Ce diaporama a bien été signalé.
Nous utilisons votre profil LinkedIn et vos données d’activité pour vous proposer des publicités personnalisées et pertinentes. Vous pouvez changer vos préférences de publicités à tout moment.
 
1
STANDAR PELAYANAN MINIMAL
BIDANG KESEHATAN DI PROVINSI
DAN KABUPATEN/KOTA
KEMENTERIAN KESEHATAN
2015
 
i
I.	
   PENGANTAR	
  SPM	
  BIDANG	
  KESEHATAN	
  .......................................................................
 
ii
11.	
   Persentase	
  Usia	
  60	
  tahun	
  Keatas	
  Mendapatkan	
  Skrining	
  Kesehatan	
  Sesuai	
  Standar
	
  ...
 
1
	
  
I. Pengantar	
  SPM	
  Bidang	
  Kesehatan	
  
1. Sesuai dengan UU 23 Tahun 2014, urusan kesehatan merupakan urus...
 
2
a. Pemda menyediakan sendiri yankes yang dibutuhkan di lokasi pelayanan
pemerintah
b. Membeli, mensubsidi atau kemudah...
 
3
pada terganggunya kehidupan sosial, ekonomi dan pemerintahan.
b. Sasaran pelayanan adalah seluruh warga negara yang me...
 
4
Khusus untuk pelayanan SPM yang juga dicakup dalam pelayanan melalui
BPJS, seperti pelayanan ibu hamil, persalinan, ba...
 
5
PETUNJUK	
  TEKNIS	
  	
  
SPM	
  BIDANG	
  KESEHATAN	
  
II. Petunjuk	
  Teknis	
  SPM	
  Bidang	
  Kesehatan	
  di	
...
 
6
(5) Penyakit-penyakit yang berpotensi wabah;
(6) Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi;
(7) Penyakit m...
 
7
Jumlah	
   seluruh	
   Satuan	
   Pendidikan	
  
Menengah	
  dan	
  Satuan	
  Pendidikan	
  Khusus	
  
dalam	
  kurun	...
 
8
2. Persentase Promosi Kesehatan melalui Media Massa
Pemerintah Daerah Provinsi wajib memberikan pelayanan promosi
kese...
 
9
a) Promosi kesehatan melalui radio minimal 10 kali per hari selama
dua minggu dalam satu bulan
b) melalui televisi min...
 
10
e. Target
Target 100 persen, artinya Pemerintah Propinsi wajib memberikan
pelayanan promosi kesehatan melalui media m...
 
11
3. Persentase Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan
Pendidikan Khusus Mendapatkan Pelayanan Kesehatan
Lingkungan
Peme...
 
12
dan Satuan Pendidikan Khusus yang mendapatkan pelayanan kesehatan
lingkungan sesuai standar dalam kurun waktu satu ta...
 
13
3) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu
dan Gizi Pangan;
4) Peraturan Pemerintah Nomor 66 ...
 
14
 
15
III. Petunjuk	
  Teknis	
  SPM	
  Bidang	
  Kesehatan	
  di	
  Kabupaten/Kota	
  
A. Pelayanan Promosi Kesehatan
1. P...
 
16
6) Pemerintah Daerah Provinsi dapat bekerja sama dengan BUMD/ swasta
yang mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiata...
 
17
f. Sumber Data
1) Laporan Puskesmas;
2) Laporan Tim Pembina UKS Kabupaten/Kota.
g. Rujukan
1) Kepmenkes RI nomor 585/...
 
18
3) Promosi kesehatan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) sesuai
standar adalah :
a) Promosi kesehatan dilakukan ...
 
19
Persentase
Puskesmas dan
Jaringannya
Melaksanakan
Promosi Kesehatan
=
Jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu yang
me...
 
20
h. SDM
1) Koordinator atau pengelola promosi kesehatan di Puskesmas.
2) Tenaga kesehatan di Puskesmas.
3) Pengelola p...
 
21
b. Definisi Operasional
Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam melakukan
promosi pemberdayaan masyara...
 
22
2) Kepmenkes RI nomor 585/MENKES/SK/V/2007. tentang Pedoman
Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Puskesmas
3) Kepmenkes R...
 
23
B. Pelayanan Skrining dan Pelayanan Kesehatan Berdasar Daur
Kehidupan
4. Persentase Ibu Hamil Mendapatkan Pelayanan A...
 
24
d) Pelayanan dilakukan minimal empat kali dengan jadwal satu kali
pada trimester pertama, satu kali pada trimester ke...
 
25
Lengan Atas (LiLA) pertama
4 Ukur tinggi puncak
rahim (fundus uteri)
√ √
5 Tentukan presentasi
janin dan Denyut
Jantu...
 
26
b. Definisi Operasional
Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan
pelayanan antenatal pada ib...
 
27
e. Target
Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan
pelayanan antenatal sesuai standar pada i...
 
28
5. Persentase Ibu Bersalin dan Nifas Mendapatkan Pelayanan
Persalinan dan Nifas Sesuai Standar di Puskesmas dan
Jarin...
 
29
6. Pelayanan	
  KB	
  pasca	
  salin	
  adalah	
  pelayanan	
  yang	
  diberikan	
  kepada	
  Ibu	
  
yang	
  mulai	
...
 
30
c. Rumus Perhitungan Kinerja
	
  
	
  
Persentase Ibu
Bersalin
Mendapatkan
Pelayanan
Persalinan Sesuai
Standar 	
  
=...
 
31
Jenis pelayanan Jumlah Sesuai
standard
Tidak sesuai
standar
Keterangan
Bersalin oleh
dukun
30 0 30 Tidak dihitung, te...
 
32
Jenis pelayanan Jumlah Standar
Pelayanan Nifas
Keterangan
sesuai Tidak
sesuai
Bersalin oleh dukun 15 15 15 15 orang t...
 
33
2) Kepmenkes tentang Buku KIA;
3) Buku Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak
(PWS – KIA), tahun ...
 
34
b. Definisi Operasional
Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan
paket pelayanan kesehatan b...
 
35
Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam memberikan
pelayanan bayi baru lahir di Puskesmas dan jaringannya...
 
36
a) Pelayanan kesehatan Balita diberikan oleh Dokter, Bidan, Perawat,
Tenaga Gizi sesuai kewenangannya;
b) Pelayanan k...
 
37
memenuhi kebutuhan gizi selain ASI. Prinsip MP-ASI bukan
menggantikan ASI tetapi melengkapi ASI setelah bayi berusia ...
 
38
No Jenis Pelayanan Keterangan
1 Penimbangan berat badan, pengukuran tinggi
badan dan pemantauan pertumbuhan
0-23 bl =...
 
39
Jenis
kunjungan
Jumlah
pengunjung
Sesuai
standar
Keterangan
Usia 0-11
bulan
30 30 Semua datang setiap bulan, mendapat...
 
40
e. Target
Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam upaya
pelayanan kesehatan usia balita adalah 100 per...
 
41
16) Manajemen Terpadu Balita Sakit (Modul 1-7) Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 2008.
h. SDM
1) Dokter
2) Bid...
 
42
3) Skrining dapat dilakukan oleh fasilitas kesehatan BUMD/swasta yang
bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat
...
 
43
Sesuai Standar adalah 100 persen.
f. Sumber Data
1) Laporan Hasil Skrining Kesehatan Siswa Satuan Pendidikan Dasar ol...
 
44
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib memberikan Skrining Kesehatan
Sesuai Standar pada warga usia 15 – 19 tahun.
a....
 
45
Persentase Usia 15
– 19 tahun
Mendapatkan
Skrining
Kesehatan Sesuai
Standar
=
Jumlah penduduk berusia 15 – 19 tahun
m...
 
46
f. Sumber Data
1) Laporan fasilitas kesehatan.
2) Rapor Kesehatan Ku untuk peserta didik SD/MI dan Rapor Kesehatan
Ku...
 
47
10. Persentase Usia 20 – 59 Tahun Mendapatkan Skrining
Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Sesuai
Standar
Pe...
 
48
c) Pelayanan salah satu metoda kontrasepsi.
3) Deteksi dini kanker pada wanita dilakukan pada pengunjung wanita
berus...
 
49
Fasilitas
Kesehatan
Skrining
kesehatan
Sesuai
standar
Keterangan
(a) (b) (c) (d)
Puskesmas dan
jaringannya
30000 2700...
 
50
h. SDM
1) Dokter
2) Bidan
3) Perawat
11. Persentase Usia 60 tahun Keatas Mendapatkan Skrining
Kesehatan Sesuai Standa...
 
51
(6) Deteksi Gangguan Mental Emosional dan Perilaku, termasuk
Kepikunan menggunakan Hopskins Verbal Learning Test (HVL...
 
52
Fasilitas
Kesehatan
Skrining
kesehatan
Sesuai
standar
Keterangan
(a) (b) (c) (d)
Puskesmas dan
jaringannya
500 400 Ad...
 
53
4) Petunjuk Teknis Pengukuran Faktor Risiko Diabetes Mellitus, Edisi 2
Jakarta; Kementerian Kesehatan RI.
5) Keputusa...
 
54
fasilitas kesehatan BUMD/swasta yang bekerja sama dengan
pemerintah daerah untuk pelayanan TB.
c) pelayanan pemeriksa...
 
55
Fasyankes Terduga Jumlah
Terduga
TB
Total
BTA
2 atau 3
spesimen
BTA
hanya 1
spesimen
BTA +
Foto
toraks
Foto
toraks
sa...
 
56
1) Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 364/MENKES/SK/V/2009
tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis (TB).
2) Pan...
 
57
2) Pemeriksaan ini ditawarkan secara aktif (KTHIV) oleh petugas kesehatan
kepada seseorang yang terduga terinfeksi HI...
 
58
e. Target
Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam upaya
pemeriksaan Terduga HIV dan AIDS adalah 100 pe...
 
59
D. Pelayanan Kesehatan Lingkungan dan Respons Verifikasi
terhadap SKDR
14. Persentase Satuan Pendidikan Dasar Mendapa...
 
60
Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan
pelayanan kesehatan lingkungan di Satuan Pendidikan...
 
61
c. Rumus Perhitungan Kinerja
Persentase Satuan
Pendidikan Dasar
Mendapatkan
Pelayanan Kesehatan
Lingkungan
=
Jumlah S...
 
62
6) Permenkes RI Nomor 374/Menkes/PER/III/2010 tentang
Pengendalian Vektor;
7) Kepmenkes RI No 1429 /Menkes/SK/XII/200...
 
63
4) Pelayanan Kesehatan Lingkungan pada Pasar Rakyat sesuai standar
adalah :
a) Pelayanan ini dilakukan oleh Tenaga Ke...
Draft standar pelayanan minimal kesehatan 2015
Draft standar pelayanan minimal kesehatan 2015
Draft standar pelayanan minimal kesehatan 2015
Draft standar pelayanan minimal kesehatan 2015
Draft standar pelayanan minimal kesehatan 2015
Prochain SlideShare
Chargement dans…5
×

Draft standar pelayanan minimal kesehatan 2015

39 626 vues

Publié le

Sesuai dengan UU 23 Tahun 2014, urusan kesehatan merupakan urusan pemerintahan yang dikerjakan bersama antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintahan Daerah (concurrent), bersifat wajib dan terkait dengan pelayanan
dasar. Oleh karena kondisi kemampuan Pemerintahan Daerah (Pemda) di seluruh Indonesia tidak sama, maka Pelaksanaan Pelayanan Dasar pada Urusan Kesehatan berpedoman pada standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

  • Soyez le premier à commenter

Draft standar pelayanan minimal kesehatan 2015

  1. 1.   1 STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KESEHATAN DI PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA KEMENTERIAN KESEHATAN 2015
  2. 2.   i I.   PENGANTAR  SPM  BIDANG  KESEHATAN  ..................................................................................  1   II.   PETUNJUK  TEKNIS  SPM  BIDANG  KESEHATAN  DI  PROVINSI  ...........................................  5   A.   PROMOSI  KESEHATAN  .....................................................................................................................................  5   1.   Persentase  Satuan  Pendidikan  Menengah  dan  Satuan  Pendidikan  Khusus   Mendapatkan  Promosi  Kesehatan  .....................................................................................................  5   2.   Persentase  Promosi  Kesehatan  melalui  Media  Massa  .................................................................  8   B.   PELAYANAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  ....................................................................................................  10   3.   Persentase  Satuan  Pendidikan  Menengah  dan  Satuan  Pendidikan  Khusus   Mendapatkan  Pelayanan  Kesehatan  Lingkungan  ...................................................................  11   III.   PETUNJUK  TEKNIS  SPM  BIDANG  KESEHATAN  DI  KABUPATEN/KOTA  ...................  15   A.   PELAYANAN  PROMOSI  KESEHATAN  ............................................................................................................  15   1.   Persentase  Satuan  Pendidikan  Dasar  mendapatkan  Promosi  Kesehatan  .......................  15   2.   Persentase  Puskesmas  dan  Puskesmas  Pembantu  Melaksanakan  Promosi  Kesehatan  17   3.   Persentase  Promosi  untuk  Pemberdayaan  Masyarakat  di  Bidang  Kesehatan  ..............  20   B.   PELAYANAN  SKRINING  DAN  PELAYANAN  KESEHATAN  BERDASAR  DAUR  KEHIDUPAN  ...................  23   4.   Persentase  Ibu  Hamil  Mendapatkan  Pelayanan  Antenatal  Sesuai  Standar  ...................  23   5.   Persentase  Ibu  Bersalin  dan  Nifas  Mendapatkan  Pelayanan  Persalinan  dan  Nifas   Sesuai  Standar  di  Puskesmas  dan  Jaringannya  ........................................................................  28   6.   Persentase  Bayi  Baru  Lahir  Mendapatkan  Pelayanan  Kesehatan  Sesuai  Standar  di   Puskesmas  dan  Jaringannya  ..............................................................................................................  33   7.   Persentase  Usia  Bawah  Lima  Tahun  (Balita)  Mendapatkan  Pelayanan  Kesehatan   Sesuai  Standar  di  Puskesmas  dan  Jaringannya  ........................................................................  35   8.   Persentase  Siswa  Satuan  Pendidikan  Dasar  Mendapatkan  Skrining  Kesehatan  Sesuai   Standar  .......................................................................................................................................................  41   9.   Persentase  Usia  15  –  19  tahun  Mendapatkan  Skrining  Kesehatan  Sesuai  Standar  ....  43   10.   Persentase  Usia  20  –  59  Tahun  Mendapatkan  Skrining  Kesehatan  dan  Pelayanan   Kesehatan  Reproduksi  Sesuai  Standar  .........................................................................................  47  
  3. 3.   ii 11.   Persentase  Usia  60  tahun  Keatas  Mendapatkan  Skrining  Kesehatan  Sesuai  Standar  50   C.   PELAYANAN  PEMERIKSAAN  PENYAKIT  MENULAR  ..................................................................................  53   12.   Persentase  terduga  Tuberkulosis  Mendapatkan  Pemeriksaan  Tuberkulosis  Sesuai   Standar  .......................................................................................................................................................  53   13.   Persentase  Terduga  HIV  dan  AIDS  Mendapatkan  Pemeriksaan  HIV-­‐AIDS  Sesuai   Standar  .......................................................................................................................................................  56   D.   PELAYANAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  DAN  RESPONS  VERIFIKASI  TERHADAP  SKDR  ...................  59   14.   Persentase  Satuan  Pendidikan  Dasar  Mendapatkan  Pelayanan  Kesehatan   Lingkungan  ...............................................................................................................................................  59   15.   Persentase  Pasar  Rakyat  Mendapatkan  Pelayanan  Kesehatan  Lingkungan  ..............  62   16.   Persentase  Respons  Verifikasi  terhadap  SKDR  dalam  Waktu  Kurang  dari  24  Jam  ..  65  
  4. 4.   1   I. Pengantar  SPM  Bidang  Kesehatan   1. Sesuai dengan UU 23 Tahun 2014, urusan kesehatan merupakan urusan pemerintahan yang dikerjakan bersama antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintahan Daerah (concurrent), bersifat wajib dan terkait dengan pelayanan dasar. Oleh karena kondisi kemampuan Pemerintahan Daerah (Pemda) di seluruh Indonesia tidak sama, maka Pelaksanaan Pelayanan Dasar pada Urusan Kesehatan berpedoman pada standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. 2. SPM merupakan salah satu program strategis nasional. Pada Pasal 68 UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa Kepala Daerah yang tidak melaksanakan program strategis nasional akan dikenai sanksi yaitu sanksi administratif, diberhentikan sementara selama 3 (tiga) bulan, sampai dengan diberhentikan sebagai kepala daerah. 3. Dalam RPP tentang SPM 2015, Standar Pelayanan Minimal adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu Pelayanan Dasar yang merupakan Urusan Pemerintahan Wajib yang berhak diperoleh setiap warga negara secara minimal (pasal 1 ayat 8). 4. Standar pelayanan minimal merupakan ukuran baku tentang jenis, mutu dan jumlah kebutuhan dasar yang wajib diperoleh oleh warga negara untuk dapat hidup secara layak (pasal 3 ayat 1 RPP SPM). Setiap warga negara sesuai dengan kodratnya berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya dengan memanfaatkan seluruh potensi manusiawi yang dimilikinya (pasal 5 ayat 1 RPP SPM). Sebaliknya Pemerintah pusat dan pemerintah daerah berkewajiban menjamin agar setiap warga negara dapat menggunakan haknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa hambatan atau halangan dari pihak manapun (Pasal 5 ayat 2 RPP SPM) 5. Tugas Pemerintah Pusat setelah menetapkan SPM dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan SPM (pasal 18 ayat 2 UU 23 th 2014), serta melakukan sosialisasi kepada Pemda adalah memetakan dan melakukan analisis terhadap pencapaian penerapan SPM, sehingga dapat dilakukan tindaklanjut yang tepat, guna tercapainya SPM. 6. Konsep SPM berubah dari Kinerja Program Kementerian menjadi Kinerja Pemda yang memiliki konsekuensi reward dan punishment, sehingga memberikan tekanan kepada Pemda untuk menyediakan sumber daya (sarana, prasarana, alat, tenaga dan uang/biaya) yang cukup agar proses penerapan SPM berjalan adekuat. 7. Pemerintah daerah tidak perlu menyelenggarakan sendiri pelayanan SPM yang dibutuhkan masyarakat (pasal 11 RPP SPM). Sesuai dengan azas cost effectiveness, maka pemerintah daerah bisa membuat alternatif penyelenggaraan pelayanan SPM kesehatan sebagai berikut:
  5. 5.   2 a. Pemda menyediakan sendiri yankes yang dibutuhkan di lokasi pelayanan pemerintah b. Membeli, mensubsidi atau kemudahan lainnya agar BUMD/N atau BU swasta yang mempunyai pelayanan kesehatan yang dibutuhkan agar bisa menyediakan nya untuk WNI yang membutuhkan c. Melakukan kontrak kepada tenaga ahli swasta yang bisa memberikan pelayanan yang dibutuhkan. d. Memberikan voucher kepada WNI yang membutuhkan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan e. Bekerja sama dengan BUMD/N atau BU swasta untuk mengembangkan penyediaan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, khususnya untuk jenis pelayanan yang kurang tersedia dalam alternatif sebelumnya. 8. Lokasi pelayanan SPM kesehatan, sesuai dengan prinsip sebelumnya, berarti tidak harus harus di selenggarakan di dalam fasilitas milik pemerintah daerah. Jadi pemerintah daerah bisa memberikan pelayanan di lokasi sbb: a. Puskesmas dan jaringannya dan RSUD b. Fasilitas kesehatan milik BUMD/N c. Dokter praktek swasta, Klinik swasta dan RS swasta yang bekerja sama dengan pemerintah setempat d. Fasilitas kesehatan milik pemda/BUMD/BUMN ataupun swasta di wilayah tetangga e. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Pemerintah dan swasta f. Pasar Rakyat Fasilitas yang bukan milik pemerintah daerah ini perlu mempunyai kemampuan pelayanan yang sesuai standar pemerintah daerah setempat, dan diatur melalui mekanisme kerja sama 9. Bagi Pemda dengan kemampuan APBD terbatas, Pemerintah Pusat dapat membantu pencapaian SPM melalui transfer Dana Alokasi Khusus (DAK) sesuai mekanisme yang berlaku, setelah memperhatikan pencapaian target SPM dan kemampuan APBD Kesehatan. 10. SPM Kesehatan merupakan hal minimal yang harus dilaksanakan oleh Pemda untuk rakyatnya, maka target SPM Kesehatan harus 100% setiap tahunnya. Untuk itu dalam penetapan indikator SPM kesehatan, Kementerian Kesehatan perlu melakukan pentahapan pada jenis pelayanan kesehatan, mutu pelayanannya dan/atau sasaran/lokus tertentu. 11. Konsep penyusunan indikator SPM Bidang Kesehatan adalah sebagai berikut: a. Pelayanan dalam SPM Bidang Kesehatan adalah pelayanan kesehatan mendasar dan mutlak yang wajib diberikan oleh Pemda untuk seluruh warga yang berada dalam batas wilayah otonominya secara minimal. Ketidak- beradaan pelayanan kesehatan dasar tersebut menyebabkan terganggunya kesehatan warga, bahkan kematian ataupun kecacatan, yang akan berujung
  6. 6.   3 pada terganggunya kehidupan sosial, ekonomi dan pemerintahan. b. Sasaran pelayanan adalah seluruh warga negara yang membutuhkan. c. SPM Bidang Kesehatan disusun dengan memperhatikan Daur Kehidupan, mulai dari ketika merencanakan keluarga sampai lanjut usia. d. Merupakan pelayanan kesehatan yang bersifat publik (UKM) kepada masyarakat yang berdampak atau diterima langsung. e. Bersifat eksklusif, yaitu ekskusif bidang kesehatan dan dilaksanakan oleh Pemda. f. Fokus pelayanan pada Upaya Kesehatan Masyarakat, yaitu Promotif dan Preventif, karena Upaya Kuratif dan Rehabilitatif dibiayai dari Jaminan Kesehatan Nasional. g. Pada beberapa pelayanan SPM yang juga dijamin oleh BPJS, seperti pelayanan ibu hamil, pelayanan melahirkan dan seterusnya, sasaran dihitung dari jumlah warga yang ada dikurangi jumlah warga yang telah menjadi peserta BPJS. 12. Indikator Pencapaian SPM Bidang Kesehatan sesuai dengan pasal 19 RPP SPM adalah sbb: a. Rasio jumlah warga negara yang sudah memenuhi kebutuhan dasarnya dibagi dengan jumlah seluruh warga negara yang berhak memperoleh kebutuhan dasar tersebut. (pasal 19, ayat 2 RPP). Tujuan nya adalah untuk menghitung output dari pelayanan yang dilakukan pemerintah. Target pencapaiannya adalah 100%. Di dalam SPM Kesehatan ini maka rumus umum dari indikator ini adalah sbb: Persentase pencapaian indikator SPM = Jumlah sasaran yang mendapatkan pelayanan SPM sesuai standar Jumlah sasaran yang berhak memperoleh pelayanan SPM tersebut Jumlah sasaran memperoleh di dapatkan melalui survai cepat secara berkala (pasal 10 ayat 1) atau beradasarkan evaluasi laporan penyelenggarakan pelayanan SPM tahun sebelumnya (pasal 10 ayat 3). Perhitungan jumlah sasaran yang berhak adalah sebagai berikut: Jumlah sasaran SPM (sesuai jenis pelayanan) = Jumlah sasaran – Jumlah sasaran yang bisa mendapatkan kebutuhannya secara mandiri (Pasal 19, ayat 3 RPP).
  7. 7.   4 Khusus untuk pelayanan SPM yang juga dicakup dalam pelayanan melalui BPJS, seperti pelayanan ibu hamil, persalinan, bayi baru lahir dan balita, perhitungan jumlah sasaran yang berhak adalah sebagai berikut: Jumlah sasaran SPM (sesuai jenis pelayanan) = Jumlah sasaran – Jumlah sasaran yang bisa mendapatkan kebutuhannya secara mandiri – Jumlah sasaran yang mendapatkan pelayanan kesehatan melalui BPJS b. Dalam melakukan evaluasi penyelenggaraan SPM Kesehatan perlu juga di analisis Rasio jumlah kebutuhan dasar yang dibutuhkan dibagi dengan jumlah kebutuhan dasar yang tersedia di setiap kabupaten (Pasal 19, ayat 1 RPP SPM). Informasi tentang hal ini di dapatkan melalui survai atau berdasarkan laporan penyelenggaraan (Pasal 9 ayat 1 dan 3). Tujuan nya adalah untuk menghitung kecukupan input dan proses yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap pelayanan yang diperlukan. Hal ini diperlukan untuk menjelaskan pencapaian SPM Kesehatan yang belum 100 %, dan rangka meningkatkan akses pelayanan sehingga bisa dicapai oleh 100 % penduduk yang berhak memperoleh pelayanan tsb.
  8. 8.   5 PETUNJUK  TEKNIS     SPM  BIDANG  KESEHATAN   II. Petunjuk  Teknis  SPM  Bidang  Kesehatan  di  Provinsi   A. Promosi Kesehatan 1. Persentase Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus Mendapatkan Promosi Kesehatan Pemerintah Daerah Provinsi wajib memberikan pelayanan promosi kesehatan di Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus di wilayah kerja provinsi. a. Pengertian 1) Promosi kesehatan adalah pelayanan untuk meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan masyarakat di bidang kesehatan. 2) Promosi kesehatan yang dilaksanakan pada Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus disebut juga Promosi Kesehatan di Sekolah. 3) Promosi Kesehatan diberikan pada semua Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus di wilayah Provinsi. 4) Standar promosi kesehatan dalam hal ini adalah : a) Promosi Kesehatan diberikan oleh Jabatan Fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat/Promosi Kesehatan, Koordinator atau pengelola Promosi Kesehatan dan pengelola program kesehatan. b) Promosi Kesehatan yang sesuai standar adalah promosi kesehatan diberikan minimal 12 kali dalam kurun waktu satu tahun untuk setiap sekolah. 5) Materi promosi yang diberikan adalah tentang (1) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS); (2) Kesehatan gigi dan mulut; (3) Kesehatan jiwa dan Gangguan Penggunaan Napza; (4) Gizi seimbang termasuk jajanan Satuan, kekurangan gizi dan obesitas;
  9. 9.   6 (5) Penyakit-penyakit yang berpotensi wabah; (6) Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi; (7) Penyakit menular, terutama HIV-AIDS, tuberculosis, malaria, DBD, IMS; (8) Penyakit tidak menular dan faktor risikonya, terutama Hipertensi, Diabetes Mellitus, Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara; (9) Kesehatan reproduksi; (10) Pencegahan kecelakaan lalu lintas dan tindak kekerasan. 6) Satuan Pendidikan Menengah adalah SMA/MA dan sederajat baik milik pemerintah maupun swasta. 7) Satuan Pendidikan Khusus adalah sebuah lembaga pendidikan yang melayani pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, mengelola TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB milik pemerintah maupun swasta. 8) Promosi Kesehatan dilakukan agar siswa pada Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus dapat mengetahui materi promosi kesehatan. 9) Dalam kondisi tertentu, seperti lokasi yang jauh, masalah tenaga, maka atas prinsip cost effectivenss, promosi kesehatan ini bisa ditugaskan untuk dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota berdasarkan azas Tugas Pembantuan, dengan memperhatikan kemampuan dan beban institusi 10)Pemerintah Daerah Provinsi dapat bekerja sama dengan BUMD/ swasta yang mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan promosi kesehatan ini. b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Provinsi dalam memberikan pelayanan promosi kesehatan di Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus dinilai dari persentase Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus yang mendapat pelayanan promosi kesehatan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun. c. Rumus Perhitungan Kinerja Persentase   Satuan   Pendidikan  Menengah   dan   Satuan   Pendidikan   Khusus   Mendapatkan   Promosi  Kesehatan = Jumlah  Satuan  Pendidikan  Menengah  dan   Satuan   Pendidikan   Khusus   yang   mendapatkan   promosi   kesehatan   sesuai   standar   sebanyak   12   kali   dalam   kurun   waktu  satu  tahun   X 100 %
  10. 10.   7 Jumlah   seluruh   Satuan   Pendidikan   Menengah  dan  Satuan  Pendidikan  Khusus   dalam  kurun  waktu  satu  tahun  yang  sama   d. Contoh Perhitungan Provinsi   A   mempunyai   95   Satuan   Pendidikan   Menengah   dan   Satuan   Pendidikan   Khusus   milik   pemerintah   dan   5   Satuan   Pendidikan   Menengah   dan   Satuan   Pendidikan   Khusus   milik   swasta.   Sebanyak   90   Satuan   Pendidikan   Menengah   dan   Satuan   Pendidikan   Khusus   itu   telah   menerima   promosi   kesehatan   sebulan   sekali   dalam  setahun.   Kinerja  Provinsi  A  dalam  melakukan  promosi  kesehatan  untuk  Satuan  Pendidikan   Menengah  dan  Satuan  Pendidikan  Khusus  sesuai  standar  adalah  90/100  x  100  %  =   90  %.   e. Target 100   persen   Satuan   Pendidikan   Menengah   dan   Satuan   Pendidikan   Khusus   mendapatkan  pelayanan  promosi  kesehatan  sesuai  standar.   a. Sumber Data 1) Laporan Dinas Kesehatan Provinsi. 2) Tim Pembina UKS tingkat Provinsi. b. Rujukan 1) Kepmenkes RI nomor 1114/MENKES/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah. 2) Kepmenkes RI nomor 1193/MENKES/SK/X/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. c. SDM 1) Jabatan Fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat, Koordinator atau pengelola promosi kesehatan, dan pengelola program kesehatan di tingkat provinsi. 2) Jabatan Fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat, Koordinator atau pengelola promosi kesehatan, dan pengelola program kesehatan di tingkat kabupaten/kota 3) Tenaga ahli promosi kesehatan di LSM/Lembaga Swasta.
  11. 11.   8 2. Persentase Promosi Kesehatan melalui Media Massa Pemerintah Daerah Provinsi wajib memberikan pelayanan promosi kesehatan melalui media massa di wilayah kerja provinsi. a. Pengertian 1) Promosi Kesehatan adalah pelayanan untuk meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan masyarakat di bidang kesehatan. 2) Promosi kesehatan melalui media massa dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan kepada masyarakat luas di wilayah propinsi yang bersangkutan. 3) Promosi kesehatan melalui media media massa (radio, televisi dan media luar ruang) dilakukan minimal sebulan sekali. 4) Standar promosi kesehatan dalam hal ini adalah: a) Promosi Kesehatan diberikan oleh Jabatan Fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat, Koordinator atau pengelola promosi kesehatan, Pengelola program kesehatan, atau ahli promosi kesehatan lainnya (perguruan tinggi/swasta) b) Promosi Kesehatan diberikan sedemikian rupa sehingga semua masyarakat luas di wilayah propinsi yang bersangkutan. c) Materi Promosi Kesehatan yang diberikan tentang (1) Perilaku  Hidup  Bersih  dan  Sehat  (PHBS); (2) Kesehatan gigi dan mulut; (3) Kesehatan jiwa dan Gangguan Penggunaan Napza; (4) Gizi seimbang termasuk jajanan yang aman dan sehat, kekurangan gizi dan obesitas; (5) Penyakit-penyakit yang berpotensi wabah (6) Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi; (7) Penyakit menular, terutama HIV-AIDS, tuberkulosis, malaria, DBD, IMS; (8) Penyakit tidak menular dan faktor risikonya, terutama Hipertensi, Diabetes Mellitus, Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara; (9) Kesehatan reproduksi; (10) Pencegahan kecelakaan lalu lintas; (11) Kesehatan Lansia. 5) Promosi kesehatan dilakukan melalui kerja sama dengan media massa setempat dengan memperhatikan lokasi dan distribusi penduduk di propinsi ybs. 6) Materi promosi kesehatan yang diberikan berbeda tiap bulan 7) Promosi kesehatan diberikan melalui lebih dari 1 media massa misalnya sebagai berikut:
  12. 12.   9 a) Promosi kesehatan melalui radio minimal 10 kali per hari selama dua minggu dalam satu bulan b) melalui televisi minimal 5 kali per hari selama dua minggu dalam satu bulan c) Media luar ruang (billboard atau megatron) sebanyak 1 tema per bulan d) Melenggarakan acara yang kreatif dan menarik spt lomba, cerdas cermat, dll yang diliput oleh media massa b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Provinsi dalam memberikan pelayanan promosi kesehatan melalui media massa dinilai dari persentase promosi kesehatan melalui media massa yang menjangkau masyarakat luas di wilayah provinsi yang bersangkutan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun. c. Rumus Perhitungan Kinerja Persentase Promosi Kesehatan melalui Media Massa = Jumlah promosi kesehatan melalui media massa yang di lakukan dalam satu wilayah propinsi sesuai standar sebanyak 12 kali dalam kurun waktu satu tahun X 100 % 12 Jika lebih dari 100 % maka dianggap sebagai 100 % d. Contoh Perhitungan Propinsi A dalam dalam setahun melakukan promosi kesehatan melalui media massa sebanyak 18 kali. Jadi Kinerja Pemerintah Propinsi A dalam melakukan promosi kesehatan melalui media massa adalah sbb: Ø 18/12 x 100 % = 150 % Ø karena lebih dari 100 % maka dihitung sebagi 100 %
  13. 13.   10 e. Target Target 100 persen, artinya Pemerintah Propinsi wajib memberikan pelayanan promosi kesehatan melalui media massa yang menjangkau masyarakat luas sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun. f. Sumber Data 1) Laporan Dinas Kesehatan Provinsi. 2) Laporan Riskesdas dan riset kesehatan di provinsi. 3) Laporan Survai cepat tahun sebelumnya. g. Rujukan 1) Promosi kesehatan komitmen global dari Ottawa - Jakarta - Nairobi menuju rakyat sehat, Departemen Kesehatan RI , Pusat Promosi Kesehatan, Departemen Pendidikan Kesehatan dan Perilaku , FKM – UI, 2011. 2) Kepmenkes RI nomor 585/MENKES/SK/V/2007. tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Puskesmas 3) Permenkes RI nomor 2269/Menkes/Per/XI/2011 tentang Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 4) Kepmenkes RI nomor 1114/MENKES/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah. 5) Kepmenkes RI nomor 1193/MENKES/SK/X/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. h. SDM 1) Jabatan Fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat 2) Koordinator atau pengelola promosi kesehatan. 3) Pengelola program kesehatan 4) Ahli promosi kesehatan di perguruan tinggi/swasta B. Pelayanan Kesehatan Lingkungan  
  14. 14.   11 3. Persentase Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Pemerintah Daerah Propinsi wajib melakukan pelayanan kesehatan lingkungan di Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus. a. Pengertian   1) Pelayanan kesehatan lingkungan di Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial. 2) Sasaran pelayanan ini adalah seluruh Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus di wilayah provinsi. 3) Standar Pelayanan Kesehatan Lingkungan pada Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus adalah : a) Pelayanan ini dilakukan oleh sanitarian. b) Pelayanan ini dilakukan minimal dua kali dalam kurun waktu satu tahun untuk setiap sasaran. c) Pelaksanaan pelayanan ini dilakukan melalui pengamatan dan penilaian Kesehatan Lingkungan Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus terhadap: (1) pengelolaan higiene dan sanitasi pangan, (2) pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit, dan (3) kualitas udara dalam ruang, dengan memberikan rekomendasi tindak lanjut. 4) Satuan Pendidikan Menengah adalah SMA/MA dan yang sederajat milik pemerintah dan swasta. 5) Satuan Pendidikan Khusus adalah sebuah lembaga pendidikan yang melayani pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, mengelola TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB milik pemerintah dan swasta. b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Provinsi dalam memberikan pelayanan kesehatan lingkungan di Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus dinilai dari persentase Satuan Pendidikan Menengah
  15. 15.   12 dan Satuan Pendidikan Khusus yang mendapatkan pelayanan kesehatan lingkungan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun. c. Rumus Perhitungan Kinerja   Persentase Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Lingkungan = Jumlah Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus yang mendapatkan pelayanan kesehatan lingkungan minimal dua kali dalam kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus yang ada di wilayah Propinsi dalam kurun waktu yang sama d. Contoh Perhitungan Pada tahun 2015, di Propinsi A terdapat 90 Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus milik pemerintah dan 10 Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidik Khusus milik swasta. Dari data tersebut yang mendapatkan pelayanan kesehatan lingkungan minimal dua kali dalam kurun waktu satu tahun adalah 70 Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus milik pemerintah dan 5 Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus milik swasta. Persentase Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Lingkungan = (70+5)/(90+10) x 100% = 75%. e. Target Pemerintah Daerah Provinsi wajib memberikan pelayanan kesehatan lingkungan pada 100 persen Satuan Pendidikan Menengah dan Satuan Pendidikan Khusus. f. Sumber Data 1) Laporan Dinas Kesehatan Propinsi g. Rujukan 1) Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 Tentang Pangan; 2) Undang-undang Nomor 7 tahun 2014 Tentang Perdagangan;
  16. 16.   13 3) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan; 4) Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan; 5) Permendagri Nomor 42 tahun 2007 tentang Pengelolaan Pasar Desa 6) Permenkes RI Nomor 374/Menkes/PER/III/2010 tentang Pengendalian Vektor; 7) Permenkes Nomor 1077/Menkes/PER/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah; 8) Permendagri Nomor 20 tahun 2012 tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Pasar Rakyat 9) Permenkes RI Nomor 2 Tahun 2013 tentang Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan; 10) Permendag No 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. 11) Kepmenkes RI Nomor 942/MENKES/SK/VII/2003 Pedoman Persyaratan Higiene Sanitasi Makanan Jajanan; 12) Kepmenkes RI Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2005 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran; 13) Kepmenkes 519/Menkes/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat; 14) Surat Edaran Menteri Nomor PM/Menkes/E/2261/XI/2011 tentang Pelaksanaan Penyelenggaraan Pasar Sehat. h. SDM 1) Jabatan fungsional sanitarian
  17. 17.   14
  18. 18.   15 III. Petunjuk  Teknis  SPM  Bidang  Kesehatan  di  Kabupaten/Kota   A. Pelayanan Promosi Kesehatan 1. Persentase Satuan Pendidikan Dasar mendapatkan Promosi Kesehatan Pemerintah daerah kabupaten/kota wajib melaksanakan promosi kesehatan di Satuan Pendidikan Dasar dan yang sederajat di wilayah kerja kabupaten/kota. a. Pengertian 1) Promosi kesehatan adalah pelayanan untuk meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan masyarakat di bidang kesehatan. 2) Standar promosi kesehatan dalam hal ini adalah : a) Promosi Kesehatan diberikan oleh Jabatan Fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan kabupaten/kota, Koordinator atau pengelola promosi kesehatan di kabupaten/kota, pengelola program kesehatan di kabupaten/kota dan tenaga kesehatan di Puskesmas. b) Promosi kesehatan dilakukan minimal setahun sekali untuk setiap sasaran. c) Sasaran pelayanan ini adalah seluruh Satuan Pendidikan Dasar di wilayah Kabupaten/Kota baik milik pemerintah maupun swasta. d) Materi promosi kesehatan yang disampaikan adalah tentang: (1) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS); (2) Kesehatan gigi dan mulut; (3) Kesehatan jiwa dan Gangguan Penggunaan Napza; (4) Gizi seimbang termasuk jajanan yang aman dan sehat, kekurangan gizi dan obesitas; (5) Penyakit-penyakit yang berpotensi wabah (6) Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi; (7) Penyakit menular, terutama HIV-AIDS, tuberkulosis, malaria, DBD, IMS; (8) Penyakit tidak menular, terutama Hipertensi, Diabetes Mellitus, Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara; (9) Kesehatan reproduksi; (10) Pencegahan kecelakaan lalu lintas dan tindak kekerasan. 3) Satuan Pendidikan Dasar adalah SD/MI, SMP/MTs dan yang sederajat. 4) Promosi Kesehatan dilakukan agar setiap siswa pada Satuan Pendidikan Dasar dapat mengetahui materi promosi kesehatan. 5) Promosi kesehatan yang disampaikan perlu disesuaikan dengan umur siswa dengan berbagai sarana media (penyuluhan kelompok, putar film, diskusi, seminar, dll)
  19. 19.   16 6) Pemerintah Daerah Provinsi dapat bekerja sama dengan BUMD/ swasta yang mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan promosi kesehatan ini. b. Definisi Operasional Capaian Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam melakukan Promosi Kesehatan di Satuan Pendidikan Dasar adalah persentase Satuan Pendidikan Dasar mendapat promosi kesehatan sesuai standar dalam satu tahun di wilayah kerjanya. c. Rumus Perhitungan Kinerja Persentase Satuan Pendidikan Dasar mendapatkan Promosi Kesehatan = Jumlah Satuan Pendidikan Dasar Formal yang mendapat promosi kesehatan sesuai standar sebanyak 1 kali dalam kurun waktu satu tahun di satu wilayah kerja X 100% Jumlah seluruh Satuan Pendidikan Dasar di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama d. Contoh Perhitungan Kabupaten A mempunyai total 100 Satuan Pendidikan Dasar milik pemerintah dan swasta yang terdiri dari 50 SD, 30 SMP, 10 MI, 10 MTs. Sebanyak 90 Satuan Pendidikan Dasar tersebut telah menerima promosi kesehatan 1 (satu) kali dalam satu tahun. Capaian Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam melakukan Promosi Kesehatan di Satuan Pendidikan Dasar adalah 90/100 x 100 % = 90 % e. Target Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib melakukan Promosi Kesehatan di 100 persen Satuan Pendidikan Dasar Formal.
  20. 20.   17 f. Sumber Data 1) Laporan Puskesmas; 2) Laporan Tim Pembina UKS Kabupaten/Kota. g. Rujukan 1) Kepmenkes RI nomor 585/MENKES/SK/V/2007. tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Puskesmas 2) Pedoman Pembinaan Upaya Kesehatan Satuan (UKS) 3) Permenkes RI nomor 2269/Menkes/Per/XI/2011 tentang Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 4) Permenkes...... ttg Pedoman Kesehatan Jiwa 5) Kepmenkes RI nomor 1529/Menkes/SK/X/2010 tantang Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif 6) Permenkes RI nomor 1 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyelenggaran dan Pembinaan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) 7) Kepmenkes RI nomor 1114/MENKES/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah 8) Kepmenkes RI nomor 1193/MENKES/SK/X/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. h. SDM 1) Jabatan Fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. 2) Koordinator atau pengelola promosi kesehatan di Kabupaten/Kota. 3) Pengelola program kesehatan di kabupaten/kota 4) Tenaga kesehatan di Puskesmas 5) Ahli Promosi Kesehatan Swasta 2. Persentase Puskesmas dan Puskesmas Pembantu Melaksanakan Promosi Kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib melakukan promosi kesehatan sesuai standar dalam satu tahun kepada masyarakat yang datang ke Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. a. Pengertian 1) Promosi kesehatan adalah pelayanan untuk meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan masyarakat di bidang kesehatan. 2) Promosi kesehatan di Puskesmas dan Pustu adalah pelayanan promosi kesehatan yang dilakukan di Puskemas dan Pustu.
  21. 21.   18 3) Promosi kesehatan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) sesuai standar adalah : a) Promosi kesehatan dilakukan oleh Koordinator atau pengelola promosi kesehatan di Puskesmas, Tenaga kesehatan di Puskesmas, dan Pengelola promosi kesehatan di kabupaten/kota b) Promosi kesehatan dilakukan sesuai standar sebanyak 12 kali dalam kurun waktu satu tahun. c) Sasaran promosi kesehatan adalah masyarakat yang datang ke Puskesmas dan Pustu. d) Metode promosi kesehatan di Puskesmas dan Pustu adalah penyuluhan kelompok yang dilakukan di dalam gedung Puskesmas dan Pustu selama 60 menit. e) Materi promosi kesehatan yang disampaikan adalah tentang : (1) Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS); (2) Kesehatan gigi dan mulut; (3) Kesehatan jiwa dan Gangguan Penggunaan Napza; (4) Gizi seimbang termasuk jajanan yang aman dan sehat, kekurangan gizi dan obesitas; (5) Penyakit-penyakit yang berpotensi wabah (6) Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi; (7) Penyakit menular, terutama HIV-AIDS, tuberkulosis, malaria, DBD, IMS; (8) Penyakit tidak menular, terutama Hipertensi, Diabetes Mellitus, Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara; (9) Kesehatan reproduksi; (10) Pengobatan sendiri secara tepat; (11) Pencegahan kecelakaan lalu lintas dan tindak kekerasan. 4) Promosi Kesehatan di Puskesmas dan Pustu dilakukan agar masyarakat yang berkunjung ke Puskesmas dan Pustu dapat mengetahui materi promosi kesehatan. b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam melakukan promosi kesehatan di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu dinilai dari Persentase Puskesmas dan Puskesmas Pembantu melaksanakan Promosi Kesehatan sebanyak minimal 12 kali dengan masing-masing durasi 60 menit dalam satu tahun kepada masyarakat yang datang ke Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. c. Rumus Perhitungan Kinerja
  22. 22.   19 Persentase Puskesmas dan Jaringannya Melaksanakan Promosi Kesehatan = Jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu yang melaksanakan promosi kesehatan sesuai standar sebanyak 12 kali dalam kurun waktu satu tahun kepada masyarakat yang datang X 100 % Jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di satu wilayah kerja dalam kurun waktu satu tahun yang sama d. Contoh Perhitungan Kabupaten A mempunyai Puskesmas dan Pustu sebanyak 15, yang terdiri dari 5 Puskesmas, 10 Puskesmas Pembantu. Jumlah Puskesmas dan Pustu yang melaksanakan promosi kesehatan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun adalah 13 Puskesmas dan Pustu. Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam melakukan kegiatan promosi kesehatan di Puskesmas dan Pustu = [13 / 15] x 100 % = 86,67%. e. Target Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib melakukan promosi kesehatan di 100 persen Puskesmas dan Jaringannya. f. Sumber Data 1) Laporan Puskesmas. g. Rujukan 1) Kepmenkes RI Nomor 585/MENKES/SK/V/2007 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Puskesmas 2) Kepmenkes RI Nomor 1529/Menkes/SK/X/2010 tantang Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif 3) Permenkes RI Nomor 2269/Menkes/Per/XI/2011 tentang Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 4) Permenkes RI Nomor 1 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyelenggaran dan Pembinaan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) 5) Kepmenkes RI Nomor 1114/MENKES/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah. 6) Kepmenkes RI Nomor 1193/MENKES/SK/X/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. 7) Kepmenkes tentang Buku KIA
  23. 23.   20 h. SDM 1) Koordinator atau pengelola promosi kesehatan di Puskesmas. 2) Tenaga kesehatan di Puskesmas. 3) Pengelola promosi kesehatan di kabupaten/kota. 4) Pengelola program kesehatan di tingkat kabupaten/kota 3. Persentase Promosi untuk Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan Pemerintah kabupaten/kota wajib melakukan promosi kesehatan ke masyarakat dalam rangka mengembangkan Pemberdayaan Masyarakat di bidang kesehatan sesuai standar oleh Puskesmas. a. Pengertian 1) Promosi Kesehatan untuk pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah semua kegiatan promosi di luar gedung Puskesmas. 2) Promosi Kesehatan untuk Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan sesuai standar adalah a) Promosi kesehatan untuk pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan menggunakan metode berupa curah pendapat, diskusi dan bermain peran selama minimal 120 menit sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 65 Tahun 2013. b) Promosi kesehatan ke masyarakat dalam rangka mengembangkan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan dilakukan setiap Puskesmas minimal satu kali sebulan. c) Pelaksana promosi kesehatan untuk pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah : (1) Koordinator /Pengelola Promosi Kesehatan Puskesmas; (2) Tenaga Kesehatan Puskesmas; (3) Pengelola Promosi Kesehatan di Kabupaten/Kota; (4) Tenaga Pengelola Data dan Sistem Informasi Kesehatan Kabupaten/Kota. 3) Promosi Kesehatan untuk pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah kegiatan promosi kesehatan yang dilakukan di luar gedung Puskesmas, agar individu, keluarga, masyarakat dapat lebih mandiri untuk berperilaku sehat dengan cara: a) Mengidentifikasi kondisi, situasi dan masalah disekitar masyarakat setempat. b) Mengenali potensi yang dimiliki masyarakat. c) Menganalisis masalah, faktor-faktor pendukung dan penghambat. d) Memilih solusi pemecahan masalah sesuai dengan kesepakatan bersama.
  24. 24.   21 b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam melakukan promosi pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan dinilai dari persentase Puskesmas memberikan promosi kesehatan untuk pemberdayaan masyarakat sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun kepada masyarakat. c. Rumus Perhitungan Kinerja Persentase Promosi untuk Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan = Jumlah Puskesmas melakukan promosi untuk pemberdayaan masyarakat sesuai standar sebanyak 12 kali kepada masyarakat dalam kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah Puskesmas di satu wilayah kerja dalam kurun waktu satu tahun yang sama d. Contoh Perhitungan Kabupaten A mempunyai Puskesmas sebanyak 15 Puskesmas. Jumlah Puskesmas yang melakukan promosi untuk pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan sesuai standar dalam satu tahun adalah 12 Puskesmas. Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam melakukan kegiatan promosi untuk pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah [12/15] x 100 % = 80%. e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam melakukan promosi kesehatan untuk pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah 100 persen. f. Sumber Data 1) Laporan Puskesmas g. Rujukan 1) Promosi kesehatan komitmen global dari Ottawa - Jakarta - Nairobi menuju rakyat sehat, Departemen Kesehatan RI, Pusat Promosi Kesehatan, Departemen Pendidikan Kesehatan dan Perilaku , FKM – UI, 2011.
  25. 25.   22 2) Kepmenkes RI nomor 585/MENKES/SK/V/2007. tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Puskesmas 3) Kepmenkes RI nomor 1529/Menkes/SK/X/2010 tantang Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif 4) Permenkes RI nomor 2269/Menkes/Per/XI/2011 tentang Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 5) Permenkes RI nomor 1 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyelenggaran dan Pembinaan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) 6) Kepmenkes RI nomor 1114/MENKES/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah. 7) Kepmenkes RI nomor 1193/MENKES/SK/X/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. 8) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 65 Tahun 2013 Pedoman Pelaksanaan dan Pembinaan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. h. SDM 1) Koordinator /Pengelola Promosi Kesehatan di Puskesmas. 2) Tenaga Kesehatan di Puskesmas. 3) Pengelola Promosi Kesehatan di Kabupaten/Kota. 4) Tenaga Pengelola Data dan Sistem Informasi Kesehatan Kabupaten/Kota
  26. 26.   23 B. Pelayanan Skrining dan Pelayanan Kesehatan Berdasar Daur Kehidupan 4. Persentase Ibu Hamil Mendapatkan Pelayanan Antenatal Sesuai Standar Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib memberikan pelayanan pemeriksaan kehamilan (antenatal) sesuai standar kepada seluruh ibu hamil di wilayah kerja nya a. Pengertian   1) Pelayanan antenatal sesuai standar adalah a) Pelayanan dilakukan minimal oleh Bidan yang memiliki Surat Tanda Registrasi dan sesuai dengan kewenangannya; b) Pelayanan diberikan di Puskesmas dan jaringannya dan di fasilitas BUMD/ BUMN/ swasta yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. c) Pelayanan mencakup sebagai berikut: (1) Timbang berat badan dan ukur tinggi badan; (2) Ukur tekanan darah; (3) Nilai status Gizi (Ukur Lingkar Lengan Atas/LILA); (4) Ukur tinggi puncak rahim (fundus uteri); (5) Tentukan Presentasi janin dan Denyut Jantung Janin (DJJ); (6) Skrining status imunisasi tetanus dan berikan imunisasi tetanus toksoid (TT) bila diperlukan; (7) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan; (8) Tes laboratorium: tes kehamilan, pemeriksaan hemoglobin darah (Hb), pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah dilakukan sebelumnya), gula darah, pemeriksaan protein urin (bila ada indikasi); dan tes skrining untuk mengetahui penyakit endemis setempat. Selain itu pada  waktu  datang  untuk  pemeriksaan  kehamilan   pertama  kali  ditawarkan  juga  untuk  skrining  HIV/AID  (KTHIV) (9) Tatalaksana/penanganan kasus sesuai kewenangan; (10) Temu wicara (konseling); Pemberian pelayanannya disesuaikan dengan trimester kehamilan (lihat dalam tabel berikut)
  27. 27.   24 d) Pelayanan dilakukan minimal empat kali dengan jadwal satu kali pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua dan dua kali pada trimester ketiga. 2) Bagi ibu hamil yang mempinyai LILA < 23,5 cm, maka diberikan PMT Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) 3) PMT dapat berupa berupa makanan tambahan berbasis pangan lokal (PMT lokal) atau makanan tambahan pabrikan (PMT pabrikan) 90 hari. a) Makanan Tambahan atau PMT (PMT) adalah Makanan tambahan bergizi yang diberikan kepada ibu hamil KEK sebagai makanan tambahan untuk pemulihan status gizi. b) PMT dapat berupa berupa makanan tambahan berbasis pangan lokal (PMT lokal) atau makanan tambahan pabrikan (PMT pabrikan) sesuai spesifikasi peraturan Menteri Kesehatan yang difortifikasi yang diberikan selama 90 hari. c) PMT lokal adalah makanan tambahan yang dibuat dari bahan makanan setempat dan mudah diperoleh dengan harga terjangkau yang diolah di rumah tangga. d) PMT pabrikan adalah makanan tambahan yang dibuat oleh pabrik atau perusahaan makanan dan minuman di Indonesia (makanan jadi) sesuai spesifikasi yang telah ditentukan. e) Pemberian Makanan Tambahan (PMT) hanya sebagai tambahan terhadap makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil KEK sehari- hari, dan bukan sebagai pengganti makanan utama. 4) Ibu Hamil yang ditemukan dengan masalah kesehatan dan gizi harus ditangani atau dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menanganinya. 5) Jenis pelayanan sebagaimana dimaksud pada butir (2) dilakukan sesuai jadwal sebagai berikut: Tabel 1. Jadwal Pemeriksaan Antenatal No Jenis Pelayanan Waktu Pelaksanaan Keterangan Trimester 1 (≤ 12 minggu) Trimester 2 (>12 – 24 minggu) Trimester 3 (> 24 minggu – melahirkan) 1 kali 1 kali 2 kali 1 Timbang berat badan √ √ √ Ukur tinggi badan √ Pada kunjungan pertama 2 Ukur tekanan darah √ √ √ 3 Ukur Lingkar √ Pada kunjungan
  28. 28.   25 Lengan Atas (LiLA) pertama 4 Ukur tinggi puncak rahim (fundus uteri) √ √ 5 Tentukan presentasi janin dan Denyut Jantung Janin (DJJ) √ √ 6 Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan √ 1 atau 2 kali selama kehamilan, minimal memperoleh status T2 7 Pemberian tablet tambah darah, minimal 90 tablet selama kehamilan √ √ √ Disesuaikan kondisi ibu 8 Tes laboratorium, a. Tes kehamilan √ b. Hemoglobin (Hb) √ √ c. Golongan darah √ Bila belum pernah dilakukan sebelumnya d. Gula darah √ e. Protein urin √* √* *: Bila ada indikasi f. endemik lokal √ Untuk wilayah endemis spt malaria 9 Ditawarkan Pemeriksaan HIV/AID √ Ditawarkan melalui konseling (KTHIV) pada kedatangan pertama kali 10 Tatalaksana/ Penanganan kasus √* √* √* *:Bila ditemukan adanya masalah kesehatan dan gizi 11 Temu Wicara (Konseling) √ √ √ Tiap kunjungan
  29. 29.   26 b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan antenatal pada ibu hamil dinilai dari persentase ibu hamil di wilayah kerja Kabupaten/Kota itu yang memperoleh pelayanan antenatal sesuai standar selama kehamilannya dalam kurun waktu satu tahun. c. Rumus Perhitungan Kinerja   Persentase Ibu Hamil Mendapatkan Pelayanan Antenatal Sesuai Standar = Jumlah ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah ibu hamil yang membutuhkan pelayanan antenatal di wilayah kerja dalam kurun waktu satu tahun yang sama d. Contoh Perhitungan Di Kabupaten A jumlah Ibu hamil yang membutuhkan pelayanan ante natal di wilayah kerja Kabupaten/Kota tersbut adalah sebanyak 100 orang. Jumlah ibu hamil yang datang untuk memperoleh pelayanan pemeriksaan kehamilan adalah sebanyak 100 orang dengan rincian sebagai berikut Lokasi Pelayanan Jumlah Sesuai standard Tidak sesuai standard Keterangan Puskesmas dan Jaringannya 70 65 5 Pelayanan sesuai standar dihitung Fasilitas BUMD/BUMN 10 5 5 Pelayanan sesuai standar dihitung Fasilitas Swasta 20 15 5 Yang sesuai standar dihitung Jumlah 100 85 15 Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam memberikan pelayanan antenatal pada ibu hamil di wilayah kerjanya pada tahun tersebut adalah 85/100 atau 85%. Jika salah satu dari Pelayanan antenatal sesuai standar, sebagaimana poin 1, tidak diberikan, maka pelayanan antenatal yang diberikan tidak sesuai standar.
  30. 30.   27 e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan antenatal sesuai standar pada ibu hamil yang membutuhkan di wilayah kerja Kabupaten/ Kota adalah 100 persen. f. Sumber Data 1) Laporan Puskesmas dan jaringannya; 2) Laporan fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah 3) Kohort ibu; 4) Buku KIA; 5) Laporan khusus PMT Bumil KEK, dll; g. Rujukan 1) Standar Pelayanan Kebidanan, tahun 2003. 2) Kepmenkes tentang Buku KIA. 3) Buku Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS – KIA), tahun 2010. 4) Buku Pedoman Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), tahun 2009. 5) Buku Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu, tahun 2010. 6) Buku Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil, tahun 2011. 7) Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 224/Menkes/SK/II/2007 tentang Spesifikasi Teknis Makanan Tambahan Ibu Hamil KEK. 8) Pedoman Gizi Ibu Hamil dan Pengembangan Makanan Tambahan Ibu Hamil Berbasis Pangan Lokal. h. SDM 1) Dokter 2) Bidan
  31. 31.   28 5. Persentase Ibu Bersalin dan Nifas Mendapatkan Pelayanan Persalinan dan Nifas Sesuai Standar di Puskesmas dan Jaringannya Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib memberikan pelayanan persalinan dan nifas sesuai standar pada ibu yang melahirkan di wilayah kerjanya a. Pengertian   1) Pelayanan Persalinan sesuai standar adalah : a) Pelayanan dilakukan oleh bidan/bidan desa atau dokter yang memiliki STR sesuai dengan kewenangannya b) Pelayanan diberikan di Puskesmas dan jaringannya dan di fasilitas BUMD/ BUMN/ swasta yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. c) Pelayanan dimulai pada kala I sampai dengan kala IV persalinan. d) Pelayanan persalinan diberikan mengikuti pedoman asuhan persalinan normal (60 langkah). Sebelum pelayanan persalinan dilakukan, kepada ibu yang akan bersalin ditawarkan pelayanan salah satu metoda kontrasepsi 2) Pelayanan kesehatan Ibu Nifas sesuai standar adalah : a) Tenaga  kesehatan  yang  memberikan  pelayanan  kesehatan  ibu  nifas  adalah   :  dokter,  bidan  dan  perawat. b) kunjungan  nifas  minimal  sebanyak  3  kali  dengan  ketentuan  waktu  :   1. Kunjungan  nifas  pertama  pada  masa  6  jam  sampai  dengan  3  hari  setelah   persalinan.   2. Kunjungan  nifas  ke  dua  dalam  waktu  hari  ke-­‐4  sampai  dengan  hari  ke-­‐ 28  setelah  persalinan.   3. Kunjungan  nifas  ke  tiga  dalam  waktu  hari  ke-­‐29  sampai  dengan  hari  ke-­‐ 42  setelah  persalinan.   c) Pelayanan  yang  diberikan  adalah  :   1. Pemeriksaan  tekanan  darah,  nadi,  respirasi  dan  suhu.     2. Pemeriksaan  tinggi  fundus  uteri  (involusi  uterus).   3. Pemeriksaan  lokhia  dan  pengeluaran  per  vaginam  lainnya.     4. Pemeriksaan  payudara  dan  anjuran  ASI  eksklusif  6  bulan.     5. Pemberian   kapsul   Vitamin   A   200.000   IU   sebanyak   dua   kali   ,   pertama    segera  setelah  melahirkan,  kedua  diberikan  setelah  24  jam  pemberian   kapsul  Vitamin  A  pertama.
  32. 32.   29 6. Pelayanan  KB  pasca  salin  adalah  pelayanan  yang  diberikan  kepada  Ibu   yang  mulai  menggunakan  alat  kontrasepsi  langsung  sesudah  melahirkan   (sampai  dengan  42  hari  sesudah  melahirkan) 3) Apabila dalam proses persalinan terdapat kelainan, maka wajib dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menangani dengan menyertakan partograf ibu. 4) Apabila dalam pelayanan nifas terdapat kelainan, maka wajib dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menangani nya. b. Definisi Operasional Capaian  kinerja  Pemerintah  Daerah  Kabupaten/Kota  dalam  memberikan  pelayanan   persalinan   dan   pelayanan   nifas   pada   ibu   yang   akan   melahirkan   dinilai   dari   persentase  ibu  bersalin  yang  memperoleh  pelayanan  persalinan  dan  pelayanan  nifas   sesuai  standar  di  wilayah  kerja  nya  dalam  kurun  waktu  satu  tahun.  
  33. 33.   30 c. Rumus Perhitungan Kinerja     Persentase Ibu Bersalin Mendapatkan Pelayanan Persalinan Sesuai Standar   = Jumlah ibu bersalin memperoleh pelayanan persalinan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah ibu bersalin yang membutuhkan pelayanan di wilayah kerja kabupaten/kota dalam kurun waktu satu tahun yang sama Persentase Ibu Nifas Mendapatkan Pelayanan Nifas Sesuai Standar   = Jumlah ibu Nifas memperoleh pelayanan nifas sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah ibu nifas yang membutuhkan pelayanan di wilayah kerja kabupaten/kota dalam kurun waktu satu tahun yang sama   d. Contoh Perhitungan Untuk Pelayanan Persalinan Di Kabupaten A selama setahun terdapat 130 ibu yang mendapat pelayanan persalinan dengan rincian sebagai berikut (rekapitulasi akhir tahun):
  34. 34.   31 Jenis pelayanan Jumlah Sesuai standard Tidak sesuai standar Keterangan Bersalin oleh dukun 30 0 30 Tidak dihitung, tetapi sebagai bahan promosi berikutnya Bersalin oleh tenaga kesehatan di Rumah 20 0 20 Tidak dihitung, karena tidak bersalin di Puskesmas dan jaringannya. Tetapi dipakai sebagai bahan promosi Puskesmas Bersalin di Polindes dan puskesmas 30 30 0 Bersalin di fasilitas kesehatan BUMD/BUMN Swasta yang bekerja sama 35 35 0 Dirujuk 5 5 0 Dihitung, karena sesuai pedoman, bila ada komplikasi diluar kompetensi puskesmas harus dirujuk Bersalin di Rumah Bersalin atau Bidan Praktek Mandiri (BPM) yang bekerja sama dengan Pemda 10 10 Dihitung sebagai fasilitas yang disediakan oleh Pemda Jumlah 130 80 20 Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam memberikan pelayanan persalinan pada tahun itu adalah 80/130 atau 61%. Untuk Pelayanan Nifas Dari 130 ibu diatas, pelayanan persalinan yang diterima adalah sbb:
  35. 35.   32 Jenis pelayanan Jumlah Standar Pelayanan Nifas Keterangan sesuai Tidak sesuai Bersalin oleh dukun 15 15 15 15 orang tidak sempat ditangani pada waktu kunjungan pertama Bersalin oleh tenaga kesehatan di Rumah 20 20 Mesti bersalinan di rumah pelayanan nifasnya lengkap Bersalin di Polindes dan puskesmas 30 30 0 pelayanan nifasnya lengkap Bersalin di fasilitas kesehatan BUMD/BUMN Swasta yang bekerja sama 35 35 0 pelayanan nifasnya lengkap Dirujuk 5 5 0 pelayanan nifasnya lengkap Bersalin di Rumah Bersalin atau Bidan Praktek Mandiri (BPM) yang bekerja sama dengan Pemda 10 10 pelayanan nifasnya lengkap Jumlah 130 115 15 Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam memberikan pelayanan persalinan pada tahun itu adalah 115/130 atau 88,5%. e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan persalinan dan pelayanan nifas sesuai standar di wilayah kerjanya adalah 100 persen. f. Sumber Data 1) Formulir Persalinan; 2) Formulir Partograf; 3) Formulir Rujukan; 4) Laporan Puskesmas. g. Rujukan 1) Standar Pelayanan Kebidanan, tahun 2003;
  36. 36.   33 2) Kepmenkes tentang Buku KIA; 3) Buku Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS – KIA), tahun 2010; 4) Buku Penyeliaan Fasilitatif Pelayanan KIA, tahun 2010; 5) Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal (APN), tahun 2012; 6) Buku Pedoman Kemitraan Bidan dan Dukun, tahun 2012; 7) Buku Pedoman Rumah Tunggu Kelahiran, tahun 2012; 8) Buku pedoman Imunisasi tahun 2013. h. SDM 1) Dokter. 2) Bidan. 6. Persentase Bayi Baru Lahir Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Sesuai Standar Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib memberikan pelayanan kesehatan bayi baru lahir di wilayah kerja Kabupaten/Kota tersebut. a. Pengertian 1) Pelayanan kesehatan bayi baru lahir adalah pelayanan kepada bayi baru pada kurun waktu setelah lahir sampai dengan 28 hari setelah lahir sesuai standar. 2) Pelayanan kesehatan bayi baru lahir sesuai standar adalah : a) Pelayanan kesehatan bayi baru lahir diberikan dalam 48 jam pertama oleh dokter atau bidan atau perawat sesuai kewenangannya. b) Pelayanan diberikan di Puskesmas dan jaringannya dan di fasilitas BUMD/ BUMN/ swasta yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. c) Pelayanan dilakukan dengan menggunakan algoritma Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) sesuai formulir MTBM dan Pedoman Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. 3) Bayi baru lahir yang mempunyai risiko tinggi dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menanganinya dan tidak dihitung sebagai kunjungan sesuai kriteria. yhanuar 8/25/15 7:57 PM Deleted: di Puskesmas dan Jaringannya
  37. 37.   34 b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan paket pelayanan kesehatan bayi baru lahir sesuai standar dinilai dari persentase jumlah bayi baru lahir yang memperoleh paket pelayanan kesehatan sesuai standar di wilayah kerja kabupaten/kota tersebut dalam kurun waktu satu tahun. c. Rumus Perhitungan Kinerja Persentase Bayi Baru Lahir Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Sesuai Standar = Jumlah bayi baru lahir yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun X 100 %Jumlah bayi baru lahir yang membutuhkan pelayanan dalam kurun waktu satu tahun yang sama d. Contoh Perhitungan Di Kabupaten A jumlah kunjungan bayi baru lahir (0-48 jam) selama setahun adalah sebagai berikut (rekapitulasi akhir tahun): Jenis kunjungan Jumlah yang membutuhkan pelayanan Mendapatkan pelayanan Sesuai standard Keterangan Bayi lahir di rumah dikirim sebelum usia 48 jam 10 10 Bayi lahir di rumah dikirim setelah usia 48 jam 20 0 Tidak dihitung, karena setalah 48 jam dan menjadi bahan promosi Bayi lahir di polindes dan puskesmas 30 30 Bayi lahir di fasilitas kesehatan BUMD/BUMN/Swasta yang bekerja sama 30 30 Bayi lahir risiko tinggi dirujuk 10 10 Jumlah 100 80
  38. 38.   35 Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam memberikan pelayanan bayi baru lahir di Puskesmas dan jaringannya pada tahun itu adalah 80/100 atau 80%. e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada bayi baru lahir sesuai standar adalah 100 persen. f. Sumber Data 1) Register Kohort Bayi. 2) Buku KIA. 3) Laporan Puskesmas. g. Rujukan 1) Buku Saku Pelayanan Kesehatan Neonatal Essensial. 2) Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak– 2009. 3) Buku modul dan bagan MTBM. 4) Kepmenkes tentang Buku KIA. h. SDM 1) Dokter 2) Bidan 3) Perawat 7. Persentase Usia Bawah Lima Tahun (Balita) Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Sesuai Standar Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib memberikan pelayanan kesehatan pada anak usia balita sesuai standar di wilayah kerjanya. a. Pengertian 1) Pelayanan Kesehatan Balita sesuai standar adalah : yhanuar 8/25/15 7:59 PM Formatted: Heading 3 yhanuar 8/25/15 7:59 PM Deleted: di Puskesmas dan Jaringannya
  39. 39.   36 a) Pelayanan kesehatan Balita diberikan oleh Dokter, Bidan, Perawat, Tenaga Gizi sesuai kewenangannya; b) Pelayanan kesehatan Balita diberikan di Puskesmas dan Jaringannya dan di fasilitas BUMD/ BUMN/ swasta yang bekerja sama dengan pemerintah daerah; c) Pelayanan Kesehatan Balita meliputi : (1) pemantauan pertumbuhan dan perkembangan; (2) pemberian kapsul vitamin A; (3) pemberian imunisasi dasar lengkap dan imunisasi lanjutan; (4) Pemberian PMT untuk balita gizi kurang; (5) Penanggulangan Balita sakit; 2) Balita adalah anak usia 0 – 59 Bulan. 3) Untuk balita usia 0 – 23 bulan, standar pemantauan pertumbuhan adalah 1 bulan sekali. 4) Untuk usia balita pelayanan stimulasi deteksi dini perkembangan anak setiap 6 bulan. 5) Deteksi penyimpangan pertumbuhan adalah pengukuran antropometri yang meliputi pengukuran berat badan/tinggi badan atau berat badan/panjang badan (BB/TB atau BB/PB), Tinggi Badan/Panjang Badan menurut umur dan Lingkaran Kepala Anak (LKA). 6) Deteksi penyimpangan perkembangan dilakukan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) yang meliputi motorik kasar, motorik halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian; Tes Daya Dengar (TDD), Test Daya Lihat, 7) Deteksi gangguan mental emosional dan perilaku dengan menggunakan ceklist : -­‐ Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME), -­‐ Checklist or Autisme in Toddler (CHAT) dan -­‐ Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas. 8) Imunisasi Dasar meliputi HB0, BCG, Polio 1, DPT-HB-Hib 1, Polio 2, DPT-HB-Hib 2, Polio 3, DPT-HB-Hib 3, Polio 4 dan Campak. 9) Imunisasi Lanjutan meliputi : DPT-HB-Hib dan Campak 10) Balita gizi kurang adalah balita dengan status gizi berdasarkan indeks Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) dengan nilai z-score -2 standar deviasi sampai dengan <-3 standar deviasi (kurus). 11) Balita pendek adalah balita dengan status gizi berdasarkan indeks Panjang Badan atau Tinggi Badan menurut umur (PB/U atau TB/U) dengan nilai z-score < -2 standar deviasi. 12) Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) adalah makanan atau minuman padat gizi bagi bayi dan anak berusia 6-23 bulan untuk
  40. 40.   37 memenuhi kebutuhan gizi selain ASI. Prinsip MP-ASI bukan menggantikan ASI tetapi melengkapi ASI setelah bayi berusia 6 bulan. 13) Makanan tambahan pemulihan adalah Makanan tambahan untuk anak gizi kurang usia 6-59 bulan, baik berupa MP-ASI berbasis pangan lokal atau MP-ASI pabrikan. a. MP-ASI lokal adalah makanan tambahan pendamping Air Susu Ibu untuk balita usia 6-59 bulan yang dibuat dari bahan makanan setempat dan mudah diperoleh dengan harga terjangkau yang diolah di rumah tangga. b. MP-ASI pabrikan adalah makanan tambahan pendamping Air Susu Ibu padat gizi untuk balita 6-59 bulan yang dibuat oleh pabrik atau perusahaan makanan dan minuman di Indonesia sesuai spesifikasi yang telah ditentukan. 14) Pemberian Makanan Tambahan (PMT) diberikan setiap hari selama 90 hari, hanya sebagai tambahan terhadap makanan yang dikonsumsi dan bukan sebagai pengganti makanan utama. 15) Balita yang ditemukan dengan kelainan wajib ditangani atau dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menanganinya sesuai prosedur yang berlaku. 16) Tatalaksana balita sakit merujuk pada Modul Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. 17) Jenis pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud diatas dilakukan sesuai jadwal sebagai berikut :
  41. 41.   38 No Jenis Pelayanan Keterangan 1 Penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan dan pemantauan pertumbuhan 0-23 bl = setiap bulan 24-59 bl = minimal 4 kali setahun 2 Pemantauan perkembangan Jadwal pemantauan perkembangan sesuai usia anak 3 Pemberian kapsul Vit A 6 – 11 bulan : kapsul biru 12 – 23 bulan : kapsul merah Jadwal pemberian Kapsul Vit A sesuai usia anak 4 Imunisasi dasar : HB0, BCG, Polio 1, DPT-HB- Hib 1, Polio 2, DPT-HB-Hib 2, Polio 3, DPT-HB- Hib 3, Polio 4 dan Campak Jadwal imunisasi sesuai pedoman imunisasi anak 5 Pemberian Imunisasi Lanjutan : DPT-HB-Hib dan Campak Jadwal imunisasi sesuai usia anak 6 Penanganan Balita Kurang Gizi Pemberian PMT selama 90 hari sejak datang ke Puskesmas dan Jaringannya 7 Penanganan Balita Sakit Penanganan awal sesuai kompetensi mengikuti MTBS b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan paket pelayanan kesehatan balita dinilai dari persentase balita yang memperoleh pelayanan kesehatan balita sesuai standar sesuai umurnya di wilayah kerjanya dalam kurun waktu satu tahun. c. Rumus Perhitungan Kinerja   Persentase Usia Bawah Lima Tahun (Balita) Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Sesuai Standar = Jumlah balita yang memperoleh pelayanan kesehatan balita sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah balita yang membutuhkan pelayanan kesehatan dalam kurun waktu satu tahun yang sama d. Contoh Perhitungan Sebuah fasilitas kesehatan di Kabupaten/Kota A melaporkan kegiatan pelayanan kesehatan balita selama setahun adalah sebagai berikut (rekapitulasi akhir tahun):
  42. 42.   39 Jenis kunjungan Jumlah pengunjung Sesuai standar Keterangan Usia 0-11 bulan 30 30 Semua datang setiap bulan, mendapatkan seluruh pelayanan kesehatan sesuai standar, yang kurang gizi juga mendapat pelayanan PMT sesuai standar, yang sakit ditangani sesuai pedoman MTBS Usia 12-23 bulan 30 30 Semua datang setiap bulan, mendapatkan seluruh pelayanan sesuai standar, yang kurang gizi juga mendapat pelayanan PMT sesuai standar, yang sakit ditangani sesuai pedoman MTBS Usia 24 – 35 bulan 30 30 Mendapatkan seluruh pelayanan kesehatan sesuai standar, yang kurang gizi juga mendapat pelayanan PMT sesuai standar, yang sakit ditangani sesuai pedoman MTBS Usia 36 – 47 bulan 30 30 Mendapatkan seluruh pelayanan kesehatan sesuai standar, yang kurang gizi juga mendapat pelayanan PMT sesuai standar, yang sakit ditangani sesuai pedoman MTBS Usia 48 – 59 bulan 30 25 Ada lima balita yang datang kurang dari standar Jumlah 150 145 Rekapitulasi dari seluruh fasilitas kesehatan di Kabupaten/Kota A tentang pelayanan kesehatan balita adalah sebagai berikut (rekapitulasi akhir tahun): Fasilitas Kesehatan* Jumlah pengunjung Sesuai standar Keterangan A 150 145 5 anak balita tidak terpantau sesuai standar B 150 140 10 anak kurang gizi tidak tertangani sesuai standar C 200 200 D 100 100 Kabupaten/Kota 600 585 Catatan: yang dimaksud fasiitas kesehatan disini meliputi fasilitas kesehatan milik Pemerintah Daerah dan fasilitas kesehatan BUMD/BUMN, Swasta yang bekerja sama dng Pemerintah Daerah Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam memberikan pelayanan kesehatan balita pada tahun itu adalah = 585/600 x 100 % = 97.5 %.
  43. 43.   40 e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam upaya pelayanan kesehatan usia balita adalah 100 persen. f. Sumber Data 1) Laporan Puskesmas. 2) Laporan Fasilitas Kesehatan BUMD/BUMN dan Swasta 3) Register Kohort Bayi. 4) Register Kohort Anak Balita & PraSatuan. 5) Buku KIA. 6) Laporan khusus MP-ASI, R-1 gizi, LB3-SIMPUS. g. Rujukan 1) Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak ditingkat pelayanan kesehatan dasar 2) Instrumen Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak 3) Pedoman Penanganan Kasus Rujukan Kelainan Tumbuh Kembang Balita 4) Buku Kesehatan Ibu dan Anak 5) Pedoman Kader Kesehatan Anak 6) Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak 7) Buku pedoman imunisasi 8) Kepmenkes 1625/Menkes/SK/XII/2005 tentang Pedoman Pemantauan dan Penanggualangan KIPI 9) Permenkes 42 Thn 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi 10) Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 224/Menkes/SK/II/2007 tentang Spesifikasi Teknis Makanan Pendamping Air Susu Ibu 11) Dit. Bina Gizi Masyarakat, Departemen Kesehatan RI, 2002, Pedoman Pengelolaan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) 12) Direktorat Bina Gizi, Ditjen Bina Gizi dan KIA, 2013, Pedoman Pemberian Makanan Pendamping ASI Berbasis Pangan Lokal. 13) Dit.Bina Gizi Masyarakat, Kemenkes RI, 2010, Panduan Pengelolaan MP-ASI Buffer stok. 14) Dit.Bina Gizi Masyarakat, Kemenkes RI, 2012, Panduan PMT Balita Gizi kurang dan Ibu Hamil KEK (Bantuan Operasional Kesehatan). 15) Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer.
  44. 44.   41 16) Manajemen Terpadu Balita Sakit (Modul 1-7) Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008. h. SDM 1) Dokter 2) Bidan 3) Perawat 4) Nutrisionis 8. Persentase Siswa Satuan Pendidikan Dasar Mendapatkan Skrining Kesehatan Sesuai Standar Pemerintah Kabupaten/Kota wajib melakukan skrining kesehatan kepada siswa Satuan Pendidikan Dasar sesuai standar di seluruh Satuan Pendidikan Dasar di kabupaten/kota. a. Pengertian 1) Yang dimaksud Satuan Pendidikan Dasar adalah SD, SMP dan yang sederajat baik milik pemerintah maupun swasta. 2) Skrining kesehatan sesuai standar adalah : a) Pelayanan skrining kesehatan diberikan oleh Tenaga Kesehatan Puskesmas, Guru dan Kader atau tenaga kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat b) Pelayanan skrining kesehatan pada siswa kelas 1 dan 7, c) Pelayanan skrining kesehatan diberikan di Satuan Pendidikan Dasar dan mengikuti petunjuk teknis Penjaringan Kesehatan Anak Satuan Pendidikan Dasar. d) Pelayanan skrining kesehatan satu kali dalam 1 tahun. e) Pelayanan skrining dilakukan adalah : (1) keadaan kesehatan umum (2) penilaian status gizi (Tinggi Badan, Berat Badan, tanda anemia); (3) pemeriksaan gigi dan mulut, minimal melihat karies; (4) pemeriksaan indera penglihatan dengan poster snellen; (5) Pemeriksaan ketajaman indera pendengaran; (6) Pemeriksaan gangguan mental emosional dan perilaku menggunakan kuesioner;
  45. 45.   42 3) Skrining dapat dilakukan oleh fasilitas kesehatan BUMD/swasta yang bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat 4) Skrining dilakukan dalam rangka upaya deteksi dini masalah kesehatan siswa Satuan di kabupaten/kota. 5) Siswa yang didapati mempunyai kelainan wajib ditangani atau dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menanganinya sesuai dengan kelainan yang ditemukan. b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan Skrining Kesehatan Siswa Satuan Pendidikan Dasar dinilai dari persentase jumlah siswa kelas 1 dan kelas 7 yang mendapat skrining kesehatan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun. c. Rumus Perhitungan Kinerja   Persentase Siswa Satuan Pendidikan Dasar Mendapatkan Skrining Kesehatan Sesuai Standar = Jumlah siswa Pendidikan Dasar kelas 1 dan kelas 7 yang mendapat pelayanan skrining pelayanan kesehatan sesuai standar di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah seluruh siswa Pendidikan Dasar kelas 1 dan kelas 7 di wilayah kerja dalam satu tahun yang sama d. Contoh Perhitungan Di seluruh kabupaten A terdapat 50 Satuan Pendidikan Dasar milik Pemerintah Daerah dan 50 Satuan Pendidikan Dasar milik Swasta . Jumlah seluruh siswa Pendidikan Dasar kelas 1 dan kelas 7 di kabupaten/kota itu 3000 siswa. Sebanyak 98 Satuan dilakukan Skrining Kesehatan. Sebanyak 2900 siswa mendapatkan pelayanan skrining kesehatan sesuai standar. Dalam hal ini yang dihitung adalah jumlah anak yang mendapat pelayanan skrining kesehatan. Jumlah Satuan dipergunakan sebagai bahan perencanaan program skrining kesehatan tahun berikutnya. Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam memberikan pelayanan skrining kesehatan siswa Satuan Pendidikan Dasar sesuai standar adalah = 2900/3000 x 100 % = 96.67 %. e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan Skrining Kesehatan siswa Pendidikan Dasar
  46. 46.   43 Sesuai Standar adalah 100 persen. f. Sumber Data 1) Laporan Hasil Skrining Kesehatan Siswa Satuan Pendidikan Dasar oleh fasilitas kesehatan. 2) Laporan Tim Pembina UKS Kabupaten/Kota. 3) Laporan TP UKS Kabupaten/Kota. 4) Rapor Kesehatanku untuk peserta didik SD/MI dan Rapor Kesehatanku untuk peserta didik SMP/MTs, SMA/MA/SMK. 5) Data Dinas Pendidikan Setempat. 6) Data Kantor Departemen Agama Setempat. g. Rujukan 1) Petunjuk Teknis Penjaringan Kesehatan Anak Satuan Dasar, Direktorat Bina Kesehatan Anak, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, Tahun 2010. 2) Petunjuk Teknis Penjaringan Kesehatan Anak Satuan Lanjutan. Jakarta : Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masayarakat 2010 3) Pedoman Kesehatan Jiwa. 4) Rapor Kesehatan Ku untuk peserta didik SD/MI dan Rapor Kesehatan Ku untuk peserta didik SMP/MTs, SMA/MA/SMK. h. SDM 1) Dokter/Dokter gigi 2) Perawat 3) Perawat Gigi atau tenaga terlatih 4) Bidan 5) Nutrisionis/Tenaga Gizi 6) Tenaga kesehatan swasta yang relevan 9. Persentase Usia 15 – 19 tahun Mendapatkan Skrining Kesehatan Sesuai Standar
  47. 47.   44 Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib memberikan Skrining Kesehatan Sesuai Standar pada warga usia 15 – 19 tahun. a. Pengertian 1) Pelayanan skrining kesehatan usia 15 – 19 tahun sesuai standar adalah: a) Pelayanan skrining kesehatan usia 15 – 19 tahun diberikan, sesuai kewenanganya, oleh (1) Dokter; (2) Bidan; (3) Perawat; (4) Nutrisionis/Tenaga Gizi; b) Pelayanan skrining kesehatan usia 15 – 19 tahun dilakukan di Puskesmas dan Jaringannya dan di fasilitas BUMD/ BUMN/ swasta yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. c) Pelayanan skrining kesehatan usia 15 – 19 tahun dilakukan satu tahun sekali, diprogramkan sesuai dengan strategi setempat agar seluruh sasaran tercapai sesuai dengan kondisi sosial geografis wilayah. d) Sasaran skrining kesehatan adalah seluruh penduduk yang berusia 15 – 19 tahun. e) Pelayanan skrining kesehatan usia 15 – 19 tahun meliputi : (1) Kondisi kesehatan secara umum (2) Deteksi kemungkinan Kekurangan Gizi dan Obesitas dilakukan dengan memeriksa Tinggi Badan dan Berat Badan. (3) Deteksi Hipertensi dengan memeriksa tekanan darah. (4) Deteksi kemungkinan Diabetes Mellitus menggunakan tes cepat gula darah. (5) Deteksi kesehatan reproduksi dan Infeksi Menular Seksual. (6) Deteksi Gangguan Mental Emosional Dan Perilaku. 2) Penderita yg ditemukan menderita kelainan wajib ditangani atau dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menanganinya. b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan skrining kesehatan warga berusia Usia 15 – 19 tahun adalah persentase penduduk Usia 15 – 19 tahun yang mendapat pelayanan skrining kesehatan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun. c. Rumus Perhitungan Kinerja
  48. 48.   45 Persentase Usia 15 – 19 tahun Mendapatkan Skrining Kesehatan Sesuai Standar = Jumlah penduduk berusia 15 – 19 tahun mendapat pelayanan skrining kesehatan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah penduduk berusia 15 – 19 tahun yang membutuhkan skrining kesehatan dalam kurun waktu satu tahun yang sama. d. Contoh Perhitungan Di Kabupaten A terdapat 60000 penduduk ber usia 15 – 19 tahun. Rincian penduduk yang mendapat skrining kesehatan di berbagai fasilitas kesehatan adalah sebagai berikut : Fasilitas Kesehatan Skrining kesehatan Sesuai standar Keterangan (a) (b) (c) (d) Puskesmas dan jaringannya 30000 27000 Ada 2000 orang tidak mendapat pemeriksaan DM dan 1000 tidak mendapat pemeriksaan hb RSUD 10000 10000 Fasilitas Kesehatan BUMD 10000 10000 Fasilitas Kesehatan Swasta 10000 9000 1000 tidak ada skrining mental Jumlah 60000 56000 Hasil rekapitulasi pada tahun itu, penduduk usia 15-19 th sebanyak 60000 orang. Sebanyak 56000 orang mendapat pemeriksaan skrining kesehatan sesuai standar. Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam memberikan pelayanan skrining kesehatan warga usia 15 – 19 tahun adalah 56000/60000 x 100 % = 93,3 %. e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam pelayanan skrining kesehatan Sesuai Standar pada penduduk yang berusia 15 – 19 tahun yang membutuhkan pelayanan skrining di wilayah kerja adalah 100 persen.
  49. 49.   46 f. Sumber Data 1) Laporan fasilitas kesehatan. 2) Rapor Kesehatan Ku untuk peserta didik SD/MI dan Rapor Kesehatan Ku untuk peserta didik SMP/MTs, SMA/MA/SMK. g. Rujukan 1) Pedoman Penjaringan Kesehatan Anak Satuan Lanjutan. 2) Pedoman Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja. 3) Rapor Kesehatan Ku untuk peserta didik SD/MI dan Rapor Kesehatan Ku untuk peserta didik SMP/MTs, SMA/MA/SMK. 4) Buku Kesehatan Reproduksi bagi Guru SMA. 5) Pedoman Umum Pengendalian Obesitas, Jakarta:Departemen Kesehatan RI. 6) Manual Peralatan Skrining dan Monitoring Faktor Risiko Diabetes Mellitus dan Penyakit Metabolik Lainnya, Jakarta:Departemen Kesehatan RI. 7) Petunjuk Teknis Pengukuran Faktor Risiko Diabetes Mellitus, Edisi 2 Jakarta; Kementerian Kesehatan RI. 8) Kempenkes RI Nomor 854/Menkes/SK/IX/2009 tentang Pedoman Pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah 9) Pedoman Pengukuran Tekanan Darah 10) Pedoman Pengendalian Hipertensi 11) Konsensus Pengelolaan Diabetes Mellitus di Indonesia. Jakarta:Sekretariat PB.Perkeni. 12) Pedoman Kesehatan Jiwa. h. SDM 1) Dokter 2) Bidan 3) Perawat 4) Nutrisionis/Tenaga Gizi
  50. 50.   47 10. Persentase Usia 20 – 59 Tahun Mendapatkan Skrining Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Sesuai Standar Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib memberikan pelayanan skrining kesehatan dan pelayanan kesehatan reproduksi sesuai standar pada warga dewasa (20 - 59 tahun) yang membutuhkan. Pelayanan yang wajib disediakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam hal ini adalah skrining kesehatan, pelayanan kesehatan reproduksi, deteksi dini kanker payudara, dan kanker leher rahim pada wanita. a. Pengertian 1) Pelayanan skrining kesehatan Usia 20-59 tahun sesuai standar adalah : a) Pelayanan skrining kesehatan Usia 20-59 tahun dilakukan, sesuai kewenangan, oleh : (1) Dokter; (2) Bidan; (3) Perawat; (4) Nutrisionis/Tenaga Gizi. b) Pelayanan skrining kesehatan Usia 20-59 tahun diberikan di Puskesmas dan jaringannya dan di fasilitas BUMD/ BUMN/ swasta yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. c) Materi Skrining adalah; (1) Kondisi kesehatan secara umum; (2) Deteksi kemungkinan Kurang Gizi dan Obesitas dilakukan dengan memeriksa Tinggi Badan dan Berat Badan dan lingkar perut; (3) Deteksi Hipertensi dengan memeriksa tekanan darahnya; (4) Deteksi kemungkinan Diabetes Mellitus menggunakan tes cepat gula darah; (5) Deteksi Gangguan Mental Emosional dan Perilaku; (6) Deteksi Gangguan kesehatan Reproduksi dan Infeksi Menular Seksual atas indikasi; (7) Deteksi dini kanker payudara, dan kanker leher rahim pada seluruh pengunjung wanita berusia 30-59 tahun. d) Pelayanan Kesehatan Reproduksi yang diberikan menggunakan Pedoman Medis yang berlaku. 2) Pelayanan Kesehatan Reproduksi yang disediakan sesuai kebutuhan adalah : a) Konseling tentang kesehatan reproduksi; b) Konseling Kesehatan untuk Pasangan Usia Subur (PUS) risiko tinggi;
  51. 51.   48 c) Pelayanan salah satu metoda kontrasepsi. 3) Deteksi dini kanker pada wanita dilakukan pada pengunjung wanita berusia 30-59 tahun : a) Deteksi dini Kanker pada wanita adalah Deteksi Dini terhadap kemungkinan menderita Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim. b) Deteksi dini kanker payudara dilakukan menggunakan pemeriksaan klinis payudara/Clinical Breast Examination (CBE). c) Deteksi dini kanker leher rahim hanya dilakukan dengan metode tes Inspeksi Visual Asam asetat (IVA) 4) Bila menghendaki pelayanan Kesehatan Reproduksi yang tidak mampu dilakukan di fasilitas kesehatan setingkat Puskesmas, maka perlu dirujuk pada fasilitas yang mampu menanganinya. 5) Penderita yang ditemukan mempunyai kelainan wajib ditangani atau dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menanganinya b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan Skrining Kesehatan dan Pelayanan Reproduksi pada Warga Dewasa (20-59 tahun) adalah Persentase Warga Usia 20-59 th yang mendapat skrining kesehatan dan pelayanan reproduksi sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun. c. Rumus Perhitungan Kinerja   Persentase Usia 20 – 59 tahun Mendapatkan Skrining Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Sesuai Standar = Jumlah penduduk usia 20 - 59 tahun yang dilakukan skrining kesehatan dan pelayanan kesehatan reproduksi sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah penduduk usia 20 - 59 tahun yang membutuhkan pelayanan skrining kesehatan dan pelayanan kesehatan reproduksi dalam kurun waktu satu tahun yang sama d. Contoh Perhitungan Di  Kabupaten  A  terdapat  60000    penduduk  ber  usia  20-­‐59  tahun.  Rincian  penduduk     yang  mendapat  skrining  kesehatan  di    berbagai  fasilitas  kesehatan  adalah  sebagai   berikut  :  
  52. 52.   49 Fasilitas Kesehatan Skrining kesehatan Sesuai standar Keterangan (a) (b) (c) (d) Puskesmas dan jaringannya 30000 27000 Ada 2000 orang tidak mendapat pemeriksaan DM dan 1000 tidak mendapat pemeriksaan hb RSUD 10000 10000 Fasilitas Kesehatan BUMD 10000 10000 Fasilitas Kesehatan Swasta 10000 9000 500 tidak ada skrining mental dan 500 tidak ada skrining kanker Jumlah 60000 56000 Hasil  rekapitulasi  pada  tahun  itu,  penduduk  usia  20-­‐59  th  sebanyak    60000  orang.   Sebanyak  56000  orang  mendapat  pemeriksaan  skrining  kesehatan  sesuai  standar.   Capaian   kinerja   Pemerintah   Daerah   Kabupaten   A   dalam   memberikan   pelayanan   skrining  kesehatan  penduduk  usia  20-­‐59  tahun  adalah  56000/60000  x  100  %  =  93,3   %.     e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota memberikan pelayanan skrining kesehatan dan pelayanan kesehatan reproduksi sesuai standar warga dewasa adalah 100 persen. f. Sumber Data 1) Laporan fasilitas kesehatan tentang pelayanan skrining kesehatan dan kesehatan reproduksi penduduk usia 20-59 th. g. Rujukan 1) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 430/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman Pengendalian Penyakit Kanker. 2) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 796/Menkes/SK/VII/2010 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim.
  53. 53.   50 h. SDM 1) Dokter 2) Bidan 3) Perawat 11. Persentase Usia 60 tahun Keatas Mendapatkan Skrining Kesehatan Sesuai Standar Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib memberikan pelayanan skrining kesehatan sesuai standar pada warga usia 60 tahun keatas yang membutukan pelayanan skrining kesehatan. a. Pengertian 1) Pelayanan skrining kesehatan Usia 60 tahun Keatas sesuai standar adalah : a) Dilakukan sesuai kewenangan oleh : (1) Dokter; (2) Bidan; (3) Perawat; (4) Nutrisionis/Tenaga Gizi; b) Diberikan pada pengunjung usia 60 tahun keatas. c) Pelayanan skrining kesehatan diberikan di Puskesmas dan jaringannya dan di fasilitas BUMD/ BUMN/ swasta yang bekerja sama dengan pemerintah daerah d) Pemeriksaan yang dilakukan sekali setahun, sebaiknya pada saat kunjungan pertama kali pada tahun berjalan. Namun juga bisa diprogramkan setiap akhir bulan untuk pengunjung bulan itu. e) Lingkup skrining adalah sebagai berikut : (1) Status kesehatan dan disabilitas secara umum menggunakan pedoman WHO (WHODAS 2) atau anamnesis dan pemeriksaan fisik. (2) Deteksi Kekurangan Gizi dan Obesitas dengan mengukur Tinggi Badan dan Berat Badan, dan lingkar perut. (3) Hipertensi dengan mengukur Tekanan Darah. (4) Deteksi Anemia dengan mengukur kadar haemoglobin. (5) Deteksi Diabetes Mellitus dengan mengukur gula darah.
  54. 54.   51 (6) Deteksi Gangguan Mental Emosional dan Perilaku, termasuk Kepikunan menggunakan Hopskins Verbal Learning Test (HVLT). 2) Diagnosis ditegakkan menggunakan pedoman medis yang berlaku. 3) Penderita yang ditemukan menderita penyakit wajib ditangani atau dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menanganinya. b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan Skrining Kesehatan pada Warga Usia 60 tahun Keatas dinilai dari persentase penduduk berusia 60 tahun keatas yang mendapat skrining kesehatan sesuai standar di wilayah kerjanya dalam kurun waktu satu tahun. c. Rumus Perhitungan Kinerja Persentase Usia 60 tahun Keatas Mendapatkan Skrining Kesehatan Sesuai Standar = Jumlah penduduk usia 60 tahun keatas mendapat skrining kesehatan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun X 100 %Jumlah penduduk usia 60 tahun keatas yang membutuhkan pelayanan skrining kesehatan dalam kurun waktu satu tahun d. Contoh Perhitungan Di  Kabupaten  A  terdapat  1000    penduduk  ber  usia  60  th  keatas.  Rincian  penduduk     yang  mendapat  skrining  kesehatan  di    berbagai  fasilitas  kesehatan  adalah  sebagai   berikut  :  
  55. 55.   52 Fasilitas Kesehatan Skrining kesehatan Sesuai standar Keterangan (a) (b) (c) (d) Puskesmas dan jaringannya 500 400 Ada 50 orang tidak mendapat pemeriksaan DM dan 50 tidak mendapat pemeriksaan hb RSUD 100 100 Fasilitas Kesehatan BUMD 100 100 Fasilitas Kesehatan Swasta 300 200 100 tidak ada skrining mental Jumlah 1000 900 Hasil  rekapitulasi  pada  tahun  itu,  penduduk  usia  60  th  keatas  sebanyak    1000  orang.   Sebanyak  900  orang  mendapat  pemeriksaan  skrining  kesehatan  sesuai  standar.   Capaian   kinerja   Pemerintah   Daerah   Kabupaten   A   dalam   memberikan   pelayanan   skrining  kesehatan  warga  usia  60  th  keatas  adalah  900/1000  atau  90  %     e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam upaya skrining kesehatan sesuai standar pada warga usia 60 tahun di wilayah kerja nya adalah 100 persen. f. Sumber Data 1) Laporan Fasilitas Kesehatan yang melakukan pelayanan skrining pada penduduk usia 60 th keatas . g. Rujukan 1) Measuring Health and Disability Manual for WHO Disability Assessment Schedule WHODAS 2.0, Editors TB Üstün, N Kostanjsek, S Chatterji, J Rehm 2) Pedoman Umum Pengendalian Obesitas, Jakarta:Departemen Kesehatan RI. 3) Manual Peralatan Skrining dan Monitoring Faktor Risiko Diabetes Mellitus dan Penyakit Metabolik Lainnya, Jakarta:Departemen Kesehatan RI.
  56. 56.   53 4) Petunjuk Teknis Pengukuran Faktor Risiko Diabetes Mellitus, Edisi 2 Jakarta; Kementerian Kesehatan RI. 5) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 854/Menkes/SK/IX/2009 tentang Pedoman Pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah 6) Pedoman Pengukuran Tekanan Darah 7) Pedoman Pengendalian Hipertensi 8) Konsensus Pengelolaan Diabetes Mellitus di Indonesia. Jakarta:Sekretariat PB.Perkeni. h. SDM 1) Dokter 2) Bidan 3) Perawat 4) Nutrisionis C. Pelayanan Pemeriksaan Penyakit Menular 12. Persentase terduga Tuberkulosis Mendapatkan Pemeriksaan Tuberkulosis Sesuai Standar Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis sesuai standar pada terduga TB di wilayahnya a. Pengertian 1) Pelayanan pemeriksaan tuberkulosis pada terduga tuberkulosis sesuai standar adalah : a) Pelayanan diberikan, sesuai kewenangannya, oleh: (1) Dokter yang terlatih Program TB; (2) Perawat yang terlatih Program TB; (3) Pranata Laboratorium kesehatan yang terlatih Mikroskopis TB; (4) Bidan yang terlatih untuk menskrining gejala TB anak; (5) Bidan di Poli anak RSUD yang terlatih untuk menskrining gejala TB anak; (6) Petugas Program TB di Dinas Kesehatan Kab/Kota. b) Pelayanan dilakukan di fasilitas yang disediakan pemerintah daerah untuk melakukan pelayanan TB, yaitu Puskesmas, RSUD, dan
  57. 57.   54 fasilitas kesehatan BUMD/swasta yang bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk pelayanan TB. c) pelayanan pemeriksaan dilakukan pada seluruh orang terduga tuberkulosis. d) Pemeriksaan yang diberikan sesuai Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis yang berlaku. 2) Terduga tuberkulosis adalah seseorang yang mempunyai keluhan atau gejala klinis mendukung tuberkulosis. 3) Gejala Utama TB adalah batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan dahak, bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa aktifitas fisik dan badan meriang lebih dari satu bulan. 4) Seluruh orang dengan gejala klinis mendukung tuberkulosis wajib diperiksa kemungkinan terkena tuberkulosis di fasilitas yang disediakan pemerintah daerah untuk pelayanan TB. 5) Penegakan Diagnosis tuberkulosis di RSUD menggunakan Pedoman Medis yang berlaku. 6) Pasien terduga TB yang didiagnosis TB perlu dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menanganinya. b. Definisi Operasional Capaian  kinerja  Pemerintah  Daerah  Kabupaten/Kota  dalam  memberikan  pelayanan   Pemeriksaan   Terduga   TB   dinilai   dari   persentase   terduga   TB   yang   mendapatkan   pemeriksaan  TB  sesuai  standar  dalam  kurun  waktu  satu  tahun.   c. Rumus Perhitungan Kinerja Persentase terduga Tuberkulosis Mendapatkan Pemeriksaan Tuberkulosis Sesuai Standar = Jumlah terduga TB yang mendapatkan pemeriksaan TB sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah terduga TB di wilayah kerja dalam kurun waktu satu tahun yang sama d. Contoh Perhitungan Jumlah terduga TB di kabupaten A pada tahun 2014 adalah :
  58. 58.   55 Fasyankes Terduga Jumlah Terduga TB Total BTA 2 atau 3 spesimen BTA hanya 1 spesimen BTA + Foto toraks Foto toraks saja Penetapan Skoring (pada Anak) A B C D E F G H RSUD, puskesmas dan jaringannya Dewasa 4500 4415 5 25 5 - Anak 40 - - - 5 35 Faskes BUMD/Swasta Dewasa 1200 365 45 215 65 - Anak 125 - - 35 85 Total 5865 4780 50 240 110 120 Keterangan : 1. untuk kolom E dan G tidak dapat masuk hitungan karena tidak sesuai standar pemeriksaan penegakan diagnosis. 2. Sehingga didapatkan perhitungan : Jumlah terduga TB yang datang di fasilitas kesehatan diperiksa : 4780 + 240+ 120 = 5140 3. Jumlah terduga TB yang datang ke fasilitas kesehatan ; 5865 Jadi Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam memberikan pelayanan pemeriksaan TB sesuai standard pada terduga TB = = 80 %. e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan pemeriksaan TB sesuai standar pada Terduga TB adalah 100 persen. f. Sumber Data 1) Register TB (TB 06 UPK) di Puskesmas dan RSUD. 2) Register TB (TB 03 UPK) di Puskesmas dan RSUD. 3) Register TB Kab/ Kota (TB 03) di Dinkes Kab/Kota. 4) Laporan triwulan TB Puskesmas. 5) Laporan triwulan Penemuan kasus (TB 07) di Dinkes Kab/Kota. g. Rujukan %100 5865 5140 x
  59. 59.   56 1) Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 364/MENKES/SK/V/2009 tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis (TB). 2) Panduan Praktik Klinik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, IDI,Edisi I, 2013. 3) Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tuberkulosis (PNPK TB) 2013. 4) Panduan Diagnosis TB Anak dengan Sistem Scoring, Kemenkes, IDAI, 2011. 5) Pedoman Manajerial Pelayanan Tuberkulosis Dengan Strategi Dots Di Rumah Sakit. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik, Jakarta 2010. h. SDM 1) Dokter di Puskesmas yang terlatih Program TB; 2) Dokter di RSUD Kab/Kota yang terlatih Program TB; 3) Perawat di Puskesmas yang terlatih Program TB; 4) Perawat di RSUD yang terlatih Program TB; 5) Perawat RSUD Kab/Kota yang terlatih Program TB; 6) Pranata Laboratorium kesehatan di Puskesmas yang terlatih Mikroskopis TB; 7) Pranata Laboratorium kesehatan RSUD Kab/Kota yang terlatih mikroskopis TB; 8) Bidan di poli KIA Puskesmas yang terlatih untuk menskrining gejala TB anak; 9) Bidan di Poli anak RSUD yang terlatih untuk menskrining gejala TB anak; 10) Petugas Program TB di Dinas Kesehatan Kab/Kota. 13. Persentase Terduga HIV dan AIDS Mendapatkan Pemeriksaan HIV-AIDS Sesuai Standar Pemerintah   Daerah   Kabupaten/Kota   wajib   memberikan   pelayanan   pemeriksaan   HIV-­‐AIDS  sesuai  standar  terhadap  terduga    HIV  dan  AIDS  di  wilayahnya.   a. Pengertian 1) Pemeriksaan HIV-AIDS Sesuai Standar adalah : a) Diberikan oleh : (1) Dokter/Dokter gigi. (2) Tenaga Kesehatan terlatih. (3) Pranata Laboratorium kesehatan b) Pemeriksaan dilakukan menggunakan alat tes sesuai standar Nasional yang telah ditetapkan.
  60. 60.   57 2) Pemeriksaan ini ditawarkan secara aktif (KTHIV) oleh petugas kesehatan kepada seseorang yang terduga terinfeksi HIV dan AIDS dan kepada kelompok beresiko yaitu: a) pasien Infeksi Menular Seksual seperti suspect dan terdiagnosis syphilis, gonorrhoe, chlamidia, vaginosis (keputihan tidak wajar) dan pasangannya, b) pengguna narkoba suntik/stimulan, c) pasien tuberkulosis, d) warga binaan lembaga pemasyarakatan, e) pasangan orang HIV, pekerja seks, waria, laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), laki-laki berisiko tinggi (LBT), f) buruh migran (TKI, TKW) 3) Pemeriksaan ini juga ditawarkan secara aktif kepada ibu hamil pada waktu datang untuk pemeriksaan kehamilan pertama kali 4) Penderita yang ditemukan menderita penyakit tersebut wajib dirujuk ke fasilitas yang mampu menanganinya untuk mendapat pelayanan rujukan dan Konseling tentang HIV dan AIDS bagi penderita dan pasangannya. b. Definisi Operasional Capaian  kinerja  Pemerintah  Daerah  Kabupaten/Kota  dalam  memberikan  pelayanan   Pemeriksaan  Terduga  HIV  dan  AIDS  dinilai  dari  persentase  Terduga  HIV  dan  AIDS   yang   yang   mendapatkan   pemeriksaan   HIV   dan   AIDS   sesuai   standar   dalam   kurun   waktu  satu  tahun.   c. Rumus Perhitungan Kinerja   Persentase   Terduga   HIV   dan   AIDS   Mendapatkan   Pemeriksaan   HIV-­‐ AIDS     = Jumlah   orang   terduga   HIV   dan   AIDS   yang   mendapat   pemeriksaan   sesuai   standar   Nasional   dalam   kurun   waktu   satu  tahun   X 100 % Jumlah   terduga   HIV   dan   AIDS   dalam   kurun  waktu  satu  tahun  yang  sama   d. Contoh Perhitungan Jumlah orang terduga HIV dan AIDS di Kabupaten A pada tahun 2012 sebanyak 100 orang. Jumlah orang terduga HIV dan AIDS yang mendapat pemeriksaan sesuai standar sebanyak 90 orang. Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam memberikan pelayanan Pemeriksaan terduga HIV dan AIDS adalah = 90/100 x 100% = 90%.
  61. 61.   58 e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam upaya pemeriksaan Terduga HIV dan AIDS adalah 100 persen. f. Sumber Data 1) Laporan Puskesmas 2) Laporan RSUD Kab/Kota 3) Laporan Hasil Pemeriksaan Laboratorium di Laboratorium Puskesmas 4) Laporan Hasil Pemeriksaan Laboratorium di RSUD. 5) Register HIVdanAIDS di Puskesmas dan RSUD. 6) Laporan triwulan Penemuan kasus di Dinkes Kab/Kota. g. Rujukan 1) Peraturan Pemerintah RI No. 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan 2) Peraturan Pemerintah RI No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal 3) Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 2011 tentang Pelayanan Darah 4) Perpres No 72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional. 5) Permenkes No 21 tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS 6) Permenkes No 74 tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Konseling dan Tes HIV. 7) Permenkes No 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. 8) Permenkes no 87 tahun 2014 tentang Pedoman Pengobatan Anti Retroviral. 9) Pedoman Layanan Komprehensif Berkesinambungan. 10) Pedoman Eliminasi Stigma dan Diskriminasi 11) Pedoman Pencegahan HIV-AIDS bagi Kab-Kota. 12) Pedoman Logistik Penanggulangan HIV-AIDS & IMS. 13) Pedoman Surveilans Sentinel HIV. h. SDM 1) Dokter/Dokter gigi. 2) Tenaga Kesehatan terlatih. 3) Pranata Laboratorium kesehatan.
  62. 62.   59 D. Pelayanan Kesehatan Lingkungan dan Respons Verifikasi terhadap SKDR 14. Persentase Satuan Pendidikan Dasar Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib memberikan pelayanan Kesehatan lingkungan di Satuan Pendidikan Dasar di wilayahnya. a. Pengertian 1) Pelayanan kesehatan lingkungan di Satuan Pendidikan Dasar adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan di Satuan Pendidikan Dasar . 2) Kesehatan lingkungan adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial. 3) Satuan Pendidikan Dasar adalah Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan yang sederajat. 4) Pelayanan Kesehatan Lingkungan pada Satuan Pendidikan Dasar sesuai standar adalah : a) Pelayanan ini dilakukan oleh Tenaga Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Puskesmas. b) Pelayanan ini dilakukan minimal dua kali dalam kurun waktu satu tahun untuk setiap sasaran. c) Sasaran pelayanan ini dilakukan pada seluruh Satuan Pendidikan Dasar di wilayah kabupaten/kota. d) Pelayanan ini mencakup pengamatan dan penilaian kesehatan lingkungan di Satuan Pendidikan Dasar yang meliputi: (1) pengelolaan higiene dan sanitasi pangan, (2) pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit, dan (3) kualitas udara dalam ruang, dengan memberikan rekomendasi tindak lanjut. 5) Pelaksanaan pelayanan ini dilakukan melalui inspeksi Kesehatan Lingkungan dengan memberikan rekomendasi tindak lanjut. b. Definisi Operasional
  63. 63.   60 Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan kesehatan lingkungan di Satuan Pendidikan Dasar dinilai dari persentase Satuan Pendidikan Dasar yang mendapatkan pelayanan kesehatan lingkungan minimal dua kali dalam kurun waktu satu tahun.
  64. 64.   61 c. Rumus Perhitungan Kinerja Persentase Satuan Pendidikan Dasar Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Lingkungan = Jumlah Satuan Pendidikan Dasar mendapatkan pelayanan kesehatan lingkungan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah Satuan Pendidikan Dasar yang ada di wilayah kabupaten/kota dalam kurun waktu satu tahun yang sama d. Contoh Perhitungan Pada tahun 2015, di Kabupaten A terdapat 50 Satuan Pendidikan Dasar. Dari data tersebut yang mendapatkan pelayanan kesehatan lingkungan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun adalah 40 Satuan Pendidikan Dasar. Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam memberikan pelayanan kesehatan lingkungan sesuai standar di Satuan Pendidikan Dasar adalah = (40)/(50) x 100% = 80%. e. Target Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan kesehatan lingkungan sesuai standar di Satuan Pendidikan Dasar adalah 100 persen. f. Sumber Data 1) Laporan Puskesmas. g. Rujukan 1) Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan; 2) Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan; 3) Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan; 4) Permenkes RI Nomor 2 Tahun 2013 tentang Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan; 5) Permenkes Nomor 1077/Menkes/PER/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah;
  65. 65.   62 6) Permenkes RI Nomor 374/Menkes/PER/III/2010 tentang Pengendalian Vektor; 7) Kepmenkes RI No 1429 /Menkes/SK/XII/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah 8) Kepmenkes RI No 288 /Menkes/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum 9) Kepmenkes RI No 942 /Menkes/SK/VII/2003 tentang Pedoman Persyaratan Higiene Sanitasi Makanan Jajanan 10)Kepmenkes RI No 1098 /Menkes/SK/VII/2005 tentang Persyaratan Higiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran 11)Peraturan Bersama antara Mendikbud RI, Menkes RI, Menag RI, Mendagri, Nomor 6 / X/BB/2014, Nomor 73 tahun 2014, Nomor 41 tahun 2014 , Nomor 81 tahun 2014 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah. h. SDM 1) Tenaga Kesehatan Lingkungan Dinkes Kabupaten/Kota 2) Tenaga Kesehatan Lingkungan Puskesmas. 15. Persentase Pasar Rakyat Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib memberikan pelayanan kesehatan lingkungan di Pasar Rakyat di wilayahnya. a. Pengertian 1) Pelayanan kesehatan lingkungan di Pasar Rakyat adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan kesehatan lingkungan pasar rakyat 2) Kesehatan lingkungan adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial. 3) Pasar Rakyar adalah Pasar yang berlokasi permanen, ada pengelola, sebagian besar barang yang diperjual belikan yaitu kebutuhan dasar sehari-hari dengan fasilitas infrastruktur sederhana, dan dikelola oleh Pemerintah Daerah dan Badan Usaha Milik Daerah
  66. 66.   63 4) Pelayanan Kesehatan Lingkungan pada Pasar Rakyat sesuai standar adalah : a) Pelayanan ini dilakukan oleh Tenaga Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Puskesmas. b) Pelayanan ini dilakukan minimal dua kali dalam kurun waktu satu tahun untuk setiap sasaran. c) Sasaran pelayanan ini adalah seluruh Pasar Rakyat di wilayah kabupaten/kota. d) Pelaksanaan pelayanan ini dilakukan melalui pengamatan dan penilaian Kesehatan Lingkungan Pasar Rakyat meliputi : (1) pengelolaan higiene dan sanitasi pangan, (2) pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit, dan (3) kualitas udara dalam ruang, dengan memberikan rekomendasi tindak lanjut. 5) Pelaksanaan pelayanan ini dilakukan melalui inspeksi Kesehatan Lingkungan dengan memberikan rekomendasi tindak lanjut . b. Definisi Operasional Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan pelayanan kesehatan lingkungan di Pasar Rakyat dinilai dari persentase Pasar Rakyat yang mendapatkan pelayanan kesehatan lingkungan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun. c. Rumus Perhitungan Kinerja Persentase Pasar Rakyat Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Lingkungan = Jumlah Pasar Rakyat yang mendapatkan pelayanan kesehatan lingkungan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun X 100 % Jumlah Pasar Rakyat yang ada di wilayah kabupaten/kota dalam kurun waktu satu tahun yang sama d. Contoh Perhitungan Pada tahun 2015, di Kabupaten A terdapat 50 Pasar Rakyat. Dari data tersebut yang mendapatkan pelayanan kesehatan lingkungan sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun adalah 40 pasar rakyat. Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten A dalam melakukan pelayanan kesehatan lingkungan di Pasar Rakyat adalah = (40)/(50) x 100% = 80%.

×