bukudiktathamadanpenyakittan    aman-130302221720-        phpapp02.doc   Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc.        Juru...
bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc.                                          Prof. Dr. Ir. Kasumbo...
bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc                                                             Mat...
Kalau istilah PENYAKIT TUMBUHAN memang lebih tepat, karena PENYAKIT lebihmerujuk pada GEJALANYA. Tumbuhan sedang sakit, ko...
Program Pembangunan Pertanian Nasional apakah dengan pola PembangunanPertanian AGRIBISNIS atau program KETAHANAN PANGAN sa...
5. Penggunaan pestisida kimia berspektrum lebar yang dilakukan secara tidak bijaksana,   terus-menerus dan berlebihan. Pes...
bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc                                                            Mate...
4   Karnivora 2     Predator, hiperparasitoid      Perlu diperhatikan bahwa di ekosistem termasuk ekosistem persaingan int...
3. Luka oleh serangga yang makan di dalam jaringan tanaman (internal feeders)      termasuk penggerek, pengorok dan pembua...
FAKTOR-FAKTOR                  BIOTIK DAN ABIOTIK                 Populasi             Populasi                           ...
B. Luka Oleh Serangga Pada Manusia Dan Binatang LainC. Serangga Sebagai Perusak Produk Di Gudang Dan Bahan-Bahan LainD. Me...
PENDUGAAN KEHILANGAN HASILPokok Bahasan:A. Pendugaan Kehilangan Hasil Akibat Serangan Hama (Crop Loss Assesment)B. Penggun...
CARA PENDUGAAN KEHILANGAN HASIL       Untuk menghitung kehilangan hasil dalam bentuk satuan berat (ton/ha) atausatuan rupi...
6. Kehilangan hasil (KH) dalam satuan berat (ton) = Luas serangan (LSR) x   Produksi Tanaman Sehat (PTS) --- Luas serangan...
PENETAPAN AMBANG PENGENDALIANDalam konsep PHT kita kenal beberapa istilah yang arti dan fungsinya sama yaitu:1.        Amb...
dihemat, petani tak perlu menggunakan pestisida secara berjadwal sepertiseminggu sekali, atau pada umur 15, 20, 45, 60 HST...
Hasil (kuintal/ha)                                                           Mulai terjadi                                ...
ALE/AE                                                    ALE/AE                                     Harga Produk         ...
Pendugaan                        Infestasi                              Pengamatan                  hama             Penga...
Banyak faktor abiotik dan biotik yang mempengaruhi dinamika populasi hama.Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut kita da...
Gambar 8. Pertumbuhan Populasi Organisme Mengikuti Model Pertumbuhan                Ekponensial atau Geometrik      Di dun...
Setelah daerah II tercapai kemudian populasi bergejolak sekitar aras keseimbanganyaitu pada daerah III. Daerah III merupak...
Faktor tergantung kepadatan adalah faktor pengendali alami yangmempunyai sifat penekanan terhadap populasi organisme yang ...
PENGENDALIAN                                        ALAMI              FAKTOR BEBAS                                  FAKTO...
Gambar 13. Gejolak populasi sekitar aras keseimbangan umum, dan bekerjanyaFTK dan FBK.                                    ...
Gambar 15. Hubungan antara populasi organisme dan mortalitas akibat Faktor           Bebas Kepadatan.Faktor Bebas Kepadata...
Pengaruh Faktor-faktor Cuaca bagi Kehidupan Serangga                              Langsung                 Tak Langsung   ...
Populasi                                                                           Mangsa (A)                             ...
alami di daerah tersebut, yang dalam jangka panjang dapat menurunkan araskeseimbangan populasi hama. Salah satu sasaran PH...
Pengamatan adalah kegiatan pengumpulan data dan informasi tentangsesuatu obyek yang diamati/dikaji/diteliti. Pengamatan bi...
MEMPELAJARI PRINSIP-PRINSIP PENGAMBILAN SAMPEL DANPENGAMATAN       Sampel atau contoh merupakan bagian dari suatu populasi...
pengendalian hama. Biasanya unit sampel dikembangkan berdasarkan sifat biologiserangga dan belajar dari pengalaman sebelum...
A                         B                         CGambar 19. Pola pengambilan sampel A. Pola Diagonal, B. Pola Zigzag, ...
Metode Pengamatan        Pengamatan OPT pada tanaman pangan dan hortikultura dilakukan dengandua cara, yaitu pengamatan te...
rumpun yang diamati tiap unit contoh adalah 10 rumpun/batang. Komponen-komponen yang diamati adalah luas tanaman terserang...
Keterangan:A, B, C, D …… pembagian menurut strata 1, 2, 3 … dst … subwilayah      Gambar 21. Pembagian subwilayah pengamat...
Penilaian Serangan OPT      Penilaian terhadap kerusakan tanaman dilakukan berdasarkan gejalaserangan OPT yang sifatnya sa...
Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) dan (Balai Proteksi Tanaman Pangan danHortikultura (BPTPH)/Loka Proteksi Tanaman Panga...
bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc                                                       Materi 6 ...
Sifat ketahanan yang dimiliki oleh tanaman dapat merupakan sifat asli(terbawa keturunan faktor genetik) tetapi dapat juga ...
ketahanan tanaman terhadap hama tertentu. Oleh karena sifatnya yang tidak tetap,ahli pemulia tanaman tidak mengakui sifat ...
Sebagian besar varietas tahan hama yang dilepaskan, diperbanyak dan digunakandi Indonesia saat ini masih merupakan hasil t...
a.   Waktu dan Biaya Pengembanganb.   Keterbatasan Sumber Ketahananc.   Timbulnya Biotipe hamad.   Sifat Ketahanan yang Be...
b. OPTK Golongan I yaitu OPTK yang tidak dapat dibebaskan dari media       pembawanya dengan cara perlakuan. Tidak dapat d...
bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc                                                      Materi 7  ...
(Plutella xylostella) di Jawa Barat berhasil dikendalikan oleh parasitoid Diadegmasp. Introduksi parasitoid telur Chelonus...
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Buku diktat hama dan penyakit tanaman
Prochain SlideShare
Chargement dans... 5
×

Buku diktat hama dan penyakit tanaman

3,054

Published on

0 commentaires
0 mentions J'aime
Statistiques
Remarques
  • Soyez le premier à commenter

  • Be the first to like this

Aucun téléchargement
Vues
Total des vues
3,054
Sur Slideshare
0
À partir des ajouts
0
Nombre d'ajouts
0
Actions
Partages
0
Téléchargements
215
Commentaires
0
J'aime
0
Ajouts 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Buku diktat hama dan penyakit tanaman"

  1. 1. bukudiktathamadanpenyakittan aman-130302221720- phpapp02.doc Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta 2010 1
  2. 2. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc. Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc. Deskripsi Mata Kuliah Mata kuliah ini menguraikan Interaksi Tanaman dan Hama; Pendugaan KehilanganHasil dan Ambang Pengendalian; Landasan Ekologi Pengelolaan Hama; Pengamatan danPengambilan Sampel; Unsur dan Komponen Dasar PHT; Pengendalian dengan VarietasResisten, Pengembangan Tanaman Transgenik, Karantina Tumbuhan; PengendalianHayati; Pengendalian Kimiawi; Pengelolaan Hama Tanaman Pangan, Hortikultura,Perkebunan dan Pasca Panen; Kebijakan Perlindungan Tanaman.Tujuan Instruksional Khusus:Agar mahasiswa dapat:1. Memahami dan menjelaskan pengertian + batasan hama tanaman, klasifikasi, identifikasi, taksonomi dan sistematikanya.2. Memahami dan menjelaskan gejala serangan, mengukur berat serangan dan tingkat kerugian hasil yang diakibatkan oleh hama.3. Memahami dan menjelaskan jenis-jenis hama dan gejala serangan hama tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan hama pasca panen.4. Memahami dan menjelaskan sifat dan kemampuan beradaptasi hama pada tingkat individu.5. Memahami dan menjelaskan faktor-faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi populasi hama dan kerusakan yang diakibatkannya.6. Memahami dan menjelaskan cara penentuan dan penggunaan Ambang Pengendalian sebagai dasar rekomendasi pengendalian hama.7. Memahami dan menjelaskan konsep dan prinsip-prinsip PHT dan penerapannya untuk berbagai jenis dan kelompok hama di pertanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan pasca panen.8. Memahami dan menjelaskan beberapa kasus aktual lapangan yang berkaitan dengan pengendalian hama-hama utama di Indonesia. 2
  3. 3. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 1 HAMA TANAMANPokok Bahasan:1. Beberapa batasan dan pengertian.2. Arti penting hama tanaman untuk program pembangunan pertanian.3. Data kerusakan dan sebaran beberapa hama utama di Indonesia.4. Sebab-sebab muncul dan berkembangnya masalah hama tanaman.5. Tujuan pengendalian hama dan pongelolaan hama.Materi: PERISTILAHAN• Hama Tanaman  Merujuk pada binatang yang menjadi HAMA yakni merusak tanaman dan merugikan petani  Selama binatang tersebut (serangga, tikus, nematoda, tungau, dll) mendatangkan kerugian disebut HAMA TANAMAN  Tetapi keberadaan binatang di tanaman tidak selalu mendatangkan kerugian/kerusakan tanaman  Banyak jenis binatang herbivora ada di pertanaman tetapi tidak semuanya menjadi hama  Di samping itu di ekosistem banyak sekali jenis binatang yang tidak merugikan malahan menguntungkan seperti MUSUH ALAMI (parasitoid, predator), serangga PENYERBUK TANAMAN (lebah, tawon) serangga-serangga netral seperti SEMUT, dll. Istilah HAMA merupakan istilah yang ANTROPOSENTRIS artinya lebih berpusat pada kepentingan manusia. Bagaimana dengan istilah HAMA TUMBUHAN? Sebetulnya kurang tepat karenaTUMBUHAN adalah semua jenis tetumbuhan yang hidup di biosfir termasuk tumbuhan diekosistem alami atau tumbuhan yang tidak dibudidayakan manusia. TANAMAN adalah tumbuhan yang diusahakan manusia untuk diambil manfaatnnyabagi kehidupan manusia. Karena istilah HAMA pada dasarnya antropogenik, yang palingtepat kita gabungkan istilahnya adalah HAMA TANAMAN, istilah HAMA TUMBUHANdapat juga dipakai meskipun kurang pas kombinasinya. 3
  4. 4. Kalau istilah PENYAKIT TUMBUHAN memang lebih tepat, karena PENYAKIT lebihmerujuk pada GEJALANYA. Tumbuhan sedang sakit, kondisi yang secara fisiologi tidaknormal, tidak sehat. Setiap jenis tumbuhan termasuk TANAMAN dapat sakit. Sakitnyatumbuhan dapat disebabkan oleh karena infeksi jasad renik seperti virus, jamur, bakteri,dll, tetapi sakitnya mungkin juga karena kondisi fisik/abiotik yang tak sesuai seperti suhu,kering, basah, dll. Karena itu di Ilmu Penyakit Tumbuhan kita kenal Organisme PenyebabPenyakit. Kalau hama merujuk pada binatang yang merugikan, penyakit merujuk padagejala tumbuhan yang SAKIT. OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) merupakan istilah “formal/hukumnasional” yang digunakan oleh Pemerintah berdasarkan UU No. 12/1992 tentang SistemBudidaya Tanaman dan PP 6/1995 tentang Perlindungan Tanaman. Menurut UU tersebut:“OPT adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, ataumenyebabkan kematian tumbuhan”. Digunakannya istilah OPT untuk mencakup semua kelompok pengganggutumbuhan termasuk HAMA, PENYAKIT dan GULMA. Tiga kelompok pengganggutumbuhan ini yang pengendalian atau pengelolaannya dicakup dalam bidangPERLINDUNGAN TANAMAN. Namun harap diperhatikan bahwa definisi OPT menurutUU ada perbedaannya dengan pengertian Hama Tanaman dan Penyakit Tumbuhan yangsudah dijelaskan di depan. Teman-teman Fitopatologi banyak yang tidak sependapatdengan istilah OPT. Dilihat dari sisi ilmu-ilmu dasar pendukung Perlindungan Tanaman sbb:HAMA TANAMAN :- Entomologi (ilmu serangga)- Nematologi (ilmu nematoda)- Rodentologi (Ilmu rodent/tikus)- Akarologi (ilmu akarina)- dllKarena sebagian besar hama termasuk kelompok serangga seringkali Ilmu Hamadiartikan entomologi.PENYAKIT TUMBUHAN :- Fitopatologi- Virologi- Mikologi- dstGULMA :- Ilmu gulmaDalam bahasa inggris Istilah PEST sebenarnya digunakan untuk seluruh kelompok OPT,namun secara khusus sering diartikan untuk pengertian HAMAHAMA TANAMAN SEBAGAI FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN PROGRAMPEMBANGUNAN PERTANIAN 4
  5. 5. Program Pembangunan Pertanian Nasional apakah dengan pola PembangunanPertanian AGRIBISNIS atau program KETAHANAN PANGAN sangat ditentukan olehkeberhasilan kita dalam mengendalikan, mengelola HAMA TANAMAN. Hal ini disebabkankarena berbagai jenis HAMA dan atau OPT lainnya dapat menurunkan KUANTITAS danKUALITAS hasil-hasil pertanian, dan sangat sering MENGGAGALKAN PANEN,menyebabkan PUSO, artinya 100% GAGAL. Serangan HAMA mengakibatkan:1. Produksi TURUN (nasional, propinsi, lokal, tingkat petani)2. Kualitas ANJLOK (mutu rendah-sulit dipasarkan-diekspor)3. Harga produk MEROSOT4. Biaya produksi NAIK5. RUGI secara ekonomik (biaya lebih besar daripada pendapatan)6. PENGHASILAN NEGARA/DAERAH (PAD) TURUN7. PENGHASILAN TURUN ---- KESEJAHTERAAN PETANI MENURUN ---- KEMISKINAN MENINGKAT Taksiran KASAR/KONSERVATIF. Rata-rata kehilangan hasil Produksi Pertaniankarena serangan OPT ± 30% dari potensi hasil --- kehilangan hasil karena HAMA sekitar20 – 25%. HITUNG SENDIRI secara finansial berapa kerugian yang kita derita setiaptahun karena hama-hama padi, bila produksi tahun 2003 itu diperkirakan 53 juta ton padikering panen. Jumlah itu setelah dikurangi 25% kehilangan hasil oleh OPT padi. Menurut catatan DEPTAN 1997-2001, serangan OPT padi, jagung, kedelai sebesarRp 463 milyar /tahun. Tahun 1999 serangan OPT Perkebunan merugikan sebesar Rp 340milyar. Serangan OPT Hortikultura (mangga, jeruk, pisang, bawang merah, cabai,kentang, kubis, tomat) diasumsikan rata-rata Rp 1,7 trilyun/tahun. Lihat juga tabelkeadaan serangan OPT di Indonesia pada tahun 2001-2002 (jenis dan luas serangan) Mengingat potensi penurunan hasil akibat HAMA yang sangat besar kegiatanPengelolaan Hama menjadi BAGIAN PENTING - INTEGRAL dari setiap USAHA TANIatau BUDIDAYA TANAMAN agar diperoleh Tingkat PRODUKSI dan KUALITAS produksiyang DIINGINKAN baik oleh PEMERINTAH maupun PETANI – KELOMPOK TANIFAKTOR-FAKTOR PENDORONG PENINGKATAN SERANGAN DAN KERUSAKANOLEH HAMA Masalah hama di suatu lokasi pada saat/musim tertentu tidak muncul begitu sajatanpa penyebab atau faktor-faktor pendorong. Banyak faktor yang mendorong terus adadan meningkatnya masalah hama. Hampir seluruh faktor pendorong tersebut adalahkarena ulah/perbuatan/tindakan MANUSIA sehingga ekosistem pertanian menjadi sangatsesuai bagi pertumbuhan, pembiakan dan kehidupan hama tanaman. Faktor-faktortersebut antara lain:1. Penanaman monokultur (jenis tanaman atau varietas tanaman yang sama) sepanjang waktu dan tempat, contoh padi2. Penanaman jenis tanaman atau varietas tanaman yang peka hama tetapi unggul produksi3. Penanaman jenis tanaman baru di suatu daerah sehingga belum ada musuh alami di lokasi baru ---- KARANTINA gagal4. Penggunaan masukan produksi yang berkelebihan seperti pupuk buatan, pestisida, hormon tumbuh, pengairan dll. 5
  6. 6. 5. Penggunaan pestisida kimia berspektrum lebar yang dilakukan secara tidak bijaksana, terus-menerus dan berlebihan. Pestisida membunuh musuh alami, resistensi dan resurjensi hama.6. dll, termasuk terjadinya penyimpangan cuaca dan iklimKESIMPULANNYA: Masalah timbul, muncul dan terus ada karena manusia, jadi seringdisebutkan bahwa hama saat ini adalah “MAN-MADE PEST” (Hama buatan MANUSIA).Tanpa ada kegiatan manusia tidak ada masalah hama.TUJUAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENGELOLAAN HAMA Pada saat ini di kalangan petani, pejabat dan petugas pemerintah akademisi danmasyarakat dikenal 3 istilah pemberantasan hama, pengendalian hama dan pengelolaanhama. Pemberantasan hama: adalah usaha memusnahkan, membunuh hama yangumumnya dilakukan dengan pestisida kimia secara preventif, tidak memperhitungkankeadaan hama di lapangan apakah sedang dalam kondisi populasi rendah atau tinggi,pokoknya disemprot habis-habisan sampai petani merasa puas. Pemberantasan hamayang mengakibatkan munculnya resisitensi hama dan letusan hama yang berkelanjutan Pengendalian hama: lebih hati-hati daripada pemberantasan hama. Penggunaanpestisida hanya dilakukan bila populasi hama telah membahayakan atau melampauiambang pengendalian atau ambang ekonomi. Bila populasi hama tidak membahayakantidak perlu dikendalikan dengan pestisida. Pengelolaan hama: Lebih menekankan aspek pengelolaan ekosistem (tanaman,tanah, mikroklimat, budidaya dll) sedemikian rupa sehingga populasi hama tetap beradadalam keseimbangan dengan musuh alaminya sehingga hama tidak membahayakan, takperlu dilakukan pengendalian dengan pestisida tetapi produksi tanaman tetap tinggi,kualitas produksi baik PHT (Pengendalian Hama Terpadu) merupakan kebijakan Perlintan di Indonesiaberdasarkan UU No 12/1992 dan PP 6/1995. PHT adalah usaha pengelolaanagroekosistem dengan memadukan berbagai teknik pengendalian hama (bercocok tanam,fisik, mekanik, varietas resisten, pengendalian hayati, pengendalian kimia, dll) sedemikianrupa sehingga populasi hama tetap berada di bawah Ambang Pengendalian. 6
  7. 7. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 2 INTERAKSI TANAMAN DAN HAMA Interaksi antara tanaman dan hama dapat dilihat dari aspek EKOLOGIS danEKONOMIS. Dari sisi ekologi hubungan antara tanaman dan hama merupakan interaksiyang saling mengendalikan antara tanaman yang autotroph dengan binatangHERBIVORA yang heterotroph dalam suatu sistem trofi yang berjalan secara EFISIENdan berkesinambungan. Karena kemampuannya mengubah energi surya menjadi energibiokimia melalui proses fotosistesis tanaman menempati aras trofi pertama sebagaiPRODUSEN. Energi pada tanaman digunakan oleh binatang yang memakan tanaman(HERBIVORA) yang menempati aras trofi kedua sebagai KONSUMEN PERTAMA.Binatang karnivora memperoleh energinya dengan memangsa herbivora sehinggamenempati aras trofi ketiga sebagai KONSUMEN KEDUA, demikian seterusnya. Aliranenergi di ekosistem melalui sistem trofi dapat dilihat pada gambar berikut: Energi memasuki ekosistem sebagai radiasi surya EKOSISTEM Produsen Konsumen 1 Konsumen 2 Dekomposer Energi keluar ekosistem sebagai panas Gambar 1. Aliran Energi dalam Ekosistem melalui Sistem Trofi Aras Istilah trofi Ekosistem Antroposentris 1 Tumbuhan Tanaman 2 Herbivora Hama tanaman 3 Karnivora 1 Predator, parasitoid (musuh alami) 7
  8. 8. 4 Karnivora 2 Predator, hiperparasitoid Perlu diperhatikan bahwa di ekosistem termasuk ekosistem persaingan interaksiantara organisme yang menempati aras trofi yang sama atau antar aras trofi sangatkompleks, dan dinamis melalui proses evolusi dan koevolusi. Tujuan interaksi sebenarnyaadalah terjadinya keseimbangan dan kestabilan ekosistem. Masalah ini akan dibahaspada kuliah dua minggu lagi.Aspek EKONOMIS Adanya populasi serangga/hama di suatu tanaman akan menimbulkan LUKA(“injury”) pada tanaman. Luka adalah setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanamansebagai akibat aktivitas serangga hama yang hidup, berada dan makan pada tanamantersebut. Luka tanaman dapat mengakibatkan terjadinya KERUSAKAN (“damage”).Kerusakan adalah kehilangan hasil yang dirasakan oleh tanaman (petani) akibat adanyapopulasi hama atau serangan hama antara lain dalam bentuk penurunan kuantitas dankualitas hasil. Pengertian dan istilah LUKA lebih terpusat pada HAMA dan AKTIVITASNYA,sedangkan KERUSAKAN lebih terpusat pada TANAMAN dan respon tanaman terhadappelukaan oleh hama. Istilah-istilah lain berkaitan dengan hama dan tanaman yang saat ini digunakandalam kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh para petugas pengamat lapangan ( dulunamanya PHP- Pengamat Hama dan Penyakit, sekarang namanya POPT- PengendaliOPT).1. Tanaman terserang adalah tanaman yang digunakan sebagai tempat hidup dan berkembang biak OPT dan atau mengalami kerusakan karena serangan OPT pada tingkat populasi OPT atau intensitas kerusakan tertentu sesuai dengan jenis OPT nya2. Luas serangan: adalah luas tanaman terserang yang dinyatakan dalam hektar atau rumpun atau pohon3. Intensitas serangan: adalah derajat serangan OPT atau derajat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh OPT yang dinyatakan secara kuantitatif dan kualitatif. a. Intensitas serangan secara kuantitatif dinyatakan dalam % (persen) bagian tanaman/tanaman atau persen kelompok tanaman terserang. Intensitas serangan dalam % dilaporkan oleh PHP b. Intensitas serangan secara kualitatif dibagi menjadi 4 kategori serangan yaitu: ringan, sedang, berat dan puso. Kategori serangan dilaporkan oleh koordinator PHP, BPTPH. Adapun kategori intensitas serangan serangga hama secara umum dapat digunakanpedoman sbb: a. Serangan ringan bila derajat serangan <25% b. Serangan sedang bila derajat serangan 25-50% c. Serangan berat bila derajat serangan 50-90% d. Serangan puso bila derajat serangan >90 %CARA PELUKAAN TANAMAN OLEH SERANGGAA. Luka Oleh Serangga Pada Tanaman Yang Sedang Tumbuh 1. Luka oleh serangga penggigit 2. Luka oleh serangga pencucuk pengisap 8
  9. 9. 3. Luka oleh serangga yang makan di dalam jaringan tanaman (internal feeders) termasuk penggerek, pengorok dan pembuat puru 4. Luka oleh serangga-serangga tanah 5. Luka oleh serangga yang sedang meletakkan telur dan membuat sarang 6. Luka oleh serangga-serangga yang “memperhatikan” serangga-serangga lain 7. Luka oleh serangga sebagai vektor/pengantar penyakit tumbuhan Berbagai bentuk luka oleh serangga pada tanaman yang biasa kita catat sebagaiGEJALA SERANGAN hama. 9
  10. 10. FAKTOR-FAKTOR BIOTIK DAN ABIOTIK Populasi Populasi KEHILANGAN KERUGIAN LUKA KERUSAKAN HASIL DAN EKONOMIK Hama Tanama KUALITAS PETANI n TINDAKAN MANUSIAKeterangan :Hasil interaksi antara populasi hama dan tanaman mengakibatkan luka pada tanaman, luka mengakibatkan kerusakan dan kerusakan tanamankarena hama menyebabkan terjadinya kehilangan atau penurunan hasil tanaman dan kualitas produk/hasil. Kehilangan hasil dapat berakibatpada kerugian ekonomi (biaya lebih besar daripada nilai produksi) yang dialami petani atau pengusaha pertanian. Hasil interaksi populasi hamadan populasi tanmaan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor biotik lainnya dan faktor-faktor abiotik dan terutama oleh tindakan manusia terhadapekosistem Gambar 2. Interaksi antara Populasi Hama dan Tanaman 10
  11. 11. B. Luka Oleh Serangga Pada Manusia Dan Binatang LainC. Serangga Sebagai Perusak Produk Di Gudang Dan Bahan-Bahan LainD. Metode Pendugaan Kerusakan Tanaman Oleh Hama Pendugaan atau penghitungan pengaruh hama terhadap kerusakan tanamandan kehilangan hasil karena serangan hama dapat dilakukan dengan menghitungatau mengukur luka atau gejala yang ditinggalkan atau diakibatkan oleh hama.Beberapa pengukuran yang sering digunakan adalah terhadap tanaman ataubagian tanaman antara lain seperti:1. Keseluruhan tanaman Jumlah atau % tanaman mati/busuk atau yang menunjukkan gejala serangan hama tertentu2. Daun Adanya kerusakan daun, lubang gerekan dan gejala daun lainnya diukur dengan menggunakan luas defoliasi, pengurangan berat kering daun3. Batang • Jumlah atau % puru, sundep, beluk • Jumlah lubang keluar • Panjang lubang gerekan • Luka potongan batang oleh ulat4. Buah dan benih • Jumlah lubang atau luka di buah • Jumlah atau % buah rusak seperti terserang PBK (Penggerek Buah Kakao) dan PBKo (Penggerek Buah Kopi)5. Akar • Panjang, berat kering atau volume perakaran yang terserang hama • Luas kerusakan umbi seperti pada tanaman kentang. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 3 9
  12. 12. PENDUGAAN KEHILANGAN HASILPokok Bahasan:A. Pendugaan Kehilangan Hasil Akibat Serangan Hama (Crop Loss Assesment)B. Penggunaan Ambang Pengendalian sebagai tingkat pengambilan keputusan penggunaan PESTISIDAMateri: Pendugaan kehilangan hasil adalah usaha untuk menduga, menaksir bahkanmeramal tentang kerugian ekonomi yang mungkin akan dialami oleh petani,perusahaan pertanian, pemerintah atau pengusaha agribisnis karena adanyaserangan hama pada pertanaman yang mereka budidayakan. Dengan melakukanpendugaan kehilangan hasil para produsen pertanian dapat menentukan beberapahal: Apakah keberadaan populasi hama di lahannya akan merugikan atau menurunkan hasil usahanya dalam kisaran toleransi ekonominya. Bila masih berada pada kisaran toleransi petani tidak perlu melakukan tindakan pengendalian atau mengeluarkan biaya untuk pengendalain. Apakah perlu dilakukan tindakan pengendalian atau pencegahan hama. Apabila perlu berapa besar biaya pengendalian yang harus dikeluarkan. Tentunya petani tidak akan mengeluarkan biaya pengendalian sampai melebihi nilai kehilangan hasil Bila petani sudah memutuskan perlu dilakukan tindakan pengendalian, teknik pengendalian mana yang akan digunakan apakah dengan cara kimiawi dengan pestisida kimia atau dengan secara hayati menggunakan musuh alami, atau menggunakaan varietas tanaman tahan hama dan seterusnya. Dalam menetapkan teknik pengendalian hama yang akan dilakukan petani/produsen adalah mempertimbangkan beberapa faktor yaitu a) efektivitas pengendalian, b) biaya pengendalian, dan c) risiko bahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Pendugaan kehilangan hasil juga akan digunakan untuk menentukan berapanilai Ambang Pengendalian atau Ambang Kendali atau Ambang Ekonomi yangakan kita bahas pada akhir kuliah ini.Siapa yang memerlukan Kehilangan Hasil?Banyak pihak yang memerlukan data pendugaan kehilangan hasil, diantaranya:1. Petani secara perseorangan (untuk petak dan lahan miliknya sendiri) atau secara berkelompok (untuk hamparan sawah/lahan). Satu kelompok hamparan besarnya terdiri dari 20-30 petani.2. Pemeriantah Daerah dan Pemerintah Pusat, biasaya melalui Dinas Pertanian Kabupaten dan Departemen Pertanian melalui Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Hortikultura dan Ditjen Perkebunan.3. Pengusaha Pertanian misal PT Perkebunan milik Pemerintah, PT Pagilaran milik Fak. Pertanian UGM, dst. 10
  13. 13. CARA PENDUGAAN KEHILANGAN HASIL Untuk menghitung kehilangan hasil dalam bentuk satuan berat (ton/ha) atausatuan rupiah (Rp/ha) secara TEPAT jelas sangat sulit dan tidak mungkin, karenatidak mungkin kita mengukur dan menghitung semua lahan yang ada baik milikpetani dan kelompok tani maupun lahan pertanaman tertentu di suatu daerah(desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, nasional). Yang dapat kita lakukan adalahmelakukan PENDUGAAN, kata-kata lain ESTIMASI, PENAKSIRAN, berdasarkandata hasil pengamatan yang dilakukan pada lahan/petaksawah/tanaman/pohon/rumpun yang digunakan sebagai SAMPEL, CONTOH yangmewakili. Untuk memperoleh taksiran kehilangan hasil untuk suatu petak atauhamparan/sawah atau suatu daerah kita harus mempunyai data seperti:1. Luas serangan – LSR (dalam ha)2. Intensitas serangan – ISR (dalam % rumpun/tanaman terserang) a ISR = --------------------- x 100% a + b a: jumlah rumpun/batang terserang b: jumlah rumpun/batang tak terserang3. Hubungan antara intensitas serangan dengan hasil tanaman yang diperoleh dari pengalaman petani atau dari hasil penelitian. Suatu contoh: Hasil Tanaman (ton/ha) 10 6 5 Gambar 3. Hubungan antara Intensitas Serangan Hama dengan Hasil Tanaman 2 Dari fungsi ini kita mengetahui dugaan hasil tanaman atau produksi tanaman dalam kondisi intensitas serangan (%) tertentu, katakan 50% intensitas serangan, produksi atau hasil tanaman adalah 6 ton/ha. Kita sebut Produksi 20 50 80 100 Tanaman Terserang (PTT) Intensitas serangan (%)4. Dari fungsi ini kita ketahui bahwa hasil tanaman yang tidak terserang hama atau produksi tanaman sehat (PTS) adalah 9,5 ton/ha.5. Harga dari produk/hasil tanaman pada tingkat petani katakan Rp 1000/kg atau Rp 1 juta/ton (HG) 11
  14. 14. 6. Kehilangan hasil (KH) dalam satuan berat (ton) = Luas serangan (LSR) x Produksi Tanaman Sehat (PTS) --- Luas serangan (LSR) x Produksi Tanaman Terserang (PTT)7. Nilai kehilangan hasil (NKH) dalam rupiah = Harga produk (HG) x KHSuatu contoh: Untuk hama padi di suatu kecamatan ternyata LSR 500 ha. PTT= 6ton/ha. PTS = 9,5 ton/ha dan harga padi kering panen (HG) Rp 1500/kg.KH = (LSR x PTS) – (LSR x PTT) = (500 x 9,5) – (500 x 6) = 4750 – 3000 ton = Rp 2.625.000.000 = Rp 2,625 milyar Dengan perhitungan tersebut secara kasar kita dapat mengetahui seberapabesar kerugian yang dialami oleh petani, masyarakat dan pemerintah akibatterjadinya serangan hama tertentu. Dari cara penghitungan tersebut di atas dapat dimengerti bahwa untukmenduga kehilangan hasil kita memerlukan hubungan fungsional antara populasihama atau intensitas serangan (%) dengan hasil. Tanpa informasi tentanghubungan ini kita tidak dapat menduga/menaksir berapa hasil tanaman yang akandiperoleh bila terserang hama pada intensitas serangan atau populasi hamatertentu. Untuk memperoleh fungsi tersebut perlu dilakukan percobaan pengamatanlangsung di lapangan. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan antara lain:1. Cara pertama adalah dengan cara ALAMI yaitu dengan: Mengamati beberapa petak sawah dengan menghitung berapa populasi hama atau intensitas serangan hama tertentu. Misal pada petak pertama intensitas serangan 5%, petak kedua 20%, petak ketiga 40%, petak keempat 60%, petak kelima 80%, dan petak keenam puso atau 95%. Pada waktu panen kita lakukan ubinan hasil pada semua 6 petak tersebut. Dari langkah pertama dan kedua tersebut kita dapat memperoleh fungsi hubungan intensitas serangan dan hasil.2. Namun seringkali di lapangan kita mengalami kesulitan dalam mendapatkan petak-petak sawah yang memiliki kisaran lebar dalam kepadatan populasi hama atau intensitas serangan seperti contoh di atas. Untuk memperoleh intensitas serangan atau populasi hama yang berbeda seringkali kita lakukan secara BUATAN yaitu dengan menginfestasikan hama dalam pertanaman yang dikurung dalam suatu kasa yang selebar petak sawah. Dengan melakukan infestasi hama kita dapat mengatur berapa kepadatan populasi atau intensitas serangan yang kita inginkan.3. Cara ketiga merupakan cara yang paling murah tetapi tidak teliti yaitu dari data EMPIRIK atau pengalaman dari petani kita lakukan wawancara pada petani yang sudah lama berpengalaman menghadapi masalah hama tertentu yang menyerang tanaman atau komoditas pertanian yang mereka usahakan. Kita tanyakan pada para petani berapa produksi tanaman yang mereka dapatkan dalam kondisi intensitas serangan hama rendah, sedang, tinggi dan puso, serta berapa produksi tanaman dalam kondisi sehat atau tidak terserang hama. Dari data empirik petani akhirnya kita dapat memperoleh hubungan fungsional antara intensitas serangan dan hasil. Cara ini mudah kita lakukan, tetapi sulitnya tidak semua petani ingat apalagi menyimpan data serangan hama dan kerusakan yang pernah mereka alami. 12
  15. 15. PENETAPAN AMBANG PENGENDALIANDalam konsep PHT kita kenal beberapa istilah yang arti dan fungsinya sama yaitu:1. Ambang Ekonomi (AE) “Economic Threshold”2. Ambang Kendali (AK) “Economic Threshold” atau Ambang Pengendalian “Control Threshold”3. Ambang Tindakan (AT) “Action Threshold” Artinya adalah suatu aras (tingkat) kepadatan populasi hama atau intensitasserangan hama yang membenarkan dimulainya penggunaan PESTISIDA untukpengendalian hama. Tujuan penggunaan pestisida adalah menurunkan populasihama sampai di bawah AE agar Populasi Hama atau Intensitas Serangan PESTISIDA ARAS LUKA EKONOMI AMBANG EKONOMI ARAS KESEIMBANGAN UMUM 20 40 60 80 100 WAKTU (hari)Gambar 4. Populasi Hama dan letak Aras Luka Ekonomi, Ambang Ekonomi dan Aras Keseimbangan Umum pada Keadaan Normaldapat dikendalikan secara alami oleh kompleks musuh alami sehingga populasihama tetap berkisar sekitar aras keseimbangan umum (Gambar 4). Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa dalam keadaan gejolak populasihama sepanjang musim tanam pestisida hanya diaplikasikan satu kali yaitu padawaktu populasi melampaui AE. Dengan demikian penggunaan pestisida dapat 13
  16. 16. dihemat, petani tak perlu menggunakan pestisida secara berjadwal sepertiseminggu sekali, atau pada umur 15, 20, 45, 60 HST (hari setelah tanam). Namununtuk melaksanakan prinsip tersebut ada dua syarat penting yaitu:1. Harus dilakukan pengamatan secara berkala (katakan seminggu sekali)2. Harus ada ketentuan mengenai berapa besar nilai AE/AK/AT tersebut Dengan demikian untuk setiap jenis hama yang menyerang komoditastertentu harus mempunyai nilai AEnya masing-masing bahkan pada prinsipnya nilaiAE suatu jenis hama tidak tetap, tidak sama dari satu tempat/lokasi ke tempat laindari waktu ke waktu lain. Artinya nilai AE dinamis, tidak seragam. Yang menetapkannilai AE yang paling baik adalah petani/kelompok tani sendiri yang berlaku untukspesifik lahannya masing-masing. Saat ini karena petani banyak yang belummampu nilai AE lebih sering mengikuti ketetapan atau rekomendasi pemerintahatau rekomendasi peneliti sehingga nilai AE cenderung seragam. Mungkin untuksementara keadaan tersebut dapat berjalan tetapi harus diikuti dengan melakukanpelatihan pada petani untuk mengembangkan dan menetapkan AE nya sendiri.Biasanya petani menerima rekomendasi AE dari para PPL atau PHP (PengamatHama dan Penyakit).Suatu contoh untuk tanaman padi:AE wereng coklat : 5 nimfa + dewasa/rumpun padi pada fase vegetatif 10 nimfa + dewasa /rumpun pada fase generatifAE penggerek batang: 30% intensitas serangan pada fase vegetatif 10% intensitas serangan pada fase generatif(lihat lampiran)CARA PENETAPAN/PENGHITUNGAN AEAda beberapa cara penentuan AE yang dapat kita lakukan:1. Cara empirik atau berdasar pengalaman dari petani, peneliti atau petugas lapangan yang sudah lama menekuni dan merasakan tentang kerusakan atau kerugian yang diakibatkan oleh serangan hama tertentu pada komoditas yang diusahakan. Berdasarkan data empirik/pengalaman selama bertahun-tahun dapat diperoleh informasi tentang pada aras populasi atau intensitas serangan berapa hama tersebut mulai dirasakan merugikan secara ekonomi. Pada aras populasi mulai merugikan tersebut. AE/AK/AT hama berbeda. Karena itu AE/AK/AT ini dapat kita namakan sebagai AE petani atau Ambang Petani saja. Untuk lebih jelasnya secara grafik data empirik tentang aras populasi/intensitas serangan dan hasil dapat dilihat pada gambar 5. Perhatikan sampai populasi 5 larva belum terjadi penurunan hasil sehingga petani masih bisa mentoleransikan tetapi pada populasi 7 petani sudah mulai merasakan kerugian ekonomi. Pada keadaan kurve pengalaman petani demikian, maka AE/AK/AT petani adalah 7 larva/rumpun. Karena pengalaman dan perasaan petani berbeda-beda kita akan memperoleh AE yang sangat khas/spesifik lokasi, spesifik petani sehingga menjadi variatif dan tidak seragam. Dengan pengalaman yang bertambah dan tingkat toleransi yang semakin baik, petani akan selalu menyesuaikan atau memperbarui nilai AE nya! 14
  17. 17. Hasil (kuintal/ha) Mulai terjadi kerugian ekonomik AE petani Gambar 5. 5 7 10 20 30 Hubungan Populasi Populasi hama larva/rumpun Hama dengan Hasil2. Cara Penelitian Penetapan AE melalui penelitian dilakukan oleh para peneliti yang khusus ingin mengetahui berapa AE pada suatu jenis hama pada komoditas tertentu. Biasanya sasaran kegiatan penelitian adalah memperoleh nilai ALE (Aras Luka Ekonomi) dan dari nilai ALE dihitung AE yang besarnya ¾ atau 2/3 ALE. ALE dihitung dengan menggunakan titik impas/BEP (Break Even Point). ALE adalah suatu populasi atau intensitas serangan dimana nilai kehilangan hasil (dalam Rp) yang dapat diselamatkan oleh tindakan pengendalian hama dengan pestisida sama dengan total baya pengendalian (dalam Rp). BP ALE = ------------------ HG x LT x BK dimana BP = Biaya pengendalian (Rp/ha) HG= Harga produk (Rp/kg) LT = Luka tanaman yang diakibatkan oleh satu individu hama BK = Berat kerusakan tanaman per unit luka tanamanUntuk memperoleh LT dan BK perlu dilakukan serangkaian percobaan di lapangan,di rumah kasa atau di laboratorium.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALE DAN AE Banyak faktor yang mempengaruhi nilai ALE dan AE termasuk jenis varietastanaman, fase tumbuh tanaman, instar hama, lokasi pertanaman, dll.Dari sekian banyak faktor, 4 faktor yang paling penting yaitu:1. Harga produk2. Biaya pengendalian3. Derajat luka yang diakibatkan oleh individu hama4. Kepekaan tanaman terhadap serangan hamaPerhatikan Gambar 6 di bawah. Apa artinya? 15
  18. 18. ALE/AE ALE/AE Harga Produk Biaya Pengendalian Gambar 6. Hubungan antara Harga Produk dan Biaya Pengendalian dengan ALE/AE Kita harus mengetahui bahwa semakin tinggi ALE/AE penggunaan pestisidamenjadi semakin jarang atau semakin sedikit, semakin rendah ALE/AE semakinsering/banyak penyemprotan pestisida dilakukan. Bagan alir sistem keputusan pengelolaan hama yang menunjukkan letakpendugaan populasi hama atau infestasi serangan hama dan pendugaankehilangan hasil serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar7. Dari ketetapan-ketetapan pada gambar dapat disimpulkan bahwa untukmelakukan pendugaan kehilangan hasil serta menetapkan dan menerapkanAE/AK/AT diperlukan kerjasama lintas disiplin ilmu (misal ilmu-ilmu perlintan,ekonomi, sosiologi, agronomi, statistis, dll) dan lintas sektor. Tidak dapat dilakukanoleh orang-orang/pakar perlintan. 16
  19. 19. Pendugaan Infestasi Pengamatan hama Pengaruh (i) pada hasil (y) Percobaan Pendugaan kehilangan hasil Pengaruh pengendalian terhadap (i) Hasil (y) AE /AT / AK ? Apa lebih besar dari AE? tidak ya Tak perlu Kendalikan dikendalikan dengan pestisida Gambar 7. Bagan Alir Sistem Keputusan Pengelolaan Hama bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 4 LANDASAN EKOLOGI PENGELOLAAN HAMATujuan:1. Mengetahui dua model pertumbuhan populasi organisme2. Mengetahui model dinamika populasi hama3. Mengetahui mekanisme pengendalian alami dan pengaruh faktor abiotik dan biotik4. Mempelajari pengaruh kegiatan manusia terhadap dinamika populasi hamaMateri: Dari kuliah sebelumnya kita mengetahui bahwa keberadaan populasi hamadi pertanaman dan di ekosistem menentukan seberapa besar kerusakan tanamandan kerugian ekonomi yang dialami oleh petani atau pengusaha pertanian lainnya.Juga kita ketahui bahwa populasi hama sepanjang musim tanam dari waktu kewaktu dan dari tempat ke tempat tidak tetap tetapi DINAMIS, naik turun, berfluktuasisekitar suatu garis atau posisi keseimbangan umum (General Equilibrium Position). 17
  20. 20. Banyak faktor abiotik dan biotik yang mempengaruhi dinamika populasi hama.Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut kita dapat melakukan pengelolaan hamayang efektif dan efisien. Perlu ditekankan di sini bahwa tujuan pengelolaan hamabukan untuk membasmi hama, memberantas hama sampai habis tetapimempertahankan populasi hama di pertanaman tetap berada di bawah AE/AK/ATatau pada aras yang secara ekonomi tidak merugikan. Perhatikan gambar tentangposisi AE, ALE dan Garis keseimbangan pada kuliah minggu yang lalu. Diharapkan para mahasiswa setelah kuliah ini dapat menjawab pertanyaan:Apa sebabnya kita tidak mungkin melakukan pembasmian atau pemusnahan hamaseperti banyak orang harapkan? Pada prinsipnya keberadaan dan perkembangan populasi hama danpopulasi organisme lainnya ditentukan oleh dua kekuatan yaitu:1. POTENSI BIOTIK atau "Biotic Potential" dan2. PERLAWANAN LINGKUNGAN atau "Environmental Resistance" Yang disebut POTENSI BIOTIK adalah kemampuan suatu organisme untuktetap hidup dan berkembang biak. Kalau kita perhatikan kelompok serangga,organisme ini mempunyai potensi biotik yang sangat besar dan kemampuanberbiak sangat cepat. Dengan siklus hidup pendek, ukuran tubuh kecil dankemampuan bertahan hidup yang tinggi maka populasi serangga sangat cepatmeningkat sehingga dalam waktu sebentar saja dapat memenuhi permukaan bumiini. Apabila suatu organisme berkembang sepenuhnya sesuai dengan kemampuanhayati (potensi biotik)nya, maka pertumbuhan populasi organisme tersebut akanmengikuti model pertumbuhan ekponensial atau pertumbuhan geometrik sepertiGambar 8. dN --- = r N = ( b – d ) N dtN = populasir = laju pertumbuhan populasi intrinsikb = laju kelahirand = laju kematiant = waktu Populasi (N) 18 Waktu (t)
  21. 21. Gambar 8. Pertumbuhan Populasi Organisme Mengikuti Model Pertumbuhan Ekponensial atau Geometrik Di dunia saat ini satu-satunya organisme yang populasinya tumbuh secaraeksponensial adalah MANUSIA. Di alam populasi organisme tidak dapat meningkatsecara eksponensial karena adanya kekuatan lain yang me"lawan" ataumeng"hambat" yang kita namakan Perlawanan Lingkungan atau HambatanLingkungan. Kekuatan ini yang akan menghambat populasi suatu organisme untukbertambah dan meningkat sesuai dengan kemampuan biotiknya. Karena itu modelpertumbuhan populasi yang lebih cocok adalah model pertumbuhan logistik sepertiGambar 9. Populasi (N) K Waktu (t) Gambar 9. Model Pertumbuhan Populasi Logistik dN K-N --- = r N ( ----- ) dt KN = populasit = waktur = laju pertumbuhan populasiK = asimtot atas atau nilai N maksimum Kurve tersebut menunjukkan model pertumbuhan secara matematik. Kalaukita bandingkan dengan data lapangan populasi suatu organisme, kita memperolehgambaran dinamika populasi yang mirip dengan pertumbuhan logistik terutamapada daerah I dan II seperti Gambar 10. Menurut gambar tersebut pertumbuhan populasi organisme dapat kita bagimenjadi 5 daerah. Daerah I merupakan periode peningkatan populasi yang tumbuhsecara sigmoid. Periode ini terdiri dari tahap pembentukan populasi (A),pertumbuhan cepat secara eksponensial (B) serta tahap menuju keseimbangan (C).Daerah II merupakan pencapaian aras keseimbangan yang merupakan garisasimtot kurve sigmoid. Pada tahap ini populasi telah mencapai stabilitas numerik. 19
  22. 22. Setelah daerah II tercapai kemudian populasi bergejolak sekitar aras keseimbanganyaitu pada daerah III. Daerah III merupakan tahap oskilasi dan fluktuasi populasi.Oskilasi populasi adalah penyimpangan populasi sekitar aras keseimbangan secarasimetris, sedangkan fluktuasi populasi merupakan penyimpangan populasi yangtidak simetris. Daerah III berjalan dalam waktu cukup lama tergantung padaberfungsinya mekanisme umpan balik negatif yang bekerja pada populasiorganisme tersebut. Apabila mekanisme ini oleh sebab-sebab tertentu menjadi tidakberfungsi lagi, terjadilah daerah IV yang merupakan periode penurunan populasiatau periode pertumbuhan negatif. Kalau periode ini terus berlanjut kemudian akanterjadi tingkat terakhir pertumbuhan populasi yaitu daerah V yang merupakanperiode kepunahan populasi. Populasi (N) A B C Waktu (t) I II III IV V Gambar 10. Pertumbuhan Populasi Organisme yang Terbagi menjadi 5 Tingkat Adanya kekuatan Hambatan Lingkungan terhadap pertumbuhan populasiorganisme dalam kondisi oskilasi dan fluktuasi di sekitar aras keseimbangan umumseperti yang terjadi di daerah III. Di daerah III terjadi mekanisme keseimbanganpopulasi oleh bekerjanya berbagai faktor abiotik dan biotik yang secara bersamakita sebut sebagai faktor PENGENDALI ALAMI.FAKTOR TERGANTUNG KEPADATAN DAN FAKTOR BEBAS KEPADATAN Dilihat dari proses pengendalian dan pengaturan populasi organisme, makaberbagai faktor hambatan lingkungan dapat dikelompokkan menjadi FaktorTergantung Kepadatan Populasi (FTK) atau "Density Dependent Factors" danFaktor Bebas Kepadatan Populasi (FBK) atau "Density Independent Factors".Pengelompokan ini lebih sering digunakan bila dibandingkan dengan carapengelompokan lainnya. Bagan berikut menunjukkan faktor-faktor yang termasukdalam FTK dan FBK.Faktor Tergantung Kepadatan 20
  23. 23. Faktor tergantung kepadatan adalah faktor pengendali alami yangmempunyai sifat penekanan terhadap populasi organisme yang semakin meningkatpada waktu populasi semakin tinggi, dan sebaliknya penekanan lebih longgar padawaktu populasi semakin rendah. Kalau dihubungkan antara mortalitas yangdisebabkan oleh faktor FTK dengan populasi hama misalnya dapat diperoleh garisregresi (Gambar 11). Mortalitas Mortalitas Laju Populasi Gambar 11. Hubungan antara populasi dan mortalitas yang disebabkan oleh Faktor Tergantung Kepadatan Faktor tergantung kepadatan terbagi menjadi faktor yang timbal balik dantidak timbal balik. FTK yang timbal balik terutama adalah musuh alami hama sepertipredator, parasitoid, dan patogen. Timbal balik di sini berarti bahwa hubunganantara populasi dan mortalitas oleh FTK dapat berjalan dari kedua arah. Apabilapopulasi spesies A meningkat, maka mortalitas yang disebabkan oleh predator Bakan semakin meningkat, antara lain dengan meningkatnya predasi dan jumlahpredator B. Sebaliknya apabila populasi spesies A menurun mortalitas olehpredator dan jumlah predator juga menurun. Dengan demikian perubahan populasispesies A akan selalu diikuti dengan perubahan kepadatan populasi predator B(Gambar 12). FTK yang tidak timbal balik misalkan makanan dan ruang, jumlahnyaterbatas yang ditempati oleh populasi organisme yang saling berkompetisi untukmakanan dan ruang yang sama. Proses FTK di sini dapat dijelaskan sebagaiberikut: Bila populasi A semakin tinggi, persaingan antar FTK yang tidak timbal balik misalkan makanan dan ruang, jumlahnyaterbatas yang ditempati oleh populasi organisme yang saling berkompetisi untukmakanan dan ruang yang sama. Proses FTK di sini dapat dijelaskan sebagaiberikut: Bila populasi A semakin tinggi, persaingan antar individu untuk memperolehmakanan dan ruang semakin kuat sehingga mortalitas A menjadi meningkat, dandemikian juga sebaliknya. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa apabila populasi Ameningkat kemudian jumlah makanan menjadi meningkat, atau jumlah pouplasi Amenurun dan jumlah makanan menurun. Berbeda dengan kelompok musuh alami,hambatan lingkungan berupa makanan, ruangan, dan teritorialitas termasuk dalamFTK yang tidak timbal balik. 21
  24. 24. PENGENDALIAN ALAMI FAKTOR BEBAS FAKTOR KEPADATAN TERGANTUNG KEPADATAN FISIK BIOLOGI TIDAK TIMBAL TIMBAL BALIK Tanah Ketersediaan BALIK Musuh Suhu alami inang -Parasitoid Kebasahan Makanan Pergerakan Kualitas Ruang -Predator air makanan Teritorial -Patogen -HerbivoraPopulasi FTKGambar 12. Komponen Pengendalian Alami yang Tergantung Kepadatan dan Bebas Kepadatan Aras Keseimbangan FBK FBK FTK 22 Waktu
  25. 25. Gambar 13. Gejolak populasi sekitar aras keseimbangan umum, dan bekerjanyaFTK dan FBK. Persediaan Makanan Jumlah Predator Predator Meningkat Meningkat Jumlah Inang Jumlah Inang Meningkat Meningkat Jumlah Inang Termakan Titik Imbang Jumlah Inang Termakan Predator-Inang Berkurang Meningkat Jumalah Inang Jumalah Inang Berkurang Berkurang Jumlah Predator Persediaan Makanan Berkurang Predator BerkurangGambar 14. Mekanisme Umpan Balik pada Pengaturan Populasi Spesies A oleh Predator Mortalitas FBK POPULASI 23
  26. 26. Gambar 15. Hubungan antara populasi organisme dan mortalitas akibat Faktor Bebas Kepadatan.Faktor Bebas Kepadatan Faktor Bebas dari Kepadatan (FBK) atau "Density Independent Factor"merupakan faktor mortalitas yang daya penekanannya terhadap populasiorganisme tidak tergantung pada kepadatan populasi organisme tersebut. Faktorabiotik seperti suhu, kebasahan, angin merupakan FBK yang penting. FBK kadang kala dapat membawa populasi semakin menjauh (lebih ataukurang) dari aras keseimbangan. Misal bila keadaan suhu tidak sesuai bagikehidupan serangga dapat mengakibatkan populasi serangga menurun menjauhigaris keseimbangannya. Setelah hal itu terjadi faktor FBK akan bekerjamengangkat kembali populasi ke aras keseimbangannya. Bila keadaan cuacasangat menguntungkan bagi kehidupan dan perkembanganbiakan suatu hama,dapat mendorong populasi hama tersebut meningkat cepat menjauhi araskeseimbangannya. Namun, peningkatan populasi tersebut juga tidak akan berjalanterus, karena FTK seperti musuh alami akan mengencangkan penekanannyasehingga populasi kembali lagi ke aras keseimbangannya. Dr. CLARK mengelompokkan beberapa penyebab mortalitas (kematian)serangga menjadi 7 kelompok yaitu:1. Umur: menjadi tua atau "aging"2. Vitalitas rendah: kemampuan serangga dalam menghadapi faktor-faktor lingkungan yang jelek seperti cuaca ekstrim3. Kecelakaan: adanya peristiwa-peristiwa yang tidak normal (fisiologi dan ekologi) yang dapat mengakibatkan kematian4. Kondisi fisiko kimia: terkait dengan kondisi fisika dan kimia di tempat serangga hidup termasuk kondisi cuaca, kondisi tanah, kondisi air, udara, dll.5. Musuh alami: sebagai faktor pengendali alami serangga yang bersifat tergantung kepadatan seperti yang telah dijelaskan6. Kekurangan pakan: serangga hama sangat ditentukan survival dan perkembangannya oleh ketersediaan pangan yang disediakan manusia. Tetapi untuk serangga musuh alami bila tidak tersedia pakan yang sesuai yang menjadi inang atau mangsa akan sangat mempengaruhi survivalnya.7. Kekurangan tempat berlindung/bernaung: mempengaruhi mortalitas secara tidak langsungBerikut diagram yang menunjukkan pengaruh langsung dan tidak langsung faktor-faktor cuaca. 24
  27. 27. Pengaruh Faktor-faktor Cuaca bagi Kehidupan Serangga Langsung Tak Langsung Individu Populasi Habitat Parasitoid Predator Patogen Fenologi Makanan Aktivitas Mortalitas Perkembangan Natalitas Perilaku Pergerakan Natalitas Mortalitas Pergerakan Dengan demikian dalam jangka waktu panjang di dalam setiap ekosistem,selalu terjadi keseimbangan populasi organisme termasuk populasi hama, yangsecara dinamik bergejolak di sekitar aras keseimbangan populasinya masing-masing. Setiap organisme dalam kondisi ekosistem tertentu memiliki araskeseimbangannya sendiri-sendiri. Aras populasi tersebut dapat tinggi, tetapi jugadapat rendah seperti yang kita harapkan. 25
  28. 28. Populasi Mangsa (A) Predator Waktu Gambar 16. Hubungan antara kepadatan serangga A dan kepadatan predator BPengaruh Tindakan Manusia terhadap Populasi Hama Faktor-faktor alami seperti suhu, curah hujan sebagai faktor abiotik sertafaktor biotik seperti parasitoid, predator, patogen hama, pesaing, dll bekerja secarainteraktif yang membawa populasi hama berada di sekitar aras keseimbangannya.Justru faktor MANUSIA dengan segala tindakannya sangat mempengaruhidinamika populasi hama sehingga dapat sangat menjauhi aras keseimbangan.Manusia dapat mempengaruhi letak aras keseimbangan melalui mekanisme sbb: Dalam mengelola agroekosistem, manusia dapat mempengaruhi ataumengubah letak aras keseimbangan umum suatu spesies hama melalui kegiatanpengelolaan agroekosistem. Aras keseimbangan populasi hama dapat meningkatantara lain dengan penggunaan pestisida yang berlebihan dan kurang tepat,sehingga dapat membunuh musuh alami. Penggunaan pestisida yang dilakukanterus-menerus dapat mengakibatkan aras keseimbangan hama tersebut akanmeningkat melebihi aras keseimbangan sebelumnya (Gambar 17). Peningkatan aras keseimbangan populasi hama dapat juga terjadi sebagaiakibat tersedianya makanan hama secara luas dan terus menerus. Demikian jugajika varietas tanaman yang ditanam adalah varietas peka, lambat laun araskeseimbangan populasi hama akan meningkat. Bila aras keseimbangan meningkat maka dapat mengakibatkan populasihama melebihi AE/AT/AK yang ditetapkan. Dalam keadaan demikian petaniterpaksa menggunakan pestisida lebih sering lagi sehingga dapat meningkatkankerugian, tidak hanya bagi petani tetapi juga bagi konsumen dan kualitaslingkungan hidup. Aras keseimbangan populasi hama dapat juga diturunkan apabila yangterjadi sebaliknya yaitu dengan memasukkan atau melakukan konservasi musuhalami. Tindakan manusia demikian ini akan mendorong bekerjanya pengendali 26
  29. 29. alami di daerah tersebut, yang dalam jangka panjang dapat menurunkan araskeseimbangan populasi hama. Salah satu sasaran PHT adalah menurunkan araskeseimbangan populasi hama sehingga berada di bawah ambang pengendalian. Populasi Aras Keseimbangan 2 Pestisida Aras Keseimbangan 1 WaktuGambar 17. Peningkatan aras keseimbangan akibat perlakuan pestisida secara terus menerus. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 5 FUNGSI PENGAMATAN DALAM SISTEM PHTTujuan:A. Mempelajari fungsi pengamatan dalam sistem PHTB. Mempelajari prinsip-prinsip pengambilan sampel dan pengamatanC. Mempelajari praktek pengamatan dan pelaporan perlindungan tanaman oleh petugas pengamat hamaD. Pengamatan oleh petaniMateri:HUBUNGAN PENGAMATAN, PENGAMBILAN SAMPEL DAN PEMANTAUAN 27
  30. 30. Pengamatan adalah kegiatan pengumpulan data dan informasi tentangsesuatu obyek yang diamati/dikaji/diteliti. Pengamatan bisa dilakukan secaraberkala maupun insidentil. Ada beberapa maksud atau tujuan pengamatan yaitupengamatan untuk pengumpulan data penelitian, pengamatan untuk penyusunanlapangan dan pengamatan untuk pengambilan keputusan. Kegiatan pengamatanyang dilakukan secara berkala pada suatu obyek pengamatan tertentu untukdigunakan dalam proses pengambilan keputusan disebut PEMANTAUAN. Kegiatan pemantauan dalam PHT merupakan kegiatan utama yangmembedakan sistem PHT dengan sistem pengendalian hama secara konvensional.Peranan pengamatan dan pemantauan hama dan ekosistem dalam penerapansistem PHT adalah seperti bagan berikut: Analisis Ekosistem Pengambil Keputusan Pemantauan Tindakan Pengelolaan EKOSISTEM PERTANIANGambar 18. Hubungan antara pemantauan, pengambilan keputusan dan tindakan pengelolaan dalam sistem pelaksanaan PHT Dari gambar tersebut, kegiatan pertama yang dilakukan adalah pemantauanekosistem. Kegiatan pemantauan dilakukan untuk mengikuti perkembangankeadaan ekosistem pada suatu saat yang meliputi perkembangan komponenekosistem, baik komponen biotik seperti keadaan tanaman, tingkat kerusakantanaman oleh hama, populasi hama dan penyakit, populasi musuh alami dan lain-lain. Juga komponen abiotik seperti suhu, curah hujan, kebasahan, dll. Hasilpemantauan atau data hasil pemantauan dianalisis antara lain denganmembandingkan data ekosistem dengan nilai AE atau Ambang Kendali. Dari hasilanalisis ekosistem dapat diambil keputusan mengenai tindakan pengendalian ataupengelolaan yang perlu diterapkan pada ekosistem. Hasil pengambilan keputusansegera diterapkan ke lapangan mengenai tindakan pengelolaan atau pengendalianseperti perbaikan budidaya tanaman, introduksi musuh alami, mengubahhabitatnya, pengendalian dengan pestisida, dll. Pengambil keputusan semakin kebawah yaitu pada pihak pengelola dari ekosistem pertanian, seperti petani ataukelompok tani. 28
  31. 31. MEMPELAJARI PRINSIP-PRINSIP PENGAMBILAN SAMPEL DANPENGAMATAN Sampel atau contoh merupakan bagian dari suatu populasi yang diamati.Dalam praktek pengamatan tidak mungkin bagi pengamat mengamati seluruhindividu dalam populasi tetapi pengamatan dilakukan pada sebagian kecil populasiyang kita sebut sampel. Dari informasi yang diperoleh pada sampel kita inginmenduga sifat populasi yang sebenarnya. Oleh karena itu, sampel yang diambilharus dapat mewakili. Populasi sampel terdiri dari beberapa unit sampel. Jumlahunit sampel sering kita namakan sebagai ukuran sampel. Misalkan kita inginmengetahui populasi hama atau kerusakan tanaman dalam satu daerah/lahan yangluasnya 1 hektar, sebagai unit sampel ditetapkan rumpun padi. Jumlah rumpun padiyang diamati 30. Hal ini berarti unit sampel adalah rumpun dan ukuran sampel 30. Proses pengambilan sampel dan monitoring memerlukan teknik yangberagam tergantung pada jenis tanaman, jenis hama, atau organisme lain yangdiamati. Ada dua syarat yang perlu diperhatikan dalam melakukan teknikpengamatan dan pengambilan sampel yang dilakukan yaitu praktis, dan dapatdipercaya. Praktis berarti metode pengamatan yang dilakukan sederhana, mudahdikerjakan dan tidak memerlukan peralatan dan bahan yang mahal, dan sedapatmungkin tidak mengambil waktu lama. Hasil pengamatan harus dapat dipercayaberarti metode tersebut akan menghasilkan data yang dapat mewakili ataumenggambarkan secara benar tentang sifat populasi sesungguhnya. Faktor yangmempengaruhi pengambilan sampel:1. Sifat dan ketrampilan petugas pengamat2. Keadaan lingkungan setempat3. Sifat sebaran spasial seranggaPENYUSUNAN PROGRAM PENGAMBILAN SAMPEL DAN PENGAMATAN Dalam menyusun secara lengkap program pengambilan sampel pada suatuwilayah pengamatan perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untukmenetapkan beberapa kriteria atau ketentuan tentang pengambilan sampel.Ketentuan-ketentuan tersebut meliputi penetapan tentang:1. Unit Sampel2. Interval Pengambilan Sampel3. Banyak atau Ukuran Sampel4. Desain Pengambilan Sampel5. Mekanik Pengambilan Sampel1. Unit sampel Unit sampel merupakan unit pengamatan yang terkecil. Pada unit tersebutdiadakan pengukuran dan penghitungan oleh pengamat terhadap individu seranggayang ada, dan apa yang ditinggalkan oleh serangga yang menjadi obyekpengamatan atau variabel pengamatan. Beberapa variabel pengamatan yang dapatdiperoleh dari unit sampel dapat berupa kepadatan atau populasi hama, populasimusuh alami, intensitas kerusakan, dll. Ada berbagai jenis unit sampel yang saat ini digunakan dalam praktekpengamatan baik untuk program penelitian atau untuk pengambilan keputusan 29
  32. 32. pengendalian hama. Biasanya unit sampel dikembangkan berdasarkan sifat biologiserangga dan belajar dari pengalaman sebelumnya. Unit sampel dapat berupa:a. Unit luas permukaan tanah 1 x 1 m2b. Unit volume tanahc. Bagian tanaman seperti rumpun, batang, daun, pelepah daund. Dalam bentuk stadia hamanya sendiri. Sering digunakan untuk evaluasi dalam musuh alami seperti jumlah larva parasit atau larva inang, dst.2. Penentuan interval pengambilan sampel Interval pengambilan sampel merupakan jarak waktu pengamatan yang satudengan waktu pengamatan yang berikutnya pada petak pengamatan yang sama.Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan interval pengamatanantara lain tingkat tumbuh tanaman, daur hidup serangga yang diamati, tujuanpengambilan sampel, faktor cuaca, dll. Untuk serangga yang mempunyai sikluspendek dan kapasitas reproduksi tinggi, interval pengamatan harus pendek agartidak kehilangan informasi dari lapangan. Demikian juga keadaan ini berlaku bagikomoditas tanaman yang peka terhadap serangan hama seperti kapas, dan jugauntuk jenis hama yang peningkatan kerusakannya berjalan cepat.3. Penentuan ukuran sampel Dalam program pengambilan sampel dan pengamatan, penentuan ukuransampel atau jumlah unit sampel yang harus diamati pada setiap waktu pengamatansangat menentukan kualitas hasil pengamatan. Ukuran sampel dipengaruhi oleh dua komponen utama yaitu varians (s 2)yang menjelaskan distribusi data sampel, dan biaya pengambilan sampel yangterdiri atas ongkos tenaga dan alat-alat pengambilan sampel. Secara umum dapatdikatakan semakin besar ukuran sampel (n) semakin dapat dipercaya hargapenduga parameter populasi. Tetapi apabila ukuran sampel besar maka biayapengambilan sampel juga semakin besar. Sebaliknya bila unit sampel terlalusedikit, analisa statistik akan menghasilkan keputusan yang memiliki ketepatan danketelitian rendah, sehingga kualitas dan kegunaan hasil pengamatan diragukan.4. Desain atau pola pengambilan sampel Ada beberapa pola yang dapat digunakan untuk menetapkan unit sampelyang mana dari keseluruhan populasi yang harus diamati yang menjadi anggotasampel. Pola yang paling ideal adalah secara acak (random sampling), kemudiandikenal:a. Pola acak berlapisb. Pola pengambilan sampel sistematikc. Pola pengambilan sampel purposive atau yang sudah ditentukanBeberapa pola pengambilan sampel yang sering digunakan adalah bentuk: 30
  33. 33. A B CGambar 19. Pola pengambilan sampel A. Pola Diagonal, B. Pola Zigzag, C. Pola Lajur tanaman5. Mekanik Pengambilan Sampel Mekanik pengambilan sampel serangga adalah segala teknik memperoleh,mengumpulkan serta menghitung individu serangga yang diamati atau bahan yangditinggalkan oleh serangga pada unit sampel yang telah ditentukan. Mekanik sampel yang sering dilakukan oleh para pengamat kita adalahpengamatan langsung di lapangan. Tidak semua serangga dapat dihitung secaralangsung sehingga masih diperlukan peralatan atau alat khusus yang dapatdigunakan untuk mengumpulkan individu serangga dan kemudian dihitungjumlahnnya.PRAKTEK PENGAMATAN DAN PELAPORAN PETUGAS PENGAMAT Di organisasi Departemen Pertanian saat ini ada 3 Direktorat Jenderal yangmempunyai tugas untuk mengumpulkan pelaporan data populasi dan kerusakanOPT di seluruh propinsi. Tiga Direktorat Jenderal itu adalah Direktorat JenderalTanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Hortikultura, Direktorat JenderalTanaman Perkebunan. Pada tiga Direktorat Jenderal tersebut terdapat DirektoratPerlindungan Tanaman seperti Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan,Hortikultura dan Perkebunan. Kebijakan dan rekomendasi pelaksanaan dan pelaporan perlindungantanaman disusun dan dikeluarkan oleh 3 direktorat tersebut, sedangkanpelaksanaan pengamatan dilakukan oleh para Petugas Pengamat Hama (PHP) danpenyakit yang ada di daerah yang dikoordinasikan oleh BPTPH yang ada di setiappropinsi. Untuk tanaman pangan dan hortikultura, BPTPH secara struktural beradadi bawah Pemerintah Daerah Tingkat I/Propinsi. Sedangkan untuk perkebunan,BPTP masih berada di bawah Direktorat Jenderal Perkebunan atau masih di bawahPemerintah Pusat. Secara fungsional, PHP saat ini termasuk dalam kelompokPOPT (Pengendali OPT).1. Pengamatan Pengamatan dilakukan oleh PHP dan petani dengan dua cara yaitupengamatan tetap dan pengamatan keliling atau patroli. Pengamatan bertujuanuntuk mengetahui atau mendeteksi jenis dan kepadatan OPT, intensitas seranganOPT, daerah penyebaran, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembanganOPT serta intensitas kerusakan bencana alam. Dengan informasi tersebutdiharapkan petani/kelompok tani bersama petugas dapat mengetahui danmenganalisis secara dini untuk menentukan langkah-langkah penanganan usahatani, sehingga produksi tanaman yang sudah diusahakan tetap pada taraf tinggi,menguntungkan dan aman bagi lingkungan. 31
  34. 34. Metode Pengamatan Pengamatan OPT pada tanaman pangan dan hortikultura dilakukan dengandua cara, yaitu pengamatan tetap dan pengamatan keliling atau patroli. Secara rincipelaksanaan pengamatan tetap dan pengamatan keliling adalah sbb:a. Pengamatan tetap Pengamatan tetap adalah pengamatan yang dilakukan pada petak contohtetap yang mewakili bagian terbesar dari wilayah pengamatan, perangkap lampu,curah hujan, stasiun meteorologi pertanian khusus. 1). Pengamatan petak tetap Pengamatan pada petak contoh tetap bertujuan untuk mengetahuiperubahan kepadatan populasi OPT dan musuh alami serta intensitas serangan.Petak contoh tetap ditempatkan pada lima jenis tanaman dominan. Untukkomoditas terluas diamati empat petak contoh tetap sedangkan empat komoditaslainnya masing-masing diamati satu petak contoh. Dengan demikian pada setiapwilayah pengamatan terdapat delapan petak contoh pengamatan tetap. Petak contoh ditentukan secara purposive, sehingga mewakili bagianterbesar wilayah pengamatan dalam hal waktu tanam, teknik bercocok tanam, danvarietasnya. Pada masa peralihan antara dua musim tanam, pengamatanditeruskan pada petak-petak contoh yang dapat mewakili wilayah pengamatandalam waktu tersebut. Karena itu petak contoh pada masa antara dua musim tanamdapat berpindah sesuai dengan keadaan tanaman yang dapat mewakili wilayahpengamatan. 2). Pengamatan Perangkap lampu Kepadatan populasi OPT dan musuh alami yang efektif yang tertarik cahayadiamati pada satu atau lebih perangkap lampu yang mewakili wilayah pengamatan.Perangkap lampu ditempatkan jauh dari faktor-faktor yang akan mempengaruhibanyaknya serangga pengganggu tanaman atau musuh alaminya tertarik cahaya.Lampu dinyalakan dari senja sampai fajar. Serangga yang tertangkap diidentifikasidan dihitung. Pengamatan dilakukan setiap hari serta dilaporkan setiap dua minggu.b. Pengamatan Keliling atau Patroli Pengamatan keliling atau patroli bertujuan untuk mengetahui tanamanterserang dan terancam, luas pengendalian, bencana alam serta mencari informasitentang penggunaan, peredaran dan penyimpanan pestisida. Pengamatan keliling atau patroli dilaksanakan dengan menjelajahi wilayahpengamatan. Sebelum melaksanakan pengamatan, PHP disarankan menemuipetani/kelompok tani pemandu, penyuluh atau sumber lain yang layak dipercaya;untuk memperoleh informasi tentang adanya serangan OPT dan kegiatanpengendalian di wilayah kerjanya. Informasi tersebut digunakan untuk menentukandaerah yang dicurigai dan mengkonsentrasikan pengamatannya. Penentuandaerah yang dicurigai didasarkan pada kerentanan varietas yang ditanam terhadapOPT utama di daerah tersebut, stadia pertumbuhan tanaman dan jaraknyaterhadap sumber serangan. Serangan OPT di daerah yang dicurigai, diamati lima petak contoh yangterletak pada perpotongan garis diagonal (A) dan pertengahan potongan-potongangaris diagonal tersebut (B, C, D dan E) seperti terlihat pada Gambar 20. Jumlah 32
  35. 35. rumpun yang diamati tiap unit contoh adalah 10 rumpun/batang. Komponen-komponen yang diamati adalah luas tanaman terserang, intensitas serangan,kepadatan populasi OPT, stadia/umur tanaman, varietas dan tindakanpengendalian yang pernah dilakukan petani. Gambar 20. penyebaran petak contoh pada daerah yang dicurigai terserang. Dalam tiap petak contoh diamati 5 unit contoh seperti pada gambar 20.Jumlah rumpun contoh yang diamati dalam tiap unit contoh adalah sepuluhrumpun/tanaman.Cara pelaksanaan: Untuk memudahkan pelaksanaan pengamatan keliling dilakukan sesudahpengamatan petak tetap pada subwilayah pengamatan dimana petak tetap ituberada. Apabila ada informasi bahwa di subwilayah lainnya terjadi serangan OPTmaka harus dilakukan pengamatan keliling tambahan. Adapun pembagiansubwilayah adalah sebagai berikut:1. Mula-mula bagilah wilayah pengamatan menjadi 4 strata berdasarkan waktu tanamannya (lihat Gambar 21)2. Bagilah masing-masing strata menjadi 2 subwilayah, sehingga satu wilayah akan terbagi menjadi 8 subwilayah (lihat Gambar 21). Untuk pengamatan tetap, tempatkan satu petak contoh pengamatan padamasing-masing strata di lokasi yang selalu dilewati saat mengadakan pengamatankeliling di strata tersebut, sehingga setiap petak contoh pengamatan tetap dapatdiamati dengan interval waktu satu minggu, sedangkan interval pengamatan kelilingdua minggu. Waktu pengamatan OPT dilakukan 4 (empat) hari setiap minggu kecualiuntuk tangkapan perangkap lampu dan penakar curah hujan dilakukan setiap hari.Pelaksanaan pengamatan OPT dimulai dari hari senin sampai dengan hari kamis. Hasil pengamatan dan kejadian yang ditemukan pada saat pengamatankeliling dan pengamatan tetap dilaporkan secara rutin pada setiap akhir periodepengamatan. Laporan pengamatan tetap pada periode pelaporan tengah bulanpertama berisi hasil pengamatan minggu ke 1 dan ke 2, sedang pada periodepelaporan tengah bulan kedua berisi hasil pengamatan minggu ke 3 dan ke-4. A 1 B 2 C 3 D 4 Senin 1 Selasa 1 Rabu 1 Kamis 1 5 6 7 8 Senin 2 Selasa 2 Rabu 2 Kamis 2 33
  36. 36. Keterangan:A, B, C, D …… pembagian menurut strata 1, 2, 3 … dst … subwilayah Gambar 21. Pembagian subwilayah pengamatan di wilayah kerja PHPMetode Pengambilan Contoha. Tanaman Pangan Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman pangan (padi danpalawija) dilakukan dengan metode diagonal. Pada pengamatan tetap tiap petakcontoh ditentukan tiga unit contoh yang terletak di titik perpotongan garis diagonalpetak contoh (A) dan di pertengahan potongan-potongan garis diagonal yangterpanjang (B dan C), seperti terlihat pada Gambar 22. Tiap unit contoh diamati 10rumpun contoh. Dari petak contoh itu diamati intensitas serangan OPT, kepadatanpopulasi OPT dan kepadatan populasi musuh alami yang efektif.Gambar 22. Penyebaran Unit Contoh dalam Petak Contoh. Dalam Tiap Unit Contoh Diamati 10 Rumpun Contoh.b. Tanaman Sayuran Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman sayur-sayurandilakukan pada 10 tanaman contoh setiap 0,1 ha atau 50 tanaman contoh perhektar. Pengambilan tanaman contoh ditentukan secara acak (random).c. Tanaman Buah-buahan, hias, Obat-obatan dan Rempah-rempah Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman buah-buahan, hiasdan obat-obatan dan rempah-rempah dilakukan dengan menggunakan petakcontoh, yaitu kecamatan. Tanaman yang diamati dibagi 3 kriteria seperti berikut:a. Tanaman dominan (terbanyak) : 15 tanaman/rumpunb. Tanaman dengan jumlah sedang : 10 tanaman/rumpunc. Tanaman dengan jumlah sedikit : 5 tanaman/rumpun Tanaman contoh ditentukan dengan 2 (dua) cara, yaitu random (acak) dandiagonal. Cara random dilakukan pada perkebunan rakyat/pekarangan rumah,sedangkan cara diagonal dilakukan (seperti pengambilan contoh pada tanamanpadi) pada perkebunan besar. 34
  37. 37. Penilaian Serangan OPT Penilaian terhadap kerusakan tanaman dilakukan berdasarkan gejalaserangan OPT yang sifatnya sangat beragam. Kerusakan tanaman oleh seranganOPT dapat berupa kerusakan mutlak (atau yang dianggap mutlak) dan tidak mutlak.Untuk menilai serangan OPT yang menyebabkan kerusakan mutlak atau dianggapmutlak digunakan rumus sebgai berikut: a I = ----------- X 100% a+bKeterangan:I : Intensitas serangan (%)A : Banyaknya contoh (daun, pucuk, bunga, buah, tunas, tanaman, rumpun tanaman) yang rusak mutlak atau dianggap rusak mutlak.B : Banyaknya contoh yang tidak terserang (tidak menunjukkkan gejala serangan).2. Laporan Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura diperlukan untukmenyusun perlindungan tanaman, memberikan anjuran pengendalian, menyusunrencana perlindungan tanaman, memberikan anjuran pengendalian, menyusunbantuan pengendalian, merencanakan bimbingan pengendalian, melaksanakanpengamatan lebih intensif, dan merencanakan penyediaan sarana pengendalian.Oleh karena itu, Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura perludibuat sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dan segera dikirim ke instansiyang memerlukannya. Sesuai dengan kebijaksanaan dibidang perlindungantanaman pangan dan hortikultura dan pembagian wewenang dalam strukturorganisasi berlaku, Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikulturadisampaikan oleh PHP kepada Mantri Tani (Mantan) dan instansi vertikal diatasnya. Mantri Tani dan Penyuluh menyuluhkan dan menyebarluaskan kepadapetani sebagai dasar pengambilan keputusan kelompok tani, dan bila perlubersama-sama dengan PHP membina petani melaksanakan pengendalian. Instansivertikal di atasnya menggunakan laporan tersebut sebagai bahan mengevaluasikeadaan serangan, kemampuan petugas membimbing petani dalam pengendalian,merencanakan bimbingan dan bantuan, serta menyusun Laporan PerlindunganTanaman Pangan dan Hortikultura di wilayah kerjanya. Laporan PHP yang diterima oleh Mantan diteruskan kepada Camat danDinas Pertanian (Diperta) Kabupaten/Kotamadya, dan DipertaKabupaten/Kotamadya meneruskan laporan tersebut ke Diperta Propinsi. OlehCamat sebagai Ketua Satuan Pelaksana Bimas Kecamatan, laporan tersebut dapatdigunakan sebagai dasar untuk menyusun kampanye pengendalian secara massaloleh petani dan bila dibutuhkan/diperlukan bantuan pemerintah berupa pestisidadapat dikeluarkan. Sedangkan oleh Diperta Kabupaten/Kotamadya, digunakanuntuk membina pengendalian OPT dan mempertimbangkan bantuan pengendaliankepada petani apabila dinilai sebagai serangan eksplosi. Koordinator PHP mengkoordinasikan laporan PHP, laporan serangan OPTyang dilaporkan PHP dari seluruh wilayah pengamatan kabupaten diteruskan keDiperta Kabupaten/Kotamadya serta laporan lainnya diteruskan ke Laboratorium 35
  38. 38. Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) dan (Balai Proteksi Tanaman Pangan danHortikultura (BPTPH)/Loka Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura(LPTPH)/Satgas BPTPH/LPTPH.PENGAMATAN OLEH PETANI Karena jumlah PHP dan petugas pengamat atau penyuluh di daerahsangat terbatas maka yang paling baik kegiatan pengamatan dilakukan sendiri olehpetani pemilik/penggarap. Petani sendiri yang melakukan kegiatan pemantauan,pengambilan keputusan dan tindakan pengendalian. Dengan demikian petani tidaklagi tergantung pada petugas, pemerintah. Petani dapat melakukan pengamatansecara perseorangan/individual, namun yang paling baik secara berkelompok ataumerupakan kegiatan kelompok tani. Agar petani dapat melakukan kegiatanpemantauan ekosistem, mereka perlu mengikuti pelatihan khusus yangdilaksanakan secara intensif, setiap 1 minggu sekali di dalam kegiatan yang disebutSLPHT. Dengan demikian tujuan pelaksanaan kegiatan pengamatan oleh parapetugas PHP hanya terbatas pada penyusunan laporan bagi pemda maupunpemerintah pusat tetapi tidak untuk pengambilan keputusan untuk lahan petanidalam menerapkan PHT. 36
  39. 39. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 6 PENGENDALIAN DENGAN TANAMAN/VARIETAS TAHAN HAMA Tujuan:1. Mengenal dan mempelajari komponen PHT - Pengendalian dengan Tanaman Tahan Hama2. Mengenal dan mempelajari pengembangan tanaman transgenik tahan hama3. Mengenal dan mempelajari prinsip-prinsip karantina tumbuhan dan sistem karantina pertanian di IndonesiaMateri: Pengendalian hama dengan cara menanam tanaman yang tahan terhadapserangan hama telah lama dilakukan dan merupakan cara pengendalian yangefektif, murah, dan kurang berbahaya bagi lingkungan. Penggunaan berbagaivarietas padi tahan hama wereng coklat berhasil mengendalikan hama werengcoklat padi di Indonesia yang sejak tahun 1970 menjadi hama padi yang palingpenting. Saat ini petani telah mengenal banyak VUTW (Varietas Unggul TahanWereng) yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti dari IRRI (Filipina) dan dariIndonesia sendiri. Di luar tanaman padi penggunaan varietas tahan hama masihterbatas karena belum banyak tersedia varietas atau jenis tanaman yang memilikiketahanan tinggi terhadap hama-hama tertentu. Pada tahun 1984 Indonesia telah berhasil berswasembada beras. Kontribusivarietas unggul tahan hama bagi keberhasilan Indonesia berswasembada berassangat besar. Hal ini berkat kerja keras para ahli hama, pemulia tanaman,agronomi, dll yang telah berhasil menemukan dan mengembangkan VUTW. Namunsayangnya karena berbagai faktor, sampai saat ini status swasembada berassemakin sulit dipertahankan.1. Mekanisme Ketahanan Tanaman Ketahanan atau resistensi tanaman merupakan pengertian yang bersifatrelatif. Untuk melihat ketahanan suatu jenis tanaman sifat tanaman, yang tahanharus dibandingkan dengan sifat tanaman yang tidak tahan atau yang peka.Tanaman yang tahan adalah tanaman yang menderita kerusakan yang lebih sedikitbila dibandingkan dengan tanaman lain dalam keadaan tingkat populasi hama yangsama dan keadaan lingkungan yang sama. Pada tanaman yang tahan, kehidupandan perkembangbiakan serangga hama menjadi lebih terhambat bila dibandingkandengan perkembangbiakan sejumlah populasi hama tersebut apabila berada padatanaman yang tidak atau kurang tahan. 37
  40. 40. Sifat ketahanan yang dimiliki oleh tanaman dapat merupakan sifat asli(terbawa keturunan faktor genetik) tetapi dapat juga karena keadaan lingkunganyang mendorong tanaman menjadi relatif tahan terhadap serangan hama.Beberapa ahli membedakan ketahanan tanaman dalam dua kelompok yaituketahanan ekologi dan ketahanan genetik (Kogan, 1982). Ahli lain menganggapketahanan ekologi bukan merupakan ketahanan sebenarnya dan disebutketahanan palsu atau pseudo resistance sedangkan yang disebut sifat ketahanantanaman adalah ketahanan genetik. Hal ini disebabkan sifat ketahanan ekologitidak tetap dan mudah berubah tergantung pada keadaan lingkungannya,sedangkan sifat ketahanan genetik relatif stabil dan sedikit dipengaruhi olehperubahan lingkungan.2. Ketahanan Genetik Sampai saat ini klasifikasi resistensi genetik menurut Painter yang banyakdiikuti oleh para pakar. Menurut Painter (1951) terdapat 3 mekanisme resistensitanaman terhadap serangga hama yaitu 1) ketidaksukaan, 2) antibiosis dan 3)toleran. a. Ketidaksukaan/antixenosis Nonpreference merupakan sifat tanaman yang menyebabkan suatuserangga menjauhi atau tidak menyenangi suatu tanaman baik sebagai pakan atausebagai tempat peletakan telur. Menurut Kogan (1982) istilah yang lebih tepatdigunakan untuk sifat ini adalah antixenosis yang berarti menolak tamu (xenosis =tamu). Antixenosis dapat dikelompokkan menjadi penolakan kimiawi atauantixenosis kimiawi dan penolakan morfologi atau antixenosis morfologik. b. Antibiosis Antibiosis adalah semua pengaruh fisiologi pada serangga yang merugikan,bersifat sementara atau tetap, sebagai akibat kegiatan serangga memakan danmencerna jaringan atau cairan tanaman tertentu. Gejala penyimpangan fisiologiterlihat apabila suatu serangga dipindahkan dari tanaman tidak memiliki sifatantibiosis ke tanaman yang memiliki sifat tersebut. Penyimpangan fisiologi tersebutberkisar mulai dari penyimpangan yang sedikit sampai penyimpangan terberat yaituterjadinya kematian serangga. c. Toleran Mekanisme resistensi toleran terjadi karena adanya kemampuan tanamantertentu untuk sembuh dari luka yang diderita karena serangan hama atau mamputumbuh lebih cepat sehingga serangan hama kurang mempengaruhi hasil,dibandingkan dengan tanaman lain yang lebih peka.3. Ketahanan Ekologi Ketahanan Ekologi atau dengan istilah lain ketahanan yang kelihatan(apparent resistance) atau ketahanan palsu (pseudo resistance) merupakan sifatketahanan tanaman yang tidak dikendalikan oleh faktor genetik tetapi sepenuhnyadisebabkan oleh faktor lingkungan yang memungkinkan kenampakan sifat 38
  41. 41. ketahanan tanaman terhadap hama tertentu. Oleh karena sifatnya yang tidak tetap,ahli pemulia tanaman tidak mengakui sifat ini sebagai sifat ketahanan tanamanyang sesungguhnya. Sifat ketahanan ini biasanya merupakan sifat sementara dandapat terjadi pada tanaman yang sebenarnya peka terhadap serangan hamatertentu. Ada 3 bentuk ketahanan ekologi yaitu pengelakan inang (host evasion),ketahanan dorongan (induced resistance) dan inang luput dari serangan (hostescape).a. Pengelakan Inang Pengelakan inang terjadi bila waktu pemunculan fase tumbuh tanaman tertentu tidak bersamaan dengan waktu pemunculan stadia hama yang aktif mengkonsumsikan tanaman.b. Ketahanan Dorongan Sifat ketahanan ini timbul dan didorong oleh adanya keadaan lingkungan tertentu sehingga tanaman mampu bertahan terhadap serangan hama. Ketahanan dorongan ini terjadi antara lain akibat adanya pemupukan dan irigasi serta teknik budidaya yang lain.c. Inang Luput dari Serangan Sering dialami pada suatu tempat tertentu ada suatu kelompok tanaman yang sebenarnya memiliki sifat peka terhadap suatu jenis hama, tetapi pada suatu saat tanaman tersebut tidak terserang meskipun populasi hama di sekitarnya pada waktu itu cukup tinggi. Hal tersebut tidak berarti bahwa tanaman tersebut tahan terhadap serangan hama tetapi tanaman tersebut sedang dalam keadaan luput dari serangan hama.4. Langkah Pengembangan Varietas Tahan Pengembangan varietas tahan hama secara konvensional dilakukan melaluipenerapan teknologi pemuliaan tanaman tradisional dengan melakukan persilangantanaman. Beberapa kegiatan utama dalam melakukan perolehan danpengembangan guna memperoleh varietas tahan hama yang baru adalah sebagaiberikut:a. Identifikasi sumber ketahanan.b. Penetapan mekanisme ketahanan.c. Penyilangan sifat ketahanan dengan sifat agronomi lainnya sehingga dapat diperoleh varietas yang lebih unggul.d. Analisis genetik terhadap sifat ketahanan.e. Identifikasi dasar-dasar kimia dan fisika sifat ketahanan.f. Pengujian lapangan multi lokasi.g. Pelepasan varietas tahan hama yang baru.PENGEMBANGAN VARIETAS TAHAN DENGAN BIOTEKNOLOGI Pengembangan varietas tahan hama secara konvensional banyak dikaji dantelah diperoleh hasil yang menggembirakan. Penggunaan varietas tahan terbuktimampu mengurangi tingkat serangan hama sehingga hasil panen dapat meningkat. 39
  42. 42. Sebagian besar varietas tahan hama yang dilepaskan, diperbanyak dan digunakandi Indonesia saat ini masih merupakan hasil teknologi pemuliaan tanaman secaratradisional yang telah diuraikan sebelumnya. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi akhir-akhir ini tidakmenutup kemungkinan penerapan bioteknologi modern dalam bidang pertanianuntuk dapat menghasilkan varietas tahan hama. Aplikasi bioteknologi pertanianmemberikan peluang yang sangat baik terhadap perkembangan kualitas maupunkuantitas produk-produk pertanian. Beberapa bioteknologi yang telahdikembangkan diantaranya rekayasa genetika yang mencakup rekombinasi DNA,pemindahan gen, manipulasi dan pemindahan embrio, kultur sel dan jaringan,regenerasi tanaman dan antibodi monoklonal. Tanaman hasil rekayasa genetika yang selanjutnya disebut tanamantransgenik dapat direkayasa memiliki sifat ketahanan terhadap jenis hama tertentu.Salah satu sifat unggul tanaman transgenik adalah ketahanan terhadap hamasetelah tanaman tersebut disisipi dengan gen toksik yang berasal dari Bacillusthuringiensis (Bt). Sampai akhir tahun 2003 di Indonesia hanya satu varietas kapasBt yang telah diijinkan dan dilepaskan secara terbatas di Sulawesi Selatan. Di duniaInternasional tanaman transgenik tahan hama yang telah dikembangkan meliputitanaman kapas, jagung, kentang. Berbagai tanaman tersebut telah disisipi genyang berasal dari bakteri Bt sehingga tahan terhadap jenis hama tertentu. Aplikasi pemindahan gen dengan teknik biologi molekuler dengan sasaranmemperoleh sifat-sifat tertentu dapat dilakukan lebih cepat, dengan ketepatan yangtinggi serta perolehan spektrum sifat yang jauh lebih lebar daripada hasil pemuliaantanaman konvensional. Perkembangan bioteknologi telah memungkinkan ilmuwanuntuk mentransformasikan gen Bt yang dikehendaki ke dalam genom berbagaijenis tanaman pertanian. Gen Bt yang menyandi protein delta-endotoksin telahdapat disisipkan ke dalam tanaman untuk pengendalian hama tertentu. Misaltanaman kapas Bt telah disisipi dengan gen cry1Ac untuk mengendalikan hamapenggerek buah kapas Helicoverpa virescens. Tanaman kapas Bt memproduksitoksin secara terus-menerus sehingga serangga peka yang hidup dalam jaringantanaman akan mati kalau memakan jaringan tersebut. Tanaman transgenik akan terlindung dari serangan hama selama racunprotein masih terus diproduksi. Karena racun protein yang dihasilkan hanya aktifbagi beberapa jenis serangga tertentu, suatu jenis tanaman transgenik tahan hamahanya dapat mengendalikan jenis-jenis hama tertentu.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN VARIETAS TAHAN HAMA KONVENSIONALKelebihana. Penggunaannya praktis dan secara ekonomi menguntungkanb. Sasaran pengendalian yang spesifikc. Efektivitas pengendalian bersifat kumulatif dan persistend. Kompatibilitas dengan komponen PHT lainnyae. Dampak negatif terhadap lingkungan terbatasKekuranganBeberapa keterbatasan atau permasalahan yang perlu kita ketahui antara lain: 40
  43. 43. a. Waktu dan Biaya Pengembanganb. Keterbatasan Sumber Ketahananc. Timbulnya Biotipe hamad. Sifat Ketahanan yang BerlawananKELEBIHAN DAN KEKURANGAN TANAMAN TRANSGENIK TAHAN HAMAKelebihan1. Efektif mengendalikan hama sasaran dan pengurangan kehilangan hasil2. Penurunan penggunaan pestisida kimia3. Penurunan biaya pengendalian4. Pengendalian hama secara selektif5. Penurunan populasi hama dalam areal yang luasKeterbatasan Tanaman Transgenik1. Resistensi hama terhadap toksin2. Pengaruh tanaman transgenik terhadap organisme bukan sasaran3. Pengurangan keanekaragaman hayati4. Variasi hasil5. Kepekaan terhadap jenis hama lain6. Pengembalian investasi tidak terjamin7. Risiko bagi kesehatan8. Ketergantungan pada industri benih transgenikKARANTINA PERTANIAN Tujuan karantina pertanian adalah mencegah masuknya hama dan penyakithewan, hama dan penyakit ikan, serta organisme pengganggu tumbuhan kewilayah negara RI, mencegah tersebarnya dari suatu area ke area lain, danmencegah keluarnya dari wilayah negara RI. Karantina Pertanian terdiri dari:1. Karantina Hewan2. Karantina Ikan3. Karantina Tumbuhan Kita memiliki dasar hukum untuk karantina yaitu:1. UU RI No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan2. PP No 14 Tahun 2002 tentang Karantina TumbuhanKARANTINA TUMBUHANPengertian penting:1. Organisme Pengganggu Tumbuhan karantina (OPTK) yang terdiri dari OPTK Golongan I, OPTK Golongan II a. OPTK adalah semua organisme pengganggu tumbuhan yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian untuk dicegah masuknya ke dalam dan tersebarnya di dalam wilayah Negara Republik Indonesia. 41
  44. 44. b. OPTK Golongan I yaitu OPTK yang tidak dapat dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan. Tidak dapat dibebaskannya OPT tersebut karena sifatnya memang tidak dapat dibebaskan, atau belum diketahui cara untuk membebaskannya, atau cara untuk membebaskannya belum dapat dilakukan di Indonesia. c. OPTK Golongan II yaitu semua OPTK yang dapat dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan.2. Kawasan Karantina adalah kawasan yang semula diketahui bebas dari hama dan penyakit tumbuhan karantina, sekarang telah ditemukan adanya organisme tertentu yang dahulunya tidak ada.3. Sertifikat Kesehatan Karantina (Phytosanitary Certificate) adalah surat keterangan yang dibuat oleh pejabat berwenang di negara atau area asal/pengirim/transit yang menyatakan bahwa tumbuhan atau bagian-bagian tumbuhan yang tercantum di dalamnya bebas dari OPT, OPTK, OPTK golongan I, OPTK golongan II, dan atau OPT Penting.4. Analisis Risiko Hama dan Penyakit Tumbuhan (Pest Risk Analysis/PRA) adalah suatu proses untuk menetapkan bahwa suatu OPT merupakan OPTK, atau OPT Penting, serta menentukan syarat-syarat dan tindakan karantina tumbuhan yang sesuai guna mencegah masuk dan tersebarnya OPT tersebut.Tindakan Karantina:1. Pemeriksaan2. Pengasingan3. Pengamatan4. Perlakuan5. Penahanan6. Penolakan7. Pemusnahan8. PembebasanKasus “kebobolan” masuknya hama baru di Indonesia:1. Keong/siput mas2. Pengorok daun kentang3. Nematoda Sista Kuning 42
  45. 45. bukudiktathamadanpenyakittanaman-130302221720-phpapp02.doc Materi 7 PENGENDALIAN HAYATIA. Parasitoid dan PredatorTujuan:1. Mempelajari prinsip dan teknik pengendalian hayati sebagai salah satu komponen dalam sistem PHT2. Mempelajari agens pengendalian hayati yang berupa parasitoid dan predator3. Mempelajari manfaat dan masalah yang dihadapi dalam penerapan pengendalian hayatiMateri:LATAR BELAKANG Pengendalian hayati sebagai komponen utama PHT pada dasarnya adalahpemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan populasi hamayang merugikan. Pengendalian hayati sangat dilatarbelakangi oleh berbagaipengetahuan dasar ekologi terutama teori tentang pengaturan populasi olehpengendali alami dan keseimbangan ekosistem. Musuh alami yang terdiri atasparasitoid, predator dan patogen merupakan pengendali alami utama hama yangbekerja secara "terkait kepadatan populasi" sehingga tidak dapat dilepaskan darikehidupan dan perkembangbiakan hama. Adanya populasi hama yang meningkatsehingga mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani disebabkan karenakeadaan lingkungan yang kurang memberi kesempatan bagi musuh alami untukmenjalankan fungsi alaminya. Apabila musuh alami kita berikan kesempatanberfungsi antara lain dengan introduksi musuh alami, memperbanyak danmelepaskannya, serta mengurangi berbagai dampak negatif terhadap musuh alami,musuh alami dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Meskipun praktek pengendalian hayati telah dilakukan ratusan tahun yanglalu di daratan Cina, pengendalian hayati yang pertama kali didokumentasikan ialahpada tahun 1762, ketika burung Mynah dibawa dari India ke Mauritius untukmemangsa hama belalang. Secara ilmiah keberhasilan pengendalian hayatipertama yang tercatat adalah pengendalian hama kutu berbantal pada kapasIcerya purchasi di California, Amerika Serikat dengan mengintroduksikan predatordari Australia yaitu kumbang vedalia, Rodolia cardinalis pada tahun 1888. Setelahkeberhasilan tersebut kemudian ratusan jenis hama telah berhasil dikendalikandengan cara hayati. Banyak hama di Indonesia berhasil dikendalikan denganmemasukkan musuh alami terutama sebelum tahun 1950-an sewaktu pestisidabelum banyak digunakan oleh petani. Salah satu jenis hama adalah hama belalangpedang Sexava sp yang menyerang kelapa yang dapat berhasil dikendalikan olehparasitoid telur Leefmansia bicolor di Sulawesi Utara. Juga hama ulat daun kubis 43
  46. 46. (Plutella xylostella) di Jawa Barat berhasil dikendalikan oleh parasitoid Diadegmasp. Introduksi parasitoid telur Chelonus sp dari wilayah Bogor ke Flores untukmengendalikan ngengat mayang kelapa (Batracedra spp). Pembiakan massalparasitoid telur Trichogramma spp dan lalat Jatiroto (Diatraeophaga striatalis)sangat membantu mengendalikan serangan penggerek batang tebu pada tahun1972. Selanjutnya pada 1975 telah diintoduksikan kumbang moncong Neochetinaeichhorniae dari Flores ke Bogor untuk pengendalian eceng gondok. Introduksikumbang Curinus coreolius dari Hawai dilakukan untuk mengendalikan hama kutuloncat lamtoro Heteropsylla sp tahun 1986. Dari tahun 1950 sampai 1970anpengendalian hayati pamornya berkurang akibat penggunaan pestisida kimia yangsangat dominan di seluruh dunia. Dengan munculnya konsepsi PHT pengendalianhayati kembali diharapkan menjadi tumpuan teknologi pengendalian yang dapatdipertanggungjawabkan secara ekologi maupun ekonomi.BEBERAPA PENGERTIAN Agar tidak timbul kerancuan lebih dahulu perlu dibedakan pengertian tentangpengendalian hayati (biological control) dan pengendalian alami (natural control)yang seringkali dibicarakan bersama. Pengendalian Hayati merupakan taktik pengelolaan hama yang dilakukansecara sengaja memanfaatkan atau memanipulasikan musuh alami untukmenurunkan atau mengendalikan populasi hama. De Bach tahun 1979mendefinisikan Pengendalian Hayati sebagai pengaturan populasi organismedengan musuh-musuh alami sehingga kepadatan populasi organisme tersebutberada di bawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian.Pengendalian Alami merupakan proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpaada kesengajaan yang dilakukan oleh manusia. Pengendalian alami terjadi tidakhanya oleh karena bekerjanya musuh alami, tetapi juga oleh komponen ekosistemlainnya seperti makanan, dan cuaca. Ada beberapa ahli yang meluaskan pengertian pengendalian hayati sebagaiusaha pengendalian hama yang mengikutsertakan organisme hidup. Varietas tahanhama, manipulasi genetik, dan penggunaan serangga mandul dimasukkan sebagaibagian teknik pengendalian hayati. Untuk selanjutnya dalam kuliah kita gunakanpengertian pengendalian hayati yang pertama.AGENS PENGENDALIAN HAYATI Sebagai bagian kompleks komunitas dalam ekosistem setiap spesiesserangga termasuk serangga hama dapat diserang oleh atau menyerangorganisme lain. Bagi serangga yang diserang organisme penyerang disebut "musuhalami". Secara ekologi istilah tersebut kurang tepat karena adanya musuh alamitidak tentu merugikan kehidupan serangga terserang. Hampir semua kelompokorganisme dapat berfungsi sebagai musuh alami serangga hama termasukkelompok vertebrata, nematoda, jasad renik, invertebrata di luar serangga.Kelompok musuh alami yang paling penting adalah dari golongan serangga sendiri.Dilihat dari fungsinya musuh alami atau agens pengendalian hayati dapat kitakelompokkan menjadi parasitoid, predator, dan patogen. 44

×