dengan jumlah sedikit : 5 tanaman/rumpun Tanaman contoh ditentukan dengan 2 (dua) cara, yaitu random (acak) dandiagonal. Cara random dilakukan pada perkebunan rakyat/pekarangan rumah,sedangkan cara diagonal dilakukan (seperti pengambilan contoh pada tanamanpadi) pada perkebunan besar. 34
  • 37. Penilaian Serangan OPT Penilaian terhadap kerusakan tanaman dilakukan berdasarkan gejalaserangan OPT yang sifatnya sangat beragam. Kerusakan tanaman oleh seranganOPT dapat berupa kerusakan mutlak (atau yang dianggap mutlak) dan tidak mutlak.Untuk menilai serangan OPT yang menyebabkan kerusakan mutlak atau dianggapmutlak digunakan rumus sebgai berikut: a I = ----------- X 100% a+bKeterangan:I : Intensitas serangan (%)A : Banyaknya contoh (daun, pucuk, bunga, buah, tunas, tanaman, rumpun tanaman) yang rusak mutlak atau dianggap rusak mutlak.B : Banyaknya contoh yang tidak terserang (tidak menunjukkkan gejala serangan).2. Laporan Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura diperlukan untukmenyusun perlindungan tanaman, memberikan anjuran pengendalian, menyusunrencana perlindungan tanaman, memberikan anjuran pengendalian, menyusunbantuan pengendalian, merencanakan bimbingan pengendalian, melaksanakanpengamatan lebih intensif, dan merencanakan penyediaan sarana pengendalian.Oleh karena itu, Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura perludibuat sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dan segera dikirim ke instansiyang memerlukannya. Sesuai dengan kebijaksanaan dibidang perlindungantanaman pangan dan hortikultura dan pembagian wewenang dalam strukturorganisasi berlaku, Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikulturadisampaikan oleh PHP kepada Mantri Tani (Mantan) dan instansi vertikal diatasnya. Mantri Tani dan Penyuluh menyuluhkan dan menyebarluaskan kepadapetani sebagai dasar pengambilan keputusan kelompok tani, dan bila perlubersama-sama dengan PHP membina petani melaksanakan pengendalian. Instansivertikal di atasnya menggunakan laporan tersebut sebagai bahan mengevaluasikeadaan serangan, kemampuan petugas membimbing petani dalam pengendalian,merencanakan bimbingan dan bantuan, serta menyusun Laporan PerlindunganTanaman Pangan dan Hortikultura di wilayah kerjanya. Laporan PHP yang diterima oleh Mantan diteruskan kepada Camat danDinas Pertanian (Diperta) Kabupaten/Kotamadya, dan DipertaKabupaten/Kotamadya meneruskan laporan tersebut ke Diperta Propinsi. OlehCamat sebagai Ketua Satuan Pelaksana Bimas Kecamatan, laporan tersebut dapatdigunakan sebagai dasar untuk menyusun kampanye pengendalian secara massaloleh petani dan bila dibutuhkan/diperlukan bantuan pemerintah berupa pestisidadapat dikeluarkan. Sedangkan oleh Diperta Kabupaten/Kotamadya, digunakanuntuk membina pengendalian OPT dan mempertimbangkan bantuan pengendaliankepada petani apabila dinilai sebagai serangan eksplosi. Koordinator PHP mengkoordinasikan laporan PHP, laporan serangan OPTyang dilaporkan PHP dari seluruh wilayah pengamatan kabupaten diteruskan keDiperta Kabupaten/Kotamadya serta laporan lainnya diteruskan ke Laboratorium 35
  • 38. Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) dan (Balai Proteksi Tanaman Pangan danHortikultura (BPTPH)/Loka Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura(LPTPH)/Satgas BPTPH/LPTPH.PENGAMATAN OLEH PETANI Karena jumlah PHP dan petugas pengamat atau penyuluh di daerahsangat terbatas maka yang paling baik kegiatan pengamatan dilakukan sendiri olehpetani pemilik/penggarap. Petani sendiri yang melakukan kegiatan pemantauan,pengambilan keputusan dan tindakan pengendalian. Dengan demikian petani tidaklagi tergantung pada petugas, pemerintah. Petani dapat melakukan pengamatansecara perseorangan/individual, namun yang paling baik secara berkelompok ataumerupakan kegiatan kelompok tani. Agar petani dapat melakukan kegiatanpemantauan ekosistem, mereka perlu mengikuti pelatihan khusus yangdilaksanakan secara intensif, setiap 1 minggu sekali di dalam kegiatan yang disebutSLPHT. Dengan demikian tujuan pelaksanaan kegiatan pengamatan oleh parapetugas PHP hanya terbatas pada penyusunan laporan bagi pemda maupunpemerintah pusat tetapi tidak untuk pengambilan keputusan untuk lahan petanidalam menerapkan PHT. 36
  • 39. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 6 PENGENDALIAN DENGAN TANAMAN/VARIETAS TAHAN HAMA Tujuan:1. Mengenal dan mempelajari komponen PHT - Pengendalian dengan Tanaman Tahan Hama2. Mengenal dan mempelajari pengembangan tanaman transgenik tahan hama3. Mengenal dan mempelajari prinsip-prinsip karantina tumbuhan dan sistem karantina pertanian di IndonesiaMateri: Pengendalian hama dengan cara menanam tanaman yang tahan terhadapserangan hama telah lama dilakukan dan merupakan cara pengendalian yangefektif, murah, dan kurang berbahaya bagi lingkungan. Penggunaan berbagaivarietas padi tahan hama wereng coklat berhasil mengendalikan hama werengcoklat padi di Indonesia yang sejak tahun 1970 menjadi hama padi yang palingpenting. Saat ini petani telah mengenal banyak VUTW (Varietas Unggul TahanWereng) yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti dari IRRI (Filipina) dan dariIndonesia sendiri. Di luar tanaman padi penggunaan varietas tahan hama masihterbatas karena belum banyak tersedia varietas atau jenis tanaman yang memilikiketahanan tinggi terhadap hama-hama tertentu. Pada tahun 1984 Indonesia telah berhasil berswasembada beras. Kontribusivarietas unggul tahan hama bagi keberhasilan Indonesia berswasembada berassangat besar. Hal ini berkat kerja keras para ahli hama, pemulia tanaman,agronomi, dll yang telah berhasil menemukan dan mengembangkan VUTW. Namunsayangnya karena berbagai faktor, sampai saat ini status swasembada berassemakin sulit dipertahankan.1. Mekanisme Ketahanan Tanaman Ketahanan atau resistensi tanaman merupakan pengertian yang bersifatrelatif. Untuk melihat ketahanan suatu jenis tanaman sifat tanaman, yang tahanharus dibandingkan dengan sifat tanaman yang tidak tahan atau yang peka.Tanaman yang tahan adalah tanaman yang menderita kerusakan yang lebih sedikitbila dibandingkan dengan tanaman lain dalam keadaan tingkat populasi hama yangsama dan keadaan lingkungan yang sama. Pada tanaman yang tahan, kehidupandan perkembangbiakan serangga hama menjadi lebih terhambat bila dibandingkandengan perkembangbiakan sejumlah populasi hama tersebut apabila berada padatanaman yang tidak atau kurang tahan. 37
  • 40. Sifat ketahanan yang dimiliki oleh tanaman dapat merupakan sifat asli(terbawa keturunan faktor genetik) tetapi dapat juga karena keadaan lingkunganyang mendorong tanaman menjadi relatif tahan terhadap serangan hama.Beberapa ahli membedakan ketahanan tanaman dalam dua kelompok yaituketahanan ekologi dan ketahanan genetik (Kogan, 1982). Ahli lain menganggapketahanan ekologi bukan merupakan ketahanan sebenarnya dan disebutketahanan palsu atau pseudo resistance sedangkan yang disebut sifat ketahanantanaman adalah ketahanan genetik. Hal ini disebabkan sifat ketahanan ekologitidak tetap dan mudah berubah tergantung pada keadaan lingkungannya,sedangkan sifat ketahanan genetik relatif stabil dan sedikit dipengaruhi olehperubahan lingkungan.2. Ketahanan Genetik Sampai saat ini klasifikasi resistensi genetik menurut Painter yang banyakdiikuti oleh para pakar. Menurut Painter (1951) terdapat 3 mekanisme resistensitanaman terhadap serangga hama yaitu 1) ketidaksukaan, 2) antibiosis dan 3)toleran. a. Ketidaksukaan/antixenosis Nonpreference merupakan sifat tanaman yang menyebabkan suatuserangga menjauhi atau tidak menyenangi suatu tanaman baik sebagai pakan atausebagai tempat peletakan telur. Menurut Kogan (1982) istilah yang lebih tepatdigunakan untuk sifat ini adalah antixenosis yang berarti menolak tamu (xenosis =tamu). Antixenosis dapat dikelompokkan menjadi penolakan kimiawi atauantixenosis kimiawi dan penolakan morfologi atau antixenosis morfologik. b. Antibiosis Antibiosis adalah semua pengaruh fisiologi pada serangga yang merugikan,bersifat sementara atau tetap, sebagai akibat kegiatan serangga memakan danmencerna jaringan atau cairan tanaman tertentu. Gejala penyimpangan fisiologiterlihat apabila suatu serangga dipindahkan dari tanaman tidak memiliki sifatantibiosis ke tanaman yang memiliki sifat tersebut. Penyimpangan fisiologi tersebutberkisar mulai dari penyimpangan yang sedikit sampai penyimpangan terberat yaituterjadinya kematian serangga. c. Toleran Mekanisme resistensi toleran terjadi karena adanya kemampuan tanamantertentu untuk sembuh dari luka yang diderita karena serangan hama atau mamputumbuh lebih cepat sehingga serangan hama kurang mempengaruhi hasil,dibandingkan dengan tanaman lain yang lebih peka.3. Ketahanan Ekologi Ketahanan Ekologi atau dengan istilah lain ketahanan yang kelihatan(apparent resistance) atau ketahanan palsu (pseudo resistance) merupakan sifatketahanan tanaman yang tidak dikendalikan oleh faktor genetik tetapi sepenuhnyadisebabkan oleh faktor lingkungan yang memungkinkan kenampakan sifat 38
  • 41. ketahanan tanaman terhadap hama tertentu. Oleh karena sifatnya yang tidak tetap,ahli pemulia tanaman tidak mengakui sifat ini sebagai sifat ketahanan tanamanyang sesungguhnya. Sifat ketahanan ini biasanya merupakan sifat sementara dandapat terjadi pada tanaman yang sebenarnya peka terhadap serangan hamatertentu. Ada 3 bentuk ketahanan ekologi yaitu pengelakan inang (host evasion),ketahanan dorongan (induced resistance) dan inang luput dari serangan (hostescape).a. Pengelakan Inang Pengelakan inang terjadi bila waktu pemunculan fase tumbuh tanaman tertentu tidak bersamaan dengan waktu pemunculan stadia hama yang aktif mengkonsumsikan tanaman.b. Ketahanan Dorongan Sifat ketahanan ini timbul dan didorong oleh adanya keadaan lingkungan tertentu sehingga tanaman mampu bertahan terhadap serangan hama. Ketahanan dorongan ini terjadi antara lain akibat adanya pemupukan dan irigasi serta teknik budidaya yang lain.c. Inang Luput dari Serangan Sering dialami pada suatu tempat tertentu ada suatu kelompok tanaman yang sebenarnya memiliki sifat peka terhadap suatu jenis hama, tetapi pada suatu saat tanaman tersebut tidak terserang meskipun populasi hama di sekitarnya pada waktu itu cukup tinggi. Hal tersebut tidak berarti bahwa tanaman tersebut tahan terhadap serangan hama tetapi tanaman tersebut sedang dalam keadaan luput dari serangan hama.4. Langkah Pengembangan Varietas Tahan Pengembangan varietas tahan hama secara konvensional dilakukan melaluipenerapan teknologi pemuliaan tanaman tradisional dengan melakukan persilangantanaman. Beberapa kegiatan utama dalam melakukan perolehan danpengembangan guna memperoleh varietas tahan hama yang baru adalah sebagaiberikut:a. Identifikasi sumber ketahanan.b. Penetapan mekanisme ketahanan.c. Penyilangan sifat ketahanan dengan sifat agronomi lainnya sehingga dapat diperoleh varietas yang lebih unggul.d. Analisis genetik terhadap sifat ketahanan.e. Identifikasi dasar-dasar kimia dan fisika sifat ketahanan.f. Pengujian lapangan multi lokasi.g. Pelepasan varietas tahan hama yang baru.PENGEMBANGAN VARIETAS TAHAN DENGAN BIOTEKNOLOGI Pengembangan varietas tahan hama secara konvensional banyak dikaji dantelah diperoleh hasil yang menggembirakan. Penggunaan varietas tahan terbuktimampu mengurangi tingkat serangan hama sehingga hasil panen dapat meningkat. 39
  • 42. Sebagian besar varietas tahan hama yang dilepaskan, diperbanyak dan digunakandi Indonesia saat ini masih merupakan hasil teknologi pemuliaan tanaman secaratradisional yang telah diuraikan sebelumnya. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi akhir-akhir ini tidakmenutup kemungkinan penerapan bioteknologi modern dalam bidang pertanianuntuk dapat menghasilkan varietas tahan hama. Aplikasi bioteknologi pertanianmemberikan peluang yang sangat baik terhadap perkembangan kualitas maupunkuantitas produk-produk pertanian. Beberapa bioteknologi yang telahdikembangkan diantaranya rekayasa genetika yang mencakup rekombinasi DNA,pemindahan gen, manipulasi dan pemindahan embrio, kultur sel dan jaringan,regenerasi tanaman dan antibodi monoklonal. Tanaman hasil rekayasa genetika yang selanjutnya disebut tanamantransgenik dapat direkayasa memiliki sifat ketahanan terhadap jenis hama tertentu.Salah satu sifat unggul tanaman transgenik adalah ketahanan terhadap hamasetelah tanaman tersebut disisipi dengan gen toksik yang berasal dari Bacillusthuringiensis (Bt). Sampai akhir tahun 2003 di Indonesia hanya satu varietas kapasBt yang telah diijinkan dan dilepaskan secara terbatas di Sulawesi Selatan. Di duniaInternasional tanaman transgenik tahan hama yang telah dikembangkan meliputitanaman kapas, jagung, kentang. Berbagai tanaman tersebut telah disisipi genyang berasal dari bakteri Bt sehingga tahan terhadap jenis hama tertentu. Aplikasi pemindahan gen dengan teknik biologi molekuler dengan sasaranmemperoleh sifat-sifat tertentu dapat dilakukan lebih cepat, dengan ketepatan yangtinggi serta perolehan spektrum sifat yang jauh lebih lebar daripada hasil pemuliaantanaman konvensional. Perkembangan bioteknologi telah memungkinkan ilmuwanuntuk mentransformasikan gen Bt yang dikehendaki ke dalam genom berbagaijenis tanaman pertanian. Gen Bt yang menyandi protein delta-endotoksin telahdapat disisipkan ke dalam tanaman untuk pengendalian hama tertentu. Misaltanaman kapas Bt telah disisipi dengan gen cry1Ac untuk mengendalikan hamapenggerek buah kapas Helicoverpa virescens. Tanaman kapas Bt memproduksitoksin secara terus-menerus sehingga serangga peka yang hidup dalam jaringantanaman akan mati kalau memakan jaringan tersebut. Tanaman transgenik akan terlindung dari serangan hama selama racunprotein masih terus diproduksi. Karena racun protein yang dihasilkan hanya aktifbagi beberapa jenis serangga tertentu, suatu jenis tanaman transgenik tahan hamahanya dapat mengendalikan jenis-jenis hama tertentu.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN VARIETAS TAHAN HAMA KONVENSIONALKelebihana. Penggunaannya praktis dan secara ekonomi menguntungkanb. Sasaran pengendalian yang spesifikc. Efektivitas pengendalian bersifat kumulatif dan persistend. Kompatibilitas dengan komponen PHT lainnyae. Dampak negatif terhadap lingkungan terbatasKekuranganBeberapa keterbatasan atau permasalahan yang perlu kita ketahui antara lain: 40
  • 43. a. Waktu dan Biaya Pengembanganb. Keterbatasan Sumber Ketahananc. Timbulnya Biotipe hamad. Sifat Ketahanan yang BerlawananKELEBIHAN DAN KEKURANGAN TANAMAN TRANSGENIK TAHAN HAMAKelebihan1. Efektif mengendalikan hama sasaran dan pengurangan kehilangan hasil2. Penurunan penggunaan pestisida kimia3. Penurunan biaya pengendalian4. Pengendalian hama secara selektif5. Penurunan populasi hama dalam areal yang luasKeterbatasan Tanaman Transgenik1. Resistensi hama terhadap toksin2. Pengaruh tanaman transgenik terhadap organisme bukan sasaran3. Pengurangan keanekaragaman hayati4. Variasi hasil5. Kepekaan terhadap jenis hama lain6. Pengembalian investasi tidak terjamin7. Risiko bagi kesehatan8. Ketergantungan pada industri benih transgenikKARANTINA PERTANIAN Tujuan karantina pertanian adalah mencegah masuknya hama dan penyakithewan, hama dan penyakit ikan, serta organisme pengganggu tumbuhan kewilayah negara RI, mencegah tersebarnya dari suatu area ke area lain, danmencegah keluarnya dari wilayah negara RI. Karantina Pertanian terdiri dari:1. Karantina Hewan2. Karantina Ikan3. Karantina Tumbuhan Kita memiliki dasar hukum untuk karantina yaitu:1. UU RI No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan2. PP No 14 Tahun 2002 tentang Karantina TumbuhanKARANTINA TUMBUHANPengertian penting:1. Organisme Pengganggu Tumbuhan karantina (OPTK) yang terdiri dari OPTK Golongan I, OPTK Golongan II a. OPTK adalah semua organisme pengganggu tumbuhan yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian untuk dicegah masuknya ke dalam dan tersebarnya di dalam wilayah Negara Republik Indonesia. 41
  • 44. b. OPTK Golongan I yaitu OPTK yang tidak dapat dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan. Tidak dapat dibebaskannya OPT tersebut karena sifatnya memang tidak dapat dibebaskan, atau belum diketahui cara untuk membebaskannya, atau cara untuk membebaskannya belum dapat dilakukan di Indonesia. c. OPTK Golongan II yaitu semua OPTK yang dapat dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan.2. Kawasan Karantina adalah kawasan yang semula diketahui bebas dari hama dan penyakit tumbuhan karantina, sekarang telah ditemukan adanya organisme tertentu yang dahulunya tidak ada.3. Sertifikat Kesehatan Karantina (Phytosanitary Certificate) adalah surat keterangan yang dibuat oleh pejabat berwenang di negara atau area asal/pengirim/transit yang menyatakan bahwa tumbuhan atau bagian-bagian tumbuhan yang tercantum di dalamnya bebas dari OPT, OPTK, OPTK golongan I, OPTK golongan II, dan atau OPT Penting.4. Analisis Risiko Hama dan Penyakit Tumbuhan (Pest Risk Analysis/PRA) adalah suatu proses untuk menetapkan bahwa suatu OPT merupakan OPTK, atau OPT Penting, serta menentukan syarat-syarat dan tindakan karantina tumbuhan yang sesuai guna mencegah masuk dan tersebarnya OPT tersebut.Tindakan Karantina:1. Pemeriksaan2. Pengasingan3. Pengamatan4. Perlakuan5. Penahanan6. Penolakan7. Pemusnahan8. PembebasanKasus “kebobolan” masuknya hama baru di Indonesia:1. Keong/siput mas2. Pengorok daun kentang3. Nematoda Sista Kuning 42
  • 45. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 7 PENGENDALIAN HAYATIA. Parasitoid dan PredatorTujuan:1. Mempelajari prinsip dan teknik pengendalian hayati sebagai salah satu komponen dalam sistem PHT2. Mempelajari agens pengendalian hayati yang berupa parasitoid dan predator3. Mempelajari manfaat dan masalah yang dihadapi dalam penerapan pengendalian hayatiMateri:LATAR BELAKANG Pengendalian hayati sebagai komponen utama PHT pada dasarnya adalahpemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan populasi hamayang merugikan. Pengendalian hayati sangat dilatarbelakangi oleh berbagaipengetahuan dasar ekologi terutama teori tentang pengaturan populasi olehpengendali alami dan keseimbangan ekosistem. Musuh alami yang terdiri atasparasitoid, predator dan patogen merupakan pengendali alami utama hama yangbekerja secara "terkait kepadatan populasi" sehingga tidak dapat dilepaskan darikehidupan dan perkembangbiakan hama. Adanya populasi hama yang meningkatsehingga mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani disebabkan karenakeadaan lingkungan yang kurang memberi kesempatan bagi musuh alami untukmenjalankan fungsi alaminya. Apabila musuh alami kita berikan kesempatanberfungsi antara lain dengan introduksi musuh alami, memperbanyak danmelepaskannya, serta mengurangi berbagai dampak negatif terhadap musuh alami,musuh alami dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Meskipun praktek pengendalian hayati telah dilakukan ratusan tahun yanglalu di daratan Cina, pengendalian hayati yang pertama kali didokumentasikan ialahpada tahun 1762, ketika burung Mynah dibawa dari India ke Mauritius untukmemangsa hama belalang. Secara ilmiah keberhasilan pengendalian hayatipertama yang tercatat adalah pengendalian hama kutu berbantal pada kapasIcerya purchasi di California, Amerika Serikat dengan mengintroduksikan predatordari Australia yaitu kumbang vedalia, Rodolia cardinalis pada tahun 1888. Setelahkeberhasilan tersebut kemudian ratusan jenis hama telah berhasil dikendalikandengan cara hayati. Banyak hama di Indonesia berhasil dikendalikan denganmemasukkan musuh alami terutama sebelum tahun 1950-an sewaktu pestisidabelum banyak digunakan oleh petani. Salah satu jenis hama adalah hama belalangpedang Sexava sp yang menyerang kelapa yang dapat berhasil dikendalikan olehparasitoid telur Leefmansia bicolor di Sulawesi Utara. Juga hama ulat daun kubis 43
  • 46. (Plutella xylostella) di Jawa Barat berhasil dikendalikan oleh parasitoid Diadegmasp. Introduksi parasitoid telur Chelonus sp dari wilayah Bogor ke Flores untukmengendalikan ngengat mayang kelapa (Batracedra spp). Pembiakan massalparasitoid telur Trichogramma spp dan lalat Jatiroto (Diatraeophaga striatalis)sangat membantu mengendalikan serangan penggerek batang tebu pada tahun1972. Selanjutnya pada 1975 telah diintoduksikan kumbang moncong Neochetinaeichhorniae dari Flores ke Bogor untuk pengendalian eceng gondok. Introduksikumbang Curinus coreolius dari Hawai dilakukan untuk mengendalikan hama kutuloncat lamtoro Heteropsylla sp tahun 1986. Dari tahun 1950 sampai 1970anpengendalian hayati pamornya berkurang akibat penggunaan pestisida kimia yangsangat dominan di seluruh dunia. Dengan munculnya konsepsi PHT pengendalianhayati kembali diharapkan menjadi tumpuan teknologi pengendalian yang dapatdipertanggungjawabkan secara ekologi maupun ekonomi.BEBERAPA PENGERTIAN Agar tidak timbul kerancuan lebih dahulu perlu dibedakan pengertian tentangpengendalian hayati (biological control) dan pengendalian alami (natural control)yang seringkali dibicarakan bersama. Pengendalian Hayati merupakan taktik pengelolaan hama yang dilakukansecara sengaja memanfaatkan atau memanipulasikan musuh alami untukmenurunkan atau mengendalikan populasi hama. De Bach tahun 1979mendefinisikan Pengendalian Hayati sebagai pengaturan populasi organismedengan musuh-musuh alami sehingga kepadatan populasi organisme tersebutberada di bawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian.Pengendalian Alami merupakan proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpaada kesengajaan yang dilakukan oleh manusia. Pengendalian alami terjadi tidakhanya oleh karena bekerjanya musuh alami, tetapi juga oleh komponen ekosistemlainnya seperti makanan, dan cuaca. Ada beberapa ahli yang meluaskan pengertian pengendalian hayati sebagaiusaha pengendalian hama yang mengikutsertakan organisme hidup. Varietas tahanhama, manipulasi genetik, dan penggunaan serangga mandul dimasukkan sebagaibagian teknik pengendalian hayati. Untuk selanjutnya dalam kuliah kita gunakanpengertian pengendalian hayati yang pertama.AGENS PENGENDALIAN HAYATI Sebagai bagian kompleks komunitas dalam ekosistem setiap spesiesserangga termasuk serangga hama dapat diserang oleh atau menyerangorganisme lain. Bagi serangga yang diserang organisme penyerang disebut "musuhalami". Secara ekologi istilah tersebut kurang tepat karena adanya musuh alamitidak tentu merugikan kehidupan serangga terserang. Hampir semua kelompokorganisme dapat berfungsi sebagai musuh alami serangga hama termasukkelompok vertebrata, nematoda, jasad renik, invertebrata di luar serangga.Kelompok musuh alami yang paling penting adalah dari golongan serangga sendiri.Dilihat dari fungsinya musuh alami atau agens pengendalian hayati dapat kitakelompokkan menjadi parasitoid, predator, dan patogen. 44
  • 47. 1. Parasitoid Perlu sedikit penjelasan antara istilah parasitoid dan parasit. Parasitismeadalah hubungan antara dua spesies yang satu yaitu parasit, memperolehkeperluan zat-zat makanannya dari fisik tubuh yang lain, yaitu inang. Parasit hiduppada atau di dalam tubuh inang. Inang tidak menerima faedah apapun darihubungan ini, meskipun biasanya tidak dibinasakan. Misalnya kasus cacing pitapada manusia dan caplak pada binatang. Istilah parasit lebih sering digunakandalam entomologi kesehatan. Serangga yang bersifat parasit yang pada akhirnyamenyebabkan kematian inangnya tidak tepat bila dimasukkan ke dalam definisiparasit. Karena itu kemudian diberikan istilah baru yaitu parasitoid yang lebihbanyak digunakan dalam entomologi pertanian. Parasitoid adalah binatang yang hidup di atas atau di dalam tubuh binatanglain yang lebih besar yang merupakan inangnya. Serangan parasit dapatmelemahkan inang dan akhirnya dapat membunuh inangnya karena parasitoidmakan atau mengisap cairan tubuh inangnya. Untuk dapat mencapai fase dewasasuatu parasitoid hanya memerlukan satu inang. Dengan demikian parasitoid adalahserangga yang hidup dan makan pada atau dalam serangga hidup lainnya sebagaiinang. Inang akan mati jika perkembangan hidup parasitoid telah lengkap. Parasitoid merupakan serangga yang memarasit serangga atau binatangartropoda yang lain. Parasitoid bersifat parasitik pada fase pradewasanyasedangkan pada fase dewasa mereka hidup bebas tidak terikat pada inangnya.Umumnya parasitoid akhirnya dapat membunuh inangnya meskipun ada inangyang mampu melengkapi siklus hidupnya sebelum mati. Parasitoid dapatmenyerang setiap instar serangga. Instar dewasa merupakan instar serangga yangpaling jarang terparasit. Oleh induk parasitoid telur dapat diletakkan pada permukaan kulit inang ataudengan tusukan ovipositornya telur langsung dimasukkan dalam tubuh inang. Larvayang keluar dari telur menghisap cairan inangnya dan menyelesaikanperkembangannya dapat berada di luar tubuh inang (sebagai ektoparasitoid) atausebagian besar dalam tubuh inang (sebagai endoparasitoid). Contoh ektoparasitadalah Campsomeris sp yang menyerang uret sedangkan Trichogramma sp yangmemarasit telur penggerek batang tebu dan padi merupakan jenis endoparasit.Fase inang yang diserang pada umumnya adalah telur dan larva, beberapaparasitoid menyerang pupa dan sangat jarang yang menyerang imago. Larvaparasitoid yang sudah siap menjadi pupa keluar dari tubuh larva inang yang sudahmati kemudian memintal kokon untuk memasuki fase pupa parasitoid. Imagoparasitoid muncul dari kokon pada waktu yang tepat untuk kemudian meletakkantelur pada tubuh inang bagi perkembangan generasi berikutnya. Ada spesies parasitoid yang dapat melengkapi siklus hidupnya sampai fasedewasa pada satu inang. Parasitoid semacam ini disebut parasitoid solitermerupakan suatu spesies parasitoid yang perkembangan hidupnya terjadi padasatu tubuh inang. Satu inang diparasit oleh satu individu parasitoid. Contohparasitoid soliter antara lain Charops sp (famili Ichneumonidae). Parasitoidgregarius adalah jenis parasitoid yang beberapa individu dapat hidup bersama-sama dalam tubuh satu inang. Contoh parasitoid gregarious adalah Tetrastichusschoenobii. Jumlah imago yang keluar dari satu tubuh inang dapat banyak sekali. 45
  • 48. Banyak jenis lebah Ichneumonid merupakan parasitoid soliter, dan banyak lebahBraconid dan Chalcidoid yang merupakan parasitoid gregarius. Enam ordo serangga yang meliputi 86 famili anggota-anggotanya tercatatsebagai parasitoid yaitu Coleoptera, Diptera, Hymenoptera, Lepidoptera,Neuroptera, dan Strepsiptera. Namun dua ordo parasitoid yang terpenting yaituHymenoptera dan Diptera. Famili-famili dalam ordo Hymenoptera yang terbanyakmengandung parasitoid adalah Ichneumonidae, Braconidae, dan beberapa familiyang termasuk Chalcidoidea. Sedangkan dalam ordo Diptera famili Tachinidaemerupakan famili yang terpenting. Tetrastichus schoenobii memiliki kemampuanmemarasit kepompong penggerek batang padi bergaris, penggerek batang padikuning dan penggerek batang padi putih. Apanteles artonae memarasit larva Chilosp dan Artona catoxantha. Pertanaman pisang yang terserang Erionata thrax dapatdikendalikan oleh parasitoid Xanthopimpla sp. Parasitoid Trichogrammatoideabatrae-batrae cukup efektif memparasit telur penggerek polong kedelai (Etiella spp). Selama ini dari sekian banyak kelompok agens pengendalian hayati,parasitoid yang paling sering berhasil mengendalikan hama apabila dibandingkandengan kelompok-kelompok agens pengendalian hayati lainnya. Dari 4769 kasuspelepasan agens pengendalian hayati yang tercatat di dunia, hanya 1023menggunakan predator, sebagian besar kasus adalah pelepasan seranggaparasitoid. Keuntungan atau kekuatan pengendalian hama dengan parasitoid adalah:a. Daya kelangsungan hidup ("survival") parasitoid tinggi.b. Parasitoid hanya memerlukan satu atau sedikit individu inang untuk melengkapi daur hidupnya.c. Populasi parasitoid dapat tetap bertahan meskipun pada aras populasi yang rendah.d. Sebagian besar parasitoid bersifat monofag atau oligofag sehingga memiliki kisaran inang sempit. Sifat ini mengakibatkan populasi parasitoid memiliki respons numerik yang baik terhadap perubahan populasi inangnya. Di samping kekuatan pengendalian dengan parasitoid beberapa kelemahanatau masalah yang biasanya dihadapi di lapangan dalam menggunakan parasitoidsebagai agens pengendalian hayati adalah:a. Daya cari parasitoid terhadap inang seringkali dipengaruhi oleh keadaan cuaca atau faktor lingkungan lainnya yang sering berubah.b. Serangga betina yang berperan utama karena mereka yang melakukan pencarian inang untuk peletakan telur.c. Parasitoid yang memiliki daya cari tinggi biasanya menghasilkan telur sedikit. Namun keberhasilan semua teknik pengendalian hayati dengan parasitoidsangat ditentukan oleh sinkronisasi antara fenologi inang dan fenologi parasitoid dilapangan. Fase larva parasitoid hanya dapat hidup pada fase hidup inang tertentuterutama telur dan larva. Kelanjutan hidup parasitoid sangat ditentukan olehketersediaan fase inangnya yang tepat. Bila sewaktu induk parasitoid akanmeletakkan telurnya tetapi tidak tersedia fase inang yang tepat, parasitoid tersebuttidak akan dapat melanjutkan fungsinya sebagai pengendali populasi hama. Agarpengendalian hayati dengan parasitoid berhasil siklus hidup dan fenologi hama daninang perlu dipelajari dan diketahui lebih dahulu. Misalkan untuk introduksi danpelepasan parasitoid di lapangan perlu diketahui banyak hal kecuali fenologi inangdan parasitoid juga tentang pengaruh berbagai faktor lain seperti cuaca dan 46
  • 49. tindakan manusia terhadap fenologi dan perkembangan populasi parasitoid daninangnya. Serangga predator dan serangga parasitoid juga memiliki musuh alami yangberupa parasitoid. Fenomena serangga parasitoid menyerang parasitoid lainsebagai inangnya disebut hiperparasitasi sedangkan parasitoid tersebut disebuthiperparasitoid. Apabila kelompok parasitoid yang memarasit hama disebutparasitoid primer maka kelompok hiperparasitoid disebut parasitoid sekunder.Parasitoid sekunder masih mungkin diserang oleh parasitoid tersier. Brachymeriasp yang menyerang kepompong Charops sp merupakan salah satu contohhiperparasitasi. Adanya parasitoid sekunder perlu diperhitungkan dalam setiapusaha pengendalian hayati dengan menggunakan predator atau parasitoid. Perludicatat di sini bahwa tidak semua parasitoid primer berguna untuk pengendalianhayati antara lain parasitoid primer yang menyerang serangga herbivora digunakanpengendalian hayati gulma.2. Predator Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan,membunuh atau memangsa binatang lainnya. Apabila parasitoid memarasit inang,predator atau pemangsa memakan mangsa. Predator umumnya dibedakan dariparasitoid dengan ciri-ciri sebagai berikut:a. Parasitoid umumnya monofag atau oligofag, predator pada umumnya mempunyai banyak inang atau bersifat polifag meskipun ada juga jenis predator yang monofag dan oligofag.b. Predator umumnya memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan mangsanya. Namun ada beberapa predator yang memiliki ukuran tubuh yang tidak lebih besar daripada mangsanya, contohnya semut yang mampu membawa mangsa secar berkelompok.c. Predator memangsa dan membunuh mangsa secara langsung sehingga harus memiliki daya cari yang tinggi, memiliki kelebihan sifat fisik yang memungkinkan predator mampu membunuh mangsanya Beberapa predator dilengkapi dengan kemampuan bergerak cepat, taktik penangkapan mangsa yang lebih baik daripada taktik pertahanan mangsa, kekuatan yang lebih besar, memiliki daya jelajah yang jauh serta dilengkapi dengan organ tubuh yang berkembang dengan baik untuk menangkap mangsanya seperti kaki depan belalang sembah (Mantidae), mata besar (capung).d. Untuk memenuhi perkembangannya parasitoid memerlukan hanya satu inang umumnya fase pradewasa, tetapi predator memerlukan banyak mangsa baik fase pradewasa maupun fase dewasa.e. Parasitoid yang mencari inang adalah hanya serangga dewasa betina, tetapi predator betina dan jantan dan juga fase pradewasa semuanya dapat mencari dan memperoleh mangsa.f. Sebagian besar predator mempunyai banyak pilihan inang sedangkan parasitoid mempunyai sifat tergantung kepadatan yang tinggi. Predator memiliki daya tanggap rendah terhadap perubahan populasi mangsa sehingga fungsinya sebagai pengatur populasi hama umumnya kurang terutama untuk predator yang polifag. Sifat polifag memberikan keuntungan bagi predator yaitu bila populasi jenismangsa utama tertentu rendah, dengan mudah predator tersebut mencari mangsa 47
  • 50. alternatif untuk tetap mampu mempertahankan hidupnya. Sifat pengaturan populasimangsa secara tergantung kepadatan lebih nampak pada predator yang bersifatoligofag. Respons numerik predator terhadap perubahan populasi mangsadinampakkan dalam bentuk perubahan reproduksi, imigrasi, emigrasi, dan prosesmortalitas. Respons fungsional predator dalam bentuk perubahan proses fisiologidan perilaku seperti daya cari, waktu penanganan mangsa, rasa lapar, kecepatanpencernaan, kompetisi antar predator, dll. Sinkronisasi fenologi predator danmangsa tidak merupakan permasalahan utama bagi keberhasilan pemanfaatanpredator sebagai agens pengendali hayati. Hal ini berbeda dengan sinkronisasiparasitoid dan inang. Hampir semua ordo serangga mempunyai spesies yang menjadi predatorserangga lain. Selama ini ada beberapa ordo yang anggota-anggotanya banyakmerupakan predator yang digunakan dalam pengendalian hayati. Ordo-ordotersebut adalah Coleoptera, Neuroptera, Hymenoptera, Diptera, dan Hemiptera.Beberapa famili predator yang terkenal adalah kumbang kubah (Coleoptera:Coccinellidae), kumbang tanah (Coleoptera: Carabidae), undur-undur (Neuroptera:Chrysopidae), kepik buas (Hemiptera: Reduviidae), belalang tanduk panjang(Orthoptera: Tettigonidae), jangkerik (Orthoptera: Gryllidae), Kepinding air(Hemiptera: Vellidae), Anggang-anggang (Hemiptera: Gerridae), capung jarum(Odonata: Coenagrionidae), semut (Hymenoptera: Formicidae) dan dari golonganlaba-laba harimau (Araneae: Lycosidae). Banyak ahli yang mempersoalkan tentang efektivitas predator sebagai agenspengendalian hayati apabila dibandingkan dengan parasitoid. Dari sekian banyakusaha pengendalian hayati yang selama ini berhasil dilakukan di dunia lebih banyakmenggunakan parasitoid daripada predator. Namun hal itu tidak berarti bahwapredator kurang dapat difungsikan sebagai agens pengendalian hayati.Keberhasilan pengendalian hayati memang sulit untuk diduga dan dianalisis secaratepat karena kerumitan dan dinamika agroekosistem. Predator dan parasitoidmempunyai banyak kelebihan dan kelemahan. Oleh karena itu untuk meningkatkankeberhasilan pengendalian hayati kedua agens tersebut harus dimanfaatkan secaraoptimal berdasarkan pada informasi dasar yang mencukupi tentang berbagai aspekbiologi dan ekologi kedua kelompok agens pengendalian hayati tersebut.PENGENDALIAN HAYATI DENGAN PARASITOID DAN PREDATOR Praktek pengendalian yang dilakukan sampai saat ini dapat dikelompokkandalam 3 kategori yaitu introduksi, augmentasi, dan konservasi. Meskipun ketigateknik pengendalian hayati tersebut berbeda dalam sasaran dan tekniknya tetapidalam pelaksanaan pengendalian hayati sering digunakan secara bersama.1. Introduksi Teknik introduksi atau importasi musuh alami seringkali disebut sebagaipraktek pengendalian hayati klasik. Hal ini disebabkan karena pada tahappermulaaan sebagian besar usaha pengendalian hayati menggunakan tekniktersebut. Usaha introduksi bertujuan untuk mencari musuh alami hama tersebut didaerah asalnya dan memasukkannya ke daerah baru. Di daerah asal hama 48
  • 51. tersebut mungkin tidak menjadi masalah bagi petani karena populasinya telahdapat diatur dan dikendalikan oleh agens musuh alami setempat. Keberhasilan penggunaan teknik introduksi dimulai dengan introduksikumbang vedalia, Rodolia cardinalis dari benua Australia ke California untukmengendalikan hama kutu perisai Icerya purchasi yang menyerang perkebunanjeruk di California. Pada waktu itu diketahui bahwa hama kutu jeruk tersebut berasaldari benua Australia. Keberhasilan teknik introduksi ini kemudian dicobakan padahama-hama lain dan banyak juga yang berhasil baik secara lengkap, substansialmaupun parsial. Di Indonesia pengendalian dengan introduksi parasitoid yang berhasil antaralain introduksi parasitoid Pediobius parvulus dari Fiji pada sekitar tahun 1920-an keIndonesia yang ditujukan untuk pengendalian hama kumbang kelapaPromecotheca reichei. Pada beberapa daerah dilaporkan bahwa parasitasi dapatmendekati 100%. Juga pemasukan parasitoid Tetrastichus brontispae dari pulauJawa ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara dapat berhasil menekan populasihama kelapa Brontispa longissima. Parasitoid telur Leefmansia bicolor pernahdimasukkan dari pulau Ambon ke pulau Talaud, juga parasitoid Chelonus spdimasukkan dari Bogor ke pulau Flores untuk mengendalikan hama bunga kelapaBatrachedra (Kalshoven, 1981). Di Indonesia kasus yang paling baru terjadi padatahun 1986-1990 yaitu introduksi predator Curinus coreolius dari Hawaii untukpengendalian hama kutu loncat lamtoro Heteropsylla sp. Meskipun telah banyakusaha introduksi musuh alami yang berhasil dilakukan tetapi untuk menjelaskanteori dasar teknik introduksi tersebut sangat sulit karena kerumitan mekanisme dansusunan ekosistem pertanian. Mengingat introduksi musuh alami termasuk dalam rekayasa biologi, agarteknik ini berhasil diperlukan banyak usaha persiapan dan studi yang mendalamterutama tentang sifat penyebaran, sifat biologi dan ekologi spesies hama danmusuh alami yang akan diintroduksikan, dan keadaan ekosistem setempat. Sampaisaat ini upaya introduksi musuh alami ada juga yang berhasil mengendalikan hamasecara berlanjut meskipun hanya dilandasi dengan metode coba-coba ataumetode "trial and error". Namun untuk peningkatan efisiensi dan efektivitaspengendalian pendekatan semacam itu tidak dianjurkan. Ada beberapa langkah klasik yang perlu ditempuh apabila untuk melakukanintroduksi musuh alami pada suatu tempat. Langkah-langkah tersebut dilakukandengan urutan sbb:a. Penjelajahan atau eksplorasi di negeri asal terutama mengenai habitat asal spesies eksotik yang akan diimporb. Pengiriman parasitoid dan predator dari negeri asal mengikuti peraturan- peraturan yang berlaku di negara asal maupun di Indonesiac. Karantina pasca masuk parasitoid dan predator yang diimpor di dalam negeri sesuai peraturan dan prosedur karantina yang berlaku di Indonesiad. Perbanyakan parasitoid dan predator di laboratorium yang memenuhi syarat baik fasilitas maupun SDMnyae. Pelepasan dan pemapanan parasitoid dan predator yang diimpor sesuai dengan kondisi ekologi yang menguntungkan kehidupan dan perkembangan agens pengendalian hayati 49
  • 52. f. Evaluasi efektivitas pengendali hayati dengan menggunakan metode standar yang dibuat oleh para ahli pengendalian hayati (metode eksklusi dan metode neraca kehidupan) Apabila berhasil nilai manfaat yang diperoleh dari pemasukan musuh alamisangat besar karena hasilnya mantap, mapan dan akan berumur panjang sehinggamendatangkan keuntungan ekonomi dan lingkungan yang maksimal. Keuntunganpenggunaan pengendalian hayati klasik dengan intorduksi adalah:a. Agens pengendalian hayati yang dipilih biasanya sudah mengkhususkan diri terhadap hama sasaran dan tidak/sedikit berdampak negatif bagi organisme lain,b. Sekali telah menetap di suatu tempat, agens pengendali tersebut akan berkembang sendiri dan tidak diperlukan pemasukan yang berulang-ulang,c. Tidak perlu lagi tindakan-tindakan pengendalian hama lainnya baik oleh petugas lapangan maupun petani,d. Semua pihak diuntungkan baik petani kaya maupun petani miskin,e. Dari perhitungan manfaat dan biaya (Benefit Cost) sangat menguntungkan dibandingkan penggunaan pestisida2. Augmentasi Teknik augmentasi atau teknik peningkatan merupakan aktivitaspengendalian hayati yang bertujuan meningkatkan jumlah musuh alami ataupengaruhnya. Sasaran ini dapat dicapai dengan dua cara augmentasi yaitupertama, dengan melepaskan sejumlah tambahan musuh alami ke ekosistem agardengan tambahan jumlah tersebut dalam waktu singkat musuh alami mampumenurunkan populasi hama. Cara kedua adalah dengan memodifikasikanekosistem sedemikian rupa sehingga jumlah dan efektivitas musuh alami dapatditingkatkan. Pelepasan sejumlah populasi musuh alami di ekosistem secara teknikaugmentasi sebetulnya sama juga dengan pelepasan musuh alami dengan teknikintroduksi. Dengan teknik augmentasi diharapkan populasi hama sementara waktu(satu musim atau kurang) dengan cepat dapat ditekan sehingga tidak merugikan.Pelepasan musuh alami introduksi bertujuan dalam jangka panjang mampumenurunkan aras keseimbangan populasi hama sehingga tetap berada di bawaharas ekonomi. Karena itu pelepasan musuh alami secara augmentatik harusdilakukan secara periodik. Perbedaan lain pelepasan augmentatik menggunakanmusuh alami yang sudah berfungsi di ekosistem, sedangkan pelepasan introduksimenggunakan musuh alami yang dimasukkan dari luar ekosistem. Pelepasan periodik menurut Stehr (1982) dapat dibedakan dalam 3 bentuktergantung pada maksud dan frekuensi pelepasan serta sumber musuh alami yangdilepaskan. Tiga cara pelepasan periodik adalah:b. Pelepasan Inokulatif Pelepasan musuh alami dilakukan satu kali dalam satu musim atau dalamsatu tahun dengan tujuan agar musuh alami tersebut dapat mengadakan kolonisasidan menyebar luas secara alami dan menjaga populasi hama tetap berada padaaras keseimbangannya. Pelepasan musuh alami di sini dimaksudkan agar secarateratur peranan dan kondisi musuh alami tetap dipertahankan dan ditingkatkan. 50
  • 53. Secara periodik populasi musuh alami berkurang karena keadaan lingkungan yangtidak sesuai. Pengendalian hama tidak diharapkan dari hasil kerja musuh alamiyang dilepas tetapi oleh keturunannya.c. Pelepasan Suplemen Pelepasan musuh alami dapat dilakukan setelah dari kegiatan samplingdiketahui populasi hama mulai meninggalkan populasi musuh alaminya. Tujuanpelepasan untuk membantu musuh alami yang sudah ada agar kembali berfungsidan dapat mengendalikan populasi hama.d. Pelepasan Inundatif atau Pelepasan Massal Apabila pada kedua cara pelepasan sebelumnya diharapkan keturunan dariindividu musuh alami yang dilepaskan yang terus berfungsi memperkuatberfungsinya kembali musuh alami sebagai pengendali alami, maka pelepasaninundatif mengharapkan agar individu-individu musuh alami yang dilepas secarasekaligus dapat menurunkan populasi hama secara cepat terutama setelah ratusanribu atau jutaan individu parasitoid atau predator dilepaskan. Pelepasan inundatifparasitoid sering disebut penggunaan "insektisida biologi" karena dalam hal inimusuh alami seakan-akan diharapkan dapat bekerja secepat insektisida kimiawidalam penurunan populasi hama. Karena jumlah musuh alami yang dilepaskan sangat banyak diperlukanteknik pembiakan massal musuh alami yang cepat, dan ekonomik. Umumnya inangbagi perbanyakan massal musuh alami bukan serangga inang hama tetapiserangga inang alternatif yang lebih mudah diperbanyak di ruang perbanyakan.Contoh untuk memperbanyak parasitoid telur Trichogramma sp di laboratoriumdigunakan inang pengganti yaitu Sitotroga cerealia, hama yang menyerang gabah. Sukses yang dicapai oleh teknik inokulatif adalah dilepaskannya secaramassal parasitoid telur Trichogramma sp untuk mengendalikan berbagai hamapenting seperti penggerek pucuk tebu dan penggerek batang tebu, hamapenggerek buah kapas, dll. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelepasan150.000 telur Trichogramma sp. per hektar dapat menurunkan populasi dankerusakan penggerek pucuk tebu, sedangkan untuk pengendalian penggerekbatang tebu diperlukan 250.000 telur per hektar. Teknik pengendalian hayati lainnya agar teknik augmentasi denganpelepasan periodik ini berhasil diperlukan informasi yang lengkap tentang biologidan ekologi hama dan musuh alaminya terutama dalam menentukan tempat, waktu,frekuensi dan cara pelepasan musuh alami.3. Konservasi Musuh Alami Dalam penerapan PHT konservasi musuh alami terutama pemanfaatanpredator dan parasitoid merupakan teknik pengendalian hayati yang seringdilakukan dan dianjurkan. Teknik konservasi bertujuan menghindarkan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan populasi musuh alami. Banyak tindakan agronomiyang secara langsung dan tidak langsung dapat merugikan populasi musuh alamiterutama penggunaan pestisida kimia. Pengendalian hama tanpa menggunakanpestisida atau kalau digunakan secara selektif berarti usaha konservasi musuhalami sudah dilaksanakan. Dari hasil penelitian Settle et al. (1996) dapat diketahuibahwa aplikasi insektisida pada permulaan musim tanam padi tidak hanya 51
  • 54. membunuh musuh alami hama-hama padi, tetapi dapat membunuh serangga-serangga akuatik detrivora dan pemakan plankton yang hidup di air sawah.Keberadaan serangga-serangga air tersebut sangat bermanfaat karena menjagapopulasi wereng coklat padi pada posisi yang tidak merugikan petani.Menghindarkan aplikasi insektisida pada permulaan musim tanam padi merupakansalah satu bentuk konservasi musuh alami yang efektif untuk pengendalian hama-hama padi di Indonesia. Beberapa cara konservasi musuh alami yang dapat dilakukan antara lainberupa:1. Menekan pemakaian pestisida. Musuh alami memiliki kepekaan terhadap pestisida lebih tinggi daripadahama sehingga pemakaian pestisida secara terus-menerus akan memusnahkanpopulasi musuh alami. Parasitoid lebih peka terhadap pestisida daripada predator.2. Memakai sistem tanam yang lebih beraneka ragam. Sistem tanam yang beraneka ragam akan mempengaruhi lingkungan mikrodi suatu lahan. Lingkungan akan lebih terlindung dari pengaruh buruk cuaca sepertiangin dan hujan, kelembaban lebih tinggi, dan tempat akan menjadi lebih teduh.Dengan demikian jumlah serangga bermanfaat seperti musuh alami akan lebihberaneka ragam dibandingkan pada sistem monokultur.3. Menanam dan melestarikan tanaman berbunga. Tanaman berbunga yang menghasilkan sari madu dan serbuk sari dapatmenaikkan kemampuan musuh alami untuk berkembang biak sehingga lebihdisukai oleh parasitoid dan predator.4. Melestarikan tanaman liar yang mendukung inang alternatif parasitoid atau mangsa alternatif predator. Parasitoid atau predator akan sulit mempertahankan hidup setelah panenkarena inang utama tidak dijumpai lagi. Pelestarian tanaman liar dapat mendukungkehidupan musuh alami sebagai inang alternatif sampai inang utama kembalitersedia sehingga musuh alami tetap mampu menurunkan populasi hama. Adanyatanaman liar juga harus diwaspadai apabila berpotensi menjadi tempat hidup hamadi luar musim tanaman budidaya. Sebelumnya Stehr (1982) mengemukakan beberapa cara yang dapatdilakukan untuk memodifikasi ekosistem untuk konservasi musuh alami denganrincian sebagai berikut:1. Perlindungan dari penggunaan pestisida kimiawi.2. Pengembangan musuh alami yang tahan atau toleran terhadap pestisida.3. Perlindungan atau penjagaan stadia tidak aktif musuh alami (pupa atau fase diapause).4. Menghindari praktek budidaya tanaman yang merugikan kehidupan musuh alami.5. Penjagaan keanekaragaman komunitas setempat dan inang yang diperlukan.6. Penyediaan inang alternatif.7. Penyediaan makanan alami (nektar, pollen, embun madu)8. Penyediaan suplemen makanan tambahan.9. Pembuatan tempat berlindung musuh alami 52
  • 55. 10. Pengurangan populasi predator yang tidak diinginkan.11. Pengendalian semut pemakan madu.12. Pengaturan suhu yang mendukung perkembangan musuh alami.13. Menghindarkan debu-debu yang mengganggu efektivitas musuh alami.PERANAN PENGENDALIAN HAYATI DALAM PHT Sesuai dengan konsepsi dasar PHT pengendalian hayati memegangperanan yang menentukan karena semua usaha teknik pengendalian yang lainsecara bersama ditujukan untuk mempertahankan dan memperkuat berfungsinyamusuh alami sehingga populasi hama tetap berada di bawah aras ekonomik.Dibandingkan dengan teknik-teknik pengendalian yang lain terutama pestisidakimia, pengendalian hayati memiliki tiga keuntungan utama yaitupermanen, aman, danekonomi. Arti permanen di sini karena apabila pengendalian hayati berhasil, musuhalami telah menjadi lebih mapan di ekosistem dan selanjutnya secara alami musuhalami akan mampu menjaga populasi hama dalam keadaan yang seimbang dibawah aras ekonomi dalam jangka waktu yang panjang. Pengendalian hayati aman bagi lingkungan karena tidak memiliki dampaksamping terhadap lingkungan terutama terhadap serangga atau organisme bukansasaran. Karena musuh alami biasanya adalah khas inang. Meskipun pernahdilaporkan kasus terjadinya ketahanan suatu jenis hama terhadap musuh alamiantara lain dengan membentuk kapsul dalam tubuh inang, namun kejadian tersebutsangat langka. Pengendalian hayati juga relatif ekonomis karena begitu usaha tersebutberhasil petani tidak memerlukan lagi tambahan biaya khusus untuk pengendalianhama, petani kemudian hanya mengupayakan agar menghindari tindakan-tindakanyang merugikan perkembangan musuh alami. Kesulitan dan permasalahan utama dalam penerapan dan pengembanganpengendalian hayati adalah modal investasi permulaan yang besar yang harusdikeluarkan untuk kegiatan eksplorasi, penelitian, pengujian dan evaluasi terutamayang menyangkut berbagai aspek dasar baik untuk hama, musuh alami maupuntanaman. Aspek dasar dapat meliputi taksonomi, ekologi, biologi, siklus hidup,dinamika populasi, genetika, fisiologi, dll. Identifikasi yang tepat baik untuk jenishama maupun musuh alaminya merupakan langkah permulaan yang sangatpenting. Apabila identifikasi kurang benar kita akan memperoleh kesulitan dalammempelajari sifat-sifat kehidupan musuh alami dan langkah-langkah kegiatanselanjutnya. Kecuali diperlukan modal, fasilitas yang lengkap juga diperlukan sumberdaya manusia terutama para peneliti yang berkualitas dan berpendidikan khususdan berdedikasi tinggi sesuai dengan yang diperlukan untuk pengembanganteknologi pengendalian hayati. Sampai saat ini tenaga-tenaga ahli dengan 53
  • 56. kualifikasi demikian masih sangat jarang tersedia di Indonesia. Meskipun adabeberapa ahli yang berpendapat bahwa untuk pengendalian hayati yang pentingadalah adanya tenaga peneliti yang berpengalaman dan berdedikasi tinggi sertacukup memiliki rasa seni dan intuisi, namun bagaimanapun untuk keberhasilanpengendalian hayati dalam kerangka PHT diperlukan juga dasar pengetahuan danteknologi yang mantap.B. Patogen SeranggaTujuan:1. Mempelajari dan memahami berbagai kelompok dan jenis patogen serangga sebagai agens pengendalian hayati2. Mempelajari dan memahami strategi dan cara pemanfaatan patogen serangga untuk pengendalian hama3. Mempelajari dan memahami kelemahan dan kekuatan patogen serangga sebagai agens pengendalian hayatiMateri:JENIS-JENIS JASAD RENIK PATOGENIK Serangga seperti juga binatang lainnya dalam hidupnya diserang olehbanyak patogen atau penyakit yang berupa virus, bakteri, protozoa, jamur, rikettsiadan nematoda. Beberapa penyakit dalam kondisi lingkungan tertentu dapat menjadifaktor mortalitas utama bagi populasi serangga, tetapi ada banyak penyakit yangpengaruhnya kecil terhadap gejolak populasi serangga. Serangga yang terkenapenyakit menjadi terhambat pertumbuhan dan pembiakannya. Pada keadaanserangan penyakit yang parah serangga terserang akhirnya mati. Saat ini dikenallebih dari 2000 jenis patogen yang menginfeksi serangga dan jumlah itu mungkinbaru sebagian kecil dari jenis patogen serangga di muka bumi. Oleh karena kemampuannya membunuh serangga hama sejak lamapatogen digunakan sebagai agens pengendalian hayati (biological control agents).Penggunaan patogen untuk pengendalian hama tercatat pada abad ke-18 yaitupengendalian hama kumbang moncong pada bit gula, Cleonus punctiventusdengan menggunakan sejenis jamur. Berikut secara singkat diuraikan beberapakelompok jasad renik yang saat ini sudah banyak dan sering digunakan sebagaiagens pengendalian hayati.1. Virus Sampai saat ini kurang lebih 1500 virus telah berhasil diisolasi dandiidentifikasikan dari serangga dan binatang artropoda lainnya. Virus-virusartropoda sebagian besar masuk dalam genera Nucleopolyhedrovirus,Granulovirus, Iridovirus, Entomopoxvirus, Cypovirus dan Nodavirus. Dari keenamgenera ini genus NPV (Nucleopolyhedro virus) merupakan genus terpenting karenasekitar 40% jenis virus yang dikenal menyerang serangga termasuk dalam genus 54
  • 57. ini. Selain NPV ada kelompok virus lainnya yaitu GV (Granulovirus), CPV(Cytoplasmic Polyhidrosis Virus) dan kelompok lainnya yang lebih kecil jumlahnya. NPV pada umumnya menyerang paling banyak pada ordo Lepidoptera(86%) dan sedikit pada ordo Hymenoptera (7%) serta ordo Diptera (3%). Selain ituvirus juga telah diketahui menyerang ordo Coleoptera, Trichoptera, dan Neuroptera.Berbagai virus NPV mempunyai prospek untuk digunakan dalam pengendalianhayati adalah NPV yang diisolasi dari genus-genus Spodoptera, Helicoverpa,Trichoplusia, Plusia, Pectinophora, Neodiprion, Melacosoma, Agrotis, Chilo, dll.Banyak genus serangga tersebut yang merupakan hama penting di Indonesia. Beberapa keunggulan penggunaan NPV antara lain memiliki inang sangatspesifik, mampu menginfeksi serangga yang telah resisten terhadap insektisida,relatif persisten di pertanaman dan tanah, serta tidak meninggalkan residu beracundi alam. Virus NPV dicirikan dengan adanya inclusion bodies yang disebutpolihedra atau PIB (“polihedric inclusion body”). PIB dibentuk oleh protein danmengandung beberapa nukleokapsid atau partikel-partikel virus atau virion. VirionNPV berbentuk batang yang berukuran panjang antara 200-400 nm dengandiameter 20-50 nm. Di dalam tubuh larva Lepidoptera virus berkembang terutama dinuklei sel-sel darah, hipodermis, jaringan lemak dan lapisan epithel saluran trachea. Larva serangga yang terinfeksi oleh virus pada umumnya melemah padasaluran pencernaan makanan sewaktu larva makan bagian tanaman yang telahmengandung polihedra. Selain itu virus juga dapat masuk ke tubuh seranggasewaktu meletakkan telur atau melalui bagian tubuh yang terluka mungkin olehserangan musuh alami. Virus juga dapat ditransmisikan dari induk yang telahterinfeksi pada keturunannya melalui telur. Apabila virus telah masuk ke dalam tubuh serangga, polihedra NPV akanlarut dan pecah serta melepaskan partikel-partikel virus yang kemudian memasukisel-sel bagian perut serangga dan akhirnya memperbanyak diri. Setiap sel yangterinfeksi virus, nukleusnya membengkak dan dipenuhi oleh masa padat yangdisebut viroplan. Proses perbanyakan nukleokapsid berjalan dengan cepatsehingga terbentuklah banyak polihedra yang memenuhi seluruh sel tubuhserangga akhirnya mengakibatkan kematian. Proses masuknya virus ke tubuhserangga sampai dipenuhinya sel-sel tubuh serangga oleh virus berjalan antara 4hari sampai 3 minggu tergantung pada jenis NPV, jenis serangga inang, jumlahpolihedra yang masuk, instar larva yang mulai terinfeksi dan keadaan suhu. Larva yang terserang virus NPV dapat dilihat dari gejala serangan yangantara lain berupa larva semakin malas bergerak, pertumbuhannya terhambat, kulitberganti warna menjadi semakin pucat dan memutih seperti susu, dan larvabergerak ke pucuk tanaman. Larva yang mati karena virus posisi tubuhnya sepertipatah dan menggantung pada bagian tanaman. Penyebaran virus ini melaluiberbagai cara dan dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain cuaca. Virus telahberada di tanaman dan telah dapat disebarkan oleh angin dan hujan. Beberapajenis predator termasuk burung dan parasitoid dapat juga menjadi agenspenyebaran virus. Aplikasi virus untuk pengendalian hama sebagian besar baru dalam tahappengkajian laboratorium sedangkan di lapangan masih sangat terbatas. Kendalautama dalam perbanyakan virus diantaranya belum berkembangnya teknikperbanyakan dan penggunaan pakan buatan. Teknik rekayasa genetika diharapkan 55
  • 58. mampu memacu perkembangan dan perluasan aplikasi virus sebagai agenspengendalian hayati.2. Jamur Entomopatogenik Kelompok jenis jamur yang menginfeksi serangga dinamakan jamurentomopatogenik. Saat ini telah dikenal lebih dari 750 spesies jamurentomopatogenik dari sekitar 100 genera jamur. Tabel 1 menunjukkan berbagaigenus jamur penting yang dapat menjadi patogen serangga.Tabel 1. Kelompok Jamur Patogen Serangga yang Umum Menurut Sistematikanya Subdivisi Kelas Ordo Genus Contoh InangMastigomycotina Chytridiomycetes Blastocladiales Coelomomyces Lalat hitamZygomycotina Zygomycetes Entomophthorales Enthomophthora Nilaparvata lugensAscomycotina Pyrenomycetes Spaeriales Cordyceps Setora nitens Plectomycetes Ascosphaerales Ascophaera Aphis sp.Deuteromycotina Hypomycetes Moniliales Beauveria Nilaparvata lugens Metarhizium Oryctes rhinoceros Nomuraea Helicoverpa zea, S. Paecilomyces litura Verticillium Diaphorina citri Hirsutella Aleurodicus destructor Sorosporella Plutella xylostela Spicaria Berbagai ulat grayak Helopeltis antoniiSumber: Tanada dan Kaya, 1993 Berbeda dengan virus, jamur patogen masuk ke dalam tubuh serangga tidakmelalui saluran makanan tetapi langsung masuk ke dalam tubuh melalui kulit atauintegumen. Setelah konidia jamur masuk ke dalam tubuh serangga, jamurmemperbanyak dirinya melalui pembentukan hife dalam jaringan epikutikula,epidermis, hemocoel, serta jaringan-jaringan lainnya. Pada akhirnya semuajaringan dipenuhi oleh miselia jamur. Disamping itu ada beberapa jenis jamur yangmempengaruhi pigmentasi serangga dan menghasilkan toksin yang sangatmempengaruhi fisiologi serangga. Karena pengaruh infeksi jamur terhadappembentukan pigmen, larva atau instar serangga yang terserang jamurmemperlihatkan perubahan warna tertentu seperti warna merah muda dan merah. Proses perkembangan jamur dalam tubuh inang sampai inang mati berjalansekitar 7 hari. Setelah inang terbunuh, jamur membentuk konidia primer dansekunder yang dalam kondisi cuaca yang sesuai konidia tersebut muncul keluardari kutikula serangga. Konidia akan menyebarkan sporanya melalui angin, hujan,air, dll. Penyebaran dan infeksi jamur sangat dipengaruhi oleh beberapa faktorantara lain kepadatan inang, kesediaan spora, cuaca terutama angin dankebasahan. Kebasahan tinggi dan angin kencang sangat membantu penyebarankonidia dan pemerataan infeksi patogen pada seluruh individu pada populasi inang. Saat ini jamur Metarhizium anisopliae telah digunakan secara luas diIndonesia untuk pengendalian hama Oryctes rhinoceros yang menyerang kelapa,wereng coklat, ulat jengkal (Ectropis bhurmitra). Jamur ini juga sudahdikembangkan untuk pengendalian hama wereng daun, penggerek batang padi,hama putih palsu, walang sangit dan kepinding tanah. Jamur Beauveria bassiana 56
  • 59. telah dicoba untuk pengendalian hama wereng padi coklat dan hama penggerekbuah kopi (Hypothenemus hampei). Mortalitas Helopeltis sp dapat mencapai 98%setelah disemprot dengan B. bassiana, bahkan hama penting pada kelapa sawit,Darna catenata mampu dikendalikan oleh jamur ini hingga 100%. Pengendaliandengan menggunakan jamur Hirsutella citriformis dapat menurunkan populasiDiaphorina citri hingga 62%. Penurunan populasi mencapai 82% dengan jamurPaecilomyces fumosoroseus terhadap jenis hama yang sama. Hama wereng coklatdapat dikendalikan dengan menggunakan jamur Enthomopthora sp. Ulat api Setoranitens mampu ditekan perkembangannya dengan Cordyceps purpurea. Helopeltissp. dapat dikendalikan dengan jamur Spicaria sp. Jamur Verticillium mampumenekan populasi Scotinophora coartata, Aphis, dan kutu putih Aleurodichusdestructor. Penggunaan pestisida baik insektisida maupun fungisida untukmengendalikan hama dan penyakit ternyata sangat mempengaruhi kehidupan danperkembangan jamur patogenik serangga. Banyak laporan membuktikan pestisidadapat menghambat perkecambahan konidia primer dan pengurangan pelepasankonidia sekunder berikutnya.3. Bakteri Bakteri yang menyerang serangga dapat dibedakan menjadi 2 kelompokyaitu bakteri yang tidak membentuk spora dan bakteri pembentuk spora. Kelompokpertama mempunyai peranan sebagai faktor mortalitas alami yang penting, tetapikarena sifatnya yang kosmopolitan sukar digunakan sebagai agens pengendalianhayati. Kelompok bakteri yang lebih penting adalah bakteri pembentuk spora yangpada saat ini telah banyak digunakan sebagai insektisida mikrobia. Dua jenisbakteri patogen yang penting Bacillus popiliae dan Bacillus thuringiensis. Bacilluspopiliae menyebabkan gejala seperti penyakit susu yang menyerang kumbangJepang Popiliae japonica dan kumbang skarabid lainnya. Bacillus thuringiensissangat efektif digunakan untuk pengendalian larva ordo Lepidoptera, dan larvanyamuk. B. fibourgenesis dapat dipakai pada hama uret Melolontha melolontha.Beberapa famili bakteri yang berpotensi sebagai sumber alternatif baru patogenserangga di masa depan telah banyak ditemukan diantaranya Pseudomonadaceae,Enterobacteriaceae, Lactobacillaceae, Micrococaceae, Bacillaceae (Tabel 2). Tabel 2. Beberapa genera bakteri patogen serangga No Macam bakteri Serangga peka 1 Pseudomonadaceae P. aeruginosa Belalang P. septica 2 Enterobacteriaceae E. aerogenes Lepidoptera P. P. vulgaris Belalang Q. P. mirabilis 3 Lactobacilliaceae Diplococcus spp. Kecoa 4 Micrococaceae Micrococcus spp. Lepidoptera 5 Bacillaceae 57
  • 60. Bacillus popilliae Uret B. cereus Lepidoptera Studi tentang Bacilus thuringiensis (Bt) saat ini sangat menarik danberkembang sangat cepat. Telah diketahui bakteri ini terdiri atas banyak strain yangberbeda sifatnya. Dikenal lebih dari 700 varietas atau strain Bt, dan penemuanvarietas atau strain Bt baru terus berlanjut. Strain Bt diklasifikasikan menjadi 29subspesies dan lebih dari 40 inklusi kristalin (δ-endotoksin) gen-gen protein berhasildiisolasi. Bakteri ini bersifat selektif terhadap serangga sasaran dan ramahlingkungan. Karena sifat itulah maka banyak perusahaan pestisida tertarik untukmemformulasikannya. Bt dalam sporulasi di dalam tubuh serangga membentuk kristal yangmengandung protein beracun atau endotoksin. Bila spora dan kristal bakteridimakan oleh serangga yang peka maka terjadi paralisis yang mengakibatkankematian inang. Kristal bakteri akan melarut dalam saluran pencernaan, dalamjaringan tersebut bakteri mengeluarkan toksin yang dapat mematikan serangga.Dari kristal Bt paling sedikit telah diketahui adanya 4 jenis racun atau toksin. Bila larva muda atau larva tua terkena Bt dapat kita lihat adanya reaksipertama yang cepat seperti kesakitan, kemudian dalam beberapa waktu larva tidakmau makan dan tidak aktif. Tubuh kemudian menjadi lemah dan lembek. Kematianlarva dapat terjadi dalam kurun waktu dalam beberapa jam sampai 4 5 hari setelahinfeksi pertama tergantung pada serotipe atau strain Bt dan kepekaan seranggainang. Meskipun Bt telah banyak dipasarkan dengan berbagai nama dagang tetapimasih memerlukan banyak kegiatan pengembangan berhubung karena banyakstrain baru ditemukan dan adanya sifat-sifat serangga yang khas baikketahanannya terhadap strain tertentu maupun kepekaannya (Tabel 3). Tanaman inang hama juga kelihatannya mempengaruhi keberhasilan Btdalam menginfeksi serangga inangnya. Salah satu kelemahan dari formulasipestisida ini adalah keterbatasan dalam mencapai sasaran. Insektisida hanya aktifapabila termakan oleh hama sasaran. Bahan aktifnya tidak mampu menembuskutikula serangga maupun jaringan tanaman. Dengan demikian insektisida inibelum mampu mengendalikan hama yang berada di dalam jaringan tanamanseperti penggerek batang padi, penggerek buah kapas. Tabel 3. Beberapa produk Bt yang sudah dipasarkan No Strain Merk dagang Serangga sasaran 1 Kurstaki Dipel WP, Thuricide Lepidoptera HP, Bactospeine WP, Condor F 2 Aizawai Bacillin WP, Bite WP, Lepidoptera Turex WP, Florbac FC Munculnya masalah resistensi hama terhadap penggunaan B. thuringiensisbelum banyak dilaporkan. P. xylostella strain Lembang dilaporkan telah resistenterhadap insektisida Dipel WP, Thuricide WP dan Thurex WP, namun P. xylostellastrain Garut masih rentan terhadap B. thuringiensis. Seleksi ke arah timbulnya 58
  • 61. resistensi kemungkinan dapat terjadi apabila pemanfaatan teknologi ini tidakdilakukan secara tepat.4. Protozoa dan Rikettsia Spesies-spesies protozoa yang patogenik terhadap serangga padaumumnya termasuk dalam sub kelompok mikrosporodia. Telah dapat dikenal lebihdari 250 spesies mikrosporodia yang menyerang serangga. Tiga jenismikrosporodia antara lain Nosema locustae, N. acridophagus, dan N. cuneatumtelah dijadikan sebagai agens hayati untuk mengendalikan hama belalangkhususnya di Amerika. Jenis Coccidia mampu menginfeksi hama gudang Triboliumconfusum hingga 68%. Kelompok protozoa ini ternyata sangat potensial untukmengendalikan hama Sexava sp. Leptomonas pyrhocoris dari golonganMastigophora dapat menurunkan populasi kepinding, Malpighamoeba locusta darijenis Amoeba berpotensi terhadap belalang sedangkan Nosema bombyces yangpertama kali diisolasi dari ulat sutera (Bombyx mori) berpotensi untukmengendalikan beberapa hama penting seperti Spodoptera litura. Penyebaran mikrosporodia melalui makanan dan dipindahkan dari indukyang terinfeksi ke keturunannya. Pengaruh mikrosporodia terhadap kehidupaninangnya relatif lambat dan gejala luarnya sangat bervariasi. Mikrosporodia tersebarluas yang secara alami dapat menjadi faktor mortalitas yang penting bagi seranggainangnya. Jenis rikettsia banyak menyerang kumbang. Kematian akibat rikettsia baruterjadi pada 1-4 bulan setelah aplikasi atau lebih lama dibandingkan kematianakibat agens hayati yang lain seperti jamur, bakteri dan nematoda. Walaupundemikian patogen jenis ini memiliki peluang yang besar untuk dijadikan agenspengendalian hayati khususnya di Indonesia. Rikettsia mampu menyebabkankematian pada Popillia japonica, Melolontha melolontha dan Oryctes rhinoceros.5. Nematoda Disamping virus, jamur, bakteri, dan protozoa juga ada banyak spesiesnematoda yang bersifat parasitik terhadap serangga baik yang bersifat parasitobligat maupun fakultatif. Dari 19 famili nematoda yang menyerang serangga,Mermithidae merupakan famili yang terpenting dan tersebar (terdiri atas 50 generadan 200 spesies). Nematoda muda meninggalkan telur dan masuk ke dalam tubuhserangga melalui kutikula dan kemudian masuk ke dalam hemocoel. Setelahberganti kulit beberapa kali di dalam tubuh serangga nematoda dewasa keluar daritubuh serangga untuk kawin dan menyebar. Serangga inang mati sebelum atausesudah nematoda meninggalkan tubuh inangnya. Jenis nematoda entomopatogen lainnya adalah Heterorhabditis spp danSteinernema spp. Kedua nematoda ini bersimbiosis dengan bakteri. Inang yangterserang nematoda akan mengalami septisemia dan akhirnya mati. Nematodamasuk ke dalam tubuh serangga melalui lubang-lubang alami serangga sepertimulut, anus dan spirakel. Untuk selanjutnya nematoda menuju ke saluranpencernaan kemudian melepaskan bakteri simbion yang bersifat racun. Dalambeberapa jam bakteri tersebut melakukan replikasi dan akhirnya menyebar danmeracuni tubuh serangga. Serangga akan mengalami kematian dalam waktu 24-48 jam setelahaplikasi. Tubuh serangga akan lemas, terjadi penurunan aktivitas, dan terjadi 59
  • 62. perubahan warna tubuh menjadi merah kecoklatan jika terserang Steinernema sppdan hitam jika terserang Heterorhabditis spp. Nematoda akan berkembang biak di dalam tubuh serangga inang sampaimenghasilkan keturunan yang sangat banyak. Nematoda akan memasuki fasereproduktif yaitu memperbanyak keturunan apabila populasi nematoda dalam tubuhinang rendah sedangkan apabila populasi tinggi akan memasuki fase infektif.Nematoda stadium ketiga atau sering disebut juvenil infektif akan keluar dari tubuhserangga dan berusaha untuk mencari inang baru. Juvenil infektif mampu bertahanhidup lama sampai memperoleh inang kembali dan fase ini merupakan satu-satunya fase yang bersifat infektif terhadap serangga inang. Beberapa kelebihan dari penggunaan nematoda entomopatogen ini adalahkemampuannya dalam mematikan inang yang relatif cepat, memiliki kisaran inangyang luas diantaranya Lepidoptera, Coleoptera, Hymenoptera dan Diptera, tidakmenyebabkan resistensi hama, tidak berbahaya bagi lingkungan, tidak berbahayabagi mamalia dan vertebrata serta kompatibel dengan pengendalian lain. Jenis Steinernema spp telah terbukti mampu mengendalikan lebih dari 100spesies serangga hama terutama ordo Lepidoptera dan Coleptera. Steinernemacarpocapsae dapat mengendalikan hama penggerek (Schirpophaga sp, Chilo sp),Helicoverpa armigera hingga 65%. Pada pengujian yang lain, Steinernema sppmampu menyebabkan kematian Spodoptera exigua sampai 98%, Spodoptera litura99% bahkan 100% untuk mengendalikan Crocidolomia binotalis. S. carpocapsaejuga telah terbukti memiliki kemampuan mengakibatkan mortalitas pada Cylasformicarius.STRATEGI PENGENDALIAN HAYATI DENGAN PATOGEN HAMA Patogen serangga dapat digunakan dalam PHT dengan beberapa strategiatau cara yaitu:1. Memanfaatkan Secara Maksimal Proses Pengendalian Alami oleh Patogen Hama Ada banyak jenis patogen seperti virus dan jamur yang mampu menekanpopulasi hama secara alami sehingga populasi tetap berada di bawah arasekonomi. Kita harus menjaga ekosistem sedemikian rupa sehingga patogen dapatmelaksanakan fungsinya secara "density dependent". Untuk itu keadaan danperkembangan patogen hama yang penting perlu terus dipantau dan menjagatindakan-tindakan yang mengurangi berfungsinya patogen hama dapat dibatasisekecil mungkin. Salah satu tindakan yang merugikan adalah penggunaanpestisida. Oleh karena itu pestisida sebaiknya hanya digunakan apabila berbagaiagens pengendalian alami (termasuk patogen hama) tidak mampu menghentikanlaju peningkatan populasi hama yang berhasil melampaui Ambang Pengendalian.2. Introduksi dan Aplikasi Patogen Hama sebagai Faktor Mortalias Tetap Prinsip penggunaan patogen hama di sini sama dengan introduksi seranggaparasitoid atau predator untuk menekan populasi hama untuk jangka waktu yangpanjang. Caranya adalah dengan memasukkan dan menyebarkan patogen padasuatu ekosistem sedemikian rupa sehingga patogen tersebut mantap di ekosistemyang baru ini sehingga kemudian menjadi faktor mortalitas tetap bagi spesies hama 60
  • 63. yang dikendalikan. Cara ini yang paling berhasil dilakukan untuk mengendalikanhama yang nilai Ambang Pengendalian atau Ambang Ekonomi cukup tinggi karenauntuk pengembangan permulaan bagi patogen diperlukan kepadatan populasiinang yang cukup.3. Aplikasi Patogen Hama sebagai Insektisida Mikrobia Sasaran aplikasi patogen hama dengan cara ini adalah guna menekanpopulasi hama untuk sementara waktu. Oleh karena itu aplikasi patogen perludilakukan beberapa kali sama prinsipnya dengan penggunaan insektisida sintetikorganik. Saat ini beberapa jenis patogen seperti NPV dan Bacillus thuringiensistelah dipasarkan dengan nama dagang tertentu. Berbeda dengan insektisida sintetik organik maka insektisida mikrobiamempunyai beberapa keuntungan yaitu bersepektrum sempit atau khas inang danaman bagi lingkungan hidup serta tidak membahayakan binatang bukan sasaran.Kecuali itu apabila keadaan lingkungan memungkinkan patogen hama yangdiaplikasikan pada ekosistem mungkin dapat menjadi pengendali alami hama yangpermanen di ekosistem tersebut.PEMBIAKAN MASSAL AGENS PENGENDALIAN HAYATI Pengendalian dengan agens hayati dalam skala luas memerlukan jumlahagens hayati yang relatif mencukupi sehingga perlu usaha pembiakan massal.Pembiakan massal dilakukan untuk mengembangbiakkan agens hayati denganmenggunakan media alami maupun media buatan dalam habitat atau lingkunganyang dibentuk sesuai lingkungan aslinya sehingga diperoleh sejumlah tertentusesuai kebutuhan. Pada saat ini usaha pembiakan massal agens hayati telahbanyak dilatihkan dan dilakukan di Indonesia baik oleh laboratorium dinas maupunoleh para kelompok petani terutama yang telah mengikuti SLPHT. Namun dalampembiakan massal perlu adanya tahap-tahap khusus yang harus diperhatikan dandilakukan sehingga nanti akan diperoleh hasil yang memuaskan. Tahapan ataukaidah-kaidah pembiakkan tersebut berfungsi sebagai pedoman utama dalammelaksanakan usaha pembiakan. Ada 10 tahapan pembiakan massal agens hayatiatau kontrol kualitas pengembangbiakkan agens pengendalian hayati yangditerapkan oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) diPropinsi DIY sebagai berikut:1. Eksplorasi dan Koleksi Eksplorasi bertujuan mencari sumber genetik baru yang berpotensi sebagai agens pengendalian hayati. Eksplorasi dilakukan pada wilayah luas yang diperkirakan terdapat sumber genetik baru. Serangga yang ditemukan terserang patogen dikoleksi dan selanjutnya dimanfaatkan untuk tahapan selanjutnya.2. Pemurnian Pemurnian dilakukan untuk pemilihan media yang cocok dan memperoleh stok spora. Pemurnian merupakan tahapan yang sangat penting 61
  • 64. untuk memperoleh stok spora sesuai yang diharapkan. Dalam pemurnian ini kontaminasi sering terjadi akibat sterilisasi alat dan ruangan yang kurang sempurna.3. Postulat Koch Pengujian akan memperkuat dugaan bahwa agens hayati yang ditemukan benar-benar bersifat patogenik terhadap serangga. Pengujian dilakukan pada serangga yang sama dan dilakukan di laboratorium.4. Perbanyakan Spora Perbanyakan spora merupakan usaha pemilihan substrat pengganti yang cocok untuk pengembangbiakan selanjutnya. Spora B. bassiana yang berasal dari walang sangit (Leptocorisa acuta) mati dicoba diperbanyak pada media nasi, jagung ataupun dedak. Media yang menghasilkan spora paling tinggi dipilih sebagai media.5. Sporulasi Media yang paling cocok dan menjadi pilihan adalah media yang memberikan efek sporulasi tinggi, murah dan mudah diperoleh.6. Viabilitas Viabilitas merupakan kemampuan atau daya kecambah spora agens hayati. Agens hayati dinilai baik apabila viabilitasnya 95%.7. Uji patogenisitas Pengujian patogenisitas yang bertujuan mengetahui konsentrasi yang tepat dan mampu membunuh serangga sasaran biasanya dilakukan di laboratorium ataupun green house. Pengujian tingkat konsentrasi tersebut akan menghasilkan konsentrasi efektif yang nantinya akan menjadi pedoman rekomendasi di lapangan.8. Uji efektivitas Konsentrasi efektif yang diperoleh dari uji patogenisitas digunakan untuk uji efektifitas. Pengujian ini bertujuan mencari stadia serangga yang rentan terhadap agens hayati pada konsentrasi tertentu.9. Uji virulensi Agens pengendalian hayati yang sudah mengalami tahap-tahap uji tersebut sudah dipastikan dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan serangga hama. Uji virulensi dilakukan untuk mengetahui agens hayati tersebut virulen atau tidak baik dalam kondisi baru maupun telah disimpan dalam media dan jangka waktu tertentu.10. Evaluasi Evaluasi merupakan salah satu cara penting untuk menilai keberhasilan pelepasan agens pengendalian hayati. Evaluasi tehadap hasil yang diperoleh dilakukan segera setelah aplikasi. Dalam evaluasi tersebut dilakukan juga peremajaan agens hayati yang sudah lama disimpan. 62
  • 65. CARA PENGGUNAAN PATOGEN SERANGGA DI LAPANGAN Mengingat kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh patogen seranggamaka dalam pemanfaatan patogen sebagai agens pengendalian hayati perludiperhatikan beberapa faktor penting yang mempengaruhi tingkat keefektifanpatogen terhadap serangga sasaran, antara lain:1. Dosis. Dosis aplikasi minimum akan lebih baik daripada dosis aplikasi tinggi dalam peningkatan keefektifan patogen. Dosis tinggi menyebabkan persaingan pakan dan ruang antar patogen sejenis dan menghambat perkembangbiakan sehingga mampu menurunkan daya bunuh terhadap serangga sasaran.2. Waktu aplikasi Kemapanan patogen yang merupakan makhluk hidup di lapangan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Dalam aplikasinya diharapkan patogen tidak terkena cahaya matahari secara langsung karena sinar ultraviolet menyebabkan patogen tidak aktif bahkan dapat membunuh patogen dalam waktu yang relatif cepat. Agens hayati sebaiknya diaplikasikan pagi atau sore hari. Kelembaban tinggi lebih meningkatkan keefektifan patogen.3. Penyelimutan Patogen harus benar-benar melekat atau menempel atau menyelimuti bagian tanaman maupun serangga sasaran. Dengan demikian kontak antara patogen dengan serangga sasaran cepat terjadi. Serangga sasaran yang mengkonsumsi patogen dengan cepat diharapkan mengalami kematian secara cepat juga.4. Derajat kemasaman, pH Kondisi pH pada bahan pelarut sangat mempengaruhi keefektifan patogen. Pelarut dianjurkan memiliki derajat kemasaman yang normal (pH 7). Kondisi basa menyebabkan delta endotoksin pada Bt akan rusak dan efektifitasnya menurun.5. Anti mikrobiosis Beberapa tanaman mampu menghasilkan senyawa-senyawa anti mikrobia yang dapat mengurangi keefektifan patogen. Senyawa nikotin yang dihasilkan oleh tanaman tembakau dapat menghambat pertumbuhan B. thuringiensis. Patogen tersebut juga terhambat pertumbuhannya karena adanya senyawa phenol dan terpenoid pada tanaman kapas. Senyawa alkaloid, tomatin dari tanaman tomat menghambat pembentukan koloni dan pertumbuhan jamur patogen B. bassiana. Asam klorogenik pada tanaman tomat dapat mengurangi efektifitas NPV dari Helicoverpa zea.6. Hama sasaran Semakin muda umur serangga akan semakin rentan terhadap patogen. Hama sasaran dalam keadaan tertekan seperti sakit, kekurangan pakan, 63
  • 66. ketidakcocokan pakan, kepadatan yang terlalu tinggi menyebabkan tingkat kerentanannya semakin tinggi. Oleh karena itu sebelum aplikasi patogen di lapangan harus diketahui kondisi hama sasaran.7. Kompatibilitas Patogen sebagai agens pengendalian hayati memiliki kemampuan dapat dipadukan dengan agens pengendalian yang lain sehingga daya bunuhnya lebih efektif dan hasilnya akan lebih memuaskan.8. Ketahanan inang Spesies serangga tertentu yang rentan terhadap patogen dapat menjadi tahan dengan bertambahnya umur dan dipengaruhi oleh faktor genetik maupun lingkungan. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc 64
  • 67. Materi 8PENGENDALIAN KIMIAWITujuan:1. Mempelajari dan memahami sifat dan pengelompokan pestisida khususnya insektisida2. Mempelajari dan memahami dampak negatif penggunaan pestisida kimia3. Mempelajari dan memahami penggunaan pestisida sebagai salah satu komponen PHTMateri: Pengendalian hama secara kimiawi adalah penggunaan pestisida kimia untukmengendalikan hama agar hama tidak menimbulkan kerusakan bagi tanaman yangdibudidayakan. Pestisida mungkin merupakan bahan kimiawi yang dalam sejarah umatmanusia telah memberikan banyak jasanya bagi keberhasilan dalam banyak bidangpembangunan termasuk pertanian, kesehatan, pemukiman, dan kesejahteraanmasyarakat. Berkat pestisida umat manusia telah dapat dibebaskan dari ancamanpenyakit manusia yang membahayakan seperti malaria dan demam berdarah yangditularkan oleh nyamuk. Di bidang pertanian penggunaan pestisida mampumenekan kehilangan hasil tanaman akibat serangan hama dan penyakit yangmemungkinkan peningkatan produksi pertanian dapat dicapai. Karena keberhasilantersebut di dunia pertanian, pestisida seakan-akan merupakan bagian yang tidakterpisahkan dari budidaya segala jenis tanaman baik tanaman hortikultura, panganmaupun perkebunan. Pestisida sedemikian melekatnya pada kegiatan pertanian diIndonesia. Hal ini dapat dibuktikan dari reaksi petani apabila menghadapi terjadinyaserangan hama tentu akan menanyakan pestisida apa yang tepat digunakan dandimana dapat diperolehnya? Kecenderungan peningkatan penggunaan pestisida secara global sejaktahun 1960an juga terjadi di Indonesia. Sejak dicanangkannya programpembangunan nasional di sektor pertanian, penggunaan pestisida meningkatdengan sangat pesat. Sekitar tahun 1970 sampai 1980-an pestisida paling banyakdigunakan dalam program intensifikasi pangan terutama dalam programswasembada beras melalui program nasional BIMAS. Bila pada tahun 1970penggunaan pestisida untuk padi kurang dari 1000 ton pada tahun 1986 pestisidauntuk padi sudah mencapai 18.000 ton. Peningkatan penggunaan pestisida ini jugaterjadi pada komoditas pertanian lainnya. Namun setelah Pemerintah mencabutsubsidi pestisida pada tahun 1989 serta diterapkannya konsep PHT oleh petanipadi, penggunaan pestisida khususnya insektisida di tanaman padi cenderungmenurun. Tanaman pertanian pangan di Indonesia yang saat ini masih banyakmenggunakan insektisida adalah kedelai, sayuran dataran rendah dan sayurandataran tinggi, sedangkan pada tanaman perkebunan adalah pada tanaman kapas.Seiring dengan perdagangan bebas yang semakin terbuka, saat ini berbagai jenispestisida generik memasuki Indonesia sehingga pada tahun 2002 jumlah formulasi 65
  • 68. pestisida yang telah terdaftar di Indonesia sudah melampaui 1000 formulasi.Jumlah pestisida yang diproduksi pada tahun 2000 sekitar 60.000 ton. Meskipun pestisida kimia memiliki banyak keuntungan ekonomi bagi petanidan masyarakat, tetapi risiko yang berupa dampak negatif bagi kesehatan danlingkungan semakin lama semakin nyata dirasakan oleh masyarakat luas. Salahsatu cara agar risiko pestisida dapat ditekan serendah mungkin yakni Pemerintah disemua negara melakukan pengaturan terhadap semua produksi, peredaran,perdagangan, penggunaan, penyimpanan dan pengawasan pestisida. Banyakkesepakatan dan standar pengaturan yang telah ditetapkan secara internasionaldan harus diterapkan oleh semua negara. Tujuan pengaturan pestisida olehpemerintah adalah untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan hidupterhadap dampak samping penggunaan pestisida, serta untuk menjaga tingkatefektivitas pestisida dalam pengendalian hama sasaran.A. PENGELOMPOKAN PESTISIDA Kata insektisida secara harafiah berarti pembunuh serangga yang berasaldari kata insekta = serangga dan kata Latin cida yang berarti pembunuh.Insektisida merupakan salah satu kelompok pestisida. Pestisida adalah pembunuhhama yang berasal dari kata pest = hama dan cida = pembunuh. Sedangkankelompok pestisida lainnya antara lain rodentisida (pembunuh rodent tikus),akarisida (pembunuh tungau), nematisida (pembunuh nematoda), fungisida(pembunuh jamur), herbisida (pembunuh gulma). Tabel 4 menjelaskan namakelompok pestisida berdasar pada kelompok organisme sasaran. Karena jumlahkelompok, jenis dan produksi insektisida saat ini lebih banyak daripada kelompok-kelompok pestisida lain, biasanya yang dmaksud dengan pestisida adalahinsektisida. Tabel 4. Pengelompokan Pestisida Berdasar pada Kelompok Hama yangDikendalikan Nama kelompok No Kelompok hama yang dikendalikan pestisida 1. Akarisida Tungau, pinjal dan laba-laba 2. Adultisida Serangga dewasa 3. Algisida Alga 4. Arborisida Pepohonan, semak-semak 5. Avisida Burung 6. Bakterisida Bakteri 7. Fungisida Jamur 8. Insektisida Serangga dan juga pinjal dan tungau 9. Ixosida Pinjal 10. Larvisida Larva 11. Mitisida Tungau, pinjal, dan laba-laba 12. Moluskisida Moluska terutama siput dan keong 13. Nematisida Nematoda 14. Ovisida Telur 15. Piscisida Ikan 66
  • 69. 16. Predasida Vertebrata hama 17. Rodentisida Tikus 18. Silvisida Pepohonan dan semak 19. Termitisida Rayap, semutPEMBERIAN NAMA PESTISIDA Nomenklatur atau cara pemberian nama suatu jenis pestisida adaketentuannya. Suatu jenis pestisida ditandai oleh 3 cara penamaan yaitu namaumum, nama dagang, dan nama kimiawi. Nama dagang ditetapkan olehprodusen atau formulator insektisida yang membuat dan memperdagangkanpestisida tersebut. Karena satu jenis pestisida dapat dibuat oleh beberapaperusahaan sehingga untuk pestisida tersebut mempunyai beberapa nama dagang.Nama kimia merupakan nama yang digunakan oleh ahli kimia dalam menjelaskansuatu senyawa kimia sesuai dengan rumus bangun senyawa insektisida tersebut. Suatu contoh diambil jenis insektisida yang sampai saat ini masihdiguanakan untuk pengendalian penggerek batang padi di Indonesia.1. Nama umum : karbofuran2. Nama dagang : Furadan®, Currater®, Indofur®, Dharmafur®.3. Nama kimia : 2,3-dihidro 2,2,-dimeti l-7-benzonil metilkarbamat4. Rumus bangun senyawa tersebut adalah sbb: Gambar 23. Rumus bangun Karbofuran Dalam praktek penggunaan sehari-hari terutama oleh petani, biasanyanama dagang lebih populer. Dalam forum ilmiah seperti publikasi seminar atautesis, dll. digunakan nama umum. Dalam pembicaraan khusus tentang aspek-aspekkimiawi pestisida nama kimia pestisida digunakan.PENGGOLONGAN INSEKTISIDA Insektisida kimia dapat dikelompokan dalam beberapa cara menurutpengaruhnya terhadap serangga sasaran, menurut cara masuknya dalam tubuhserangga, dan menurut sifat kimianya.1. Pengelompokan Insektisida Berdasarkan Pengaruhnya Terhadap Hama 67
  • 70. Insektisida dapat dikelompokkan menurut pengaruh yang merugikan bagi hama sasaran yang akhirnya dapat menurunkan populasi hama. Pengelompokan insektisida menurut pengaruh pada serangga sasaran seperti terlihat pada Tabel 5.2. Pengelompokan Menurut Cara Masuk ke Tubuh Serangga Dilihat dari cara masuknya (mode of entry) ke dalam tubuh seranggainsektisida dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu racun perut, racun kontak, danfumigan.a. Racun Perut (stomach poison) Insektisida memasuki tubuh serangga melalui saluran pecernaaan makanan (perut). Serangga terbunuh bila insektisida tersebut termakan oleh serangga. Jenis-jenis insektisida lama umumnya merupakan racun perut, sedangkan insektisida modern sangat sedikit yang merupakan racun perut.b. Racun Kontak (contact poison) Insektisida memasuki tubuh serangga bila serangga mengadakan kontak dengan insektisida atau serangga berjalan diatas permukaan tanaman yang telah mengandung insektisida. Di sini insektisida masuk ke dalam tubuh serangga melalui dinding tubuh. Insektisida modern pada umumnya merupakan racun kontak. Apabila permukaan tanaman yang mengandung insektisida tersebut dimakan serangga, racun tersebut juga memasuki tubuh serangga melalui saluran pencernaan. Contoh insektisida racun kontak adalah BHC dan DDT. 68
  • 71. Tabel 5. Pengelompokan Pestisida Berdasarkan Pengaruhnya pada Serangga Kelompok Pestisida Pengaruh pada hama Antifidan Menghambat nafsu makan sehingga serangga kelaparan (anti-feedant) yang akan menyebabkan kematian Antitranspiran Mengurangi sistem transpirasi serangga (Anti-transpirant) Atraktan Penarik hama, seperti atraktan seks (attractant) Khemosterilan Menurunkan kemampuan reproduksi hama (chemosterilant) Defolian Merontokkan bagian tanaman yang tidak diinginkan, (defoliant) tanpa membunuh seluruh bagian tanaman Desikan Mengeringkan bagian tanaman dan serangga (desiccant) Disenfektan Merusak atau mematikan organisme berbahaya (disinfectant) Perangsang makan Menyebabkan serangga lebih giat makan (feeding stimulant) Pengatur Menghentikan, mempercepat, atau memperlambat pertumbuhan proses pertumbuhan tanaman atau serangga (growth regulator) Repelen Mengarahkan serangga agar menjauh dari yang (repellent) diperlakukan Feromon, alomon dan kairomon; zat kimia yang Semiokimia dikeluarkan oleh tanaman atau hewan, yang merangsang atau menghambat perilaku serangga Sinergis Meningkatkan efektivitas bahan aktif (synergist)c. Fumigan Fumigan merupakan insektisida yang mudah menguap menjadi gas danmasuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernafasan serangga atau sistemtrachea yang kemudian diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Karena sifatnya yangmudah menguap fumigan biasanya digunakan untuk mengendalikan hamasimpanan yang berada di ruang atau tempat tertutup dan juga untukmengendalikan hama yang berada di dalam tanah. Contoh fumigan adalahhidrogen sianida (HCN), fosfin dan metil bromida.3. Pengelompokan Menurut Sifat Kimianya Pengelompokan insektisida yang paling penting adalah menurut sifatkimianya. Insektisida kimia konvensional secara garis besar dapat dibagi menurutsifat dasar senyawa kimianya yaitu dalam insektisida anorganik yaitu insektisidayang tidak mengandung unsur Karbon dan insektisida organik yang mengandungunsur Karbon. Insektisida-insektisida lama yang digunakan sebelum tahun 1945 umumnyamerupakan insektisida anorganik. Contoh insektisida anorganik adalah kalsium 69
  • 72. arsenat, Pb arsenat, sodium fluorid, kriolit, dan belerang. Kelemahaninsektisida anorganik adalah toksisitas tinggi untuk mamalia termasuk manusia,residu di lingkungan lama atau persisten, fitotoksisitas tinggi, masalah ketahananhama terhadap insektisida, dan umumnya memiliki efikasi lebih rendah biladibandingkan insektisida organik sintetik. Sedangkan insektisida kimia setelah masa Perang Dunia II setelahditemukannya DDT umumnya merupakan insektisida organik. Insektisida organikmasih dapat dibagi menjadi insektisida organik alami dan insektisida organiksintetik. Insektisida organik alami merupakan insektisida yang terbuat dari tanaman(insektisida botani/nabati) dan bahan alami lainnya. Sedangkan insektisida sintetikmerupakan hasil buatan pabrik dengan melalui proses sintesis kimiawi. Pembagian insektisida organik sintetik konvensional menurut susunan kimiabahan aktif (senyawa yang memilki sifat racun) terdiri dari 6 kelompok besar yaitu1) organoklorin (OK), 2) organofosfat (OP), 3) karbamat, 4) piretroid sintetik, 5)kloronikotinil dan 6) IGR (Insect Growth Regulator). Kecuali 6 kelompok besartersebut masih ada beberapa kelompok insektisida baru yang mulai banyakdigunakan dalam praktek pengendalian hama saat ini, seperti heterosiklik,dinitrofenol, tiosianat dan sulfanat.a. Organo Klorin (OK) Insektisida Organo Klorin atau sering disebut Hidrokarbon Klor merupakankelompok insektisida sintetik yang pertama dan paling tua dan dimulai denganditemukannya DDT oleh ahli kimia Swiss Paul Mueller pada tahun 1940-an. SetelahDDT ditemukan kemudian berhasil dikembangkan banyak jenis insektisida barudengan susunan kimia dasar yang mirip dengan DDT dan kemudian dikelompokkandalam golongan Hidrokarbon Klor. Insektisida kelompok ini merupakan racun kontak dan racun perut, efektifuntuk mengendalikan larva, nimfa, dan imago dan kadang-kadang untuk pupa dantelur. Insektisida yang termasuk OK pada umumnya memiliki toksisitas sedanguntuk mamalia. Masalah yang paling merugikan bagi lingkungan dan kesehatanmasyarakat adalah sifat persistensinya yang sangat lama di lingkungan baik ditanah maupun di jaringan tanaman dan dalam tubuh hewan. Misal di daerah subtropis DDT dalam kurun waktu 17 tahun residunya masih 39 % yang berada didalam tanah, sedangkan residu endrin pada 14 tahun setelah perlakuan ternyatamasih dijumpai sebanyak 40% dari residu semula. Persistensi OK di lingkunganmenimbulkan dampak negatif seperti perbesaran hayati dan masalah keracunankhronik yang membahayakan kesehatan masyarakat. Permasalahan lain yangtimbul akibat digunakannya DDT secara besar-besaran adalah berkembangnyasifat resistensi serangga sasaran seperti nyamuk dan lalat terhadapp DDT. Oleh karena bahayanya insektisida golongan OK sejak tahun 1973 tidakboleh digunakan untuk pengendalian hama pertanian di Indonesia. Sedangkan dibidang kesehatan DDT tidak lagi digunakan untuk mengendalian vektor penyakitmalaria sejak 1993.b. Organofosfat (OP) Insektisida OP dengan unsur P meliputi semua ester asam fosforik (H 3PO4)sebagai inti yang aktif saat ini merupakan kelompok insektisida yang terbesar dan 70
  • 73. sangat bervariasi jenis dan sifatnya. Saat ini telah tercatat sekitar 200.000 senyawaOP yang pernah dicoba dan diuji untuk mengendalikan serangga. OP merupakan insektisida yang sangat beracun bagi serangga dan bersifatbaik sebagai racun kontak, racun perut maupun fumigan. Berbeda dengan OK, OPdi lingkungan kurang stabil sehingga lebih cepat terdegradasi dalam senyawa-senyawa yang tidak beracun. Daya racun OP mampu menurunkan populasiserangga dengan cepat, persistensinya di lingkungan sedang sehingga OP secarabertahap dapat menggantikan OK. Sampai saat ini OP masih merupakan kelompokinsektsida yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Kebanyakan insektisidaOP adalah penghambat bekerjanya enzim asetilkoline sterase. OP memiliki berbagai bentuk alkohol yang melekat pada atom-atom P danberbagai bentuk ester asam fosforik. Ester-ester ini mempunyai kombinasi Oksigen,Karbon, Sulfur, dan Nitrogen. OP yang dikembangkan dari kombinasi tersebutdapat dibagi menjadi 3 kelompok derivat yaitu alifatik, fenil, dan heterosiklik.Derivat alifatik meliputi insektisida-insektisida yang antara lain TEPP, malation,dimetoat, oksidemetonmetil, dikrotofos, disulfoton, metamidofos, triklorfon, asefat,forat, terbufos, etoprop, dikloruos, mevinfos, naled, monotrotofos, fosfamidin.Insektisida OP yang termasuk dalam derivat fenil adalah paration, metil paration,etil paration, stirofos, fention, fonofos, profenofos, isofenfos, fenitrotion, triazofos,dan fentoat. Insektisida OP derivat heterosiklik banyak jenisnya. Dari kelompok iniinsektisida yang terkenal adalah diazinon dan lainnya seperti asinfos, klorpirifos ,fention, fosmet, stirofos, temefos, metidation, fosmet, kuinalfos, dll.c. Karbamat Karbamat merupakan insektisida yang berspektrum lebar dan telah banyakdigunakan secara luas untuk pengendalian hama tanaman. Insektisida karbamatrelatif baru bila dibandingkan dengan 2 kelompok insektisida OK dan OP. Carakarbamat mematikan serangga sama dengan insektisida OP yaitu melaluipenghambatan aktivitas enzim kolinesterase pada sistem syaraf. Insektisidatersebut cepat terurai dan hilang daya racunnya dari jaringan binatang, sehinggatidak terakumulasi dalam jaringan lemak dan susu seperti OK. Beberapa karbamatmemiliki toksisitas rendah bagi mamalia tetapi ada yang sangat beracun. Pestisida karbamat dapat dikelompokkan dalam 3 kelas yaitu 1) metilkarbamat dengan bangunan cincin fenil. Yang termasuk dalam kelas ini adalahBPMC, MICP, Isokarb, dll; 2) metil karbamat dan dimetil karbamat dengan strukturheterosiklik seperti dijumpai pada bendiokarp, karbofuran, dioxakarb, dll; 3) metilkarbamat dari oksin yang mempunyai struktur rantai. Termasuk dalam kelas iniadalah aldikarb, metomil, dan yang lain. Aldikarb merupakan insektisida karbamatyang paling beracun juga merupakan insektisida sistemik yang digunakan untukpengendalian serangga dan nematoda. Karena toksisitas sangat tinggi aldikarbsekarang dilarang di Indonesia. Propoksur merupakan insektisida yang umumdigunakan di dalam rumah untuk pengendalian serangga rumah tangga sepertinyamuk, kecoa, lalat, dll.d. Sintetik Piretroid (SP) Piretroid merupakan kelompok insektisida organik sintetik konvensionalyang baru digunakan secara luas sejak tahun 1970-an dan saat iniperkembangannya sangat cepat. Keunggulan piretroid sintetik (PS) karena memiliki 71
  • 74. pengaruh knock down atau kemampuan menjatuhkan serangga dengan cepat dantingkat toksisitas rendah bagi manusia dan mamalia. Kelompok Piretroid Sintetikmerupakan tiruan dari bahan aktif insektisida nabati piretrum yaitu sinerin I yangberasal dari ekstrak bunga Chrysanthemum cinerariaefolium. PS seringkali dikelompokan menurut generasi perkembangannya dilaboratorium. Biasanya generasi yang lanjut merupakan perbaikan sifat PSgenerasi sebelumnya. Sampai saat ini sudah dikenal 4 generasi PS. Salah satuanggota generasi pertama adalah alletrin, generasi kedua adalah resmetrin. Yangpaling banyak digunakan sekarang adalah generasi PS yang ketiga dan keempat.Generasi PS ketiga antara lain fenvalerat dan permetrin banyak digunakan untukpengendalian hama-hama kapas, kedelai dan sayuran. Untuk memperolehefektivitas yang sama dosis aplikasi inesktisida PS generasi baru lebih kecil biladibandingkan dengan aplikan OP dan OK. Generasi PS keempat lebih hemat lagidibandingkan dengan generasi ketiga. Untuk lahan seluas 1 ha hanya diperlukan10-40 g bahan aktif. Beberapa PS yang termasuk generasi keempat yang saat inijuga sudah diijinkan di Indonesia antara lain sipermetrin, flusitrinat, fenpropatrin,fluvalinat, sihalotrin, deltametrin dan siflutrin. Pada umumnya PS menunjukkan toksisitas rendah bagi mamalia tetapisangat beracun bagi ikan dan lebah. Residu PS di hasil-hasil pertanian tidakmenjadi masalah. Meskipun daya mematikan hama sasaran sangat tinggi dan PSsedikit menghadapi permasalahan lingkungan, namun insektisida PS menghadapipermasalahan utama yaitu percepatan perkembangan strain hama baru yangtahan.e. Kloronikotinil Kloronikotinil merupakan kelas baru insektisida sintetik. Bila piretroidmerupakan tiruan produk alami piretrum, kloronikotinil juga merupakan tiruan atauanalog produk nikotin. Kelas insektisida ini sampai sekarang baru diwakili oleh satubahan aktif yaitu imidakloprid yang telah diijinkan di Indonesia. Imidaklopridmeruapakan insektisida sistemik dan kontak dengan sasaran hama yangmempunyai tipe mulut pencucuk dan pengisap seperti aphis, wereng, trips dan kutudaun. Juga efektif untuk mengendalikan rayap, serangga tanah dan beberapa jeniskumbang. Karena cara aksi terhadap serangga sasaran berbeda dengan kelompok-kelompok insektisida kimia lain, kloronikotinil dapat dimanfaatkan untukmengendalikan jenis hama yang telah resisten terhadap kelompok/jenis insektisidatertentu.f. Pengatur Pertumbuhan Serangga (IGR = Insect Growth Regulator) Kelompok insektisida lain yang memiliki sifat selektivitas fisiologi yang tinggiadalah kelompok insektisida baru yang tidak termasuk dalam kelompok insektisidakonvensional. Kelompok insektisida baru adalah yang termasuk dalam golonganIGR (Insect Growth Regulator) atau Zat Pengatur Pertumbuhan Serangga. IGRpada hakekatnya mengganggu aktivitas normal sistem endokrin serangga.Pengaruh IGR tersebut dapat terjadi pada waktu perkembangan embrionik,perkembangan larva atau nimfa, metamorfosis, proses reproduksi, ataupun perilakudiapause. 72
  • 75. Yang termasuk dalam IGR adalah ekdison (hormon penggantian kulit),hormon juvenil (JH), mimik atau tiruan hormon juvenil, analog hormon juvenil (JHA),antihormon juvenil serta insektisida penghambat khitin. Agonis ekdison merupakanIGR yang paling baru tetapi sudah cukup tersedia di pasar. Contoh IGR ini adalahtebufenozoid, metoxyfenozoid, dan halofenozoid. Hormon juvenil yang sekarangtelah dipasarkan dan digunakan untuk pengendalian serangga di Amerika Serikatadalah metoprin, kinoprin, hidroprin, dan venoksikarb, sedangkan insektisidapenghambat sintesis khitin adalah diflubenzuron, bensoil finil ureas, teflubenzuran,triflumuron, klorfluazuron. Sejak tahun 1986 untuk pengendalian hama wereng paditerutama wereng coklat kita mulai menggunakan salah satu senyawa penghambatkhitin yaitu buprofezin. Sampai tahun 2002 ini sebagian insektisida IGR tersebuttelah terdaftar di Indonesia seperti tebufenozide, methoxyfenozide, danhalofenozide. Tebufenozide dan methoxyfenozide untuk mengendalikanLepidoptera sedangkan halofenozide untuk Coleoptera. Karena cara kerja IGR terhadap serangga sasaran adalah denganmempengaruhi sistem hormonal serangga yang khas, pada dasarnya IGR memilikisifat selektivitas fisiologi yang tinggi terhadap serangga sasaran sehingga sangatsesuai dengan prinsip-prinsip PHT. Misalkan diflubenzuron sangat efektif terutamauntuk Lepidoptera dan Diptera, sedangkan buprofezin khas untuk wereng daun danwereng batang serta serangga-serangga Homoptera lainnya. Untuk kelompokserangga lainnya seperti serangga predator dan parasitoid insektisida tersebutkurang berpengaruh. Berbeda dengan insektisida konvensional yangmempengaruhi sistem syaraf sehingga mematikan serangga dalam waktu cepat,IGR bekerjanya lambat dan lembut serangga akan mati beberapa hari setelahdiperlakukan dengan IGR. Dengan cara membunuh hama yang demikian, tekananseleksi terhadap serangga hama juga lemah sehingga timbulnya sifat resistensi dariserangga hama dapat dihambat.g. Insektisida Botanik Bila insektisida sintetik merupakan hasil buatan pabrik dengan melaluiproses sintesis kimiawi, maka insektisida botani atau insektisida nabati merupakaninsektisida yang terbuat dari tanaman. Insektisida botanik atau insektisida nabatimerupakan insektisida alami diambil secara langsung dari tanaman atau dari hasiltanaman. Insektisida jenis ini termasuk insektisida yang paling tua dan banyakdigunakan untuk pengendalian hama sebelum insektisida organik sintetikditemukan. Karena kesulitan dalam melakukan ekstraksi, dan kurang stabil karenamudah terurai, penggunaannya semakin berkurang terutama setelah pestisidakimia sintetik ditemukan dan digunakan. Namun akhir-akhir ini setelah timbul kekhawatiran mengenai dampaksamping pestisida kimia, penggunaan pestisida botanik kembali memperolehperhatian dari pemerintah dan petani sebagai solusi alternatif bagi pestisida kimia.Pestisida botanik telah lama dikenal sebagai pestisida yang risikonya kecil bagikesehatan dan lingkungan hidup. Direktorat Perlindungan Perkebunan telah melakukan inventarisasi mengenaiberbagai jenis tanaman yang ada di sekitar lahan petani untuk dijadikan pestisidanabati. Petunjuk mengenai cara penyiapan, ektraksi dan penggunaan pestisidanabati telah dibuat dan diedarkan kepada para petani pekebun. Dalam kegiatanpelatihan SLPHT-Perkebunan Rakyat juga diberikan pelatihan penggunaan 73
  • 76. pestisida nabati. Dari inventarisasi yang dilakukan oleh Direktorat Jendral BinaPerkebunan yang memuat daftar jenis-jenis tanaman di Indonesia yang dapatdigunakan sebagai pestisida nabati (Lampiran). Beberapa jenis insektisida botanik yang sudah lama dikenal dan digunakanadalah piretrum yang diambil dari bunga Chrysanthemum. Demikan juga rotenondiambil dari akar tanaman leguminosaea Derris elliptica atau tuba. Rotenon dapatberupa racun kontak dan perut tetapi pengaruhnya tidak pada sistem syaraf.Pestisida nabati yang prospektif dan banyak diteliti oleh para pakar pada duadekade akhir ini adalah Azadirachtin salah satu bahan aktif yang diambil daritanaman nimba atau mimba (Azadirachta indica). Tanaman mimba sejak lama telahdikenal dan digunakan sebagai pestisida nabati. Lebih dari 200 spesies seranggahama dapat dikendalikan secara efektif dengan ekstrak tanaman tersebut. Karenatanaman mimba sudah banyak tumbuh di Indonesia dan sangat sesuai dengankondisi tanah dan cuaca di sini, maka prospek penggunaannya untuk pengendalianhama sangat baik, apalagi bila teknik ekstraksi dan penggunaannya telah dikuasaipetani. Dari banyak hasil penelitian telah diketahui beberapa cara kerja insektisidanimba yaitu 1) Mengusir dan menghambat nafsu makan serangga, 2) menghambatmetamorfosis, 3) Mengurangi kesehatan dan daya reproduksi 4) Menghambat dayabertelur. Cara kerja ekstrak nimba tersebut di atas hampir sama dengan cara kerjainsektisida IGR. Bagian tanaman mimba yang sering digunakan adalah tepung biji,ampas biji dan daun. Penyiapannya dilakukan dengan cara menggerus biji ataudaun dan membuat ekstrak sederhana dengan dicampur air dan kemudiandisemprotkan dengan menggunakan alat penyemprot biasa. Untuk memperolehhasil yang baik dapat ditambahkan minyak dan pengemulsi. Teknologi sederhanatersebut sangat mudah dilakukan oleh petani dengan biaya yang sangat murah.Namun untuk keberhasilan pengendalian perlu diperhatikan waktu dan frekuensipenyemprotan yang tepat sesuai dengan sifat ekobiologi hama sasaran. Kerenaefektivitas dan cara aksinya berbeda dengan pestisida kimia konvensional,penyemprotan dengan pestisida nabati sebaiknya dilakukan dengan frekuansi yanglebih banyak dan sewaktu populasi hama masih belum jauh melampaui AmbangPengendaliannya. Beberapa keuntungan penggunaan mimba yaitu efektivitas tinggi, ancamanterhadap timbulnya resistensi hama relatif kecil karena mengandung banyak zatyang semuanya mempunyai cara kerja yang berlainan. Ekstrak mimba mempunyairisiko kecil bagi kesehatan manusia, tidak berbahaya bagi lebah madu, ikan, burungdan binatang bermanfaat lainnya. Persistensi esktrak mimba rendah, sehinggacepat teurai menjadi zat-zat yang tidak berbahaya. Sampai saat ini belumdilaporkan adanya pencemaran tanah dan air akibat dari mimba.FORMULASI PESTISIDA Dalam pabrik pembuat insektisida dihasilkan bahan aktif insektisida dalambentuk murni. Bahan tersebut belum dapat langsung digunakan untuk kegiatanpengendalian hama. Agar dapat dimanfaatkan di lapangan dan diperdagangkanbahan teknis harus diproses lagi menjadi bahan formulasi insektisida. Prosesformulasi insektisida merupakan proses untuk memperbaiki sifat-sifat bahan teknis 74
  • 77. agar sesuai untuk keperluan penyimpanan, penanganan, aplikasi, peningkatanefektivitas, atau keamanan bagi manusia dan lingkungan. Sebelum dipasarkanbahan teknis perlu dicampurkan dengan bahan-bahan tambahan tertentu. Bahan-bahan tambahan yang tidak bersifat meracuni serangga (insektisidal) secara umumdisebut bahan inert atau inert material. Menurut fungsinya bahan inert dapat berupabahan surfaktan, seperti sabun atau deterjen untuk peningkatan daya sebar, dayaemulsi dan pembasahan pada permukaan, pelarut atau solvent, untuk formulasipestisida cair agar dapat meningkatkan daya larut, pembawa atau carrier digunakanuntuk formulasi padat seperti serbuk dan butiran agar dapat mengikat/menyerapserta bahan tambahan khusus seperti a) penstabil (stabilizers), b) sinergis, bahanyang dapat meningkatkan aktifitas, c) pembasah (wetters), untuk mencegahdegradasi bahan, d) minyak untuk meningkatkan aktifitas biologi insektisida, e)odorants untuk memberi bau, f) cat dan pigment, g) penebal (thickeners), h)colouring agents (zat pewarna), dan I) zat anti mikroba. Pengetahuan dan teknologi pembuatan bahan aktif dan formulasi pestisidaberkembang sangat cepat sehingga ditemukan banyak jenis dan formulasipestisida. Agar tidak membingungkan pengguna dan konsumen di pandang perludilakukan harmonisasi atau pembakuan kode formulasi pestisida yang berlaku ditingkat internasional. Sistem kode formulasi pestisida mulai dibakukan pada tahun 1978 yangkemudian direvisi pada tahun 1989. Inisiatif pembakuan kode formulasi inidilakukan oleh asosiasi industri pestisida global yaitu Crop Life International (duluGCPF). Kode formulasi tersebut diusahakan sederhana, sedapat mungkin terdiridari dua huruf besar yang merupakan singkatan. Sekitar 71 kode formulasipestisida telah dibakukan. Berikut nama-nama 10 kode formulasi insektisida pentingyang sudah digunakan dan dipasarkan di Indonesia.1. Emulsifiable Concentrates (EC)2. Wettable Powders (WP)3. Suspension Concentrate (SC)4. Water Soluble Powder (SP)5. Ultra Low Volume Liiquid (ULV)6. Dustable Powder (DP)7. Granules (GR)8. Aerosol Dispenser (AE)9. Bait (RB) 75
  • 78. 10. Capsule Suspension (CS)TOKSISITAS PESTISIDA Pestisida tidak hanya beracun (toxic) atau berbahaya bagi serangga hamasasaran juga berbahaya bagi serangga-serangga musuh alami, binatang-binatanglain, manusia dan komponen-komponen lingkungan hidup. Toksisitas pestisidadapat dikelompokkan menjadi toksisitas akut, toksisitas kronik dan toksisitassubkronik. Toksisitas akut adalah pengaruh meracuni atau merugikan yang timbulsegera setelah pemaparan dengan dosis tunggal suatu pestisida, atau pemberiandosis ganda dalam waktu kurang lebih 24 jam. Toksisitas kronik adalah pengaruhyang merugikan yang timbul sebagai akibat pemberian takaran harian berulangpestisida dalam jumlah sedikit atau pemaparan oleh pestisida yang berlangsungsebagian besar rentang hidup suatu organisme (misal, mamalia). Keracunan akut merupakan kesakitan atau kematian akibat terkena dosistunggal insektisida. Keracunan ini biasanya terjadi pada pekerja yang langsungbekerja dengan insektisida baik di pabrik, tempat peyimpanan maupun di lapangan,keracunan terjadi biasanya karena kecerobohan sewaktu penanganan pestisidaatau sewaktu penyemprotan atau yang sengaja meminum insektisida untuk bunuhdiri. Keracunan khronik merupakan keracunan karena penderita terpapar racundalam jangka waktu panjang dengan dosis yang sangat rendah. Gejala keracunanini baru terlihat selang beberapa waktu (bulan atau tahun) setelah penderitaterpapar pestisida. Keracunan khronik yang saat ini oleh masyarakat dunia yangpaling menjadi keprihatinan masyarakat dunia karena semakin tingginya kesadaranterhadap keperluan adanya lingkungan yang tidak tercemar. Bahaya akibatkeracunan kronik karena terpapar insektisida dapat bersifat carsinogenic(pembentukan jaringan kanker), mutagenic (kerusakan genetik untuk generasiyang akan datang), teratogenic (kelahiran anak cacat dari ibu yang keracunan),endocrine destruptor (gangguan hormon endokrin).1. Pengujian Toksisitas Insektisida Cara masuk insektisida ke dalam tubuh binatang atau manusia dapat melaluimulut (rute oral), melalui kulit (rute dermal), atau melalui saluran pernafasan (ruterespiratori, rute inhalasi). Toksisitas akut melalui oral atau dermal merupakanindikasi bahaya insektisida bagi mamalia dan manusia. Unit pengukuran adalahmiligram (mg) bahan aktif per kilogram (kg) berat tubuh binatang uji (tikus, tikusputih, kelinci, dan marmut). Binatang uji tersebut dipelihara dalam laboratoriumdengan kondisi standar yang ditetapkan. Metode untuk menentukan toksisitas relatif pestisida yang telah disepakatiadalah dengan menggunakan dosis median letal (LD 50). Nilai LD50 adalah suatudosis insektisida yang diperlukan untuk membunuh 50% dari individu-individuspesies binatang uji dalam kondisi percobaan yang telah ditetapkan. Penghitunganmortalitas biasanya dilakukan 24 jam dan 48 jam setelah binatang uji terpapar olehinsektisida. Satuan nilai LD 50 adalah miligram bahan racun per kg berat tubuhbinatang uji (mg/kg). Pengujian tingkat toksisitas terhadap binatang uji dilakukandengan memberikan melalui makanan (oral), aplikasi kulit (dermal) melaluipernafasan (respiratori, inhalasi). Dari uji laboratorium ini diperoleh nilai LD 50 oral 76
  • 79. dan LD50 dermal dan LD50 inhalasi. Semakin rendah nilai LD 50 semakin tinggitoksisitas insektisida tersebut.2. Tingkat Bahaya Pestisida Meskipun sangat sulit mengekstrapolasi nilai LD 50 binatang mamalia sepertitikus atau kelinci untuk menilai tingkat toksisitas pestisida bagi manusia, namunsudah disepakati secara internaional bahwa nilai dosis letal mamalia tersebutdigunakan untuk melihat tingkat bahaya akut suatu jenis pestisida bagi manusia.Menurut Bahan Kesehatan Dunia (WHO - World Health Organization) kategoritingkat bahaya pestisida adalah seperti Tabel 6. Contoh bahan aktif yang termasuk kategori I adalah aldicarb dengan LD 50oral untuk tikus adalah 0,93 mg/kg dan LD 50 dermal untuk kelinci adalah 5 mg/kg.karbofuran LD50 oral untuk tikus 8-14 mg/kg. Propoksur termasuk kategori II karenaLD50 oral, untuk tikus adalah 100 mg/kg, LD 50 diazinon untuk tikus adalah 108mg/kg, LD50 DDT untuk tikus adalah 113 mg/kg. Yang termasuk kategori III (sedikitberacun) antara lain sipemetrin (SP) dengan LD 50 tikus antara 303-4123 mg/kg.Sejak tahun 2000 Pestisida yang termasuk dalam kategori Ia dan Ib termasukpestisida dilarang aau tidak boleh didaftarkan di Indonesia. 77
  • 80. Tabel 6. Tingkat bahaya insektisida menurut ketentuan WHO Kategori LD50 Oral LD50 Dermal Keterangan yang perlu dicatat di dalam label Padat Cair Padat Cair Pernyataan Warna Simbol Simbol (mg/kg) (mg/kg) (mg/kg) (mg/kg) bahaya bahaya dan KataIaSangatberbahaya <5 <20 <10 <40 Sangat Coklatsekali beracun tua Sangat beracunIbBerbahaya 5-50 20-200 10-100 40-400 Beracun MerahSekali tua BeracunIIBerbahaya 50-500 200-- 100-- 400-- Berbahaya Kuning 2000 1000 4000 tua BerbahayaIIICukup 500-berbahaya 2000 2000- >1000 >4000 Perhatian Biru Perhatian 3000 mudaIVTidakberbahayapada >2000 >3000 HijaupenggunaannormalPENGGUNAAN PESTISIDA SECARA SELEKTIF Dalam kerangka penerapan PHT penggunaan pestisida harus hati-hatiseminimal mungkin serta selektif dengan sasaran mengurangi populasi hamasampai pada aras yang tidak merugikan tanpa dengan sesedikit mungkinmembahayakan kesehatan pengguna, masyarakat termasuk konsumen sertalingkungan hidup. Karena itu penggunaan pestisida harus dilakukan secara lebihselektif. Selektivitas penggunaan insektisida dapat dibagi menjadi:1. selektivitas fisiologi atau selektivitas intrinsik2. selektivitas ekologi3. selektivitas melalui formulasi dan aplikasi1. Selektivitas Fisiologi Selektivitas fisiologi insektisida di sini adalah penggunaan jenis insektisidayang secara intrinsik hanya mematikan serangga-serangga hama tetapi tidakmembahayakan serangga-serangga yang berharga termasuk musuh alami danserangga penyerbuk bunga. Karena sifatnya, maka insektisida yang memilikiselektivitas fisiologis berspektrum sempit dengan serangga sasaran yang khas. 78
  • 81. Meskipun banyak insektisida OP, karbamat yang kurang selektif terhadappredator hama-hama padi tetapi ada juga insektisida OP seperti piridafention dantertraklorvinpos yang lebih beracun bagi hama sasaran yaitu wereng hijau padiNephotettix spp dan kurang berbahaya bagi predator laba-laba serigala Lycosapseudoannulata. Pengujian tentang selektivitas berbagai jenis insektisida yangsaat ini digunakan di Indonesia terhadap hama dan musuh alaminya perludilakukan agar kita mengetahui seberapa jauh tingkat bahaya insektisida tersebutbagi serangga bukan sasaran yang bermanfaat seperti musuh alami. Insektisida bakteri seperti Bacillus thuringiensis dan insektisida biologislainnya termasuk jenis insektisida yang memilki selektivitas tinggi bila dibandingkandengan insektisida konvensional. Bt umumnya ditujukan untuk mengendalikanhama yang termasuk ordo Lepidoptera.2. Selektivitas Ekologi Dengan mempelajari sifat biologi dan ekologi hama sasaran dapat diketahuiwaktu dan cara aplikasi insektisida yang tepat dan efektif. Dengan mempelajarineraca kehidupan hama, perilaku hama, kisaran inang hama kita dapatmenentukan bagaimana aplikasi insektisida yang tepat. Aplikasi terutama ditujukanpada bagian yang lemah pada kehidupan hama yaitu sewaktu hama berada padastadium hama yang peka terhadap insektisida dan dalam keadaan yang "terbuka"terhadap perlakuan insektisida diusahakan sedapat mungkin serangga parasitoiddan predator dapat terhindar dari perlakuan insektisida. Dalam praktek di lapangan selektivitas ekologi perlakuan insektisida dapatdalam beberapa cara yaitu:a. Penetapan waktu aplikasi yang tepat.b. Perlakuan insektisida secara parsial atau spot treatment yang meliputi penyemprotan hanya di pesemaian, pada tanaman batas, atau pernyemprotan hanya pada bagian tanaman atau pertanaman yang terserang.c. Perlakuan insektisida pada tanaman perangkap.d. Perlakuan insektisida pada tanaman inang alternatif harus yang berupa gulma.e. Perlakuan benih dapat mengurangi perlakuan insektisida pada pertanaman.f. Aplikasi insektisida melalui tanah atau air pengairan untuk mengurangi terbunuhnya musuh alami.3. Selektivitas Melalui Penentuan Formulasi dan Cara Aplikasi Selektivitas insektisida di sini adalah dalam menentukan dan memilihformulasi insektisida dan teknik aplikasi yang tepat, efektif dalam mengendalikanhama sehingga kurang membahayakan eksistensi musuh alami hama. Yangtermasuk dalam selektivitas ini adalah:a. Penggunaan formulasi butiran atau Granule dengan insektisida sistemik diharapkan dapat efektif untuk mengendalikan hama penggerek tanaman dan membatasi pengaruh yang merugikan bagi serangga predator dan parasitoid dewasa.b. Penggunaan formulasi ULV (Ultra Low Volume) yang tepat dapat membatasi "drift" insektisida sehingga dapat mengurangi risiko pencemaran dan membatasi terbunuhnya musuh alami. 79
  • 82. c. Cara aplikasi di lapangan yang kurang tepat dapat mengakibatkan peningkatan kematian organisme bukan sasaran. Oleh karena itu petani perlu dilatih tentang bagaimana cara penyemprotan insektisida yang benar. Bijaksana:Tepat apa? • Sasaran • Dosis • Cara • Waktu • Konsentras i • ----- 80
  • 83. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 9 PENGELOLAAN HAMA TANAMAN PANGANTujuan:1. Mempelajari dan memahami jenis-jenis hama utama tanaman pangan2. Mempelajari dan memahami pelaksanaan PHT pada tanaman panganMateri Kuliah:PERMASALAHAN HAMA TANAMAN PANGAN Yang disebut tanaman pangan adalah jenis tanaman yang menjadi sumberpangan utama sebagian besar penduduk. Di Indonesia tanaman pangan dibagidalam dua kelompok yaitu padi-padian dan palawija. Kelompok padi-padiandiwakili oleh PADI yang menghasilkan BERAS sebagai makanan utama pendudukIndonesia dan JAGUNG, sedangkan palawija terdiri atas KEDELAI dan tanamankacang-kacangan seperti KACANG TANAH, KACANG PANJANG, dll. Dari sekian banyak jenis tanaman dan komoditas pertanian yangdibudidayakan dan diusahakan, padi merupakan tanaman yang paling memperolehperhatian utama dari Pemerintah dan masyarakat. Hal ini disebabkan karena padimenyangkut hidup sebagian besar penduduk Indonesia. Karena pentingnya padiseringkali padi disebut sebagai TANAMAN POLITIK.SWASEMBADA BERAS Sejak Pemerintah mencanangkan program peningkatan produksi berasuntuk mencapai swasembada beras pada tahun 1970 Pemerintahmengintroduksikan teknologi intensifikasi produksi padi atau yang dikenal denganteknologi “revolusi hijau“ atau green revolution. Istilah yang terkenal denganteknologi revolusi hijau adalah Panca Usaha yaitu:1. Pengolahan Tanah2. Penanaman Bibit atau Benih Unggul3. Pemupukan4. Pengendalian Hama dan Penyakit5. Perbaikan Pengairan Teknologi revolusi hijau pada tanaman padi sangat tergantung pada bibitunggul, pupuk buatan atau pupuk kimia (Urea, ZA, TSP, KCL) serta pestisida kimia.Tujuan intensifikasi pangan agar dapat meningkatkan produksi pangan khususnyaberas dengan tujuan agar Indonesia menjadi swasembada beras atau memenuhikebutuhan sendiri akan beras sebagai makanan utama penduduk. Programintensifikasi pangan berjalan sampai saat ini. Nama program bermacam-macam 81
  • 84. tergantung kegiatan dan “selera” Kabinet yang bersangkutan. Sejak tahun 1970ankita kenal banyak nama program intensifikasi yaitu sebagai program BIMAS(Bimbingan Massal), INMAS (Intensifikasi Massal), INSUS (Intensifikasi Khusus),SUPRA INSUS, dan lain-lainnya. Kabinet sekarang mempunyai program yangdisebut Program Ketahanan Pangan. Indonesia hanya mencapai Swasembadaberas pada tahun 1984, setelah itu kita masih harus mengimpor beras untuk dapatmemenuhi kebutuhan beras penduduknya. Pada beberapa tahun terakhir iniIndonesia kembali menjadi negara pengimpor beras terbesar dunia. Dampak penerapan intensifikasi pertanian pada ekosistem persawahan dansistem sosial masyarakat di Indonesia sangat besar antara lain:1. Ekosistem persawahan menjadi sangat rawan hama dan penyakit padi. Berbagai hama penyakit “baru” timbul, meluas dan sering meletus setelah program BIMAS dilaksanakan antara lain hama wereng coklat dan wereng- wereng lainnya, penyakit tungro. Puncak letusan hama terjadi pada tahun 1979 hampir satu juta hektar sawah gagal panen atau rusak oleh wereng coklat.2. Dengan perbaikan sistem pengairan petani dapat menanam padi dua kali sampai 3 kali setahun, seringkali dengan menanam varietas sama dan masa tanam yang tidak serentak. Kondisi lingkungan ini menguntungkan perkembangbiakan hama-hama padi seperti tikus dan wereng coklat. Karena itu sampai saat ini sawah di Indonesia tidak pernah “sepi” akan serangan hama.3. Karena penggunaan bahan kimia pertanian yang sangat banyak, kesuburan tanah semakin menurun sehingga proses produksi tanaman padi menjadi semakin tidak efisien, sasaran peningkatan produksi tidak tercapai dan lingkungan pertanian semakin tercemar. Penggunaan pestisida yang masih tinggi dapat menimbulkan resistensi dan resurjensi hama-hama utama padi seperti wereng coklat.4. Petani semakin tergantung pada bibit unggul, pupuk kimia dan pestisida yang harganya semakin mahal. Keadaan ini mendorong terjadinya kesenjangan di pedesaan antara petani yang kaya dan petani yang miskin terutama buruh tani. Program PHT pada tanaman padi yang dilaksanakan Pemerintah sejaktahun 1989 yang telah melatih sekitar satu juta petani padi dengan konsep danteknologi dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia di tingkat petani. Adabanyak petani padi saat ini yang tidak lagi menggunakan pestisida karena sudahmengandalkan musuh alami hama-hama padi. Ekosistem persawahan secaraekologi sebenarnya merupakan ekosistem yang memiliki kestabilan tinggi apabilakita dapat menerapkan PHT secara konsisten dan konsekuen. Dalam kondisi stabilletusan hama tidak perlu dikhawatirkan. Penerapan PHT untuk hama-hama padi secara umum adalah sebagaiberikut:1. Pola tanam padi, padi, palawija.2. Tanam bibit atau varietas unggul tahan hama terutama VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng) sesuai dengan biotipe wereng coklat pada suatu tempat. Seperti kita ketahui saat ini kita mempunyai kelompok Non VUTW, VUTW I, dan VUTW I. Sebaiknya dilakukan pergiliran varietas antar musim tanam.3. Pada kondisi populasi wereng coklat tinggi hindarkan penanaman varietas padi peka hama terutama varietas-varietas lokal (Rojolele, Mentik, Cianjur, dll). 82
  • 85. 4. Diusahakan di suatu hamparan sawah dilakukan penanaman secara serentak termasuk di daerah-daerah yang berbukit. Serangan hama tikus berkurang di daerah-daerah yang menanam padi serentak.5. Pengendalian hayati terutama dengan teknik augmentasi dan konservasi musuh alami merupakan teknik pengendalian hama-hama padi utama. Banyak jenis predator dan parasitoid dijumpai di ekosistem persawahan kita.6. Bila diperlukan pestisida kimia gunakan secara sangat selektif dengan menggunakan jenis-jenis pestisida yang tidak membunuh musuh alami. Penggunaan pestisida diputuskan setelah mempelajari hasil pengamatan ekosistem.7. Laksanakan kegiatan pengamatan atau pemantauan hama dan musuh alami seminggu sekali. Apabila jumlah musuh alami banyak tidak perlu dilakukan kegiatan pengendalian dengan pestisida.A. HAMA-HAMA PADI Pada ekosistem padi dijumpai banyak jenis hama yang menyerang hampirseluruh stadia tumbuh padi dari persemaian sampai panen dan pasca panen. Yangakan dibahas di sini beberapa hama utama padi saja. Intensitas serangan hama-hama tersebut dari suatu lokasi ke lokasi lain sangat berbeda, dengan demikianhama-hama utama di suatu daerah dapat berbeda dengan hama-hama utama didaerah lain. Namun dari laporan pada 5 tahun terakhir urut-urutan hama padi utamadi Indonesia adalah 1) Tikus, 2) Penggerek Batang dan 3) Wereng Coklat. Secarasingkat sifat hama dengan cara pengelolaannya adalah sbb:1. Tikus Sawah (Rattus argentiventer) Tikus sawah aktif pada malam hari. Siang hari mereka selalu berlindung didalam liang atau di semak belukar. Untuk tempat tinggal atau lubang biasanya tikusberorientasi ke daerah yang cukup memberi perlindungan dan rasa aman darigangguan predator dan tersedia sumber makanan dan air. Fungsi lubang bagi tikussawah adalah sebagai tempat bernaung, tempat memelihara anak dan kelompokketurunan, serta menimbun makanan. Kepadatan populasi tikus berkaitan dengan fase pertumbuhan tanaman padi.Serangan tikus dapat terjadi sejak di persemaian sampai pasca panen. Populasitikus umumnya masih rendah pada persemaian sampai fase vegetatif dankepadatan populasi meningkat pada fase generatif.Gejala serangan:1. Adanya sarang dari batang rerumputan dan daun diantara vegetasi tanaman yang tumbuh di lapangan2. Adanya saluran lubang yang masuk ke dalam tanah yang tidak begitu basah atau tergenang air3. Adanya lubang yang biasanya dengan diameter yang lebih besar dari tubuh tikus dan berbentuk bulat yang merupakan jalan masuk menuju saluran.4. Adanya lintasan jalan dimana tikus hilir mudik di antara pertanaman tempat makannya dengan lubang persembunyiannya. 83
  • 86. 5. Adanya bekas-bekas kotoran tikus sepanjang lintasan6. Adanya bekas-bekas telapak kaki tikus terutama pada tanah berlumpur7. Adanya bentuk-bentuk kerusakan tertentu pada tanaman yang diakibatkan oleh tikus seperti rebahnya tanaman karena pangkal batang putus, terutama pada tanaman-tanaman muda. Pada kepadatan populasi rendah, serangan tikus biasanya bersifat acakterutama di bagian tengah petakan, sehingga belum tampak jelas dari pematang.Pada serangan berat, biasanya hanya menyisakan beberapa baris tanaman pinggir.Pengelolaan:1. Diupayakan agar waktu tanam dengan selang <10 hari dalam areal yang luas, sehingga masa generatif hampir serentak. Dengan demikian masa perkembangbiakan tikus hanya berlangsung dalam waktu yang singkat.2. Mengurangi ukuran pematang, di sekitar sawah, sehingga mempersulit tikus membuat liang. Pematang sebaiknya berukuran < 30 cm.3. Memanfaatan musuh alami, antara lain burung hantu, elang, ular.4. Melakukan gropyokan, penggenangan lahan, pemasangan bambu perangkap dan pemanfaatan jaring.5. Pengemposan dilakukan pada saat tanaman fase generatif, karena pada saat tersebut umumnya tikus tinggal di dalam liang.6. Pengumpanan beracun menggunakan racun antikoagulan, karena kematian tikus oleh racun ini lambat dan kematian umumnya tidak terlihat karena di dalam inang sehingga dapat menghindari jera umpan.7. Yang harus diperhatikan dalam usaha pengendalian tikus sawah yakni harus terorganisasi dengan baik, melibatkan semua petani dan aparat pemerintah.2. Penggerek Batang Padi Di Indonesia dikenal 6 jenis penggerek batang padi (Tabel 7). Dari ke-6penggerek batang padi tersebut saat ini yang paling penting adalah PBPK terutamadi pulai Jawa yang memiliki jaringan pengairan baik. Sebelum tahun 1970 di JawaPBPP yang lebih dominan. Saat ini di Sulawesi Selatan dan daerah-daerah padiyang hanya dapat menanam padi satu kali setahun PBPP lebih penting daripadaPBPK. PBBBk dan PBPKH sering dijumpai pada pertanaman padi yang ditanamdekat dengan tanaman tebu dan jagung, sedangkan PBPB sering menjadi masalahdi tanaman padi yang ditanam di dataran yang agak tinggi.Gejala serangan: Gejala kerusakan penggerek batang padi umumnya mirip. Gejala seranganpada pertumbuhan vegetatif disebut sundep sedangkan pada pertumbuhangeneratif disebut beluk. Pada pucuk tanaman tampak menguning, layu danakhirnya mengering. Ulat penggerek merusak bagian pangkal titik tumbuh sehinggaapabila tanaman ditarik dari titik tumbuhannya akan mudah lepas. Gejala belukmemperlihatkan malai padi yang tegak, berrwarna putih dan hampa. 84
  • 87. Tabel 7. Jenis Penggerek Batang Padi di Indonesia No Nama Umum Nama Latin 1 Penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (PBPK) 2 Penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata (PBPP) 3 Penggerek batang padi Chilo suppressalis berrgaris (PBPB) 4 Penggerek batang padi kepala Chilo polychrysa hitam (PBPKH) 5 Penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius (PBBBk) 6 Penggerek batang padi merah Sesamia inferens jambu (PBPMj)Pengelolaan:1). Pola tanam Diusahakan untuk melakukan tanam serempak, pergiliran tanaman dengantanaman bukan padi, penanaman varietas padi yang tahan penggerek batang. Tanam serentak varietas genjah dengan selisih kurang dari 2 minggumeliputi hamparan seluas-luasnya agar pertumbuhan tanaman dan masa panendapat serentak, sehingga tersedianya sumber makanan bagi penggerek dapatdibatasi. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan pada masa bero di antara waktutanam. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi dapat memutus daur hiduppenggerek batang padi. Persemaian dilakukan secara berkelompok untukmemudahkan pemeliharaan dan pengumpulan kelompok telur penggerek.2). Fisik dan mekanik Mengumpulkan telur sejak di persemaian kemudian dibunuh. Pada saatpanen diusahakan pemotongan jerami sampai serendah mungkin untuk mencegahkesempatan berkepompong pada pangkal padi. Bila memungkinkan diikuti denganpenggenangan air agar tunggul jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupamati.3). Eradikasi Pembabatan dan pengumpulan jerami lalu dibakar untuk memusnahkansumber hama penggerek batang padi.4). Biologi Memanfaatkan musuh alami baik predator maupun parasitoid sepertiConocephalus longipennis, Anaxipha sp, Metioche sp, Trichogramma sp,Telenomus sp, Xanthopimpla sp.5). Kimiawi 85
  • 88. Aplikasi insektisida untuk pengendalian harus disesuaikan dengan keadaanpopulasi hama, intensitas serangan dan umur tanaman. Insektisida yang digunakanharus dipilih yang selektif, efektif dan diizinkan untuk digunakan pada tanamanpadi.3. Wereng Coklat (Nilaparvata lugens)Gejala serangan: Hama menyerang dengan cara menusuk dan menghisap cairan batang ataupelepah daun pada bagian pangkal, sehingga menyebabkan tanaman menjadimenguning dan mengering. Kerusakan berat tampak tanaman seperti gejalaterbakar (hopperburn). Wereng coklat mengeluarkan cairan madu, yang dapatditumbuhi cendawan jelaga, sehingga batangnya berwarna hitam. Di sampingsebagai hama utama tanaman padi, wereng coklat juga dapat bertindak sebagaivektor penyakit virus kerdil rumput (grassy stunt) dan virus kerdil hama (raggedstunt).Pengelolaan:1. Sistem tanam serempak dalam satu wilayah kelompok dengan selisih waktu tanam < 2 minggu sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau tidak tersedia pakan terus-menerus.2. Penanaman varietas unggul tahan wereng dapat menghambat perkembangan populasi dari generasi ke generasi. Pergiliran varietas untuk menghindari timbulnya biotipe baru.3. Diusahakan persemaian jauh dari lampu dan sumber penyakit virus4. Menghindari pemupukan N secara berlebihan.5. Eradikasi dan sanitasi tanaman6. Memanfaatkan musuh alami seperti Anagrus sp, Tetrastichus sp, Microvelia sp, Ophionea sp, Paederus sp.7. Penggunaan insektisida dilakukan pada saat populasi dominan nimfa, dengan memperhatikan perbandingan antara wereng coklat dengan musuh alami.4. Wereng Hijau (Nephotetix spp) Wereng hijau lebih dikenal sebagai pembawa atau vektor beberapa penyakitpadi penting seperti penyakit kerdil rumput, tungro dan kerdil kuning. Gejala serangan: Tanaman padi yang terserang menunjukkan gejala pertumbuhan kerdil,jumlah tunas sedikit berkurang dan berwarna kuning. Apabila serangan terjadi padawaktu tanaman masih muda, maka jumlah tunas akan sangat berkurang. Malaiyang dihasilkan biasanya steril dan kecil. Gejala kerusakan tanaman padi olehwereng lebih banyak diakibatkan serangan penyakit padi yang dibawanya terutamapenyakit tungro yang merupakan penyakit padi terpenting di Indonesia saat ini.Pengelolaan: Pengelolaan hampir sama dengan pengelolaan wereng coklat.5. Ganjur (Orsealia oryzae) 86
  • 89. Hama ganjur terbatas menyerang dalam luasan sawah sempit danterpencar-pencar terutama di Jawa, Bali, Lombok dan Sumatera Selatan. Padatahun 1975 sekitar 200.000 ha sawah di Jawa Tengah dan Jawa Barat terseranghama ini.Gejala serangan: Gejala serangan berupa puru yang akan tampak 3-7 hari setelah larvamencapai titik tumbuh. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan populasiganjur diantaranya kelembaban, angin, cahaya, jenis dan jumlah pakan sertamusuh alami. Kelembaban minimal 80% sangat mendukung perkembangan larva.Temperatur 26-290C sangat sesuai bagi perkembangan hama ini.Pengelolaan: Pengamatan rutin serangan ganjur harus dimulai sejak umur 7 hari setelahtanam. Penanaman secara serentak minimal di satu wilayah kelompok,penggunaan varietas tahan, perlakuan benih dengan insektisida.6. Hama Putih Palsu (Cnaphalocrosis medinalis) Bukan merupakan hama utama meskipun kadangkala dilaporkan menyerangdi Pantai Utara Jawa Barat dengan kerusakan 15%. Larva lebih cocok hidup padatanaman padi di musim hujan. Pada musim kering larva lebih cocok hidup padajagung. Inang hama putih palsu adalah padi, jagung, sorgum, rumput Echinocloadan tebu.Gejala serangan: Larva memakan daun sehingga menimbulkan bekas serangan berupa garis-garis putih. Gejala serangan yang khas terlihat lipatan daun, larva makan daridalam, menyebabkan daun menjadi kering dan berwarna putih.Pengelolaan:1. Sanitasi tanaman inang dan rumput liar di sekitar persawahan2. Budidaya tanaman sehat, sehingga adanya serangan ringan dapat dikompensasi oleh pertumbuhan tunas.3. Pemanfaatan dengan musuh alami diantaranya Apanteles sp, Pentalitomastix sp, predator laba-laba dan cocopet dari ordo Dermaptera7. Kepinding tanah (Scotinophora sp) Hama ini juga bukan hama utama padi. Serangannya tersebar dan tidakmenimbulkan kerusakan ekonomis bagi petani.Gejala serangan: Hama mengisap cairan pelepah dan batang padi. Bekas isapan menjadicoklat dengan coklat tua pada tepinya. Daun pada rumpun yang terserang beratakan menjadi kering, lama-kelamaan semua daun kering dan akhirnya mati.Batang-batang menjadi busuk dan mudah dicabut. Tanaman yang disukai hama initerutama bibit di persemaian dan tanaman muda sampai 50-60 hari. Tanaman tuadapat juga terserang. Serangan dewasa mampu hidup dan berkembangbiakselama 1-2 musim. Selama musim kemarau mengalami dormansi pada bongkahan 87
  • 90. tanah yang berumput. Pada saat cuaca baik dewasa terbang ke pertanaman dalamjumlah besar. Lebih menyukai keadaan basah atau lembab.Pengelolaan: Pembajakan dan pembenaman tunggul-tunggul padi setelah panen akandapat mengurangi populasinya untuk musim tanam berikutnya. Pengeringan lahansawah dapat menghambat perkembangan hama. Pemupukan saat tanamanterserang, sehingga tanaman mampu mengkompensasi serangan. Sanitasi lahandan lingkungan dari tumbuhan inang rerumputan juga dapat menghambatperkembangan kepinding tanah.8. Walang Sangit (Leptocorisa acuta) Hama yang menyerang bulir padi ini merupakan hama yang menyerangsecara sporadis di lokasi perswahan yang menyebar. Hama ini menimbulkanmasalah di persawahan di luar Jawa. Di Sulawesi Selatan pernah dimasukkansebagai salah satu hama padi utama. Walang sangit mulai aktif pada awal musim hujan setelah menyelesaikan 1-2generasinya pada rerumputan. Kepadatan populasi meningkat pada kondisitanaman padi sedang berbunga, cuaca hangat dan gerimis. Hujan lebat dapatmenurunkan kepadatan populasi.Gejala serangan: Butir padi yang terserang hama ini akan menjadi hampa sebab cairan selnyatelah habis dihisap. Butir padi yang setengah hampa akan mudah pecah jika masukdalam penggilingan. Butir padi bekas tertusuk walang sangit warnanya berubahmenjadi coklat atau kehitam-hitaman sebagian atau seluruhnya. Kerusakan beratakan terjadi apabila walang sangit dewasa menyerang padi pada saat malaiberbunga.Pengelolaan:1. Tanam serempak untuk membatasi ketersediaan makanan yang sesuai2. Pemanfaatan tanaman perangkap3. Penanaman tanaman resisten4. Pemanfaatan musuh alami seperti Conocephalus longipenis, Gryon nixoni, Beauveria bassianaB. HAMA-HAMA JAGUNG Urutan pentingnya hama-hama jagung di Indonesia saat ini adalah 1) Tikus,2) Penggerek Tongkol, 3) Penggerek Batang , 4) Lalat bibit dan 5) Ulat grayak.Perilaku, gejala serangan dan pengendalian hama Tikus sudah dijelaskan di depan.1. Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera)Gejala serangan: Biasanya selain menyerang tongkol jagung juga menyerang pucuk sehinggabunga jantan tidak terbentuk akibatnya hasilnya berkurang. Telur diletakkan secara 88
  • 91. terpencar pada daun, pucuk dan bunga pada malam hari. Biasanya telur diletakkanpada tanaman jagung umur + 2 minggu setelah tanam.Pengelolaan:1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang2. Tanam serentak3. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya2. Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis)Gejala serangan: Serangan pada daun dapat menimbulkan bercak putih pada permukaandaun. Serangan pada pucuk daun yang masih menggulung dapat menimbulkangejala berlubang dalam barisan yang melintang daun. Ulat tua menggerek ke dalambatang yang menimbulkan lubang pada ruas dan meninggalkan kotoran bekasgerekan.Pengelolaan: Rotasi tanaman, tanam serentak, pemangkasan bunga jantan3. Lalat Bibit (Atherigona oryzae)Gejala serangan: Serangan terjadi pada tanaman umur 5-7 hari setelah tanam dengan tanda-tanda tanaman layu sebagai akibat kematian titik tumbuh.Pengelolaan:1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan jagung dan padi2. Tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari3. Tanam lebih awal pada musim penghujanC. HAMA-HAMA KEDELAI Berbeda dengan padi sawah, kedelai mempunyai banyak jenis hama yangmenyerang sejak di fase pembibitan sampai fase polong. Hama tanamanmerupakan faktor pembatas utama produksi kedelai di Indonesia. Karena seranganhama tinggi, produksi selalu rendah sehingga kita tidak mampu memenuhikebutuhan kedelai nasional yang selalu meningkat setiap tahunnya. Saat ini kitaharus mengimpor kedelai lebih dari satu juta ton. Karena banyak serangan hama,penggunaan pestisida kimia relatif sangat tinggi, rata-rata satu musim aplikasipestisida sekitar 4-5 kali. Urutan 6 besar hama-hama kedelai adalah: 1) Lalat kacang, 2) Penggerekpolong, 3) Tikus, 4) Ulat grayak, 5) Penggulung daun dan 6) ulat jengkal. Disamping menghadapi serangan hama kedelai juga menghadapi serangan banyakpenyakit virus yang vektornya adalah serangga Bemisia sp dan Aphis sp. Hama-hama kedelai dapat dikelompokkan menurut fase pertumbuhankedelai yang diserang yaitu:a. Lalat menyerang bibit seperti Agromyza sp 89
  • 92. b. Hama-hama pemakan daun seperti Spodoptera sp, Phaedonia sp, Plusia spc. Hama-hama pengisap daun seperti Empoasca sp, Bemicia sp, Aphis spd. Hama-hama pegisap polong seperti Riptortus sp, Nezara spe. Hama-hama penggerek polong seperti Etiella sp dan Heliothis sp. Berikut diuraikan sedikit sifat, perilaku dan cara pengendalian hama-hamakedelai menurut urutan bahayanya.1. Lalat Kacang (Agromyza phaseoli) Paling sedikit ada 3 spesies lalat kacang yaitu A. phaseoli, A. ojae dan A.dolichostigma. Yang pertama merupakan yang paling penting. Stadia larvamerupakan stadia yang merusak tanaman kedelai fase perkecambahan dantanaman muda.Gejala serangan: Gejala awal berupa tanda bintik-bintik putih pada keping biji, daun pertamaatau daun kedua. Bintik-bintik tersebut merupakan bekas tusukan alat peletak telurpada pangkal kotiledon dan pangkal daun. Pada keping biji dan pasangan daunpertama terdapat alur atau garis berkelok-kelok berwarna coklat yang merupakanlubang gerekan. Akibat gerekan jaringan pengangkut terputus, sehingga akar matitanaman layu dan mati. Kematian tanaman dijumpai pada tanaman berumur 14-30hari.Pengelolaan:1. Pergiliran tanaman dengan tanaman non Leguminosae2. Seed treatment3. Penggunaan mulsa jerami4. Tanam serentak dengan selisih waktu antara tanam awal dan tanam akhir tidak lebih dari 10 hari, dilakukan pada areal yang cukup luas.2. Penggerek polong (Etiella zinckenella)Gejala serangan: Tanda serangan berupa lubang gerekan berbentuk bundar pada kulit polong.Apabila terdapat dua lubang gerek pada polong tersebut berarti ulat sudah pergi. Didalam polong terserang terdapat butir-butir kotoran ulat yang berwarna kuning ataucoklat muda yang menggumpal. Akibat serangan hama ini dapat menurunkankuantitas dan kualitas hasil panen. Telur diletakkan pada malam hari, pada bagianbawah kelopak bunga atau pada polong secara berkelompok. Populasinya tinggipada saat musim kemarau daripada musim hujan.Pengelolaan:1. Pemantauan dini2. Tanam serempak pada areal yang luas3. Sanitasi terhadap inang alternatif4. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang5. Untuk daerah endemis penggerek polong, perlu diterapkan penanaman tanaman perangkap. 90
  • 93. 6. Pemanfaatan musuh alami seperti Apanteles sp, Trichogramma sp, Tachinidae, predator Lycosa sp dan Oxyopes sp7. Pengendalian dengan insektisida efektif dilakukan apabila populasi hama telah mencapai ambang pengendalian3. Ulat Grayak (Spodoptera litura)Gejala serangan: Larva muda secara bergerombol makan epidermis bawah daun sehinggamenimbulkan gejala transparan, yang tersisa hanya tulang-tulang daun danepidermis bagian atas, daun yang rusak tampak berwarna keputih-putihan.Serangan ulat instar awal dapat menimbulkan gejala transparan pada daun, sedangserangan oleh ulat instar akhir dapat menimbulkan gejala berupa berlubang padadaun bahkan polong termakan habis.Pengelolaan:1. Pemantauan terhadap kelompok instar 1 atau gejala awal daun yang tampak keputih-putihan dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 14 HST2. Melakukan tanam serentak dan pergiliran tanaman3. Pengendalian dini setelah ditemukan populasi4. Pengendalian secara fisik dan mekanik yakni dengan mengumpulkan kelompok telur dan larva kemudian dimusnahkan5. Penggunaan Sl NPV6. Pemanfaatan musuh alami predator Carabidae, Reduviidae, parasitoid Telenomus, Tachinidae, Ichneumonidae7. Pengendalian dengan insektisida secara spot treatment dibatasi sampai dengan instar 34. Ulat Penggulung Daun (Lamprosema indicata)Gejala serangan: Ulat merusak tanaman kedelai berumur 3-4 minggu setelah tanam. Ulatmakan dari gulungan daun. Apabila gulungan tersebut dibuka, daun akan tampaktinggal tulang-tulangnya. Ulat diam di dalam gulungan daun yang direkatkan satusama lain dengan benang air liurnya. Ulat membentuk kepompong di dalamgulungan daun tersebut.5. Ulat Jengkal (Plusia chalcites) Ulat jengkal berwarna hijau dan bergerak seperti menjengkal, bentuk larvatua mempunyai ciri khas. Ulat jengkal menyerang tanaman kedelai berumur mudadan tua. Dalam satu musim tanam hanya dijumpai satu generasi. Daun yangterserang ulat pada populasi tinggi tinggal tulang daun saja atau bahkan habissama sekali. Pada tahun 1983 luas serangan hama ini mencapai 24000 ha denganintensitas serangan 40%.5. Kepik Hijau (Nezara viridula)Gejala serangan: 91
  • 94. Nimfa dan dewasa menghisap cairan biji kedelai. Serangan pada fasepembentukan dan pertumbuhan polong/biji menyebabkan polong/biji kempis,mengering dan gugur. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji menjadihitam dan busuk. Serangan pada polong tua menyebabkan kualitas biji menurunkarena ada biji hitam pada biji atau biji menjadi keriput. Gejala serangan jelas terlihat kulit biji dan kulit polong bagian dalam berupabintik hitam atau coklat.Pengelolaan:1. Sanitasi tanaman inang liar jauh sebelum tanam2. Pengamatan terutama dilakukan pada tanaman perangkap. Pengamatan dilakukan pada umur 42, 49, 56, 63, dan 70 HST terhadap imago, telur dan nimfa.3. Penggunaan pestisida dilakukan apabila populasi mencapai ambang pengendalian yang mungkin terjadi hanya pada tanaman perangkap7. Kepik Polong (Riptortus linearis) Tingkat kerusakan secara ekonomis di lapang sulit untuk diperkirakan karenabiasanya terjadinya kerusakan bersamaan dengan pengisap polong lainnya.Gejala serangan: Kepik menyerang polong dan biji. Serangan pada fase perkembangan bijidan pertumbuhan polong menyebabkan polong dan biji kempis, kemudianmengering dan polong dapat gugur. Serangan pada fase pengisian bijimenyebabkan biji menjadi hitam dan busuk. Serangan pada polong tuamenyebabkan kualitas biji menurun karena adanya bintik-bintik hitam pada biji ataubiji menjadi keriput. Gejala serangan jelas terlihat pada kulit biji dan kulit polongbagian dalam berupa bintik hitam atau coklat. Kerusakan pada biji dan kulit polongdisertai dengan serangan jamur.8. Kutu Hijau (Aphis sp) Kutu hidup dalam koloni dan perkembangbiakan secara parthenogenesissehingga populasi dapat meningkat dengan cepat. Ekskresi kutu hijaumenghasilkan embun madu yang dapat merangsang tumbuhnya cendawan jelagayang menutupi permukaan daun dan polong sehingga mengganggu fotosintesis.Populasi kutu hijau dipengaruhi oleh curah hujan yang dapat menurunkan populasi.Kutu hijau berperan sebagai vektor penyakit virus kedelai antara lain virus kerdilkedelai, virus mosaik kuning dan virus kate kedelai.Pengelolaan:1. Tanam serentak pada areal yang cukup luas2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya3. Menanam varietas toleran (berbulu tegak)4. Penggunaan benih bermutu dan sehat5. Pemantauan sedini mungkin6. Pencabutan tanaman muda yang terserang virus7. Pemanfaatan musuh alami diantaranya predator Coccinelidae, Menochilus sexmaculata, Harmonia octomaculata, Verania lineata. 92
  • 95. 9. Kutu Kebul (Bemisia tabaci) Serangan berat akan terjadi terutama pada musim kemarau karena didukungdengan suhu yang tinggi.Gejala serangan: Nimfa dan kutu dewasa mengisap cairan daun. Ekskreta kutu kebulmenghasilkan embun madu yang merupakan medium tumbuh cendawan jelagasehingga sering tanaman tampak berwarna hitam. Hama ini juga bertindak sebagaivektor penyakit Cowpea Mild Mottle Virus (CMMV) yang menyebabkan tanamankerdil dan daunnya belang-belang kuning tersamar. Hama menyerang tanamansejak tanaman membentuk daun pertama dan puncak populasinya terjadi pada fasesetelah pembungaan.Pengelolaan:1. Tanam serentak dengan kisaran waktu tidak lebih dari 10 hari2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang3. Menanam varietas toleran4. Pemanfaatan musuh alami parasitoid Encarsia sp dan beberapa jenis kumbang Coccinelidae antara lain Menochilus sp, Scymnus sp10. Kumbang Daun (Phaedonia inclusa) Imago dan larva dapat merusak daun, batang pucuk, tangkai daun pucuk,kuncup daun, kuncup bunga, bunga, polong muda dan kulit polong bagian luaryang telah berisi penuh sampai polong menguning. Akibat serangan hama ini daunkedelai menjadi gundul dan dapat menurunkan produksi atau bahkan tanamantidak menghasilkan sama sekali.Gejala serangan: Serangan larva dan dewasa dapat berlangsung pada fase pertumbuhantanaman. Daun tampak berlubang dan polong muda luka-luka, sedang pada polongtua kulitnya yang dimakan. Serangan lebih lanjut pada tangkai daun dan batangpucuk menyebabkan daun dan pucuk terkulai layu kemudian mengering.Pengelolaan:1. Pemantauan dilakukan tiap minggu sampai tanaman berumur 49 HST2. Tanaman serentak dan pergiliran tanaman penting untuk menurunkan infestasi awal3. Penurunan populasi dapat dilakukan dengan cara pengumpulan dan pemusnahan imago dan larva pada pagi dan sore hari.4. Pemanfaatan musuh alami predator telur, larva dan pupa yaitu Solenopsis geminata.D. HAMA-HAMA UBI KAYU DAN UBI JALAR 93
  • 96. 1. Tungau merah (Tetranychus urticae)Gejala serangan: Tanaman ubi kayu yang terserang berat, permukaan bagian bawah menjadikusut oleh adanya anyaman-anyaman halus. Daun dapat kehilangan khlorofil danmengakibatkan daun kelihatan menguning, kemudian berubah menjadi coklat dangugur seluruhnya. Serangan berat terjadi pada musim panas, sebaliknya padamusim hujan populasinya berkurang karena tercuci oleh air hujan.Pengelolaan:Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang2. Hama Boleng (Cylas formicarius)Gejala Serangan: Umbi yang terserang terdapat lubang, terutama di dekat pangkal batang. Disamping itu kumbang juga membuat lubang lain untuk meletakkan telur. Setelahtelur menetas biasanya larva langsung menggerek ke dalam daging umbi danmembuat lorong gerekan. Akibatnya ubi akan terasa pahit.Pengelolaan:1. Mengatur waktu tanam, yaitu menanam pada awal musim kemarau2. Melakukan penggenangan3. Menanam varietas yang pertumbuhan ubinya agak masuk ke dalam tanah4. Rotasi tanaman dengan tanaman bukan inangE. KACANG TANAH Tanaman kacang lebih banyak menghadapi serangan penyakit daripadaserangan hama tanaman. Salah satu hama kacang tanah adalah wereng kacangtanah.Wereng Kacang Tanah (Empoasca flavescens) Nimfa dan dewasa mengisap cairan sel daun sehingga bagian ujungnyamenjadi kekuningan. Daun yang terserang menjadi kaku dan menebal. Akibatserangan berat, tanaman menjadi kerdil dan daun mudah rontok. Selainmengakibatkan tanaman kehilangan cairan, bekas tusukan alat mulut seranggadapat menimbulkan kematian jaringan sehingga timbul gejala daun keriting.F. KACANG PANJANG Faktor penghambat produksi dan kualitas kacang panjang adalah beberapahama tanaman terutama yang menyerang polong sehingga menurunkan kualitashasil. Pengendalian hama yang lebih sering digunakan adalah penggunaanpestisida kimia.1. Kutu Tanaman (Aphis craccivora)Gejala serangan: Tanaman yang terserang oleh kutu ini menyebabkan bunga menjadi tidakmerekah, dan apabila menyerang pada buah muda menyebabkan buah menjadi 94
  • 97. keriput dan tidak dapat memanjang. Di samping sebagai hama, serangga ini jugabertindak sebagai vektor penyakit virus.2. Penggerek Polong (Etiella sp) Ulat masuk dan menggerek ke dalam polong kacang panjang sehinggaterlihat bekas gerekan (lubang gerek) berwarna hitam. Kupu tersebut seringditemukan di sekitar tanaman, terutama yang sedang berbunga atau berbuahmuda.3. Nezara viridula Kepik dan nimfa dewasa mengisap cairan polong kacang. Cara merusakdengan menusukkan alat mulutnya pada kulit kacang terus ke biji kemudianmengisap cairan yang ada di dalam biji. Serangan kepik ini menyebabkan bijimenjadi hitam dan busuk sehingga kualitas biji menurun karena adanya bintik-bintikhitam pada biji atau biji menjadi keriput. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc 95
  • 98. Materi 10 PENGELOLAAN HAMA TANAMAN HORTIKULTURATujuan:1. Mempelajari dan memahami jenis-jenis hama utama tanaman hortikultura2. Mempelajari dan memahami pelaksanaan PHT pada tanaman hortikulturaMateri:IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Tanaman Hortikultura sangat penting untuk pemenuhan gizi pangan bagikesehatan dan kebugaran tubuh kita. Tubuh kita memerlukan gizi yang berasal darisayuran dan buah-buahan. Di samping untuk pemenuhan gizi juga untukpemenuhan rasa keindahan khususnya untuk tanaman hias. Di Indonesia banyaksekali jenis tanaman hortikultura tropika yang bernilai gizi, ekonomi dan keindahanyang tinggi sehingga dapat menjadi obyek agribisnis yang sangat menguntungkan.Karena banyaknya jenis tanaman hortikultura, kita kelompokkan menjadi 3kelompok besar yaitu:1. Tanaman Sayuran yang terdiri atas Sayuran Dataran Tinggi dan Sayuran Dataran Rendah2. Tanaman Buah-buahan3. Tanaman Hias Tanaman hortikultura mempunyai potensi ekonomi yang besar untukdikembangkan, tetapi sayangnya perhatian pemerintah, peneliti dan masyarakatterhadap pengembangan teknologi budidaya dan usaha tani tanaman hortikulturasangat sedikit dibandingkan dengan padi dan tanaman pangan lainnya. Karena itu,dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Thailand, Malaysia, Cina danAustralia kita sangat ketinggalan. Tidak heran bila saat ini pasar sayuran dan buah-buahan di negara kita banyak dikuasai oleh produk-produk impor. Data tentangproduksi dan ekspor hortikultura dari Indonesia tidak meningkat dari tahun ke tahun,malahan cenderung merosot. Kendala utama budidaya tanaman hortikultura adalah kurang tersedianyabenih bermutu, kesuburan tanah yang semakin menurun, dan ancaman seranganhama dan penyakit. Kehilangan hasil panen tanaman hortikultura yang diakibatkanserangan hama berkisar antara 46 sampai 100% atau gagal panen. Karenaketakutan petani terhadap serangan hama dan penyakit, petani hortikultura sangatmenggantungkan diri pada penggunaan insektisida dan fungisida. Penyemprotandengan pestisida di sayuran dan beberapa jenis buah-buahan sangat intensif,seperti kubis dapat mencapai 20 kali dalam satu musim. Pengeluaran untukpestisida pada tanaman kubis rata-rata 30% dari biaya produksi, sedangkan dikentang dapat mencapai 40%, tomat 50% dan cabai sampai 51%. Tentu sajakeadaan ini tidak efisien dan sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Keadaan petani hortikultura Indonesia berbeda dengan petani hortikultura diluar negeri yang usahanya sudah padat teknologi dan padat modal. Petani horti di 96
  • 99. Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3 menurut pengusahaan lahannya yaitu: 1)petani horti di pekarangan, 2) petani horti komersial di dataran rendah, dan 3)petani horti komersial di dataran tinggi. Petani horti pekarangan umumnyamenanam berbagai jenis sayuran dan buah-buahan di pekarangan untukkepentingan konsumsi keluarga. Sedangkan petani horti komersial memangmengusahakan untuk memperoleh produksi dan keuntungan. Namun ketigakelompok mempunyai ciri yang sama yaitu luas lahan yang terbatas dan modalyang pas-pasan. Kita belum mempunyai semacam usaha “perkebunan” sayuranatau perkebunan buah-buahan seperti di luar negeri. Oleh karena itu umumnyapetani horti di Indonesia belum banyak menguasai teknologi budidaya tanaman danperlindungan tanaman yang memadai, sehingga mereka sangat tergantung padakebiasaan petani di sekitarnya. Dengan demikian usaha hortikultura belum efisiendan ongkos produksi tinggi. Pada era perdagangan global sekarang sangat sulit untuk mengeksporproduk hortikultura karena kandungan pestisida yang tinggi, seperti telah terjadibanyak kubis dan kentang yang berasal dari Tanah Karo di Sumatera Utara tidakdapat masuk Singapura dan Malaysia karena kandungan residu pestisida. Produkbuah-buahan Indonesia pada tahun 2002 ditolak oleh negara Taiwan keranamengandung lalat buah. Sejak tahun 1990 sampai 1998 Pemerintah melaksanakan pelatihan PHTuntuk lebih dari 50.000 petani hortikultura di beberapa propinsi yang meliputi petanikubis, kentang, bawang merah, dan cabai merah. Dari evaluasi terhadappenerapan PHT oleh petani pada tanaman hortikultura terlihat bahwa untuktanaman kubis dan kentang petani dapat mengurangi penggunaan pestisidasampai 80%, peningkatan produksi dan kualitas produk sehingga sangatmenguntungkan. PHT tanaman cabe dan bawang merah jauh lebih baik hasilnyadibandingkan kebiasaan petani namun belum sebaik petani kubis dan kentang. Dari hasil-hasil sementara tersebut dapat disimpulkan bahwa satu-satunyacara memperbaiki produksi dan kualitas produksi tanaman hortikultura adalahmenerapkan dan mengembangkan teknologi PHT yang sesuai dengan jenistanaman, lokasi lahan, dan kondisi sosial ekonomi petani. Untuk dapatmengembangkan teknologi PHT yang sesuai diperlukan banyak kegiatan penelitiandan pengkajian.JENIS-JENIS HAMA HORTIKULTURA DAN CARA PENGENDALIANNYA Karena banyaknya jenis tanaman hortikultura di Indonesia yang akandiuraikan hanya terbatas pada jenis tanaman horti yang penting dilihat dari prospekbisnis, sedangkan jenis hama hanya dijelaskan hama-hama utama yang pada 5tahun terakhir ini menimbulkan masalah. Perlu diketahui bahwa sejak tahun 1995 terdapat 2 jenis hama “baru” yangkemudian menimbulkan masalah serius di pertanaman sayuran terutamamenyerang tanaman kentang. Dua jenis hama tersebut adalah hama pengorokdaun (Lyriomyza huidobrensis) dan Nematoda Sista Kuning (Globoderarostochiensis). Hama Lyriomyza bukan hama “asli” di Indonesia tetapi berasal daridaerah subtropik. Hama ini terbawa ke Indonesia karena ulah para penggemartanaman hias yang mengimpor bunga krisan dari Eropa melewati pemeriksaan 97
  • 100. petugas karantina tumbuhan di pintu masuk. Setelah tahun 1995 hama inimenyerang semua pusat tanaman kentang dan tanaman horti lainnya. Hamanematoda NSK baru diketahui memasuki Indonesia pada tahun 2002 yang lalu,terbawa oleh bibit kentang yang diimpor melalui Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.Saat ini NSK telah tersebar di semua pusat tanaman kentang di Indonesia. Salah satu jenis hama penting yang menyerang buah-buahan adalah lalatbuah (Batrocera spp) yang seringkali menjadi pembatas produksi dan ekspor buah-buahan di Indonesia seperti nangka dan jambu. Namun dengan penggunaan zatatraktan seperti metil eugenol dan tanaman selasih, pengendalian lalat buah dapatmengurangi kerugian petani buah-buahan oleh lalat buah.A. KELOMPOK SAYURANKelompok Sayuran meliputi tanaman-tanaman sayuran dataran tinggi (KUBIS,KENTANG, TOMAT) dan sayuran dataran rendah (CABAI, dan BAWANG MERAH)1. KUBIS a. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong, sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Serangan berat terjadi di awal musim kemarau. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik 4. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 5. Pemasangan umpan beracun b. Ulat Daun (Plutella xylostella) Gejala serangan: Tanaman yang diserang adalah tanaman muda. Seringkali juga merusak tanaman kubis yang sedang membentuk krop. Larva makan permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan lapisan epidermis bagian atas. Setelah jaringan daun lapisan epidermis pecah sehingga terjadi lubang- lubang pada daun. Kerusakan berat mengakibatkan tanaman kubis hanya tinggal tulang daun saja. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Mengumpulkan larva di sekitar tanaman dan mematikannya c. Ulat Krop (Crocidolomia binotalis) Gejala serangan: 98
  • 101. Larva muda bergerombol di permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan bercak putih pada daun yang dimakan. Larva instar ketiga sampai kelima memencar dan menyerang pucuk tanaman kubis sehingga menghancurkan titik tumbuh. Akibatnya tanaman mati atau batang kubis membentuk cabang dan beberapa crop yang kecil-kecil. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya2. KENTANG a. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Gejala biasanya terlihat pada pagi hari dengan adanya tanaman muda yang rebah karena dipotong oleh ulat di bagian pangkal batang. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik 4. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 5. Pemasangan umpan beracun b. Penggerek Umbi (Pthorimaea operculella) Gejala serangan: Daun yang terserang terlihat warna merah tua dan adanya jalinan seperti benang yang membungkus ulat kecil berwarna kelabu. Kadang- kadang daun kentang menggulung yang disebabkan karena larva telah merusak permukaan daun sebelah atas, kemudian bersembunyi dalam gulungan daun tersebut. Gejala serangan pada umbi dapat dilihat dengan adanya kelompok kotoran berwarna coklat tua pada kulit umbi. Apabila umbi dibelah, akan kelihatan “alur-alur” yang dibuat ulat sewaktu memakan umbi. Kerusakan berat pada pertanaman kentang sering terjadi pada musim kemarau. Di dalam gudang penyimpanan, OPT tersebut merusak bibit kentang yang disimpan selama 3-5 bulan sebelum tanam. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik c. Kutu Daun Persik (Myzus persicae) Gejala serangan: Kerusakan secara langsung akibat serangan kutu daun persik sebenarnya tidak terlalu merugikan. Kutu daun persik mengisap cairan daun, 99
  • 102. sehingga menyebabkan daun berkerut/keriting, tumbuhnya kerdil, kekuningan, daun-daunnya terpuntir, menggulung dan kemudian layu dan mati. Gejala yang lebih penting adalah gejala karena kerusakan secara tidak langsung, yaitu serangan penyakit virus yang ditularkan oleh kutu ini. Kutu daun persik merupakan vektor penyakit tanaman kentang antara lain PVA, PVY, PVM, dan PLRV. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Penyemprotan dengan insektisida selektif dan efektif d. Lalat Pengorok Daun (Lyriomyza huidobrensis) Gejala serangan: Lalat pengorok memakan daun dengan cara masuk ke dalam jaringan daun. Akibat serangan hama ini terdapat alur-alur pada daun yang dapat mempengaruhi fotosintesis. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak e. Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis) Gejala serangan: Pertanaman kentang berumur 70-80 hst yang terserang nematoda tampak daun-daun klorosis (menguning). Pengelolaan: 1. Pengolahan tanah 2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang3. CABAI a. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong, sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Larva dewasa kadang-kadang membawa potongan-potongan tanaman ke tempat persembunyiannya. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik 4. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 5. Pemasangan umpan beracun 6. Pemanfaatan musuh alami seperti Metarrhizium sp. 100
  • 103. b. Kutu daun persik (Myzus persicae) Gejala serangan: Serangan berat pada tanaman cabai muda (umur < 3 minggu) bila infestasinya tinggi daun akan berkerut keriting, tanaman akan tumbuh kerdil, layu dan kemudian mati. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempakc. Trips (Thrip palmi) Gejala serangan: Stadium Thrips yang sangat merugikan adalah stadium nimfa dan imago. Thrips menyerang tanaman dengan jalan menggaruk permukaan daun dan bunga, selanjutnya mengisap cairan sel tanaman. Gejala serangan pada daun akan terlihat bercak-bercak klorosis berwarna putih keperakan pada permukaan bagian bawah daun yang akan menyebabkan daun berkerut dan terpuntir. Bila serangan berat permukaan daun akan berkerut atau sedikit menggulung yang di dalamnya benyak ditemukan Thrips. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempakd. Kutu Daun Kapas (Aphis gossypii) Gejala Serangan: Serangan berat dapat terjadi apabila infestasi terjadi pada tanaman muda (< 3 minggu), dengan gejala daun berkerut keriting, tanaman akan tumbuh kerdil, layu dan kemudian mati. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman 2. Pengamatan secara teratur 3. Mengumpulkan kutu kemudian dimatikane. Lalat buah (Batrocera dorsalis) Gejala serangan: Gejala serangan lalat buah pada buah cabai ditandai dengan titik hitam pada pangkal buah, kemudian buah membusuk dan jatuh ke tanah. Hal ini disebabkan belatung memakan bagian dalam dan daging buah sehingga terjadi saluran-saluran di dalam buah. Buah yang terserang menjadi busuk, selanjutnya jatuh ke tanah. Pengelolaan: 1. Tanam serempak 2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 3. Mengumpulkan buah busuk yang rontok kemudian dibakar 101
  • 104. 4. Menggunakan perangkap beracun 5. Penyemprotan insektisida yang efektif dan selektif apabila ditemukan serangan sedang. f. Ulat grayak (Spodoptera litura) Gejala serangan: Larva makan dengan cara menyayat permukaan dau. Gejala serangan yang ditimbulkan adalah bercak-bercak putih transparan pada daun, karena bagian daging daun dimakan sedangkan bagian epidermis atas ditinggalkan. Ulat dewasa memakan seluruh bagian daun dengan meninggalkan bagian tulang daunnya. Pada serangan berat tanaman akan gundul. Pengelolaan: 1. Penanaman tanaman bukan inang 2. Mengumpulkan larva di sore/malam kemudian dimatikan 3. Penyemprotan dengan pestisida yang selektif g. Nematoda puru (Meloidogyne sp) Gejala serangan: Tanda kerusakan yang tampak pada bagian tanaman di atas permukaan tanah adalah tampak pertumbuhan yang kerdil, daun klorosis, pada cuaca panas daun-daun cepat layu dibanding tumbuhan sehat, daun- daun banyak yang gugur, tumbuhan tampak gundul, kadang-kadang tinggal daun pucuk. Tanda kerusakan pada bagian tanaman di dalam tanah diantaranya dekat ujung akar tampak kerusakan mekanis, berupa bercak berwarna coklat hitam, terutama pada infeksi populasi yang tinggi, terdapat kecenderungan pembentukan akar-akar cabang lebih sedikit daripada tumbuhan normal. Tampak adanya puru pada akar-akar utama. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inagn 2. Di daerah endemik dilakukan perlakuan tanah dengan nematisida yang efektif jika dijumpai serangan sedang.4. BAWANG MERAH a. Ulat bawang (Spodoptera exigua) Gejala serangan: Bagian tanaman yang diserang adalah daunnya, baik pada tanaman muda atau pada tanaman tua. Larva muda melubangi bagian ujung daun kemudian masuk dan memakan daging daun bagian dalam, sedangkan epidermis bagian luar ditinggalkan. Akibat serangan tersebut pada daun terlihat bercak-bercak putih menerawang tembus cahaya dan akhirnya terkulai dan mengering. Pada serangan berat seluruh bagian daun dimakannya. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 102
  • 105. 2. Tanam serempak 3. Pemusnahan kelompok telur di ujung daun b. Trips (Thrip tabaci) Gejala Serangan: Stadium nimfa dan imago merusak tanaman dengan cara menggaruk atau meraut jaringan daun dan mengisap cairan sel utamanya pada daun yang masih muda. Gejala serangan yang terlihat adalah daun bernoda putih mengkilat seperti perak, kemudian menjadi kecoklat-coklatan dengan bintik hitam. Pada serangan berat seluruh areal terlihat putih dan akhirnya tanaman akan mati. Serangan berat biasanya terjadi pada suhu rata-rata di atas normal disertai dengan hujan rintik-rintik dan kelembaban udara di atas 70%. Pada suhu tinggi atau dingin Thrips akan musnah. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman 2. Tanam serentak 3. Waktu tanam pertengahan April, awal Mei atau September 4. Penyemprotan insektisida efektif bila ditemukan tingkat serangan sedang5. TOMAT a. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong, sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Larva dewasa kadang-kadang membawa potongan-potongan tanaman ke tempat persembunyiannya. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik 4. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 5. Pemasangan umpan beracun b. Ulat Buah (Helicoverpa armigera) Gejala serangan: Ulat ini menyerang buah tomat dengan cara masuk ke dalam buah dan memakannya dari dalam. Buah akan tampak berlubang sehingga menurunkan kualitas. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya 103
  • 106. 4. Pemberian insektisida butiran melalui tanah pada saat menjelang berbunga 5. Penyemprotan insektisida yang selektif c. Kutu Kebul (Bemisia tabaci) Gejala serangan: Kutu menyerang permukaan daun bagian bawah. Kutu tersebut akan mengisap cairan daun sehingga daun akan berkerut yang akan mempengaruhi fotosintesis. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman 2. Tanam serempak 3. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannyaC. KELOMPOK BUAH-BUAHAN1. JERUK a. Kutu loncat jeruk (Diaphorina citri) Gejala serangan: Kerusakan karena aktivitas kutu loncat adalah daun jeruk menjadi berkerut-kerut, menggulung atau kering dan pertumbuhannya menjadi terhambat serta tidak sempurna. Selain daun muda, kutu ini juga mengisap cairan sel pada tangkai daun, tunas-tunas muda atau jaringan tanaman. Gejala lainnya adalah hasil sekresi atau kotorannya berupa benang berwarna putih dan bentuknya menyerupai spiral. Pengelolaan: 1. Memanfaatkan keberadaan musuh alami antara lain predator Curinus coreluos, Coccinella repanda, jamur Metarhizium sp. 2. Pengendalian secara kimiawi hendaknya dilakukan saat tanaman menjelang dan ketika bertunas. b. Kutu Daun (Toxoptera citricidus) Gejala serangan: Kerusakan karena hama ini tampak pada bagian tanaman muda seperti daun dan tunas. Daun yang terserang akan berkerut dan keriting serta pertumbuhannya terhambat. Pada bagian tanaman di sekitar aktivitas kutu daun tersebut terlihat adanya kapang hitam yang tumbuh pada sekresi. Pengelolaan: 1. Di alam populasi kutu daun dikendalikan oleh musuh alami. 2. Secara kultur teknis dengan menggunakan mulsa jerami di bedengan pembibitan jeruk agar dapat menghambat perkembangan populasi kutu. c. Kutu Perisai (Lepidosaphes sp) Gejala serangan: 104
  • 107. Bagian tanaman jeruk yang terserang adalah daun, buah dan tangkai. Serangan kutu tersebut menyebabkan daun berwarna kuning, terdapat bercak-bercak klorotis dan seringkali membuat daun menjadi gugur. Serangan yang lebih berat akan mengakibatkan ranting dan cabang menjadi kering. Jika serangan terjadi di sekeliling batang, akan menyebabkan buah gugur. Serangan pada buah mengakibatkan buah tampak kotor. Pengelolaan: 1. Musuh alami sangat menentukan perkembangan populasi kutu sisik. Oleh karena itu keberadaannya perlu diperhatikan. 2. Pengendalian secara kimiawi hendaknya menggunakan insektisida yang bersifat selektif. d. Ulat Penggerek Buah (Citripestis sagitiferella) Gejala serangan: Ulat menggerek buah sampai ke daging buah sehingga terlihat bekas lubang yang mengeluarkan getah seperti blendok, kadang-kadang tertutup dengan kotoran. Bagian buah yang terserang adalah separuh bagian bawah dan apabila parah, buah akan busuk dan gugur. Pengelolaan: 1. Untuk mencegah peletakan telur sebaiknya dilakukan pembungkusan pada buah jeruk yang masih muda. 2. Memetik buah jeruk yang telah terserang dengan interval setiap 10 hari kemudian menguburnya cukup dalam 3. Pemanfaatan musuh alami seperti parasit telur Trichogramma sp dan Bracon sp. 4. Pengendalian secara kimiawi pada saat telur belum menetas. Larva yang baru keluar akan segera terbunuh sebelum sempat menggerek. e. Kutu dompolan (Planococcus citri) Gejala serangan: Kutu menyerang tangkai buah dan meninggalkan bekas berwarna kuning kemudian kering sehingga banyak buah yang gugur. Pada bagian tanaman yang terserang tampak dipenuhi kutu-kutu putih seperti kapas. Pengelolaan: 1. Memanfaatkan musuh alami dengan cara menghindarkan penggunaan insektisida yang berlebihan 2. Mengatur kepadatan tajuk tanaman agar agar tidak terlalu padat dan saling menaungi 3. Mencegah datangnya semut yang sering memindahkan kutu2. MANGGA a. Procontariana matteina Gejala serangan: Daun yang terserang hama ini ditandai dengan adanya bisul-bisul kecil pada permukaan dan bawah daun. Ulat akan meninggalkan bekas 105
  • 108. lubang pada saat ulat keluar meninggalkan jaringan daun. Dalam satu daun tampak terdapat banyak sekali bintil-bintil kecil yang menyebabkan terganggunya proses fotosistesis sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Pengelolaan: Sanitasi lingkungan merupakan salah satu alternatif terbaik untuk mengendalikan hama ini. b. Penggerek cabang mangga (Rhytidodera simulans) Gejala serangan: Pada bagian cabang atau ranting yang terserang terdapat lubang dan alur gerek berwarna hitam. Apabila tertiup angin, cabang akan mudah patah, daunnya tampak layu, lama-lama kering dan mati. Lubang-lubang bekas gerekan dapat menyebabkan infeksi oleh serangan organisme lain. Pengelolaan: Pengendalian mekanik dengan cara memangkas cabang dan ranting terserang. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan cara injeksi pada batang tanaman dan dianjurkan saat tanaman tidak berbunga atau berbuah.3. PISANG a. Erionata thrax Gejala serangan: Daun pisang yang terserang hama ini akan terlihat robek. Hal ini disebabkan hama menggulung daun dari tepi ke arah tengah. Pengelolaan: 1. Secara fisik mekanik dengan cara pengambilan telur kemudian mematikannya 2. Mengumpulkan bagian daun yang sudah tergulung dan memusnahkannya b. Hama Uret Gejala serangan: Hama ini menyerang pisang bagian batang sampai ke umbi batang bagian bawah (bonggol) dan menyebabkan umbi berlubang. Pengelolaan: Dengan Seed treatment c. Kumbang Penggerek Batang (Cosmopolites sordidus) Gejala serangan: Tanaman yang terserang hama ini akan menunjukkan pertumbuhan yang kerdil, daun berkerut. Pada umumnya hama ini tumbuh pada tanaman pisang yang busuk. Pengelolaan: 106
  • 109. Pengendalian dengan sanitasi kebun. Memotong tanaman yang tercemar sampai ke bonggol bawah. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 10 PENGELOLAAN HAMA PERKEBUNAN DAN HAMA PASCA PANEN/HAMA GUDANGTujuan:1. Memahami dan mempelajari berbagai jenis hama tanaman perkebunan dan cara Pengelolaannya2. Memahami dan mempelajari berbagai jenis hama pasca panen dan cara pengelolaannyaMateri:PENGERTIAN DAN BATASAN Pengelompokan beberapa tanaman seperti kelapa, kopi, cengkeh, kelapasawit, kakao, karet, teh, tebu, kina, tembakau, lada sebagai tanamanperkebunan lebih dilandasi oleh faktor historis sejak zaman penjajahan Belanda.Guna memperoleh pendapatan dari negara jajahannya, Pemerintah Belandamengundang investor untuk membuka usaha perkebunan dengan komoditasekspor sehingga dapat meningkatan pendapatan pemerintah kolonial Belanda.Perusahaan Perkebunan ditandai dengan pengelolaan berorientasi bisniskeuntungan, pertanaman dengan luasan tanaman yang besar, ratusan sampairibuan hektar per kebun atau afdeling dan jumlah karyawan yang besar denganmenggunakan teknologi budidaya dan pengolahan hasil/pabrik yang modern. Jenistanaman yang dipilih adalah tanaman yang memiliki nilai ekspor tinggi sepertikakao, kopi, teh, kelapa sawit, cengkeh. Semula jenis tanaman perkebunanmencakup hanya tanaman tahunan (umur tanaman lebih dari 1 tahun), tetapikemudian diusahakan juga tanaman musiman atau berumur pendek (umurtanaman kurang dari 1 tahun) seperti gula dan tembakau, mengingat permintaandunia akan dua komoditas tersebut cukup tinggi. Sebelum PD II, Indonesia pernahmenjadi penghasil beberapa komoditas perkebunan yang besar di dunia. Karenaorientasi usaha perkebunan adalah ekspor, sejak sebelum PD II sampai sekarangharga komoditas perkebunan sangat ditentukan oleh harga pasar dunia. Perkembangan subsektor perkebunan setelah kita merdeka berbeda denganmasa kolonial Belanda. Perusahaan perkebunan yang semua dikelola olehperusahaan asing sebagian besar dialihkan ke perusahaan milik negara. Kegiatanperkebunan yang semula diarahkan untuk dilaksanakan oleh perusahaan besar kiniberkembang dan akhirnya diusahakan oleh petani kecil yang memiliki luas kebunyang kecil (kurang dari 5 hektar) bahkan seringkali di bawah satu hektar perkeluarga petani, kepemilikan modal dan teknologi yang terbatas, serta dikelola olehkeluarga petani. Jenis pengusahaan perkebunan oleh petani-petani kecil kemudiandikenal sebagai usaha Perkebunan RAKYAT. Karena dorongan dan fasilitasi 107
  • 110. pemerintah, perkebunan rakyat semakin lama semakin luas, jauh lebih luasdaripada luas perkebunan besar. Saat ini perkebunan dibagi menjadi dua kelompok yaitu Perkebunan Besardan Perkebunan Rakyat. Perkebunan Besar yaitu perkebunan dengan luas arealbesar yang dikelola oleh PT Perkebunan Negara dan PT Perkebunan SwastaNasional termasuk milik PT Pagilaran (Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM)atau Perkebunan Swasta Asing. Sedangkan perkebunan rakyat adalah usahaperkebunan yang dikelola oleh petani kecil. Dari sekitar 12 juta hektar luasperkebunan di Indonesia saat ini, lebih dari 70% adalah areal perkebunan rakyat. Jenis komoditas yang diusahakan oleh Perkebunan Besar dan PerkebunanRakyat ada yang sama tetapi ada yang berbeda. Beberapa komoditas perkebunanyang umumnya dikelola oleh rakyat saat ini adalah kelapa, lada, jambu mete dankapas. Sedangkan kelapa sawit pada umumnya dikelola oleh Perkebunan Besar.Komoditas-komoditas perkebunan lainnya seperti teh, kopi, kakao, karet, tebu,tembakau dikelola oleh Perkebunan Besar dan juga rakyat. Pemerintah dengan bantuan lembaga-lembaga internasional sepertiADB/Bank Pembangunan Asia dan World Bank/Bank Dunia telah banyakmelaksanakan program pembukaan, perluasan, intensifikasi dan rehabilitasiperkebunan rakyat sehingga luas perkebunan rakyat dan jenis tanamanperkebunan rakyat terus meningkat. Proyek pembangunan perkebunan yangterkenal adalah PIR (Perkebunan Inti Rakyat), yang menghubungkan PerkebunanBesar sebagai Kebun Inti dan Perkebunan Rakyat sebagai Kebun Plasma.Sayangnya dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan tersebut hanyadilakukan oleh pemerintah sedangkan pemberdayaan masyarakat tidakdilaksanakan, sehingga kelanjutan dari kegiatan pemerintah tersebut tidak dapatdijamin. Dalam melakukan pembahasan tentang pengelolaan hama perkebunan kitaakan mengkonsentrasikan pada Perkebunan Rakyat, meskipun kita ketahui bahwatidak ada perbedaan jenis-jenis hama yang menyerang perkebunan besar danperkebunan rakyat, namun tingkat dan jenis permasalahannya yang berbeda.MASALAH PERLINDUNGAN TANAMAN PERKEBUNAN RAKYAT Dibandingkan dengan perkebunan besar kondisi pertanaman perkebunanrakyat umumnya kurang terpelihara, produksi rendah, kualitas kurang baik akibatserangan berbagai jenis hama dan penyakit. Karena modal kurang sertakemampuan teknis rendah, biasanya setelah tanam petani tidak mampu melakukanpemeliharaan kebun termasuk pemangkasan, pengolahan tanah dan Pengelolaanhama dan penyakit. Kondisi kebun lemah dan tidak terpelihara serta meliputidaerah yang sangat luas akan membentuk kondisi ekosistem yang rentan hamadan penyakit. Hama penyakit akan menyebar dengan cepat ke seluruh kebun disuatu daerah. Kasus yang terjadi sekarang di Sulawesi dan propinsi-propinsi lainyakni munculnya serangan Penggerek Buah Kakao yang sedang menghancurkankakao rakyat. Kelemahan utama perkebunan rakyat adalah dalam hal penggunaan bibityang berkualitas rendah, kurang pemangkasan, pemupukan dan pemeliharaan lain,pengendalian hama yang tidak tepat dengan menggunakan pestisida kimia yang 108
  • 111. berlebihan, penanganan pasca produksi yang kurang baik. Akibatnya hasil rendah,kualitas turun dan tidak diterima di pasar karena kandungan residu pestisida tinggi,harga rendah dan akhirnya petani menderita kerugian yang cukup besar. Masalahhama dan penyakit seperti pada tanaman kakao, kopi, lada, kelapa, kapasseringkali menjadi faktor pembatas produksi perkebunan rakyat di Indonesia. Tanpapengetahuan dan ketrampilan tentang bagaimana mengelola hama para petaniperkebunan rakyat akan selalu mengalami kerugian dan kehilangan hasil akibatserangan hama.KONDISI EKOSISTEM KEBUN TANAMAN TAHUNAN Ekosistem perkebunan terutama tanaman tahunan relatif lebih stabil biladibandingkan dengan tanaman pangan sehingga sebenarnya risiko terjadinyaletusan hama lebih kecil, tetapi karena kondisi kebun yang kurang terpelihara bilaterjadi peningkatan populasi pada satu tempat akan secara cepat menjalar ketempat lainnya. Kondisi ekosistem kebun juga menguntungkan bagi penerapanpengendalian hayati terutama dengan predator, parasitoid dan patogen mengingatekosistem memiliki kondisi iklim mikro yang sesuai dan keanekaragaman tinggi bagiperkembangan musuh alami. Sebelum tahun 1960 banyak praktek pengendalian hayati klasik denganintroduksi musuh alami sukses mengendalikan beberapa hama penting padatanaman kelapa. Untuk komoditas perkebunan, penerapan PHT yangmengandalkan pengendalian hayati merupakan teknik pengendalian yang palingtepat. Melalui Program PHT Perkebunan Rakyat yang sampai tahun 2005dilaksanakan Pemerintah di 13 propinsi, beberapa teknologi PHT sepertipemanfaatan seresah untuk meningkatkan populasi predator, penyarungan buahkakao untuk mencegah peneluran ngengat Penggerek Buah Kakao, pemangkasandan penjarangan tanaman, perbanyakan dan pelepasan agens pengendalian hayatidengan patogen, panen bertahap, dan lain-lainnya ternyata dapat mengurangipopulasi hama dan kerusakan tanaman serta meningkatkan pendapatan petanipekebun. Produk-produk PHT perkebunan saat ini banyak dicari konsumendomestik maupun konsumen global karena kualitasnya tinggi serta bebas darikandungan residu pestisida yang membahayakan.MASALAH HAMA PASCA PANEN Perlu diketahui bahwa untuk semua kelompok tanaman baik tanamanpangan, hortikultura maupun perkebunan, kerusakan dan kerugian akibatgangguan hama dan penyakit pasca panen sangat besar. Kerugian yang dideritaoleh petani akibat serangan hama pasca panen adalah penurunan produksi danpenurunan kualitas produksi. Diperkirakan rata-rata kerugian hasil antara 25-30%.Kerugian terjadi sewaktu pengangkutan dan penyimpanan hasil panen sebelumdiolah dan dipasarkan. Hama Pasca Panen sering disebut juga sebagai HamaGudang. Petani seringkali tidak memperhatikan aspek-aspek fisika kimia prosespenyimpanan hasil panen sehingga mengundang serangan hama gudang. Petanijarang melakukan kegiatan khusus untuk mengendalikan hama-hama gudang. 109
  • 112. Upaya yang paling sering dilakukan adalah pengeringan dengan panas matahari.Berbagai jenis hama yang menyerang hasil panen di gudang penyimpanan dapatberasal dari atau terbawa dari pertanaman, atau hama-hama khusus yang memangmenyenangi ekosistem gudang. Pengendalian hama gudang khusus dilakukan di gudang-gudang milikperusahaan atau pemerintah seperi gudang BULOG. Karena ekosistem gudangdapat lebih mudah dikuasai maka pengendalian hama gudang biasanya dilakukandengan metode pengendalian fisik dan kimiawi dengan menggunakan fumigan.Banyak jenis fumigan berbahaya bagi kesehatan karena itu perlakuannya di gudangharus dilakukan secara hati-hati hanya oleh orang atau petugas yang telah terlatihatau bersertifikat.HAMA-HAMA PERKEBUNAN DAN PASCA PANENA. PERKEBUNAN1. KOPI a. Bubuk Buah Kopi (Hypothenemus hampei) Gejala serangan: Hama menyerang buah dengan cara menggerek. Lubang gerekan berbentuk bulat dengan diameter lebih kurang 1 mm dan umumnya dijumpai pada ujung buah. Lubang kadang-kadang sukar dilihat karena tertutup oleh kotoran atau sisa gerekan. Bubuk buah kopi pada umumnya menyerang buah yang bijinya telah cukup keras, namun demikian buah yang bijinya lunak juga diserang. Setelah menyerang buah yang bijinya lunak, hama segera keluar karena tidak bisa berkembang di dalamnya. Buah muda akan menjadi busuk dan kemudian gugur. Jenis kopi yang disukai adalah jenis Arabica, Robusta dan Liberica. Pengelolaan: 1. Memanfaatkan musuh alami seperti parasitoid Heterospilus coffeicola, jamur Spicaria javanica, predator Dindymus rubiginosus. 2. Memodifikasi lingkungan seperti mengurangi naungan dan melakukan pemangkasan. 3. Mengusahakan supaya selama jangka waktu tertentu tidak terdapat buah kopi, baik di pohon ataupun di tanah. Dengan demikian kumbang betina tidak mempunyai buah kopi untuk makanan atau untuk tempat berkembang biak. Hal tersebut dapat diusahakan antara lain melalui rampasan, lelesan, petik bubuk b. Bubuk Ranting Coklat (Xylosandrus morigerus) Gejala serangan: Hama ini menyerang tanaman kopi di pembibitan, tanaman muda dan tanaman dewasa. Di pembibitan hama menyerang bagian batang, sehingga daun menjadi kering dan seringkali menyebabkan kematian. Bila tanaman muda yang terserang maka pertumbuhan dan masa berbuah akan terhambat. Bubuk ranting coklat dapat menyerang sampai ke dalam akar tunggang. 110
  • 113. Pengelolaan: 1. Pemanfaatan musuh alami misalnya Tetrastichus sp. 2. Sanitasi kebun dengan membersihkan kebun dari cabang-cabang yang berserakan di bawah pohon, karena dapat menjadi sumber infeksi. Pada saat pemangkasan, cabang dan ranting yang terserang dikumpulkan kemudian dibakar. c. Kutu Hijau (Coccus viridis) Gejala serangan: Kutu pada umumnya terdapat di bagian bawah tanaman yang masih muda, daun atau ranting yang masih berwarna hijau. Pada daun, kutu dijumpai di permukaan bawah, terutama pada pertulangan daun. Bunga dan buah muda juga dapat terserang. Akibat tusukan dan pengisapan oleh kutu pada tanaman, warna hijau dari bagian yang terserang akan berubah menjadi kuning sehingga daun akan mengering dan gugur. Serangan pada ranting muda seringkali menyebabkan ranting mati dan daun gugur. Selain itu internoda juga menjadi pendek. Pengelolaan: 1. Secara alami dengan memanfaatkan predator Coccinella sp, parasitoid Coccophagus sp, jamur Cephalosporium sp. 2. Membersihkan pertanaman dari semut rangrang karena serangan kutu akan sangat merugikan apabila semut rangrang dibiarkan hidup. d. Kutu Dompolan (Planococcus citri) Gejala serangan: Hama menyerang pembungaan. Kuncup bunga dan buah muda yang baru muncul menjadi kering dan gugur karena kutu mengisap pada tangkai bunga dan tangkai buah. Bila buah yang diserang sudah cukup besar, buah tidak gugur tetapi pertumbuhannya terlambat dan berkerut. Bila populasi kutu tinggi, bagian tanaman yang lain seperti daun, tangkai daun dan cabang yang masih hijau juga diserang. Pengelolaan: 1. Memanfaatkan musuh alami seperti predator Scymnus sp, Cryptolaemus sp. 2. Secara mekanis dengan membuang bagian tanaman terserang yang merupakan sumber infeksi, missal pemangkasan. 3. Pengendalian kimiawi dengan menggunakan insektisida sistemik.2. KAKAO a. Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella) Gejala serangan: Ulat merusak buah kakao dengan cara menggerek buah, memakan kulit buah, daging dan saluran ke biji. Buah yang terserang lebih awal menjadi berwarna kuning, dan jika digoyang tidak berbunyi. Biasanya lebih berat dari yang sehat. Biji-bijinya saling melekat, berwarna kehitaman serta ukuran biji lebih kecil. 111
  • 114. Pengelolaan: Hama ini dapat dikendalikan dengan sanitasi, pemangkasan, membenam kulit buah, memanen satu minggu sekali, kondomisasi, serta dengan cara hayati/biologi seperti Trichogramma sp, cecopet.b. Kepik Pengisap Buah Kakao (Helopeltis sp) Gejala serangan: Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, tetapi sebaliknya pada buah muda. Buah muda yang terserang mengering lalu rontok, tetapi jika tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Serangan pada buah tua, tampak penuh bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman, kulitnya mengeras dan retak. Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan pucuk layu dan mati, ranting mengering dan meranggas. Pengelolaan: 1. Pemangkasan 2. Pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid Telenomus sp, jamur Beauveria bassiana, pemangsa cecopet, belalang sembah, laba-labac. Penggerek Batang/Cabang (Zeuzera coffeae) Gejala serangan: Hama merusak bagian batang/cabang dengan cara menggerek menuju xylem batang/cabang. Selanjutnya gerekan membelok ke arah atas. Menyerang tanaman muda. Pada permukaan lubang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Akibat gerekan ulat, bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana, layu, kering dan mati. Pengelolaan: 1. Membersihkan lubang gerekan dan ulat yang ditemukan dimusnahkan. 2. Secara mekanik dengan memotong batang/cabang terserang 10 cm di bawah lubang gerekan ke arah batang/cabang kemudian ulatnya dimusnahkan. 3. Pemanfaatan jamur Beauveria bassiana.d. Tikus dan tupai Gejala serangan: Buah kakao yang terserang tikus akan berlubang dan akan rusak atau busuk karena kemasukan air hujan dan serangan bakteri dan jamur. Tikus menyerang buah kakao yang masih muda dan memakan biji beserta dagingnya. Tikus menyerang malam hari. Gejala serangan tupai umumnya dijumpai pada buah yang sudah masak karena tupai hanya memakan daging buah, sedangkan bijinya tidak dimakan. Biasanya di bawah buah-buah yang terserang tupai selalu berceceran biji-biji kakao. Jadi tikus benar-benar hama, tetapi tupai tidak karena biji bisa dikumpulkan kembali. Tupai menjadi hama (merugikan) apabila biji-biji tadi tidak dikumpulkan. 112
  • 115. Pengelolaan: Pengelolaan tikus dilakukan dengan sanitasi, umpan racun3. KAPAS a. Sundapteryx bigutulla Gejala serangan: Tanda pertama dari serangan hama ini adalah menguningnya ujung daun dan agak mengkerut. Pada tingkat serangan berat, warna daun agak coklat memerah dan pertumbuhannya menjadi kerdil. Pada permukaan bawah daun yang terserang sering terdapat bercak berwarna kuning. Kemudian daun akan mengering dan gugur. Kuncup dan buah muda dapat membuka lebih awal dan gugur. Hama ini menyerang sejak tanaman muda di lapang. Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami kumbang kubah, kepik dan berbagai macam laba-laba. Secara fisik mekanik dengan mengumpulkan hama kemudian mematikannya. b. Penggerek pucuk (Earias vittela) Gejala serangan: Ulat penggerek pucuk memakan pucuk tanaman kapas sehingga menyebabkan kematian. Kuncup bunga dan buah muda akan rontok. Buah besar juga dimakan tetapi tidak menimbulkan kerontokan. Pengelolaan: Memanfaatkan musuh alami seperti Trichogramma sp, Brachymeria sp, Diadegma sp, laba-laba. c. Ulat buah (Helicoverpa armigera) Gejala serangan: Hama ini memakan daun, bunga dan buah kapas. Cara makannya dengan melubangi bagian bawah. Buah yang terserang akan menjadi busuk. Pengelolaan: Memanfaatkan musuh alami Trichogramma sp, Apanteles sp, Encarsia sp. d. Kutu daun (Aphis gossypii) Gejala serangan: Kutu ini memakan daun kapas dari bawah. Daun menggulung, dan tanaman tumbuh kerdil. Ada yang berwarna kuning, hijau dan hitam. Pengelolaan: Kumpulan kutu merupakan makanan paling enak untuk kumbang kubah. 113
  • 116. 4. TEH a. Tungau Jingga (Tenuipelpus obovatus) Gejala serangan: Hama ini merusak pada musim kemarau. Serangan hama berakibat sedikitnya pucuk teh yang dihasilkan. Serangan yang hebat menyebabkan hamparan teh tampak merata kecoklat-coklatan. Daun muda yang diserang akan gugur, sedangkan daun tua yang dan pada tangkainya berubah menjadi kecoklatan. Pengelolaan: 1. Penggunaan tanaman pelindung yang dapat mengurangi perkembangbiakan hama. 2. Pengelolaan dengan insektisida selektif dan efektif b. Ulat Penggulung Daun Teh (Enarmonia leucastoma) Gejala serangan: Enarmonia memiliki daya lekat yang berasal dari air liurnya pada tepi pucuk daun yang ditempatinya. Karena benang liurnya ditempatkan secara melintang, pucuk daun tersebut seakan-akan terikat sehingga sulit sekali untuk membuka dan ulat ini selanjutnya berada di dalam pucuk tanaman. Hama ini menggerek daun muda dari dalam daun. Terkadang lebih dari sehelai daun muda yang berhasil digereknya selama ulat itu tidak berpindah tempat. Gejala yang tampak jelas adalah pucuk daun teh yang menggulung dalam keadaan rusak di bagian dalamnya, pertumbuhan daun teh selanjutnya menjadi tidak normal. Pengelolaan: Pengelolaan dilakukan secara mekanik yakni dengan pemetikan daun teh yang menggulung dan melakukan sortasi terhadap daun-daun teh sewaktu penimbangan. Semua daun teh terserang dimusnahkan dengan berbagai cara diantaranya pembakaran. c. Ulat penggulung daun melintang (Homona coffearia) Gejala serangan: Ulat melakukan pengrusakan dari dalam daun sehingga daun tampak berkerut dan rusak. Ulat menggulung daun yang tidak terlalu tua sedang cara menggulungnya hampir sama dengan Enarmonia sp, tetapi hanya bagian tepinya saja yang dilekatkan. Pengelolaan: Pengelolaan dilakukan secara mekanik yakni dengan pemetikan daun teh yang menggulung dan melakukan sortasi terhadap daun-daun teh sewaktu penimbangan. Semua daun teh terserang dimusnahkan dengan berbagai cara diantaranya pembakaran. d. Setora nitens 114
  • 117. Gejala serangan: Biasanya menyerang daun muda dan tua, sehingga tidak mengherankan jika serangan berat dapat mengakibatkan perkebunan teh menjadi gundul. Pengelolaan: Menggunakan musuh alami seperti Cryptus caymorus, Chlorocryptus sp, Corypus javenus, kepik Sycanus sp, Canthecona sp.5. TEBU a. Penggerek Pucuk Putih (Schirpophaga nivella intacta) Gejala serangan: Bila serangan terjadi pada daun yang belum membuka, maka apabila daun telah membuka akan tampak deretan lubang pada daun yang ditembus larva berwarna coklat. Pada ibu tulang daun yang tergerek tampak lorong gerekan yang berwarna kecoklatan. Serangan pada titik tumbuh mengakibatkan kematian tanaman yang ditandai dengan mengeringnya daun-daun muda yang masih menggulung dan terletak di tengah tajuk yang dikenal sebagai “mati puser”. Daun termuda yang mati mudah dicabut. Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami parasit telur Telenomus sp. b. Penggerek Batang Bergaris Tebu (Chilo sacchariphagus) Gejala serangan: Ulat-ulat muda yang baru menetas hidup di dalam pupus, diantara daun-daun muda yang masih menggulung. Ulat-ulat itu memakan jaringan- jaringan daun. Akibatnya jika daun-daun muda sudah terbuka akan terlihat luka-luka pada daun yang memanjang dan tidak teratur. Ulat yang telah beberapa hari hidup dalam pupus kemudian akan turun melalui sebelah luar pucuk tanaman dan ulat akan menembus masuk ke dalam tanaman lagi melalui ruas tanaman. Bagian luar ruas muda yang digerek akan didapati lubang tepung gerek. Apabila ruas terserang dibelah akan terlihat lorong- lorong gerek lebar serta jalannya sangat tidak teratur. Dalam satu ruas terdapat satu atau lebih ulat. Pengelolaan: Pemanfaatan parasitoid telur Telenomus sp, Trichogramma sp, parasitoid larva Apanteles sp, dan parasitoid pupa Xanthopimpla sp. c. Kutu Bulu Putih (Ceratovacuna lanigera) Gejala serangan: Kutu sewaktu-waktu dapat mengeluarkan cairan yang mengandung gula. Cairan tersebut menetes ke permukaan daun di bawahnya. Tetesan cairan tersebut merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan cendawan jelaga yang berwarna hitam sehingga asimilasi akan terhambat. Serangan yang parah menyebabkan pertumbuhan terhambat serta tanaman menjadi kerdil. 115
  • 118. Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami Encarsia flavoscutellum. d. Tikus (Bandiota indica, rattus argentiventer) Gejala serangan: Tanaman tebu yang terserang menunjukkan tanda bekas keratan sepotong-sepotong pada batang tebu. Pada serangan berat mengakibatkan tanaman patah. Selain itu untuk mengetahui adanya tikus dapat pula dilihat jejak-jejaknya dan adanya lubang aktif dengan tanda khusus. Pengelolaan: 1. Pemasangan umpan beracun 2. Pemanfaatan musuh alami seperti kucing, ular, burung elang.6. KELAPA a. Kumbang Janur Kelapa (Brontispa longissima) Gejala serangan: Larva dan serangga dewasa hidup di dalam lipatan anak daun pucuk yang belum membuka, Larva menggerigiti dan mengorok kulit anak daun secara memanjang membentuk garis-garis. Akibatnya daun tidak mau membuka atau hanya membuka sedikit. Daun yang terserang mudah menjadi kering serta salah bentuk. Dari jauh, pucuk pohon kelapa yang terserang nampak kisut, keriting dan kering. Hal ini berpengaruh terhadap produksi buah. Tandan yang akan berkurang jumlah buahnya terutama yang berada di ketiak daun yang terserang tersebut. Pengelolaan: 1. Cara mekanis dengan mengerat sedalam-dalamnya pucuk yang terserang hama. 2. Pemanfaatan parasit larva Tetrastichus brontispae. b. Kumbang Nyiur (Oryctes rhinoceros) Gejala serangan: Bekas serangan dapat terlihat dari adanya potongan-potongan yang berbentuk segitiga pada daun kelapa. Bagian yang diserang adalah pucuk pohon dan pangkal daun muda, yaitu jaringan yang mengandung cairan yang kaya gizi. Bila titik tumbuh terserang, pohon kelapa akan mati karena tidak menghasilkan daun lagi. Serangan hama ini dapat mengakibatkan kerusakan sekunder seperti serangan kumbang tanduk kelapa, kumbang sagu dan cendawan. Pengelolaan: 1. Membersihkan semua tempat yang diduga menjadi tempat perkembangbiakan hama. Membakar tanaman yang mati akibat serangan hama. 2. Penggunaan jamur Metarhizium anisopliae 116
  • 119. c. Kumbang Sagu (Rhynchophorus sp) Gejala serangan: Larva merusak akar, batang dan tajuk tanaman muda. Pada tanaman dewasa hanya tajuknya saja. Apabila menyerang tajuk, gerekan pada pucuk dapat mengakibatkan patah pucuk dan jika larva mencapai titik tumbuh berakibat tanaman tidak dapat menghasilkan daun baru. Dari liang gerekan pada tanaman muda sering keluar lendir merah coklat. Pengelolaan: Serangan hama ini merupakan kelanjutan dari serangan kumbang Oryctes, karena itu serangan Oryctes harus dihindari. Dijaga pula supaya tidak terjadi luka-luka pada pohon kelapa. Secara preventif dengan memotong tanaman yang telah terserang dan mengambil serangga hamanya serta sanitasi kebun. Pemanfaatan parasit larva Scolia erratica dan tungau buas yang menyerang kepompong dalam “kokonnya”.d. Belalang Pedang (Sexava coreacea) Gejala serangan: Serangga muda dan tua memakan daun kelapa dari pinggir, meninggalkan bekas yang tidak rata. Serangan dimulai dari pelepah terbawah. Sebelum daun bagian bawah habis dimakan, mereka pindah ke daun sebelah atas. Serangan berat hanya meninggalkan beberapa pelepah pucuk sedangkan bagian bawah tinggal lidinya saja dan pohon kelapa sama sekali tidak menghasilkan buah selam 1-2 tahun. Pengelolaan: 1. Pengelolaan telur dengan pengolahan tanah, bercocok tanam atau pemberian insektisida ke dalam tanah. 2. Pengelolaan secara hayati dengan memanfaatkan parasit telur Leefmansia bicolor dan Tetrastichus sp. 3. Apabila parasit tidak mampu lagi menekan peningkatn populasi, dapat dilakukan injeksi batang dengan pestisida.e. Artona catoxantha Gejala serangan: Ada tiga tingkat gejala serangan: 1. Gejala serangan titik. Ulat muda memakan jaringan anak daun bagian bawah. Bekas yang dimakan menyerupai titik. 2. Gejala serangan bergaris. Ulat muda yang sudah lebih tua mengetam lapisan anak daun bagian bawah setempat-setempat. Bekas ketamannya seperti garis. 3. Gejala serangan pinggir. Ulat yang sudah dewasa memakan helaian anak daun dari pinggir ke tengah, sehingga anak daun itu terpotong tak teratur bagian pinggirnya. Akibat serangan Artona, daun tua tampak kering berwarna merah- coklat seluruhnya dan tinggal hijau segar hanya 2 atau 3 daun di pucuknya saja. Serangan Artona tidak sampai mematikan pohon kelapa. Serangan 117
  • 120. yang hebat menyebabkan buah termuda gugur, kemudian disusul oleh buah muda yang agak besar, kelapa muda dan akhirnya buah-buah tua. Serangan akan lebih hebat dan lama pengaruhnya saat awal musim kemarau. Pengelolaan: Secara mekanik dengan pemotongan pelepah daun tua pada periode kepompong kemudian dibakar. Beberapa musuh alami yang dapat mengendalikan hama ini Apanteles sp, Neoplecturs bicarinatus, Cadursia leefmansia, Goryphus inferus. Secara kimiawi dilakukan dengan memberikan insektisida sistemik melalui pengeboran batang atau pemotongan akar. Untuk tanaman yang masih rendah dilakukan penyemprotan tajuk.f. Kutu Kapuk Kelapa (Aleurodicus destructor) Gejala serangan: Serangga merusak daun kelapa karena mengisap cairan sel sehingga meninggalkan bekas berupa bercak-bercak kuning. Kutu ini secara berkoloni pada permukaan bawah daun. Permukaan bawah daun dimana ada koloni tampak tertutup oleh benang wol putih. Pengelolaan: Hama ini dapat dikendalikan oleh parasit Tetrastichus sp dan Encarsia sp. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan insektisida sistemik melalui suntikan.g. Kutu Perisai (Aspidiotus destructor) Gejala serangan: Hama menyerang dengan cara mengisap jaringan sehingga menimbulkan bercak kuning. Bercak ini jelas nampak dari bagian atas daun, sedangkan serangganya terdapat pada permukaan daun bagian bawah. Disebut serangan ringan apabila anak daun yang bergejala menunjukkan warna kuning emas pada tempat yang diduduki kutu perisai. Bila anak daun yang menunjukkan gejala tersebut dalam jumlah yang besar maka seluruh daun akan mati lebih dini dan warnanya berubah menjadi kelabu dengan sedikit merah jambu. Pada serangan yang sangat berat daun yang berkembang tetap kecil, tidak tegak dan kemudian tajuknya terkulai, akhirnya mati. Pengelolaan: Bila hanya beberapa anak daun yang terserang, cukup dengan membuang anak daun tersebut, bila seluruhnya sebaiknya pelepah dipangkas dan dibakar. Kutu-kutu ini sulit dikendalikan dengan insektisida karena tubuhnya ditutupi oleh lilin padat berbentuk perisai. Penggunaan musuh alami seperti Chilocorus politus sangat efektif mengandalikan kutu perisai.h. Penggerek Bunga Kelapa (Batrachedra arenosella) Gejala serangan: 118
  • 121. Akibat serangan larvanya yang menggerek seludang mayang untuk memakan bunga jantan dan betina, maka pada bekas liang gerekannya tadi keluar sejenis getah yang berwarna kuning dan dapat dilihat dari bawah. Bunga jantan akan menjadi hitam dan bunga betina mengeluarkan getah. Kerusakan biasanya terjadi pada perbungaan di pangkal mayang. Mayang yang terserang dapat sedikit menghasilkan buah, bahkan bila serangannya berat sama sekali tidak menghasilkan buah. Pengelolaan: Dititikberatkan pada cara hayati dengan menggunakan Chelonus sp. Dapat juga digunakan cara kimiawi dengan pelaburan seludang. i. Tikus Pohon Gejala serangan: Hama tikus hidup di atas pohon dan sering merusak buah-buah kelapa yang masih muda. Akibat serangan tersebut buah muda gugur. Pengelolaan: Karena populasinya umumnya rendah, jarang dilakukan pengendalian secara khusus. Pada umumnya dikendalikan dengan menggunakan senapan angin atau umpan racun. j. Bajing Gejala serangan: Hama menyerang buah kelapa yang tua atau yang daging buahnya telah tebal. Tiap ekor bajing dapat menghabiskan sebutir kelapa pada tiap kali makan. Mereka membuat sarang di atas pohon yang terbuat dari sabut pelepah kelapa atau aren dan daun-daun kering. Pengelolaan: Pada umumnya dilakukan dengan diburu menggunakan senapan angin.B. PASCA PANEN1. BERAS a. Bubuk beras (Sitophilus sp) Gejala serangan: Larva berada dalam butiran, demikian pula kepompongnya. Serangga dewasa yang muncul dari kepompong akan keluar dari butiran-butiran beras sehingga mengakibatkan butir-butir beras berlubang. Selain itu, komoditas yang terserang menjadi kelihatan kotor karena ekskresinya maupun sisa-sisa kulit larvanya. 119
  • 122. b. Kupu-kupu beras (Corcyra cephalonica) Gejala serangan: Ulat akan menggandeng-gandeng butir-butir beras dengan benang liurnya. Ulatnya hidup di dalam gendengan beras tersebut dan menggerek dari dalam.2. Biji-bijian a. Kumbang tepung (Tribolium sp) Gejala serangan: Jenis komoditas yang diserang antara lain tepung, kacang tanah, beras, dan kopra. Material yang berbentuk biji-bijian bila diserang akan berlubang-lubang, sedangkan material yang berbentuk tepung akan kelihatan kotor karena ekskresinya maupun sisa-sisa kulit larva. b. Penggerek biji-bijian (Rhyzoperta dominica) Gejala serangan: Jenis komoditas yang diserang antara lain padi-padian, ketela pohon, gaplek, dan jagung. Baik larva maupun dewasa merupakan pemakan yang sangat rakus, kerusakan pada komoditas yang disimpan lebih hebat dibandingkan dengan serangga hama yang lain. Hama ini bertindak sebagai hama primer. Material yang diserang akan berlubang-lubang. c. Kumbang padi-padian bergerigi (Oryzeaphilus sp) Gejala serangan: Hama ini merupakan hama sekunder pada material yang utuh tetapi merupakan hama primer pada material yang telah digiling. Beberapa komoditas yang diserang antara lain padi-padian, kopra, beras, dedak, rempah-rempah, dan buah-buahan yang dikeringkan. Material yang terserang akan berlubang.3. Umbi-umbian a. Cylas formicarius Gejala Serangan: Umbi yang terserang terdapat lubang dan membuat lorong gerekan. Apabila serangan masih baru biasanya dari lubang tersebut keluar sisa gerekan berwarna keputih-putihan. Lama-kelamaan di sekitar lubang menjadi busuk. Apabila umbi tersebut dibelah maka akan tampak lubang- lubang serta jalur-jalur bercabang-cabang. Akibatnya ubi akan terasa pahit. 120
  • 123. 4. Tembakau a. Lasioderma serricorne Gejala serangan: Hama ini dikenal dengan sebutan “cigarette beetle” karena kumbang ini merupakan hama penting pada simpanan tembakau dan cerutu. Pada awalnya serangga dewasa meletakkan telur di antara bahan (tembakau) dan setelah menetas langsung membuat rongga dan merusak bahan. Komoditas yang terserang akan mengalami kerusakan dengan adanya bekas gerekan larva sehingga akan menurunkan kualitas tembakau atau cerutu. Hama pasca panen lain yang juga sangat membahayakan komoditas di dalam simpanan adalah tikus. Jenis-jenis tikus yang umum ditemukan dan merusak di gudang penyimpanan diantaranya tikus wirok, tikus riul, tikus sawah, tikus rumah, dan mencit rumah. Selain memakan biji-bijian, umbi-umbian dan beberapa jenis buah-buahan, tikus juga memiliki kebiasaan menggigit benda- benda seperti kayu, plastik, dan lain-lain. Tikus aktif pada malam hari. Untuk mengetahui ada tidaknya tikus di gudang dapat dilakukan pemeriksaan kotoran yang biasanya dapat ditemukan di atas lantai gudang, pemeriksaan terhadap kerusakan/bekas serangan tikus, misalnya karung goni yang sobek, komoditas simpanan yang berceceran di lantai. Selain itu juga dapat melihat adanya sarang di dalam atau di luar gudang. Pengelolaan tikus dapat dilakukan dengan Rodent Proofing untuk mencegah keluar masuknya tikus. Eradikasi di dalam gudang dapat dilakukan dengan cara gropyokan (jika memungkinkan) dan fumigasi. Umpan beracun, perangkap, gropyokan dan emposan juga dapat dilakukan di luar gudang. Pengelolaan hama-hama pasca panen: 1. Sanitasi sangat penting dilakukan untuk menghindari munculnya hama pasca panen. Sanitasi dapat meliputi sanitasi gudang, sekitar gudang, dan komoditas. 2. Spraying Spraying bertujuan untuk pencegahan terhadap barang yang disimpan supaya tidak terinfeksi oleh hama dan mengurangi tingkat perkembangan hama serta pencegahan serangan kembali. Spraying dengan insektisida dilakukan pada bangunan gudang, ruangan, permukaan karung, dan dicampur langsung dengan biji-bijian. Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan spraying adalah menghindari terjadinya kontak langsung antar tubuh, kulit dengan insektisida, dosis dan aplikasi harus tepat agar tidak terjadi penumpukan residu, waktu aplikasi tepat, dan dipastikan tidak ada hewan atau manusia di sekitar tempat yang dispraying. 3. Fogging Fogging merupakan salah satu cara yang efektif memberantas serangga yang aktif terbang di dalam ruangan tertutup, seperti gudang. Biasanya menggunakan insektisida yang mudah menguap. 4. Fumigasi 121
  • 124. Fumigasi merupakan suatu cara Pengelolaan hama menggunakan fumigan. Cara ini tidak dapat dipakai sebagai tindakan preventif karena setelah gas hilang tidak mempunyai efek residu terhadap hama sehingga kemungkinan reinfestasi hama sewaktu-waktu dapat terjadi. Fumigasi lebih bersifat eradikatif.5. Di gudang tembakau biasanya digunakan lampu perangkap berwarna merah karena hama Lasioderma sp tertarik dengan cahaya merah. 122
  • 125. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 12 KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TANAMANTujuan:1. Mempelajari dan memahami latar belakang sejarah perkembangan PHT di Indonesia2. Mempelajari dan memahami pelaksanaan SLPHT3. Mempelajari dan memahami penerapan PHT sebagai kebijakan perlindungan tanaman nasionalMateri:LANDASAN HUKUM Di Indonesia ada beberapa peraturan perundang-undangan atau landasanhukum yang berkaitan dengan kegiatan Perlindungan Tanaman. Yang dimaksudperaturan perundang-undangan di sini meliputi:• Undang-Undang (disyahkan oleh DPR dan Pemerintah),• Peraturan Pemerintah (disyahkan oleh Pemerintah/Presiden dengan pemberitahuan pada DPR)• Keputusan Presiden (Keppres) dan Instruksi Presiden yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh Presiden• Keputusan Menteri Pertanian dikeluarkan dan ditandatangani oleh Menteri Pertanian Peraturan-peraturan yang tingkatannya di bawah KepmenTan mulai dariPeraturan Direktorat Jenderal sampai Peraturan Daerah tidak akan dibahas. Ada beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur kebijakan danpelaksanaan perlindungan tanaman yaitu:1. UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman2. PP No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman3. PP No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida4. Inpres No. 3 Tahun 1986 tentang Peningkatan Pengendalian Hama Wereng Coklat pada Tanaman Padi.5. KepmenTan No.434.1/Kpts/2001 tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida6. KepmenTan No. 517/Kpts/2002 tentang Pengawasan Pestisida7. Kpts Bersama Mentan dan Menkes 711/Kpts/1996 tentang Batas Maksimum Residu Pestisida Pada Hasil Pertanian. 123
  • 126. Semua kegiatan perlindungan tanaman di Indonesia baik yang dilaksanakanoleh Pemerintah, petani maupun masyarakat harus didasarkan pada peraturanperundang-undangan tersebut, termasuk pasal-pasal mengenai Tindakan Pidanayang diberlakukan bagi pihak yang melakukan pelanggaran atau yang tidak sesuaidengan peraturan yang berlaku.SEJARAH PHT SEBAGAI KEBIJAKAN NASIONAL Dilihat dari sejarah, PHT dalam kebijakan perlindungan tanaman telah lamadibahas dan disarankan oleh para pakar perlindungan tanaman kepadaPemerintah. Sejak tahun 1970 Komisi Perlindungan Tanaman telah mendesakPemerintah untuk menerapkan PHT dalam setiap program perlindungan tanaman.Namun karena Pemerintah masih asyik melaksanakan program BIMAS denganPanca Usaha Tani dimana pada usaha ke-4 (Pengendalian Hama dan Penyakit)lebih mengutamakan penggunaan pestisida kimia, maka usulan KomisiPerlindungan Tanaman kurang diperhatikan. Saran para pakar tentang penerapanPHT baru diperhatikan Pemerintah setelah terjadi letusan wereng coklat yangmenyerang tanaman padi seluas hampir 1 juta hektar pada tahun 1979-1980.Akhirnya pada tahun 1986 Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden No. 3/1986yang terdiri atas banyak butir, yang paling penting diantaranya:1. Pengendalian hama wereng coklat padi dengan prinsip PHT, antara lain dengan penanaman VUTW, tanam serentak, pergiliran tanaman, penggunaan pestisida kimia secara selektif terutama yang berbahan aktif buprofezin (kelompok IGR)2. Sebanyak 57 formulasi pestisida kimia dinyatakan dilarang digunakan untuk pengendalian hama padi.3. Para petugas lapangan dan petani harus ditingkatkan kemampuannya dalam menerapkan PHT melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan. Sebagai tindak lanjut Inpres 3/1986, dengan bantuan dana internasionalyang berasal dari Pemerintah Belanda, Amerika Serikat dan Bank Dunia, sejaktahun 1989 Pemerintah menyelenggarakan kegiatan SLPHT sebagai wahanapelatihan petugas dan petani padi dalam menerapkan dan mengembangkan PHT.Empat Prinsip PHT yang dikembangkan sendiri oleh petugas dan petani dalamSLPHT yaitu:1. Budidaya Tanaman Sehat2. Pelestarian dan Pemanfaatan Musuh Alami3. Pengamatan Mingguan4. Petani sebagai “Ahli” PHT Sampai akhir tahun 1998 sekitar satu juta petani dan ribuan petugas (PHPdan PPL) telah mengikuti SLPHT. Peranan sivitas akademika UGM dalampersiapan Inpres 3/1986, persiapan dan pelaksanaan program SLPHT di tingkatnasional sangat menonjol, bahkan diakui oleh dunia internasional. Secara politikpelaksanaan SLPHT memberikan tekanan yang kuat pada Pemerintah dan DPRsehingga pada tahun 1992 disyahkan UU No. 12 tahun 1992 tentang SistemBudidaya Tanaman. Sebagai tindak lanjut UU tersebut, Pemerintah mengeluarkanPP No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman.PHT MENURUT UNDANG-UNDANG 124
  • 127. Menurut UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanamandikatakan bahwa “Perlindungan tanaman adalah segala upaya untuk mencegahkerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggutumbuhan”. OPT diartikan sebagai semua organisme yang dapat merusak, mengganggukehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan. OPT dapat dikelompokkandalam kelompok hama, penyakit dan gulma. UU No. 12 pada Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman pasal 20menyatakan dua hal: (1) Perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (Sistem PHT). (2) Pelaksanaan perlindungan tanaman sebagaimana dimaksud ayat (1), menjadi tanggungjawab masyarakat dan Pemerintah. Menurut UU dan PP tersebut yang dimaksud Sistem PHT adalah upayapengendalian populasi atau tingkat serangan OPT dengan menggunakan satu ataulebih dari berbagai teknik pengendalian yang dikembangkan dalam suatu kesatuan,untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkunganhidup. Dalam sistem ini penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir.Pengendalian OPT bersifat dinamis.TEKNOLOGI PENGENDALIAN TERPADU Sebagai landasan kebijakan perlindungan tanaman, UU tersebut telahmenentukan bahwa untuk pengendalian setiap jenis OPT harus dilakukan denganmemadukan berbagai teknik pengendalian hama yang kompatibel. Dalampemilihan teknologi pengendalian, UU menekankan bahwa penggunaan pestisidakimia sebagai alternatif terakhir. Apabila sampai saat ini ada pejabat, petugas ataumahasiswa yang berpendapat bahwa penggunaan pestisida kimia harusdilaksanakan, berarti bahwa mereka belum mengetahui mengenai kebijakanperlindungan tanaman nasional. Sebagai penjabaran UU No. 12 Tahun 1992, PP No. 6 Tahun 1995 tentangPerlindungan Tanaman telah merinci mengenai penerapan teknologi pengendalianOPT secara terpadu khususnya pada pasal 8 sampai pasal 16. Pasal-pasaltersebut menekankan pentingnya kegiatan pemantauan dan pengamatan OPTsebelum dilaksanakan tindakan pengendalian (pasal 9). Pasal 10 menguraikanbeberapa komponen PHT yang meliputi:a. cara fisik melalui pemanfatan unsur fisika tertentu,b. cara mekanik, melalui penggunaan alat dan atau kemampuan fisik manusia,c. cara budidaya, melalui pengaturan kegiatan bercocok tanamd. cara biologi, melalui pemanfaatan musuh alami OPTe. cara genetik, melalui manipulasi gen baik terhadap OPT maupun tanamanf. cara kimiawi, melalui pemanfaatan pestisida, dan ataug. cara lain sesuai perkembangan teknologi 125
  • 128. PERLINDUNGAN TANAMAN TANGGUNGJAWAB MASYARAKAT UU menyatakan bahwa teknik pengendalian OPT tidak seragam atau statistetapi dinamis sesuai dengan keadaan ekosistem lokal. UU juga menyatakanbahwa tujuan PHT bukan membasmi atau memusnahkan hama tetapi mencegahkerugian secara ekonomis, dan lingkungan. Kalau kita ke desa-desa di pulau Jawa apalagi di luar Jawa adakecenderungan yang memprihatinkan tentang kesadaran dan pengertianmasyarakat tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap kegiatanpengendalian OPT serta perbaikan teknologi budidaya di tempatnya masing-masing. Petani cenderung menyerahkan kegiatan pengendalian pada aktivitaspetugas Pemerintah khususnya Dinas Pertanian atau Dinas Perkebunan. Petanibanyak pasif dan menunggu tindakan pemerintah dalam menanggulangi OPT yangsedang eksplosif. Keadaan ini tidak baik karena kegiatan pengendalian selaluterlambat, menjadi tidak efektif karena populasi hama telah meningkat danmenyebar di daerah yang luas. Dalam kondisi populasi dan serangan OPT yangsedang dalam keadaan eksplosif pengendalian sangat sulit dilakukan. Kegiatanpengendalian yang paling baik harus dilakukan sedini mungkin oleh masyarakatpetani sendiri tidak bergantung pada inisiatif pemerintah. Kalau kita baca UU 12/1992 pasal 20 dikatakan bahwa “Pelaksanaanperlindungan tanaman menjadi tanggungjawab masyarakat dan Pemerintah”. UUtersebut menyatakan bahwa pada dasarnya perlindungan tanaman menjaditanggungjawab masyarakat. Dalam hal-hal tertentu seperti terjadinya eksplosi suatujenis OPT yang luas, pelaksanaan perlindungan tanaman dilakukan olehmasyarakat bersama Pemerintah. Pemerintah dalam hal ini akan memberikanfasilitasi dalam hal penyediaan teknologi, ketrampilan dan sarana pengendalian dilapangan. Dalam melaksanakan kegiatan pengendalian di lapangan atau padalahan milik petani sepenuhnya dilaksanakan oleh masyarakat petani. Apa sebab petani pasif, acuh tak acuh serta menyerahkan sepenuhnyatindakan pengendalian OPT pada Pemerintah? Penyebab utama karena rendahnyakualitas kesadaran, pengetahuan dan ketrampilan petani dalam melakukanpengelolaan ekosistem pertanian mereka termasuk dalam melakukan pengendalianOPT. Dengan rendahnya kualitas SDM petani kita, mereka tidak mampu mengelolalahan pertaniannya secara produktif dan profesional. Keadaan ini diperparahdengan kepemilikan modal kerja dan tanah garapan yang sangat marginal.Akibatnya hasil, kualitas dan harga produk pertanian dan perkebunan rakyat lebihsering rendah sehingga tidak dapat memberikan penghasilan yang cukup bagikeluarga petani. Kegiatan SLPHT (Sekolah Lapangan PHT) memberikan alternatif yangterbaik untuk meningkatkan kualitas petani dan pekebun sehingga mereka secaramandiri dan aktif dapat mengelola lahan pertanian atau perkebunannya secaraprofesional dan dapat memanfaatkan sebanyak mungkin sumber daya alam yangada di sekitarnya sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki kuantitas dankualitas hasil yang tinggi. Tujuan pelatihan dalam SLPHT tidak hanya untukpenerapan pengendalian hama dengan prinsip dan teknologi PHT tetapi lebihkomprehensif yaitu mengelola ekosistem pertanian secara terpadu sehinggadiperoleh produksi dan hasil yang menguntungkan petani dengan mempertahankanpopulasi hama dan OPT pada umumnya pada tingkat yang tidak merugikan hasil. 126
  • 129. Kegiatan pemberdayaan petani dengan SLPHT sangat berbeda dengankegiatan penyuluhan pertanian konvensional yang masih sering dilaksanakan olehpara petugas penyuluh lapangan secara rutin yang dikenal dengan kegiatan LAKU(Latihan Kunjungan). Perbedaan utama adalah pada proses pembelajaran. Prosespembelajaran pada penyuluhan konvensional dari atas (petugas penyuluh) kebawah (petani), tetapi pada SLPHT adalah pembelajaran bersama dari bawah(petani) ke atas (kelompok tani dan masyarakat). Para Pemandu lapangan (PL) diSLPHT tidak berperan sebagai instruktor tetapi sebagai teman belajar dan fasilitatorpetani peserta SLPHT.PELAKSANAAN SLPHT Sebanyak 20-25 petani dipilih sebagai peserta kelompok SLPHT yangdipandu oleh 2 PL. Program pelatihan dilaksanakan selama satu musim tanam atausekitar 3 bulan untuk tanaman musiman (padi, kedelai, bawang merah, cabe, kubis,kentang, kapas), dan sekitar 3-4 bulan untuk tanaman tahunan (kopi, kakao, teh,lada, jambu mete). Kelompok tani bertemu setiap minggu sekali pada hari yang ditetapkankelompok. Mereka belajar tidak di ruang tertutup tetapi langsung di lapangan, padapetak pembelajaran yang dibagi dua sub petak yaitu petak PHT dan petakKebiasaan Petani sebagai pembanding. Atas bimbingan para PL petani belajar mengamati, mengumpulkan OPT danmusuh alami, melakukan analisis ekosistem serta mengambil keputusanpengelolaan ekosistem sesuai dengan analisis hasil pengamatan. Merekamempelajari dinamika ekosistem, dinamika hama dan musuh alami sertamengambil keputusan secara berkelompok. Hasil keputusan kelompok segeradilaksanakan di kebun pembelajaran, pembahasan hasil pada minggu berikutnya,dan seterusnya sampai tanaman dipanen. Petani membandingkan hasil yangdiperoleh dari petak PHT dengan petak Non PHT yang masih mengandalkanpenggunaan pestisida. Pada setiap hari pertemuan SLPHT dari jam 7 pagi sampai 13.00 siang diisidengan acara:• Pengamatan dan pengambilan sampel hama dan musuh alami• Analisis Agroekosistem• Pengambilan Keputusan Secara Berkelompok• Topik Khusus untuk melakukan kajian topik-topik tertentu sesuai kebutuhan kelompok• Dinamika Kelompok untuk meningkatkan kekompakan kelompok Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh tim independen baik terhadap SLPHTPangan maupun SLPHT Perkebunan diperoleh kesimpulan yang hampir samayaitu:1. Produksi petak PHT lebih tinggi2. Kualitas produk lebih baik sehingga memperoleh penghargaan yang lebih tinggi3. Penggunaan insektisida dan fungisida sangat menurun4. Penggunaan pengendalian hayati dengan agens pengendalian hayati meningkat 127
  • 130. 5. Kemampuan dan kepercayaan diri petani terhadap konsep dan teknologi PHT meningkat6. Keuntungan usaha petani meningkat. Sayangnya saat ini perhatian Pemerintah terhadap tindak lanjut programpelatihan SLPHT Pangan menurun karena diserahkan kepada pembiayaanPemerintah Daerah, sedangkan kegiatan SLPHT Perkebunan masih berjalansampai akhir 2005. Jumlah petani yang telah mengikuti SLPHT masih terlalu kecildibandingkan dengan jumlah petani pangan dan perkebunan di Indonesia yangbekisar antara 30-40 juta.KEBIJAKAN TENTANG PENDAFTARAN, PEREDARAN DAN PENGGUNAANPESTISIDA Pada dasarnya pestisida merupakan bahan kimia yang memiliki risikobahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan sehingga penggunaannya perludilakukan secara hati-hati dengan pengawasan yang ketat. Karena itu setiapnegara harus membuat peraturan yang berhubungan dengan pendaftaran,perijinan, peredaran, penggunaan dan pengawasan pestisida. Secara historis sejaktahun 1970 Pemerintah telah menerapkan prosedur pendaftaran dan perijinanpestisida yang mengacu tatacara yang berlaku secara internasional. Pada tahun1973 diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 7/1973 tentang Pengawasan atasPeredaran, penyimpanan dan penggunaan Pestisida.Pasal 2 PP 7/1973 menyatakan bahwa:1) Setiap orang atau badan hukum dilarang menggunakan pestisida yang tidak didaftarkan atau memperoleh izin Menteri Pertanian2) Prosedur permohonan pendaftaran dan izin diatur lebih lanjut oleh Menteri Pertanian3) Peredaran dan penyimpanan pestisida diatur oleh Menteri Perdagangan atau Menteri PertanianPasal 31) Izin yang dimaksudkan diberikan sebagai IZIN TETAP, IZIN SEMENTARA atau IZIN PERCOBAAN2) Izin sementara dan izin percobaan diberikan untuk jangka waktu 1 tahun3) Izin tetap diberikan untuk jangka waktu 5 tahun, dengan ketentuan bahwa izin tersebut dalam jangka waktu itu dapat ditinjau kembali atau dicabut apabila dianggap perlu karena pengaruh samping yang tidak diinginkan. Meskipun sudah ada UU No. 12 Tahun 1992 dan PP 6 Tahun 1995 yang didalamnya juga mengandung pengaturan tentang pestisida, namun PP No.7 Tahun1973 belum dicabut sehingga masih diberlakukan sampai saat ini. Mengenaipengaturan pestisida UU No. 12/1992 menyatakan bahwa:“Pestisida yang akan diedarkan dalam wilayah Negara RI wajib terdaftar, memenuhistandar mutu, terjamin efektivitasnya, aman bagi manusia dan lingkungan hidup,serta diberi label” 128
  • 131. “Pemerintah melakukan pendaftaran dan mengawasi pengadaan, peredaran sertapenggunaan pestisida”.“Pemerintah dapat melarang atau membatasi peredaran dan/atau penggunaanpestisida tertentu” Dalam melaksanakan tugas pendaftaran dan pengelolaan pestisida secaranasional, Menteri Pertanian dibantu oleh KOMISI PESTISIDA atau terkenal dengannama KOMPES. Komisi mempunyai tugas:1. Memberikan saran dan pertimbangan kepada Menteri Pertanian sebagai bahan dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan di bidang pestisida.2. Mengkoordinasikan instansi/pihak terkait baik di dalam dan di luar Departemen Pertanian di bidang pestisida kepada Menteri Pertanian,3. Melakukan evaluasi data/informasi dalam rangka pendaftaran pestisida,4. Melakukan evaluasi terhadap pestisida yang telah terdaftar dan telah memperoleh izin Menteri Pertanian. Saat ini Komisi Pestisida di bawah koordinasi Dirjen Bina Sarana Pertaniandan anggota-anggotanya dari seluruh jajaran Pemerintah Pusat yang berkaitandengan pengelolaan pestisida seperti dari DepKes, Kementerian Lingkungan Hidup,Dep. Tenaga Kerja, dll beserta beberapa pakar pestisida. Untuk melaksanakantugas ke-3 dan ke-4 Kompes membentuk Tim Pakar Evaluasi Pestisida. Peraturan tentang prosedur perijinan pestisida telah beberapa kali direvisiyang terbaru adalah SK Mentan No. 434.1/Kpts/2001 tentang Syarat dan TatacaraPendaftaran Pestisida. Pendaftaran pestisida dipersyaratkan dalam bentuk BahanTeknis dan Bahan Formulasi. Sampai bulan Mei 2004 ini sekitar 1000 formulasipestisida telah terdaftar untuk pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan,pengendalian vektor penyakit manusia, pengendalian rayap, pestisida rumahtangga, fumigasi, pestisida industri, dll.KELEMBAGAAN PERLINDUNGAN TANAMAN Dengan telah diundangkannya UU tentang Otonomi Daerah yaitu UU22/1999 maka terjadi perubahan struktur, wewenang serta status kepegawaianbeberapa lembaga perlindungan tanaman nasional. BPTPH (Balai ProteksiTanaman dan Hortikultura) Propinsi yang dahulu berada di bawah strukturDepartemen Pertanian Pusat sekarang berada di bawah Pemerintah DaerahPropinsi.Kelembagaan Pemerintah Pusat Dalam organisasi Departemen Pertanian, lembaga-lembaga yang tugas danfungsi khususnya perlindungan tanaman terdapat di 4 Direktorat Jenderal dan 1(satu) Badan yaitu:1. Direktorat Jendral Bina Sarana Pertanian yang membawahi Direktorat Pupuk dan Pestisida2. Direktorat Jendral Bina Produksi Tanaman Pangan yang membawahi Direktorat Perlindungan Pangan 129
  • 132. 3. Direktorat Jendral Bina Produksi Hortikultura yang membawahi Direktorat Perlindungan Hortikultura4. Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan yang membawahi Direktorat Perlindungan Perkebunan5. Badan Karantina Pertanian yang membawahi Karantina Tumbuhan Dalam struktur organisasi Pemerintah Pusat dan Daerah dikenal lembagadengan status dan fungsi pelaksanaan aspek-aspek teknis tertentu yang disebutUnit Pelaksana Teknis (UPT). UPT Perlindungan Tanaman yang dibentukPemerintah Pusat cukup banyak baik yang berada di Direktorat PerlindunganTanaman Pangan, Direktorat Perlindungan Hortikultura dan Direktorat PerlindunganPerkebunan. Sebagian besar UPT di bawah Direktorat Perlindungan Tanaman Pangandan Ditlin Hortikultura sudah diserahkan ke daerah sehingga berubah statusnyamenjadi UPT Pemerintah Daerah. Dua unit kerja yang termasuk UPT Ditlin Panganadalah Sentra Peramalan Jasad Pengganggu Tanaman Pangan di JatisariCikampek, dan Laboratorium Analisis Pestisida di Pasar Minggu Jakarta.Sedangkan UPT Direktorat Perlindungan Perkebunan sampai tahun ini masihbelum diserahkan ke Daerah. UPT Ditlin Perkebunan adalah BPTP (Balai ProteksiTanaman Perkebunan) di Medan, Bandung, Jombang dan Ambon, dan beberapaLaboratorium (Lab. Lapangan/LL, Laboratorium Utama Pengendalian Hayati/LUPH,Lab Utama Vertebtara/LUV, dan Laboratorium Analisis Pestisida/LAP).Perlindungan Tanaman di Organsiasi Pemerintah Propinsi Sebagai konsekuensi kebijakan otonomi daerah struktur organisasiPemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten sangat beragam, tergantung padakebijakan dan program kerja daerah yang bersangkutan. Sampai tahun 2003Indonesia memiliki 33 propinsi, 273 kabupaten, dan 63 kotamadya yangmempunyai struktur organisasi yang sangat beragam. Hal ini termasuk mengenaikeberadaan, kedudukan, dan letak lembaga yang berwewenang dalam mengelolaperlindungan tanaman. Operasionalisasi kegiatan pengkajian dan pengendalian OPT di tingkatdaerah dilakukan oleh BPTPH Propinsi sebagai UPT Daerah. BPTPH di lapanganmempunyai beberapa laboratorium perlindungan tanaman seperti BPTPH DIYmemiliki laboratorium di Bantul. Karena itu pada struktur organisasi Dinas-dinasyang ditetapkan oleh SK Kepala Daerah seringkali posisi perlindungan tanamantidak ada terutama di Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan/atau Hortikultura. DiDinas Perkebunan seperti di Jawa Tengah dan DIY bagian perlindungan tanamanmasih tampak kadangkala sebagai eselon II (Sub Dinas Perlindungan Tanaman)atau sebagai eselon III (Seksi Perlindungan Tanaman). 130
  • 133. LAMPIRAN I AMBANG EKONOMI BERBAGAI JENIS HAMA PADA KOMODITAS TANAMAN PANGAN1. Padi No. Jenis hama Sampel pengamatan Ambang ekonomi 1. Rattus argentiventer - 30 rumpun pada Persentase tanaman terpotong masa vegetatif. >5% - 20 rumpun pada pemasakan bulir 2. Nilaparvata lugens 20 rumpun / petak 1 nimfa / tunas 3. Sogatella furcifera 20 rumpun / petak 1 nimfa dewasa / tunas 4. Nephotettix virescens, N. 20 rumpun / petak a. Ada tungro : 1 nimfa malayanus, dan N. dewasa / tunas nigropictus b. Tidak ada tungro : 5 nimfa / tunas 5. - Scirpophaga incertulas 20 rumpun / petak a. Tanam – malai berisi : 2 kel. - S. innotata telur / 20 rumpun - Chilo supressalis b. Malai berisi – akhir - C. polychrysus pembungaan : 1 kel. telur / - Sesamia inferens 20 rumpun 4. - Mythimma separata 20 rumpun / petak a. Pesemaian : kerusakan daun - Spodoptera litura sebesar 50 % - S. exemta b. Tanam – pembentukan malai - S. mauritia : kerusakan daun sebesar 25 % c. Pembentukan malai – masak : kerusakan daun sebesar 15 % 5. Cnapalocrosis medinalis 20 rumpun / petak a. Fase vegetatif : kerusakan daun sebesar 20 % b. Sebelum pembentukan malai–pembentukan bunga: kerusakan daun 5 % 6. Nymphula depunctalis 20 rumpun / petak a. Semai – tanam : kerusakan daun sebesar 50 % b. Tanam – anakan terbentuk : kerusakan daun sebesar 25 131
  • 134. % 7. Leptocoryza acuta 20 rumpun / petak 10 nimfa 8. Orseolia oryzae 20 rumpun / petak 2 telur/rumpun2. Kedelai No. Jenis hama Sample pengamatan Ambang ekonomi 1. Spodoptera litura a. Umur tan. (31 – 50 hst) : 3 ekor larva instar 3 / rumpun dan 4 kel. telur / 100 rumpun b. Umur tan. (51 – 70 hst) : 6 ekor larva instar 3 / rumpun dan 7 kel. telur / 100 rumpun c. Kerusakan daun 12,5 % atau populasi ulat 10 larva / 20 rumpun (Balittan Malang) 2. Chrysodeixis chalcites 10 rumpun/ petak a. Fase vegetatif (11-30 hst): - 200 larva instar 1 - 120 larva instar 2 - 20 larva instar 3 - kerusakan daun sebesar 25 % b. Umur tan. (31-50 hst): - 200 larva instar 1 - 120 larva instar 2 - 30 larva instar 3 - kerusakan daun sebesar 12,5 % c. Umur tan. (51 – 70 hst): - 200 larva instar 1 - 120 larva instar 2 - 50 larva instar 3 - kerusakan daun sebesar 12,5 % d. Populasi ulat 15 larva / 20 rumpun (Balittan Malang) 3. Phaedonia inclusa 10 rumpun / petak a. Fase tanam- 10 hst : 1 imago 132
  • 135. b. Fase vegetatif : 1 imago c. Sebelum 45 hst : kerusakan sebesar > 2 % / 20 rumpun acak d. Umur tanaman 45 hst, ditemukan serangan sebesar 2 % (Balittan Malang)4. Nezara viridula 10 rumpun a. Umur tan (31 – 50 hst): - 1 pasang kepik hijau - 1 pasang kepik coklat b. Umur tan. (51 –70 hst) : - 1 pasang - kerusakan polong > 2,5 % c. Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang d. Umur 45- 50 hst, bila ditemukan 3 ekor kepik / 5 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang)5 Piezodorus hybneri a. Umur tan (31 – 50 hst): - 1 pasang kepik hijau - 1 pasang kepik coklat b. Umur tan. (51 –70 hst) : - 1 pasang - kerusakan polong > 2,5 % c. Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang d. Umur 45- 50 hst, bila ditemukan 3 ekor kepik / 5 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang)6 Riptortus linearis a. Umur tan (31 – 50 hst): - 1 pasang kepik hijau - 1 pasang kepik coklat b. Umur tan. (51 –70 hst) : - 1 pasang - kerusakan polong > 2,5 % c. Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang d. Umur 45- 50 hst, bila ditemukan 1 ekor kepik / 133
  • 136. 4 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang)7. Etiella zinckenella 10 rumpun / petak a. Pertumbuhan polong (51 – 70hst) : 1 pasang atau 1 ekor dan polong terserang > 2,5 % b. Umur tanaman 45 hst , bila terdapat serangan rata- rata 2 % (Balittan Malang)8. Ophiomyia (Agromyza) 30 rumpun / petak a. Umur tan. (tanam – 10 phaseoli hst) : 2 ekor atau 2,5 % tanaman terserang b. Umur tan. Sebelum 10 hst : kerusakan > 2 % c. Terdapat serangan 2 % atau adanya 1 ekor lalat / 5m baris tanaman (Balittan Malang, 1991)9. - Lamprosema indicata 10 rumpun / petak a. vegetatif (11-30 hst) : - Plusia chalcites kerusakan daun sebesar 25 % atau ditemukan 30 larva b. Umur tan. (31-50 hst) : kerusakan daun sebesar 12,5 % c. Umur tan (51 – 70 hst) : kerusakan daun sebesar 12,5 % d. Terdapat kerusakan daun sebesar 12,5 % atau ditemukan 15 ulat (Balittan malang,1991)10. Melanogromyza sojae 10 rumpun / petak a. Umur tanaman kurang dari 10 hari kerusakan sebesar >2% b. Umur tanaman 0-30 hst : terdapat serangan > 2 %11. Spodoptera litura 12 rumpun / petak a. 58 larva instar 1 b. 32 larva instar 2 c. 17 larva instar 3 (Ditlin) d. 4 larva / 12 rumpun yang berdekatan e. Terdapat kerusakan daun sebesar 12,5 % atau 15 larva / 20 rumpun (Balittan Malang, 1991) 134
  • 137. Lampiran 2Daftar tumbuhan di Indonesia yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati Bagian yangNo Nama Spesies Nama Umum Nama Daerah digunakan 1 Achalypha indica Indian nettle Rumput bolong Daun, kulit2 Acarus columus Delinggo Daun3 Allium cepa Red onion Bawang merah Daun4 Allium sativum Garlic Bawang putih Daun5 Andropogon nordus Citronella Serai wangi Daun6 Annona muricata Sirsak Daun, biji7 Annona reticulata Custard apple Buah nina Kulit, buah8 Annona squamosa Sugar apple Srikaya, delima Akar, buah9 Azadirachta indica Neem tree Nimba Seluruh bagianBischo Bischofia javanica10 Glintungan Daun11 Chrysantemum sp. Chrysant Piretrum Bunga12 Cinnamomum burmanii Cinnamon leaf Kayu manis Daun, kulit, buah13 Citrus aurantium Sour orange Jeruk Daun14 Citrus hystrix Lemon Jeruk purut Daun, kulit, buah15 Cocos nucifera Coconut Kelapa Daging16 Coleus sp. Daun jinten Daun17 Coriandum sativum Ketumbar Biji18 Croton triglium Kamalakian Biji19 Crynura sp. Beluntas Cina Daun20 Cucumis sativus Cucumber Mentimun Daun21 Cucurbita moschata Labu besar Daun, biji22 Cymbopogon sp. Lemon grass Serai dapur Daun23 Dahlia sp. Frenchmarigold Dahlia Daun24 Derris elliptica Tuba Akar25 Derris malaccensis Tuba laut Akar26 Eclipta alba Urang aring Akar, tangkai27 Eugenia syzigium Clove Cengkeh Daun, bunga28 Eunymus japonicus Spindle tree Kumbang Daun29 Eupatorium triplinerpe Ayapana Daun30 Ficus carca Fong tree Daun31 Geranium sp. Daun ambrei Daun32 Hedera nodosa Pepaya hutan Daun33 Impatiens sultani Zingiber balsam Pacar air Daun 135
  • 138. 34 Ipomea batatas Batate, patate Ubi jalar Daun35 Lonchocarpus nicou Timbo, neku Akar36 Lycopercicum sp. Leunca, komir Seluruh bagian37 Mammea Americana Mamey Akar, ubi, kulit38 Mundulae suberosa Mundula Kulit, akar, batang39 Nerium oleander Common oleander Oleander, jure Akar, kulit, batang40 Nicotiana tabaccum Tobacco Tembakau Daun41 Oxalis deppei Lucky clover Celincing Daun42 Pachyrrhyzus erosus Chinesse yan Bengkuang Seluruh bagian43 Pangium edulo Kapayang Dahan, daun44 Pelargonium sp. Geranium Keranyam Daun, batang45 Peperomia sp. Saladaan Daun46 Piper nigrum Black pepper Lada Biji47 Pogostemon cablin Cublin Nilam Daun48 Punica granatum Ponegranate Delima Daun49 Ricinus communis Costa bean Jarak, kaliki Biji50 Rosa sp. Mawar Daun51 Sepindus rarak Rerek, lerek Daun52 Solanum tuberosum Iris potato Kentang Daun53 Tephorisa vogelii Vogel teprosia Daun, biji54 Zingiber officinale Ginger Jahe RimpangSumber : DirJen Bina Produksi Perkebunan, Departemen Pertanian 136