SlideShare une entreprise Scribd logo
1  sur  26
Bahan Ajar (Singkat)
   Mata Kuliah : Pengantar ke dalam Dunia Filsafat
                              Ilmu Administrasi
                      Pengajar : Dr. Valentino Lumowa
                      Semester : I-2012/2013


                            TINJAUAN MATA KULIAH
1 Deskripsi

       Matakuliah ini berisi uraian tentang pengertian hakikat filsafat, perbedaan filsafat dan

ilmu pengetahuan dengan melihat metode serta objek material dan objek formal filsafat dan

ilmu pengetahuan, dan perkembangan pemikiran filsafat dari zaman Yunani Kuno sampai

Filsafat Timur.



2 Manfaat

       Matakuliah Pengantar Filsafat menjadi bagian pokok dari kurikulum karena memiliki

beberapa tujuan, yaitu:

   a. Salah satu misi universitas ialah menghasilkan lulusan yang punya keunggulan

       akademik. Itu berarti, seorang lulusan tidak saja mempunyai pengetahuan dalam

       bidang spesialisasi program studinya, melainkan juga memiliki daya pikir konseptual

       yang tinggi dan rasional yang kuat. Maka, studi filsafat persis bisa membantu

       mengasah kebiasaan berpikir secara mendalam, teratur, dan terarah pada nilai-nilai

       yang tidak disadari oleh dunia empiris.

   b. Misi lain dari universitas ialah menghasilkan lulusan yang bisa memberikan kontribusi

       riil bagi pengembangan menuju masyarakat Indonesia baru, yakni masyarakat di mana

       demokrasi dan hak asasi manusia dihormati. Itu berarti para lulusan diharapkan
memiliki kemampuan memahami, menganalisis, mengkritisi, dan menunjukkan arah

     baru bagi perubahan masyarakat. Maka studi filsafat bisa membantu kita untuk

     terbiasa berefleksi secara mendalam, serta bersikap kritis terhadap apa yang didengar,

     dibaca, ataupun dilihat, sambil mampu menggagas konsep-konsep yang konstruktif

     demi perubahan baru masyarakat.

  c. Seperti yang akan dipelajari lagi, salah satu ciri yang paling menonjol dari filsafat

     ialah sifatnya yang rasional. Artinya, studi filsafat mengandalkan kekuatan akal budi,

     dan sedapat mungkin menghindari ikatan-ikatan emosional dan melampaui batasan-

     batasan inderawi belaka. Oleh karena itu, studi filsafat bisa membantu kita

     mengembangkan daya rasio kita untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan

     emosional yang selama ini gampang sekali disulut atau diprovokasi untuk kepentingan

     yang merusak. Selain itu, karena rasionalitasnya, filsafat juga biasa membantu kita

     untuk mengatasi perbedaan-perbedaan etnis, suku, dan agama yang seringkali

     menghambat kerjasama dan dialog dalam masyarakat. Singkatnya, studi filsafat yang

     mengandalkan kekuatan rasional bisa membantu melatih kita untuk berdialog secara

     sehat, menghormati pikiran dan perasaan orang lain, serta bekerjasama menemukan

     jalan keluar terhadap masalah yang kita hadapi bersama.



3 Tujuan Instruksional Umum

     Setelah mempelajari matakuliah ini, pada akhir perkuliahan ini mahasiswa diharapkan

mampu:

  a) Menjelaskan hakikat filsafat

  b) Menjelaskan perbedaan filsafat dan ilmu pengetahuan berdasarkan objek material dan

     objek formal.

  c) Menjelaskan metode yang khas dalam filsafat.
d) Menguraikan proses perkembangan pemikiran filsafat dari zaman Yunani Kuno

      sampai abad modern.



4 Garis Besar Materi

      Secara garis besar materi kuliah yang ada dalam bahan ajar ini terdiri dari:

Bab I Hakikat dan Metode Filsafat

     1) Arti Filsafat

     2) Ilmu Pengetahuan dan Filsafat

     3) Metode Filsafat

     4) Pembagian Filsafat

Bab II Filsafat dalam Kebudayaan Yunani Kuno

     1) Pergeseran dari Mitos ke Logos

     2) Prinsip Dasar Realitas

     3) Perubahan atau Transformasi

        a) Herakleitos

        b) Parmenides

     4) Retorika dan Dielektika

        a) Kaum Sofis

        b) Sokrates

     5) Dualisme Plato

     6) Aristoteles dan Metafisika




Bab III Beberapa Persoalan Dasar Filosofis

     1) Abad Pertengahan: Hubungan antara Iman dan Rasio

        a) Clemens dari Alexandria
b) St. Augustinus (354-430)

        c) St. Anselmus dari Canterbury (1033-1109)

        d) St. Thomas Aquinas (1225-1274)

     2) Rasionalisme & Empirisme

        a) Rasionalisme Rene Descartes (1590-1650)

        b) Empirisme David Hume (1711-1776)

        c) Sintesis oleh Immanuel Kant (1724-1804)

     3) Idealisme & Materialisme

        a) Idealisme Hegel

        b) Materialisme menurut Karl Marx (1818-1830)

     4) Makna Hidup Manusia: Eksistensialisme

        a) Makna Eksistensi menurut Soren Kierkegaard (18103-1855)

        b) Eksistensialisme Jean-Paul Sartre (1905-1980)

        c) Gabriel Marcel (1889-1973)

     5) Hubungan antara Teori dan Praksis: Pragmatisme

        a) William James (1842-1910)

        b) John Dewey (1859-1952)

Bab IV Pengantar Filsafat Timur

     1) Filsafat Barat dan Filsafat Timur

     2) Filsafat dan Agama

     3) Filsafat Cina



5     Petunjuk Bagi Mahasiswa

      Dalam mempelajari materi ini sangat diharapkan kemampuan membaca dengan teliti

disertai dengan daya abstraksi yang tinggi. Metode menghafal bukanlah metode yang tepat

untuk diterapkan dalam mempelajari materi yang ada bahan ajar ini. Jalan terbaik yang
diajurkan untuk dilakukan oleh mahasiswa ialah mencoba membaca berulang kali teks yang

ada, bila menemui kesulitan untuk mengerti pernyataan-pertanyaan yang ada dalam teks,

diskusikanlah dengan dosen pada saat proses pembelajaran. Mahasiswa juga diharapkan untuk

aktif mencari referensi lain yang bisa membantu, terutama ketika anda mulai membaca teks

tentang pokok-pokok pemikiran para filsuf.
BAB I

                    HAKIKAT DAN METODE FILSAFAT


Pendahuluan

       Pertanyaan pertama yang segera harus dijawab ialah “Apa itu filsafat”? Pertanyaan

tersebut sudah menjadi pergumulan sepanjang sejarah filsafat, sejak Plato di jaman Yunani

Kuno sampai St. Augustinus dalam abad ke-3, St. Thomas Aquinas dalam abad ke-19, dan

Ludwig Wittgestein, Alfred North Whitehead, dan Martin Haidegger dalam abad ke-20.

Dalam bab ini pertama-tama definisi leksikal atau etimologi kata ‘filsafat” hendak

diperkenalkan, disertai uraian tentang “filsafat” sebagai aktivitas rasional-kritis. Berikutnya,

hubungan filsafat dan ilmu pengetahuan hendak dijelaskan Agar memahami perbedaan antara

filsafat dan ilmu pengetahuan, metode ilmiah dan metode berfilsafat hendak diperkenalkan.

Sesudah itu cabang-cabang filsafat akan dikemukakan sekedar pengantar pada peta filsafat

pada umumnya.



1 Arti Filsafat

1.1 Arti Etimologis

       Kata bahasa Indonesia “filsafat” merupakan terjemahan dari katabahasa Belanda

“filosofie” atau “philosphie” dan bahasa Inggris “philosophy”. Kata-kata tersebut dan

padanannya yang diturunkan dari bahasa Latin “philosophia” yang berasal dari bahasa

Yuanani “philisophia” and “philosophos”. “Philos” berarti cinta (love), dan “philia’ berarti

persahabatan (friendship) atau tertarik pada. “Sophos” berarti orang bijaksana, dan “sophia”

berarti kebijaksanaan, pengetahuan, kebajikan. Jadi secara etimologis, “filsafat” berarti cinta

akan kebijaksanaan atau pengetahuan. “filsuf” berarti pencinta kebijaksanaan; dan

“berfilsafat” berarti mencintai kebijaksanaan. Sejak lahirnya filsafat dalam kebudayaan

Yunani Kuno, aktivitas berfilsafat ditandai oleh “mencari” atau bertanya tentang” suatu
peristiwa atau hal. Pertanyaan itu didorong oleh rasa ingin tahu karena kekaguman. Karena itu

sering dikatakan bahwa filsafat selalu berawal dari rasa kagum yang menimbulkan

pertanyaan. Konsekuensinya, “bertanya” atau “mencari pengetahuan” merupakan factor

penting dari filsafat. Seperti akan dijelaskan lagi, dalam filsafat pertanyaan selalu

dikemukakan secara radikal dan melebihi lapisan realitas inderawi. Pertanyaan filsafat selalu

menyangkut dasar atau penyebab terdalam suatu peristiwa.

       Bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia filsafat, definisi etimologis tersebut

belum memuaskan. Alasannya, definisi tersebut memang menjawab pertanyaan mengenai

asal-usaul kata “filsafat” dan arti harafiahnya, tetapi belum menjelaskan apa hakikat filsafat

sebenarnya. Umumnya disepakati bahwa hakikat filsafat baru dikenal tatkala orang masuk

dalam lingkungan filsafat atau terlibat dalam aktivitas berfilsafat. Sarana utama dalam proses

berfilsafat adalah rasio atau akal budi. Oleh karena itu filsafat sering disebut sebagai aktivitas

rasional kritis. Dengan    “aktivitas” dimaksudkan sebagai proses kegiatan atau pekerjaan

mencari dan bertanya tentang pengetahuan. Sejak lahirnya filsafat suka mengemukakan

pertanyaan-pertanyaan yang merangsang aktivitas intelektual, membuat orang berani berpikir

dan mencari pengetahuan baru. Filsafat tidak berhenti pada jawaban tunggal, melainkan selalu

mencari dan mengemukakan alternatif-alternatif sesuai dengan temuan akal sehat manusia.

Sedangkan “rasional” dimaksudkan bahwa dalam aktivitas mencari pengetahuan itu, sarana

utama yang digunakan adalah rasio atau akal sehat. Dalam filsafat rasio menjadi instrument

dalam mencari kebenaran. Ciri rasionalitas ini memperlihatkan bahwa keaktivan berpikir

merupakan salah satu unsur esensial dalam aktivitas berfilsafat.

       Tetapi perlu dicatat bahwa tidak semua aktivitas rasional yang khas pada manusia

dapat disebut sebagai aktivitas berfilsafat. Suatu aktivitas rasional baru disebut sebagai

aktivitas berfilsafat bila terdapat sejumlah aktivitas dan pemikiran rasional yang

mempertanyakan makna hidup, menguji kebenaran nilai dan secara kritis berefleksi atas

prosedur ilmiah atau keyakinan-keyakinan dalam masyarakat. Itu berarti, sebagai aktivitas
rasional filsafat menyibukkan diri bukan dengan lapisan permukaan kehidupan melainkan

dengan dasar atau akar terdalam dari realitas dan kehidupan manusia.

       Unsur ketiga dari filsafat adalah sifatnya yang “kritis”. Kata bahasa Indonesia “kritis”

atau “kritik” berasal dari bahasa Yunani kritikos yang berarti mampu membedakan atau

mengambil keputusan. Dalam bahasa Latin terdapat kata criticus yang diturunkan dari kata

kerja “cernere” yang berarti membedakan, mengerti, dan memutuskan. Dengan demikian

istilah “kritis” dalam filsafat mengandung tiga makna sekaligus yakni mengerti, membedakan,

dan memutuskan. Sebagaimana akan kita lihat bahwa filsafat lahir sebagai reaksi penolakkan

terhadap kemampanan mitos dan mitologi yang dipandang tidak lagi mampu menjelaskan

hakikat realitas. Di pusat Polis yang disebut               Agora, orang-orang Yunani mulai

mempersoalkan banyak hal. Mereka mulai membedakan antara “apa yang masuk akal” dan

“apa yang tidak masuk akal”, “antara apa yang diterima karena dimengerti” dan “apa yang

diterima karena kepercayaan mitologis”.         Dalam arti itulah filsafat lahir sebagai kritik

terhadap kemampuan mitos dan mitologi. Maka filsafat tidak saja berarti aktivitas rasional,

tetapi juga aktivitas rasional yang mengajukan kritik terhadap makna yang terkandung dalam

fakta-fakta kehidupan.



1.2 Pandangan Para Filsuf mengenai Filsafat1

       Apakah itu filsafat? Pertanyaan ini sama tuanya dengan filsafat itu sendiri, masih tetap

diajukan dan telah dijawab dengan cara-cara yang sangat berlainan.

Bertrand Russell:
       “... filsafat adalah tidak lebih dari suatu usaha untuk...menjawab pertanyaan-
       pertanyaan terakhir, tidak secara dangkal atau dogamatis seperti yang kita lakukan
       pada kehidupan sehari-hari dan bahkan dalam ilmu pengetahuan, akan tetapi secara
       kritis, dalam arti kata: setelah segala sesuatunya diselidiki problem-problem apa yang
       dapat ditimbulkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu dan setelah kita
       menjadi sadar dari segala kekaburan dan kebingungan, yang menjadi dasar bagi
       pengertian-pengertian kita sehari-hari...”


1
  Gerard Beekman, Filsafat Para Filsuf   Berfilsafat, Diterjemahkan oleh R.A. Rivai, (Jakarta: Penerbit
Erlangga), hlm. 14-21.
R. Beerling:
       “Filsafat adalah pemikiran-pemikiran yang bebas, diilhami oleh rasio, mengenai
       segala sesuatu yang timbul dari pengalaman-pengalaman.”

Alfred Ayer:
       “Filsafat adalah pencarian akan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang sudah
       semenjak zaman Yunani dalam hal-hal pokok tetap sama saja. Pertanyaan-pertanyaab
       mengenai apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana kita mengetahuinya; hal-hal apa
       yang ada dan bagaimana hubungannyaa satu sama lain. Selanjutnya
       mempermasalahkan pendapat-pendapat yang telah diterima., mencari ukuran-ukuran
       dan menguji nilainya; apakah asumsi –asumsi dari pemikiran itu dan selanjutnya
       memerisa apakah hal-hal itu berlaku.”

Corn Verhoeven:
       “ Filsafat adalah meradikalkan keheranan ke segala jurusan.”


Arne Naess:
       “Bagi saya filsafat terdiri dari pandangan-pandangan yang menyeluruh, yang
       diungkapkan dalam pengertian-pengertian.”

J. Hollak:
       “Dalam filsafat pada akhirnya soalnya adalah mengenai pengertian pribadi dai
       seseorang.”

Karl Popper:
       “Saya rasa, kita semuanya mempunyai filsafat dan bahwa kebanyakan dari filsafat kita
       itu tidak bernilai banyak. Dan saya kira, bahwa tugas utama dari filsafat adalah untuk
       menyelidiki berbagai filsafat itu secara kritis, filsafat mana dianut oleh berbagai orang
       secara tidak kritis.”

R. Kwant:
       “Berfilsafat yang sebenarnya adalah menguji secara kritis akan kemestian sesuatu
       yang dianggap sudah semestinya.”

Walter Kaufmann:
       “Filsafat adalah pencarian akan kebenaran dengan pertolongan fakta-fakta dan
       argumentasi-argumentasi, tanpa memerlukan kekuasaan dan tanpa mengetahui
       hasilnya terlebih dahulu.”

J. Staal:
       “Suatu definisi dari filsafat...saya menganggap pertanyaan itu sangat tidak
       menarik...saya akan berusaha menjawabnya: filsafat itu adalah suatu ilmu uyang
       ssedikit banyaknya dapat dijelaskan atas dasar sejarah. Ada sejumlah problema yang
telah menjadi masalah-masalah filsafat secara turun-temurun oleh karena orang-orang
       yang dinamakan filsuf telah menggelutinya. Ini merupakan jawaban yang sangat
       lemah, akan tetapi saya tidak merasa bahwa kita akan mendapatkan jawaban yang jauh
       lebih meyakinkan.... Saya sungguh-sungguh tidak mempunyai definisi yang baik dari
       filsafat.”

Ludwig Wittgenstein:
       “Filsafat adalah suatu perang-salib terhadap pesona dengan apa bahasa mengikat
       pemikiran kita.”

C. van Peursen:
       “Saya kira bahwa filsafat, atau lebih jelas: berfilsafat, pertama-tama adalah penjelasan
       dari pandangan kita sendiri. Kedua adalah suatu usaha melalui mana didapatkan
       komunikasi atau kontak yang lebih mendalam, baik dengan filsuf lain maupun dengan
       mereka yang bukan filsuf. Yang imaksudkan adalah suatu komunikasi, juga pada titik-
       titik di mana kita “merelatifkan” pandangan fundamental kita masing-masing atau
       sendiri, dan menempatkan tanda tanya di belakangnya. Kita justru akan berusaha
       untuk meneruskan pada titik-titik di mana pada umumnya komunikasi sehari-hari
       terputus, Suatu komunikasi yang menghapuskan segala kesalahpahaman dan yang
       berusaha untuk menghilangkan hal-hal yang sudah-semestinya yang terlalu emosional.
       ... Dan ketika barangkali adalah usaha untuk mencapai suatu integrasi tertentu dari
       kegiatan-kegiatan ilmiah, dari pemikiran-pemikiran yang semata-mata teoritis dan
       tindakan-tindakan yang lebih praktis, pendeknya suatu fungsi yang timbul dari kedua
       hal terdahulu...filsafat mempunyai tugas menyumbang untuk menjelaskan sikap
       manusia yang menyeluruh, di antaranya sikap keagamaannya, etikanya, sosialnya dan
       semacam itu....Filsafat bukanlah hanya integrasi dan komunikasi, akan tetapi juga
       pembentangan asumsi-asumsi sendiri dan kesediaan untuk dikritik. Soalnya adalah
       memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mencantumkan tanda-tanda tanya di
       belakangnya...”


1.3 Asal Filsafat

       Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yaitu:

a. Keheranan

       Dalam bahasa Yunani, keheranan berarti thaumasia. Keheranan merupakan reaksi akal

budi manusia terhadap suatu realitas fisik atau kenyataan duniawi yang belum dimengerti.

Keherenan menjadi pendorong bagi lahirnya pertanyaan-pertanyaan filosofis.

Keheranan terhadap alam semesta mendorong para pemikir Yunani Kuno berusaha mencari

jawaban terhadap pertanyaan, “Apa arkhe (akar atau dasar pembentuk) dari realitas?”

b. Kesangsian
Menurut Agustinus dan Descartes (Filsuf Abad Pertengahan & Modern), kesangsian

merupakan sumber utama pemikiran. Kesangsian adalah proses selanjutnya dari keheranan.

Kesangsian akan muncul ketika manusia berhadapan dengan berbagai macam pendapat,

keyakinan, dan interpretasi terhadap realitas fisik yang partikular dan majemuk.

Sikap ini, sikap skeptis (dari kata Yunani “skepsis”, “penyelidikan”), sangat berguna untuk

menemukan suatu titik pangkal yang tidak diragukan lagi. Titik pangkal ini dapat berfungsi

sebagai dasar untuk semua pengetahuan lebih lanjut.



2 Filsafat dan Ilmu Pengetahuan

       Untuk lebih mengerti arti filsafat, baiklah sekarang filsafat hendak dibandingkan

dengan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan dimaksudkan sebagai himpunan teori-

teori yang disusun secara sistematis melalui metode kerja ilmiah tertentu untuk memberikan

keterangan rasional tentang gejala atau fakta dari bagian tertentu realitas. Yang termasuk

dalam ilmu pengetahuan: biologi, fisika, sosiologi, ekonomi, astronomi, dsb. Kini ilmu-ilmu

tersebut hendak dibandingkan dengan filsafat untuk menemukan kekhasan keduanya.

Perbandingan tersebut bisa dilakukan melalui dua aspek yang membedakan yaitu objek

penelitian, baik objek material maupun objek formal. Setiap ilmu mempunyai objeknya

sendiri, objek itu menjadi sasaran studi atau penelitian.

•   Objek Material:

    Sesuatu yang dijadikan pokok atau sasaran observasi atau penyelidikan atau pengamatan

•   Objek Formal:

    Bagian dari objek material sejauh dipandang atau diselidiki dari sudut pandang tertentu.

Contoh:

      Estetika (O. Formal)                                  Ekonomis (O. Formal)



     Geografis (O.Formal)                                   Sosiologis (O. Formal)
Rumah (Objek Material)



       Sebuah rumah adalah obyek material. Rumah yang sama dapat dipandang dari

perspektif atau sudut pandang tertentu, misalnya sudut estetika (keindahan), dari sudut

ekonomis, tetapi rumah yang sama juga dapt dipandang dari sudut geografis, dst. Proses

pengamatan atau observasi dari sudut pandang yang terbatas terhadap rumah itulah yang

disebut sebagai okyek formal.

       Dari sisi objek material, filsafat sama dengan ilmu pengetahuan karena keduanya

menyelidiki tentang realitas alam semesta dan kehidupan manusia. Baik ilmu pengetahuan

maupun filsafat menjadikan realitas sebagai objek observasi atau penelitian. Itu berarti filsafat

dan ilmu pengetahuan menjadikan realitas sebagai objek material. Tetapi dari segi obyek

formal, keduanya memiliki perbedaan yang amat besar. Objek formal dari ilmu pengetahuan

bercorak partikularitas dalam arti terbatas. Buktinya, persoalan yang dihadapi oleh ilmu fisika

pada kenyataannya tidak bisa diselesaikan secara tuntas oleh sosiologi atau sebaliknya.

Misalnya pertanyaan tentang letak planet dalam sistem tata surya, tidak mungkin dijawab

secara memuaskan oleh ilmu psikologi. Itu berarti setiap ilmu menghadapi persoalan-

persoalan yang khusus dan sekaligus memperlihatkan otonomi masing-masing ilmu, tetapi

juga mengisyaratkan kebutuhan akan percakapan atau dialog yang bersifat lintas ilmu.

       Objek formal filsafat berbeda dengan ilmu pengetahuan. Perbedaannya bukan karena

bidang studinya yang berada di samping bidang studi ilmu-ilmu pengetahuan, melainkan

karena cara bertanya filsafat berbeda dari cara bertanya ilmu pengetahuan. Filsafat bertanya

tentang prinsip dasar atau dimensi-dimensi fundamental dari realitas sebagai keseluruhan.

Filsafat tidak menyoroti realitas secara partikular dari perspektif yang terbatas. Filsafat

biasanya berhadapan dengan pertanyaan mendasar: “Apa hakikat realitas?” Pertanyaan filsafat
menyangkut prinsip-prinsip dasar dan universal. Sedangkan pertanyaan ilmu pengetahuan

terbatas pada lapisan empiris.

       Misalnya, ilmu matematika menggunakan angka “satu”, “dua”, “tiga”, dst.

Berhadapan dengan angka-angka itu, seorang filsuf akan bertanya, “Apa artinya “satu”,

“dua”, “tiga”, dst? Jika seseorang menunjuk angka “satu”, apakah ia menunjuk pada realitas?

Apakah ada realitas “dua”, “tiga”, dst? Atau menurut ilmu estetika, “Rumah itu indah”. Tetapi

seorang filsuf akan bertanya, “Apakah itu keindahan?” Seorang ekonom sedang merancang

sistem ekonomi yang menjamin keadilan bagi warga negara. Seorang filsuf akan bertanya,

“Apakah artinya keadilan sosial?”

       Jelaslah bahwa pertanyaan-pertanyaan filsafat bersifat fundamental dan radikal. Ia

tidak tinggal pada lapisan empiris belaka, melainkan menukik masuk ke kedalaman akar atau

sebab-sebab yang paling mendasar (per ultimas causas). Karena sifatnya yang khas itu, maka

wajar bahwa ilmu-ilmu pengetahuan tidak mengemukakan pertanyaan-pertanyaan mendasar

dan tidak pula menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan filsafat. Oleh karena itu

umumnya disepakati bahwa filsafat baru “mulai” ketika ilmu pengetahuan            “berhenti”.

Maksudnya, pada saat      telah mencapai hasil proses ilmiahnya, filsafat bangkit dengan

mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis dan khas filsafat.



3 Metode Filsafat

       Untuk lebih memahami perbedaan ilmu pengetahuan dan filsafat, kita perlu melihat

metode atau cara kerja atau prosedur kerja yang dipakai keduanya. Kata “metode” berasal dari

bahasa Latin “methodos”. Kata ini dalam Bahasa Yunani terdiri dari 2 kata dasar, yaitu meta

= melampaui dan hodos = jalan atau cara. Jadi metode berarti jalan yang sistematis atau

istimewa untuk mendapatkan pengetahuan. Secara umum dikenal ada 2 jenis metode yang

digunakan oleh ilmu pengetahuan, yaitu:
Dalam ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan alam (natural sciences) maupun

ilmu-ilmu kemanusiaan (human sciences) lasimnya digunakan dua metode, lasimnya

digunakan dua metode, yaitu deduksi dan induksi.

a) Metode Deduksi

   Adalah proses kerja ilmiah yang berangkat dari teori universal untuk menjelaskan data-

   data atau fakta-fakta konkret.

   Misalnya, seorang dokter sudah memiliki bekal teori yang berlaku umum tentang berbagai

   jenis penyakit dan fenomen-fenomennya. Ketika berhadapan dengan seorang pasien yang

   sedang menjelaskan gejala-gejala penyakit yang diderita, sang dokter secara langsung

   mengaplikasikan pengetahuan teoretisnya untuk menilai jenis penyakit yang sedang

   diderita oleh pasien tersebut.

b) Metode Induksi

   Adalah proses kerja ilmiah yang berangkat dari data-data atau fakta-fakta partikular

   (terbatas) menuju kepada kesimpulan umum yang dianggap sebagai teori yang berlaku

   universal.

   Misalnya, di Manado seseorang memanaskan air hingga mendidih pada temperatur 100 0C.

   Di Filipina, Australia, dan Amerika pun air akan mendidih pada temperatur 100 0C bila

   dipanaskan. Dari fakta yang sama ini kemudian ditarik suatu kesimpulan umum bahwa

   unsur yang namanya air akan mendidih pada temperatur 1000C bila dipanaskan.

Dengan ini jelas bahwa yang menjadi titik dalam induksi adalah data-data atau fakta-fakta

empiris, sedangkan titik tolak dalam metode deduksi adalah teori.

       Pertanyaan yang kini muncul, apakah filsafat juga menggunakan kedua metode

tersebut? Jawabannya tidak. Filsafat tidak dapat menggunakan kedua metode ini, karena, baik

metode deduksi dan induksi hanya bisa digunakan untuk mencapai lapisan pengetahuan

empiris atau pengetahuan inderawi. Karena filsafat berorientasi pada prinsip-prinsip

fundamental kehidupan dengan mengajukan pertanyaan yang bercorak radikal. Dalam arti ini
filsafat tidak menggunakan baik metode deduksi maupun induksi. Metode khas dari filsafat

adalah metode dialog atau percakapan rasional kritis. Dialog kritis dapat dilakukan dengan

hasil pemikiran baik yang berasal dari ilmu pengetahuan maupun filsafat sendiri. Sasaran

akhir dari percakapan atau dialog kritis itu adalah kebenaran atau pengetahuan yang lebih

tinggi. Tetapi perlu dicatat bahwa iklim yagn harus dibangun dalam dialog atau percakapan

kritis itu adalah kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat. Dalam dialog pendapat

setiap orang patut didengarkan dan dihargai. Tetapi, dialog juga membutuhkan kemampuan

berpikir, kemampuan mengartikulasi ide atau pokok pikiran, baik pikiran sendiri maupun

pikiran orang lain agar dapat dimengerti, kemampuan mengerti dan merumuskan suatu pokok

pikiran. Dalam arti inimetode filsafat memiliki arti dan makna yang khas yang menunjuk pada

daya atau kemampuan berpikir secara rasional dan berdialog secara kritis.

       Kendati kedua metode tersebut tidak digunakan dalam filsafat, tetapi perlu dicatat

bahwa hasil kerja ilmu pengetahuan yang menggunakan kedua metode tersebut dapat

digunakan dalam filsafat. Data-data empiris yang diperoleh oleh ilmu pengetahuan dapat

digunakan filsafat untuk menganalisis dan menemukan unsur-unsur fundamental yang ada

dibalik realitas empiris yang ada, serta mengemukakan unsur-unsur baru yang sama sekali

tidak tersentuh secara langsung oleh ilmu pengetahuan. Dalam arti ini filsafat memang

memiliki metode yang khas yakni dialog kritis rasional, tetapi tetap dapat membutuhkan juga

fakta-fakta empiris yang diperoleh lewat ilmu pengetahuan. Dengan ini dialog filsafat dan

ilmu pengetahuan tetap menjadi bagian yang tak terhindarkan dalam upaya menjelaskan

berbagai peristiwa yang terjadi dalam realitas kehidupan.



4 Pembagian filsafat

       Filsafat selalu bertanya tentang seluruh kenyataan, tetapi selalu salah satu dari segi

kenyataan sekaligus menjadi titik fokus penyelidikan kita. Filsafat selalu bersifat “filsafat

tentang” sesuatu tertentu: filsafat tentang manusia, filsafat alam, filsafat kebudayaan, filsafat
seni, filsafat agama, filsafat bahasa, filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat pengetahuan dst.

Semua jenis “filsafat tentang” suatu objek tertentu dapat dikembalikan kepada sepuluh cabang

filsafat, dan juga sepuluh cabang ini masih dapat dikembalikan lagi kepada keempat bidang

induk, seperti kelihatan pada skema berikut ini:

   1) Filsafat tentang pengetahuan:

       a) Epistemologi

       b) Logika

       c) Kritik Ilmu-ilmu

   2) Filsafat tentang keseluruhan kenyataan:

       a) Metafisika umum (atau ontologi)

       b) Metafisika khusus, terdiri dari

            Teologi metafisk

            Antropologi

            Kosmologi

   3) Filsafat tentang tindakan:

       a) Etika

       b) Estetika

       Tidak semua filsuf setuju dengan pembagian seperti diuraikan di sini. Ada filsuf-filsuf

yang menyangkal kemungkinan ontologi atau kemungkinan seluruh metafisika. Namun,

pembagian seperti di atas ini merupakan skema yang paling klasik dan paling umum diterima.

Semua cabang dibicarakan secara singkat.

1 Filsafat tentang Pengetahuan

1.1 Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)

       Epistemologi = pengetahuan (dari kata Yunani “logia”) sedangkan episteme = tentang

pengetahuan. Epistemologi adalah bagian filsafat yang menganalisis apakah yang

memungkinkan manusia memperoleh pengetahuan. Cabang filsafat ini berusaha menjawab
apa itu pengetahuan dan kebenaran. Semua pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan

pengetahuan, tentang batas-batas pengetahuan, tentang asal dan jenis-jenis pengetahuan,

dibicarakan dalam epistemologi.

       Dalam sejarah filsafat, ada dua aliran filsafat yang berperan dalam diskusi tentang

proses pengetahuan, yaitu rasionalisme & empirisme.

1) Rasionalisme mengajarkan bahwa akal budi merupakan sumber utama untuk pengetahuan.

2) Empirisme mengajarkan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi bukannya

   dari akal budi. Karena akal budi diisi dengan kesan-kesan yang berasal dari pengamatan,

   kemudia kesan-kesan ini oleh akal budi dihubungkan, sehingga terjadi ide-ide majemuk.

   Empirisme merupakan suatu aliran yang terutama di Inggris. Tokoh-tokoh empirisme itu

   antara lain Bacon, Hobbes, Locke, dan Hume.

Immanuel Kant kemudian mendamaikan kedua aliran ini dengan memperlihatkan bagaimana

peranan pancaindera dan akal      budi dalam menghasilkan pengetahuan, dengan semua

unsurnya yang memegang peranan penting. Setelah Kant, epistemologi merupakan cabang

filsafat yang sangat berkembang. Banyak filsuf saat ini yang lebih dikenal sebagai

epistemolog.



1.2 Logika

       Logika merupakan cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan cara berpikir, aturan-

aturan mana yang harus dihormati supaya pernyataan-pernyataan kita sah. Logika tidak

mengajar apapun tentang manusia atau dunia. Logika hanya merupakan suatu teknik atau

“seni” yang mementingkan segi formal bentuk dari pengetahuan.

       Suatu argumentasi betul kalau semua langkah dari argumentasi itu betul. Langkah-

langkah ini terdiri dari kalimat-kalimat (proposisi), dan setiap kalimat terdiri dari suatu

subyek dan sebuah predikat. Contoh argumentasi berikut ini:

       Semua orang Yogyakarta senang makan ayam. (Premis)
Budi adalah orang Yogyakarta. (Premis)

        Maka, Budi suka makan ayam. (Conclusi)

Setiap kalimat terdiri dari subjek: “semua orang Yogyakarta” dan “Budi” dan predikat:

“senang makan ayam” dan “penduduk dari Yogyakarta”. Dalam logika diselidiki syarat-

syarat yang harus dipenuhi supaya kesimpulan yang ditarik dari premis-premis disebut “sah”.

        Dalam sejarah perkembangan pemikiran filsafat terdapat bermacam-macam logika,

antara lain:

•   Logika Klasik, dikembangkan oleh Aristoteles dan banyak dipelajari serta dikembangkan

    oleh para filsuf Abad Pertengahan.

•   Logika Matematis (Logika Formal atau logistik), dikembangkan oleh Frege, Whitehead,

    dan Russel.

1.3 Kritik Ilmu-ilmu

        Perbedaan filsafat dan ilmu pengetahuan mula-mula kecil sekali. Dalam jaman kuno,

di Yunani, disamping filsafat hanya dibedakan empat ilmu, yaitu logika, ilmu pasti, ilmu

pesawat, dan kedokteran. Kedokteran dan logika lebih dipandang sebagai “seni” atau

“keahlian” dari pada sebagai ilmu. Kebanyakan ilmu yang dibedakan sekarang berasal dari

jaman renesanse atau lahir pada gelombang kedua, yaitu sekitar tahun 1800 dan sesudahnya.

Misalnya sosiologi, psikologi dan psikoanalisa masih sangat muda. Ilmu-ilmu lain, seperti

ekologi (ilmu keseimbangan lingkungan hidup) lebih muda lagi.

        Ilmu-ilmu dapat dibagikan atas tiga kelompok:

•   Ilmu-ilmu formal (matematika & logika)

•   Ilmu-ilmu empiris-formal (misalnya ilmu alam & ilmu hayat)

•   Ilmu-ilmu hermeneutis (sejarah & ekonomi)

        Ada orang yang mengatakan bahwa ilmu-ilmu hermeneutis tidak “ilmiah”, karena

tidak dicapai suatu kepastian. Dalam ilmu sejarah misalnya tidak “diterangkan” sesuatu,

melainkan hanya “dimengerti” sesuatu, hanya diberi suatu interpretasi atas fakta-fakta dan
tidak pernah dicapai kepastian bahwa interpretasi ini betul. Orang lain mengatakan bahwa

juga ilmu-ilmu empiris formal memang selalu bersifat hipotetis, sehingga distingsi antara

ilmu-ilmu empiris-formal dan ilmu-ilmu hermeneutis tidak begitu penting.

       Pertanyaan-pertanyaan seperti ini termasuk “kritik ilmu-ilmu”. Teori-teori tentang

pembagian ilmu-ilmu, tentang metode ilmu-ilmu, tentang dasar kepastian dan tentang jenis-

jenis keterangan yang diberikan, tidak lagi termasuk bidang ilmu pengetahuan sendiri,

melainkan merupakan suatu cabang dari filsafat. Cabang ini, “kritik ilmu-ilmu” atau “filsafat

ilmu pengetahuan” pada dewasa ini semakin penting.

2 Filsafat tentang Keseluruhan Kenyataan

2.1 Metafisika Umum

       Metafisika umum berbicara tentang segala sesuatu sejauh sesuatu itu “ada”. “Adanya”

segala sesuatu merupakan suatu “segi” dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan

antara benda-benda dan mahkluk-makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu.

Semua benda, tumbuh-tumbuhan, binatang dan orang merupakan suatu “pengada”.

       Kata Yunani untuk “pengada” adalah “on” (genetif “ontos”). Oleh karena itu

pengetahuan tentang pengada-pengada, sejauh mereka ada, disebut “ontologi”. Pertanyaan-

pertanyaan dari ontologi itu misalnya “apakah kenyataan merupakan kesatuan atau tidak?”,

“Apakah alam raya adalah peredaran abadi di mana semua gejala selalu kembali, seperti

dalam siklus musim-musim, atau justru suatu proses perkembangan?” Kemungkinan dan

manfaat dari metafisika umum seringkali disangsikan. Dari lain pihak, metafisika umum juga

sering dipandang sebagai puncak dari filsafat. Karena pernyataan-pernyataan dari ontologi

langsung berhubungan dengan sikap manusia terhadap pertanyaan paling dasar, yaitu

pertanyaan tentang adanya Transendensi atau Allah. Salah satu hasil dari ontologi adalah

suatu nama untuk Allah yang sangat abstrak, tetapi sekaligus sangat cocok, yaitu nama

“Mengada” (dalan Bahasa Inggris “Letting-be”, dalam bahasa Latin “esse”). Sumber dari

segala sesuatu -sejauh itu ada- Pencipta seluruh ciptaan, adalah Tuhan.
Jenis ontologi ini dari satu pihak sangat menarik, karena disini ditemukan

kemungkinan untuk menjernihkan istilah-istilah pokok dari agama-agama dalam istilah

filsafati. Dari lain jenis ontologi ini juga dikritik karena di hadapan Allah sebagai “Mengada”

manusia tidak dapat berlutut, dan kepada “Letting-be” ia tidak dapat berdoa.

       Jawaban-jawaban yang diberikan atau pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan dalam

ontologi mengungkapkan suatu kepercayaan. Sampai sekarang dibedakan empat jenis

“kepercayaan ontologis”, yaitu ateisme, agnostisisme, panteisme, dan teisme.

Ateisme: (Yunani: “a” = bukan dan “theos” = Allah) mengajarkan bahwa Allah tidak ada,

bahwa manusia sendirian dalam kosmos, sendirian di bawah surga yang kosong.

Agnotisisme: (Yunani: “a” = bukan dan “gnosis” = pengetahuan”) mengajarkan bahwa tidak

dapat diketahui apakah Allah ada atau tidak ada, sehingga pertanyaan tentang Alalh selalu

terbuka.

Panteisme: (Yunani: “pan” = segala sesuatu dan “theos” = Allah) mengajarkan bahwa

seluruh kosmos sama dengan Allah, sehingga tidak ada perbedaan antara Pencipta dan

ciptaan. Allah dan alam itu “sama saja”, sehingga panteisme juga disebut “theo-panisme”.

Teisme: mengajarkan bahwa Allah itu ada, bahwa terdapat perbedaan antara Pencipta dan

ciptaan dan bahwa Allah boleh disebut “engkau” dan “Penyelengara”

       Ontologi atau metafisika umum merupakan cabang filsafat yang sekarang ini sangat

problematis. Menurut banyak filsuf masa kini, cabang ini tidak mungkin, karena manusia di

sini melewati batas-batas kemungkinan-kemungkinan akal budinya.

2.2 Metafisika Khusus

2.2.1 Teologi Metafisik

       Teologi metafisika berhubungan erat dengan ontologi. Dalam teologi metafisika

diselidiki apa yang dapat dikatakan tentang adanya Allah, lepas dari agama, lepas dari wahyu.

Teologi tradisional biasanya terdiri dari dua bagian:

•   Pertama, bukti-bukti untuk adanya Allah.
•   Kedua, nama-nama Ilahi.

Kedua tema ini masih tetap penting, tetapi sekarang dalam teologi metafisik diberikan banyak

perhatian kepada “bahasa” tentang Allah, bahasa religius, bahasa teologis, bahasa Kitab Suci

dan bahasa doa. Oleh karena itu teologi metafisik juga disebut “meta-teologi” karena

berefleksi tentang bahasa teologi, sesuatu yang datang “sesudah” (meta) teologi sendiri,

seperti metafisika datang sesudah fisika dan meta-etika datang sesudah etika.

       Teologi metafisik hanya menghasilkan suatu kepercayaan yang sangat sederhana,

cukup miskin, dan abstrak. Namun, yang sedikit ini sangat berguna dalam dialog dengan

agama-agama lain, dengan agnostisisme, panteisme, dan ataiesme. Karena orang yang

mempunyai pendapat lain daripada kita tentang Allah, tidak akan menerima argumen-

argumen yang berasal dari teologi yang terikat pada suatu “wahyu” khusus, tetapi mereka

akan menerima argumen-argumen yang hanya berdasarkan pemakian akal budi, karena akal

budi merupakan milik umum.

       Iman filsafati yang dicapai dalam teologi metafisik tidak cukup. Iman ini dalam tradisi

sering disebut: “praeambulum fidei” (langkah sebelum) atau ambang pintu atau persiapan

untuk iman. Teologi metafisik disebut juga “teodise”. Nama ini kurang cocok. Karena teodise

memang hanya bagian kecil dari teologi metafisik. Teodise (Yunani: theos = Allah dan dike =

pembenaran atau pengadilan) mencoba menerangkan bahwa kepercayaan kepada Allah tidak

bertentangan dengan kejahatan. Kenyataan kejahatan merupakan sebab terpenting bahwa

banyak orang tidak dapat percaya akan Allah, atau, bahwa mereka yang tidak dapat percaya

bahwa Allah Mahabaik dan Mahakuasa.



2.2.2 Antropologi

       Antropologi adalah cabang filsafat yang berbicara tentang manusia (Yunani:

anthropos = manusia). Setiap filsafat mengandung eksplisit atau implisit suatu pandangan

tentang manusia, tentang tempatnya dalam kosmos, tentang hubungannya dengan dunia,
dengan sesama dan dengan Transendensi. Menurut Immanuel Kant, pertanyaan “Siapa

manusia?” merupakan pertanyaan satu-satunya dari filsafat. Semua pertanyaan lain dapat

dikembalikan kepada pertanyaan ini.

       Manusia hidup dalam banyak dimensi sekaligus. Manusia adalah sekaligus materi dan

hidup, badan dan jiwa, ia mempunyai kehendak dan pengertian. Manusia merupakan seorang

individu, tetapi ia tidak dapat hidup lepas dari orang lain. Dalam manusia terdapat pertemuan

antara kebebasan dan keharusan, antara masa lampau yang tetap dan masa depan yang masih

terbuka.

       Semua dimensi ini, semua pikiran dan kegiatan manusiawi berkumpul dalam satu kata,

yaitu kata “aku”. “Aku” dipakai sebagai titik simpul dari banyak hal sekaligus dan merupakan

suatu petunjuk, suatu “kata-indeks” untuk suatu misteri. Di belakang “aku” terdapat suatu

dunia pribadi, penuh realisasi, sejarah, kegembiraan dan penderitaan, harapan dan

keputusasaan, suatu pandangan tentang dunia, sesama dan tujuan hidup.

       Pertanyaan tentang manusia mempunyai sejarah yang panjang, tetapi baru pada era

renesanse (tahun 1500), manusia menjadi benar-banar titik pusat dari filsafat. Sejak zaman

tersebut manusia dipandang sebagai pusat sejarah, pusat pemikiran, pusat kehendak,

kebebasan dan dunia.



2.3.3 Kosmologi

       Kosmologi atau Filfafat Alam berbicara tentang dunia. Kata Yunani “kosmos”

lawannya dari chaos=dunia, aturan, dan keseluruhan teratur. Cabang filsafat ini sangat tua.

Ribuan tahun yang lalu, di Mesir dan Mesopotamia, manusia sudah bertanya tentang asal

alam semesta. Untuk menemukan kesatuan dalam kemajemukan, dicari unsur induk dari

segala sesuatu. Kosmologi berkembang di Yunani dan memberi hidup kepada ilmu alam.

Ilmu alam sudah lama dewasa dan dipilih sebagai model untuk banyak ilmu.
Memang dapat dipersoalkan apakah masih ada tempat untuk filsafat alam di samping

suatu ilmu yang begitu maju dan luas seperti fisika. Kelihatannya pertanyaan ini dijawab oleh

ahli-ahli fisika sendiri, karena banyak ahli fisika terkemuka sekaligus kosmolog kenamaan.

Dalam zaman kuno Aristoteles dan Ptolemeus, dalam jaman moden Galilei dan Newton, dan

dalam jaman sekarang misalnya Einstein. Sebagai kosmolog mereka bertanya tentang hal-hal

“dibelakang” kenyataan fisis. Pertanyaan-pertanyaan dari filsafat alam itu misalnya soal

evolusi, soal kebebasan dan determinisme, definisi materi, definisi energi, definisi hidup, dan

soal-soal yang berhubungan dengan konsekuensi-konsekuensi etis dari kemajuan teknik.

       Bersama dengan spesialisasi ilmu alam yang sangat maju, dirasa keperluan akan suatu

refleksi yang lebih mendalam yang memperhatikan keseluruhan. Refleksi ini merupakan

bidang kosmologi. Kosmologi merupakan rangka umum di mana hasil-hasil dari ilmu alam

dapat dipasang. Filsuf-filsuf yang berbicara mengenai alam sebagai kesatuan, antara lain E.

March (1838-1916), H. Hertz (1859-1894), M. Planck (1858-1947), dan A. Einstein (1897-

1955). Kosmoligi bukan sisten tetap dan tak terhingga, melainkan suatu proses

perkembangan.



3 Filsafat tentang Tindakan

3.1 Etika

       Etika (Filsafat Moral) adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praksis manusiawi

(tentang tindakan). Kata etika berasal dari kata Yunani ethos = adat, cara bertindak, tempat

tinggal, kebiasaan. Kata moral berasal dari kata Latin mos (genetif moris), yang mempunyai

arti yang sama. Etika dibedakan dari semua cabang filsafat lain karena tidak mempersoalkan

keadaan manusia, melainkan bagaimana ia harus bertindak. Tindakan manusia ditentukan

oleh macam-macam norma. Kata norma = siku. Norma-norma dapat dibagi atas:

•   Norma-norma sopan santun.

•   Norma-norma hukum.
•   Norma-norma moral.

Norma-norma yang paling penting untuk tindakan manusia, yaitu norma moral, datang dari

suara batin. Norma-norma ini merupakan bidang etika. Etika menolong manusia untuk

mengambil sikap terhadap semua norma dari luar dan dalam, supaya manusia mencapai

kesadaran moral yang otonom.

       Sepanjang sejarah filsafat banyak sekali filsuf yang berbicara tentang filsafat moral,

antara lain: Plato, Aristoteles, Thomas Aquino, Hobbes, Hume, Kant, Dewey, Scheler dan von

Hilldebrand. Filsafat Cina, Hindhuisme dan Budhisme sebagian besar merupakan etika karena

terus-menerus berbicara tentang jalan untuk mencapai kebahagiaan.

       Etika menyelidiki dasar semua norma moral. Menurut orang kristiani dasar itu terletak

dalam perintah utama: mencintai Tuhan dan mencintai sesama. Saya wajib melakukan

kebaikan dan keadilan karena saya percaya bahwa Tuhan memerintahkan itu. Akan tetapi

orang lain menemukan dasar etika dalam sesuatu yang lain, misalnya dalam prinsip bahwa

“akibat baik yang maksimal” harus merupakan norma dasar. Orang lain, misalnya Kant,

mengajarkan bahwa bukan akibat tindakan, melainkan sikap kita yang paling penting. Sikap

kita harus sedemikian rupa sehingga kaidah pribadi kita dapat menjadi hukum umum.

       Dalam etika biasanya dibedakan etika deskriptif dan etika normatif.

•   Etika deskriptif

    Etika deskriptif memberi gambaran dari gejala kesadaran moral (suara batin), norma-

    norma, dan konsep-konsep etis.

•   Etika normatif.

    Etika normatif berbicara tentang apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan kita.

    Dalam etika normatif, norma-norma dinilai dan sikap manusia ditentukan.



3.2 Estetika
Estetika adalah cabang filsafat yang berbicara tentang keindahan. Estetika berasal dari

kata Yunani: aisthesis = pengamatan. Dalam penglaman atas dunia sekeliling kita ditemukan

suatu bidang yang disebut “indah”. Pengalaman akan keindahan merupakan obyek dari

estetika. Mengapa justru obyek-obyek tertentu atau bidang-bidang tertentu sangat menarik

untuk manusia? Dalam estetika dicari hakekat dari keindahan, bentuk-bentuk pengalaman

keindahan (seperti keindahan jasmani, keindahan rohani, keindahan alam dan keindahan seni),

dan diselidiki emosi-emosi manusia sebagai reaksi terhadap yang indah, agung, tragis, bagus,

mengharuskan, dst. Mengapa kita sangat tertarik pada pengalaman karya-karya seni tertentu?

Mengapa materi, dunia atau hidup kita kadang-kadang transparan sehingga kita melihat atau

mendengar lebih banyak daripada yang memang kelihatan atau terdengar.

       Dalam estetika, terdapat pula estetika deskriptif dan estetika normatif.

•   Estetika deskriptif: menggambarkan gejala-gejala pengalaman keindahan.

•   Estetika normatif: mencari dasar pengalaman itu. Misalnya ditanyakan apakah keindahan

    itu akhirnya sesuatu yang obyektif (terletak dalam lukisan) atau subyektif (terletak dalam

    mata manusia sendiri).

       Para filsuf telah berusaha untuk menyusun suatu hirarkhi bentuk-bentuk seni, seperti

Hegel (1770-1831) dan Scopenhaeur (1788-1850). Hegel membedakan suatu rangkaian seni-

seni yang dimulai pada arsitektur dan berakhir pada puisi. Makin kecil unsur materi dalam

suatu bentuk seni, makin tinggi tempatnya atas tangga hirarki. Scopenhauer melihat suatu

rangkaian yang mulai pada arsitektur dan memuncak dalam musik. Musik mendapat tempat

istimewa dalam estetika. Banyak pemikir dari sejarah telah berbicara tentang musik, dari

Konfusius, Pyhtagoras, Plato, dan Aristoteles, Schopenhauer, Nietzche, dan Karl Popper.

Musik dibandingkan dengan mistik, dengan khayalan falsafi, dan magi. Musik digambarkan

sebagai suatu bentuk wahyu yang masih berbicara tentang Transendensi, kalau pengertian

manusia sudah tidak kuat lagi. Musik dapat mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat

diekspresikan dengan kata-kata.
DAFTAR PUSTAKA

Bakker, A dan Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, cet. Ke-2.

            Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Bertens, K., Sejarah Filsafat Yunani. Dari Thales ke Aristoteles, cet. Ke-9. Yogyakarta:

            Kanisius.

Copleston, F.A., History of Philosphy, volume I, IV, IX. New York: Image Books, 1985.

Gerard Beekman, Filsafat Para Filsuf Berfilsafat, Diterjemahkan oleh R.A. Rivai, (Jakarta:

            Penerbit Erlangga),

Ohoitimur, J., Pengantar Berfilsafat, Jakarta: Yayasan Gapura, 1997.

Contenu connexe

Tendances

problematika filsafat, epistimologi, ontologi aksiologi
problematika filsafat, epistimologi, ontologi aksiologiproblematika filsafat, epistimologi, ontologi aksiologi
problematika filsafat, epistimologi, ontologi aksiologiLtfltf
 
Makalah filsafat
Makalah filsafat Makalah filsafat
Makalah filsafat AnggiChaca
 
Filsafat administrasi 2013
Filsafat administrasi 2013Filsafat administrasi 2013
Filsafat administrasi 2013Damar Firdaus
 
pengertian filsafat dan substansi filsafat ilmu
pengertian filsafat dan substansi filsafat ilmupengertian filsafat dan substansi filsafat ilmu
pengertian filsafat dan substansi filsafat ilmumas karebet
 
Tanya Jawab Materi Pengantar Filsafat Ilmu Dari Sudut Pandang Ontologi, Epist...
Tanya Jawab Materi Pengantar Filsafat Ilmu Dari Sudut Pandang Ontologi, Epist...Tanya Jawab Materi Pengantar Filsafat Ilmu Dari Sudut Pandang Ontologi, Epist...
Tanya Jawab Materi Pengantar Filsafat Ilmu Dari Sudut Pandang Ontologi, Epist...YuliaKartika6
 
Tugas Kumpulan Soal Filsafat Ilmu Dr. Sigit Sardjono, M.Ec.
Tugas Kumpulan Soal Filsafat Ilmu   Dr. Sigit Sardjono, M.Ec.Tugas Kumpulan Soal Filsafat Ilmu   Dr. Sigit Sardjono, M.Ec.
Tugas Kumpulan Soal Filsafat Ilmu Dr. Sigit Sardjono, M.Ec.elia_deardy
 
Filsafat ilmu sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan
Filsafat ilmu sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuanFilsafat ilmu sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan
Filsafat ilmu sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuanEkoBowo2
 
Makalah filsafat umum
Makalah filsafat umumMakalah filsafat umum
Makalah filsafat umumAyah Abeeb
 
FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
FILSAFAT ILMU PENGETAHUANFILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
FILSAFAT ILMU PENGETAHUANAlvy Mayrina
 
Hakekat Filsafat
Hakekat FilsafatHakekat Filsafat
Hakekat FilsafatT. Astari
 
Tugas Pengantar Filsafat Ilmu Kelompok Yolanda
Tugas Pengantar Filsafat Ilmu Kelompok YolandaTugas Pengantar Filsafat Ilmu Kelompok Yolanda
Tugas Pengantar Filsafat Ilmu Kelompok YolandaYolandaday1
 
cabang cabang filsafat (struktur filsafat)
cabang cabang filsafat (struktur filsafat)cabang cabang filsafat (struktur filsafat)
cabang cabang filsafat (struktur filsafat)Cecep Kustandi
 
KELOMPOK 2_SLIDE SHARE_MATERI KULIAH M1 s.d M15_PFI_S_UNTAG_SBY
KELOMPOK 2_SLIDE SHARE_MATERI KULIAH M1 s.d M15_PFI_S_UNTAG_SBYKELOMPOK 2_SLIDE SHARE_MATERI KULIAH M1 s.d M15_PFI_S_UNTAG_SBY
KELOMPOK 2_SLIDE SHARE_MATERI KULIAH M1 s.d M15_PFI_S_UNTAG_SBYDINAFRENTI17
 

Tendances (20)

problematika filsafat, epistimologi, ontologi aksiologi
problematika filsafat, epistimologi, ontologi aksiologiproblematika filsafat, epistimologi, ontologi aksiologi
problematika filsafat, epistimologi, ontologi aksiologi
 
makalah filsafat
makalah filsafatmakalah filsafat
makalah filsafat
 
Makalah filsafat
Makalah filsafat Makalah filsafat
Makalah filsafat
 
Makalah filsafat
Makalah filsafatMakalah filsafat
Makalah filsafat
 
Makalah filsafat
Makalah filsafatMakalah filsafat
Makalah filsafat
 
Filsafat administrasi 2013
Filsafat administrasi 2013Filsafat administrasi 2013
Filsafat administrasi 2013
 
pengertian filsafat dan substansi filsafat ilmu
pengertian filsafat dan substansi filsafat ilmupengertian filsafat dan substansi filsafat ilmu
pengertian filsafat dan substansi filsafat ilmu
 
Tanya Jawab Materi Pengantar Filsafat Ilmu Dari Sudut Pandang Ontologi, Epist...
Tanya Jawab Materi Pengantar Filsafat Ilmu Dari Sudut Pandang Ontologi, Epist...Tanya Jawab Materi Pengantar Filsafat Ilmu Dari Sudut Pandang Ontologi, Epist...
Tanya Jawab Materi Pengantar Filsafat Ilmu Dari Sudut Pandang Ontologi, Epist...
 
Tugas Kumpulan Soal Filsafat Ilmu Dr. Sigit Sardjono, M.Ec.
Tugas Kumpulan Soal Filsafat Ilmu   Dr. Sigit Sardjono, M.Ec.Tugas Kumpulan Soal Filsafat Ilmu   Dr. Sigit Sardjono, M.Ec.
Tugas Kumpulan Soal Filsafat Ilmu Dr. Sigit Sardjono, M.Ec.
 
Filsafat ilmu sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan
Filsafat ilmu sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuanFilsafat ilmu sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan
Filsafat ilmu sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan
 
Makalah filsafat umum
Makalah filsafat umumMakalah filsafat umum
Makalah filsafat umum
 
Makalah filsafat pendidikan
Makalah filsafat pendidikanMakalah filsafat pendidikan
Makalah filsafat pendidikan
 
FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
FILSAFAT ILMU PENGETAHUANFILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
 
Filsafat umum
Filsafat umumFilsafat umum
Filsafat umum
 
Hakekat Filsafat
Hakekat FilsafatHakekat Filsafat
Hakekat Filsafat
 
Tugas Pengantar Filsafat Ilmu Kelompok Yolanda
Tugas Pengantar Filsafat Ilmu Kelompok YolandaTugas Pengantar Filsafat Ilmu Kelompok Yolanda
Tugas Pengantar Filsafat Ilmu Kelompok Yolanda
 
Contoh soal filsafat ilmu
Contoh soal filsafat ilmuContoh soal filsafat ilmu
Contoh soal filsafat ilmu
 
Jawaban mid
Jawaban midJawaban mid
Jawaban mid
 
cabang cabang filsafat (struktur filsafat)
cabang cabang filsafat (struktur filsafat)cabang cabang filsafat (struktur filsafat)
cabang cabang filsafat (struktur filsafat)
 
KELOMPOK 2_SLIDE SHARE_MATERI KULIAH M1 s.d M15_PFI_S_UNTAG_SBY
KELOMPOK 2_SLIDE SHARE_MATERI KULIAH M1 s.d M15_PFI_S_UNTAG_SBYKELOMPOK 2_SLIDE SHARE_MATERI KULIAH M1 s.d M15_PFI_S_UNTAG_SBY
KELOMPOK 2_SLIDE SHARE_MATERI KULIAH M1 s.d M15_PFI_S_UNTAG_SBY
 

En vedette

Рынок сливочного масла в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-Статистика
Рынок сливочного масла в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-СтатистикаРынок сливочного масла в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-Статистика
Рынок сливочного масла в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-СтатистикаЭкспресс-Обзор
 
Рынок шкафов. Итоги производства 2009 - 2 кв. 2012 и прогноз до 2015. Слайд-С...
Рынок шкафов. Итоги производства 2009 - 2 кв. 2012 и прогноз до 2015. Слайд-С...Рынок шкафов. Итоги производства 2009 - 2 кв. 2012 и прогноз до 2015. Слайд-С...
Рынок шкафов. Итоги производства 2009 - 2 кв. 2012 и прогноз до 2015. Слайд-С...Экспресс-Обзор
 
Рынок мебели для кухни в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-Статистика
Рынок мебели для кухни в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-СтатистикаРынок мебели для кухни в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-Статистика
Рынок мебели для кухни в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-СтатистикаЭкспресс-Обзор
 
Рынок бижутерии в России: предварительные итоги 2013, прогноз до 2017
Рынок бижутерии в России: предварительные итоги 2013, прогноз до 2017Рынок бижутерии в России: предварительные итоги 2013, прогноз до 2017
Рынок бижутерии в России: предварительные итоги 2013, прогноз до 2017Экспресс-Обзор
 
Рынок газовых и электрических плит 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на...
Рынок газовых и электрических плит 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на...Рынок газовых и электрических плит 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на...
Рынок газовых и электрических плит 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на...Экспресс-Обзор
 
Рынок мягкой мебели в России 2009-2 кв. 2012 и прогноз до 2015 г.Слайд-Статис...
Рынок мягкой мебели в России 2009-2 кв. 2012 и прогноз до 2015 г.Слайд-Статис...Рынок мягкой мебели в России 2009-2 кв. 2012 и прогноз до 2015 г.Слайд-Статис...
Рынок мягкой мебели в России 2009-2 кв. 2012 и прогноз до 2015 г.Слайд-Статис...Экспресс-Обзор
 
Рынок мягких контактных линз в России 2013
Рынок мягких контактных линз в России 2013Рынок мягких контактных линз в России 2013
Рынок мягких контактных линз в России 2013Экспресс-Обзор
 
Рынок телевизоров в России 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на 2014-2017
Рынок телевизоров в России 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на 2014-2017Рынок телевизоров в России 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на 2014-2017
Рынок телевизоров в России 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на 2014-2017Экспресс-Обзор
 
Анализ спроса и оценка привлекательности основных сегментов рынка детского пи...
Анализ спроса и оценка привлекательности основных сегментов рынка детского пи...Анализ спроса и оценка привлекательности основных сегментов рынка детского пи...
Анализ спроса и оценка привлекательности основных сегментов рынка детского пи...Экспресс-Обзор
 
Фармацевтический рынок (рынок лекарств и лекарственных средств) в России 2014...
Фармацевтический рынок (рынок лекарств и лекарственных средств) в России 2014...Фармацевтический рынок (рынок лекарств и лекарственных средств) в России 2014...
Фармацевтический рынок (рынок лекарств и лекарственных средств) в России 2014...Экспресс-Обзор
 
Рынок ОСП (OSB) в России 2009 - 1 полугодие 2014: итоги года и прогноз на 201...
Рынок ОСП (OSB) в России 2009 - 1 полугодие 2014: итоги года и прогноз на 201...Рынок ОСП (OSB) в России 2009 - 1 полугодие 2014: итоги года и прогноз на 201...
Рынок ОСП (OSB) в России 2009 - 1 полугодие 2014: итоги года и прогноз на 201...Экспресс-Обзор
 
Рынок мебели в России 2014: Итоги 2013 и 1 полугодия 2014, прогноз до 2018 с ...
Рынок мебели в России 2014: Итоги 2013 и 1 полугодия 2014, прогноз до 2018 с ...Рынок мебели в России 2014: Итоги 2013 и 1 полугодия 2014, прогноз до 2018 с ...
Рынок мебели в России 2014: Итоги 2013 и 1 полугодия 2014, прогноз до 2018 с ...Экспресс-Обзор
 
Рынок энергосберегающих ламп в России 2013: итоги 1 пол. 2013 и прогноз на 20...
Рынок энергосберегающих ламп в России 2013: итоги 1 пол. 2013 и прогноз на 20...Рынок энергосберегающих ламп в России 2013: итоги 1 пол. 2013 и прогноз на 20...
Рынок энергосберегающих ламп в России 2013: итоги 1 пол. 2013 и прогноз на 20...Экспресс-Обзор
 
Рынок кирпича в России 2013: итоги года и прогноз на 2014-2017
Рынок кирпича в России 2013: итоги года и прогноз на 2014-2017Рынок кирпича в России 2013: итоги года и прогноз на 2014-2017
Рынок кирпича в России 2013: итоги года и прогноз на 2014-2017Экспресс-Обзор
 
Рынок растительного масла 2013: предварительные итоги года, прогноз до 2017
Рынок растительного масла 2013: предварительные итоги года, прогноз до 2017Рынок растительного масла 2013: предварительные итоги года, прогноз до 2017
Рынок растительного масла 2013: предварительные итоги года, прогноз до 2017Экспресс-Обзор
 
Рынок крупной бытовой техники 2013: итоги 2012 и 1 полугодия 2013, прогноз на...
Рынок крупной бытовой техники 2013: итоги 2012 и 1 полугодия 2013, прогноз на...Рынок крупной бытовой техники 2013: итоги 2012 и 1 полугодия 2013, прогноз на...
Рынок крупной бытовой техники 2013: итоги 2012 и 1 полугодия 2013, прогноз на...Экспресс-Обзор
 
Rts145 slide hospital_by_laws_2
Rts145 slide hospital_by_laws_2Rts145 slide hospital_by_laws_2
Rts145 slide hospital_by_laws_2Rain Sualang
 
Penanganan kasus malpraktik medis
Penanganan kasus malpraktik medisPenanganan kasus malpraktik medis
Penanganan kasus malpraktik medisRain Sualang
 

En vedette (19)

Рынок сливочного масла в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-Статистика
Рынок сливочного масла в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-СтатистикаРынок сливочного масла в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-Статистика
Рынок сливочного масла в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-Статистика
 
Рынок шкафов. Итоги производства 2009 - 2 кв. 2012 и прогноз до 2015. Слайд-С...
Рынок шкафов. Итоги производства 2009 - 2 кв. 2012 и прогноз до 2015. Слайд-С...Рынок шкафов. Итоги производства 2009 - 2 кв. 2012 и прогноз до 2015. Слайд-С...
Рынок шкафов. Итоги производства 2009 - 2 кв. 2012 и прогноз до 2015. Слайд-С...
 
Рынок мебели для кухни в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-Статистика
Рынок мебели для кухни в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-СтатистикаРынок мебели для кухни в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-Статистика
Рынок мебели для кухни в России 2012 и прогноз на 2013-2016. Слайд-Статистика
 
Рынок бижутерии в России: предварительные итоги 2013, прогноз до 2017
Рынок бижутерии в России: предварительные итоги 2013, прогноз до 2017Рынок бижутерии в России: предварительные итоги 2013, прогноз до 2017
Рынок бижутерии в России: предварительные итоги 2013, прогноз до 2017
 
Рынок газовых и электрических плит 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на...
Рынок газовых и электрических плит 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на...Рынок газовых и электрических плит 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на...
Рынок газовых и электрических плит 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на...
 
Kk
KkKk
Kk
 
Рынок мягкой мебели в России 2009-2 кв. 2012 и прогноз до 2015 г.Слайд-Статис...
Рынок мягкой мебели в России 2009-2 кв. 2012 и прогноз до 2015 г.Слайд-Статис...Рынок мягкой мебели в России 2009-2 кв. 2012 и прогноз до 2015 г.Слайд-Статис...
Рынок мягкой мебели в России 2009-2 кв. 2012 и прогноз до 2015 г.Слайд-Статис...
 
Рынок мягких контактных линз в России 2013
Рынок мягких контактных линз в России 2013Рынок мягких контактных линз в России 2013
Рынок мягких контактных линз в России 2013
 
Рынок телевизоров в России 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на 2014-2017
Рынок телевизоров в России 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на 2014-2017Рынок телевизоров в России 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на 2014-2017
Рынок телевизоров в России 2013: итоги 2012 и 1 пол. 2013, прогноз на 2014-2017
 
Анализ спроса и оценка привлекательности основных сегментов рынка детского пи...
Анализ спроса и оценка привлекательности основных сегментов рынка детского пи...Анализ спроса и оценка привлекательности основных сегментов рынка детского пи...
Анализ спроса и оценка привлекательности основных сегментов рынка детского пи...
 
Фармацевтический рынок (рынок лекарств и лекарственных средств) в России 2014...
Фармацевтический рынок (рынок лекарств и лекарственных средств) в России 2014...Фармацевтический рынок (рынок лекарств и лекарственных средств) в России 2014...
Фармацевтический рынок (рынок лекарств и лекарственных средств) в России 2014...
 
Рынок ОСП (OSB) в России 2009 - 1 полугодие 2014: итоги года и прогноз на 201...
Рынок ОСП (OSB) в России 2009 - 1 полугодие 2014: итоги года и прогноз на 201...Рынок ОСП (OSB) в России 2009 - 1 полугодие 2014: итоги года и прогноз на 201...
Рынок ОСП (OSB) в России 2009 - 1 полугодие 2014: итоги года и прогноз на 201...
 
Рынок мебели в России 2014: Итоги 2013 и 1 полугодия 2014, прогноз до 2018 с ...
Рынок мебели в России 2014: Итоги 2013 и 1 полугодия 2014, прогноз до 2018 с ...Рынок мебели в России 2014: Итоги 2013 и 1 полугодия 2014, прогноз до 2018 с ...
Рынок мебели в России 2014: Итоги 2013 и 1 полугодия 2014, прогноз до 2018 с ...
 
Рынок энергосберегающих ламп в России 2013: итоги 1 пол. 2013 и прогноз на 20...
Рынок энергосберегающих ламп в России 2013: итоги 1 пол. 2013 и прогноз на 20...Рынок энергосберегающих ламп в России 2013: итоги 1 пол. 2013 и прогноз на 20...
Рынок энергосберегающих ламп в России 2013: итоги 1 пол. 2013 и прогноз на 20...
 
Рынок кирпича в России 2013: итоги года и прогноз на 2014-2017
Рынок кирпича в России 2013: итоги года и прогноз на 2014-2017Рынок кирпича в России 2013: итоги года и прогноз на 2014-2017
Рынок кирпича в России 2013: итоги года и прогноз на 2014-2017
 
Рынок растительного масла 2013: предварительные итоги года, прогноз до 2017
Рынок растительного масла 2013: предварительные итоги года, прогноз до 2017Рынок растительного масла 2013: предварительные итоги года, прогноз до 2017
Рынок растительного масла 2013: предварительные итоги года, прогноз до 2017
 
Рынок крупной бытовой техники 2013: итоги 2012 и 1 полугодия 2013, прогноз на...
Рынок крупной бытовой техники 2013: итоги 2012 и 1 полугодия 2013, прогноз на...Рынок крупной бытовой техники 2013: итоги 2012 и 1 полугодия 2013, прогноз на...
Рынок крупной бытовой техники 2013: итоги 2012 и 1 полугодия 2013, прогноз на...
 
Rts145 slide hospital_by_laws_2
Rts145 slide hospital_by_laws_2Rts145 slide hospital_by_laws_2
Rts145 slide hospital_by_laws_2
 
Penanganan kasus malpraktik medis
Penanganan kasus malpraktik medisPenanganan kasus malpraktik medis
Penanganan kasus malpraktik medis
 

Similaire à Bahan ajar dr valen lumowa

Similaire à Bahan ajar dr valen lumowa (20)

Makalah filsafat pendidikan
Makalah filsafat pendidikanMakalah filsafat pendidikan
Makalah filsafat pendidikan
 
Makalah filsafat pendidikan2
Makalah filsafat pendidikan2Makalah filsafat pendidikan2
Makalah filsafat pendidikan2
 
Makalah filsafat pendidikan2
Makalah filsafat pendidikan2Makalah filsafat pendidikan2
Makalah filsafat pendidikan2
 
Makalah filsafat pendidikan2
Makalah filsafat pendidikan2Makalah filsafat pendidikan2
Makalah filsafat pendidikan2
 
Makalah filsafat pendidikan2
Makalah filsafat pendidikan2Makalah filsafat pendidikan2
Makalah filsafat pendidikan2
 
Intro To Philosophy
Intro To PhilosophyIntro To Philosophy
Intro To Philosophy
 
Introtophilosophy 100104004216-phpapp01
Introtophilosophy 100104004216-phpapp01Introtophilosophy 100104004216-phpapp01
Introtophilosophy 100104004216-phpapp01
 
Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3
 
Filsafat ilmu
Filsafat  ilmu Filsafat  ilmu
Filsafat ilmu
 
Pengertian filsafat
Pengertian filsafatPengertian filsafat
Pengertian filsafat
 
Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3
 
Filsafat-Ilmu-5.pptx
Filsafat-Ilmu-5.pptxFilsafat-Ilmu-5.pptx
Filsafat-Ilmu-5.pptx
 
Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3
 
Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3
 
Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3
 
Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3Makalah filsafat 3
Makalah filsafat 3
 
Makalah filsafat 3 (2)
Makalah filsafat 3 (2)Makalah filsafat 3 (2)
Makalah filsafat 3 (2)
 
PPT FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN.pptx
PPT FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN.pptxPPT FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN.pptx
PPT FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN.pptx
 
Tugas filsafat ilmu
Tugas filsafat ilmu Tugas filsafat ilmu
Tugas filsafat ilmu
 
Tugas filsafat ilmu
Tugas filsafat ilmuTugas filsafat ilmu
Tugas filsafat ilmu
 

Dernier

7.PPT TENTANG TUGAS Keseimbangan-AD-AS .pptx
7.PPT TENTANG TUGAS Keseimbangan-AD-AS .pptx7.PPT TENTANG TUGAS Keseimbangan-AD-AS .pptx
7.PPT TENTANG TUGAS Keseimbangan-AD-AS .pptxSusanSanti20
 
LATAR BELAKANG JURNAL DIALOGIS REFLEKTIF.ppt
LATAR BELAKANG JURNAL DIALOGIS REFLEKTIF.pptLATAR BELAKANG JURNAL DIALOGIS REFLEKTIF.ppt
LATAR BELAKANG JURNAL DIALOGIS REFLEKTIF.pptPpsSambirejo
 
MODUL P5 KEWIRAUSAHAAN SMAN 2 SLAWI 2023.pptx
MODUL P5 KEWIRAUSAHAAN SMAN 2 SLAWI 2023.pptxMODUL P5 KEWIRAUSAHAAN SMAN 2 SLAWI 2023.pptx
MODUL P5 KEWIRAUSAHAAN SMAN 2 SLAWI 2023.pptxSlasiWidasmara1
 
Membaca dengan Metode Fonik - Membuat Rancangan Pembelajaran dengan Metode Fo...
Membaca dengan Metode Fonik - Membuat Rancangan Pembelajaran dengan Metode Fo...Membaca dengan Metode Fonik - Membuat Rancangan Pembelajaran dengan Metode Fo...
Membaca dengan Metode Fonik - Membuat Rancangan Pembelajaran dengan Metode Fo...MuhammadSyamsuryadiS
 
Materi Sosialisasi US 2024 Sekolah Dasar pptx
Materi Sosialisasi US 2024 Sekolah Dasar pptxMateri Sosialisasi US 2024 Sekolah Dasar pptx
Materi Sosialisasi US 2024 Sekolah Dasar pptxSaujiOji
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdfAndiCoc
 
Membuat Komik Digital Berisi Kritik Sosial.docx
Membuat Komik Digital Berisi Kritik Sosial.docxMembuat Komik Digital Berisi Kritik Sosial.docx
Membuat Komik Digital Berisi Kritik Sosial.docxNurindahSetyawati1
 
Bab 4 Persatuan dan Kesatuan di Lingkup Wilayah Kabupaten dan Kota.pptx
Bab 4 Persatuan dan Kesatuan di Lingkup Wilayah Kabupaten dan Kota.pptxBab 4 Persatuan dan Kesatuan di Lingkup Wilayah Kabupaten dan Kota.pptx
Bab 4 Persatuan dan Kesatuan di Lingkup Wilayah Kabupaten dan Kota.pptxrizalhabib4
 
MATEMATIKA EKONOMI MATERI ANUITAS DAN NILAI ANUITAS
MATEMATIKA EKONOMI MATERI ANUITAS DAN NILAI ANUITASMATEMATIKA EKONOMI MATERI ANUITAS DAN NILAI ANUITAS
MATEMATIKA EKONOMI MATERI ANUITAS DAN NILAI ANUITASbilqisizzati
 
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA ppkn i.ppt
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA ppkn i.pptHAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA ppkn i.ppt
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA ppkn i.pptnabilafarahdiba95
 
Tim Yang Lolos Pendanaan Hibah Kepedulian pada Masyarakat UI 2024
Tim Yang Lolos Pendanaan Hibah Kepedulian pada Masyarakat  UI 2024Tim Yang Lolos Pendanaan Hibah Kepedulian pada Masyarakat  UI 2024
Tim Yang Lolos Pendanaan Hibah Kepedulian pada Masyarakat UI 2024editwebsitesubdit
 
PPT PERUBAHAN LINGKUNGAN MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X.pptx
PPT PERUBAHAN LINGKUNGAN MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X.pptxPPT PERUBAHAN LINGKUNGAN MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X.pptx
PPT PERUBAHAN LINGKUNGAN MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X.pptxdpp11tya
 
Aksi Nyata Sosialisasi Profil Pelajar Pancasila.pdf
Aksi Nyata Sosialisasi Profil Pelajar Pancasila.pdfAksi Nyata Sosialisasi Profil Pelajar Pancasila.pdf
Aksi Nyata Sosialisasi Profil Pelajar Pancasila.pdfJarzaniIsmail
 
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdf
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdfContoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdf
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdfCandraMegawati
 
Sesi 1_PPT Ruang Kolaborasi Modul 1.3 _ ke 1_PGP Angkatan 10.pptx
Sesi 1_PPT Ruang Kolaborasi Modul 1.3 _ ke 1_PGP Angkatan 10.pptxSesi 1_PPT Ruang Kolaborasi Modul 1.3 _ ke 1_PGP Angkatan 10.pptx
Sesi 1_PPT Ruang Kolaborasi Modul 1.3 _ ke 1_PGP Angkatan 10.pptxSovyOktavianti
 
MODUL AJAR IPAS KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA
MODUL AJAR IPAS KELAS 6 KURIKULUM MERDEKAMODUL AJAR IPAS KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA
MODUL AJAR IPAS KELAS 6 KURIKULUM MERDEKAAndiCoc
 
Aksi Nyata PMM Topik Refleksi Diri (1).pdf
Aksi Nyata PMM Topik Refleksi Diri (1).pdfAksi Nyata PMM Topik Refleksi Diri (1).pdf
Aksi Nyata PMM Topik Refleksi Diri (1).pdfEniNuraeni29
 
Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptx
Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptxRefleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptx
Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptxIrfanAudah1
 
PEMANASAN GLOBAL - MATERI KELAS X MA.pptx
PEMANASAN GLOBAL - MATERI KELAS X MA.pptxPEMANASAN GLOBAL - MATERI KELAS X MA.pptx
PEMANASAN GLOBAL - MATERI KELAS X MA.pptxsukmakarim1998
 

Dernier (20)

7.PPT TENTANG TUGAS Keseimbangan-AD-AS .pptx
7.PPT TENTANG TUGAS Keseimbangan-AD-AS .pptx7.PPT TENTANG TUGAS Keseimbangan-AD-AS .pptx
7.PPT TENTANG TUGAS Keseimbangan-AD-AS .pptx
 
LATAR BELAKANG JURNAL DIALOGIS REFLEKTIF.ppt
LATAR BELAKANG JURNAL DIALOGIS REFLEKTIF.pptLATAR BELAKANG JURNAL DIALOGIS REFLEKTIF.ppt
LATAR BELAKANG JURNAL DIALOGIS REFLEKTIF.ppt
 
MODUL P5 KEWIRAUSAHAAN SMAN 2 SLAWI 2023.pptx
MODUL P5 KEWIRAUSAHAAN SMAN 2 SLAWI 2023.pptxMODUL P5 KEWIRAUSAHAAN SMAN 2 SLAWI 2023.pptx
MODUL P5 KEWIRAUSAHAAN SMAN 2 SLAWI 2023.pptx
 
Membaca dengan Metode Fonik - Membuat Rancangan Pembelajaran dengan Metode Fo...
Membaca dengan Metode Fonik - Membuat Rancangan Pembelajaran dengan Metode Fo...Membaca dengan Metode Fonik - Membuat Rancangan Pembelajaran dengan Metode Fo...
Membaca dengan Metode Fonik - Membuat Rancangan Pembelajaran dengan Metode Fo...
 
Materi Sosialisasi US 2024 Sekolah Dasar pptx
Materi Sosialisasi US 2024 Sekolah Dasar pptxMateri Sosialisasi US 2024 Sekolah Dasar pptx
Materi Sosialisasi US 2024 Sekolah Dasar pptx
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Membuat Komik Digital Berisi Kritik Sosial.docx
Membuat Komik Digital Berisi Kritik Sosial.docxMembuat Komik Digital Berisi Kritik Sosial.docx
Membuat Komik Digital Berisi Kritik Sosial.docx
 
Bab 4 Persatuan dan Kesatuan di Lingkup Wilayah Kabupaten dan Kota.pptx
Bab 4 Persatuan dan Kesatuan di Lingkup Wilayah Kabupaten dan Kota.pptxBab 4 Persatuan dan Kesatuan di Lingkup Wilayah Kabupaten dan Kota.pptx
Bab 4 Persatuan dan Kesatuan di Lingkup Wilayah Kabupaten dan Kota.pptx
 
Intellectual Discourse Business in Islamic Perspective - Mej Dr Mohd Adib Abd...
Intellectual Discourse Business in Islamic Perspective - Mej Dr Mohd Adib Abd...Intellectual Discourse Business in Islamic Perspective - Mej Dr Mohd Adib Abd...
Intellectual Discourse Business in Islamic Perspective - Mej Dr Mohd Adib Abd...
 
MATEMATIKA EKONOMI MATERI ANUITAS DAN NILAI ANUITAS
MATEMATIKA EKONOMI MATERI ANUITAS DAN NILAI ANUITASMATEMATIKA EKONOMI MATERI ANUITAS DAN NILAI ANUITAS
MATEMATIKA EKONOMI MATERI ANUITAS DAN NILAI ANUITAS
 
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA ppkn i.ppt
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA ppkn i.pptHAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA ppkn i.ppt
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA ppkn i.ppt
 
Tim Yang Lolos Pendanaan Hibah Kepedulian pada Masyarakat UI 2024
Tim Yang Lolos Pendanaan Hibah Kepedulian pada Masyarakat  UI 2024Tim Yang Lolos Pendanaan Hibah Kepedulian pada Masyarakat  UI 2024
Tim Yang Lolos Pendanaan Hibah Kepedulian pada Masyarakat UI 2024
 
PPT PERUBAHAN LINGKUNGAN MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X.pptx
PPT PERUBAHAN LINGKUNGAN MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X.pptxPPT PERUBAHAN LINGKUNGAN MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X.pptx
PPT PERUBAHAN LINGKUNGAN MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X.pptx
 
Aksi Nyata Sosialisasi Profil Pelajar Pancasila.pdf
Aksi Nyata Sosialisasi Profil Pelajar Pancasila.pdfAksi Nyata Sosialisasi Profil Pelajar Pancasila.pdf
Aksi Nyata Sosialisasi Profil Pelajar Pancasila.pdf
 
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdf
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdfContoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdf
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdf
 
Sesi 1_PPT Ruang Kolaborasi Modul 1.3 _ ke 1_PGP Angkatan 10.pptx
Sesi 1_PPT Ruang Kolaborasi Modul 1.3 _ ke 1_PGP Angkatan 10.pptxSesi 1_PPT Ruang Kolaborasi Modul 1.3 _ ke 1_PGP Angkatan 10.pptx
Sesi 1_PPT Ruang Kolaborasi Modul 1.3 _ ke 1_PGP Angkatan 10.pptx
 
MODUL AJAR IPAS KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA
MODUL AJAR IPAS KELAS 6 KURIKULUM MERDEKAMODUL AJAR IPAS KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA
MODUL AJAR IPAS KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA
 
Aksi Nyata PMM Topik Refleksi Diri (1).pdf
Aksi Nyata PMM Topik Refleksi Diri (1).pdfAksi Nyata PMM Topik Refleksi Diri (1).pdf
Aksi Nyata PMM Topik Refleksi Diri (1).pdf
 
Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptx
Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptxRefleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptx
Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptx
 
PEMANASAN GLOBAL - MATERI KELAS X MA.pptx
PEMANASAN GLOBAL - MATERI KELAS X MA.pptxPEMANASAN GLOBAL - MATERI KELAS X MA.pptx
PEMANASAN GLOBAL - MATERI KELAS X MA.pptx
 

Bahan ajar dr valen lumowa

  • 1. Bahan Ajar (Singkat) Mata Kuliah : Pengantar ke dalam Dunia Filsafat Ilmu Administrasi Pengajar : Dr. Valentino Lumowa Semester : I-2012/2013 TINJAUAN MATA KULIAH 1 Deskripsi Matakuliah ini berisi uraian tentang pengertian hakikat filsafat, perbedaan filsafat dan ilmu pengetahuan dengan melihat metode serta objek material dan objek formal filsafat dan ilmu pengetahuan, dan perkembangan pemikiran filsafat dari zaman Yunani Kuno sampai Filsafat Timur. 2 Manfaat Matakuliah Pengantar Filsafat menjadi bagian pokok dari kurikulum karena memiliki beberapa tujuan, yaitu: a. Salah satu misi universitas ialah menghasilkan lulusan yang punya keunggulan akademik. Itu berarti, seorang lulusan tidak saja mempunyai pengetahuan dalam bidang spesialisasi program studinya, melainkan juga memiliki daya pikir konseptual yang tinggi dan rasional yang kuat. Maka, studi filsafat persis bisa membantu mengasah kebiasaan berpikir secara mendalam, teratur, dan terarah pada nilai-nilai yang tidak disadari oleh dunia empiris. b. Misi lain dari universitas ialah menghasilkan lulusan yang bisa memberikan kontribusi riil bagi pengembangan menuju masyarakat Indonesia baru, yakni masyarakat di mana demokrasi dan hak asasi manusia dihormati. Itu berarti para lulusan diharapkan
  • 2. memiliki kemampuan memahami, menganalisis, mengkritisi, dan menunjukkan arah baru bagi perubahan masyarakat. Maka studi filsafat bisa membantu kita untuk terbiasa berefleksi secara mendalam, serta bersikap kritis terhadap apa yang didengar, dibaca, ataupun dilihat, sambil mampu menggagas konsep-konsep yang konstruktif demi perubahan baru masyarakat. c. Seperti yang akan dipelajari lagi, salah satu ciri yang paling menonjol dari filsafat ialah sifatnya yang rasional. Artinya, studi filsafat mengandalkan kekuatan akal budi, dan sedapat mungkin menghindari ikatan-ikatan emosional dan melampaui batasan- batasan inderawi belaka. Oleh karena itu, studi filsafat bisa membantu kita mengembangkan daya rasio kita untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan emosional yang selama ini gampang sekali disulut atau diprovokasi untuk kepentingan yang merusak. Selain itu, karena rasionalitasnya, filsafat juga biasa membantu kita untuk mengatasi perbedaan-perbedaan etnis, suku, dan agama yang seringkali menghambat kerjasama dan dialog dalam masyarakat. Singkatnya, studi filsafat yang mengandalkan kekuatan rasional bisa membantu melatih kita untuk berdialog secara sehat, menghormati pikiran dan perasaan orang lain, serta bekerjasama menemukan jalan keluar terhadap masalah yang kita hadapi bersama. 3 Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari matakuliah ini, pada akhir perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu: a) Menjelaskan hakikat filsafat b) Menjelaskan perbedaan filsafat dan ilmu pengetahuan berdasarkan objek material dan objek formal. c) Menjelaskan metode yang khas dalam filsafat.
  • 3. d) Menguraikan proses perkembangan pemikiran filsafat dari zaman Yunani Kuno sampai abad modern. 4 Garis Besar Materi Secara garis besar materi kuliah yang ada dalam bahan ajar ini terdiri dari: Bab I Hakikat dan Metode Filsafat 1) Arti Filsafat 2) Ilmu Pengetahuan dan Filsafat 3) Metode Filsafat 4) Pembagian Filsafat Bab II Filsafat dalam Kebudayaan Yunani Kuno 1) Pergeseran dari Mitos ke Logos 2) Prinsip Dasar Realitas 3) Perubahan atau Transformasi a) Herakleitos b) Parmenides 4) Retorika dan Dielektika a) Kaum Sofis b) Sokrates 5) Dualisme Plato 6) Aristoteles dan Metafisika Bab III Beberapa Persoalan Dasar Filosofis 1) Abad Pertengahan: Hubungan antara Iman dan Rasio a) Clemens dari Alexandria
  • 4. b) St. Augustinus (354-430) c) St. Anselmus dari Canterbury (1033-1109) d) St. Thomas Aquinas (1225-1274) 2) Rasionalisme & Empirisme a) Rasionalisme Rene Descartes (1590-1650) b) Empirisme David Hume (1711-1776) c) Sintesis oleh Immanuel Kant (1724-1804) 3) Idealisme & Materialisme a) Idealisme Hegel b) Materialisme menurut Karl Marx (1818-1830) 4) Makna Hidup Manusia: Eksistensialisme a) Makna Eksistensi menurut Soren Kierkegaard (18103-1855) b) Eksistensialisme Jean-Paul Sartre (1905-1980) c) Gabriel Marcel (1889-1973) 5) Hubungan antara Teori dan Praksis: Pragmatisme a) William James (1842-1910) b) John Dewey (1859-1952) Bab IV Pengantar Filsafat Timur 1) Filsafat Barat dan Filsafat Timur 2) Filsafat dan Agama 3) Filsafat Cina 5 Petunjuk Bagi Mahasiswa Dalam mempelajari materi ini sangat diharapkan kemampuan membaca dengan teliti disertai dengan daya abstraksi yang tinggi. Metode menghafal bukanlah metode yang tepat untuk diterapkan dalam mempelajari materi yang ada bahan ajar ini. Jalan terbaik yang
  • 5. diajurkan untuk dilakukan oleh mahasiswa ialah mencoba membaca berulang kali teks yang ada, bila menemui kesulitan untuk mengerti pernyataan-pertanyaan yang ada dalam teks, diskusikanlah dengan dosen pada saat proses pembelajaran. Mahasiswa juga diharapkan untuk aktif mencari referensi lain yang bisa membantu, terutama ketika anda mulai membaca teks tentang pokok-pokok pemikiran para filsuf.
  • 6. BAB I HAKIKAT DAN METODE FILSAFAT Pendahuluan Pertanyaan pertama yang segera harus dijawab ialah “Apa itu filsafat”? Pertanyaan tersebut sudah menjadi pergumulan sepanjang sejarah filsafat, sejak Plato di jaman Yunani Kuno sampai St. Augustinus dalam abad ke-3, St. Thomas Aquinas dalam abad ke-19, dan Ludwig Wittgestein, Alfred North Whitehead, dan Martin Haidegger dalam abad ke-20. Dalam bab ini pertama-tama definisi leksikal atau etimologi kata ‘filsafat” hendak diperkenalkan, disertai uraian tentang “filsafat” sebagai aktivitas rasional-kritis. Berikutnya, hubungan filsafat dan ilmu pengetahuan hendak dijelaskan Agar memahami perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan, metode ilmiah dan metode berfilsafat hendak diperkenalkan. Sesudah itu cabang-cabang filsafat akan dikemukakan sekedar pengantar pada peta filsafat pada umumnya. 1 Arti Filsafat 1.1 Arti Etimologis Kata bahasa Indonesia “filsafat” merupakan terjemahan dari katabahasa Belanda “filosofie” atau “philosphie” dan bahasa Inggris “philosophy”. Kata-kata tersebut dan padanannya yang diturunkan dari bahasa Latin “philosophia” yang berasal dari bahasa Yuanani “philisophia” and “philosophos”. “Philos” berarti cinta (love), dan “philia’ berarti persahabatan (friendship) atau tertarik pada. “Sophos” berarti orang bijaksana, dan “sophia” berarti kebijaksanaan, pengetahuan, kebajikan. Jadi secara etimologis, “filsafat” berarti cinta akan kebijaksanaan atau pengetahuan. “filsuf” berarti pencinta kebijaksanaan; dan “berfilsafat” berarti mencintai kebijaksanaan. Sejak lahirnya filsafat dalam kebudayaan Yunani Kuno, aktivitas berfilsafat ditandai oleh “mencari” atau bertanya tentang” suatu
  • 7. peristiwa atau hal. Pertanyaan itu didorong oleh rasa ingin tahu karena kekaguman. Karena itu sering dikatakan bahwa filsafat selalu berawal dari rasa kagum yang menimbulkan pertanyaan. Konsekuensinya, “bertanya” atau “mencari pengetahuan” merupakan factor penting dari filsafat. Seperti akan dijelaskan lagi, dalam filsafat pertanyaan selalu dikemukakan secara radikal dan melebihi lapisan realitas inderawi. Pertanyaan filsafat selalu menyangkut dasar atau penyebab terdalam suatu peristiwa. Bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia filsafat, definisi etimologis tersebut belum memuaskan. Alasannya, definisi tersebut memang menjawab pertanyaan mengenai asal-usaul kata “filsafat” dan arti harafiahnya, tetapi belum menjelaskan apa hakikat filsafat sebenarnya. Umumnya disepakati bahwa hakikat filsafat baru dikenal tatkala orang masuk dalam lingkungan filsafat atau terlibat dalam aktivitas berfilsafat. Sarana utama dalam proses berfilsafat adalah rasio atau akal budi. Oleh karena itu filsafat sering disebut sebagai aktivitas rasional kritis. Dengan “aktivitas” dimaksudkan sebagai proses kegiatan atau pekerjaan mencari dan bertanya tentang pengetahuan. Sejak lahirnya filsafat suka mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang aktivitas intelektual, membuat orang berani berpikir dan mencari pengetahuan baru. Filsafat tidak berhenti pada jawaban tunggal, melainkan selalu mencari dan mengemukakan alternatif-alternatif sesuai dengan temuan akal sehat manusia. Sedangkan “rasional” dimaksudkan bahwa dalam aktivitas mencari pengetahuan itu, sarana utama yang digunakan adalah rasio atau akal sehat. Dalam filsafat rasio menjadi instrument dalam mencari kebenaran. Ciri rasionalitas ini memperlihatkan bahwa keaktivan berpikir merupakan salah satu unsur esensial dalam aktivitas berfilsafat. Tetapi perlu dicatat bahwa tidak semua aktivitas rasional yang khas pada manusia dapat disebut sebagai aktivitas berfilsafat. Suatu aktivitas rasional baru disebut sebagai aktivitas berfilsafat bila terdapat sejumlah aktivitas dan pemikiran rasional yang mempertanyakan makna hidup, menguji kebenaran nilai dan secara kritis berefleksi atas prosedur ilmiah atau keyakinan-keyakinan dalam masyarakat. Itu berarti, sebagai aktivitas
  • 8. rasional filsafat menyibukkan diri bukan dengan lapisan permukaan kehidupan melainkan dengan dasar atau akar terdalam dari realitas dan kehidupan manusia. Unsur ketiga dari filsafat adalah sifatnya yang “kritis”. Kata bahasa Indonesia “kritis” atau “kritik” berasal dari bahasa Yunani kritikos yang berarti mampu membedakan atau mengambil keputusan. Dalam bahasa Latin terdapat kata criticus yang diturunkan dari kata kerja “cernere” yang berarti membedakan, mengerti, dan memutuskan. Dengan demikian istilah “kritis” dalam filsafat mengandung tiga makna sekaligus yakni mengerti, membedakan, dan memutuskan. Sebagaimana akan kita lihat bahwa filsafat lahir sebagai reaksi penolakkan terhadap kemampanan mitos dan mitologi yang dipandang tidak lagi mampu menjelaskan hakikat realitas. Di pusat Polis yang disebut Agora, orang-orang Yunani mulai mempersoalkan banyak hal. Mereka mulai membedakan antara “apa yang masuk akal” dan “apa yang tidak masuk akal”, “antara apa yang diterima karena dimengerti” dan “apa yang diterima karena kepercayaan mitologis”. Dalam arti itulah filsafat lahir sebagai kritik terhadap kemampuan mitos dan mitologi. Maka filsafat tidak saja berarti aktivitas rasional, tetapi juga aktivitas rasional yang mengajukan kritik terhadap makna yang terkandung dalam fakta-fakta kehidupan. 1.2 Pandangan Para Filsuf mengenai Filsafat1 Apakah itu filsafat? Pertanyaan ini sama tuanya dengan filsafat itu sendiri, masih tetap diajukan dan telah dijawab dengan cara-cara yang sangat berlainan. Bertrand Russell: “... filsafat adalah tidak lebih dari suatu usaha untuk...menjawab pertanyaan- pertanyaan terakhir, tidak secara dangkal atau dogamatis seperti yang kita lakukan pada kehidupan sehari-hari dan bahkan dalam ilmu pengetahuan, akan tetapi secara kritis, dalam arti kata: setelah segala sesuatunya diselidiki problem-problem apa yang dapat ditimbulkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu dan setelah kita menjadi sadar dari segala kekaburan dan kebingungan, yang menjadi dasar bagi pengertian-pengertian kita sehari-hari...” 1 Gerard Beekman, Filsafat Para Filsuf Berfilsafat, Diterjemahkan oleh R.A. Rivai, (Jakarta: Penerbit Erlangga), hlm. 14-21.
  • 9. R. Beerling: “Filsafat adalah pemikiran-pemikiran yang bebas, diilhami oleh rasio, mengenai segala sesuatu yang timbul dari pengalaman-pengalaman.” Alfred Ayer: “Filsafat adalah pencarian akan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang sudah semenjak zaman Yunani dalam hal-hal pokok tetap sama saja. Pertanyaan-pertanyaab mengenai apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana kita mengetahuinya; hal-hal apa yang ada dan bagaimana hubungannyaa satu sama lain. Selanjutnya mempermasalahkan pendapat-pendapat yang telah diterima., mencari ukuran-ukuran dan menguji nilainya; apakah asumsi –asumsi dari pemikiran itu dan selanjutnya memerisa apakah hal-hal itu berlaku.” Corn Verhoeven: “ Filsafat adalah meradikalkan keheranan ke segala jurusan.” Arne Naess: “Bagi saya filsafat terdiri dari pandangan-pandangan yang menyeluruh, yang diungkapkan dalam pengertian-pengertian.” J. Hollak: “Dalam filsafat pada akhirnya soalnya adalah mengenai pengertian pribadi dai seseorang.” Karl Popper: “Saya rasa, kita semuanya mempunyai filsafat dan bahwa kebanyakan dari filsafat kita itu tidak bernilai banyak. Dan saya kira, bahwa tugas utama dari filsafat adalah untuk menyelidiki berbagai filsafat itu secara kritis, filsafat mana dianut oleh berbagai orang secara tidak kritis.” R. Kwant: “Berfilsafat yang sebenarnya adalah menguji secara kritis akan kemestian sesuatu yang dianggap sudah semestinya.” Walter Kaufmann: “Filsafat adalah pencarian akan kebenaran dengan pertolongan fakta-fakta dan argumentasi-argumentasi, tanpa memerlukan kekuasaan dan tanpa mengetahui hasilnya terlebih dahulu.” J. Staal: “Suatu definisi dari filsafat...saya menganggap pertanyaan itu sangat tidak menarik...saya akan berusaha menjawabnya: filsafat itu adalah suatu ilmu uyang ssedikit banyaknya dapat dijelaskan atas dasar sejarah. Ada sejumlah problema yang
  • 10. telah menjadi masalah-masalah filsafat secara turun-temurun oleh karena orang-orang yang dinamakan filsuf telah menggelutinya. Ini merupakan jawaban yang sangat lemah, akan tetapi saya tidak merasa bahwa kita akan mendapatkan jawaban yang jauh lebih meyakinkan.... Saya sungguh-sungguh tidak mempunyai definisi yang baik dari filsafat.” Ludwig Wittgenstein: “Filsafat adalah suatu perang-salib terhadap pesona dengan apa bahasa mengikat pemikiran kita.” C. van Peursen: “Saya kira bahwa filsafat, atau lebih jelas: berfilsafat, pertama-tama adalah penjelasan dari pandangan kita sendiri. Kedua adalah suatu usaha melalui mana didapatkan komunikasi atau kontak yang lebih mendalam, baik dengan filsuf lain maupun dengan mereka yang bukan filsuf. Yang imaksudkan adalah suatu komunikasi, juga pada titik- titik di mana kita “merelatifkan” pandangan fundamental kita masing-masing atau sendiri, dan menempatkan tanda tanya di belakangnya. Kita justru akan berusaha untuk meneruskan pada titik-titik di mana pada umumnya komunikasi sehari-hari terputus, Suatu komunikasi yang menghapuskan segala kesalahpahaman dan yang berusaha untuk menghilangkan hal-hal yang sudah-semestinya yang terlalu emosional. ... Dan ketika barangkali adalah usaha untuk mencapai suatu integrasi tertentu dari kegiatan-kegiatan ilmiah, dari pemikiran-pemikiran yang semata-mata teoritis dan tindakan-tindakan yang lebih praktis, pendeknya suatu fungsi yang timbul dari kedua hal terdahulu...filsafat mempunyai tugas menyumbang untuk menjelaskan sikap manusia yang menyeluruh, di antaranya sikap keagamaannya, etikanya, sosialnya dan semacam itu....Filsafat bukanlah hanya integrasi dan komunikasi, akan tetapi juga pembentangan asumsi-asumsi sendiri dan kesediaan untuk dikritik. Soalnya adalah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mencantumkan tanda-tanda tanya di belakangnya...” 1.3 Asal Filsafat Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yaitu: a. Keheranan Dalam bahasa Yunani, keheranan berarti thaumasia. Keheranan merupakan reaksi akal budi manusia terhadap suatu realitas fisik atau kenyataan duniawi yang belum dimengerti. Keherenan menjadi pendorong bagi lahirnya pertanyaan-pertanyaan filosofis. Keheranan terhadap alam semesta mendorong para pemikir Yunani Kuno berusaha mencari jawaban terhadap pertanyaan, “Apa arkhe (akar atau dasar pembentuk) dari realitas?” b. Kesangsian
  • 11. Menurut Agustinus dan Descartes (Filsuf Abad Pertengahan & Modern), kesangsian merupakan sumber utama pemikiran. Kesangsian adalah proses selanjutnya dari keheranan. Kesangsian akan muncul ketika manusia berhadapan dengan berbagai macam pendapat, keyakinan, dan interpretasi terhadap realitas fisik yang partikular dan majemuk. Sikap ini, sikap skeptis (dari kata Yunani “skepsis”, “penyelidikan”), sangat berguna untuk menemukan suatu titik pangkal yang tidak diragukan lagi. Titik pangkal ini dapat berfungsi sebagai dasar untuk semua pengetahuan lebih lanjut. 2 Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Untuk lebih mengerti arti filsafat, baiklah sekarang filsafat hendak dibandingkan dengan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan dimaksudkan sebagai himpunan teori- teori yang disusun secara sistematis melalui metode kerja ilmiah tertentu untuk memberikan keterangan rasional tentang gejala atau fakta dari bagian tertentu realitas. Yang termasuk dalam ilmu pengetahuan: biologi, fisika, sosiologi, ekonomi, astronomi, dsb. Kini ilmu-ilmu tersebut hendak dibandingkan dengan filsafat untuk menemukan kekhasan keduanya. Perbandingan tersebut bisa dilakukan melalui dua aspek yang membedakan yaitu objek penelitian, baik objek material maupun objek formal. Setiap ilmu mempunyai objeknya sendiri, objek itu menjadi sasaran studi atau penelitian. • Objek Material: Sesuatu yang dijadikan pokok atau sasaran observasi atau penyelidikan atau pengamatan • Objek Formal: Bagian dari objek material sejauh dipandang atau diselidiki dari sudut pandang tertentu. Contoh: Estetika (O. Formal) Ekonomis (O. Formal) Geografis (O.Formal) Sosiologis (O. Formal)
  • 12. Rumah (Objek Material) Sebuah rumah adalah obyek material. Rumah yang sama dapat dipandang dari perspektif atau sudut pandang tertentu, misalnya sudut estetika (keindahan), dari sudut ekonomis, tetapi rumah yang sama juga dapt dipandang dari sudut geografis, dst. Proses pengamatan atau observasi dari sudut pandang yang terbatas terhadap rumah itulah yang disebut sebagai okyek formal. Dari sisi objek material, filsafat sama dengan ilmu pengetahuan karena keduanya menyelidiki tentang realitas alam semesta dan kehidupan manusia. Baik ilmu pengetahuan maupun filsafat menjadikan realitas sebagai objek observasi atau penelitian. Itu berarti filsafat dan ilmu pengetahuan menjadikan realitas sebagai objek material. Tetapi dari segi obyek formal, keduanya memiliki perbedaan yang amat besar. Objek formal dari ilmu pengetahuan bercorak partikularitas dalam arti terbatas. Buktinya, persoalan yang dihadapi oleh ilmu fisika pada kenyataannya tidak bisa diselesaikan secara tuntas oleh sosiologi atau sebaliknya. Misalnya pertanyaan tentang letak planet dalam sistem tata surya, tidak mungkin dijawab secara memuaskan oleh ilmu psikologi. Itu berarti setiap ilmu menghadapi persoalan- persoalan yang khusus dan sekaligus memperlihatkan otonomi masing-masing ilmu, tetapi juga mengisyaratkan kebutuhan akan percakapan atau dialog yang bersifat lintas ilmu. Objek formal filsafat berbeda dengan ilmu pengetahuan. Perbedaannya bukan karena bidang studinya yang berada di samping bidang studi ilmu-ilmu pengetahuan, melainkan karena cara bertanya filsafat berbeda dari cara bertanya ilmu pengetahuan. Filsafat bertanya tentang prinsip dasar atau dimensi-dimensi fundamental dari realitas sebagai keseluruhan. Filsafat tidak menyoroti realitas secara partikular dari perspektif yang terbatas. Filsafat biasanya berhadapan dengan pertanyaan mendasar: “Apa hakikat realitas?” Pertanyaan filsafat
  • 13. menyangkut prinsip-prinsip dasar dan universal. Sedangkan pertanyaan ilmu pengetahuan terbatas pada lapisan empiris. Misalnya, ilmu matematika menggunakan angka “satu”, “dua”, “tiga”, dst. Berhadapan dengan angka-angka itu, seorang filsuf akan bertanya, “Apa artinya “satu”, “dua”, “tiga”, dst? Jika seseorang menunjuk angka “satu”, apakah ia menunjuk pada realitas? Apakah ada realitas “dua”, “tiga”, dst? Atau menurut ilmu estetika, “Rumah itu indah”. Tetapi seorang filsuf akan bertanya, “Apakah itu keindahan?” Seorang ekonom sedang merancang sistem ekonomi yang menjamin keadilan bagi warga negara. Seorang filsuf akan bertanya, “Apakah artinya keadilan sosial?” Jelaslah bahwa pertanyaan-pertanyaan filsafat bersifat fundamental dan radikal. Ia tidak tinggal pada lapisan empiris belaka, melainkan menukik masuk ke kedalaman akar atau sebab-sebab yang paling mendasar (per ultimas causas). Karena sifatnya yang khas itu, maka wajar bahwa ilmu-ilmu pengetahuan tidak mengemukakan pertanyaan-pertanyaan mendasar dan tidak pula menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan filsafat. Oleh karena itu umumnya disepakati bahwa filsafat baru “mulai” ketika ilmu pengetahuan “berhenti”. Maksudnya, pada saat telah mencapai hasil proses ilmiahnya, filsafat bangkit dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis dan khas filsafat. 3 Metode Filsafat Untuk lebih memahami perbedaan ilmu pengetahuan dan filsafat, kita perlu melihat metode atau cara kerja atau prosedur kerja yang dipakai keduanya. Kata “metode” berasal dari bahasa Latin “methodos”. Kata ini dalam Bahasa Yunani terdiri dari 2 kata dasar, yaitu meta = melampaui dan hodos = jalan atau cara. Jadi metode berarti jalan yang sistematis atau istimewa untuk mendapatkan pengetahuan. Secara umum dikenal ada 2 jenis metode yang digunakan oleh ilmu pengetahuan, yaitu:
  • 14. Dalam ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan alam (natural sciences) maupun ilmu-ilmu kemanusiaan (human sciences) lasimnya digunakan dua metode, lasimnya digunakan dua metode, yaitu deduksi dan induksi. a) Metode Deduksi Adalah proses kerja ilmiah yang berangkat dari teori universal untuk menjelaskan data- data atau fakta-fakta konkret. Misalnya, seorang dokter sudah memiliki bekal teori yang berlaku umum tentang berbagai jenis penyakit dan fenomen-fenomennya. Ketika berhadapan dengan seorang pasien yang sedang menjelaskan gejala-gejala penyakit yang diderita, sang dokter secara langsung mengaplikasikan pengetahuan teoretisnya untuk menilai jenis penyakit yang sedang diderita oleh pasien tersebut. b) Metode Induksi Adalah proses kerja ilmiah yang berangkat dari data-data atau fakta-fakta partikular (terbatas) menuju kepada kesimpulan umum yang dianggap sebagai teori yang berlaku universal. Misalnya, di Manado seseorang memanaskan air hingga mendidih pada temperatur 100 0C. Di Filipina, Australia, dan Amerika pun air akan mendidih pada temperatur 100 0C bila dipanaskan. Dari fakta yang sama ini kemudian ditarik suatu kesimpulan umum bahwa unsur yang namanya air akan mendidih pada temperatur 1000C bila dipanaskan. Dengan ini jelas bahwa yang menjadi titik dalam induksi adalah data-data atau fakta-fakta empiris, sedangkan titik tolak dalam metode deduksi adalah teori. Pertanyaan yang kini muncul, apakah filsafat juga menggunakan kedua metode tersebut? Jawabannya tidak. Filsafat tidak dapat menggunakan kedua metode ini, karena, baik metode deduksi dan induksi hanya bisa digunakan untuk mencapai lapisan pengetahuan empiris atau pengetahuan inderawi. Karena filsafat berorientasi pada prinsip-prinsip fundamental kehidupan dengan mengajukan pertanyaan yang bercorak radikal. Dalam arti ini
  • 15. filsafat tidak menggunakan baik metode deduksi maupun induksi. Metode khas dari filsafat adalah metode dialog atau percakapan rasional kritis. Dialog kritis dapat dilakukan dengan hasil pemikiran baik yang berasal dari ilmu pengetahuan maupun filsafat sendiri. Sasaran akhir dari percakapan atau dialog kritis itu adalah kebenaran atau pengetahuan yang lebih tinggi. Tetapi perlu dicatat bahwa iklim yagn harus dibangun dalam dialog atau percakapan kritis itu adalah kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat. Dalam dialog pendapat setiap orang patut didengarkan dan dihargai. Tetapi, dialog juga membutuhkan kemampuan berpikir, kemampuan mengartikulasi ide atau pokok pikiran, baik pikiran sendiri maupun pikiran orang lain agar dapat dimengerti, kemampuan mengerti dan merumuskan suatu pokok pikiran. Dalam arti inimetode filsafat memiliki arti dan makna yang khas yang menunjuk pada daya atau kemampuan berpikir secara rasional dan berdialog secara kritis. Kendati kedua metode tersebut tidak digunakan dalam filsafat, tetapi perlu dicatat bahwa hasil kerja ilmu pengetahuan yang menggunakan kedua metode tersebut dapat digunakan dalam filsafat. Data-data empiris yang diperoleh oleh ilmu pengetahuan dapat digunakan filsafat untuk menganalisis dan menemukan unsur-unsur fundamental yang ada dibalik realitas empiris yang ada, serta mengemukakan unsur-unsur baru yang sama sekali tidak tersentuh secara langsung oleh ilmu pengetahuan. Dalam arti ini filsafat memang memiliki metode yang khas yakni dialog kritis rasional, tetapi tetap dapat membutuhkan juga fakta-fakta empiris yang diperoleh lewat ilmu pengetahuan. Dengan ini dialog filsafat dan ilmu pengetahuan tetap menjadi bagian yang tak terhindarkan dalam upaya menjelaskan berbagai peristiwa yang terjadi dalam realitas kehidupan. 4 Pembagian filsafat Filsafat selalu bertanya tentang seluruh kenyataan, tetapi selalu salah satu dari segi kenyataan sekaligus menjadi titik fokus penyelidikan kita. Filsafat selalu bersifat “filsafat tentang” sesuatu tertentu: filsafat tentang manusia, filsafat alam, filsafat kebudayaan, filsafat
  • 16. seni, filsafat agama, filsafat bahasa, filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat pengetahuan dst. Semua jenis “filsafat tentang” suatu objek tertentu dapat dikembalikan kepada sepuluh cabang filsafat, dan juga sepuluh cabang ini masih dapat dikembalikan lagi kepada keempat bidang induk, seperti kelihatan pada skema berikut ini: 1) Filsafat tentang pengetahuan: a) Epistemologi b) Logika c) Kritik Ilmu-ilmu 2) Filsafat tentang keseluruhan kenyataan: a) Metafisika umum (atau ontologi) b) Metafisika khusus, terdiri dari  Teologi metafisk  Antropologi  Kosmologi 3) Filsafat tentang tindakan: a) Etika b) Estetika Tidak semua filsuf setuju dengan pembagian seperti diuraikan di sini. Ada filsuf-filsuf yang menyangkal kemungkinan ontologi atau kemungkinan seluruh metafisika. Namun, pembagian seperti di atas ini merupakan skema yang paling klasik dan paling umum diterima. Semua cabang dibicarakan secara singkat. 1 Filsafat tentang Pengetahuan 1.1 Epistemologi (Filsafat Pengetahuan) Epistemologi = pengetahuan (dari kata Yunani “logia”) sedangkan episteme = tentang pengetahuan. Epistemologi adalah bagian filsafat yang menganalisis apakah yang memungkinkan manusia memperoleh pengetahuan. Cabang filsafat ini berusaha menjawab
  • 17. apa itu pengetahuan dan kebenaran. Semua pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, tentang batas-batas pengetahuan, tentang asal dan jenis-jenis pengetahuan, dibicarakan dalam epistemologi. Dalam sejarah filsafat, ada dua aliran filsafat yang berperan dalam diskusi tentang proses pengetahuan, yaitu rasionalisme & empirisme. 1) Rasionalisme mengajarkan bahwa akal budi merupakan sumber utama untuk pengetahuan. 2) Empirisme mengajarkan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi bukannya dari akal budi. Karena akal budi diisi dengan kesan-kesan yang berasal dari pengamatan, kemudia kesan-kesan ini oleh akal budi dihubungkan, sehingga terjadi ide-ide majemuk. Empirisme merupakan suatu aliran yang terutama di Inggris. Tokoh-tokoh empirisme itu antara lain Bacon, Hobbes, Locke, dan Hume. Immanuel Kant kemudian mendamaikan kedua aliran ini dengan memperlihatkan bagaimana peranan pancaindera dan akal budi dalam menghasilkan pengetahuan, dengan semua unsurnya yang memegang peranan penting. Setelah Kant, epistemologi merupakan cabang filsafat yang sangat berkembang. Banyak filsuf saat ini yang lebih dikenal sebagai epistemolog. 1.2 Logika Logika merupakan cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan cara berpikir, aturan- aturan mana yang harus dihormati supaya pernyataan-pernyataan kita sah. Logika tidak mengajar apapun tentang manusia atau dunia. Logika hanya merupakan suatu teknik atau “seni” yang mementingkan segi formal bentuk dari pengetahuan. Suatu argumentasi betul kalau semua langkah dari argumentasi itu betul. Langkah- langkah ini terdiri dari kalimat-kalimat (proposisi), dan setiap kalimat terdiri dari suatu subyek dan sebuah predikat. Contoh argumentasi berikut ini: Semua orang Yogyakarta senang makan ayam. (Premis)
  • 18. Budi adalah orang Yogyakarta. (Premis) Maka, Budi suka makan ayam. (Conclusi) Setiap kalimat terdiri dari subjek: “semua orang Yogyakarta” dan “Budi” dan predikat: “senang makan ayam” dan “penduduk dari Yogyakarta”. Dalam logika diselidiki syarat- syarat yang harus dipenuhi supaya kesimpulan yang ditarik dari premis-premis disebut “sah”. Dalam sejarah perkembangan pemikiran filsafat terdapat bermacam-macam logika, antara lain: • Logika Klasik, dikembangkan oleh Aristoteles dan banyak dipelajari serta dikembangkan oleh para filsuf Abad Pertengahan. • Logika Matematis (Logika Formal atau logistik), dikembangkan oleh Frege, Whitehead, dan Russel. 1.3 Kritik Ilmu-ilmu Perbedaan filsafat dan ilmu pengetahuan mula-mula kecil sekali. Dalam jaman kuno, di Yunani, disamping filsafat hanya dibedakan empat ilmu, yaitu logika, ilmu pasti, ilmu pesawat, dan kedokteran. Kedokteran dan logika lebih dipandang sebagai “seni” atau “keahlian” dari pada sebagai ilmu. Kebanyakan ilmu yang dibedakan sekarang berasal dari jaman renesanse atau lahir pada gelombang kedua, yaitu sekitar tahun 1800 dan sesudahnya. Misalnya sosiologi, psikologi dan psikoanalisa masih sangat muda. Ilmu-ilmu lain, seperti ekologi (ilmu keseimbangan lingkungan hidup) lebih muda lagi. Ilmu-ilmu dapat dibagikan atas tiga kelompok: • Ilmu-ilmu formal (matematika & logika) • Ilmu-ilmu empiris-formal (misalnya ilmu alam & ilmu hayat) • Ilmu-ilmu hermeneutis (sejarah & ekonomi) Ada orang yang mengatakan bahwa ilmu-ilmu hermeneutis tidak “ilmiah”, karena tidak dicapai suatu kepastian. Dalam ilmu sejarah misalnya tidak “diterangkan” sesuatu, melainkan hanya “dimengerti” sesuatu, hanya diberi suatu interpretasi atas fakta-fakta dan
  • 19. tidak pernah dicapai kepastian bahwa interpretasi ini betul. Orang lain mengatakan bahwa juga ilmu-ilmu empiris formal memang selalu bersifat hipotetis, sehingga distingsi antara ilmu-ilmu empiris-formal dan ilmu-ilmu hermeneutis tidak begitu penting. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini termasuk “kritik ilmu-ilmu”. Teori-teori tentang pembagian ilmu-ilmu, tentang metode ilmu-ilmu, tentang dasar kepastian dan tentang jenis- jenis keterangan yang diberikan, tidak lagi termasuk bidang ilmu pengetahuan sendiri, melainkan merupakan suatu cabang dari filsafat. Cabang ini, “kritik ilmu-ilmu” atau “filsafat ilmu pengetahuan” pada dewasa ini semakin penting. 2 Filsafat tentang Keseluruhan Kenyataan 2.1 Metafisika Umum Metafisika umum berbicara tentang segala sesuatu sejauh sesuatu itu “ada”. “Adanya” segala sesuatu merupakan suatu “segi” dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan mahkluk-makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu. Semua benda, tumbuh-tumbuhan, binatang dan orang merupakan suatu “pengada”. Kata Yunani untuk “pengada” adalah “on” (genetif “ontos”). Oleh karena itu pengetahuan tentang pengada-pengada, sejauh mereka ada, disebut “ontologi”. Pertanyaan- pertanyaan dari ontologi itu misalnya “apakah kenyataan merupakan kesatuan atau tidak?”, “Apakah alam raya adalah peredaran abadi di mana semua gejala selalu kembali, seperti dalam siklus musim-musim, atau justru suatu proses perkembangan?” Kemungkinan dan manfaat dari metafisika umum seringkali disangsikan. Dari lain pihak, metafisika umum juga sering dipandang sebagai puncak dari filsafat. Karena pernyataan-pernyataan dari ontologi langsung berhubungan dengan sikap manusia terhadap pertanyaan paling dasar, yaitu pertanyaan tentang adanya Transendensi atau Allah. Salah satu hasil dari ontologi adalah suatu nama untuk Allah yang sangat abstrak, tetapi sekaligus sangat cocok, yaitu nama “Mengada” (dalan Bahasa Inggris “Letting-be”, dalam bahasa Latin “esse”). Sumber dari segala sesuatu -sejauh itu ada- Pencipta seluruh ciptaan, adalah Tuhan.
  • 20. Jenis ontologi ini dari satu pihak sangat menarik, karena disini ditemukan kemungkinan untuk menjernihkan istilah-istilah pokok dari agama-agama dalam istilah filsafati. Dari lain jenis ontologi ini juga dikritik karena di hadapan Allah sebagai “Mengada” manusia tidak dapat berlutut, dan kepada “Letting-be” ia tidak dapat berdoa. Jawaban-jawaban yang diberikan atau pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan dalam ontologi mengungkapkan suatu kepercayaan. Sampai sekarang dibedakan empat jenis “kepercayaan ontologis”, yaitu ateisme, agnostisisme, panteisme, dan teisme. Ateisme: (Yunani: “a” = bukan dan “theos” = Allah) mengajarkan bahwa Allah tidak ada, bahwa manusia sendirian dalam kosmos, sendirian di bawah surga yang kosong. Agnotisisme: (Yunani: “a” = bukan dan “gnosis” = pengetahuan”) mengajarkan bahwa tidak dapat diketahui apakah Allah ada atau tidak ada, sehingga pertanyaan tentang Alalh selalu terbuka. Panteisme: (Yunani: “pan” = segala sesuatu dan “theos” = Allah) mengajarkan bahwa seluruh kosmos sama dengan Allah, sehingga tidak ada perbedaan antara Pencipta dan ciptaan. Allah dan alam itu “sama saja”, sehingga panteisme juga disebut “theo-panisme”. Teisme: mengajarkan bahwa Allah itu ada, bahwa terdapat perbedaan antara Pencipta dan ciptaan dan bahwa Allah boleh disebut “engkau” dan “Penyelengara” Ontologi atau metafisika umum merupakan cabang filsafat yang sekarang ini sangat problematis. Menurut banyak filsuf masa kini, cabang ini tidak mungkin, karena manusia di sini melewati batas-batas kemungkinan-kemungkinan akal budinya. 2.2 Metafisika Khusus 2.2.1 Teologi Metafisik Teologi metafisika berhubungan erat dengan ontologi. Dalam teologi metafisika diselidiki apa yang dapat dikatakan tentang adanya Allah, lepas dari agama, lepas dari wahyu. Teologi tradisional biasanya terdiri dari dua bagian: • Pertama, bukti-bukti untuk adanya Allah.
  • 21. Kedua, nama-nama Ilahi. Kedua tema ini masih tetap penting, tetapi sekarang dalam teologi metafisik diberikan banyak perhatian kepada “bahasa” tentang Allah, bahasa religius, bahasa teologis, bahasa Kitab Suci dan bahasa doa. Oleh karena itu teologi metafisik juga disebut “meta-teologi” karena berefleksi tentang bahasa teologi, sesuatu yang datang “sesudah” (meta) teologi sendiri, seperti metafisika datang sesudah fisika dan meta-etika datang sesudah etika. Teologi metafisik hanya menghasilkan suatu kepercayaan yang sangat sederhana, cukup miskin, dan abstrak. Namun, yang sedikit ini sangat berguna dalam dialog dengan agama-agama lain, dengan agnostisisme, panteisme, dan ataiesme. Karena orang yang mempunyai pendapat lain daripada kita tentang Allah, tidak akan menerima argumen- argumen yang berasal dari teologi yang terikat pada suatu “wahyu” khusus, tetapi mereka akan menerima argumen-argumen yang hanya berdasarkan pemakian akal budi, karena akal budi merupakan milik umum. Iman filsafati yang dicapai dalam teologi metafisik tidak cukup. Iman ini dalam tradisi sering disebut: “praeambulum fidei” (langkah sebelum) atau ambang pintu atau persiapan untuk iman. Teologi metafisik disebut juga “teodise”. Nama ini kurang cocok. Karena teodise memang hanya bagian kecil dari teologi metafisik. Teodise (Yunani: theos = Allah dan dike = pembenaran atau pengadilan) mencoba menerangkan bahwa kepercayaan kepada Allah tidak bertentangan dengan kejahatan. Kenyataan kejahatan merupakan sebab terpenting bahwa banyak orang tidak dapat percaya akan Allah, atau, bahwa mereka yang tidak dapat percaya bahwa Allah Mahabaik dan Mahakuasa. 2.2.2 Antropologi Antropologi adalah cabang filsafat yang berbicara tentang manusia (Yunani: anthropos = manusia). Setiap filsafat mengandung eksplisit atau implisit suatu pandangan tentang manusia, tentang tempatnya dalam kosmos, tentang hubungannya dengan dunia,
  • 22. dengan sesama dan dengan Transendensi. Menurut Immanuel Kant, pertanyaan “Siapa manusia?” merupakan pertanyaan satu-satunya dari filsafat. Semua pertanyaan lain dapat dikembalikan kepada pertanyaan ini. Manusia hidup dalam banyak dimensi sekaligus. Manusia adalah sekaligus materi dan hidup, badan dan jiwa, ia mempunyai kehendak dan pengertian. Manusia merupakan seorang individu, tetapi ia tidak dapat hidup lepas dari orang lain. Dalam manusia terdapat pertemuan antara kebebasan dan keharusan, antara masa lampau yang tetap dan masa depan yang masih terbuka. Semua dimensi ini, semua pikiran dan kegiatan manusiawi berkumpul dalam satu kata, yaitu kata “aku”. “Aku” dipakai sebagai titik simpul dari banyak hal sekaligus dan merupakan suatu petunjuk, suatu “kata-indeks” untuk suatu misteri. Di belakang “aku” terdapat suatu dunia pribadi, penuh realisasi, sejarah, kegembiraan dan penderitaan, harapan dan keputusasaan, suatu pandangan tentang dunia, sesama dan tujuan hidup. Pertanyaan tentang manusia mempunyai sejarah yang panjang, tetapi baru pada era renesanse (tahun 1500), manusia menjadi benar-banar titik pusat dari filsafat. Sejak zaman tersebut manusia dipandang sebagai pusat sejarah, pusat pemikiran, pusat kehendak, kebebasan dan dunia. 2.3.3 Kosmologi Kosmologi atau Filfafat Alam berbicara tentang dunia. Kata Yunani “kosmos” lawannya dari chaos=dunia, aturan, dan keseluruhan teratur. Cabang filsafat ini sangat tua. Ribuan tahun yang lalu, di Mesir dan Mesopotamia, manusia sudah bertanya tentang asal alam semesta. Untuk menemukan kesatuan dalam kemajemukan, dicari unsur induk dari segala sesuatu. Kosmologi berkembang di Yunani dan memberi hidup kepada ilmu alam. Ilmu alam sudah lama dewasa dan dipilih sebagai model untuk banyak ilmu.
  • 23. Memang dapat dipersoalkan apakah masih ada tempat untuk filsafat alam di samping suatu ilmu yang begitu maju dan luas seperti fisika. Kelihatannya pertanyaan ini dijawab oleh ahli-ahli fisika sendiri, karena banyak ahli fisika terkemuka sekaligus kosmolog kenamaan. Dalam zaman kuno Aristoteles dan Ptolemeus, dalam jaman moden Galilei dan Newton, dan dalam jaman sekarang misalnya Einstein. Sebagai kosmolog mereka bertanya tentang hal-hal “dibelakang” kenyataan fisis. Pertanyaan-pertanyaan dari filsafat alam itu misalnya soal evolusi, soal kebebasan dan determinisme, definisi materi, definisi energi, definisi hidup, dan soal-soal yang berhubungan dengan konsekuensi-konsekuensi etis dari kemajuan teknik. Bersama dengan spesialisasi ilmu alam yang sangat maju, dirasa keperluan akan suatu refleksi yang lebih mendalam yang memperhatikan keseluruhan. Refleksi ini merupakan bidang kosmologi. Kosmologi merupakan rangka umum di mana hasil-hasil dari ilmu alam dapat dipasang. Filsuf-filsuf yang berbicara mengenai alam sebagai kesatuan, antara lain E. March (1838-1916), H. Hertz (1859-1894), M. Planck (1858-1947), dan A. Einstein (1897- 1955). Kosmoligi bukan sisten tetap dan tak terhingga, melainkan suatu proses perkembangan. 3 Filsafat tentang Tindakan 3.1 Etika Etika (Filsafat Moral) adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praksis manusiawi (tentang tindakan). Kata etika berasal dari kata Yunani ethos = adat, cara bertindak, tempat tinggal, kebiasaan. Kata moral berasal dari kata Latin mos (genetif moris), yang mempunyai arti yang sama. Etika dibedakan dari semua cabang filsafat lain karena tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan bagaimana ia harus bertindak. Tindakan manusia ditentukan oleh macam-macam norma. Kata norma = siku. Norma-norma dapat dibagi atas: • Norma-norma sopan santun. • Norma-norma hukum.
  • 24. Norma-norma moral. Norma-norma yang paling penting untuk tindakan manusia, yaitu norma moral, datang dari suara batin. Norma-norma ini merupakan bidang etika. Etika menolong manusia untuk mengambil sikap terhadap semua norma dari luar dan dalam, supaya manusia mencapai kesadaran moral yang otonom. Sepanjang sejarah filsafat banyak sekali filsuf yang berbicara tentang filsafat moral, antara lain: Plato, Aristoteles, Thomas Aquino, Hobbes, Hume, Kant, Dewey, Scheler dan von Hilldebrand. Filsafat Cina, Hindhuisme dan Budhisme sebagian besar merupakan etika karena terus-menerus berbicara tentang jalan untuk mencapai kebahagiaan. Etika menyelidiki dasar semua norma moral. Menurut orang kristiani dasar itu terletak dalam perintah utama: mencintai Tuhan dan mencintai sesama. Saya wajib melakukan kebaikan dan keadilan karena saya percaya bahwa Tuhan memerintahkan itu. Akan tetapi orang lain menemukan dasar etika dalam sesuatu yang lain, misalnya dalam prinsip bahwa “akibat baik yang maksimal” harus merupakan norma dasar. Orang lain, misalnya Kant, mengajarkan bahwa bukan akibat tindakan, melainkan sikap kita yang paling penting. Sikap kita harus sedemikian rupa sehingga kaidah pribadi kita dapat menjadi hukum umum. Dalam etika biasanya dibedakan etika deskriptif dan etika normatif. • Etika deskriptif Etika deskriptif memberi gambaran dari gejala kesadaran moral (suara batin), norma- norma, dan konsep-konsep etis. • Etika normatif. Etika normatif berbicara tentang apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan kita. Dalam etika normatif, norma-norma dinilai dan sikap manusia ditentukan. 3.2 Estetika
  • 25. Estetika adalah cabang filsafat yang berbicara tentang keindahan. Estetika berasal dari kata Yunani: aisthesis = pengamatan. Dalam penglaman atas dunia sekeliling kita ditemukan suatu bidang yang disebut “indah”. Pengalaman akan keindahan merupakan obyek dari estetika. Mengapa justru obyek-obyek tertentu atau bidang-bidang tertentu sangat menarik untuk manusia? Dalam estetika dicari hakekat dari keindahan, bentuk-bentuk pengalaman keindahan (seperti keindahan jasmani, keindahan rohani, keindahan alam dan keindahan seni), dan diselidiki emosi-emosi manusia sebagai reaksi terhadap yang indah, agung, tragis, bagus, mengharuskan, dst. Mengapa kita sangat tertarik pada pengalaman karya-karya seni tertentu? Mengapa materi, dunia atau hidup kita kadang-kadang transparan sehingga kita melihat atau mendengar lebih banyak daripada yang memang kelihatan atau terdengar. Dalam estetika, terdapat pula estetika deskriptif dan estetika normatif. • Estetika deskriptif: menggambarkan gejala-gejala pengalaman keindahan. • Estetika normatif: mencari dasar pengalaman itu. Misalnya ditanyakan apakah keindahan itu akhirnya sesuatu yang obyektif (terletak dalam lukisan) atau subyektif (terletak dalam mata manusia sendiri). Para filsuf telah berusaha untuk menyusun suatu hirarkhi bentuk-bentuk seni, seperti Hegel (1770-1831) dan Scopenhaeur (1788-1850). Hegel membedakan suatu rangkaian seni- seni yang dimulai pada arsitektur dan berakhir pada puisi. Makin kecil unsur materi dalam suatu bentuk seni, makin tinggi tempatnya atas tangga hirarki. Scopenhauer melihat suatu rangkaian yang mulai pada arsitektur dan memuncak dalam musik. Musik mendapat tempat istimewa dalam estetika. Banyak pemikir dari sejarah telah berbicara tentang musik, dari Konfusius, Pyhtagoras, Plato, dan Aristoteles, Schopenhauer, Nietzche, dan Karl Popper. Musik dibandingkan dengan mistik, dengan khayalan falsafi, dan magi. Musik digambarkan sebagai suatu bentuk wahyu yang masih berbicara tentang Transendensi, kalau pengertian manusia sudah tidak kuat lagi. Musik dapat mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata.
  • 26. DAFTAR PUSTAKA Bakker, A dan Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, cet. Ke-2. Yogyakarta: Kanisius, 1992. Bertens, K., Sejarah Filsafat Yunani. Dari Thales ke Aristoteles, cet. Ke-9. Yogyakarta: Kanisius. Copleston, F.A., History of Philosphy, volume I, IV, IX. New York: Image Books, 1985. Gerard Beekman, Filsafat Para Filsuf Berfilsafat, Diterjemahkan oleh R.A. Rivai, (Jakarta: Penerbit Erlangga), Ohoitimur, J., Pengantar Berfilsafat, Jakarta: Yayasan Gapura, 1997.